BAB 6 KAIDAH PELAKSANAAN
B. ASEAN Economic Community
2. Isu Strategis Nasional
Berdasarkan penelahaan dokumen RPJP Nasional dan MP3EI serta hasil diskusi terfokus, ditemukanlah isu strategis yang perlu diantisipasi oleh Kabupaten Bangka Barat dalam penyusunan RPJPD Kabupaten Bangka Barat. Adapun isu strategis tersebut antara lain :
a. Pengembangan industri hilir berbasis sumber daya.
Peningkatan nilai tambah menjadi isu utama yang diangkat dalam kebijakan pembangunan nasional. Telah sekian lama, Indonesia hanya sanggup menjadi penyuplai bahan mentah yang diekspor langsung ke luar negeri. Untuk mendorong pengolahan bahan mentah di tanah air, pemerintah pusat telah mengupayakan beberapa hal, mulai dari pelarangan ekspor langsung bahan tambang hingga insentif bagi industri hilir. Bangka Barat memiliki potensi Kelapa Sawit dan Karet yang perlu dioptimalkan pengolahannya sebelum dikirim ke luar.
b. Pemenuhan pasokan energi listrik
Salah satu problem utama yang muncul dalam diskusi grup terfokus di Kabupaten Bangka Barat adalah kurangnya suplai listrik yang cukup untuk menggerakkan industri pengolahan maupun pariwisata. Isu pasokan energi juga telah masuk dalam kebijakan nasional untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing industri di Indonesia. Kawasan Sumatera sendiri telah diarahkan sebagai lumbung energi nasional, dengan memanfaatkan pasokan besar batubara yang banyak tersedia di Sumatera sebagai bahan bakar. Kabupaten Bangka Barat membutuhkan tambahan pembangkit listrik baru dalam jaringan Bangka-Belitung serta koneksi listrik melalui laut dengan Sumatera.
c. Pengembangan pariwisata berbasis keindahan alam bahari.
Pemerintah pusat menyadari potensi Indonesia sebagai negara dengan garis pantai terpanjang di dunia. Oleh sebab itu, perlu ada upaya untuk mengoptimalkan arus wisatawan yang berbasis alam bahari. Akan tetapi, kerusakan alam yang disebabkan penambangan lepas pantai di Kabupaten
Bangka Barat turut merusak keindahan alam bahari yang seharusnya bisa dijual sebagai objek wisata. Oleh sebab itu, permasalahn konervasi alam bahari harus lebih dulu diupayakn untuk mengoptimalkan potensi wisata bahari Kabupaten Bangka Barat.
d. Pengembangan pariwisata berbasis budaya bangsa.
Keanekaragaman budaya Indonesia menjadi daya tarik wisata tersendiri. Hal ini disadari sebagai potensi wisata yang tak ternilai harganya. Dalam RPJPD Kabupaten Bangka Barat 2005-2025, salah satu poin pengembangan wisata selain berbasis keindahan alam adalah budaya bangsa. Kabupaten Bangka Barat sendiri memiliki kekayaan budaya yang berasal dari akulturasi budaya Melayu dan Tionghoa yang cukup kental. Hal ini telah berkembang sejak lama dan bisa menjadi daya tarik tersendiri. Selain itu, posisi Kabupaten Bangka Barat juga sangat istimewa karena memiliki sejarah penting dalam pendirian negara kesatuan Republik Indonesia. Kabupaten Bangka Barat menjadi tempat pengasingan para founding father selama agresi militer belanda kedua.
e. Pengolahan bahan tambang tak terbarukan
Kebijakan nasional terhadap bahan tambang secara umum adalah peningkatan nilai tambah di dalam negeri. Hal ini ditegaskan dalam RPJPD Kabupaten Bangka Barat 2005-2025 serta adanya pelarangan ekspor bahan baku secara langsung melalui Undang Undang Minerba. Hal ini dapat dimanfaatkan Kabupaten Bangka Barat untuk menyediakan industri hilir bagi pengolahan timah yang selama ini menjadi andalan. Dengan demikian, timah dapat menghasilkan nilai tambah yang dapat dinikmati Kabupaten Bangka Barat.
f. Pengalihan hasil tambang dengan sumber ekonomi berkelanjutan
Dalam RPJP Nasional, pemerintah pusat menaruh perhatian besar pada ekonomi berkelanjutan. Keterbatasan sektor tambang tidak terbarukan mulai diantisipasi dengan melakukan investasi di sektor berkelanjutan. Oleh sebab itu, pemerintah Kabupaten Bangka Barat juga perlu mulai mengarahkan investasi ke sektor-sektor terbarukan. Tentu hal ini tidak akan berjalan mudah, sebab warga telah demikian bergantung dengan timah.
g. Modernisasi, efisiensi dan nilai tambah sektor pertanian
Sektor pertanian merupakan sektor yang semakin tergerus oleh sektor industri dan pertambangan. Padahal sektor ini sangat penting untuk menunjang ketahanan pangan. Agar meningkatkan sektor ini supaya tidak terus digerus, perlu ada upaya modernisasi, efisiensi sektor ini. Dengan demikian, pekerja sektor ini dapat memiliki nilai tambah dari produk pertanian. Kabupaten Bangka Barat dalam sektor ini terus tertinggal, sebab budaya menambang sangat kental dan menghasilkan uang dalam waktu singkat. Hal inilah yang menjadi tantangan bagi Kabupaten Bangka Barat.
h. Pengembangan infrastruktur untuk menciptakan keterkaitan
Infrastruktur merupakan salah satu kendala yang selama ini menghambat daya saing produk Kabupaten Bangka Barat. Hal ini juga ditemukan di berbagai daerah lain dan menjadi perhatian pemerintah pusat. Perbaikan infrastruktur secara nasional diarahkan untuk peningkatan daya saing dan memperkuat keterkaitan antar sektor. Wilayah Sumatera sendiri diunggulkan sebagai lumbung energi nasional dan sentra produksi hasil bumi. Hasil bumi yang diunggulkan meliputi : kelapa sawit, karet, batu bara, perkapalan dan besi baja. Kabupaten Bangka Barat memiliki potensi kelapa sawit dan karet, yang dapat dikembangkan lebih jauh dengan memperbaiki infrastruktur.
i. Implementasi Undang-Undang Nomor 06 Tahun 2014 tentang Desa dimulai tahun 2015
Undang-Undang Nomor 06 Tahun 2014 tentang Desa yang telah di sahkan memberikan kesempatan bagi desa untuk bisa merencanakan, mengusulkan, memutuskan, menjalankan, dan mengendalikan pembangunannya secara mandiri. Desa, akan didukung dengan suntikan dana yang diperkirakan mencapai 1 Milyar Rupiah setiap tahunnya. Kesempatan ini perlu menjadi perhatian bagi Pemerintah Kabupaten Bangka Barat dalam mendorong pembangunan inklusif di perdesaan.
j. Implementasi Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah mengatur paradigma baru tentang penyelenggaraan pemerintahan daerah. Beberapa hal perubahan signifikan terjadi pada kewenangan pemerintah provinsi dan kabupataen kota. Terkait dengan implementasi Undang-Undang tersebut, Pemkab. Bangka Barat perlu memperhatikan fokus urusan yang secara kewenangan sudah beralih ke pemerintah provinsi dan pemerintah pusat tersebut agar secara berkelanjutan memiliki arah dan tujuan selaras dengan kondisi yang diharapkan di Kabupaten Bangka Barat antara lain:
1. Penambahan jumlah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Pemkab. Bangka Barat perlu untuk mendorong penambahan sekolah kejuruan, berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebagai pihak yang berwenang menyelenggarakan pengelolaan sekolah menengah serta juga berkoordinasi dengan Pemerintah pusat terkait pembentukan akademi/perguruan tinggi di Bangka Barat, sebagai upaya mengakomodir peserta didik yang ingin segera masuk ke dunia kerja sehingga penduduk Bangka Barat memiliki daya saing yang cukup untuk menghadapi persaingan bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN. Senada dengan kewenangan pemerintah provinsi di urusan pengelolaan sekolah menengah, Pemkab. Bangka Barat juga perlu mendorong pemenuhan angka partisipasi murni (APM) untuk SMU sebagai bagian sasaran terwujudnya kualitas masyarakat yang cerdas dengan rencana capaian indikator 60% di akhir tahun 2025, dan selaras dengan harapan Bangka Barat untuk merealisasikan angka rata-rata lama sekolah 10 tahun dapat tercapai.
2. Moratorium pembukaan tambang baru. Pemkab. Bangka Barat perlu mendorong moratorium pembukaan tambang baru sebagai upaya mengurangi kerusakan lingkungan di wilayah Bangka Barat dengan berkoodinasi dengan pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan Pemerintah Pusat terkait dengan pemberian ijin aktivitas penambangan timah serta penambangan lainnya.
3. Penambahan daya listrik untuk mendukung investasi ekonomi dari kondisi saat ini (21 MW) menjadi minimal 150 MW. Sesuai dengan paparan pihak PLN
pada saat konsultasi publik, PLN merencanakan penambahan listrik menjadi 150 MW sebagai dukungan investasi di wilayah Bangka Belitung khususnya di Kabupaten Bangka Barat. Rencana tersebut perlu didukung dengan berkoordinasi serta bekerjasama dengan banyak pihak, agar sumberdaya energi tersebut dapat menjadi jaminan ketersediaan infrastruktur investasi ekonomi di Bangka Barat.
4. Selain angka 1 sampai dengan angka 3 diatas, pengalihan kewenangan yang sebelumnya berada di pemerintah kabupaten/kota dan beralih menjadi kewenangan pemerintah provinsi, antara lain kehutanan dan pengawasan ketenagakerjaan, tetap perlu diperhatikan oleh Pemerintah Kabupaten Bangka Barat dengan cara membangun komunikasi dan koordinasi yang erat dengan pihak pemerintah provinsi sehingga pengelolaan urusan kehutanan dan pengawasan ketenagakerjaan di Kabupaten Bangka Barat dapat terlaksana sesuai dengan kondisi yang diharapkan.