1. Cholichul Hadi
2. Dodik Kurniawan
Komisi Peningkatan Kinerja Masyarakat
Universitas Airlangga
Potensi dan Problematika KENSHUSEI (Pemagang Indonesia di Jepang) Menuju Kemandirian
Team Penulis
,Cholichul Hadi (Dr,Msi), Dodik Kurniawan, Dr. Fauzy Ammari, Amin Rohmatullah, Wempi Saputra, Dr. Nelfa Desmira (WGTT)1, Ahmad Lutfi (IPTIJ)2, Nur Wachid3, M. Farid Fauzi, Sendri Lentari (PUPUK Surabaya)4
Editor Cholichul Hadi Dodik Kurniawan Perancang Sampul Nindya Retnasatiti 1
Lembaga swadaya masyarakat yang berbasis web/internet yang memfasilitasi informasi dan mewadahi jaringan pelajar, peserta/purnamagang, dan professional.
Working Group for Technology Transfer (WGTT) http://wgtt.org
2
Organisasi trainee (kenshusei/pemagang) di Jepang yang berfungsi menjalin hubungan antar trainee selama di Jepang dan setelah pulang ke Indonesia.
Ikatan Persaudaraan Indonesia Trainee di Jepang (IPTIJ) http://iptij-japan.com
3
Asosiasi Lembaga Pelatihan Kerja yang concern dengan pengiriman pemagang dari Jawa Timur ke Jepang. Dalam kegiatannya bekerjasama dengan Disnaker Jawa Timur.
Asosiasi LPK Pemagangan Jatim
4Perkumpulan Untuk Peningkatan Usaha Kecil (PUPUK)
Lembaga swadaya masyarakat di Indonesia yang mempunyai visi menyalurkan aspirasi dan memperkuat keberadaan usaha kecil dan menengah, sehingga melahirkan enterpreuneur-enterpreuneur yang independen dan tangguh menghadapi persaingan ekonomi.
Penerbit -
Cetakan pertama, Juni 2010
Hak cipta dilindungi oleh Undang-Undang Dilarang keras menerjemahkan, memfotokopi, atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin
tertulis dari penerbit
Katalog Dalam Terbitan (KDT)
Potensi dan Problematika KENSHUSEI (Pemagang Indonesia di Jepang) Menuju Kemandirian / Dodik Kurniawan dan Team WGTT/IPTIJ/Asosiasi LPK Pemagangan Jatim/Pupuk Surabaya; - cetakan ke-1 -; Surabaya: Pupuk Surabaya, 2010 142 hlm; 15x23 cm
Daftar Isi
Kata pengantar ... 8
Bab 1 Pemagangan di Jepang dari tahun ke tahun ... 11
1.1 Apa dan bagaimana aspek legalitas sistem pemagangan... 14
1.2 Sektor dan kondisi pemagangan sebelum tahun 2000... 17
1.3 Sektor dan kondisi pemagangan saat ini... 19
1.4 Sektor dan kondisi pemagangan setelah tahun 2010... 25
Bab 2 Sistem perekrutan dan jalur pemberangkatan ... 31
2.1 Kerjasama antar pemerintah... 32
2.2 Jalur lembaga pelatihan kerja (LPK) dan swasta... 39
2.3 Melalui agen-agen pribadi dan kekeluargaan 41 2.4 Tanpa mengikuti prosedur yang telah ditentukan... 41
Bab 3 Regulasi perbankan dan kebijakan pemerintah ... 44
3.1 Peran pemerintah dalam menciptakan kondisi makro ekonomi yang kondusif bagi UMKM... 45
3.1.1 Kriteria usaha mikro, kecil, dan menengah... 45
3.1.2 Penumbuhan iklim usaha... 46
3.1.3 Pengembangan usaha... 48
3.1.4 Pembiayaan dan penjaminan... 50
3.1.5 Jalinan kemitraan... 51 3.1.6 Koordinasi dan pengendalian
menengah... 54 3.2 Peran perbankan dalam menopang
kemajuan UMKM... 54 3.3 Peran lembaga non pemerintah (LSM):
Studi kasus perjalanan Working Group for Technology Transfer (WGTT) 2007-2010 dan konsep iBET... 55
Bab 4 Potensi jembatan transfer teknologi bagi pengembangan UMKM ... 60 4.1 UMKM Jepang dalam klusterisasi industri... 61 4.2 Persebaran pemagang di sektor-sektor
industri Jepang... 65 4.3 Studi kasus waralaba di Jepang yang
berpotensi berkembang di tanah air... 67 4.4 Pemanfaatan teknologi informasi berbasis
web bagi akselerasi transfer teknologi.... 72
Bab 5 Rekomendasi meraih pangsa pasar lokal dan global ... 77 5.1 Sektor-sektor potensial yang memerlukan
kemitraan………. 78 5.2 Contoh peluang usaha lokal dan global……. 85
Bab 6 Meniti jalan panjang selanjutnya ... 89 6.1 Kesempatan tidak akan datang dua kali... 90 6.2 Keberanian merupakan syarat mutlak dalam
mencetak kesuksesan... 94 6.3 Perubahan datang dengan adanya kerja
keras dan kontinyuitas... 95 6.3.1 Pengertian kerja keras... 95 6.3.2 Pengertian kontinyuitas atau
istiqomah... 96 6.3.3 Dampak dari ketiadaan kerja keras
6.3.4 Beberapa latihan pendukung agar
terbiasa bekerja keras dan kontinyu... 97 6.4 Kerja cerdas, sebuah senjata pamungkas.... 99
Lampiran 1 Press release PWEP Nagoya/Toyota, 27-28 Maret 2010 ... 102 Lampiran 2 Laporan hasil studi banding ke sentra
UMKM di Jepang ... 105 Penutup ... 116 Profil Penulis ... 119
Kata Pengantar
Puji syukur senantiasa kita panjatkan atas kehadirat Allah SWT, yang dengan berkah dan limpahan rahmat-Nya sehingga buku "Potensi dan Problematika KENSHUSEI (Pemagang Indonesia di Jepang) Menuju Kemandirian" bisa tersusun seperti yang Anda lihat saat ini.
Adapun maksud dan tujuan utama dari penulisan buku ini adalah memberikan gambaran umum tentang kondisi terkini pemagang Indonesia yang terangkum dalam program magang di Jepang, potensi dan problematika yang sedang dihadapi, konsep Pelatihan Wirausaha dan Edukasi Perbankan (PWEP) yang telah dilakukan oleh Working Group for Technology Transfer (WGTT), serta proses dan solusi terpadu permasalahan di lapangan dan pengembangan potensi sang pemagang sebagai calon pengembang UMKM nasional berbasis teknologi. Buku ini juga merupakan kumpulan analisa atas hasil diskusi, questioner, maupun polling via website terhadap nara sumber yang secara berkala kami lakukan dalam upaya untuk memperoleh informasi yang akurat dan apa adanya.
Akhir kata, ungkapan terima kasih yang sebesar-besarnya tidak lupa kami sampaikan kepada Yusuf Arif Setiawan, Budhi Setiawan, Topan Setiadipura (WGTT), Bapak Benny A. Kusbiny (PT Mitra Tani Agro Unggul), Bapak Arif Abdullah (Dompet Dhuafa Republika), dan Indonesian Committee for Science & Technology Transfer in Taiwan (IC-3T) atas kesempatannya dalam berdiskusi. Kepada staff ahli Bank Indonesia dan Bank Negara Indonesia 46 Kantor Perwakilan Tokyo, dan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) atas kerjasamanya dalam pelaksanaan PWEP, staff Bidang Ekonomi dan Bea Cukai Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Tokyo, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Osaka, IMM Japan, Vuteq
Corporation, dan Bank Jatim serta semua pihak yang telah membantu penyusunan buku ini baik langsung maupun tidak.
Kami berharap buku ini bermanfaat dan mempunyai kontribusi positif kepada khalayak umum. Tiada gading yang tak retak, demikian juga materi yang disusun dalam buku ini. Dengan senang hati saran dan kritik yang bersifat perbaikan akan sangat kami nantikan.
Salam Pro Pemagang Indonesia, pahlawan devisa dan harapan bangsa!
Gifu-Jepang, 20 Mei 2010
Dr. Fauzy Ammari Direktur Eksekutif Working Group for Technology Transfer (WGTT) [email protected]; http://wgtt.org
Bab 1
Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Jepang atau yang biasa dikenal dengan istilah pemagang memang memiliki karakteristik yang berbeda dengan rekan-rekan kita yang berada di Malaysia, Hongkong, maupun negara-negara Arab. Hal-hal yang identik dengan kekerasan dunia kerja, kekejaman majikan, dan berbagai hal negatif yang menjadi trade mark dari TKI atau Buruh Migran Indonesia (BMI), hampir atau bahkan tidak pernah dijumpai oleh para pemagang yang rata-rata adalah laki-laki berusia 20-30 tahun.
Tujuan dari program pemagangan ini adalah pembinaan sumber daya manusia melalui peningkatan keterampilan dan pengasahan ilmu-ilmu tehnik melalui program kerja selama 3 tahun di perusahaan kecil dan menengah di Jepang yang diharapkan juga dapat ikut berperan serta dalam era kompetisi global. Dari aspek teknologi, pemagangan merupakan program untuk meningkakan kemampunan individu dalam suatu sektor tertentu sehingga tercapai level kemampuan di suatu skop pekerjaan dengan indikasi mampu mempraktekkannya secara individu. Di samping itu, keuntungan lain dengan adanya program magang ini adalah:
(i) Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tehnik tenaga kerja Indonesia;
(ii) Melalui proses kerja bersama-sama dengan karyawan Jepang, akan memperbaiki sikap dan etos kerja menjadi lebih produktif;
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, pemagangan didefinisikan sebagai sistem pelatihan kerja yang diselenggarakan secara terpadu antara pelatihan di lembaga pelatihan dengan bekerja secara langsung di bawah bimbingan dan pengawasan instruktur atau pekerja/buruh yang lebih berpengalaman, dalam proses produksi barang dan/atau jasa di perusahaan, dalam rangka menguasai keterampilan atau keahlian tertentu.
Berdasarkan "Sistem Keterampilan" yang dibentuk pemerintah Jepang, telah diberangkatkan ratusan ribu pemagang Indonesia yang direkrut melalui Depnakertrans untuk mengikuti program magang selama 3 tahun. Sampai saat ini, terdapat dua skema program magang bagi tenaga kerja asing, yaitu Industrial Training Program (ITP) dan Technical Internship Program (TIP). Dalam pelaksanaannya, kombinasi dari skema ITP (maksimum 1 tahun) dan skema TIP (maksimum 2 tahun) merupakan hal yang umum, sehingga secara keseluruhan dapat bekerja maksimum 3 tahun. Secara umum, pemagang akan mendapatkan pembayaran sebesar 80.000 Yen pada tahun pertama. Angka tersebut belum bisa disebut sebagai gaji karena berdasarkan Undang-Undang Perburuhan di Jepang, masih dikategorikan sebagai kenshusei atau trainee (siswa latihan). Pada tahun kedua dan ketiga, disebut sebagai jisshusei (pemagang) dengan gaji sekitar 100.000 Yen perbulan belum termasuk honor lembur, uang makan, asuransi kesehatan, pensiun, dll yang besarnya bergantung kepada masing-masing kebijakan perusahaan.
Berdasarkan negara asal, ada 14 negara yang mengirimkan tenaga kerjanya ke Jepang, dan Cina merupakan pengirim terbanyak (sumber JITCO). Tiga organisasi yang mendominasi sebagai penyalur pemagangan Indonesia ke Jepang adalah: 1. Association for International Manpower Development of
Medium and Small Enterprises (IMM Japan);
2. Japan Indonesia Association for Economy Cooperation (JIAEC);
3. Japan Vocational Ability Development Association (JAVADA).
Menurut survey yang dilakukan oleh Working Group for Technology Transfer (WGTT) pada tahun 2007-2010, terdapat 7 bidang pekerjaan yaitu (1) Pertanian; (2) Perikanan; (3)
Konstruksi; (4) Industri pengolahan makanan; (5) Industri tekstil; (6) Industri mesin dan barang logam; dan (7) Industri lainnya seperti furniture, percetakan, pengecatan, dan pengemasan. Secara keseluruhan, jenis pekerjaan yang tersedia untuk para pemagang mencakup 62 jenis dengan 114 sub tahapan pekerjaan tertentu.
Setelah penandatanganan kesepakatan antara Depnaker dan pemerintah Jepang, dimana lembaga penerima di Jepang adalah IMM Japan sejak tahun 1993, pemerintah Indonesia telah mengirimkan banyak tenaga-tenaga terpilih melalui Technical Intern Training Program (TITP) yang dicetuskan oleh pemerintah Jepang. Jumlah pemagang Indonesia yang dikirim ke Jepang telah melebihi 100.000 orang (per Mei tahun 2010). Jumlah ini terus meningkat sekitar 5.200 orang per tahunnya. Pemuda pilihan dengan kategori usia 20-30 tahun ini telah mengikuti pelatihan selama 4 bulan yang diselenggarakan oleh Depnaker di berbagai daerah yang telah ditentukan. Hanya mereka yang memiliki kedisiplinan tinggi, antusias, dan penuh energi akan mampu lolos dari seleksi dan persaingan secara nasional. Lembaga pelaksana program ini seperti IMM Japan, JITCO, JAVADA, dll telah sukses menjalankan program ini sejak 15 tahun yang lalu, dan berlanjut ke pengembangan program-program pelatihan. Selain itu, ada pula perusahaan yang menjadi host para pemagang dengan melakukan perekrutan langsung antara lain: VUTEQ Corporation.
1.1 Apa dan bagaimana aspek legalitas sistem pemagangan
Sesuai Undang-Undang Republik Indonesia nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dan Peraturan Menteri No 21 Tahun 2005, secara resmi pemerintah Indonesia melalui Depnaker menjalin ikatan perjanjian dengan pemerintah Jepang dalam pelaksanaan progam pemagangan mulai dari
perekrutan peserta sampai persiapan dalam negeri dan pemberangkatan.
Dari aspek kebutuhan tenaga kerja, karena aktivitas produk industri di Jepang terus meningkat, Jepang merupakan negara yang memiliki dan memelihara budaya kerja tradisional yang kuat dan telah berakar ke berbagai lapisan masyarakat. Dalam hal budaya kerja, Jepang sangat menghargai waktu dan memiliki kemampuan untuk maju dengan cara yang dikembangkan sendiri. Sistem pencatatan hasil dan rencana kerja serta pendanaan yang terencana juga telah tertanam dalam budaya hidup orang Jepang secara umum.
Dalam hal strategi pengembangan usaha lokal, pemerintah secara rutin mengadakan acara pameran, seminar ataupun workshop di kota kecil dimana pengunjung akan ikut berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi lokal. Selain itu, penyebaran informasi juga dilakukan secara kontinyu melalui media internet, televisi serta berbagai surat kabar dan membuka akses transportasi secara luas.
Menyadari akan ancaman yang begitu dekat dalam kehidupan masyarakat Jepang, maka keselamatan adalah hal yang utama. Setiap rumah akan menerima peta mengenai lokasi pengungsian seperti sekolah, gedung olahraga, taman, dll. Setiap sekolah memiliki cadangan makanan untuk pengungsian secara tiba-tiba, termasuk sarana penginapan yang juga dilengkapi dengan dapur. Latihan antisipasi terhadap bencana alam seperti gempa, kebakaran dan kekacauan merupakan hal yang rutin dilaksanakan dan diikuti secara berkala oleh masyarakat pada umumnya.
Program TITP oleh Pemerintah Jepang yang dimulai pada tahun 1993 dengan maksud untuk melatih dan menerima peserta magang dari berbagai negara untuk bekerja di
perusahaan-perusahaan di Jepang khususnya kecil dan mengengah merupakan titik tolak program magang atau pengiriman Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke Jepang. TKI Indonesia (baca: pemagang) yang dikirimkan melalui program tersebut memiliki tingkat keahlian teknis tertentu, yang tidak sama dengan TKI di negara-negara lain.
Perusahaan dilarang mempekerjakan pemagang lebih dari 8 jam setiap harinya pada tahun pertama (masa kenshusei) dan memberikan istirahat paling sedikit satu hari dalam seminggu. Waktu istirahat sehari-hari diberikan selama 60 menit yang dalam pelaksanaanya di beberapa perusahaan dapat terbagi menjadi 3 bagian yaitu 10 menit pertama pada pukul 10.00 pagi, kemudian istirahat siang selama 40 menit mulai pukul 12.00, dan 10 menit terakhir pada pukul 15.00 sore.
Pada tahun pertama, hak cuti belum diberikan, baru pada tahun kedua dan ketiga hak tersebut dapat digunakan. Sejak tahun pertama setiap pemagang juga diwajibkan untuk ikut serta dalam asuransi kesehatan untuk menutup segala pengeluaran berobat. Meskipun dalam kenyataannya, sistem asuransi kesehatan di Jepang tetap mengharuskan pasien untuk membayar biaya kesehatan sebesar 30%.
Untuk kerja lembur dibayar sebesar 25% lebih tinggi dari upah per jam yang diterima pada jam kerja normal. Namun dalam kenyataannya, upah per jam yang dibayarkan kepada para jisshusei (pemagang tahun kedua dan ketiga) tersebut hanya sekitar 719 Yen (rata-rata hasil survey) sehingga uang lembur per jam yang diterima adalah 898,75 Yen. Rata-rata para jisshusei mampu melakukan kerja lembur maksimum sekitar 70 jam per bulannya. Dengan melakukan kerja lembur secara maksimum tersebut maka setiap jisshusei bisa memperoleh tambahan penghasilan sekitar 63.000 Yen per bulannya.
Mulai tahun kedua para jisshusei memperoleh hak cuti selama 10 hari/tahun dan memperoleh gaji yang lebih tinggi dari tahun pertama dengan penghasilan bersihnya berkisar antara 90.000 s.d. 100.000 Yen per bulannya. Dalam praktiknya, jumlah gaji bruto yang diterima oleh jisshusei adalah sekitar 135.000 Yen per bulan, namun secara netto jumlah gaji yang diterima lebih rendah setelah adanya berbagai potongan, seperti asuransi kesehatan sekitar 20.000 Yen, iuran pensiun sekitar 10.000 Yen per bulan dan juga uang akomodasi asrama (uang akomodasi dan asuransi kesehatan untuk tahun pertama ditanggung oleh perusahaan tempat bekerja).
1.2 Sektor dan kondisi pemagangan sebelum tahun 2000
Sebelum tahun 2000, durasi program pemagangan di bawah Undang-Undang Perburuhan Jepang adalah maksimum 2 tahun (perubahan dari maksimum 1 tahun) dan lokasi penempatan pemagang disesuaikan dengan kebutuhan berbagai sektor industri per wilayah.
Adapun proses seleksi yang dilakukan di tanah air pada umumnya adalah sebagai berikut:
1. Seleksi dilakukan di berbagai daerah yang dipusatkan di tingkat propinsi bekerja sama dengan pihak Kantor Wilayah Depnaker, berusia antara 18-40 tahun, pendidikan minimal Sekolah Kejuruan seperti STM atau SMU dengan tambahan telah mengikuti pembekalan minimal selama 480 jam di Balai Latihan Kerja (BLK), lulus seleksi administratif (berkelakuan baik, sehat jasmani dan rohani), mengikuti tes wawancara dan kesehatan.
2. Pelatihan di Indonesia sebelum berangkat ke Jepang. Bagi peserta magang yang telah lolos seleksi dan diterima oleh perusahaan penyalur yang ada di Indonesia, calon pemagang (pramagang) akan mengikuti in house training sekitar 4 bulan (umumnya perusahaan penyalur memiliki fasilitas tersendiri. Modul pelatihan yang diberikan selama
4 bulan terutama mengenai Bahasa Jepang (Nihonggo), beberapa hal penting terkait keimigrasian, kedisiplinan, dan latihan fisik. Selama proses pelatihan ini pramagang memperoleh fasilitas akomodasi dan makan yang biayanya telah diperhitungkan dengan penghasilan mereka selama 3 tahun ke depan di Jepang.
3. Proses off the job training di Jepang sekitar 1 bulan sebelum penempatan di perusahaan-perusahaan (Saitama dan Chiba). Pramagang diberikan pelajaran lanjutan Bahasa Jepang dan pengenalan kebudayaan/kebiasaan masyarakat di Jepang (belum menerima honor karena belum bekerja, hanya akomodasi).
Tahun pertama sebagai pemagang (efektif selama 11 bulan), pihak perusahaan memberikan kesempatan kepada mereka untuk memperoleh informasi tambahan terkait dengan pekerjaan, misalnya tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja atau 3K.
Penyuluhan mengenai 3K ini pada umumnya diselenggarakan pada minggu pertama bulan Juli dengan slogan “Lalai 1 detik akan mengakibatkan cacat seumur hidup”. Selama tahun pertama ini pemagang menerima uang saku (allowance) yang jumlahnya pada sektor pertanian sekitar 60.000 Yen dan sektor industri rata-rata berkisar 80.000 Yen per bulan (take home pay). Pihak perusahaan berkewajiban menyediakan akomodasi dan pembayaran umumnya dilakukan sekitar tanggal 25 setiap bulannya. Jam kerja satu hari adalah 8 jam (40 jam per minggu) yang umumnya dimulai dari jam 08.00 pagi s.d. jam 05.00 sore.
Program magang bagi TKI di Jepang sampai saat ini secara resmi sudah berlangsung lebih dari 15 tahun. Pekerjaan yang mereka lakukan pada umumnya berbeda dengan keinginan mereka sewaktu mengisi formulir di Indonesia. Gaji yang diterima cenderung tidak mengalami perubahan sejak 15 tahun
yang lalu dan saat ini relatif lebih rendah dari upah per jam bagi pekerja sampingan (part time worker atau arubaito).
1.3 Sektor dan kondisi pemagangan saat ini
Berdasarkan referensi pemberitaan media dan masukan dari pemagang sendiri, kondisi program pemagangan saat ini di Jepang maupun di negara lain terutama kuantitas penyerapan peserta sangat bergantung pada berbagai aspek di luar kontrol sektor industri itu sendiri, antara lain:
(i) Imbas krisis ekonomi. Karena semua industri saling terkait, industri-industri kecil sangat bergantung pada jumlah order dari industri besar. Fakta bahwa industri besar sangat rawan terhadap krisis global yang menghadapi situasi penurunan permintaan oleh end-user. Keterkaitan berbagai level produksi industri ini karena spesialisasi produksi komponen yang kebanyakan berada di perusahaan dengan kapital sedang dan kecil. Sedangkan di sektor konstruksi, turunnya daya beli produk properti dan kondisi berkurangnya anggaran pemerintah untuk alokasi public works.
(ii) Peningkatan transparansi proses pelaksanaan program pemagangan, karena kemudahan akses internet.
(iii) Perusahaan Jepang yang mempunyai pabrik di Indonesia, melakukan pemagangan internal periode tertentu di Jepang setiap tahun. Di satu sisi, hal ini akan menguntungkan sektor produksi mereka di Jepang karena mampu mengimbangi kebutuhan tenaga kerja.
(iv) Semakin fleksibelnya aturan hukum, terjadi pertambahan penyalur baru, sehingga menimbulkan kompetisi.
(v) Munculnya sektor baru dalam program magang dengan standar kriteria yang spesifik, terutama yang terkait dengan sektor pelayanan kesehatan di rumah sakit.
(vi) Kebutuhan standar kualifikasi peserta magang seiring dengan pemakaian peralatan komputerisasi dalam sektor produksi.
Beberapa kondisi khusus yang muncul karena cepatnya arus informasi yang bisa didapat, ketidakpuasaan terhadap jenis pekerjaan dan pendapatan, dan masalah kepastian masa depan setelah program pemagangan, adalah:
(i) Terdapat indikasi yang cukup kuat antara mayoritas pemagang, yang lebih memilih melakukan pengiriman uang lewat jalur informal (informal money remmitance – IMR) dikarenakan biaya pengiriman yang lebih murah, penetapan kurs yang lebih baik, kemudahan proses administrasi, dan waktu pengiriman lebih cepat dan fleksibel.
(ii) Adanya pemagang yang melarikan diri dan masalah overstay. Ketidakpastian masa depan setelah kembali dari Jepang dan keterbatasan jumlah tenaga kerja yang dapat ditampung di perusahaan Jepang mengakibatkan pemagang merasa was-was akan nasibnya dan sebagian dari mereka memilih untuk melarikan diri dari tempat magangnya di Jepang. Selain itu, gaji yang ditawarkan perusahaan Jepang di Indonesia yang relatif rendah (walaupun sudah sesuai dengan standar gaji Indonesia) juga diindikasikan sebagai faktor yang kurang mendukung. (iii) Dari berbagai kesempatan berdiskusi dengan para
pemagang, diketahui bahwa pada prinsipnya banyak yang berkeinginan menjadi wiraswasta. Tetapi, sebagian besar menyatakan kurangnya informasi tentang bagaimana dan apa yang harus mereka lakukan untuk memulai usaha dan tidak memiliki pengetahuan untuk merencanakan keuangan mereka.
(iv) Sampai saat ini nampaknya belum ada lembaga keuangan yang menunjang keinginan mereka untuk berwiraswasta tersebut.
Pemagang Indonesia didatangkan sebagian besar melalui IMM Japan. IMM Japan adalah lembaga pemagang terbesar di
Jepang, dan didirikan pada tanggal 2 Desember 1991 atas izin Kementrian Tenaga Kerja Jepang. Tujuan pendirian adalah untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia industri kecil dan menengah di Jepang agar dapat bersaing di dunia internasional dan pengembangan sumber data manusia dalam rangka alih teknologi dan pertukaran tehnik diantara negara yang sedang berkembang. Dengan demikian dapat menyumbang perkembangan ekonomi dan sosial di negara yang sedang berkembang.
Kegiatan IMM Japan adalah menerima peserta magang dari luar negeri di bawah program pelatihan pemagangan sesuai dengan ketentuan pemerintah, membantu dan mendorong industri kecil di Jepang untuk mengembangkan bisnis mereka di luar negeri serta menyelenggarakan kegiatan-kegiatan penelitian, pelatihan, seminar dan mengumpulkan informasi untuk sumber daya manusia serta program pertukaran teknik.
Sejak bulan Mei 1993, IMM Japan telah menerima peserta magang dari Indonesia sebanyak 26.825 orang dengan 175 angkatan dan tersebar di 44 propinsi di seluruh Jepang seperti terlihat dalam Tabel 1.1 Terhitung sejak tahun 1995, sebanyak 18.680 orang peserta pemagangan telah kembali ke Indonesia dan sekitar 6000 orang telah bekerja baik di perusahaan nasional maupun perusahaan Jepang di Indonesia. Informasi ini dapat dilihat pada Tabel 1.2.
Tabel 1.1 Jumlah perusahaan penerima dan tempat bekerja para pemagang (berdasarkan prefecture)
Prefecture Pemagang Jumlah perusahaan penerima Jumlah peserta pemagangan Kantor pusat Hokkaido - - Aomori - - Iwate 3 13 Miyagi 2 12 Akita Yamagata 2 10 Fukushima 4 16 Ibaraki 31 145 Tochigi 21 101 Gunma 41 221 Saitama 65 294 Chiba 17 80 Tokyo 26 125 Kanagawa 43 171 Niigata 14 67 Total 269 1255 Nagano Branch Nagano 100 442 Yamanashi 10 35 Total 110 477 Shizouka 62 437 Tokai Branch Toyama 3 28 Ishikawa 9 77 Fukui 6 28 Gifu 7 64 Aichi 36 299 Mie 21 202 Total 82 698 Kansai Branch Shiga 12 115 Kyoto 9 71 Osaka 63 390 Hyogo 24 185
Nara 9 55 Wakayama 3 14 Tottori 2 7 Shimane - - Okayama 12 83 Hiroshima 16 151 Tokushima 3 13 Kagawa - - Ehime 4 23 Kochi - - Total 157 1107 Kyushu Branch Yamaguchi 3 28 Fukuoka 24 113 Saga 6 53 Nagasaki 7 60 Kumamoto 15 65 Oita 2 28 Miyazaki 3 52 Kagoshima 4 12 Okinawa - - Total 64 411 Grand Total 744 4385
Tabel 1.2 Informasi tentang peserta magang yang telah kembali ke Indonesia 1 bulan sesudah kembali 3 bulan sesudah kembali 6 bulan sesudah kembali Jumlah pemagang yang kembali pada April Dapat kerja (%) 34 58 74 Dapat kerja (orang) 648 1.015 1.296
2006 s.d. Maret 2007 = 1.844 orang Jumlah yang dijawab (%) 95 95 95
1.4 Sektor dan kondisi pemagangan setelah tahun 2010
Tantangan yang dihadapi akan lebih besar dalam persaingan kualifikasi SDM global pada level yang dibutuhkan. Penyalur harus menjawab tantangan ini mulai sekarang dengan menyiapkan kerangka perekrutan pramagang, antara lain:
Kebutuhan akan kualitas SDM
Kebutuhan akan ekonomisasi dan efisiensi
Kompetisi dengan standar kriteria yang ditentukan perusahaan penerima di Jepang
Transparansi dalam proses perekrutan Kepatuhan akan guidelines yang ditetapkan
Kebutuhan akan kebijakan pemerintah yang pro pemagangan
Perlindungan hukum yang kuat dari perwakilan diplomatik Indonesia di luar negeri
Data pemagang setelah berada di Jepang harus dimiliki oleh pemerintah Indonesia melalui KBRI karena fakta bahwa lokasi dan jenis industri yang dimasuki mungkin berbeda dari rencana sebelum berangkat.
Perkiraan kondisi pemagangan setelah 2010 akan banyak bergantung kepada:
Kondisi ekonomi kawasan dan global karena keterkaitan manufaktur dan kondisi kebutuhan pasar.
Kondisi persaingan yang ditunjukkan dengan kebangkitan industri di Cina dan India.
Teknologi yang akan diaplikasikan di lapangan akan semakin canggih sehingga pemakaian tenagga manusia di level tertentu akan berkurang.
Fakta bahwa selain sektor industri, sektor jasa akan turut memainkan peran dalam kuantitas dan daya tarik peserta magang, misalnya sektor jasa keperawatan dan tenaga professional level menengah.
Fakta bahwa pemagang akan dituntut untuk bisa melakukan quality control secara langsung sebagai bagian dari efisiensi. Pemagang yang masuk dalam program pemagangan harus mampu memberikan keputusan jika bagian dari produknya tidak lolos kualitas.
Program magang ini telah menghasilkan paling tidak 2 manfaat khusus bagi para pemagang:
1. Adanya kesempatan untuk menimba keterampilan selama bekerja di perusahaan-perusahaan Jepang yang berbasis teknologi tinggi dan disiplin kerja yang tinggi.
2. Adanya kesempatan untuk mengakumulasi modal dari penghasilan yang diperoleh selama bekerja dalam bentuk tabungan.
Adanya dua manfaat ini paling tidak menyadarkan kita betapa potensi sumber daya manusia dan modal mestinya dapat dikembangkan ke arah yang lebih positif, berkembang dan berkesinambungan. Potensi pemagang inilah yang menjadi fokus para pengambil kebijakan terkait dengan sektor ini untuk mengarahkan potensi pemagang kepada kegiatan-kegiatan yang nyata dan produktif. Salah satu rencana positif yang dikembangkan adalah dengan mengarahkan para pemagang untuk menjadi seorang wirausahawan.
Kerjasama program magang dan keinginan untuk mengembangkan potensi para peserta magang ke arah pembentukan calon wirausaha tangguh telah melatarbelakangi apa yang kemudian disebut dengan ”Komitmen Tokyo” yang disepakati pada tanggal 5-6 Nopember 2007 oleh beberapa instansi pemerintah antara lain: Kedutaan Besar RI di Tokyo (KBRI Tokyo), Konsulat Jenderal RI di Osaka (KJRI Osaka), Bank Indonesia Tokyo Representative Office (BI Tokyo), Bank Negara Indonesia di Tokyo (BNI Tokyo), IMM Japan dan lembaga penyalur lainnya, Departemen Tenaga Kerja dan
Transmigrasi (Depnakertrans, Ditjen Pembinaan, Pelatihan dan Produktivitas), Kementrian Koperasi dan UKM, Deputi Bidang Pengembangan SDM, Departemen Perindustrian, Ditjen IKM, Departemen Perdagangan, Ditjen Perdagangan Dalam Negeri, dan Working Group for Technology Transfer (WGTT).
Terdapat 3 (tiga) program utama: Pembekalan, konsultasi dan pendampingan. Dua program pertama dilaksanakan di Jepang dengan Pelatihan Wirausaha dan Edukasi Perbankan (PWEP) dan program konsultasi pembuatan proposal bisnis, sedang program terakhir di Indonesia. Program PWEP ini telah dilaksanakan sebagai berikut:
1. PWEP Gifu, 6 Januari 2008 PWEP pada tahun 2008:
2. PWEP Kanazawa, 10 Pebruari 2008 3. PWEP Tokyo (Big Event), 23 Maret 2008 4. PWEP Saga Kyushu, 18 Mei 2008 5. PWEP Nagoya, 1 Juni 2008 6. PWEP Kobe, 22 Juni 2008 7. PWEP Toyota, 13 Juli 2008
8. PWEP Shizuoka, 21 September 2008 9. PWEP Kansai (Big Event), 26 Oktober 2008 Dengan total peserta: 1.321 orang
10. PWEP Kasugai, 1 Pebruari 2009 PWEP pada tahun 2009:
11. PWEP Toyama, 7 Maret 2009 (Studi Banding) 12. PWEP Toyohashi, 12 April 2009
13. PWEP Kumamoto, 4 Mei 2009 14. PWEP Hiroshima, 28 Juni 2009 15. PWEP Okayama, 2 Agustus 2009
16. PWEP Kyoto (Big Event), 4 Oktober 2009 17. PWEP Tokyo, 22 Nopember 2009
Dengan total peserta: 1.218 orang
19. PWEP Nagoya, 27 Maret 2010 PWEP pada tahun 2010:
20. PWEP Toyota, 28 Maret 2010 21. PWEP Surabaya, 13 Juni 2010
Dari kegiatan PWEP ini, telah pula dilakukan dokumentasi peserta, jenis perusahaan tempat bekerja dan lokasi perusahaan tempat bekerja para peserta magang. Hal ini dimungkinkan untuk menjalin komunikasi yang lebih intensif di kemudian hari sekaligus peluang untuk membangun jaringan kerjasama usaha. Segmen awal ini merupakan infrastruktur utama dalam proses komunikasi antar perusahaan di Jepang dan Indonesia selanjutnya.
Integrasi antara pramagang, selama magang, dan purnamagang dengan berbagai institusi dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang akan mendukung kemandirian pemagang setelah program magang selesai merupakan hal yang paling mendasar. Karena sesuai dengan namanya, bahwa pemagang hanyalah magang bukan tenaga kerja. Tujuan akhir dari program ini adalah kemandirian bagi pelakunya pada khususnya dan transfer teknologi dari negeri Jepang ke tanah air pada umumnya. Akan tetapi, kegigihan mereka dalam mengumpulkan modal selama 3 tahun di Jepang juga tidak bisa dianggap enteng. Secara finansial mereka mampu mengumpulkan uang puluhan bahkan ratusan juta rupiah untuk modal usaha kelak, akan tetapi kesiapan fisik dan mental untuk berproses menuju kemandirian belum masuk dalam kurikulum program pemagangan itu sendiri.
Dalam hal ini pemerintah perlu untuk membangun kerangka jangka panjang untuk memfasilitasi pengembangan program ini, dengan melibatkan independent evaluator dan melakukan
pemantauan secara berkala dari Indonesia. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa banyak dari pemagang yang mempunyai potensi yang melebihi orang Jepang dan menjadi rebutan perusahaan Jepang yang berada di Indonesia, padahal mereka mestinya mendapatkan prioritas untuk menjadi seorang wirausahawan yang sukses yang nantinya diharapkan dapat mengaplikasikan teknologi yang diperolehnya dan menyerap tenaga kerja di lingkungan sekitarnya.
Efek transfer teknologi harus mendapat perhatian karena program pemagangan ini telah berlangsung puluhan tahun. Kebutuhan akan implementasi program yang lebih baik di kedua belah pihak baik Jepang maupun Indonesia akan sangat bermanfaat bagi kedua negara dan tentu saja bagi pelaku dari program magang ini.
Bab 2
Sebagaimana kita pahami bersama bahwa persoalan ekonomi dan investasi, angkatan pengangguran yang kian bertambah sebagai akibat bertambahnya angkatan kerja baru dan tingginya jumlah angka PHK merupakan persoalan nasional yang tidak mudah dicari solusinya. Pemulangan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) bermasalah dan menurunnya kesempatan kerja di dalam negeri serta keterampilan pencari kerja yang tidak sesuai dengan standar yang dibutuhkan oleh perusahaan, juga merupakan salah satu penyebab meningkatnya angka pengangguran. Sebagai salah satu solusi terhadap permasalahan ini, program pemagangan ke Jepang mulai diberlangsungkan oleh pemerintah kedua negara lebih dari 15 tahun yang lalu.
2.1 Kerjasama antar pemerintah
Ada beberapa jalur perekrutan dan pemberangkatan pemagangan ke Jepang, diantaranya jalur pemerintah dalam hal ini Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi yang telah menjalin kerja sama dengan IMM Japan yang MOU-nya telah ditandatangani tahun 1990 dan baru terealisasi pada 1993.
Jalur pemerintah ini pada awalnya hanya diketahui oleh kerabat dekat Depnakertrans, akan tetapi setelah adanya sosialisasi secara kontinyu, saat ini banyak masyarakat umum yang telah merasakan manfaatnya. Apalagi dengan adanya perkembangan teknologi informasi yang tidak bisa dipungkiri bahwa program magang ke Jepang menjadi sangat diminati oleh generasi muda Indonesia. Hal ini dikarenakan peran serta dinas tenaga kerja seluruh propinsi di Indonesia yang tidak bosan-bosannya selalu mensosialisasikan program magang ke Jepang.
Adapun sistem perekrutan sampai dengan pemberangkatan telah disesuaikan dengan ketentuan yang sudah diatur oleh kedua belah pihak. Tugas dari IMM Japan adalah membantu
perusahaan/industri kecil dan menengah Jepang (termasuk membantu dalam penanaman modal ke Indonesia) dan menjadi pelindung serta sponsor bagi peserta magang selama berada di Jepang.
Adapun syarat-syarat untuk dapat mendaftar dalam program pemagangan Jepang melalui Depnakertrans antara lain:
1. Pendidikan formal minimal SLTA, SMK, D1, D2, D3, S1 (Tehnik). Bagi calon peserta yang berpendidikan formal SMA, SMEA, MAN, D3, S1 (Non Tehnik), harus melampirkan sertifikat latihan kerja dari balai latihan kerja/lembaga latihan swasta minimal 220 jam latih atau melampirkan surat pengalaman kerja di bidang tehnik minimal 6 bulan.
2. Persyaratan fisik:
a. Laki-laki, usia minimum 20 tahun maksimum 27 tahun b. Tinggi badan minimum 160 cm, berat badan ideal c. Tidak cacat tubuh, tidak bertato, tidak tindik d. Tidak buta warna dan berkaca mata
e. Memiliki motivasi, disiplin dan sikap mental tinggi
Adapun proses perekrutannya menggunakan sistem gugur dan dibagi dalam beberapa tahapan diantaranya:
1. Seleksi administrasi
Peserta akan diteliti kelengkapan berkas pendaftaran apakah sudah sesuai dengan ketentuan yang ada.
2. Pemeriksaan kesehatan tubuh
Meliputi pemeriksaan fisik, yaitu tinggi badan, berat badan, cacat tubuh dan fungsi organ tubuh lainnya.
3. Tes matematika
Dalam tes matematika ini para peserta akan diwajibkan mengisi soal matematika yang seluruhnya berjumlah 10 soal, waktu tes 5 menit dan untuk dapat lulus minimal menjawab benar 7 soal.
- Lari nonstop 3 km, batas waktu maksimum 15 menit - Push up minimal 35 kali
- Sit up minimal 25 kali
5. Tes Bahasa Jepang, meliputi huruf-huruf Jepang: - Hiragana
- Katakana
- Kata benda, kata kerja - Kosakata
- Kata sifat, dan - Kanji
6. Wawancara, untuk melihat kondisi langsung para peserta terhadap hal-hal berikut:
- Performance (sikap perilaku) - Latar belakang keluarga - Pemahaman program
- Kemampuan verbal dan kemampuan wawasan. 7. Psychotest, dalam tes ini banyak faktor yang diuji:
- Faktor kemandirian dan ketekunan - Faktor ketahanan kerja
- Faktor intelegensia umum (IQ)
Setelah semua yang diujikan selesai maka para peserta yang lulus akan diumumkan 2 minggu setelah itu. Bagi peserta yang lulus maka akan dapat mengikuti tahapan berikutnya yaitu medical test (tes kesehatan) yang digunakan untuk mengetahui kelayakan kesehatan peserta dalam mengikuti program pemagangan dengan mempertimbangkan segala perbedaan dan kondisi alam. Medical test dilaksanakan di daerah oleh dokter rumah sakit atau laboratorium dengan persetujuan dari tim pusat dan IMM Japan.
Setelah semua tes selesai dilaksanakan dan peserta dinyatakan lulus maka peserta diwajibkan untuk mengikuti
pelatihan pra pemberangkatan, dimana untuk pelatihan tahap pertama ini dilakukan di propinsi masing-masing. Selama 2 bulan 10 hari peserta diwajibkan mengikuti pelajaran meliputi: Bahasa Jepang, budaya Jepang, dll. Sistem yang diberlakukan adalah sistem gugur. Pada saat pendidikan di propinsi ini, peserta sudah harus mengurus paspor. Setelah keseluruhan persyaratan diselesaikan dengan baik maka peserta akan masuk ke jenjang berikutnya yaitu diberangkatkan ke pusat dalam hal ini di BBPPK Lembang Bandung atau di B2PKLN Civest Bekasi. Selama 2 bulan peserta akan dididik lebih dalam tentang Bahasa Jepang, budaya Jepang, dll. Semua biaya pendidikan akan ditanggung oleh IMM Japan. Di pendidikan terahir ini peserta akan menjalani medical check-up lagi karena dikwatirkan ada penyakit selama dalam mengikuti pendidikan. Setelah semuanya dijalani, dokumen-dokumen pemberangkatan ke Jepang akan diurus.
Meskipun pihak penyalur tidak melakukan pungutan biaya, akan tetapi peserta tetap perlu menyiapkan pengeluaran sebagai beikut:
1. Medical check-up
2. Pelatihan tahap pertama
3. Transpor ke tempat pelatihan tahap kedua 4. Pembuatan paspor
5. Visa dan airport tax
6. Biaya hidup awal 10.000 yen
Adapun fasilitas yang akan didapatkan para peserta magang dari IMM Japan antara lain:
1. Pelatihan tahap kedua
2. Medical check-up pra pemberangkatan 3. Transpor ke bandara
4. Tiket pesawat PP Jakarta–Jepang
5. Asrama atau tempat tinggal selama berada di Jepang 6. Tunjangan bulanan di Jepang
Dari syarat-syarat di atas, dapat penulis simpulkan bahwa seleksi pemagangan ke Jepang memerlukan seleksi yang sungguh ketat, bukan hanya kemampuan akademik, melainkan keseluruhan tes kesehatan, mental, daya adaptasi, dan juga pola berpikir. Sudah sepantasnya apabila ”Manusia-manusia terpilih” ini, setelah mendapatkan tambahan skill dan ilmu teknik serta akumulasi modal selama 3 tahun di Jepang dan sekembalinya ke tanah air, akan mampu untuk mendongkrak ekonomi di lingkungan sekitar tempat tinggalnya yang rata-rata berada di pedesaan. Akan tetapi, sangat disayangkan program magang saat ini lebih tertuju kepada kuantitas peserta bukan kepada masa depan dari pemagang itu sendiri.
Selain melalui jalur IMM Japan, dalam skala kecil Departemen Pertanian RI juga mempunyai program pengiriman pemagang ke Jepang. Model ini lebih mudah dari sektor industri karena ditangani langsung oleh Atase Perindustrian KBRI Tokyo. Jumlah peserta terbatas karena hanya berhubungan dengan beberapa prefecture seperti Gunma-ken dan Fukui-ken serta petani yang akan menjadi induk semang ditunjuk oleh pemerintah lokal di prefecture tersebut.
Pemagangan di sektor pertanian ini biasa juga disebut Pemuda Tani dan durasinya 1 tahun. Peserta magang langsung tinggal di rumah petani dan sehari-hari berbaur dengan petani tersebut. Selain aktivitas sehari-hari yang mengikuti pola kerja petani induk semang, juga ada berbagai skedul kunjungan dan presentasi secara berkala, seperti studi banding ke petani bunga, bisnis-bisnis yang dibangun oleh Japan Agriculture (JA), pabrik kemasan, teknik pengolahan limbah, peternakan sapi dan ayam, pabrik pengolahan susu, belajar manajemen dasar gaya Jepang, dll.
Program pemagangan di bidang pertanian ini akan sangat bermanfaat jika pemerintah mampu mengirin peserta magang yang sesuai dengan sektor yang sudah digarap di Indonesia, misalnya peternakan sapi perah maka di Jepang pun akan masuk ke bidang yang sejenis.. Kesulitannya, tidak semua petani di Jepang bersedia ditunjuk sebagai induk semang dengan alasan utama yaitu komunikasi dan perbedaan budaya. Diharapkan pendekatan dari pemerintah prefecture akan lebih diperluas di masa yang akan datang. Peserta magang akan mendapat sertifikat dari pemerintah prefecture sebagai tanda keberhasilan program.
Berbeda halnya dengan program pemagangan yang dikelola oleh Kamar Dagang dan Industri Jepang (Shokoukai), dimana dari Indonesia sumber perekrutan melalui yayasan-yayasan persahabatan antara Jepang dan Indonesia. Program pemagangan ini mampu mendatangkan peserta dengan kuantitas lebih dari 10 orang dari satu kota di Indonesia, durasi program mengikuti standar normal yaitu tahun pertama sebagai kenshusei dan tahun kedua dan ketiga sebagai jisshusei jika lulus ujian. Perusahaan penerima di Jepang adalah anggota dari Shokokai itu sendiri. Shokokai yang berhadapan dengan pihak pemerintah Indonesia akan meminta jumlah peserta magang dan jenis industri yang akan menjadi penerima. Pada umumnya shokokai hanya merekrut jumlah peserta yang sesuai dengan permintaan anggotanya, sehingga kuantitas peserta berubah setiap tahun dan begitu juga dengan masa durasi pelaksanaannya. Shokokai juga langsung datang ke Indonesia untuk wawancara ketika calon peserta program magang sudah mulai mengikuti kursus Bahasa Jepang. Setelah selesai program, pemagang akan mendapat sertifikat dari pemerintah prefecture sebagai tanda keberhasilan keikutsertaan dan bisa dipergunakan sebagai referensi untuk melamar ke perusahaan terkait.
Bertambahnya penduduk usia lanjut di Jepang merupakan masalah bagi Pemerintah Jepang, karena pada umumnya keluarga Jepang tidak bisa mengurus/merawat orang tuanya di rumah sendiri yang mayoritas orang Jepang pada sibuk bekerja. Dilihat dari budaya Jepang yang cenderung hidup mandiri, para lansia tidak mau merepotkan anak dan cucu-cucunya. Mereka merasa lebih baik hidup di panti jompo. Oleh karena itu pengusaha-pengusaha yang membuka panti jompo di Jepang terus bertambah dengan pesat. Jumlah yang terdata secara resmi sebanyak 13.000 panti jompo.
Untuk itulah Pemerintah Indonesia bekerja sama dengan Pemerintah Jepang yang diwakili oleh Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Perdana Menteri Abe Shinzo melakukan penandatanganan Economic Partnership Agreement (EPA) pada tanggal 20 Agustus 2007. Salah satu isi dari perjanjian tersebut adalah, Jepang akan merekrut tenaga perawat dan care worker dari Indonesia. Alhamdulillah rencana tersebut segera terwujud, tepatnya Kamis 5 Juni 2008 sejumlah 240 orang perawat mengikuti tes seleksi program ke Jepang. Dari jumlah tersebut yang dinyatakan lulus adalah 174 perawat dan angkatan pertama telah diberangkatkan pada tanggal 3-8 agustus 2008. Diinformasikan oleh Elsi Dwi Hapsari (Kyoto Jepang) bahwa di Indonesia, Badan Pengembangan dan Pemberdayaan SDM Kesehatan (PPSDM Kesehatan) melaporkan bahwa jumlah terbesar Tenaga Kesehatan Profesional Indonesia (TKPI) yang telah bekerja di luar negeri mulai 1989 sampai dengan 2003 adalah perawat (97.48% dari total sebanyak 2494 orang). Meskipun jumlah perawat yang bekerja di luar negeri menempati persentase terbesar dibandingkan tenaga kesehatan yang lain, masih terdapat beberapa poin penting yang menjadi perhatian dan perlu segera untuk ditanggulangi. Khusus untuk pengiriman tenaga perawat, seleksi diatur oleh pemerintah.
2.2 Jalur lembaga pelatihan kerja (LPK) dan swasta
Untuk bisa mengikuti program pemagangan di Jepang, terdapat banyak jalan resmi selain melalui jalur pemerintah. Jalur-jalur lain yang dikelola oleh swasta dapat ditemui melalui jalur pendidikan, lembaga pelatihan maupun perusahaan yang memang telah mempunyai jalinan langsung dengan asosiasi/perusahaan yang ada di Jepang. Dimana tujuan utamanya yaitu untuk peningkatan keterampilan dan skill serta etos kerja sehingga akan tercipta sumber daya manusia yang berdaya guna dan bernilai jual tinggi. Di samping itu, juga berpotensi untuk mengangkat kesejahteraan pemagang sehingga setelah 3 tahun berada di Jepang diharapkan akan bisa hidup mandiri dengan menciptakan lapangan kerja baik untuk diri sendiri maupun orang lain di sekitar tempat kerjanya kelak.
Adapun persyaratan lembaga swasta bisa melaksanakan pengiriman tenaga magang keluar wilayah Indonesia telah diatur melalui Peraturan Menteri Nomor 08/MEN/2008 tentang Tatacara dan Perijinan di Luar Negeri yang tertulis dalam bab I pasal 1 ayat 1 yaitu: Pemagangan di luar negeri adalah bagian dari sistem pelatihan kerja yang diselenggarakan secara utuh dan terpadu di Indonesia dan di luar negeri oleh lembaga pelatihan kerja atau perusahaan atau instansi pemerintah atau lembaga pendidikan di bawah pengawasan instruktur dan/atau pekerja yang lebih berpengalaman, dalam proses produksi barang dan/jasa, dalam rangka menguasai keterampilan atau keahlian tertentu. Atau pasal 1 ayat 6 yaitu: Penyelenggara pemagangan di luar negeri adalah LPK yang telah mendapatkan izin atau perusahaan atau instansi pemerintah atau lembaga pendidikan yang telah terdaftar pada Direktorat Jenderal yang bertanggung jawab di bidang pelatihan kerja di lingkungan Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi untuk melaksanakan pemagangan di luar negeri.
Adapun sistem perekrutan pada lembaga swasta ini tidak ada bedanya dengan perekrutan yang dilaksanakan oleh pemerintah hanya saja ada item tertentu yang memang ada toleransi mengenai umur, tinggi badan dan juga tindik atau bekas tindik tidak menjadi acuan untuk tidak bisa ikut dalam magang melalui swasta ini. Di samping itu melalui LPK swasta, peserta ditekankan dalam skill sehingga diharapkan pada saat di Jepangnya nanti peserta bisa langsung untuk beradaptasi dengan pekerjaan tempat peserta magang, walaupun sebelumnya peserta harus menjalani pendidikan di poltek sebelum masuk ke perusahaan masing-masing.
Pemagangan yang bersifat internal juga terus berlangsung, hanya saja data pengelolaan program tersebut sulit didapatkan. Misalnya Vuteq Corporation yang berbasis di Kota Toyota, melakukan perekrutan di Jakarta dengan jumlah pengiriman per tahun mencapai lebih 200 orang. Vuteq Corp. mengkhususkan bidang pelatihan dalam sektor otomatif atau komponen mobil yang dipasok ke industri mobil Toyota, Nissan, Honda, dll. Lembaga swasta lain yang bergerak secara internal juga mempunyai kuantitas yang cukup sigfikan seperti pengiriman pemagang dari pabrik Daihatsu Indonesia, Pabrik Meiji (perusahaan produk makanan/susu/coklat).
Selain itu lembaga lain yang mengkhususkan diri untuk perekrutan ke Jepang sebagaimana yang dimuat di http://www.pemagangan.com/ adalah
Yayasan Globalindo Jl. Sawojajar No. 25 (Selokan Mataram) Pringgolayan, Condongcatur, Depok, Sleman Yogyakarta Telp/Faks: 0274-487407/0274-4333315, dan LPK Mitra Jaya Indonesia, Jl. Gatot Subroto No. 54 C
Jurang Ombo Selatan, Magelang Selatan Telp/Faks: 0293-311582/0293-311582
Adapun izin pengiriman pemagang dikeluarkan oleh Depnakertrans. Sedangkan lembga domestik yang mengelola pengiriman pemagang ke negara lain juga melalui yayasan-yasan sejenis.
Khusus untuk peserta magang yang mempunyai keahlian khusus seperti bidang IT dan seni budaya, pada umumnya berlangsung melalui hubungan internal antar universitas atau kekeluargaan yang secara individu jumlah pemagang yang diberangkatkan masih dalam hitungan jari, akan tetapi secara kumulatif angka tersebut tidak bisa diabaikan.
2.3 Melalui agen-agen pribadi dan kekeluargaan
Perekrutan dan pemberangkatan melalui jalur ini biasanya ditempuh oleh orang-orang yang menginginkan untuk berangkat ke Jepang dengan jalan semi instan dimana biasanya mereka yang mempunyai keluarga yang menikah dengan orang Jepang atau memiliki penjamin orang Jepang, bisa memanfaatkan peluang ini. Dan biasanya perekrutan jalur ini tidak dipersiapkan dengan matang, kemampuan skill dan bahasa serta pengetahuan tentang budaya dan etika orang Jepang sangatlah minim.
2.4 Tanpa mengikuti prosedur yang telah ditentukan
Jalur inilah yang disebut dengan ilegal dan banyak dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Peserta hanya diberi harapan tanpa adanya kepastian pemberangkatan, dan kalaupun bisa diberangkatkan itupun hanya sedikit sekali dari ribuan orang yang punya minat untuk bisa berangkat ke Jepang. Di samping tidak adanya harapan yang pasti, uang yang harus dibayarkan pun tidak sedikit yang mencapai puluhan juta rupiah. Banyak contoh kasus yang terjadi di Indonesia karena ada semacam sindikat perekrutan tenaga kerja ke Jepang padahal kenyataan yang ada,
perusahaan Jepang biasanya tidak melakukan pungutan biaya dan kalau adapun dengan jumlah yang sangat kecil.
Sindikat perekrutan tenaga kerja ke Jepang ini secara terang-terangan telah mengakar di kota-kota besar di Indonesia. Pemberangkatan ke Jepangnya pun biasanya tidak memenuhi persyaratan yang telah ditentukan. Biasanya peserta diberi visa dan paspor yang telah disediakan oleh agen-agen yang tidak sesuai dengan nama dan alamat yang sebenarnya. Calon pemagang akan diantar sampai ke bandara dan pada umumnya telah terjalin hubungan antara agen tersebut dan pengelola bandara untuk meloloskan calon ”yang naas” tersebut. Tidak sedikit yang telah tiba di bandara Jepang akan tetapi tidak bisa masuk ke Negeri Sakura dengan alasan ketidaklengkapan dokumen dan sebagainya. Tetapi banyak juga yang bisa meloloskan diri dan bisa masuk ke wilayah jepang dengan berbagai cara.
Informasi yang didapat dari Kedutaan Besar Republik Indonesia Tokyo, masih tetap ada peserta magang yang terjerat bujukan pengirim tidak resmi, sehingga status hukum mereka bermasalah setelah tiba di Jepang dengan memakai visa wisata. Hal ini mengakibatkan semakin ketatnya prosedur untuk mendapatkan visa masuk ke Jepang.
Bagaimanapun juga, menjadi seorang ilegal dengan status hukum yang tidak resmi adalah tidak dibenarkan. Perasaan was-was apabila tertangkap dan masih banyak kerugian-kerugian lain diantaranya tidak diikutsertakannya dalam asuransi kesehatan, pada akhirnya akan merugikan pelakunya sendiri. Negeri dengan sejuta harapan ini hanyalah bisa dinikmati fasilitasnya dengan cara yang sah dan benar. Dan bagi yang bercita-cita untuk mengikuti program magang, gunakanlah cara yang benar seperti yang terangkum dalam bagian 2.1 s.d. 2.3 di atas.
Bab 3
Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memiliki peranan penting dalam perekonomian Indonesia karena berfungsi sebagai pemerata kesejahteraan, menciptakan keseimbangan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, dan juga mengentaskan rakyat dari kemiskinan.
Mengingat pentingnya peranan UMKM dalam perekonomian, perlu ada usaha aktif dari pemerintah untuk mendorong kemajuan UMKM dan menciptakan iklim perekonomian yang cocok untuk perkembangan UMKM di Indonesia.
3.1 Peran pemerintah dalam menciptakan kondisi makro ekonomi yang kondusif bagi UMKM
Pada bagian ini akan dibahas peranan pemerintah dalam memajukan usaha kecil dan menengah berdasarkan undang-undang tahun 2008 nomor 20 tentang Usaha Kecil dan Menengah. Isi dari pemaparan di bab ini sebagian berupa kutipan langsung dari isi undang-undang tersebut.
3.1.1 Kriteria usaha mikro, kecil dan menengah
Pengertian usaha kecil dan menengah menurut UU no. 20 tahun 2008 pasal 1 adalah sebagai berikut.
a. Usaha Mikro: Usaha yang memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp. 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).
b. Usaha kecil: Usaha yang memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp. 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp. 2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah).
c. Usaha Menengah: Usaha yang memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp. 10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp. 2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp. 50.000.000.000,00 (lima puluh milyar rupiah).
3.1.2 Penumbuhan iklim usaha
Pemerintah pusat maupun daerah membantu menumbuhkan iklim usaha yang ramah untuk UMKM dengan cara menetapkan peraturan yang berkaitan dengan aspek pendanaan, prasarana dan sarana, informasi usaha, kemitraan, perizinan usaha, kesempatan berusaha, promosi dagang, dan dukungan kelembagaan (pasal 7). Namun dalam pelaksanaannya tidak bisa terlepas dari dukungan aktif dan masyarakat dan dunia usaha untuk bisa mencapai kondisi yang diharapkan.
Dalam aspek pendanaan, pemerintah mempunyai tanggung jawab untuk memperbanyak dan memperluas lembaga-lembaga pembiayaan baik perbankan maupun non perbankan yang memberikan akses kepada pelaku UMKM untuk mendapatkan dana. Pemerintah juga harus menjamin prosesnya agar bisa cepat, tepat dan tidak diskriminatif. Selain itu diharapkan juga partisipasi pemerintah untuk membantu secara langsung para pelaku UMKM dalam proses mendapatkan dana usaha.
Dalam aspek sarana dan prasarana, pemerintah berkewajiban untuk mengadakan prasarana umum yang dapat membantu dan mendorong pertumbuhan UMKM. Keringanan tarif prasarana tertentu oleh pemerintah untuk UMKM bisa memudahkan UMKM untuk tumbuh berkembang di dunia usaha.
Dalam aspek informasi, pemerintah harus menciptakan dan menyebarluaskan serta menjamin transparansi informasi tentang bisnis, pasar, sumber pembiayaan, komoditas, penjaminan, desain dan teknologi, serta mutu untuk semua pelaku UMKM.
Dalam aspek kemitraaan, pemerintah selain berkewajiban untuk membantu kemitraan antar sesama UMKM juga berkewajiban untuk mendorong terjadinya kemitraan antara UMKM dengan usaha menengah dan usaha besar dengan asas saling menguntungkan. Posisi tawar UMKM harus dibantu untuk membantu mendorong terbentuknya struktur pasar dengan persaingan yang sehat dan melindungi konsumen. Pemerintah berkewajiban pula untuk mencegah terjadinya penguasaan pasar dan monopoli oleh perorangan atau kelompok tertentu yang merugikan UMKM.
Dalam aspek perizinan usaha, pemerintah berkewajiban untuk menyederhanakan tata cara dan jenis perizinan usaha dengan sistem pelayanan terpadu satu pintu dengan membebaskan atau memberikan keringanan biaya perizinan bagi pelaku UMKM.
Dalam aspek kesempatan usaha, pemerintah mempunyai peranan dan kewajiban sebagai berikut:
a. Menentukan tempat usaha yang meliputi pemilihan lokasi pasar, ruang pertokoan, lokasi sentra industri, lokasi pertanian rakyat, lokasi pertambangan rakyat, lokasi untuk pedagang kaki lima serta lokasi-lokasi lainnya;
b. Menentukan alokasi waktu berusaha untuk UMKM di subsektor perdagangan retail;
c. Menetapkan bidang usaha yang dicadangkan untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah serta bidang usaha yang
terbuka untuk Usaha Besar dengan syarat harus bekerja sama dengan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah;
d. Melindungi usaha tertentu yang strategis untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah;
e. Mengutamakan penggunaan produk yang dihasilkan oleh Usaha Mikro dan Kecil melalui pengadaan secara langsung; f. Memprioritaskan pengadaan barang atau jasa dan
pemborongan kerja pemerintah dan Pemerintah Daerah memberikan bantuan konsultasi hukum dan pembelaan.
Dalam aspek promosi dagang, pemerintah berkewajiban untuk : a. Meningkatkan promosi produk Usaha Mikro, Kecil, dan
Menengah di dalam dan luar negeri;
b. Memperluas sumber pendanaan untuk promosi produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah di dalam dan luar negeri;
c. Memberikan insentif untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah yang mampu menyediakan pendanaan secara mandiri dalam kegiatan promosi produk di dalam dan luar negeri;
d. Memfasilitasi pemilikan hak atas kekayaan intelektual atas produk dan desain Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dalam kegiatan usaha dalam negeri dan ekspor.
Dalam aspek dukungan kelembagaaan, pemerintah mempunyai tugas untuk mengembangkan dan meningkatkan fungsi inkubator, lembaga layanan pengembangan usaha, konsultan keuangan mitra bank dan lembaga profesi sejenis lainnya sebgai lembaga pendukung pengembangan UMKM.
3.1.3 Pengembangan usaha
Sebagaimana tertulis dalam UU nomor 20 tahun 2008 pasal 21-24, pemerintah diharapkan membantu memfasilitasi pengembangan usaha dalam bidang: produksi dan pengolahan, pemasaran, sumber daya manusia dan teknologi. Dalam
pelaksanaannya, diharapkan dukungan proaktif dari masyarakat dan dunia usaha.
Dalam bidang produksi dan pengolahan, pemerintah memberikan dengan cara:
1. Membantu UMKM dalam hal peningkatan teknik produksi dan pengolahan serta kemampuan manajemen.
2. Memberikan kemudahan dalam pengadaan sarana dan prasarana, produksi dan pengolahan, bahan baku, bahan penolong dan kemasan bagi produk UMKM.
3. Menerapkan standarisasi dalam proses produksi dan pengolah serta meningkatkan kemampuan perencanaan usaha bagi UMKM.
Dalam bidang-bidang pemasaran, peranan yang diharapkan dari pemerintah adalah:
1. Melaksanakan penelitian dan pengkajian pemasaran, 2. Menyebarluaskan informasi pasar,
3. Meningkatkan kemampuan manajemen dan teknik pemasaran,
4. Menyediakan sarana pemasaran yang meliputi penyeleggaraan uji coba pasar, lembaga pemarasaran, penyediaan rumah dagang, dan promosi UMKM,
5. Memberikan dukungan promosi produk, jaringan pemasaran, distribusi, dan
6. Menyediakan tenaga konsultan profesional dalam bidang pemasaran.
Dalam bidang sumber daya manusia, pemerintah diharapkan bisa:
1. Memasyarakatkan dan membudayakan kewirausahaan, 2. Meningkatkan keterampilan teknis dan manajerial,
3. Membentuk dan mengembangkan lembaga pendidikan dan pelatihan yang berkaitan dengan penciptaan wirausaha baru.
Dalam bidang desain dan teknologi, peranan yang diharapkan dari pemerintah adalah:
1. Meningkatkan kemampuan pelaku UMKM di bidang desain dan teknologi serta pengendalian mutu,
2. Meningkatkan kerjasama dan alih teknologi,
3. Meningkatkan kemampuan UMKM di bidang penelitian untuk mengembangkan desain dan teknologi baru,
4. Memberikan insentif kepada UMKM yang mengembangkan teknologi dan melestarikan lingkungan hidup,
5. Mendorong UMKM untuk memperoleh sertifikat atas kekayaan intelektual.
3.1.4 Pembiayaan dan penjaminan
Selain bantuan langsung pemerintah baik pusat maupun daerah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Asing (BUMA) diharapkan untuk menyisakan sebagian laba tahunannya untuk membantu biaya usaha UMKM sebagaimana diatur oleh undang-undang. Pemerintah bisa juga mengusahakan bantuan pembiayaan dari lembaga keuangan luar negeri untuk membantu UMKM. Selain bantuan berupa dana, bantuan juga bisa berupa kemudahan tarif sarana dan prasarana, dan bentuk lain.
Upaya pemerintah dalam meningkatkan sumber pembiayaan UMKM adalah bisa berupa:
1. Pengembangan sumber pembiayaan dari kredit perbankan dan lembaga keuangan bukan bank,
2. Pengembangan lembaga modal ventura,
3. Pelembagaan terhadap transaksi anjak piutang,
4. Peningkatan kerjasama antara UMKM melalui koperasi simpan pinjam dan sebagainya.
Dalam meningkatkan akses UMKM terhadap sumber pembiayaan, pemerintah harus menumbuhkan dan
memperluas jaringan lembaga keuangan bukan bank, lembaga penjamin kredit, dan juga harus memberikan kemudahan dan memberikan fasilitas dalam memberikan persyaratan untuk memperoleh pembiayaan.
Peran aktif dari masyarakat dan dunia usaha bisa dilakukan dengan berbagai cara antara lain dengan meningkatkan kemampuan menyusun studi kelayakan usaha, meningkatkan pengetahuan tentang prosedur pengajuan kredit atau pinjaman dan meningkatkan pemahaman dan ketrampilan teknis serta manajerial usaha.
Selain itu pemerintah juga diharapkan berperan dalam memfasilitasi dan mendorong peningkatan modal kerja dan investasi melalui perluasan sumber dan pola pembiayaan, akses terhadap pasar modal dan lembaga pembiayaan lainnya, juga melaiu pengembangan lembaga penjamin kredit dan lembaga penjamin ekspor.
3.1.5 Jalinan kemitraan
Pemerintah, masyarakat dan dunia usaha diharapkan bisa bekerja sama dalam mendukung dan menstimulasi kegiatan kemitraan antar UMKM dan Usaha Besar yang mencakup proses alih keterampilan di bidang produksi pengolahan, pemasaran, permodalan, sumber daya manusia dan teknologi. Departemen kementerian yang terkait bisa memberikan insentif kepada Usaha Besar yang melakukan kemitraan dengan UMKM dalam hal inovasi, pengembangan produk berorientasi ekspor, penyerapan tenaga kerja, penggunaan teknologi tepat guna dan ramah lingkungan dan penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan.
Bentuk kemitraan yang dimaksud di UU adalah kemitraan dengan pola:
b. Subkontrak; c. Waralaba;
d. Perdagangan umum;
e. Distribusi dan keagenan, dan bentuk-bentuk kemitraan lain, seperti bagi hasil, kerjasama operasional, usaha patungan (joint venture), dan penyumberluaran (outsourcing).
Inti-plasma adalah suatu pola kemitraan antara Usaha Besar dan UMKM dimana Usaha Besar menjadi inti, dan UMKM menjadi plasmanya (pendukung).
Adapun usaha-usaha dari UMKM sebagai plasma dari kegiatan usaha inti-plasma adalah segala berikut:
a. Penyediaan dan penyiapan lahan; b. Penyediaan sarana produksi;
c. Pemberian bimbingan teknis produksi dan manajemen usaha;
d. Perolehan, penguasaan, dan peningkatan teknologi yang diperlukan;
e. Pembiayaan; f. Pemasaran; g. Penjaminan;
h. Pemberian informasi;
i. Pemberian bantuan lain yang diperlukan bagi peningkatan efisiensi dan produktivitas dan wawasan usaha.
Subkontrak adalah pola kemitraan dimana Usaha Besar memberikan kesempatan kepada UMKM untuk mengerjakan beberapa bagian dari teknis usaha seperti:
a. Mengerjakan sebagian produksi dan/atau komponennya; b. Memperoleh bahan baku;
c. Bimbingan dan kemampuan teknis produksi atau manajemen;
d. Perolehan, penguasaan, dan peningkatan teknologi yang diperlukan;
e. Pembiayaan dan pengaturan sistem pembayaran yang tidak merugikan salah satu pihak dan dalam pelaksanaan kemitraan jenis ini, Usaba Besar harus berupaya untuk tidak melakukan pemutusan hubungan sepihak.
Waralaba adalah pola kemitraan antara Usaha Besar dan UMKM dimana UMKM bisa melakukan usaha dengan memanfaatkan brand image yang terbentuk dan dukungan manajemen yang baik. Usaha Besar diharapkan untuk memprioritaskan UMKM yang berminat membuka waralaba dibawah naungannya. Selain itu pemberi waralaba wajib memberikan pembinaan dalam bentuk pelatihan, bimbingan operasional manajemen, pemasaran, penelitian dan pengembangan kepada penerima waralaba secara berkesinambungan.
Perdagangan Umum adalah pola kemitraan dalam bentuk kerjasama pemasaran, penyediaan lokasi usaha atau penerimaan pasokan dari UMKM oleh Usaha Besar secara terbuka dan transparan. Dalam pelaksanaannya kemitraan model ini diharapkan Usaha Besar mengutamakan hasil produksi UMKM dengan tetap menjunjung standar mutu barang dan jasa yang tidak diperlukan, dan diharapkan pula sistem pembayaran dilakukan dengan tidak merugikan salah satu pihak.
Kemitraan pola distribusi adalah suatu pola kemitraan dimana Usaha Besar/Menengah memberikan hak khusus untuk memasarkan barang dan jasanya kepada UMKM.
Bentuk-bentuk lain dari kemitraan bisa berupa bagi hasil, joint venture atau outsourcing.
3.1.6 Koordinasi dan pengendalian pemberdayaan usaha kecil dan menengah
Pengoordinasian dan pengendalian pemberdayaan UMKM dilakukan oleh Menteri yang terkait dengan masalah UMKM. Adapun tugas dari Departemen Kementrian dalam hal ini adalah: penyusunan dan pengintegrasian kebijakan dan program, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi, serta pengendalian umum terhadap pelaksanaan pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, termasuk penyelenggaraan kemitraan usaha dan pembiayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah.
3.2 Peran lembaga perbankan dalam menopang kemajuan UMKM
Fungsi utama dari lembaga perbankan dalam pengembangan UMKM adalah sebagai salah satu alternatif pembiayaan usaha UMKM. Di bagian ini akan dirangkum beberapa jenis fasilitas kredit yang diberikan oleh beberapa bank yang memiliki komitmen dalam mengembangkan UMKM.
a. Kredit Usaha Kecil (KUK)
Adalah kredit atau pembiayaan dari bank untuk investasi dan atau modal kerja, yang diberikan dalam rupiah dan atau valuta asing kepada nasabah usaha kecil dengan plafond kredit keseluruhan maksimal Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) untuk membiayai usaha yang produktif.
b. KUK-Kredit Investasi
Adalah kredit jangka menengah/panjang yang diberikan kepada (calon) debitur untuk membiayai barang-barang modal dalam rangka rehabilitasi, modernisasi, perluasan ataupun pendirian proyek baru, dengan jangka waktu maksimal 10 tahun.
c. KUK-Kredit Modal Kerja
Adalah kredit yang diberikan untuk memenuhi kebutuhan modal kerja yang habis dalam satu siklus usaha.
d. KUK-Kredit Modal Kerja Kontraktor
Adalah kredit yang diberikan untuk memenuhi kebutuhan modal kerja khusus bagi usaha jasa kontraktor yang habis dalam satu siklus usaha.
e. KUK-Channeling
Adalah kredit modal kerja atau kredit investasi yang diberikan melalui kerjasama dengan lembaga pembiayaan atau bank umum lainnya.
3.3 Peran lembaga non pemerintah (LSM): Studi kasus perjalanan Working Group for Technology Transfer (WGTT) 2007-2010 dan konsep iBET
Karena keterbatasan wewenang dan dana, peranan LSM dalam mengembangkan UMKM pada umumnya hanya sebagai fasilitator yang berfungsi sebagai penjembatan antara pihak pelaku UMKM dan perbankan maupun pemerintah, atau juga sebagai edukator yang berperan dalam mendidik dan mengembangkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kemandirian dan kewirausahaan dan juga trik-trik dalam berwirausaha.
Pada bagian ini akan dibahas program kerja WGTT terhadap pengembangan bibit-bibit wirausaha yang bekerjasama rekan-rekan pemagang di Jepang.
Program kerja WGTT terbagi dalam 4 tujuan, yaitu: a. Inovative human building
b. Business incubator c. Education
d. Technology transfer
Berikut akan dipaparkan penjelasan dari masing-masing tujuan: a. Inovative human building
Tujuan dari inovative human building adalah mendidik dan menciptakan manusia-manusia yang memiliki jiwa kewirausahaan dan memiliki pengetahuan-pengetahuan yang menyangkut dunia usaha baik yang berhubungan dengan operasional usaha seperti studi kelayakan usaha, maupun yang berhubungan dengan hal-hal pendukung seperti pengetahuan tentang kredit perbankan, bea cukai dan perpajakan, struktur industri dan juga kebijakan pemerintah tentang industry.
Dalam mewujudkan tujuan ini WGTT telah melaksanakan pelatihan yang diberi nama Pelatihan Wirausaha dan Edukasi Perbankan (PWEP) di berbagai kota di Jepang yang memiliki komunitas pemagang yang tinggi seperti Hamamatsu, Tokyo, Nagoya dan sebagainya. Pelatihan ini sangatlah diminati oleh para pemagang terbukti dengan selalu membludaknya peserta di setiap penyelenggaraannya, meskipun untuk mengikuti acara ini membutuhkan biaya.
Hasil dari pelatihan ini sudah mulai bisa dirasakan dengan munculnya beberapa pemagang yang pulang ke Indonesia dan berhasil membuka usaha di tanah air. Di beberapa pelatihan, para pemagang yang sukses ini diberi kesempatan untuk menceritakan dan membagi kiat-kiat sukses kepada para peserta yang diharapkan peserta dapat termotivasi dan bisa memperoleh bukti nyata dari para senior mereka.
Untuk kedepannya, pelatihan ini diharapkan bukan hanya memberikan materi, tapi juga terintegrasi dengan tujuan dari WGTT yang lain yaitu Busines Incubator dan Technology Transfer.
b. Business incubator
Business incubator adalah suatu rancangan program yang diusahakan untuk menjadi tindak lanjut dari program PWEP yang telah bertahun-tahun dilaksanakan. Tujuannya adalah melahirkan beberapa usaha yang bisa dijadikan workshop bagi pemagang sebelum terjun ke dunia usaha sebenarnya.
c. Education
Tujuan dari program education adalah untuk sharing knowledge mengenai hal-hal yang menyangkut kewirausahaan. Ada beberapa materi yang sudah terliput di PWEP, namun education bukan hanya diarahkan untuk para pemagang melalui pelatihan melainkan juga bisa dinikmati oleh masyarakat luas baik di Jepang, Indonesia maupun masyarakat Indonesia di belahan bumi yang lain.
Realisasi dari program ini diwujudkan melalui pembentukan sharing knowledge website http://webinar2010.com. Melalui website ini masyarakat bisa mengikuti materi mengenai kewirausahaan maupun hal-hal yang bersifat teknis seperti pengenalan aplikasi office, semina kepemimpinan, kuliah rohani dan sebagainya. Materinya disampaikan melalu media online untuk menambah interaktifitas antara pemateri dan penyimak materi.
d. Technology
Tujuaan dari program ini adalah mengakumulasi teknologi-teknologi sederhana dan tepat guna yang didapat di Jepang maupun di Indonesia untuk bisa dipelajari dan dimanfaatkan oleh siapa saja.
Sebagai salah satu hasil dari program-program di atas, terbentuklah sebuah konsep yang dinama dengan iBET, yang merupakan singkatan dari business (B) sebagai target rill, education (E) sebagai metodologi berproses, technology (T)
sebagai standard, dan innovative human (i) sebagai sumbu penyambung ketiga komponen tersebut, dengan harapan bisnis yang akan digeluti oleh peminat tidak hanya berdasarkan naluri, mengikuti trend sesaat dan semangat semata, melainkan dengan dukungan edukasi dan teknologi.
Ketiadaan waktu untuk mendokumentasikan knowledge masing-masing dan kurangnya human resource untuk mendapatkan dan mengelola informasi tentang teknologi merupakan hambatan utama dari program ini.
Sebagai awal dari realisasi program ini, WGTT membuat suatu website informasi teknologi http://teknologimudah.org yang memuat informasi-informasi teknologi baik yang bersifat teori maupun aplikasi secara langsung. Diharapkan masyarakat bisa mendapatkan dan berpartipasi membagi informasi mengenai teknologi melalui website ini.