• Tidak ada hasil yang ditemukan

Isu-Isu Pelanggaran HAM dihadapi buruh migran di Malaysia dan

BAB III : PELANGGARAN HAM TERHADAP BURUH MIGRAN DI

A. Isu-Isu Pelanggaran HAM dihadapi buruh migran di Malaysia dan

Pekerja migran adalah seseorang yang melakukan pekerjaan yang dibayar disuatu negara dimana ia bukan menjadi warga negara dari negara yang bersangkutan. Adanya perbedaan kewarganegaran sering kali menimbulkan perbedaan perlakukan dari negara yang bersangkutan terhadap hak-hak pekerja migran yang ada di negaranya. Padahal para pekerja migran merupakan manusia-manusia yang hanya bertujuan mengais rejeki dengan menjadi pekerja disektor-sektor informal dalam rangka menafkahi keluarganya. Bahkan tidak jarang pekerja migran dianggap sebagai kelompok orang yang harkat dan martabatnya lebih rendah dibandingkan dengan warga negara di negara mana para pekerja migran tersebut bekerja. Kondisi demikian memicu terjadinya prilaku ketidakadilan yang dilakukan oleh para majikan, seperti penyiksaan fisik, penyiksaan seksual, perampasan paspor, dan perbuatan-perbuatan lainnya yang sangat merendahkan harkat dan martabat kemanusiaan.

Malaysia merupakan negara pengirim dan negara tujuan bagi tenaga kerja migran serta negara tujuan utama bagi TKI. Migrasi ke luar negeri didominasi oleh tenaga kerja terampil dan pelajar yang belajar di luar negeri, sementara migrasi ke Malaysia dikategorikan oleh tenaga kerja tidak terampil atau semi terampil. Malaysia mempunyai permintaan TKI yang sangat besar dan sangat tergantung pada kontribusi mereka ke pembangunan dan industrialisasi negara tersebut. Ada tiga alasan utama

mengapa TKI sangat diinginkan di Malaysia. Pertama, demografi umum dan ketidakseimbangan ekonomi antara Indonesia dan Malaysia. Kedua, jaringan kerja para perantara, makelar dan agen penempatan kerja yang telah dilembagakan. Dalam jaringan kerja ini, para perantara juga berfungsi sebagai makelar sehingga menyebabkan derasnya arus TKI ke Malaysia. Ketiga, hubungan linguistik, budaya dan sejarah antara kedua negara memungkinkan hubungan kerja sama yang lebih mudah antara majikan dan TKI, dibandingkan dengan tenaga kerja migran dari negara lain. Tiga gelombang utama pergerakan TKI ke Malaysia telah terjadi selama lebih dari 40 tahun, menunjukkan betapa TKI memainkan peranan penting dalam perekonomian Malaysia.38

Di tahun ’70-an dan ’80-an ketika peraturan imigrasi Malaysia masih terbatas (Kanapathy, 2004b), gelombang pertama TKI banyak dipekerjakan di sektor perkebunan/pertanian, diikuti sektor industri pengolahan dan jasa. Selama gelombang kedua migrasi tenaga kerja tahun ’80-an, TKI lebih banyak dipekerjakan di sektor industri manufaktur? pengolahan dan sektor jasa tidak formal karena adanya gelombang besar migran legal dan ilegal pada waktu itu. Kebijakan imigrasi baru yang aktif sekitar tahun 1991-1992 memasukkan retribusi kepada penempatan tenaga kerja asing (Kanapathy, 2004). Dalam upaya mensahkan tenaga kerja ilegal di sektor domestik, konstruksi, pertanian, industri pengolahan/manufaktur? dan jasa, program amnesti dijalankan selama periode ini (APMRN, 2010). Kombinasi antara krisis keuangan Asia tahun 1997, dengan pelaksanaan kebijakan nasional yang sangat ketat untuk melarang masuknya tenaga kerja ilegal, memperlambat masuknya tenaga kerja dan menstabilkan arus TKI ke Malaysia. Menurut Kementerian Sumber Daya

Manusia Malaysia39

39

Data berasal presentasi oleh Kementerian Sumber Daya Manusia Pemerintah Malaysia pada saat Kunjungan Studi Delegasi Pemerintah Indonesia 1-2

September 2009

, kira-kira terdapat 2.109.954 tenaga kerja migran yang saat ini bekerja di Malaysia, 50 persennya adalah TKI. Angka ini sekaligus menunjukkan betapa besarnya skala migrasi TKI ke Malaysia. Kebanyakan tenaga kerja migran yang tiba di Malaysia berasal dari negara-negara Asia Selatan dan Tenggara, khususnya tertarik dengan penawaran gaji lebih tinggi di Malaysia daripada dari negara mereka sendiri.

Juli 2008, 35 persen majikan mendaftar ke Kementerian Tenaga Kerja untuk mempekerjakan tenaga kerja migran. Pemerintah Malaysia mengkategorikan tenaga kerja migran ke dalam 3 kelompok:

i. Tenaga kerja migran berdokumen

- masuk secara legal dan memiliki visa kerja sah sementara yang dikeluarkan oleh Departemen Imigrasi Malaysia;

- mempunyai hak untuk menerima perlindungan dan manfaat yang disediakan oleh berbagai layanan

- biasanya dipekerjakan di sektor kerja kelas rendah dan tidak terampil. ii. Tenaga kerja asing (ekspatriat)

- memiliki ijin kerja;

- diijinkan untuk membawa pasangan dan keluarga ke Malaysia; dan

- menempati posisi manajerial dan eksekutif serta pekerjaan yang bersifat teknis

iii. Tenaga kerja ilegal

- melanggar undang-undang imigrasi dan bekerja di Malaysia tanpa ada kuasa/wewenang;

- tidak memenuhi persyaratan untuk mendapat perlindungan hukum; dan - rentan terhadap eksploitasi atau perlakuan yang tidak benar.

Kebanyakan tenaga kerja migran yang ke Malaysia berketerampilan rendah atau semi terampil dan umumnya menempati kerjaan yang bahaya, kotor dan/atau merendahkan (atau juga disebut pekerjaan “3D”) di sektor industri pengolahan/manufaktur, pertanian, konstruksi, dan domestik. Pekerjaan yang tidak diminati oleh sebagian besar warga negara Malaysia karena kecilnya gaji yang ditawarkan.

Di dalam hukum Malaysia, majikan berkewajiban mengirimkan uang jaminan sebesar 200 Ringgit (US$ 60,20)25 hingga 2.000 Ringgit (US$ 601,96), tergantung dari negara asal tenaga kerja. Dengan demikian majikan berhak secara legal menyimpan paspor tenaga kerja migran ini.

Jumlah Tenaga Kerja Migran di Malaysia Berdasarkan Negara Pengirim Negara Asal Jumlah Tenaga Kerja (2006) Jumlah Tenaga Kerja (2008)

Catatan: * 50 persen dari jumlah total tenaga kerja migran di Malaysia

Sumber: Data diperoleh dari presentasi yang diberikan oleh Kementerian Sumber Daya Manusia Malaysia selama kunjungan studi ke Malaysia yang dilakukan oleh delegasi Pemerintah Indonesia pada tanggal 1-2 September 2009.

Menurut Kementerian Sumber Daya Manusia Malaysia, terdapat sekitar 2,1 juta tenaga kerja migran di Malaysia yang bekerja di hampir semua sektor ekonomi (kira-kira 170.000 perusahaan mempekerjakan orang asing). Jumlah tenaga kerja migran yang cukup besar di kebanyakan sektor ekonomi menunjukkan ketergantungan ekonomi Malaysia kepada mereka. Tabel 15 menunjukkan distribusi TKI berdasarkan sektor di Malaysia: perkebunan, PRT (domestik), konstruksi dan pabrik merupakan sektor utama bagi TKI.

Indonesia meratifikasi konvensi pekerja migran tanggal 22 september 2004, sekitar 1 (satu) tahun setelah keluarnya UU No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Hak-hak pekerja di Indonesia diatur dan dilindungi oleh UU No.13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, bahkan di dalam peraturan pelaksanaannya memberikan ruang gerak yang luas bagi para pekerja asing. Tetapi harus diakui juga

Negara Asal Jumlah Tenaga Kerja (2006) Jumlah Tenaga Kerja (2008) Indonesia 1.215.000 1.120.828* Nepal 200.200 207.053 India 139.700 138.083 Vietnam 85.800 103.338 Banglades 58.800 315.154 Mianmar 32.000 134.110 Filipina 22.000 27.105 Thailand 7.200 20.704 Lain-lain 88.900 43.579 TOTAL 1.849.600 2.109.954

bahwa tidak ada satu pun Pasal yang ada didalam UU Ketenagakerjaan yang secara spesifik mengatur dan melindungi hak-hak pekerja migran. Ketiadaaan pengaturan tersebut secara jelas di dalam UU Ketenagakerjaan merupakan hal yang wajar karena UU Keternagakerjaan lebih dahulu diterbitkan oleh pemerintah dibandingkan dengan ratifikasi konvensi pekerja migran yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia.

Pekerja-pekerja migran Indonesia yang bekerja di luar negeri seperti di Malaysia, Brunei Darussalam, Arab Saudi, dan negara-negara lainnya juga akan dilindungi oleh konvensi internasional yang sama yang mengatur tentang pekerja migran. Hak-hak pekerja migran sangat rentan sekali dilecehkan dan diabaikan oleh pemberi kerja khususnya para pekerja migran yang tidak mempunyai skill dan hanya mengandalkan tenaga saja dalam melakukan pekerjaannya, seperti pembantu rumah tangga, pelayan restoran, buruh pabrik dan buruh perkebunan. Untuk menyikapi hal tersebut pemerintah Indonesia perlu meningkatkan koordinasi dan komunikasi intensif dengan negara-negara tujuan para pekerja migran Indonesia. Bahkan dirasa sangat penting adanya perjanjian kerjasama bilateral yang bersifat khusus antara Indonesia dan negara-negara tujuan para pekerja migran dalam kerangka memberikan keamanan dan kenyamanan para pekerja dalam melaksanakan pekerjaannya dan untuk menciptakan sebuah mekanisme baku bagi penyelesaian sengketa ketenagakerjaan para pekerja migran yang didasarkan pada kesepakatan bersama kedua negara. Tanpa adanya campur tangan yang intensif dan sistematis dari negara sebagai pengawal kepentingan hukum warga negaranya yang menjadi pekerja migran di negara lain maka proses pelecehan dan pengabaian hak-hak pekerja migran Indonesia di luar negeri akan semakin sering terjadi dan terdengar oleh masyarakat Indonesia.

Pekerja migran yang datang ke Indonesia pada umumnya adalah para pekerja professional dan tenaga terdidik, sehingga mereka datang dan bekerja di Indonesia karena pengetahuan dan pengalaman mereka sangat dibutuhkan dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan tertentu. Proses perlindungan hukum mereka menjadi lebih mudah karena mereka adalah orang-orang yang terdidik dan mengetahui hak-hak dan kewajiban yang dimilikinya sebagai pekerja migran.bahkan tidak jarang pekerja migran asing tersebut menjadi pimpinan pekerja-pekerja Indonesia di berbagai perusahaan dan pabrik di Indonesia. Kondisi pekerja migran Indonesia di negara lain khususnya negara tetangga Malaysia sangat kontras dengan kondisi pekerja migran yang di Indonesia. Pekerja migran Indonesia yang ada di Malaysia cenderung dilecehkan baik secara fisik maupun seksual, gaji tidak dibayar, paspor ditahan oleh majikan, dan berbagai macam bentuk-bentuk penghinaan lainnya yang merendahkan harkat dan martabat kemanusiaan.

Kasus penganiayaan dan perkosaan terhadap tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di luar negeri terus berulang sepanjang tahun. Kasus Winfaidah yang mengalami penganiayaan dan perkosaan adalah puncak gunung es dari tumpukan persoalan yang dihadapi perempuan pekerja migran Indonesia di Malaysia. Demikian pula kasus ancaman hukuman mati yang dihadapi oleh empat perempuan dari ratusan pekerja Indonesia yang juga menghadapi ancaman hukuman serupa. Semua berpulang pada minimnya perlindungan bagi tenaga kerja Indonesia, sejak proses perekrutan, selama penempatan dan ketika kembali ke daerah asalnya.

Hasil pemantauan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), bersama Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas

HAM), menunjukkan bahwa, pertama, Malaysia adalah negara terbanyak penerima pekerja migran asal Indonesia yang mencapai 1,2 juta jiwa. Data tersebut belum termasuk jumlah pekerja migran yang tidak berdokumen yang jumlahnya diperkirakan dua kali lipatnya. Kedua, jumlah pekerja migran yang dideportasi dari Malaysia pada tahun 2009 mencapai 33.111 jiwa. Artinya, ada lebih 2.700 TKI Indonesia yang dideportasi perbulan. Hingga triwulan I tahun 2010, jumlah pekerja migran yang dideportasi dari Malaysia mencapai 4.201 orang. Ketiga, lebih seribu pekerja migran Indonesia yang harus berhadapan dengan hukum setiap tahunnya; 60% diantaranya terkait gaji tidak dibayar, 20% adalah kasus kekerasan seksual, dan 5% kasus perdagangan manusia.

Selain kasus-kasus tersebut, Komnas Perempuan juga mencatat berbagai persoalan pelanggaran HAM yang dialami oleh perempuan pekerja migran termasuk menjadi pekerja tidak berdokumen karena melarikan diri dari majikan yang menyandera dokumennya, dipaksa bekerja tanpa waktu istirahat, bekerja pada lebih satu majikan tanpa upah yang layak, tidak diperbolehkan berkomunikasi dengan orang lain selain majikan dan keluarganya, tidak berhak atas cuti maupun libur, tidak memperoleh hak berkumpul dan berserikat, serta kehilangan hak untuk cuti menstruasi. Dalam hal kekerasan, perempuan pekerja migran berhadapan dengan penganiayaan secara fisik, secara verbal dalam bentuk caci maki, hinaan dan intimidasi, dan juga secara seksual, khususnya perkosaan.

Situasi pelanggaran HAM, termasuk kekerasan, yang dihadapi oleh perempuan pekerja migran dipengaruhi oleh tidak optimalnya kesepakatan bersama Indonesia-Malaysia, dan juga negara-negara penerima lainnya, dalam mengutamakan perlindungan dan pemenuhan hak pekerja migran. Karenanya, Komnas Perempuan:

1. Mengingatkan bahwa bermigrasi untuk bekerja adalah bagian dari hak asasi manusia sekaligus hak konstitusional warga negara. Kebijakan moratorium sebagai tindakan penangguhan pengiriman pekerja migran, tidak berarti menghalangi hak bermigrasi warga negaranya. Akan tetapi dijadikan sebagai kebijakan yang diambil dalam situasi konkret mengingat meningkatnya kekerasan yang dialami oleh pekerja migran. Selain itu juga sebagai bentuk tekanan politis dan ekonomi bagi negara tujuan pekerja migran yang berlaku sewenang-wenang melanggar Hak Asasi Manusia Pekerja Migran. Sehingga moratorium digunakan sebagai suatu strategi untuk mendorong perbaikan sistem bermigrasi secara aman dalam tiap tahapannya ; Pra-pemberangkatan, khususnya dalam hal peningkatan kapasitas calon pekerja migran, perlindungan pada masa bekerja dan pada saat pasca bekerja. Karenanya, prinsip moratorium untuk menunda penempatan tenaga kerja di luar negeri tidak boleh berlarut-larut dan pembenahan kebijakan harus segera diselesaikan. Untuk itu harus diikuti dengan upaya-upaya yang menjadi bagian tidak terpisahkan dalam kebijakan tersebut yaitu :

a. Pemerintah perlu memenuhi tanggungjawabnya untuk menyediakan perlindungan bagi warga negara dan mengatur migrasi yang aman

b. Pemerintah harus membuat batas waktu dan target perbaikan kebijakan yang terukur dan diketahui publik, khususnya calon pekerja migran dan pihak-pihak yang terkait dengan proses migrasi.

c. Pemerintah harus tetap menangani pekerja migran yang terlanjur berangkat dan bermasalah selama proses moratorium ini.

2. Mendesak Pemerintah untuk membuka lapangan kerja seluas-luasnya di dalam negeri sebagai langkah konkrit untuk penyelesaian persoalan migrasi tenaga kerja,

khususnya alternatif penyelesaian ketenagakerjaan untuk menjawab persoalan selama pemberlakuan moratorium.

3. Memberikan saran kepada Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI, Kementerian Luar Negeri dan jajaran Pemerintahan lain yang terkait untuk segera melakukan pendampingan hukum dan penyelesaian kasus-kasus lain termasuk 177 WNI yang saat ini mendapat ancaman hukuman mati di Malaysia dan di Negara-negara lain.

4. Mendorong Pemerintah Indonesia dan Malaysia agar Letter of Intent yang sudah ditandatangani segera ditingkatkan menjadi kesepakatan kedua Negara yang memiliki kekuatan hukum yang pasti dengan beberapa catatan perbaikan, seperti perbaikan standar upah bukan berdasarkan determinasi pasar namun berdasarkan standar upah layak, perbaikan standar biaya penempatan yang tidak membebankan pekerja migran, pemastian hak hari libur dan pemenuhan hak memegang paspor. 5. Mendesak pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat segera meratifikasi konvensi

PBB tahun 1990 tentang Perlindungan Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya. Agenda ratifikasi ini telah tertunda selama lebih dari 5 tahun dari target Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia.

6. Mendukung Jaringan Masyarakat warga yang terdiri dari Serikat Buruh, Lembaga Swadaya Masyarakat yang tergabung dalam Jaringan Advokasi Revisi UU 39/2004 tentang Penempatan dan Perlindungan TKI di Luar Negeri (PPTKLN)

(JARI PPTKLN) yang saat ini sedang menggodok Naskah Akademik dan menyusun RUU Revisi UU 39/2004 tersebut.40

Ribuan tenaga kerja Indonesia ilegal kini berada di hutan-hutan Malaysia, menghindari kejaran polisi. Mereka mimilih hutan sebagai tempat bersembunyi. Pastilah mereka hidup seadanya dengan menjaga kewaspadaan agar Polisi Diraja Malaysia tidak menemukannya. Sebab, jika tertangkap, mereka akan digelandang, disiksa, dan dipenjarakan. Alasan lain, gaji mereka juga belum dibayar majikan. Pastilah mereka akan tambah sengsara jika harus pulang ke tanah air dengan tangan hampa. Pertanyaan sekarang, bagaimanakah caranya menuntut perusahaan-perusahaan yang tidak bertanggung jawab di negeri jiran itu? Bisakah kita menekan pemerintahan Malaysia? Kita tahu, Malaysia hanya manis di bibir dengan janji menindak majikan da perusahaan yang melakukan perekrutan tenaga kerja ilegal. Kenyataanya tidak satu pun perusahaan yang tidak bertanggung jawab ditindak. Padahal menurut Akta Imigresen 1154/2002, penegakan hukum tidak hanya menindak para TKI ilegal, tetapi juga perusahaan/majikan yang memperkerjakan mereka. Malaysia ternyata bertindak diskriminatif. Dalam banyak kenyataan, posisi TKI ilegal

Komisi Nasional anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) adalah lembaga independen yang dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden No. 181 Tahun 1998 dan telah diperbaharui menjadi Peraturan Presiden No. 65 Tahun 2005. Salah satu mandatnya memberikan pertimbangan kepada eksekutif, legislatif dan yudikatif serta masyarakat guna mendorong penyusunan dan pengesahan kerangka hukum dan kebijakan yang mendukung upaya-upaya pencegahan dan perlindungan, penegakan dan pemajuan hak-hak asasi manusia perempuan.

40

justru dieksploitasi. Dengan posisi lemah seperti itu, para TKI hanya bisa gigit jari. Mereka orang-orang kalah di negeri orang setelah kalah di negeri sendiri.

Persoalan TKI (khususnya TKI ilegal) adalah problem yang sangat kompleks. Ini telah menjadi sindikat yang teramat kuat dan melibatkan aparat kedua negara Indonesia dan Malaysia, para calo, dan majikan di negeri Jiran. Hal ini telah menjadi mata rantai yang jalin-menjalin dan sulit dibongkar. Karena uang telah menjadi berhala yang amat memikat. Jika aparat tidak hijau matanya melihat uang, semuanya bisa dibereskan.

Permasalahan-permasalahan buruh migran terutama TKW yang terjadi di Malaysia sangatlah banyak dan beragam dari kasus seperti penganiayaan, pemerkosaan, dan tindak kekerasan lainnya yang sangatlah merugikan tenaga kerja Indonesia. Sebagai contoh ada beberapa kasus di bawah ini yang akan menceritakan tentang pelanggaran-pelanggaran HAM Tenaga Kerja Indonesia yang terjadi di Malaysia

KASUS I

Nirmala Bonat, 19 tahun adalah tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia yang mencoba peruntungannya di negeri orang. Andai saja kemiskinan tidak mendera keluarga, pasti Nirmala tidak akan diizinkan menjadi babu di Negeri Jiran. Tetapi kenyataannya berbicara lain. Nirmala harus membanting tulang buat membantu menghidupi keluarganya. Namun, sejak empat bulan pertama di Negeri Jiran, nasib baik ternyata tetap saja tidak berpihak padanya, Nirmala malah mendapatkan majikan yang sadis dan bengis. Hanya karena kesalahan-kesalahan kecil, Nirmala mengalami siksaan yang mengubah bentuk fisiknya. Sebuah piring atau cawan yang pecah tanpa sengaja menyebabkan perempuan ini harus menanggung siksaan dari mulai siraman air panas hingga bekas sengatan setrika di beberapa bagian tubuhnya.

Bukan itu saja, gaji Nirmala juga tidak dibayarkan Majikan. Perempuan asal Nusa Tenggara Timur ini juga tak berkutik karena paspornya juga dipegang sang majikan. Nirmala sebenernya mempunyai niat untuk kabur, namun niat itu tak pernah kesampaian karena tidak tahu arah jalan. “Pernah lari tetapi balik lagi dan dipukul lagi,” kata Nirmala, pilu.

Keseharian Nirmala adalah neraka. Kesalahan-kesalahan kecil selalu diganjar dengan siksaan fisik yang sadis. Pukulan benda tumpul bahkan telah mengoyak tulang rawan hidungnya. Semua luka bekas setrikaan, pukulan, dan siraman air panas dibiarkan sembuh dengan sendirinya dan tak pernah diobati. Suatu hari, Nirmala benar-benar tak tahan dan lari dari lantai 25 apartemen tempatnya bekerja menuju lantai bawah. Saat itu, Nirmala yang dalam kondisi mengkhawatirkan mengundang perhatian petugas keamanan apartemen. Berwal dari sinilah usaha Nirmala untuk keluar dari perangkap majikan sadis terbuka lebar hingga kasusnya terkuak.

Ironisnya, kasus Nirmala ini tidak mendapat perhatian serius pemerintah. Pernyataan Pemerintah secara resmi mengenai nasib Nirmala saja baru terdengar dari Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda. Itu pun setelah tiga hari kasus ini bergulir. Bandingkan dengan pemerintah Malaysia. Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Abdullah Ahmad Badawi bahkan langsung mengutuk serta meminta maaf atas terjadinya peristiwa tersebut. Demikian pula, simpati justru berdatangan dari kalangan di luar pemerintahan, dari Sultan Hamengku Buwono X hingga artis-artis Malaysia. Baru kemudian kasus tersebut mengundang perhatian para pejabat dan elite Indonesia. Martha Toni (orang tua Nirmala) pun akhirnya bertemu dengan anaknya yang sudah berubah fisik. Perjumpaan terjadi di Rumah Sakit Besar Kuala Lumpur, tempat Nirmala dirawat. Martha Toni tak kuasa menciumi anaknya. Ia juga

memutuskan untuk ikut menginap di rumah sakit bersama Nirmala yang sebelumnya telah menjalani operasi tulang hidung.41

Nirmala, Sundari dan kekerasan lain terhadap TKW mengundang keprihatinan aktivis perempuan dan buruh migran Malaysia, Irene Fernandez. Ia mencatat, sekitar 50 ribu pembantu rumah tangga (PRT) lari dari rumah majikannya. Data tersebut, meurut Irene, sebagai bukti bahwa TKW/PRT tidak mendapatkan perlakuan manusiawi di Malaysia. Parahnya lagi, menurut Irene, TKW/PRT tidak mengetahui gaji yang ditetapkan dan tidak ada kontrak kerja. Ditambah lagi, di Malaysia tidak ada gaji minimal. Peluang ini dimamfaatkan para majikan untuk

KASUS II

Seorang Tenaga Kerja Wanita (TKW) bernama Sundari alias Karsu tergolek lemah di Ruang Dahlia, Rumah Sakit Koja, Jakarta Utara. Ibu dua anak ini mengalami patah tulang dibeberapa bagian tubuhnya. Karsu mengaku dianiaya majikan di Malaysia dan berencana menuntutnya. Setelah bekerja selama dua tahun di Negeri Jiran, wanita asal Desa Sumber Puring, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, ini kembali ke Indonesia dengan keadaan sakit. Tak hanya itu, Karsu pulang tanpa disertai uang sepeser pun. Wanita yang rambutnya disemir pirang ini mengatakan harta benda simpanannya hilang ketika dirawat di sebuah rumah sakit di Kuala Lumpur.

Karsu mengaku tak ingat bisa sampai ke RS itu. Yang Karsu ingat, satu bulan sebelumnya, dia bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah keluarga Puan di lantai enam, sebuah kondomonium di Kuala Lumpur. Karsu menduga, selain tidak membayar gaji, sang majikan mendorongnya hingga jatuh.

bertindak sewenang-wenang kepada TKW/PRT. Bahkan sampai seenaknya menahan gaji berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.

Di Johor, pernah terjadi seorang pembantu diperkosa oleh orang berpengaruh di kota tersebut. Namun, kasus tersebut sepertinya mengambang karena melibatkan nama besar seorang datuk. Menurut Irene, di Malaysia juga petinggi besar atau orang berpengaruh dapat lari dari tanggung jawab (kebal hukum – Red). Dan parahnya lagi, menurut Irene, pemerintah Malaysia tidak menanggapi serius kasus-kasus penganiayaan tersebut.

Menurut Irene, ada tiga langkah prioritas yang harus dilakukan pemerintah Indonesia agar kasus Nirmala tidak terulang lagi. Pertama, pemerintah Indonesia mesti serius menangani setiap permasalahan TKI yang terjadi. kedua, hentikan sementara pengiriman TKI hingga ditemukan penyelesaian. Ketiga, membuat

Dokumen terkait