• Tidak ada hasil yang ditemukan

‘Jalur Khusus’ On Trial

Dalam dokumen Sepatah Kata dari Pak Kus  (Halaman 73-77)

Invest in yourself, in your education. Thereʹs nothing better.  

Sylvia Porter  Ketika gagasan ‘jalur khusus’ untuk masuk perguruan tinggi BHMN dilontarkan,

pro dan kontra pun menyambut. Para Rektor Perguruan Tinggi BHMN dipanggil menghadap Komisi VI DPR RI. Yang dimufakati, ‘jalur khusus’ tetap digelar mulai 2003, dan sembari jalan dievaluasi. Pertanyaannya adalah, bagaimana cara evaluasinya? Ini dibahas dalam dialog di sebuah programa Metro TV, ‘Today’s Dialogue’, pada Juli, 2003, bersama Pak Kus, Ferdiansyah dari Komisi VI DPR, dan dipandu oleh Irma Hutabarat. Berikut ini adalah fragmen dialog yang berlangsung.

Irma Hutabarat (IH): Kita mau dengar jalan pertemuannya bagaimana, Pak Kus?

Sudah dua kali pertemuan. Yang pertama kali itu dua minggu yang lalu. Kira-kira empat orang rektor, dari ITB, UI, UGM dan IPB, menghadap Komisi VI, DPR. Pada pertemuan itu tidak banyak kesepakatan dicapai. Pihak DPR memaksa kami agar, sekurang-kurangnya, melakukan kaji-ulang. Saya waktu itu langsung menjawab, “Ya, setuju. Kami akan kaji ulang!” Siap melakukan evaluasi adalah sifat yang paling mendasar dari perguruan tinggi. Kemudian ada anggapan bahwa ke empat perguruan tinggi ini melanggar undang-undang.

Nah, pertemuan kembali dilakukan, untuk yang kedua kali, dengan Majelis Wali Amanah dari masing-masing perguruan tinggi, ditambah dengan Rektor UNS dan Rektor UNDIP. Lebih bagus jalannya pertemuan ini. Jika semula ada tuduhan bahwa terjadi pelanggaran undang-undang, sekarang tidak lagi dituduh demikian. Yang ditegaskan adalah bahwa kaji ulang, evaluasi, review harus dilakukan terus-menerus.

IH: Saya ingin tanya begini. Ada pendapat dari pihak parlemen, bahwa terjadi pelanggaran undang-undang yang dilakukan perguruan tinggi negeri, yang menerima mahasiswa lewat ‘jalur khusus.’ Mas Ferdi, bisa Anda ceritakan di mana letak pelanggaran tersebut?

Ferdi: Pada waktu itu, intinya kami menyikapi caranya, yaitu untuk memperhatikan 3K:

kesempatan, kemudahan dan kualitas. DPR itu mengarah pada posisi itu. Sehingga kami merasa perlu untuk mengundang para rektor. Pertemuan yang pertama itu pada tanggal 25 Juni, dan yang kedua 7 Juli, 2003. Yang kedua itu bersama dengan Majelis Wali Amanah. Dari pertemuan yang kedua itu, kami mengambil sikap, bahwa kalau dugaan itu benar, kami minta itu dihentikan, apabila menimbulkan keresahan. Di sini yang harus disikapi adalah adanya pengaduan oleh masyarakat. Itu juga perlu disikapi.

IH: Tapi pada akhirnya bisa dicapai suatu jalan tengah, ya?

Ferdi: Kami ketika itu mendengar dari pihak rektor-rektor ke empat BHMN, bahwa

BHMN ini. Masing-masing perguruan tinggi ini mempunyai karakternya tersendiri, dan ada hal-hal yang khusus pada masing-masing BHMN ini. Oleh karena ini, kami bisa melihat bahwa biaya yang mereka tetapkan tidaklah berlebihan, sebagaimana yang dikhawatirkan oleh masyarakat. Kami anggap persoalan ini sudah kami maklumi.

IH: Anda tadi menyebutkan 3: kesempatan, kemudahan dan kualitas. Di mana pelanggaran terhadap 3K, pertama kali Anda dapati?

Ferdi: Ya, kami melihatnya, ketika mendapatkan informasi bahwa ada teman-teman atau rakyat Indonesia, yang notabene kurang mampu, untuk mendapatkan peluang atau kesempatan menikmati pendidikan di perguruan tinggi. Itu yang terutama kami cermati.

Ketika kami menanyakan persoalan itu, kaitannya dengan posisi ke empat BHMN, ternyata masing-masing mempunyai argumen dan juga solusi.

IH: Pak Kus, kekhawatiran yang dinyatakan tadi berkenaan dengan mereka yang tidak mampu, bahwa mereka tidak bisa masuk perguruan tinggi, persentasenya berapa besar? Berapa persen perbandingan antara mahasiswa yang kurang mampu dan yang mampu?

Soal ini menjadi sumber perdebatan. Berkali-kali saya ungkapkan di DPR, bahwa mengukur kemiskinan itu tidak pernah mudah. Di kampus, misalnya, dan juga di masyarakat luas, kalau diajukan pertanyaan, “Siapa yang tidak mampu?” Semua orang mengatakan,“Saya tak mampu.” Kami di ITB, telah menempuh berbagai upaya.

Misalnya, kami minta tagihan listrik, telepon, PBB. Tapi itu pun belum tentu sahih. Kalau cara ini bisa sahih, petugas pajak pasti akan suka hasil itu.

Ferdi : Jadi, yang sudah dikatakan Pak Rektor, itu memang demikian adanya. Kalau seseorang diminta untuk membayar sesuatu, tentu akan berkilah bahwa dia miskin. Tapi sebenarnya ada cara-cara lain yang bisa dilakukan oleh pihak perguruan tinggi, yaitu dengan mengevaluasi tiap semester; apakah pernyataan yang dibuat itu konsisten?

Seharusnya perguruan tinggi negeri itu melakukan investigasi yang lengkap dan berkelanjutan. Jadi, pada tahap awal, katakanlah mahasiswa dimintai keterangan, kesanggupannya berapa. Kemudian jawaban ini dievaluasi di semester yang akan datang, untuk melihat apakah posisi kesanggupannya masih seperti itu.

Kalau yang Pak Ferdiansyah bilang itu semudah itu, tidak akan pernah muncul permasalahan dalam subsidi BBM, subsidi telepon, listrik, ataupun jalan di negara ini.

Setelah puluhan tahun, bahkan sampai hari ini, kita masih menghadapi masalah bahwa subsidi itu jatuh kepada orang-orang yang tidak berhak mendapat subsidi.

IH: Anda katakan bahwa sudah menjadi fenomena, bahwa banyak subsidi yang salah sasaran, dan tidak semudah itu cara mengatur penyaluran subsidi?

Namun saya tidak sepesimis itu. Mari kita belajar dari polisi. Siapa yang paling jago dari kalangan polisi? Mantan maling! Siapa yang paling jago memperbaiki the junkies? Itu adalah mantan junkies. Kita bisa belajar dari kasus ini. Jadi, untuk bisa mengukur siapa yang berhak atau tidak atas subsidi, ambil orang dari kelompok yang terkait. Jadi, yang supaya tahu mahasiswa itu punya kemampuan besar atau tidak, libatkan mahasiswa lain di dalam seleksi pemberian beasiswa.

Ferdi: Tapi saya menanggapinya begini. Kami menganggap bahwa ada beberapa perguruan tinggi negeri, yang dimintai jasanya melalui perusahaan yang cukup besar, untuk melakukan perekrutan karyawan-karyawan untuk perusahaan tersebut. Artinya, kami menganggap perguruan tinggi mempunyai kemampuan untuk melakukan investigasi, termasuk terhadap kemampuan mahasiswanya. Kan itu juga harus dicermati.

IH: Walaupun mungkin, soal sanksinya sendiri, masih tanda tanya, ya?

Jangan kita mencampur-adukkan persoalan dalam menjatuhkan sanksi. Sanksi DO itu adalah sanksi akademik, dan tidak bisa dicampur-adukkan dengan sanksi jenis yang lain. Contohnya, hukum di negara kita. Antara hukum perdata dan hukum pidana tidak pernah boleh kita campur adukkan. Begitu juga di kampus. Kasus akademik, kasus ekonomi, atau kasus yang lain, jangan dicampur-adukkan. Kalau itu kita lakukan, bukan pencerdasan yang kita lakukan, tapi pembodohan. I don’t agree 100%!

IH: Pihak mahasiswa khawatir, bahwa perguruan tinggi akan menjadi sangat esklusif.

Hanya orang-orang dari kelas sosial tertentu yang bisa masuk. Kita dengar jawaban Pak Kus tentang kekhawatiran itu.

Menurut saya, hidup ini tidak pernah berpola linier yang sederhana. Jadi, tidak bisa juga kita langsung ‘hantam’ bahwa perguruan tinggi negeri akan mendahulukan kelompok tertentu. Tidak benar itu. Tetap kami memikirkan bahwa mereka yang akademiknya bagus, itu punya hak akses ke perguruan tinggi. Yang musti kita carikan jalan keluarnya adalah, bagaimana kemudian pembiayaan pendidikan ini ditanggung.

Kelompok-kelompok lain, organisasi, pihak pemerintah, harus ikut di dalam pembiayaan ini. Orang tua murid itu hanya salah sebuah komponen saja.

IH: Itu karena perguruan tinggi tidak akan mengambil risiko, untuk menghasilkan lulusan yang secara akademik tidak bisa dipertanggung jawabkan, begitu?

Iya. Di ITB, tetap kami minta, idealnya itu, mahasiswanya itu pintar, kemudian dia mempunyai kemampuan berkomunikasi dengan sesama, keatas ataupun kebawah. Itu yang saya bilang, menggunakan istilah populer, dengan ‘anak gaul.’ Kami menginginkan anak yang pintar, dan yang ‘gaul.’ Nah, syukur-syukur kalau orang tuanya pun mau dan mampu.

IH: Tadi pak Kusmayanto mengatakan, kekhawatiran bahwa perguruan tinggi hanya menerima mahasiswa dari kalangan yang kaya atau mampu saja, tidak beralasan.

Nilai akademis menjadi acuan utama.

Di kampus ini banyak yang kami kompromikan. Tapi ada satu nilai yang tidak akan pernah kami kompromikan, yaitu nilai luhur akademik. Kalau pun kami memberikan opsi bagi orang tua yang mampu dan mau bayar, tetap kriteria pertamanya adalah anaknya harus lolos dari ujian akademik.

... ada satu nilai yang tidak akan pernah kami kompromikan, yaitu nilai luhur akademik. Kalau pun ... mampu dan mau bayar, ... kriteria pertamanya adalah ...

harus lolos dari ujian akademik.

Ferdi : Seperti yang tadi kami sampaikan, bahwa kesempatan itu harus dibuka. Kalau kemudahan, kesempatan, dan kualitas itu sudah di akomodir dalam hal pelaksanaan oleh perguruan tinggi, saya rasa mungkin tidak akan menimbulkan keresahan. Nah, buat catatan bagi Pak Rektor, ketika kami berbicara dengan Majelis Wali Amanah, diakui bahwa selama ini terjadi kekurangan pada sosialisasi, koordinasi, dan konsultasi, sehingga ini akan dievalusi secara terus-menerus.

IH: Sosialisasi yang tadi dikhawatirkan, apakah sudah cukup dilakukan, paling tidak untuk ITB sendiri?

Saya akan mengatakan, bahwa itu sudah cukup sekali. Bahkan tentang ujian yang kami lakukan tahun ini, itu sudah kami ungkapkan pada wisuda tahun lalu. Namun, itu yang tadi dikatakan waktu jeda, orang mendengarkan, tapi tidak menyimak.

Dan setiap rupiah yang kami dapatkan untuk ITB, itu pemanfaatannya ada dua:

kesatu adalah untuk mencapai academic excellence, untuk mencapai nilai-nilai tinggi dalam bidang akademik. Dan yang kedua, untuk meningkatkan kesejahteraan di dalam kampus. Kesejahteraan ini bukan hanya bagi dosen atau mahasiswa. Yang tidak kalah pentingnya adalah kesejahteraan pegawai. Ini tujuan utama ITB, dan ini tidak pernah berubah. Kalau kita melihat kondisi pembiayaan pendidikan S1 di ITB, salah besar kalau Pemerintah lepas tangan. Sampai saat ini, 31% biaya pendidikan di ITB itu berasal dari Pemerintah. Kemudian sekitar 10% itu dari mahasiswa. Dan untuk sisanya, para dosen dan karyawan yang mencari uang untuk menjalankan pendidikan di ITB.

IH: Berarti lebih dari separuhnya ITB harus mencari sendiri. Bagaimana cara untuk mencarinya itu?

Banyak cara; dengan menjual kepakaran, yang disebut dengan konsultasi, dengan membangun pabrik, dan melalui teknologi-teknologi yang sudah banyak dikomersialkan.

Itu yang menjadi sumber-sumber pendapatan.

IH: Mas Ferdi, ini suatu hal yang mengejutkan. Tapi bukan hanya ITB saja, mungkin UI, UGM, dan IPB, juga hanya menerima sekitar 30%. Selebihnya harus mencari sendiri?

Ferdi: Jadi, usaha kita harus bersama-sama. DPR juga tidak mampu melakukannya sendirian. Jadi, kalau bicara masalah anggaran Pemerintah yang hanya sebesar 19,3 trilyun rupah, ditambah dengan anggaran untuk Departemen Agama yang berkaitan dengan pendidikan sebesar 4 trilyun rupiah, totalnya itu masih jauh dari harapan.

IH: Artinya harus ada upaya secara sungguh–sungguh, secara bersama-sama, untuk menyediakan biaya ini, dan mendistribusikannya ke tempat-tempat yang seharusnya.

Masalah pendidikan ini bukan hanya masalah bagi pihak perguruan tinggi negeri, atau masalah Pemerintah, tapi masalah bagi kita semua. []

Dalam dokumen Sepatah Kata dari Pak Kus  (Halaman 73-77)