• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mekanisme Pembentukan Kanker

Dalam dokumen DISERTASI. Oleh : MURNIATY SIMORANGKIR /KIM (Halaman 47-54)

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ranti Hitam (Solanum blumei Nees ex Blume)

2.2 Uji Bioaktivitas Bahan Alam

2.3.4. Mekanisme Pembentukan Kanker

Kanker adalah suatu pertumbuhan sel atau tumor hasil dari pembelahan sel yang tidak normal dan tidak terkendali. Pada dasarnya pembelahan sel dibedakan menjadi 2 macam yaitu pembelahan sel secara langsung dan secara tidak langsung. Pembelahan sel secara langsung jika proses pembelahan tidak didahului dengan pembentukan gelondong pembelahan dan penampakan kromosom yang disebut dengan amitosis.

Pembelahan secara tidak langsung jika proses pembelahan didahului dengan pembentukan gelondong pembelahan dan penampakan kromosom. Pembelahan secara tidak langsung ini meliputi pembelahan mitosis dan pembelahan meiosis.

Mekanisme terbentuknya sel kanker (Gambar 2.8) pembelahan sel diawali dari terbentuknya kompleks antara IGF1 dengan reseptornya (IGF1 reseptor), lalu mengaktifkan Tyrosin Kinase dengan bantuan ATP, lalu PI3 akan aktif dengan bantuan ATP untuk membentuk kompleks dengan RAS, kemudian kompleks PI3

Kinase-RAS akan mengaktifkan Kinase dengan bantuan ATP selanjutnya akan memberi sinyal kepada Nukleus untuk memulai melakukan pembelahan sel sesuai kebutuhannya.

Gambar 2.8. Mekanisme Terbentuknya Sel Kanker

Setelah keperluan sel yang dibutuhkan tercukupi maka PTEN akan merebut ATP yang akan digunakan PI3 Kinase sehingga kompleksnya dengan RAS tidak berlangsung dan sinyal selanjutnya akan terhenti maka pembelahan sel berikutnya akan terhenti juga.

Proses terbentuknya sel kanker diawali terganggunya PTEN oleh faktor inflamasi maupun paparan benda asing mengakibatkan PI3 Kinase akan mengikat ATP secara tidak terkendali sehingga respon untuk pembelahan sel juga tidak terkendali yang menghasilkan sel yang tidak dewasa dan tidak memiliki hubungan antar sel sehingga sel tidak memiliki fungsi bologis sebagaimana mestinya yang disebut sel kanker.

Setiap makhluk hidup dibentuk oleh berjuta-juta sel dan setiap sel dibentuk oleh organ-organ sel atau organel sub seluler. Salah satu organel sel yang penting yang

terlibat di dalam pembelahan sel (perkembangbiakan sel) adalah inti sel. Inti sel terdiri dari 3 komponen yaitu : a. Deoxyribonucleic Acid (DNA), b. Ribonucleic Acid (RNA) dan c. Nukleoprotein (Protein Inti).

Yang berperan penting dalam pembelahan sel adalah DNA yang mampu menurunkan sifat baka (kekal) setiap makhluk hidup, sehingga DNA dikenal dengan unsur genetika. Komposisi DNA secara umum dibagi 2 bagian yaitu intron dan exon.

Intron atau faktor pengendali pada pembelahan sel dan terdiri dari nukleotida dalam jumlah tertentu dan berbeda untuk setiap spesies, sedangkan exon adalah urutan nukleotida dalam jumlah tertentu yang berfungsi untuk mensintesis komponen sel di dalam perkembangannya.

Penggambaran struktur DNA berdasarkan pernyataan di atas sebagai berikut :

Intron - - - - - - - - - - - Ekson

R P O X Y Z DNA

R (Rpressor), P (Promotor) dan O (Operator), ketiga unsur ini komponen intron. X, Y dan Z disebut gen struktural yaitu gen yang mensintesis komponen yang dibutuhkan oleh sel di dalam perkembangannya misalnya gen pembentuk/mensintesis enzim atau komponen lain yang dibutuhkan sel. Pada proses pembelahan sel baik intron maupun exon semuanya mengalami pembelahan/denaturasi sehingga DNA yang merupakan utas rangkap terdenaturasi menjadi DNA utas tunggal. DNA utas tunggal ini menjadi cetakan pada sintesis DNA baru dimana DNA baru dengan adanya dNTP-dNTP serta enzim DNA polimerase. Baik intron maupun exon mempunyai ciri dan jumlah nukleotida spesifik untuk setiap gen. Jumlah nukleotida pada intron jauh lebih besar (banyak) dari jumlah nukleotida pada exon.

Pembelahan mitosis berfungsi menggandakan pertumbuhan (termasuk mengganti sel rusak atau mati), sedangkan pembelahan meiosis bertujuan untuk membentuk sel-sel perkembangbiakan (gamet). Secara normal, pembelahan mitosis menghasilkan dua bahan nukleus anak (sel anak) dengan perangkat kromosom yang identik. Sel yang normal dalam tubuh akan tumbuh dan mati secara terkendali. Di samping itu, dapat juga terjadi penyimpangan yaitu sekelompok sel yang tumbuh dan membelah secara abnormal membentuk tumor (benjolan). Beberapa tumor bersifat jinak, artinya sampai tahap tertentu pertumbuhannnya berhenti. Sebaliknya ada tumor ganas atau kanker, yang sel-selnya terus menerus tumbuh dan membelah sehingga mendesak dan merusak jaringan yang ada di sekitarnya dan menyebar ke jaringan lain (metastatis) yang menyebabkan pertumbuhan baru dan terjadi perubahan metabolisme ke arah pembentukan makromolekul dari nukleosida serta asam amino juga peningkatan katabolisme karbohidrat untuk energi sel (Watson et al., 1988).

Sel kanker mempunyai sistem enzim yang berbeda yaitu jumlah macam enzim sel kanker lebih sedikit dibanding sel normal, misalnya sel kanker tidak mempunyai enzim asparagin sintetase. Enzim-enzim untuk pertumbuhan pada sel kanker lebih besar dibandingkan sel normal. Sel normal tumbuh hanya satu lapis setelah sampai dinding tempat media (dinding petri jika di dalam cawan petri), akan terhenti pertumbuhannya, sedangkan sel kanker akan tumbuh terus dan terbentuk lapisan-lapisan yang tidak teratur (Mulyadi, 1997). Faktor-faktor penyebab kanker (karsinogen) dapat berupa senyawa kimia, faktor fisika seperti radiasi sinar X atau UV, virus atau disebut virus onkogenik serta ketidakseimbangan hormonal (Bulan, 2002). .

2.3.5. Leukimia (Kanker Darah)

Leukimia merupakan neoplasma ganas sel darah putih (leukosit) yang ditandai dengan bertambahnya sel darah putih yang abnormal di dalam aliran darah akibat terjadinya produksi sel darah putih yang masih muda dengan cepat, berlebihan dan

tidak berfungsi. Sel-sel tersebut berinfiltrasi secara progresif ke dalam jaringan tubuh terutama ke dalam sumsum tulang belakang. Hal ini akan mengakibatkan fungsi sumsum tulang belakang untuk membentuk sel darah merah (eritrosit), sel darah putih normal dan keping darah (platelets) menjadi terganggu. Sel darah merah berfungsi membawa oksigen dan karbon dioksida, keping darah (trombosit) berfungsi membantu penggumpalan darah ketika terluka dan sel darah putih (leukosit) membantu tubuh melawan infeksi dari penyakit.

Ada 4 macam leukimia yaitu 1) Leukimia limfositik akut (LLA), 2) Leukimia mielositik akut (LMA), 3) Leukimia limfositik kronis (LLK) dan 4) Leukimia mielositik kronis (LMK). Leukemia mielositik melibatkan granulosit, sedangkan leukemia limfositik melibatkan limfosit yaitu sel T dan sel B.

Leukimia Akut

Leukimia akut, penyakit leukimia yang kondisinya akan semakin memburuk secara cepat. Leukimia akut menunjukkan gejala klinik suhu badan naik, ada tanda– tanda infeksi, pendarahan karena trombositopenia, pucat, lesu, karena anemia dan nyeri pada tulang. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan kesamaan, kecuali jenis sel leukemianya, yaitu kadar haemoglobin turun, jumlah leukosit naik, jumlah eritrosit turun, ditemukan banyak sel muda (immature), jumlah trombosit turun dan waktu pendarahan lama. Ada dua jenis leukimia akut yaitu leukimia mielositik akut (LMA) dan leukimia limfositik akut (LLA).

LMA adalah penyakit yang bisa berakibat fatal, dimana mielosit (yang dalam keadaan normal berkembang menjadi granulosit) berubah menjadi ganas dan dengan segera akan menggantikan sel-sel normal di dalam sumsum tulang. Sel-sel leukemik tertimbun di dalam sumsum tulang, menghancurkan dan menggantikan sel-sel yang menghasilkan sel darah normal. Sel kanker ini kemudian dilepaskan ke dalam aliran darah dan berpindah ke organ lainnya, selanjutnya tumbuh dan membelah diri.

Mereka bisa membentuk tumor kecil (kloroma) di dalam atau tepat di bawah kulit dan

bisa menyebabkan meningitis, anemia, gagal hati, gagal ginjal dan kerusakan organ lainnya (Medi, 2010)..

Gejala pertama biasanya terjadi karena sumsum tulang gagal menghasilkan sel darah yang normal dalam jumlah yang memadai, ditandai dengan lemah, sesak nafas, infeksi, pendarahan dan demam. Gejala lainnya adalah sakit kepala, muntah, gelisah dan nyeri tulang dan sendi. Penyakit LMA terutama menyerang orang dewasa.

Tanpa pengobatan, jangka waktu bertahan hidup penderita dalam batas tiga bulan.

Tujuan pengobatan adalah menghancurkan semua sel leukemik sehingga penyakit bisa dikendalikan. LMA hanya memberikan respon terhadap obat tertentu dan pengobatan sering kali membuat penderita lebih sakit sebelum mereka membaik.

Penderita menjadi lebih sakit karena pengobatan menekan aktivitas sumsum tulang, sehingga jumlah sel darah putih semakin sedikit (terutama granulosit) dan hal ini menyebabkan penderita mudah mengalami infeksi (Medi, 2010). Pada kemoterapi awal biasanya diberikan sitarabin (selama7 hari) dan daunorubisin (selama 3 hari).

Kadang diberikan obat tambahan (misalnya tioguanin atau vinkristin) dan prednison.

Dengan kemoterapi yang intensif harapan hidup pasien LMA lebih dari satu tahun dan beberapa pasien ada yang bertahan sampai tiga tahun dan sekitar 20%

kemungkinan dapat sembuh. Obat tunggal yang paling aktif bagi pasien LMA adalah sitarabin, tetapi lebih baik bila digunakan kombinasi dengan obat lain. Kombinasi

yang baik yaitu sitarabin dengan tioguanin atau sitarabin dengan daunorubisin.

LLA adalah suatu penyakit yang berakibat fatal, dimana sel-sel yang dalam keadaan normal berkembang menjadi limfosit berubah menjadi ganas dan dengan segera akan menggantikan sel-sel normal di dalam sumsum tulang. Leukimia jenis ini merupakan 25% dari semua jenis kanker yang mengenai anak-anak di bawah umur 15 tahun.

LLA ini paling sering terjadi pada anak usia antara 3-5 tahun, tetapi kadang dapat juga terjadi pada usia remaja dan usia dewasa. Sel-sel yang belum matang, yang dalam keadaan normal berkembang menjadi limfosit, berubah menjadi ganas. Sel leukemik ini tertimbun di sumsum tulang, lalu menghancurkan dan menggantikan

sel-sel yang menghasilkan sel darah yang normal. Sel kanker ini kemudian dilepaskan ke dalam aliran darah dan berpindah ke hati, limpa, kelenjar getah bening, otak, ginjal dan organ reproduksi, dimana mereka melanjutkan pertumbuhannya dan membelah diri. Sel kanker bisa mengiritasi selaput otak, menyebabkan meningitis dan bisa menyebabkan anemia, gagal hati, gagal ginjal dan kerusakan organ lainnya. Penderita LLA mengalami anemia, pendarahan dan mudah terkena infeksi. Dengan proses kemoterapi yang intensif harapan hidup pasien LLA antara tiga sampai lima tahun dan lebih dari 50% peluang untuk dapat sembuh. Beberapa pusat medis menggunakan proses kemoterapi dengan kombinasi obat yaitu vinkristin dan prednison (Medi, 2010). Penderita LLA mengalami anemia, perdarahan dan mudah terkena infeksi. Dengan kemoterapi yang intensif harapan hidup pasien LLA antara tiga sampai lima tahun dan lebih dari 50% dapat sembuh. Beberapa pusat medis menggunakan kemoterapi kombinasi obat yaitu vinkristin dan prednison (Medi, 2010).

Leukimia Kronis

Leukimia kronis, penyakit leukimia yang kondisinya akan semakin memburuk secara cepat. Leukimia kronis mempunyai ciri–ciri utama seperti timbulnya pada usia yang agak lanjut, jumlah leukosit tinggi, penurunan kadar haemoglobin ringan atau sedang dan sering berubah menjadi leukimia akut. Ada dua jenis leukimia kronis yaitu leukimia limfositik kronis (LLK) dan leukimia mielositik kronis (LMK). Pada penyakit LMK perbandingan sel yang belum matang (immature) dengan sel yang sudah matang (mature) berbeda pada satu penderita dengan penderita yang lain. Pada tahap awal jumlah sel yang belum matang relatif sedikit, jumlah trombosit meningkat dan penurunan kadar haemoglobin ringan. Perubahan penyakit LMK menjadi stadium akut (stadium akhir) yang disebut blastic transformation atau blast crisis, terjadi perubahan sebagai berikut : jumlah mieloblas dan sel yang belum matang lain meningkat, jumlah basofil meningkat, trombosit menurun, leukosit meningkat dan kadar haemoglobin menurun drastis. Transformasi blastik ini umumnya timbul

setelah tiga sampai empat tahun setelah diagnosis dan penyakit ini berubah menjadi leukimia akut. Proses penghambatan dapat dilakukan menggunakan proses kemoterapi menggunakan busulfan.

LLK merupakan penyakit yang timbul akibat akumulasi sel limfosit dalam sumsum tulang, darah, kelenjar getah bening, limfa dan hati sehingga sel pembentuk darah lainnya di dalam sumsum tulang berkurang. Penyakit LLK ini sering timbul pada pasien yang berusia lanjut (usia 45 tahun ke atas) dan sangat jarang terjadi pada pasien sebelum umur 45 tahun. Tetapi LLK meliputi kortikosteroid atau kemoterapi obat alkilasi. Obat alkilasi akan menurunkan jumlah limfosit pada kebanyakan pasien penderita penyakit ini dan yang biasa digunakan adalah klorambusil dan mempunyai efek samping yang sangat kecil (Medi, 2010).

Dalam dokumen DISERTASI. Oleh : MURNIATY SIMORANGKIR /KIM (Halaman 47-54)