• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUKUM ISLAM DALAM KONTEKS

2. Melepaskan Diri Dari Taqlid?

Kiprah Nahdlatul Wathan

114

oleh imam mazhabnya; c). al-Mujtahid fi al-Mazhab, yaitu mujtahid dalam suatu mazhab yang mengikuti imamnya secara konsekuen tetapi dalam masalah yang belum ditetapkan oleh imam mazhab, ia berusaha melakukan ijtihad untuk mendapatkan solusi hukumnya; d). al-Mujtahid al-Murajjih, yaitu ahli fikih yang berupaya mengukuhkan suatu pendapat dari beberapa pendapat yang difatwakan oleh seorang imam mazhab dengan menggunakan metode tarjih.

Syarat-syarat ijtihad adalah syarat-syarat yang diperlu kan dalam berijtihad yang seharusnya dimiliki oleh seorang mujtahid dalam melakukan ijtihad. Syarat-syarat tersebut diperlukan untuk membawa seseorang mencapai derajat muj tahid. Menurut as-Syatibi, derajat ijtihad dapat dicapai apabila seseorang memiliki dua kriteria, yaitu: a).

Dapat memahami maqhasid asy-syari’ah secara sempurna.

b). Kemampuan menarik kandungan hukum atas dasar pengetahuan dan pemahaman maqhaid asy-syari’ah.

Kedua kriteria ini saling terkait, kriteria kedua merupakan alat bantu atau wasilah bagi kriteria yang pertama yang merupakan tujuan.24

melakjukan ijtihad kembali. Fase ini merupakan fase pergeseran orientsai, yakni orientasi dari merujuk langsung kepada al-Qur’an dan Sunnah, kepada kitab-kitab fiqih yang disusun oleh imam yang dipandang lebih berkompeten.25

Untuk menjaga kesucian kitab-kitab fiqih, ulama melakukan kegiatan yang bersifat internal, yakni membangun mazhab yang dianutnya sehingga dapat berkembang. Terdapat dua ciri yang cukup dominan yang menjadi tanda kemuduran fikih Islam, yakni taqlid yang kemudian ijtihad dinyatakan tertutup.26

Secara umum, taqlid terjadi karena keterbelengguan akal pikiran akibat logis dari hilangnya kebebasan berpikir.

Farouk Abu Zaid berpendapat bahwa kebebasan berpikir hilang an tara lain disebabkan oleh pemaksaan penggunaan aliran atau mazhab tertentu oleh pihak penguasa, seperti khalifah al-Makmun, al-Mu’tasim, dan al-Wasiq memaksakan Mu’tazilah kepada ulama. Lebih jauh Jaih Mubarok27 menandaskan:

Salah satu akibat keterbelenggguan akal pikiran adalah timbulnya pendapat ulama yang memandang bahwa pendapat-pendapat para imam mazhab berkedudukan sepadan dengan nash al-Qur’an dan Sunnah yang tidak dapat diubah, digugat, atau diganti. Umpamanya, Ubaidillah al-Karhi (w. 349 H) salah seorang ulama mazhab Hanafi pernah berkata: ”Setiap ayat al-Qur’an dan Hadis yang bertentangan dengan mazhab Hanafi dapat ditakwilkan atau di-nash. Imam Iyad juga pernah berkata: ”Bagi yang taqlid, kedudukan pendapat imam mazhabnya dinilai sejajar dengan al-Qur’an dan Sunnah”.

Harus diakui bahwa tidak semua orang sanggup memahami hukum Islam secara langsung dari dalil atau sumbernya. Mengingat kecerdasan, daya tangkap, dan

25 Jaih Mubarok, Sejarah dan Perkembangan Hukum Islam (Bandung:

PT Remaja Rosdakarya, 2000), 114.

26 Ibid.

27 Ibid., 115.

Kiprah Nahdlatul Wathan

116

ilmu yang dimiliki seseorang tidaklah sama. Setiap orang atau komunitas memiliki referensi nilai dan preferensi kepentingan yang beragam dan keberagaman itu membawa konsekwensi perbedaan dalam mengkontruksikan

”ajaran agama”. Untuk mengetahui hukum Islam yang akan diamalkannya, harus lewat perantara, yakni melalui mujtahid. Di sinilah muncul fenomena taqlid.

Dalam perspektif ahli ushûl al-fiqh, ada perbedaan yang tajam antara terminologi mujtahid dengan nonmujtahid, yang terakhir ini dikenal dengan para pengikut atau para peniru (muqallid) yang pertama. Dengan perkataan lain, seorang yang bukan mujtahid adalah muqallid. Dalam konteks pemikiran tuan guru, melepaskan diri dari taqlid bukanlah berarti menjauhkan diri dari pandangan para imam mazhab yang diyakini merupakan pilihan yang normatif dan diserahkan kepada pilihan kita.

Berkaitan dengan hal ini, TGH. Safwan Hakim, pendiri Ponpes Nurul Hakim Kediri Lombok Barat, mengatakan:

Memang sebagian besar para ulama kia masih memper-tahankan satu mazhab, karena hal ini disebabkan masih belum meluasnya kajian fiqh al-muqârin. Namun, se-cara perlahan kondisi tersebut tidak selamanya ber tahan mengingat kajian di Perguruan Tinggi sudah sangat terbuka untuk mengkaji fiqh antar mazhab dan semakin luasnya pengaruh alat transformasi juga membuka suasana yang lebih terbuka dan ulama terdahulu se-benar nya sangat toleran terhadap terbukanya pe-mahaman yang lebih luas terhadap Islam dan kami berpendapat bahwa toleransi itu sangat penting untuk dikembangkan sehingga terjadi arus pemikiran yang komunikatif, toleransi, dan saling menghargai.28

Masyarakat Lombok secara umum dapat dikatakan mempertahankan satu mazhab fiqh secara mayoritas, yakni mazhab Syafi’i. Hanya dalam perkembangannya sesuai de-ngan perkembade-ngan zaman, taqlid secara kaku kepada mazhab Syafi’i an sich mulai ditinggalkan, khususnya bagi

28 Mutawalli, ”Pergeseran ..., 76.

kalangan tuan guru yang banyak bersentuhan dengan dunia akademis maupun bersentuhan dengan dunia birokrasi (Kementerian Agama).

Dengan demikian, arus perubahan hukum Islam pada masalah taqlid di pulau Lombok juga mengikuti arus perubahan yang terjadi di tingkat nasional. Dalam konteks nasional, Ahmad Rofiq29, misalnya mengakui bahwa talfiq merupakan salah satu metode pembaharuan hukum Islam dengan menganalisis pendapat Amir Syarifuddin. Menurut-nya, ada empat metode pembaharuan hukum Islam, yakni;

pertama, kebijaksanaan administratif, misal nya pembatasan usia kawin. Kedua, aturan tambahan, dengan menempuh, mengurangi dan mengubah materi fikih yang sudah ada.

Jadi, pertimbangan sosiologis dalam hal ini lebih menonjol.

Contohnya ahli waris pengganti. Ketiga, menempuh cara talfiq, yakni meramu beberapa pemikiran atau hasil ijihad dalam suatu masalah tertentu menjadi satu bentuk yang kelihatannya seperti baru. Ini dapat dilihat misalnya dalam proses penyusunan KHI yang memang sengaja dikaji 36 kitab fikih dari berbagai mazhab yang ada meskipun mayoritas tetap mazhab Syafiiyah.

Keempat, reinterpretasi dan reformulasi, yaitu mengkaji ulang dalil dan bagian-bagian fikih yang tidak aktual lagi dalam situasi dan kondisi tertentu untuk kemudian disusun penafsiran dan formulasi baru. Ahmad Rofiq30 juga menyatakan:

Amir Syarifuddin berkesimpulan bahwa dalam masalah perkawinan, kewarisan, perwakafan, dan lain-lain umat Islam mayoritas berafiliasi kepada mazhab Syafi’i dan dalam pembaharuan hukum Islam, telah dengan tegas menggunakan juga pemikiran ulama fikih mazhab yang lain. Memang secara harfiah, dalam perundang-undangan atau kompilasi –sebagai kodifikasi hukum- tidak perlu disebut-sebut mazhab tertentu, karena yang terpenting adalah substansinya. Dan kalau hal ini

29 Ahmad Rofiq, Pembaharuan Hukum Islam di Indonesia, Yogyakarta:

Gama Media,2001), 126-127.

30 Ibid., 128.

Kiprah Nahdlatul Wathan

118

disebutkan, maka akan mengulang lagi kepada kitab-kitab fiqih yang syarat dengan khilâfiyah dan inilah yang dianggap sebagai tidak adanya kepastian hukum.

Yang penting dicatat dari pernyataan di atas adalah bahwa dengan tidak mengikatkan diri pada satu mazhab membuktikan fleksibilitas hukum (fiqh) Islam. Bagaimanapun, hukum Islam adalah bagian dari proses penalaran yang terkondisikan oleh situasi yang mengitarinya. Karena itu, eklektisisme dalam bermazhab dengan pengertian tidak terpaku pada satu doktrin mazhab adalah hal yang wajar dan lumrah terjadi dalam masyarakat.