• Tidak ada hasil yang ditemukan

Isu Strategis Lingkungan Hidup Kabupaten Gunungkidul

BAB I. Pendahuluan

C. Isu Strategis Lingkungan Hidup Kabupaten Gunungkidul

Selama tahun 2013 isu lingkungan yang mencuat adalah penambangan tanpa izin dan penggunaan alat berat dalam proses penambangan batu kapur di wilayah karst. Terkait ketidak jelasan aturan pertambangan, beberapa undang-undang yang menjadi referensi belum bisa menjadi jawaban pasti untuk memberi solusi tepat bagi para penambang. Hingga saat ini para penambang terus mengajukan ijin permohonan agar bisa secara resmi mengelola

I-9

lahan pertambangan. Namun mereka belum mendapat kejelasan legalitas atas hukum dan usaha mereka hingga sekarang, sehingga belum mendapatkan rekomendasi izin. Dalam hal aturan, pemerintah daerah tak hanya mengacu pada satu referensi saja tapi secara garis besar selama ini mengacu pada Permen 17 Tahun 2012 tentang penetapan kawasan bentang alam karst, namun untuk peraturan daerah terbaru yang berisikan pemetaan wilayah kawasan karst yang dapat ditambang masih dalam proses dan belum finish.

Penegakan hukum bagi penambang tanpa izin oleh Satuan polisi Pamong Praja (Pol PP) bahwa sikap Pol PP yang terkesan lamban dikarenakan beberapa alasan, salah satunya regulasi yang masih belum bisa dijadikan landasan hukum bagi Pol PP untuk mengambil sikap tegas dan juga menyangkut lapangan pekerjaan ribuan penambang yang akan hilang bila semena-mena melakukan penutupan sepihak.

2. Ekosistem Pesisir dan Pantai

Kabupaten Gunungkidul memiliki potensi wisata yang cukup potensial dan beragam, mulai dari kekayaan alam berupa pantai, goa, bukit dan pegunungan, tempat bersejarah serta desa wisata budaya maupun wisata religi.

Obyek wisata pantai merupakan obyek wisata unggulan Kabupaten Gunungkidul dengan jumlah kurang lebih 46 pantai yang panjang garis pantai di Kabupaten Gunungkidul menurut data dari BPS adalah 71 km dengan topografi perbukitan karst yang berupa pegunungan terjal yang terbentang dari Desa Girijati Kecamatan Purwosari sampai dengan Pantai Sadeng, Desa Songbanyu, Kecamatan Girisubo. Peningkatan kunjungan wisata mulai dari tahun 2010 mengalami peningkatan hampir tiga kali lipat baik wisatawan domestik maupun asing. Namun permasalahan lingkungan yang terjadi di ekosistem pesisir dan pantai Gunungkidul masih saja terjadi adalah :

a. Pengambilan pasir pantai untuk kegiatan urug pada lokasi hajatan jika terjadi hujan agar tidak timbul genangan.

b. Penebangan tanaman atau vegetasi disekitar pantai yang merupakan tanaman budidaya masyarakat masih bersifat tebang habis sehingga terkesan gundul ;

c. Penggunaan bahan peledak atau racun untuk mencari atau menangkap habitat perairan laut;

d. Pembangunan bangunan-bangunan liar di kawasan sempadan pantai dan bukit-bukit karst di sekitarnya;

e. Pembangunan emplek-emplek/lapak-lapak pedagang di bibir pantai;

f. Maraknya pembangunan kandang ayam, yang tidak sesuai kaidah tata ruang wilayah. Selain permasalah tersebut diatas, beberapa hal yang mengakibatkan terjadinya degradasi kualitas lingkungan kawasan pesisir antara lain adalah :

a. Sebagian besar perbukitan terjal di sekitar pantai telah gersang, tererosi, dan tanpa vegetasi penutup;

b. Terjadinya abrasi yang telah merusak sempadan pantai; c. Terjadinya pencemaran lingkungan pantai dan laut; d. Penurunan kualitas komunitas fauna;

e. Penurunan kualitas habitat terumbu karang.

Permasalah lain yang ada disebabkan faktor masyarakat pengunjung adalah dengan timbulnya sampah, keberadaan sampah ini munculnya selalu linier dengan jumlah pengunjung

I-10

yang terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, sehingga dengan demikian keberadaan volume sampah ini tergantung dengan jumlah pengunjung.

Komunitas masyarakat pesisir di Kabupaten Gunungkidul sampai saat ini masih berdiri sendiri-sendiri berdasarkan dari profesi yang berhubungan dengan pemanfaatan potensi pesisir. Belum adanya suatu komunitas tersendiri secara kewilayahan atau teritorial yang bergerak dalam pengelolaan lingkungan.

Pemerintah daerah Kabupaten Gunungkidul dalam mengatasi permasalahan lingkungan di Gunungkidul melalui beberapa upaya yang dilakukan lintas sector, antara lain : 1. Sebagai salah satu upaya untuk mewujudkan wilayah pantai yang sejuk, indah, dan nyaman

maka dilakukan kegiatan penghijauan pantai. Destinasi wisata di wilayah pantai Kabupaten Gunungkidul menunjukkan peningkatan yang luar biasa. Hal ini apabila tidak diikuti dengan pengelolaan lingkungan yang baik, maka lambat laun kunjungan akan menurun. Pengelolaan lingkungan wilayah pantai yang segera mendapatkan perhatian adalah penambahan vegetasi untuk keteduhan dan pengelolaan sampah. Penanaman tanaman penghijauan dilakukan oleh kelompok sadar dengan gerakan bersama.

2. Pengendalian kerusakan lingkungan melalui penerbitan rekomendasi dokumen lingkungan hidup dan izin gangguan dan pengawasan dan pemantauan usaha dan kualitas lingkungan hidup : air, udara dan tanah secara rutin. Pada tahun 2013 Kapedal telah menerbitkan 30 rekomendasi UKL-UPL dan hampir 500 SPPL sebagai syarat diterbitkanya Izin Gangguan. Upaya pengendalian lainnya adalah dengan ditetapkannya peraturan daerah Nomor 6 tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Gunungkidul 2010-2030, melalui pengendalian keruangan diharapkan dapat mengendalikan kerusakan lingkungan dengan melakukan penataan kawasan, termasuk kawasan pertambangan yang telah diakses dalam Perda ini sesuai realita yang ada dan aturan. Meskipun perda tata ruang telah ditetapkan sebagai salah satu dasar penerbitan izin pertambangan, tetapi selama tahun 2013 Pemerintah Daerah belum memberikan izin tambang, karena peraturan daerah terbaru yang berisikan pemetaan wilayah kawasan karst yang dapat ditambang masih dalam proses dan belum selesai sampai akhir 2013 ini.

3. Penyelesaian kasus lingkungan melalui koordinasi dan komunikasi dengan pengusaha dan warga sekitar sebagai upaya persuasif dan pemberian peringatan dan pembuatan surat pernyataan bagi pengusaha untuk melaksanakan dokumen lingkungan sesuai aturan yang berlaku.

4. Peningkatan kesadaran masyarakat melalui pendidikan dan pelatihan di bidang lingkungan hidup seperti pengelolaan sampah dengan prinsip 3 R, program kali bersih, program langit biru, pantai lestari, kampong iklim, dan sekolah adiwiyata terus dilakukan termasuk pembangunan fasilitasnya.

5. Pembangunan fisik untuk mengendalikan kerusakan lingkungan dan mengembalikan fungsi lingkungan hidup antara lain sumur resapan, biogas, IPAL dan sarana prasarana pengelolaan sampah.

II-1

BAB II

KONDISI LINGKUNGAN HIDUP DAN KECENDERUNGANNYA

A. Lahan dan Hutan

Kerusakan hutan dan lahan telah memberikan dampak yang cukup luas, mulai dari kemerosotan keanekaragaman hayati, banjir, longsor, kekeringan, penurunan kualitas tanah dan air hingga perubahan iklim di tingkat global yang saat ini kita hadapi. Merupakan tantangan bagi kita semua untuk mengendalikan kerusakan hutan dan lahan tersebut. Salah satu upaya pengendalian kerusakan hutan dan lahan adalah dengan melakukan pemantauan kerusakan tanah untuk produksi biomassa.

Tanah adalah salah satu komponen lahan, berupa lapisan teratas kerak bumi, yang terdiri dari bahan mineral dan bahan organik, serta mempunyai sifat fisik, kimia, biologi dan mempunyai kemampuan menunjang kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya.Tanah terbentuk apabila bahan induk berada dalam pengaruh iklim tertentu, organisme dan air dalam periode waktu yang lama. Proses pembentukan tanah secara alami berjalan sangat lambat dan karena itu tanah dapat dianggap sebagai sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui. Oleh karena itu sumberdaya alam ini harus dilestarikan.

Tanah memiliki banyak fungsi dalam kehidupan, di samping sebagai ruang hidup, tanah mempunyai fungsi produksi, antara lain sebagai penghasil biomassa, seperti bahan makanan, serat, kayu dan bahan obat-obatan. Selain itu tanah juga berperan dalam menjaga kelestarian sumber daya air dan kelestarian lingkungan hidup secara umum.Tanah merupakan media tumbuh tanaman, di mana akar tanaman menyerap air dan hara dari dalam tanah. Tanaman memproduksi bahan (biomassa) yang dibutuhkan bagi kehidupan yang lain termasuk manusia. Biomassa adalah tumbuhan atau bagian-bagiannya yaitu bunga, biji, buah, daun, ranting, batang dan akar, termasuk tanaman yang dihasilkan oleh kegiatan pertanian, perkebunan dan hutan tanaman.

Kerusakan tanah dapat disebabkan oleh sifat alami tanah, dapat pula disebabkan oleh kegiatan manusia yang menyebabkan tanah tersebut terganggu/rusak sehingga tidak mampu lagi berfungsi. Kegiatan manusia di dalam memanfaatkan lahan mempengaruhi berbagai proses di dalam tanah, seperti gerakan air, daya tanah menahan air, sirkulasi udara serta penyerapan hara oleh tanaman. Penggundulan hutan sebagai salah satu usaha manusia untuk menambah areal pertanian pada awalnya akan menghilangkan peneduh serta akumulasi sisa-sisa tanaman, sedangkan pengolahan/pemanfaatan tanah yang berlebihan, terutama pada tanah berlereng akan mempercepat dekomposisi bahan-bahan organik, meningkatkan aliran permukaan, menurunkan daya infiltrasi tanah yang kesemuanya menjadi penyebab erosi dan menurunkan produktivitas tanah.

II-2

Sebagai negara yang sebagian besar penduduknya mengandalkan sektor Pertanian, maka sumberdaya tanah memiliki nilai yang sangat penting. Mengingat pentingnya tanah, maka pengendalian kerusakan tanah sangat diperlukan, sebab tanah merupakan sumberdaya alam yang terbatas dan senantiasa mendapatkan tekanan yang semakin besar untuk memenuhi kebutuhan penduduk akan pangan, sandang dan papan yang semakin meningkat.Oleh sebab itu semua orang berkewajiban untuk mempertahankan dan meningkatkan fungsi tanah dengan tujuan melestarikan dan meningkatkan kemampuan produksinya. Hal ini berarti bahwa pemanfaatan tanah harus dilakukan dengan bijaksana, dengan memperhitungkan kepentingan generasi sekarang dan yang akan datang.

Pemantauan kualitas tanah tahun 2013 oleh Kantor Pengendalian Dampak Lingkungan Kabupaten Gunungkidul bekerja sama dengan Laboratorium Geografi Tanah Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, dilaksan akan satu kali dalam setahun, pengambilan sampel dilakukan pada bulan September - Oktober.

Pengambilan sampel untuk pemantauan kualitas tanah tahun 2013 dilakukan di 20 titik, yang tersebar di 18 kecamatan yang ada di Kabupaten Gunungkidul. Lokasi pengambilan sampel tersebut adalah di :

1. Zone Utara

a. Kecamatan Patuk 2 (dua) titik lokasi di Desa Bunder, yaitu di Dusun Widoro Kulon dan Dusun Kemuning (Koordinat : 07.873190- 110.543400 dan 07.88210- 110.523680)

b. Kecamatan Gedangsari Desa Ngalang (Koordinat :07.88606°-110.57240°) c. Kecamatan Nglipar Desa Kedungpoh (Koordinat :07.86287°-110.63737°) d. Kecamatan Ngawen Desa Watusigar (Koordinat : 07.869700- 110.690540) e. Kecamatan Ponjong Desa Bedoyo (Koordinat : 08.013580- 110.733110) f. Kecamatan Semin Desa Semin (Koordinat : 07.873310- 110.727250) 2. Zone Tengah

a. Kecamatan Playen, Desa Playen (Koordinat : 07.950500- 110.548160)

b. Kecamatan Wonosari 2 (dua) titik lokasi, yaitu Desa Pulutan dan Desa Karangrejek (Koordinat : 07.990360- 110.56349 dan 07.980170 - 110.592090).

c. Kecamatan Karangmojo Desa Gedangan ( Koordinat : 07.944540- 110.682100) d. Kecamatan Semanu Desa Ngeposari (Koordinat : 07.999680- 110.680340) 3. Zone Selatan

a. Kecamatan Purwosari Desa Giriasih (Koordinat : 07.994310- 110.372280) b. Kecamatan Panggang Desa Girisekar (Koordinat : 08.036890- 110.461250) c. Kecamatan Saptosari Desa Kepek (Koordinat :08.03669°-110.51767°) d. Kecamatan Paliyan Desa Pampang (Koordinat : 07.989720- 110.555040). e. Kecamatan Tanjungsari (Koordinat : 08.102950- 110.548320)

f. Kecamatan Tepus Desa Purwodadi (Koordinat : 08.142830- 110.674750) g. Kecamatan Rongkop Desa Karangwuni (Koordinat : 08.077790- 110.762610) h. Kecamatan Girisubo Desa Jerukwudel (Koordinat : 08.148650- 110.770950)

Parameter yang dipantau, baku mutu yang digunakan dan metode pemantauan sesuai dengan Peraturan Pemerintah RI No. 150 Tahun 2000 tentang Pengendalian Kerusakan Tanah untuk Produksi Biomassa sebagaimana dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.

II-3

Tabel 2.1 Kriteria Baku Kerusakan Tanah untuk Produksi Biomassa (di lahan kering)

menurut PP RI No. 150 tahun 2000

Parameter Ambang Kritis Metode

Ketebalan solum < 20 cm Pengukuran langsung

Kebatuan permukaan

> 40 % Pengukuran langsung imbangan batu dan tanah dalam unit luasan

Komposisi fraksi < 18 % koloid ; > 80 % pasir kuarsitik

Warna pasir, gravimetrik

Berat isi >1,4 g/cm3 Gravimetrik pada satuan volume

Porositas total < 30 % ; > 70 % Perhitungan berat isi (BI) dan berat jenis (BJ) Derajat pelulusan air < 0,7 cm/jam ; > 8,0

cm/jam

Permeabilitas pH (H2O) < 4,5 ; > 8,5 Potensiometrik

DHL > 4,0 mS/cm Tahanan listrik

Redoks < 200 mV Tegangan listrik

Jumlah mikroba < 102 cfu/g tanah Platting technique

1. Hasil Pemantauan Kualitas Tanah di Zone Utara

Pemantauan kualitas tanah di zone Utara dilakukan di 7 titik lokasi yang meliputi 6 kecamatan, yaitu kecamatan Patuk (2 lokasi, yaitu di dusun Widoro Kulon dan dusun Kemuning, desa Bunder), kecamatan Gedangsari, kecamatan Nglipar, kecamatan Ngawen, kecamatan Ponjong dan kecamatan Semin.

Tumbuhan akan lebih leluasa menyerap air, hara dan mempertahankan tubuhnya agar tidak tumbang apabila ruang gerak akarnya longgar. Ruang gerak akar dalam tanah diperankan oleh jeluk efektif (effective depth) yang dikenal sebagai soul tanah. Solum tanah sangat bervariasi dari jenis tanah dan tingkat genesisinya. Tanah yang selalu tererosi dapat sangat dangkal solumnya (kurang dari 10 cm), sedangkan tanah yang lanjut berkembang tanpa erosi dapat mencapai ketebalan solum lebih dari 10 m.

Tabel 2.2. Hasil Pemantauan Kualitas Tanah di Zone Utara Parameter Satuan Patuk

(Widoro Kulon) Patuk (Kemuni ng) Gedangs ari

Nglipar Ngawen Ponjong Semin

Ketebalan solum cm 30 30 40 30 40 25 40 Kebatuan Permukaan % 1 1 1 1 1 1 1 Tekstur: Pasir kasar % 18,21 19,12 62,69 29,71 21,89 10,40 13,12 Debu % 19,15 22,72 22,21 26,75 20,75 20,51 28,85 Lempung % 62,64 58,16 15,09 43,55 57,36 69,09 58,03 Kelas tekstur

- Lempung Lempung Geluh pasiran

Lempung Lempung Lempung Lempung

II-4

Redoks mV 56 15 118 52 87 42 8 DHL µmhos/cm 140 91 225 110 123 115 106 Permeabili tas cm/jam 2,664 3,000 8,449 14,22 1,075 0,521 3,656 Kelas permeabili tas

Sedang Sedang Agak

cepat Cepat Agak lambat Agak lambat Sedang Berat volume gr/cc 1,421 1,232 0,954 1,669 1,245 1,322 1,32 Berat Jenis 2,056 1,619 1,807 2,012 1,943 2,038 1,776 Porositas % 30,89 23,90 47,21 17,05 35,92 35,13 25,68 Jumlah Mikroba cfu/g tanah 9,33×106 2,10×106 8,81 x105 8,81 x105 5,40 x105 1,50 x108 7,37 x104 Kedalaman efektif dibatasi oleh berbagai faktor pembatas, ada yang bersifat permanen (padas, bahan induk, lapisan pirit) dan ada pula yang bersifat dapat dikelola (misalnya air tanah dangkal, lapisan kontras, dll). Tebal tanah kurang dari 20 cm dianggap sebagai limit zona rizofir yang berkaitan dengan penyediaan hara dan air dalam tanah. Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa ketebalan solum di 7 lokasi yang diambil sampelnya di zone Utara berkisar antara 25 - 40 cm. Yang memiliki solum lebih tebal adalah tanah di Gedangsari, Ngawen dan Semin, sedangkan yang solumnya paling tipis adalah tanah di Ponjong. Berdasarkan PP RI No. 150 tahun 2000, ambang kritis ketebalan solum untuk kerusakan lahan di lahan kering adalah bila ketebalan solumnya kurang dari 20 cm. Dari hasil pengamatan ketebalan solum, tanah di 7 lokasi tersebut tidak ada yang melebihi ambang kritis.

Jumlah bahan bukan fraksi tanah di dalam soul dapat mempengaruhi ruang gerak dan penyediaan hara tanaman. Bahan bukan tanah tersebut dapat berupa batu, lapisan kontras, keberadaan gipsum dan batu kapur serta bahan asing lainnya. Bahan-bahan tersebut dapat mengganggu bilamana berada di zona perakaran, sangat mengganggu bila jumlahnya mencapai lebih dari 40 %. Oleh karena itu berdasarkan PP RI No. 150 tahun 2000, ambang kritis kerusakan tanah di lahan kering untuk kebatuan permukaan adalah bila persentase tutupan batu di permukaan tanah lebih dari 40 %. Kebatuan permukaan di 6 lokasi yang dipantau di zone Utara adalah sebesar 1 %, hanya tanah di Nglipar yang memiliki kebatuan permukaan sebesar 5%.

Tekstur tanah adalah susunan dari besar butir tanah. Ukuran besar butir bahan penyusun tanah biasanya dipilahkan menjadi 7 kelompok (kelas), dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 2.3. Diameter ukuran besar butir penyusun tanah Sebaran Besar Butir Diameter limits (mm)(USDA classification)

Koloid Lempung (clay) Less than 0,002

Debu (silt) 0,002 – 0,05

Pasir sangat halus (very find sand) 0,05 - 0,10

II-5

Pasir sedang (medium sand) 0,25 – 0,50

Pasir Kasar (coarse sand ) 0,50 – 1,00

Pasir sangat kasar (very coarse sand) 1,00 – 2,00

Fraksi pasir merupakan salah satu komponen penyusun tekstur tanah di samping debu dan lempung (clay). Peranan tekstur sangat menentukan sifat tanah secara menyeluruh. Lempung dan bahan organik sangat berperan dalam penyimpanan dan penyediaan hara karena luas permukaannya yang sangat besar dan memiliki muatan. Fraksi halus berperan menyatukan butiran tanah membentuk agregat dan memegang lengas, sedangkan fraksi kasar berguna untuk menjaga keseimbangan udara – air dalam tanah. Keberadaan fraksi pasir lebih dari 80 % sebagai penyusun utama tekstur tanah menunjukkan potensi pemegangan hara dan air dalam tanah sangat rendah sehingga tidak mampu menunjang lingkungan tumbuh vegetasi atau tanaman secara umum.

Berdasarkan PP RI No. 150 tahun 2000, ambang kritis untuk fraksi tanah adalah bila bahan penyusun tanah terdiri kurang dari 18 % koloid dan lebih dari 80 % pasir kuarsitik. Dari hasil analisa, bahan penyusun tanah di 7 lokasi yang diambil sampelnya di zone Utara, untuk komponen koloid (lempung) berkisar antara 15,09 – 69,09 %, sedangkan untuk komponen pasir kuarsitik (pasir kasar) berkisar antara 10,40 – 62,69 %. Komponen koloid yang terendah terdapat pada sampel tanah di Gedangsari dan melebihi ambang kritisnya, karena kurang dari 18 %, sedangkan komponen koloid tertinggi terdapat pada sampel tanah di Ponjong. Komponen pasir kuarsitik terendah terdapat pada sampel tanah di Ponjong, sedangkan yang tertinggi terdapat pada sampel tanah di Gedangsari. Bila dilihat dari komponen pasir kuarsitiknya, dari 7 lokasi yang diambil sampelnya tidak ada yang melebihi ambang kritisnya.

Gambar 2.1. Segitiga Tekstur

Apabila persentase pasir, debu dan koloid lempung di dalam tanah diketahui, maka kelas tekstur tanah dapat ditentukan. Penentuan kelas tekstur biasanya menggunakan segitiga tekstur sebagaimana dapat dilihat dalam gambar diatas. Untuk sampel tanah di zone Utara hampir semua memiliki kelas tekstur lempung, kecuali sampel tanah dari Gedangsari yang mempunyai kelas geluh pasiran.

II-6

Berat volume (berat isi) tanah sebagaimana berat volume benda-benda lain adalah nisbah antara berat massa (padat) dengan volume total (volume padatan + volume pori) tanah. Berat volume merupakan ukuran tidak langsung dari pori tanah dan dipengaruhi oleh tekstur dan struktur tanah. Berat volume tanah pasiran hanya berkisar antara 1,2 – 1,8 g/cm3, sedangkan tanah lempungan umumnya mempunyai nilai berat volume 1,0 –1,6 g/cm3.

Grafik 2.1. Berat Isi Tanah di Zone Utara dibandingkan dengan ambang kritisnya

Pengolahan tanah tidak mempengaruhi tekstur tanah, tetapi mempengaruhi struktur tanah. Pengolahan tanah biasanya menurunkan berat volume, tetapi pemadatan (compaction) meningkatkan berat volume. Peningkatan berat volume akan berarti juga penurunan pori tanah, yang pada gilirannya akan mempengaruhi kandungan lengas (air) tersedia dan aerasi (udara) tanah. Selain pemadatan, terjadinya sementasi (perekatan) partikel-partikel tanah disebabkan oleh bahan-bahan tertentu, misalnya sisa-sisa bahan-bahan-bahan-bahan pupuk (carrier) dapat meningkatkan berat volume tanah.

Ambang kritis berat volume tanah menurut PP RI No. 150 tahun 2000 adalah bila berat volumenya melebihi 1,4 g/cm3. Dari hasil analisa sampel tanah dari 7 lokasi di zone Utara memiliki berat volume berkisar antara 1,232 – 2,038 g/cm3. Yang memiliki berat volume terbesar adalah sampel tanah di Ponjong, sedangkan berat volume terkecil dimiliki oleh sampel tanah Patuk (Kemuning). Dari hasil analisa diketahui bahwa berat volume sampel tanah di zone utara, hampir semua melebihi ambang kritisnya, kecuali sampel tanah dari Patuk (Kemuning) dan Ngawen.

Tanah yang sarang (porous), lepas-lepas teragregasi dengan baik akan mempunyai berat volume yang lebih rendah bila dibandingkan dengan tanah padat, mampat dan pejal. Hal ini karena pori tanah terisi oleh udara atau air yang mempunyai bobot yang lebih ringan dibandingkan dengan bahan mineral penyusun tanah. Tanah pasiran mempunyai pori total yang lebih rendah daripada tanah lempungan, itulah sebabnya pada umumnya tanah pasiran mempunyai berat volume yang lebih tinggi dibandingkan dengan tanah lempungan.

0 0,2 0,4 0,6 0,8 1 1,2 1,4 1,6 1,8 Baku Mutu Berat Isi Tanah Berat Isi Tanah di Zona Utara dibandingkan

II-7

Grafik 2.2. Porositas total tanah di zone Utara dibandingkan dengan ambang kritisnya

Hasil analisa porositas total tanah pada sampel tanah dari zone Utara berkisar antara 16,13 – 47,21 %, di mana porositas total terendah terdapat pada sampel tanah Patuk (Kemuning), sedangkan yang tertinggi terdapat pada sampel tanah di Gedangsari. Menurut PP RI No. 150 tahun 2000, ambang kritis porositas total tanah adalah bila nilainya kurang dari 30 % atau lebih dari 70 %. Dari hasil analisa, dapat dilihat bahwa sampel tanah di Patuk (Kemuning), Nglipar dan Semin memiliki porositas total yang melebihi ambang kritis karena kurang dari 30 %.

Derajat pelulusan air (permeabilitas) tanah adalah kemampuan bahan penyusun tanah untuk melewatkan cairan/larutan melalui pori-pori di dalam tanah. Permeabilitas tanah merupakan salah satu sifat tanah yang penting yang berkaitan dengan aliran air di dalam tubuh tanah, misalnya masalah rembesan dari dam (bendungan), drainase, dan pengisian kembali (recharge) sumur, dsb. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi permeabilitas tanah, antara lain viskositas air, ukuran dan bentuk partikel tanah, tingkat kejenuhan dan void ratio. Void ratio adalah nisbah volume void dengan volume solid. Tetapi pada umumnya permeabilitasberbanding terbalik dengan kerapatan massa tanah. 0 10 20 30 40 50 60 70 80

Baku Mutu Atas Porositas Total Baku Mutu bawah

Porositas Total Tanah di Zona Utara dibandingkan

Baku mutunya

II-8

Gambar 2.3. Derajat pelulusan air (Permeabilitas) sampel tanah di zone utara dibandingkan dengan

ambang kritisnya

Berdasarkan PP RI No. 150 tahun 2000, ambang kritis permeabilitas tanah adalah bila nilainya di bawah 0,7 cm/jam atau di atas 8,0 cm/jam, dengan demikian, sampel tanah dari ada beberapa yang melebihi ambang kritisnya, yaitu sampel tanah di Ponjong yang memiliki permeabilitas kurang dari 0,5 cm/jam) dan sampel tanah di Patuk (Kemuning), Gedangsari serta Nglipar yang memiliki permeabilitas lebih dari 8,0 cm/jam.

Kelas permeabilitas tanah (seri tanah) biasanya ditentukan oleh permeabilitas terendah dari lapisan tanah yang terdapat di dalam jeluk 1,5 m dari permukaan tanah.

Tabel 2.4 Klasifikasi Kecepatan Infiltrasi

Klasifikasi Kecepatan Infiltrasi (inch/jam)

Sangat lambat (very slow) < 0,06

Lambat (slow) 0,06 – 0,2

Agak lambat (moderately slow) 0,2 – 0,6

Sedang (moderate) 0,6 – 2,0

Agak cepat (moderately rapid) 2,0 – 6,0

Cepat (rapid) 6,0 – 20,0

Sangat cepat (very rapid) > 20,0

Berdasarkan tabel di atas, sampel tanah dari Ngawen dan Ponjong termasuk dalam kelas permeabilitas agak lambat, sampel tanah dari Patuk, baik dari dusun Widoro Kulon maupun Kemuning serta sampel tanah dari Semin termasuk dalam kelas permeabilitas sedang, sampel tanah dagi Gedangsari termasuk dalam kelas permeabilitas agak cepat, sedangkan sampel tanah dari Nglipar termasuk dalam kelas permeabilitas cepat.

0 2 4 6 8 10 12 14 16

Baku mutu bawah Permeabilitas Baku Mutu Atas

II-9

Tanah akan menunjukkan reaksi asam dan basa di dalam tanah. Reaksi tersebut secara tidak langsung akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman lewat pengaruhnya terhadap ketersediaan unsur hara. Tanah dapat bereaksi asam atau basa (alkalis) tergantung pada konsentrasi ion H dan OH. Untuk mencirikan reaksi tanah tersebut digunakan istilah pH. pH tanah adalah logaritma negatif dari konsentrasi ion H+ di dalam larutan tanah. pH tanah merupakan salah satu indikator yang baik dan cepat serta akurat untuk mengetahui sifat-sifat kimia tanah, status dan taraf ketersediaan hara dan taraf pelapukan yang telah berlangsung di dalam tanah. Selain itu nilai pH

Dokumen terkait