• Tidak ada hasil yang ditemukan

j arGoN K edua : Y aKiN , i KHlas , daN i stiqamaH

MENGENAL LEBIH DEKAT PENDIRI NAHDLATUL

B. j arGoN K edua : Y aKiN , i KHlas , daN i stiqamaH

Jargon kedua ini merupakan syarat mutlak yang harus dimiliki oleh seorang kader dalam mengemban tugas dan misi Nahdlatul Wathan terutama pada aspek pendidikan, sosial, dan dakwah Islamiyah. Berkaitan dengan jargon ini, Kyai Hamzanwadi mengatakan bahwa ada tiga kunci keselamatan dunia akhirat, yakni yakin, ikhlas, dan istiqamah sebagaimana makna yang terkandung pada surat al-Fatihah. Dia juga menjelaskan bahwa iman adalah pokok dari segala pokok, buah dari segala pokok itu adalah taqwa.6 Baru bisa terjalin sikap istiqamah apabila antara tiga unsur lainnya saling koheren (kerja sama), yakni antara yakin, ikhlas, dan istiqamah itu sendiri.7

Dalam kesempatan lain, Kyai Hamzanwadi juga me-nandaskan bahwa kalau benar Anda anggota NW, maka haruslah ditanam iman dan taqwa itu di dalam hatimu.

Ikhlas dalam ibadah adalah melakukan ibadah karena perintah, bukan karena ganjaran syurga dan menjauhi larangan karena larangan Allah bukan karena takut neraka.

Ikhlas adalah sikap yang sama sewaktu dicela dan dipuji (al-istiwâ' bain al-zammi wa al-madh).8 Dalam kesempatan lain, kyai Hamzanwadi juga menegaskan bahwa usahakanlah kamu istiqamah, yakin, dan ikhlas, janganlah kamu mengagungkan keturunan dan hartamu terus.9 Bahkan tiga kata ini dianggap sebagai kunci keselamatan dunia akhirat adalah yakin, ikhlas, dan istiqamah, sebagaimana makna yang terkandung pada surat al-Fātihah.10

Berkaitan dengan ciri-ciri orang ikhlas, Kyai Hamzanwadi menjelaskan dalam syairnya:

Manusia ikhlas ada tandanya

5 Kyai Hamzanwadi, Wasiat..., 61.

6 Disampaikan hari Ahad, 30 Juni 1996.

7 Disampaikan hariRabu, 3 Januari 1996.

8 Disampaikan hari Sabtu, 2 Maret 1996 M.

9 Disampaikan hari Senin, 25 November 1996.

10 Disampaikan hari Ahad, 30 Juni 1996.

Kiprah Nahdlatul Wathan

62

Tetap berjuang dengan setia Dimana saja mereka berada Tidak tergantung menjadi pemuka Contohnya Khalid dipecat Umar Di perang Yarmuk sedang berkobar Jiwa dia bertambah besar

Bertambah ikhlas berjuang besar11

Dengan demikian, prinsip ikhlas ini sangat berkaitan dengan prinsip keridlaan dan kemanfaatan. Jika kita ridla terhadap apapun yang dipercayakan, maka akan memberikan manfaat yang positif kepada pribadi kita juga. Sehingga sampai di sini, yang menjadi persoalan adalah menjadi pemimpin atau menjadi pejabat bukanlah keharusan, tetapi yang paling penting adalah bagaimana menikmati qadla qadar Tuhan secara ikhlas dan mensyukurinya sebagai karunia dariNya.

C. jarGoN KetiGa: KomPaK, utuH, daN Bersatu

Jargon ketiga ini merupakan jargon yang sering disampai kan Kyai Hamzanwadi dalam rangka memupuk persatuan umat Islam, khusus NW. Dengan kekompakan, keutuhan, dan persatuan tidak ada yang sulit dilakukan.

Pasti akan muncul kemudahan dari Allah ketika tiga hal ini dilakukan sebagai hamba Allah di dunia fana ini.

Kyai Hamzanwadi menegaskan bahwa satu hal yang sangat penting bagi kita adalah kekompakan dan keutuhan dalam mengabdikan diri kepada Allah SWT.12 Suatu amalan harus memiliki esensi Ilâhiyah (ibadah) dengan memasang niat untuk ber-tadlarrû’ dan ta’abbud kepada Tuhan.

Namun, jangan lupa bahwa manfa’at maksimal hanya akan dapat diperoleh dengan suasana utuh, kompak, dan bersatu. Dalam hal ini Kyai Hamzanwadi pernah berpesan:

Dasar selamat bersatu kalimah, Bersatu derap bersatu langkah, Dasar bahaya berpecah belah,

Terkadang membawa su’ul khatimah, Kalau anakku kompak selama,

11 Kyai Hamzanwadi, Wasiat..., 48.

12 Disampaikan hari Selasa, 5 Maret 1996.

Di satu barisan selama-lama, Pastilah NW jayanya lama,

Karena syaitan tak dapat nggrama.13

d. jarGoN KeemPat: ”PoKoKNYa NW, PoKoK NW imaN daN taqWa

Terkadang dalam memahami jargon ini, banyak di antara para nahdliyin yang lebih mengutamakan kalimat

Pokoknya NW” dari kalimat “Pokok NW Iman dan Taqwa”.

Secara epistemologi kalimat “Pokoknya NW” sesungguhnya berada di bawah kalimat “Pokoknya NW Iman dan Taqwa”.

Dengan kata lain, kalau tidak ada iman dan taqwa maka tidak ada artinya membanggakan organisasi.

Keberadaan suatu organisasi keagamaan dalam Islam, tak lebih dari upaya menjaga iman dan taqwa tersebut. Hal ini pada tataran praktek akan dikembangkan ke dalam berbagai aspek kehidupan. Sehingga, urgensi kehadiran organisasi Nahdlatul Wathan adalah dalam rangka menjaga kekuatan iman dan taqwa semua warganya dan umat Islam pada umumnya.

Keutamaan iman dan taqwa ini telah dilukiskan oleh Kyai Hamzanwadi dalam bait Wasiat Renungan Masa: ”Bila nanda mencari muka; Janganlah cari di manusia; Tetapi carilah di Robbal baraya; Dengan iman dan taqwa”.14 Dalam hal ini, tidak disangsikan lagi bahwa ciri kuatnya iman dan taqwa seseorang sangat ditentukan oleh sikap persaudaraan, sikap saling mema’afkan dan selalu menjauhkan perbuatan yang tidak bermanfa’at (tarkuhu mâ lâ ya’nîh). Ada sebuah kisah menarik dari kedua cucu Rasulullah, pada suatu ketika pernah terjadi perselisihan antara kedua cucu Rasulullah, yakni antara Sayyidina Hassan dan Sayyidina Husein.

Lantas Sayyidina Husein (sang adik) berkata: ”Saya tidak akan meminta ma’af kepada kakakku (Sayyidina Hassan) lebih dahulu, karena aku tidak mau mendahului kakakku masuk syurga kelak”.

Kyai Hamzanwadi ketika memberikan kuliah atau pe ngajian di hadapan mahasiswa Ma’had Dârul Qur’ân wa

13 Ibid., 96.

14 Ibid., 60.

Kiprah Nahdlatul Wathan

64

al-Hadis juga menegaskan bahwa “Hendaklah kamu semua pahami! tugas kamu semua adalah menjadi penerus dan penegak iman dan taqwa.”15

e. jarGoN Kelima: Inna akramakum ‘Indî anfaukum lI nahdlatIl WathanWa Inna Syarrakum ‘Indî adlarrukumbI

nahdlatIl Wathan

ىِدْنِع ْمُكَّرَش َّنِإَو ِنَطَولْا ِة َضْهَنِل ْمُكُعَفْنَا ىِدْنِع ْمُكَمَرْكَا َّنإ

ِنَطَولْا ِة َضْهَنِب ْمُكُّر َضَا

Pada jargon kelima ini, nilai “manfa’at” menjadi tolok ukur yang signifikan dalam menentukan nilai kemulian seorang murid di hadapan gurunya. Sementara untuk meraih predikat “kemanfaatan” itu harus melewati tiga jenjang secara hierarkis, yakni ahlul ‘ilmî, ahlul amâ, dan ahlul ibâdah. Kita harus menyadari bahwa sesungguhnya ilmu itu untuk diamalkan (“innama al-‘ilmu li al-‘amal”) dan ilmu tanpa diamalkan laksana pohon yang tidak berbuah (“al-Ilmu bilâ amalin kasysyajari bilâ tsamarin”).

Kelima jargon atau prinsip perjuangan Kyai Hamzanwadi di atas merupakan prinsip yang diambil dari ajaran Islam. Hanya saja dua jargon terakhir sekilas terkesan ekslusif bagi warga NW, tetapi dalam kenyataannya dapat diterapkan pada organisasi keagamaan lainnya dalam konteks bahwa pengikutnya mesti memiliki militansi yang kuat dalam sebuah organisasi yang diyakini dapat melakukan perubahan yang lebih baik bagi kepentingan umat Islam secara umum. Sehingga dalam hal ini kehadiran organisasi keagamaan tertentu jangan dianggap sebagai bentuk perpecahan atau friksi dalam agama. Namun sebaliknya beragamnya organisasi keagamaan ini harus kompak, utuh, dan bersatu dalam menyiarkan syiar Islam sebagaimana makna jargon yang ketiga di atas. Apalagi Nabi Muhammad SAW sendiri mengakui dua kelompok besar pada masanya, yakni Muhajirin dan Anshor yang kemudian

15 Disampaikan Tanggal 15 Syawal 1416.

dapat dipersatukan dalam membela dan memperjuangkan kejayaan Islam secara bersama-sama.

METODE