• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jalinan kemitraan

Dalam dokumen 1. Cholichul Hadi 2. Dodik Kurniawan (Halaman 51-122)

Bab 3 Regulasi perbankan dan kebijakan

3.1.5 Jalinan kemitraan

Pemerintah, masyarakat dan dunia usaha diharapkan bisa bekerja sama dalam mendukung dan menstimulasi kegiatan kemitraan antar UMKM dan Usaha Besar yang mencakup proses alih keterampilan di bidang produksi pengolahan, pemasaran, permodalan, sumber daya manusia dan teknologi. Departemen kementerian yang terkait bisa memberikan insentif kepada Usaha Besar yang melakukan kemitraan dengan UMKM dalam hal inovasi, pengembangan produk berorientasi ekspor, penyerapan tenaga kerja, penggunaan teknologi tepat guna dan ramah lingkungan dan penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan.

Bentuk kemitraan yang dimaksud di UU adalah kemitraan dengan pola:

b. Subkontrak; c. Waralaba;

d. Perdagangan umum;

e. Distribusi dan keagenan, dan bentuk-bentuk kemitraan lain, seperti bagi hasil, kerjasama operasional, usaha patungan (joint venture), dan penyumberluaran (outsourcing).

Inti-plasma adalah suatu pola kemitraan antara Usaha Besar dan UMKM dimana Usaha Besar menjadi inti, dan UMKM menjadi plasmanya (pendukung).

Adapun usaha-usaha dari UMKM sebagai plasma dari kegiatan usaha inti-plasma adalah segala berikut:

a. Penyediaan dan penyiapan lahan; b. Penyediaan sarana produksi;

c. Pemberian bimbingan teknis produksi dan manajemen usaha;

d. Perolehan, penguasaan, dan peningkatan teknologi yang diperlukan;

e. Pembiayaan; f. Pemasaran; g. Penjaminan;

h. Pemberian informasi;

i. Pemberian bantuan lain yang diperlukan bagi peningkatan efisiensi dan produktivitas dan wawasan usaha.

Subkontrak adalah pola kemitraan dimana Usaha Besar memberikan kesempatan kepada UMKM untuk mengerjakan beberapa bagian dari teknis usaha seperti:

a. Mengerjakan sebagian produksi dan/atau komponennya; b. Memperoleh bahan baku;

c. Bimbingan dan kemampuan teknis produksi atau manajemen;

d. Perolehan, penguasaan, dan peningkatan teknologi yang diperlukan;

e. Pembiayaan dan pengaturan sistem pembayaran yang tidak merugikan salah satu pihak dan dalam pelaksanaan kemitraan jenis ini, Usaba Besar harus berupaya untuk tidak melakukan pemutusan hubungan sepihak.

Waralaba adalah pola kemitraan antara Usaha Besar dan UMKM dimana UMKM bisa melakukan usaha dengan memanfaatkan brand image yang terbentuk dan dukungan manajemen yang baik. Usaha Besar diharapkan untuk memprioritaskan UMKM yang berminat membuka waralaba dibawah naungannya. Selain itu pemberi waralaba wajib memberikan pembinaan dalam bentuk pelatihan, bimbingan operasional manajemen, pemasaran, penelitian dan pengembangan kepada penerima waralaba secara berkesinambungan.

Perdagangan Umum adalah pola kemitraan dalam bentuk kerjasama pemasaran, penyediaan lokasi usaha atau penerimaan pasokan dari UMKM oleh Usaha Besar secara terbuka dan transparan. Dalam pelaksanaannya kemitraan model ini diharapkan Usaha Besar mengutamakan hasil produksi UMKM dengan tetap menjunjung standar mutu barang dan jasa yang tidak diperlukan, dan diharapkan pula sistem pembayaran dilakukan dengan tidak merugikan salah satu pihak.

Kemitraan pola distribusi adalah suatu pola kemitraan dimana Usaha Besar/Menengah memberikan hak khusus untuk memasarkan barang dan jasanya kepada UMKM.

Bentuk-bentuk lain dari kemitraan bisa berupa bagi hasil, joint venture atau outsourcing.

3.1.6 Koordinasi dan pengendalian pemberdayaan usaha kecil dan menengah

Pengoordinasian dan pengendalian pemberdayaan UMKM dilakukan oleh Menteri yang terkait dengan masalah UMKM. Adapun tugas dari Departemen Kementrian dalam hal ini adalah: penyusunan dan pengintegrasian kebijakan dan program, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi, serta pengendalian umum terhadap pelaksanaan pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, termasuk penyelenggaraan kemitraan usaha dan pembiayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah.

3.2 Peran lembaga perbankan dalam menopang kemajuan UMKM

Fungsi utama dari lembaga perbankan dalam pengembangan UMKM adalah sebagai salah satu alternatif pembiayaan usaha UMKM. Di bagian ini akan dirangkum beberapa jenis fasilitas kredit yang diberikan oleh beberapa bank yang memiliki komitmen dalam mengembangkan UMKM.

a. Kredit Usaha Kecil (KUK)

Adalah kredit atau pembiayaan dari bank untuk investasi dan atau modal kerja, yang diberikan dalam rupiah dan atau valuta asing kepada nasabah usaha kecil dengan plafond kredit keseluruhan maksimal Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) untuk membiayai usaha yang produktif.

b. KUK-Kredit Investasi

Adalah kredit jangka menengah/panjang yang diberikan kepada (calon) debitur untuk membiayai barang-barang modal dalam rangka rehabilitasi, modernisasi, perluasan ataupun pendirian proyek baru, dengan jangka waktu maksimal 10 tahun.

c. KUK-Kredit Modal Kerja

Adalah kredit yang diberikan untuk memenuhi kebutuhan modal kerja yang habis dalam satu siklus usaha.

d. KUK-Kredit Modal Kerja Kontraktor

Adalah kredit yang diberikan untuk memenuhi kebutuhan modal kerja khusus bagi usaha jasa kontraktor yang habis dalam satu siklus usaha.

e. KUK-Channeling

Adalah kredit modal kerja atau kredit investasi yang diberikan melalui kerjasama dengan lembaga pembiayaan atau bank umum lainnya.

3.3 Peran lembaga non pemerintah (LSM): Studi kasus perjalanan Working Group for Technology Transfer (WGTT) 2007-2010 dan konsep iBET

Karena keterbatasan wewenang dan dana, peranan LSM dalam mengembangkan UMKM pada umumnya hanya sebagai fasilitator yang berfungsi sebagai penjembatan antara pihak pelaku UMKM dan perbankan maupun pemerintah, atau juga sebagai edukator yang berperan dalam mendidik dan mengembangkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kemandirian dan kewirausahaan dan juga trik-trik dalam berwirausaha.

Pada bagian ini akan dibahas program kerja WGTT terhadap pengembangan bibit-bibit wirausaha yang bekerjasama rekan-rekan pemagang di Jepang.

Program kerja WGTT terbagi dalam 4 tujuan, yaitu: a. Inovative human building

b. Business incubator c. Education

d. Technology transfer

Berikut akan dipaparkan penjelasan dari masing-masing tujuan: a. Inovative human building

Tujuan dari inovative human building adalah mendidik dan menciptakan manusia-manusia yang memiliki jiwa kewirausahaan dan memiliki pengetahuan-pengetahuan yang menyangkut dunia usaha baik yang berhubungan dengan operasional usaha seperti studi kelayakan usaha, maupun yang berhubungan dengan hal-hal pendukung seperti pengetahuan tentang kredit perbankan, bea cukai dan perpajakan, struktur industri dan juga kebijakan pemerintah tentang industry.

Dalam mewujudkan tujuan ini WGTT telah melaksanakan pelatihan yang diberi nama Pelatihan Wirausaha dan Edukasi Perbankan (PWEP) di berbagai kota di Jepang yang memiliki komunitas pemagang yang tinggi seperti Hamamatsu, Tokyo, Nagoya dan sebagainya. Pelatihan ini sangatlah diminati oleh para pemagang terbukti dengan selalu membludaknya peserta di setiap penyelenggaraannya, meskipun untuk mengikuti acara ini membutuhkan biaya.

Hasil dari pelatihan ini sudah mulai bisa dirasakan dengan munculnya beberapa pemagang yang pulang ke Indonesia dan berhasil membuka usaha di tanah air. Di beberapa pelatihan, para pemagang yang sukses ini diberi kesempatan untuk menceritakan dan membagi kiat-kiat sukses kepada para peserta yang diharapkan peserta dapat termotivasi dan bisa memperoleh bukti nyata dari para senior mereka.

Untuk kedepannya, pelatihan ini diharapkan bukan hanya memberikan materi, tapi juga terintegrasi dengan tujuan dari WGTT yang lain yaitu Busines Incubator dan Technology Transfer.

b. Business incubator

Business incubator adalah suatu rancangan program yang diusahakan untuk menjadi tindak lanjut dari program PWEP yang telah bertahun-tahun dilaksanakan. Tujuannya adalah melahirkan beberapa usaha yang bisa dijadikan workshop bagi pemagang sebelum terjun ke dunia usaha sebenarnya.

c. Education

Tujuan dari program education adalah untuk sharing knowledge mengenai hal-hal yang menyangkut kewirausahaan. Ada beberapa materi yang sudah terliput di PWEP, namun education bukan hanya diarahkan untuk para pemagang melalui pelatihan melainkan juga bisa dinikmati oleh masyarakat luas baik di Jepang, Indonesia maupun masyarakat Indonesia di belahan bumi yang lain.

Realisasi dari program ini diwujudkan melalui pembentukan sharing knowledge website http://webinar2010.com. Melalui website ini masyarakat bisa mengikuti materi mengenai kewirausahaan maupun hal-hal yang bersifat teknis seperti pengenalan aplikasi office, semina kepemimpinan, kuliah rohani dan sebagainya. Materinya disampaikan melalu media online untuk menambah interaktifitas antara pemateri dan penyimak materi.

d. Technology

Tujuaan dari program ini adalah mengakumulasi teknologi-teknologi sederhana dan tepat guna yang didapat di Jepang maupun di Indonesia untuk bisa dipelajari dan dimanfaatkan oleh siapa saja.

Sebagai salah satu hasil dari program-program di atas, terbentuklah sebuah konsep yang dinama dengan iBET, yang merupakan singkatan dari business (B) sebagai target rill, education (E) sebagai metodologi berproses, technology (T)

sebagai standard, dan innovative human (i) sebagai sumbu penyambung ketiga komponen tersebut, dengan harapan bisnis yang akan digeluti oleh peminat tidak hanya berdasarkan naluri, mengikuti trend sesaat dan semangat semata, melainkan dengan dukungan edukasi dan teknologi.

Ketiadaan waktu untuk mendokumentasikan knowledge masing-masing dan kurangnya human resource untuk mendapatkan dan mengelola informasi tentang teknologi merupakan hambatan utama dari program ini.

Sebagai awal dari realisasi program ini, WGTT membuat suatu website informasi teknologi http://teknologimudah.org yang memuat informasi-informasi teknologi baik yang bersifat teori maupun aplikasi secara langsung. Diharapkan masyarakat bisa mendapatkan dan berpartipasi membagi informasi mengenai teknologi melalui website ini.

Bab 4

Potensi jembatan transfer teknologi bagi

pengembangan UMKM

Walau Negeri Sakura lebih dikenal oleh dunia sebagai negara pengekspor peralatan mesin, elektronik dan otomotif, namun di balik itu semua, industri-industri kecil seperti halnya pengolahan bahan mentah, penyedia bahan baku maupun bahan setengah jadi yang pada umumnya adalah Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) merupakan kunci keberhasilan dari industri raksasa tersebut.

4.1 UMKM Jepang dalam klusterisasi industri

UMKM di Jepang bukanlah dengan perkembangan sekejap. Paling tidak perkembangan UMKM di Jepang telah melalui 6 tahapan dalam kurun waktu sekitar 60 tahun. Dimulai dengan tahapan rekonstruksi (1945-1954), Jepang membangun konsep dasar UMKM yang meliputi penyiapan organisasi, keuangan dan manajemen, dan pada akhirnya di tahun 1948, terbentuklah badan UMKM.

Tahapan kedua dan ketiga ditandai dengan periode pertumbuhan (1955-1962 dan 1963-1972). Dalam periode pertumbuhan pertama, sistematisasi UMKM (meliputi organisasi, keuangan dan manajemen) dan respon terhadap struktur tenaga kerja dalam hubungannya dengan perusahaan sub-kontrak diselaraskan kembali dalam rangka meletakkan secara benar posisi UMKM dengan perusahaan besar. Periode pertumbuhan kedua adalah periode modernisasi UMKM yang ditandai dengan pembentukan Undang-undang Dasar (UUD) UMKM di tahun 1963. Basis hukum ini dipergunakan untuk melakukan penguatan modal dan promosi modernisasi UMKM.

Periode keempat adalah periode pertumbuhan yang stabil (1973-1984) yang ditandai dengan intensifikasi dan perluasan pengetahuan dan sumber-sumber manajerial dimana terjadi pembentukan pusat-pusat informasi UMKM baik di pusat maupun di daerah.

Dua periode terakhir adalah periode transisi (1985-1999 dan 2000-sekarang). Periode transisi pertama adalah periode perubahan struktural dan anglomerasi industri. Ini ditandai dengan pembentukan UU sementara tentang upaya-upaya dalam mendorong pembentukan UMKM baru dan UMKM lainnya dengan aktivitas bisnis yang kreatif (pembuatan produk/jasa baru melalui proses penelitian dan pengembangan (litbang) dengan tujuan komersialisasi). Sedang periode transisi kedua merupakan periode penguatan terhadap perubahan kondisi ekonomi yang dilandasi oleh amandemen UUD UMKM tahun 1963.

Apabila kita telaah lebih jauh, kebijakan pengembangan UMKM di Jepang ini dapat dikelompokkan dalam 3 bagian penting yaitu:

Pertama, proses dan promosi pemanfaatan teknologi terkini dalam rangka menunjang inovasi bisnis dan efisiensi produksi; Kedua, proses dan promosi peningkatan kemampuan manajerial dalam bentuk penempatan Sumber Daya Manusia (SDM) yang tepat dan program litbang yang baik; dan

Ketiga, proses dan promosi kebijakan pemerintah dalam bentuk fasilitasi pembiayaan (melalui saham, obligasi, dll), insentif kemudahan pembentukan unit usaha baru dan fasilitasi pemasaran produk dan jasa ke pasar domestik dan manca negara. Dari gambar 4.1 di bawah ini, kita bisa memperkirakan besarnya kontribusi UMKM di Jepang terhadap pembangunan ekonomi negara ini.

Gambar 4.1 Perbandingan kondisi UMKM dan perusahaan besar di Jepang

Industri di Jepang pada umumnya juga terkonsentrasi di beberapa sentra industri seperti pada tabel 4.1 di bawah ini.

Tabel 4.1 Klusterisasi industri di Jepang Jenis industri Prefecture Produk makanan Hokkaido, Hyogo, Aichi Minuman, rokok, dan produk

peternakan

Shizuoka, Kagoshima, Fukuoka

Penghasil tekstil Aichi, Kyoto, Osaka Produk pakaian jadi Osaka, Aichi, Tokyo Penghasil kayu Hokkaido, Aichi, Shizuoka Produk furniture Osaka, Aichi, Saitama Produk kertas Osaka, Tokyo, Aichi Produk percetakan Tokyo, Osaka, Saitama Produk kimia Osaka, Saitama, Hyogo Produk perminyakan dan

batubara

Osaka, Aichi, Kanagawa

Produk plastik Osaka, Aichi, Saitama Produk karet Osaka, Hyogo, Tokyo Produk kulit Tokyo, Hyogo, Osaka Produk keramik dan batu Gifu, Aichi, Hokkaido Produk besi dan baja Osaka, Aichi

Produk non-logam Saitama, Osaka, Aichi Produk logam lainnya Osaka, Aichi, Tokyo Mesin Aichi, Osaka, Tokyo Produk perlengakapan rumah

tangga

Osaka, Aichi, Tokyo

Produk telekomunikasi Kanagawa, Tokyo, Nagano Produk elektronik Tokyo, Nagano, Kanagawa

Produk transportasi Aichi, Kanagawa, Shizuoka Produk mesin presisi Tokyo, Saitama, Osaka

Sumber Ministry of Economy, Trade, and Industry (METI) 2007

Dari data di atas dapat kita simpulkan bahwa produksi mesin dan peralatan elektronik sebagain besar terpusat di Tokyo, Osaka, dan Aichi yang merupakan 3 kota terutama di Jepang, sedangkan daerah-daerah lainnya lebih mengunggulkan industri pendukung bagi ketiga kota tersebut.

Adapun tulisan lebih lanjut tentang hal ini penulis rangkum dalam buku “Analisis Struktur UMKM di Jepang dan

Prospek Pengembangannya di Indonesia“ yang rencana

akan diterbitkan pada awal 2011.

4.2 Persebaran pemagang di sektor-sektor industri Jepang

Berdasarkan data yang dilaporkan oleh kementrian tenaga kerja Jepang, tidak sedikit pemagang Indonesia yang bekerja di bidang pertanian, pengolahan makanan serta produksi mesin dan peralatan transportasi. Sedangkan sebagian lainnya tersebar di bidang produksi plastik, produk logam, tekstil dan lain-lain. Data selengkapnya dapat dilihat pada gambar 4.2 di bawah ini.

Gambar 4.2 Persebaran tempat kerja pemagang Indoensia berdasarkan jenis industri (2006)

Adapun latar belakang dari banyaknya pemagang yang bekerja di bidang pertanian adalah demografi penduduk Jepang yang tinggi di usia tua dan dan rendah di tingkat anak-anak, serta adanya kecenderungan golongan muda untuk mengadu nasib di kota-kota besar dengan mencari pekerjaan yang bersifat “kerah putih” sehingga hal ini mengakibatkan langkanya tenaga kerja asli Jepang pada bidang ini.

Lain halnya dengan bidang produk makanan yang juga banyak menyerap TKI Indonesia. Hal ini dikarenakan produksi makanan menggunakan banyak mesin yang serba otomatis dan bersifat sangat monoton sehingga tidak begitu diminati oleh tenaga kerja Jepang terutama yang memiliki skill di bidang lain.

Dilihat dari jenis bidang industri tempat di mana pemagang bekerja, dapat ditarik kesimpulan bahwa transfer teknologi dari negara maju seperti halnya Jepang ke Indonesia dalam artian tingkat tinggi, tidak mudah untuk dilakukan karena sedikitnya pekerja yang berhubungan langsung dengan teknologi tinggi tersebut. Penggunaan mesin-mesin canggih lebih bersifat sebagai operator di tempat kerja dengan hanya menekan tombol-tombol yang telah ditentukan tanpa mengetahui teknologi di balik itu semua.

Namun hal positif yang menggembirakan adalah selama bekerja, para pemagang dapat mengamati secara langsung bagaimana perusahaan Jepang membentuk pekerja-pekerjanya menjadi manusia yang produktif dan beretos kerja tinggi. Diharapkan kebiasaan-kebiasaan ini dapat terus tertanam dan mampu memberikan suri tauladan yang baik kepada lingkungannya setelah kembali ke tanah air.

4.3 Studi kasus waralaba di Jepang yang berpotensi untuk berkembang di tanah air

Selain dari lingkungan kerja, para pemagang juga bisa mengambil pelajaran dari beberapa jenis wirausaha berskala kecil dan menengah yang terbilang sukses di Jepang dikarenakan kejelian pemilik usaha untuk mampu menangkap peluang dan keberanian untuk menajdi pelopor di bidang tersebut. Pada bagian ini akan diuraikan beberapa contoh jenis usaha yang sebenarnya dimulai dari ide-ide yang cukup sederhana dan mudah untuk diadaptasikan di Indonesia.

a. Don Quijote

Don Quijote adalah perusahaan retail yang didirikan pada tahun 1980 dan dalam kurun waktu 30 tahun sudah berhasil mempunyai cabang sampai ke berbagai pelosok daerah di Jepang. Keberhasilan usaha terletak pada konsep “satu atap“ dengan menjual lengkap barang keperluan sehari-hari (non-food), mulai dari sabun cuci, pakaian anak sampai dengan kebutuhan tertier seperti kipas angin dan sepeda.

Bisa juga dikatakan, Don Quijote berbeda dalam pemilihan jenis komoditi. Toko-toko lain pada umumnya lebih mengkhususkan ke salah satu genre, seperti toko elektronik/komputer maupun bahan makanan dan kebutuhan sehari-hari seperti halnya mini market. Dengan kata lain, Don Quijote merupakan penjelmaan toko serba ada versi compact. Barang-barang yang tidak dijual di mini market biasanya tersedia di sini. Don Quijote juga populer sebagai tempat belanja keluarga karena pada umumnya banyak tersedia mainan anak dan beraneka ragam pilihan restoran.

Gambar 4.3 Layout di salah satu cabang Don Quijote (sumber : http://www.blog.tabista.jp)

b. Tabehoudai (All you can eat)

Konsep tabehoudai mulai banyak menjamur di awal tahun 1990-an. Pengertiannya jelas sederhana, dengan harga relatif sedikit lebih tinggi dibanding paket menu sejenis, konsumen bisa mengambil beragam pilihan menu dan volume yang tanpa batas.

Tidak perlu khawatir barang dagangan habis dan merugi karena setiap orang pasti memiliki kapasitas perut yang terbatas terutama wanita dan anak-anak. Metode seperti ini juga terbukti efektif dalam menarik pelanggan di saat toko baru buka misalnya, dikarenakan setiap orang tentunya bertindak sesuai dengan prinsip ekonomi untuk mendapatkan kepuasan sebesar-besarnya dengan pengorbanan seminimal mungkin.

Agar supaya bisa bertahan tidak merugi, pengelola harus berupaya mendapatkan bahan baku yang murah dan perlu menerapkan trik khusus misalnya dengan menetapkan batas waktu makan yang hanya satu jam atau menu-menu tambahan yang tidak termasuk dalam menu yang bisa dimakan sepuasnya.

Jenis restoran di Jepang yang umum ditemui dengan metode tabehoudai adalah cake, sushi, Italian food, Indian curry, dll. Seperti halnya Hanamasa dengan masakan ala Jepangnya, masakan tradisional Indonesia seperti bubur kacang hijau, mie bakso, soto ayam dan sebagainya tentu mempunyai nilai jual yang tinggi.

c. Pangkas rambut 1000 Yen/10 menit

Sepanjang hidupnya rambut manusia semakin memanjang, tidak ada yang tambah pendek atau tetap saja. Bisnis pangkas rambut merupakan usaha yang menggiurkan dan menjanjikan karena akan selalu mendapatkan konsumen.

Berdasarkan pengalaman, waktu yang dihabiskan untuk mencukur rata-rata berkisar di angka 30 dan 60 menit (lengkap dengan cukur cambang dan sedikit hair tonic). Hal ini tentu saja sangat menjemukan bagi orang yang sibuk dikarenakan segala aktifitasnya mendadak berhenti total, baca bukupun tidak bisa, mendengarkan alunan musik atau kegiatan lain yang menyenangkan pun jadi terhalang. Terkadang pula harga yang ditetapkan oleh tukang cukur terlalu mahal di saku, apalagi apabila pelanggan meminta gaya rambut yang agak nyentrik. Tarif pangkas rambut di Jepang pada umumnya adalah 3000 Yen.

Sebagai jawaban dari problematika di atas, adalah QB House yang mengusung konsep murah, meriah, dan cepat. Gagasan ini mampu memukau dewan juri dalam kontes ide-ide baru di Jepang pada pertengahan tahun 2000-an dan mendapatkan penghargaan sebagai juara pertama. Prosesnya hanya berlangsung 10 menit, gaya rambut yang bisa dipesan terbatas dan harga sama untuk segala jenis gaya rambut. Jasa pangkas rambut seperti ini biasanya mudah didapati di stasiun kereta di mana orang biasanya sibuk dikejar-kejar jadwal sehingga tidak mempunyai waktu banyak untuk duduk diam maupun di mall selagi menunggu istri berbelanja.

Sebagai konsekuensi atas pemilihan lokasi yang strategis dan biaya jasa yang dua pertiga lebih murah, hal ini dapat ditutup dengan menurunkan waktu pangkas yang juga dua pertiga lebih cepat, dengan kata lain dalam 30 menit hasil yang diperoleh adalah sama yaitu 3 orang konsumen.

QB House saat ini mewaralabakan usahanya dan jumlah outletnya ratusan di Jepang, puluhan di Singapura dan Hongkong dengan menawarkan 3 konsep keserasian antara waktu (10 menit), harga (1000 Yen), dan kualitas. Untuk itu, penulis merekomendasikan peluang ini untuk dicoba di tanah air dengan waktu 10 menit dan harga Rp. 10.000.

Gambar 4.4 Suasana di QB (Quick Barber) House Jepang

d. Jasa bersih-bersih kamar

Disebabkan oleh kesibukan di kantor, banyak karyawan dan pegawai Jepang khususnya yang masih belum menikah yang

tidak mempunyai waktu cukup untuk membersihkan kamarnya, atau alasan-alasan lainnya yang lebih disebabkan oleh sifatnya yang memang malas untuk bersih-bersih.

Sering pula diberitakan di televisi tentang fenomena “gomiyashiki”, yaitu sebuah fenomena dimana terdapat orang yang menumpuk sampah di dalam kamarnya sampai menggunung dan menimbulkan bau tidak sedap. Perlu diketahui apabila di Jepang, membuang sampah tidak bisa sembarangan. Setiap pemerintah kota menentukan jadwal hari pembuangan sampah, jenis-jenisnya, dan pada umumnya sampah berat seperti komputer atau lemari es akan dikenakan biaya tambahan. Hal-hal seperti inilah yang mengakibatkan munculnya fenomena “gomiyashiki” di masyarakat Jepang.

Seperti kata orang bijak, “Ada masalah, berarti ada peluang”. Segelintir orang yang kreatif melihat hal ini sebagai peluang untuk membuka jenis usaha baru yaitu jasa membersihkan kamar. Pada dasarnya orang akan merasa malu kalau orang lain tahu kamarnya acak-acakan sehingga proses pembersihannya pun dilakukan dengan relatif tidak mengundang perhatian dan menjaga segala privasi pemilik kamar.

e. 99 Yen shop

99 Yen shop adalah suatu model usaha dengan menjual

Dalam dokumen 1. Cholichul Hadi 2. Dodik Kurniawan (Halaman 51-122)

Dokumen terkait