• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS

1. Lingkungan Internal, antara lain :

4.3. Isu-Isu Strategis

Isu strategis adalah kondisi atau hal yang harus diperhatikan atau dikedepankan dalam

perencanaan pembangunan karena dampaknya yang signifikan bagi entitas

(daerah/masyarakat) dimasa datang. Karakteristik suatu isu strategis adalah kondisi atau hal

yang bersifat penting, mendasar, berjangka panjang, mendesak, bersifat

kelembangaan/keorganisasian dan menentukan tujuan di masa yang akan datang. Isu-isu strategis Kabupaten Kaur dalam lima tahun (2016-2021) ke depan ditetapkan sebagai berikut :

4.3.1. Reformasi birokrasi

Reformasi tata kelola pemerintahan dilakukan dalam kaitannya dengan: perencanaan dan peningkatan akuntabilitas publik; perkuatan kelembagaan dan ketata laksanaan; manajemen sumberdaya aparatur pemerintah; manajemen keuangan (pengelolaan APBD) yang baik dan transparan; serta perbaikan sistem pengawasan internal. Isu ini dapat diwujudkan melalui peningkatan kinerja pemerintah melalui profesionalisme tata kelola dan perluasan partisipasi publik, pemberian insentif dan fasilitas kerja bagi aparatur pemerintahan, serta transparansi data dan program pembangunan. Kualitas tata kelola pemerintahan juga dapat dilakukan melalui perubahan pola pikir (mindset) aparatur terkait dengan: peningkatan kualitas pelayanan publik; program-program yang menguntungkan daerah dan rakyat; kepercayaan, integritas dan semangat kerja; transparansi dan akuntabilitas; orientasi ke masa depan, dan orientasi pada hasil kerja.

4.3.2. Aparatur Pemerintahan

Isu ini dapat dicapai melalui indikator-indikator revolusi mental dan pola pikir, seperti: mencipakan hubungan saling percaya (trust) antara aparatur dan masyarakat; menonjolkan keteladanan pemimpin untuk bersih dan berwibawa; berorientasi pada hasil kerja dan kinerja aparatur; pengawasan internal terhadap kinerja birokrasi; pelibatan publik yang lebih besar dalam hal pengawasan; perkuatan nilai dan budaya kerja yang jujur dan bersih dari KKN di setiap jenjang birokrasi.

4.3.3. Pengelolaan APBD yang akuntabel, transparan, dan berorientasi pada pelayanan

publik

Manajemen APBD tidak lepas dari hal berikut : menerapkan konsistensi dengan dokumen perencanaan; konsisten dengan penerapan instrumen dalam bentuk target-target kinerja; konsisten dengan pengendalian; dan konsisten dalam pengawasan atau akuntabilitas. Oleh karena itu, reformasi dalam pengelolaan APBD berorientasi pada: perubahan pola pikir aparatur

81

pemerintah; membangun sistem dan mekanisme anggaran yang akuntabel dan transparan; menyelaraskan strategi dan program kerja pada tingkat operasional; menciptakan jajaran kepemimpinan yang mampu melakukan perkuatan (empowering) dan budaya kerja yang baik.

4.3.4. Infrastruktur Dasar

Peningkatan kapasitas dan pembangunan irigasi perdesaan; peningkatan kualitas jalan dan jembatan; peningkatan jangkauan listrik perdesaan; pembangunan dan atau perbaikan jalan desa ke sentra-sentra produksi; dan peningkatan akses penduduk terhadap sanitasi dan air bersih; aksesibilitas pasar tradisional. Isu ini dapat mengurangi desa-desa yang tidak terjangkau pelayanan dasar pemerintah.

4.3.5. Kualitas dan kuantitas layanan dasar 4.3.5.1 Kesehatan

Peningkatan sarana dan prasarana kesehatan yang memadai; peningkatan akses pelayanan kesehatan di RSUD, Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Poskesdes dan wilayah-wilayah terpencil; peningkatan kualitas dan kuantitas Medis dan paramedis; kepastian layanan jaminan kesehatan; pengembangan program kesehatan yang bekerja sama dengan Universitas.

4.3.5.2 Pemberdayaan ekonomi rakyat berbasis keunggulan lokal

Peningkatan akses permodalan bagi pengusaha kecil dan menengah serta koperasi dalam bentuk kemitraan yang saling menguntungkan; peningkatan daya saing produk UKMK melalui pelatihan dan pendampingan; pengembangan ekonomi kreatif berbasis potensi lokal; revitalisasi koperasi dan kelompok usaha baru (KUB); menggalakkan ekspose produk UKMK di tingkat regional dan nasional.

4.3.5.3 Bidang Pendidikan

Peningkatan akses serta pemerataan sarana dan prasarana layanan pendidikan untuk semua lapisan masyarakat; peningkatan kualitas dan kuantitas tenaga pendidik dan tenaga pendidikan; peningkatan kualitas sistem pembelajaran (daya saing di pasar kerja); pemerataan kualifikasi dan penempatan guru; pemantapan kesejahteraan guru; peningkatan sekolah unggulan kabupaten.

4.3.6. Pendekatan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam mengelola sumber daya lokal

Kebutuhan peningkatan kualitas pengelolaan pemerintahan (e-goverment) dan pelayanan publik menjadi isu pembangunan yang sangat penting. Pembangunan kualitas dan kuantitas infrastruktur tenologi informasi diarahkan untuk meningkatkan daya saing daerah, baik dalam bidang ekonomi, pariwisata maupun komoditas unggulan daerah.

Dalam menciptakan tata kelola pemerintahan yang baik, pengembangan infrastruktur dibidang informasi, komunikasi, dan telematika menjadi sangat penting. Sudah menjadi isu nasional apabila e-goverment harus sudah mulai di implementasikan ke dalam setiap aspek pemerintahan dan pelayanan publik.

4.3.7. Peran masyarakat dan peran kehidupan umat beragama

Pemerintah daerah harus berperan aktif dalam mendorong dan memfasilitasi aktivitas-aktivitas keagamaan, terutama dalam kegiatan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Peningkatan akses, pemerataan, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia untuk

82

mendukung terwujudnya masyarakat yang berharkat, bermartabat, berakhlak mulia dan menghargai keberagaman.

4.3.8. Pengembangan budaya daerah dan Pariwisata

Kabupaten Kaur memilki ragam seni dan budaya yang bernilai dan bersumber dari budaya lokal Kabupaten Kaur, tetapi seiring dengan kemajuan zaman mengalami kemunduran nilai dan pengakuan, hal ini disebabkan masih lemahnya peran Pemerintah Daerah dan Badan Musyawarah Adat dalam menjaga, melestarikan, mengembangkan seni dan budaya lokal Kabupaten Kaur. Sehingga memerlukan penanganan tersendiri agar budaya menjadi akar bagi masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

4.3.9. Penanggulangan Kemiskinan dan Pengangguran

Berdasarkan dari data BPS, Angka kemiskinan di Kabupaten Kaur pada Tahun 2014 sebesar 21,96 dan pada Tahun 2015 yaitu sebesar 22,87 %. Penanggulangan kemiskinan dan pengangguran yang ada di Kaur terutama ditujukan untuk menurunkan tingkat kemiskinan, baik antara kelompok masyarakat maupun antar wilayah. Isu-isu pembangunan yang sebaiknya diperhatikan antara lain :

a. Meningkatkan kualitas dan kuantitas infrastruktur dan layanan pemenuhan hak-hak dasar masyarakat.

b. Menciptakan kesempatan kerja yang berkeadilan, terutama untuk pengangguran di kalangan terdidik melalui pendidikan dan pelatihan yang berorientasi pada pasar kerja. c. Mengembangkan program penciptaan wirausaha baru yang kompetitif dan berdaya saing

dalam pembangunan ekonomi.

d. Meningkatkan infrastruktur jalan ke sentra-sentra produksi yang memungkinkan arus barang dan manusia berlangsung dengan lancar dan sekaligus mengurangi ekonomi berbiaya tinggi.

e. Pengembangan pola-pola pemberdayaan yang berorientasi pada kemandirian berusaha dan berkarya (kreatif dan inovatif) untuk meningkatkan daya beli masyarakat miskin.

4.3.10. Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak

Masih rendahnya kesadaran akan kesetaraan gender dalam pembangunan, Belum optimalnya kelembagaan (Vocal Point) dalam pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, Masih relatif tingginya kekerasan dalam rumah tangga.

4.3.11. Keluarga Berencana

Masih kurangnya tenaga penyuluh KB; Masih kurangnya dan rendahnya pemanfaatan prasarana dan sarana pelayanan KB; Masih tingginya jumlah keluarga pra-sejahtera; Rendahnya kesadaran masyarakat dalam manfaat penggunaan KB; Belum optimalnya pemanfaatan fungsi dan peran tenaga penyuluh KB.

4.3.12. Pembangunan Keluarga

Indeks Pembangunan Gender (IPG) sudah cukup baik yaitu 85,66 % mendekati sekala Nasional

yaitu sebesar 90,34.Namun indeks pemberdayaan perempuan yang mencapai 61,69%. Isu ini

dilakukan melalui kebijakan-kebijakan dan atau program antara lain: (1) Meningkatkan kualitas dan kuantitas layanan dasar bagi perempuan (pendidikan, kesehatan, ekonomi); (2) Memperkuat kapasitas kelembagaan pengarusutamaan (mainstreaming) gender dalam setiap tahapan pembangunan; (3) Meningkatkan keterlibatan perempuan dalam proses politik dan jabatan publik dengan tidak menghilangkan kodratnya sebagai perempuan; (4) Menghapus

83

berbagai bentuk kekerasan dan ketidakadilan terhadap perempuan dan anak; (5) Meningkatkan kesejahteraan dan perlindungan perempuan dan anak; (6). Meningkatkan akses pelayanan KB bagi perempuan dan laki-laki; (7) Meningkatkan akses pelayanan kesehatan reproduksi remaja berbasis gender; (8) perlindungan anak dari tindakan kekerasan; dan (9) Menyediakan data dan informasi program pemberdayaan perempuan dan keluarga.

4.3.13. Kepemudaan dan Olahraga

Masih rendahnya kapasitas dan kualitas kelembagaan kepemudaan, minimnya pembinaan olahraga sehingga berimbas minimnya prestasi keolahragaaan bagi pemuda, keterbatasan kemampuan pemuda dalam, tumbuhnya kerentanan pemuda terhadap penyalahgunaan narkoba dan tindak kriminal, organisasi kepemudaan belum menjadi motor penggerak/pemuda pelopor.

4.3.14. Pengelolaan sumberdaya alam yang berkeadilan dan berkelanjutan

Ketimpangan dari akses permodalan Isu ini dapat dicapai melalui program-program antara lain : mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya mineral yang berkelanjutan; meningkatkan akses masyarakat terhadap sumberdaya laut; penciptaan nilai tambah produksi perkebunan; pengelolaan sumberdaya hutan berbasis masyarakat; pengolahan produksi hasil ikutan hutan untuk menciptakan nilai tambah; pemanfaatan sumberdaya mineral untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat; dan optimalisasi produksi ikan tangkap dan ikan budidaya.

4.3.15. Pondok Pusaka Techno Park

isu strategis yang diangkat dalam pembangunan dan pengembangan STP, antara lain:

Rendahnya Kerjasama penelitian dan pengembangan IPTEK di bidang industri antara perusahaan industri dan perguruan tinggi antara lembaga penelitian dan pengembangan industri di desa, kecamatan, kabupaten hingga provinsi; Belum berperannya lembaga penelitian dan pengembangan Kabupaten Kaur dan/atau perubahan industri dalam daerah yang mengembangankan teknologi industry; Minimnya penyediaan ruang dan wilayah untuk masyarakat dalam berkreativitas dan berinovasi; Terbatasnya pengembangan sentra industri kreatif; Belum tepatnya sasaran pelaksanaan pelatihan teknologi dan desain hasil pengolahan pasca penen; Tidak adanya ruang konsultasi, bimbingan, advokasi bagi industri kecil; Terbatasnya fasilitas perlindungan hak kekayaan intelektual khusus industri kecil; Lemahnya daya dorong untuk difasilitasinya promosi dan pemasaran produk industri kreatif/hasil pengolahan pasca panen di dalam daerah dan luar daerah secara nasional dan internasional.

4.3.16. Lingkungan hidup dan tata ruang

Belum optimalnya pemanfaatan dokumen rencana tata ruang sebagai acuan dalam rencana pembangunan, belum optimalnya penegakan peraturan perundang-undangan tata ruang, tekanan alih fungsi lahan pada lahan pertanian menimbulkan dampak pada kelestarian lingkungan. Belum optimalnya rehabilitasi hutan dan lahan kritis, masih banyaknya konflik veneurial di dalam dan sekitar lahan hutan. Masih kecilnya persentase rumah tangga bersanitasi. Pengelolaan limbah yang belum optimal.

Masih kurangnya prasarana penaggulangan bencana, masih rendahnya pengetahuan masyarakat tentang bencana.

4.3.17. Investasi

Masih rendahnya investasi yang masuk ke Kabupaten Kaur, Belum optimalnya promosi dan sinergisitas antar-instansi dalam menarik investasi, Masih kurangnya regulasi daerah yang

84

mendukung iklim investasi yang kondusif, Sistem perizinan yang belum sepenuhnya memenuhi standar kualitas pelayanan, Terbatasnya sarana dan prasarana informasi, Pengawasan yang belum optimal dan Regulasi perizinan penanaman modal yang belum optimal.

4.3.18. Energi dan Sumber Daya Mineral

Masih rendahnya kapasitas energi listrik, pemanfaatan sumber daya mineral logam dan non logam dan batuan belum optimal.

4.3.19. Ketahanan Pangan

Pola konsumsi pangan masyarakat yang belum beragam dan bergizi seimbang, Masih tingginya ketergantungan terhadap beras sehingga rentan menimbulkan kerawanan kesetersediaan pangan, Belum optimalnya upaya untuk mewujudkan ketahanan pangan keluarga (rumah tangga), Sistem pengendalian dan regulasi harga pangan belum berjalan baik, Kebijakan dalam menjaga stabilitas ketahanan pangan daerah masih sedikit, Perhatian pemerintah terhadap petani di sisi hulu masih rendah dan Terbatasnya inovasi dalam menjaga kondisi pangan.

4.3.20. Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial

Persentase PMKS yang memperoleh bantuan sosial untuk pemenuhan kebutuhan dasar belum optimal, Belum optimalnya pelayanan terhadap Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS), Masih relatif rendahnya kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi dalam penanganan masalah sosial dan Tingginya angka penyakit masyarakat di beberapa lokasi.

4.3.21. Perikanan dan Kelautan

Belum otimalnya produksi perikanan tangkap, tawar dan budidaya, kelembagaan dan daya saing kelompok tani nelayan belum optimal , masih minimnya teknologi pengelolaan hasil perikanan, masih lemahnya penegakan hukum bidang kelautan dan perikanan. Belum adanya kesadaran

85 BAB V