• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jalannya Penelitian, Kendala dan Hal-hal yang Mendukung

Penelitian disertasi ini secara lebih intensif dimulai pada bulan Oktober 2007 sampai dengan awal Mai 2008. Selama penelitian, penulis berusaha terlibat secara langsung dalam berbagai aktivitas subjek yang diteliti, melakukan wawancara mendalam dan menyimak obrolan-obrolan di tempat-tempat umum dan ‘gosip-gosip’ yang berkembang, merupakan data yang diperoleh secara tidak sengaja, namun data ini sangat penting. Selain itu, penulis ikut serta ke ladang-ladang penduduk, bekerja bersama dalam pekerjaan-pekerjaan perempuan, seperti mencari ikan, ulat sagu, sayur, bambu (okbug) untuk memasak, kayu bakar, mengolah sagu dengan tangan (pasibutcit sagu), menganyam atap dari daun sagu (tobat), serta mencuci dan mandi di sungai.

Beberapa pekerjaan laki-laki yang diamati dan diikuti saat penelitian antara lain:

menebang sagu, memotong kayu di hutan, mengolah sagu, mencari rotan, mengambil bambu, menyuling minyak nilam, memberi makan babi, membersihkan ladang pisang, ladang kakao dan memetik buah kakao. Tidak untuk semua tahap pekerjaan laki-laki penulis dapat terlibat, misalnya: tidak ikut menebang sagu, tapi ikut mengolah sagu dengan cara

‘pasideret akhek sagu’ (menginjak-injak sagu) yang sebenarnya tidak lazim dilakukan perempuan. Ikut membantu membawa kepingan batang sagu, mencincang-cincangnya sampai menjadi serpihan yang siap diolah di tempat pengolahan. Penulis tidak ikut memotong kayu dengan sinso (chainsaw), tetapi ikut mengangkat lempengan kayu ke atas sampan.

Selama penelitian berlangsung, penulis masih menghadapi kendala dalam bahasa.

Harus diakui bahwa perbedaan dialek pun menjadi kendala tersendiri. Meskipun beberapa orang Mentawai menganggap penulis bisa berkomunikasi dengan bahasa mereka, tetapi

peneliti lebih memahami Dialek Sarereiket dibanding Dialek Sabirut. Jika harus melakukan wawancara dengan orang yang berusia di atas 50 tahun dan mereka menggunakan Dialek Sabirut, penulis masih merasa kesulitan. Untuk itu, penulis selalu ditemani oleh orang Mentawai yang lebih muda dan lancar berbahasa Indonesia. Sementara untuk mewawancarai mereka yang masih muda tidak banyak kendala, karena umumnya mereka mengerti dan lancar menggunakan Bahasa Indonesia, terutama kaum laki-laki. Kaum perempuan muda pun cukup banyak yang memahami Bahasa Indonesia dan Bahasa Minangkabau.

Keuntungan lain banyak kaum muda, terutama yang sudah bersekolah, dalam pergaulan sehari-hari di barasi pun lebih banyak menggunakan Bahasa Minangkabau.

Kesulitan-kesulitan di lapangan banyak mempengaruhi jalannya penelitian, dan yang cukup ‘mengganggu’ adalah masalah makanan, terutama babi. Meskipun pada kunjungan-kunjungan ke Mentawai sebelumnya, saya sudah sering makan bersama dengan mereka yang mengonsumsi babi, tetapi selalu saja terasa berat di awal-awal memulai tinggal bersama mereka. Saya harus membiasakan diri lagi berada dan makan bersama dengan orang-orang yang mengonsumsi babi, hanya saja ‘emosi keagamaan’ sering mengganggu jalannya penelitian ini. Saya sadar jika tidak mau makan babi akan membuat orang Mentawai memandang penulis sasareu yang patut dicurigai, sasareu yang menganggap orang Mentawai 'kotor', sasareu yang ‘merendahkan’ orang Mentawai karena orang Mentawai makan babi. Ini berpengaruh terhadap kebutuhan informasi yang ingin diperoleh. Untuk itu, walaupun tidak mengonsumsi babi dengan memberikan alasan bahwa saya tidak suka makan daging, tetapi mencoba meminimalisir ‘kecurigaan’ itu dengan cara ikut bersama memasak babi. Selain itu, saya ikut makan ulat sagu yang dianggap makanan ‘kotor’ atau ‘rendah’ oleh Sasareu sebagai ‘strategi merendahkan diri’ (dalam istilahnya Bourdieu) di depan orang-orang Mentawai di barasi. Saya menjadi terbiasa makan sagu, keladi, ubi kayu, dan pisang sebagai makanan pokok sehari-hari. Sesekali saya juga makan nasi jika keluarga-keluarga yang ditumpangi makan nasi. Kadangkala peneliti turut membeli beras untuk dimakan bersama keluarga yang ditumpangi.

Pengalaman lain yang dihadapi selama penelitian dan cukup mengganggu ialah ketika penulis sakit dan diobati oleh kerei, karena setelah empat bulan di lokasi, tubuh panas dan mual-mual. Saya dianjurkan Aman Jupin, seorang laki-laki Sarereiket untuk berobat pada sasarainanya27 yang juga seorang kerei di barasi tetangga. Setelah sampai di rumah kerei

27 Kerabat dari garis ibu dan kadangkala orang Mentawai mengatakan bahwa sasaraina artinya sama dengan dunsanak dalam bahasa Minangkabau.

tersebut saya diminta berbaring di lantai kamar, kemudian perut dipegang oleh kerei itu untuk mendiagnosa penyakit. Kerei itu mengatakan kalau sakit yang saya rasakan disebabkan saya sedang ‘hamil’. Meskipun sangat kaget dengan pernyataan kerei itu, tetapi saya tidak membantahnya. Ketika ditanya siapa ‘ayah’ bayi yang dikandung, saya mengatakan kalau ‘ayah’ bayi yang ‘dikandung’ adalah suami saya yang pada saat itu tidak berada di lokasi penelitian.

Mendengar jawaban saya, kerei itu langsung mengatakan tidak mungkin suami saya yang tidak sedang berada di barasi yang ‘menghamili’, karena sudah hampir empat bulan saya di Siberut, sementara menurut kerei usia kehamilan itu baru dua bulan lebih. Dia terus mendesak untuk memberitahukan siapa ‘sebenarnya’ yang telah membuat saya ‘hamil’.

Jawaban saya yang tidak pernah berubah membuat kerei itu pun 'tidak mau percaya’.

Ketidakpercayaannya itu membuat dia mengajukan pertanyaan yang semakin membingungkan dan sekaligus membuat saya takut, karena dia menanyakan apakah

‘kandungan itu akan digugurkan'. Saya menolak untuk melakukannya, tetapi kerei itu tidak menjawab langsung dan malah meminta saya untuk tidur dulu di kamar itu dan memikirkan lagi keputusan itu baik-baik.

Sampai sore berada di rumah kerei itu dan setiap kali ditanya, saya tetap mengatakan padanya kalau kandungan itu tidak akan digugurkan. Akhirnya saya dimantrai dengan beberapa tumbuhan, minum air tebu dan sari pati umbi-umbian dan daun-daunan yang diambil di pekarangan rumahnya. Ampas daun-daunan yang digunakannya untuk ramuan obat dibalurkan ke perut, tangan, kaki dan kepala saya. Ada rasa takut dalam diri saya pada saat disuruh minum ramuan yang sudah disiapkan, tetapi tetap saja diminum. Kemudian selama seminggu kulit saya dipenuhi bintil-bintil berwarna merah dan terasa gatal, terutama di bagian perut.

Diagnosa kerei mengenai ‘kehamilan’ itu cukup mengganggu karena saya merasa orang di barasi mempergunjingkan 'kehamilan' yang bukan dari hasil hubungan dengan suami yang sah. Itu berarti saya sudah ‘berselingkuh’ dengan orang lain di barasi. Cerita tentang perselingkuhan beberapa orang warga barasi sudah sering terdengar dan biasanya menjadi ‘topik’ pergunjingan yang hangat di antara kaum perempuan, juga di antara kaum laki-laki. Sekalipun saya icoba untuk tidak memikirkannya karena merasa yakin saya tidak hamil dan tidak 'berselingkuh', tetapi beban psikis ini tetap dirasakan sampai saya meninggalkan lokasi penelitian.

Kesulitan lain yang dihadapi adalah setiap melihat keluarga yang ditumpangi makan babi bersama, suasana yang penuh kegembiraan berubah menjadi diam karena sering kehadiran saya menjadi penyebab mereka berhenti makan. Saya jadi bertanya pada diri sendiri, haruskah kegembiraan, kebersamaan, kenikmatan mereka makan babi bersama terusik oleh kehadiran saya di rumah mereka sebagai ‘pendatang’ atau ‘the Other’? Haruskah saya menghindar terus, karena merasa ‘terganggu’ pada saat melihat orang-orang yang saya amati makan babi karena keyakinan yang saya anut? Siapa sebenarnya yang menjadi

‘pengganggu’ dalam hubungan saya (peneliti) dan orang Mentawai, kebiasaan mereka makan babi itukah atau pikiran saya tentang babi itu sendiri? Pertanyaan-pertanyaan itu ikut ambil bagian dalam peran yang dijalani sebagai ‘the Other-nya’ orang Mentawai selama penelitian.

Pengalaman-pengalaman lain di lapangan, tinggal bersama keluarga-keluarga Mentawai di barasi atau di ladang-ladang sering kali memberikan tantangan tersendiri. Saya sering dihadapkan pada pilihan yang sulit pada saat melakukan penelitian ini. Di satu sisi, saya adalah seorang Sasareu yang berupaya untuk ‘menjadi’ Simattawai, tetapi sudah tentu saya tidak bisa menjadi Simattawai yang sesungguhnya sekalipun sudah mencoba untuk terlibat dalam berbagai kegiatan dan mengikuti cara-cara hidup mereka. Sebagai peneliti dan sekaligus juga seorang Sasareu yang memerlukan informasi dan data yang ‘nyata’ di lapangan, mendorong saya untuk ‘berpura-pura’ menjadi Simattawai dengan alasan akan lebih menyulitkan apabila bertindak sebagai seorang yang ‘murni’ Sasareu sehingga benar-benar ‘dicap’ Sasareu oleh Simattawai.

Kepura-puraan itu menjadi bagian dari tindakan-tindakan ‘politis’ yang dilakukan terkait dengan ‘interest’ saya sebagai peneliti. Tidak tahu bagaimana orang Mentawai

‘memandang’ saya, khususnya mereka yang tinggal di Barasi Muntei. Kadang mereka mengatakan saya sudah menjadi seorang ‘Mentawai’, tetapi tetap ‘dicurigai’ karena saya memang ‘Sasareu’. Kecurigaan itu salah satunya disampaikan langsung kepada saya oleh Aman Pius, seorang kerei. Pengalaman-pengalaman yang berkaitan dengan pandangan orang Mentawai Siberut terhadap saya dan kecurigaan mereka bisa ditemukan pada paparan bab-bab selanjutnya dalam tulisan ini.

Selain dari kendala-kendala tersebut di atas, juga ada hal-hal yang mendukung saat penelitian ini dilaksanakan. Ada dua hal menurut saya yang cukup mendukung jalannya penelitian ini. Pertama, penelitian ini dilakukan pada saat penolakan penerapan Perda No. 2 Tahun 2007 tentang pemberlakuan ‘nagari’ di seluruh Sumatera Barat, termasuk Mentawai.

Kedua, penelitian ini dilakukan di lokasi yang sama dengan penelitian sebelumnya. Berarti

hubungan pertemanan sudah dibangun sebelumnya sehingga lebih memudahkan penulis untuk berkomunikasi dengan masyarakat setempat, setidaknya dengan warga Barasi Muntei.

Beberapa warga barasi tetangga lain juga, karena sudah saling mengenal sebelumnya.

Keberuntungan lain adalah selama penelitian beberapa uma ‘kebetulan’ mengadakan ritual yang berkaitan dengan Arat Sabulungan sehingga ritual-ritual tersebut bukanlah ritual

‘pesanan’.

Dokumen terkait