• Tidak ada hasil yang ditemukan

ISU-ISU STRATEGIS

Dalam dokumen Renstra Dinas Dikpora Kota Bima (Halaman 35-40)

Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa total nilai faktor (NF) untuk faktor internal adalah 7 dengan nilai bobot faktor (BF) tertinggi 42,86, sedangkan

ISU-ISU STRATEGIS

3.1 INDETIFIKASI PERMASALAHAN BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI PELAYANAN SKPD

Permasalahan yang ada pada satuan kerja perangkat daerah, umunya dan khususnya yang ada pada Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kota Bima di antaranya:

1. Bedanya sistem ataupun struktur organisasi yang ada pada tingkat daerah dengan sistem yang ada pada provinsi maupun pusat sehingga sistem koordinasi yang dijalankan sangatlah sulit. 2. Lambanya keluarnya atauran yang ada didalam menjalankan kegiatan khususnya yang berkaitan

dengan kegiatan DAK.

3. Tumpang tindihnya kegiatan antara bidang dalam menjalankan kegiatan dikarenakan belum berubahnya struktur yang ada pada Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga.

4. Kurangnya koordinasi antara bidang teknis dalam menjalankan kegiatan bidang masing-masing. 5. Kurangnya SDM yang berkualitas.

3.2 TELAAHAN VISI, MISI DAN PROGRAM KEPALA DAERAH TERPILIH

Pada Visi dan Misi Dinas Dikpora Kota Bima yang tertuang dalam rencana kerja Dinas Dikpora Kota Bima sangat berkaitan erat dengan visi misi yang ditetapkan oleh pemerintah daerah. Pada visi dan misi yang dilakukan oleh dinas dikpora merupakan kegiatan yang dititikberatkan pada tiga aspek yaitu aspek Ketersediaan layanan pendidikan, kualitas sarana dan prasarana dan kualifikasi dan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan sedangkan misi yang diemban oleh kepala daerah lebih dititikberatkan juga pada tiga aspek yaitu aspek kualitas mutu, aspek kualitas sarana dan prasarana serta aspek peningkatan daya baca masarakat yaitu dengan meningkatnya kualitas perpustakaan.

Keterkaitanya tersebut dapat dilihat dari upaya Pemerintah Kota Bima dalam meningkatkan taraf pendidikan pada masyarakat kota serta peningkatan sarana dan prasarana yang berkualitas dan ditunjang pula oleh guru-guru yang berkualitas sehingga menghasilkan pendidikan yang berkualitas.

3.3 TELAAN RENSTRA KEMENDIKBUD/PROPINSI/KABUPATEN/KOTA

Sinkronisasi program pemerintah dan pemerintah daerah (pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota) merupakan satu kesatuan tata kelola, pemerintah pusat menetapkan kebijakan sedangkan implementasi dari kebijakan tersebut dilaksanakan daerah sehingga otonomi sektor pendidikan hanya bersifat teknis pelaksanaan di lapangan. Untuk membuktikan keterpaduan program/kegiatan antara pemerintah dan pemerintah daerah dapat dilihat pada tabel berikut :

29 Renstra Dinas Dikpora Kota Bima

Tabel 3.1 Sinkronisasi Program Pusat dan Daerah

Misi Kemendikbud Misi Dinas Dikpora NTB Misi Dinas Dikpora Kota Bima

1. Meningkatkan ketersediaan layanan pendidikan. 2. Memperluas keterjangkauan

layanan pendidikan 3. Meningkatkan kualitas/mutu

dan relevansi layanan pendidikan.

4. Mewujudkan kesetaraan dalam memperoleh layanan pendidikan

5. Menjamin kepastian memperoleh layanan pendidikan.

1. Mewujudkan pendidikan efektif, efisien, dan bertanggung jawab;

2. Mewujudkan pendidikan yang merata dan bermutu;

3. Menuntaskan Buta Aksara dan wajib belajar pendidikan dasar yang bermutu;Mewujudkan pendidikan, kepemudaan, dan olahraga sebagai wahana cerdasan bangsa secara berkelanjutan sepanjang hayat;

4. Mewujudkan peran serta masyarakatdalam pendidikan, kepemudaan, dan olahraga; 5. Mewujudkan koordinasi

pembangunan

1. Meningkatkan ketersediaan dan keterjangkauan layanan pendidikan,

2. Meningkatkan M 3. Meningkatkan Kualitas

Sarana dan Prasarana Pendidikan

4. Meningkatkan Kualifikasi dan Kompetensi PTK

3.4. TELAAH RENCANA TATA RUANG WILAYAH DAN KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP

STRATEGIS.

Secara keseluruhan, kebijakan yang tertuang dalam Raperda RTRW Kota Bima di bidang pendidikan ini memiliki dampak yang positif terhadap dunia pendidikan khususnya peningkatan kualitas sumber daya manusia di kota Bima. Namun masih terdapat kebijakan yang memiliki dampak negatif yang cukup signifikan terhadap kualitas pendidikan di wilayah Kota Bima.

 Rencana pengembangan sekolah yang bertaraf internasional yang tidak tepat sasaran.

 Rencana penetapan perda kawasan wilayah Kota Bima sebagai kota pendidikan yang belum terealisasi.

 Memperkuat perkembangan Pusat Kegiatan Belajar Kota Bima yan kurang maksimal.

Rencana penetapan Kota Bima Sebagai Kota Pendidikan berdasarkan berbagai sudut kepentingan (ekonomi, sosial dan budaya, lingkungan, dan pertahanan dan keamanan). Untuk

30 Renstra Dinas Dikpora Kota Bima

dapat meminimisasi, mengendalikan, dan mencegah dampak yang ditimbulkan sebagai akibat dari kebijakan ini antara lain :

 Diperlukan penyediaan sarana dan prasarana yang memadai di tiap sekolah di Wilayah Kota Bima.  Mengawasi pelaksanaan dan penerapan kebijakan di lingkup Dinas Pendidikan, Pemuda dan

Olahraga Kota Bima serta terus mendorong pembentukan perda pendidikan Kota Bima.  Memelihara ruang terbuka hijau di sekolah untuk mengendalikan dampak pencemaran udara.  Penyediaan sarana dan prasarana persampahan di sekolah untuk menghindari pencemaran

lingkungan akibat sampah.

3.5 PENENTUAN ISU-ISU STRATEGIS

3.5.1 Kebijakan Pendidikan Universal

Dalam Perpres Nomor 10 tahun tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Nasional Jangka Menengah dijelaskan bahwa pendidikan merupakan instrumen pembangunan ekonomi dan sosial, termasuk di antaranya untuk mendukung upaya mengentaskan kemiskinan, meningkatkan keadilan dan kesetaraan gender, serta memperkuat nilai-nilai budaya. Terkait upaya mendukung pembangunan ekonomi, pendidikan yang relevan dan berkualitas tinggi memainkan peran penting untuk meningkatkan daya saing regional. Dalam hal ini, pendidikan dituntut untuk mampu melengkapi lulusannya agar memiliki keterampilan teknis (hard skill), dan juga kemampuan untuk berpikir analitis, berkomunikasi, serta bekerjasama dalam tim yang secara keseluruhan sering dirangkum sebagai keterampilan lunak (soft skill).

Di samping itu, pendidikan diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap jati diri bangsa melalui pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia. Dalam konteks lebih luas, pendidikan merupakan dasar utama bagi keseluruhan upaya implementasi prioritas tertinggi kebijakan pembangunan sumberdaya manusia dalam kerangka pembangunan nasional yang komprehensif, misalnya: pendidikan dasar dikaitkan dengan upaya penanggulangan kemiskinan; pendidikan menengah diarahkan untuk meningkatkan potensi kebekerjaan (employment); dan pendidikan tinggi diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan kepemimpinan dalam masyarakat dan bangsa. Oleh sebab itu, pembangunan dan penyelenggaraan layanan pendidikan nasional perlu dilakukan dengan pendekatan komprehensif, holistik, serta mengedepankan cara pandang anak didik sebagai manusia utuh. Selanjutnya dalam Renstra Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2010-2014 dijelaskan dalam rangka membangunan manusia Indonesia seutuhnya maka dipandang perlu untuk dilakukan perubahan-perubahan mendasar, paradigma universal atau itu perubahan-perubahan tersebut meliputi:

31 Renstra Dinas Dikpora Kota Bima

Kota Bima merupakan Kota perdagangan dan Pusat pendidikan bagi maysarakat Bima pada khususnya dan pulau sumbawa pada umunya, Kota yang terletak diantara Kabupaten bima dan di sebelah timur berbatasan dengan Propinsi NTT dan disebelah barat ada Kabupaten Dompu serta Sumbawa merupakan modal utama dalam usaha untuk memajukan dunia pendidikan serta sarana strategis dalam menaikan kualitas pendidikan itu sendiri.

Pendidikan yang terjadi pada Kota Bima saat ini masih mencerminkan suatu pendidikan yang dititikberatkan pada kuantitas baik itu yang menyangkut kuantitas pendidik, seperti sekolah yang bertaraf internasional yang sangat susah di laksanakan pada daerah ini tenaga kependidikan serta sarana dan prasarana yang ada. Serta di munculkannya kebijakan-kebijakan yang kurang keberpihakan pada pendidikan itu sendiri serta rencana penetapan perda kawasan wilayah Kota Bima sebagai kota pendidikan yang belum terialisasi.

3.6.1 KONDISI DAERAH YANG AKAN DI PROYEKSIKAN AKAN DATANG

Secara keseluruhan, kebijakan yang tertuang dalam Raperda RTRW Kota Bima di bidang pendidikan ini memiliki dampak yang positif terhadap dunia pendidikan khususnya dalam upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia pendidik dan tenaga kependidikan yang berkualitas.

Rencana penetapan Kota Bima Sebagai Kota Pendidikan didasarkan berbagai sudut kepentingan (ekonomi, sosial dan budaya, lingkungan, dan pertahanan dan keamanan). Untuk dapat meminimalisasi, mengendalikan, dan mencegah dampak yang ditimbulkan sebagai akibat dari kebijakan ini antara lain :

 Diperlukanya membuat aturan yang berkaitan dengan penyelenggaraan pendidikan.

 Diperlukanya peningkatan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan sehingga menghasilkan tamatan yang berdaya saing pada masa-masa yang akan datang.

 Diperlukan penyediaan sarana dan prasarana yang berkualitas dan memadai di tiap sekolah di Wilayah Kota Bima.

 Mengawasi pelaksanaan dan penerapan kebijakan di lingkup Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga kota Bima serta terus mendorong pembentukan Peraturan Daerah Pendidikan Kota Bima.

 Memelihara ruang terbuka hijau di sekolah untuk mengendalikan dampak pencemaran udara.  Penyediaan sarana dan prasarana persampahan di sekolah untuk menghindari pencemaran

lingkungan akibat sampah.

32 Renstra Dinas Dikpora Kota Bima

Memperlakukan peserta didik sebagai subjek merupakan penghargaan terhadap peserta didik sebagai manusia yang utuh. Peserta didik memiliki hak untuk mengaktualisasikan dirinya secara optimal dalam aspek kecerdasan intelektual, spiritual, sosial dan kinestetik. Paradigma ini merupakan fondasi dari pendidikan yang menyiapkan peserta didik untuk berhasil sebagai pribadi yang mandiri (makhluk individu), sebagai elemen dari sistem sosial yang saling berinteraksi dan mendukung satu sama lain (makhluk sosial) dan sebagai pemimpin bagi terwujudnya kehidupan yang lebih baik di muka bumi (makhluk Tuhan).

3.8 PEMBELAJARAN SEPANJANG HAYAT BERPUSAT PADA PESERTA DIDIK

Pembelajaran merupakan proses yang berlangsung seumur hidup, yaitu pembelajaran sejak lahir hingga akhir hayat yang diselenggarakan secara terbuka dan multimakna. Pembelajaran sepanjang hayat berlangsung secara terbuka melalui jalur formal, nonformal dan informal yang dapat diakses oleh peserta didik setiap saat dan tidak dibatasi oleh usia, tempat dan waktu. Pembelajaran dengan sistem terbuka diselenggarakan dengan fleksibilitas pilihan dan waktu penyelesaian program lintas satuan dan jalur pendidikan (multi entry-multi exit system). Pendidikan multimakna diselenggarakan dengan berorientasi pada pembudayaan, pemberdayaan, pembentukan akhlak mulia, budi perkerti luhur, dan watak, kepribadian, atau karakter unggul, serta berbagai kecakapan hidup (life skills). Paradigma ini memperlakukan, memfasilitasi dan mendorong peserta didik menjadi subyek pembelajar mandiri yang bertanggung jawab, kreatif, inovatif, sportif dan berkewirausahaan.

3.9 PENDIDIKAN UNTUK SEMUA

Pendidikan, minimal pada tingkat pendidikan dasar, adalah bagian dari hak asasi manusia dan hak setiap warga negara yang usaha pemenuhannya harus direncanakan dan dijalankan dengan sebaik mungkin. Pemenuhan atas hak untuk mendapatkan pendidikan dasar yang bermutu merupakan ukuran keadilan dan pemerataan atas hasil pembangunan dan sekaligus menjadi investasi sumber daya manusia yang diperlukan untuk mendukung keberlangsungan pembangunan bangsa. Hak untuk mendapatkan pendidikan dasar sebagai pemenuhan hak asasi manusia telah menjadi komitmen global. Oleh karena itu, program pendidikan untuk semua yang inklusif diselenggarakan pada jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal dengan sistem pendidikan terbuka dan demokratis serta berkesetaraan gender agar dapat menjangkau mereka yang berdomisili di tempat terpencil serta mereka yang mempunyai kendala ekonomi dan sosial.

Paradigma ini menjamin keberpihakan kepada peserta didik yang memiliki hambatan fisik ataupun mental, hambatan ekonomi dan sosial, ataupun kendala geografis, yaitu layanan pendidikan untuk menjangkau mereka yang tidak terjangkau. Keberpihakan diwujudkan dalam bentuk penyelenggaraan sekolah khusus, pendidikan layanan khusus, ataupun pendidikan nonformal dan informal, pendidikan dengan sistem guru kunjung, pendidikan jarak jauh, dan bentuk pendidikan

33 Renstra Dinas Dikpora Kota Bima

layanan khusus lain sehingga menjamin terselenggaranya pendidikan yang demokratis, merata, dan berkeadilan serta berkesetaraan gender.

3.10 PENDIDIKAN UNTUK PERKEMBANGAN, PENGEMBANGAN, DAN/ATAU

Dalam dokumen Renstra Dinas Dikpora Kota Bima (Halaman 35-40)

Dokumen terkait