• Tidak ada hasil yang ditemukan

When West Meets East

Dalam dokumen Sepatah Kata dari Pak Kus  (Halaman 42-46)

Kedua, pemasar obat itu, siapa yang paling efektif? Jawabnya, dokter! Program pendidikan di kita, yang ada baru yang menghasilkan dokter, yang menghasilkan resep untuk obat, tetapi bukan dokter yang bisa membuat resep untuk jamu. Itu faktor yang kedua. Yang ketiga, rumah-rumah sakit ataupun perusahaan asuransi, tidak mau memberikan jaminan atas jamu, atau obat-obatan tradisional. Jadi, kalau Anda mengajukan klaim ke perusahaan untuk jamu, tidak akan di ganti. Tapi kalau beli obat diganti, apalagi bila disertai resep dokter.

Nah, budaya ini yang harus kita benahi, kalau kita ingin menumbuhkan kontribusi lokal dalam teknologi kesehatan. Pertama, mulai dari budaya, bagaimana agar orang mulai bangga jika menggunakan produk dalam negeri. Kedua, proses pendidikan kita.

Pendidikan untuk dokter dan ahli farmasi itu harus memungkinkan adanya dua stream, stream yang berbasis pure substance, dan stream yang sifatnya back to nature. Yang ketiga, sistem insurance, regulasi-regulasi yang terkait, juga perlu dikembangkan.

Nah, kita mencoba menjawab ini dengan mendirikan Fakultas Farmasi dan Tekonologi Kesehatan. Di situ, pengembangan farmasinya mencakup dua stream. Bidang health technology-nya juga dikembangkan dengan konsep Western oriented, dan ada yang Oriental. Kita harapkan nanti fakultas ini betul-betul mewujudkan motto: “When the West meets the East”.

Apakah dalam fakultas itu, dicakup juga kajian tentang regulasi dan HAKI, karena ini berkaitan dengan legal aspects?

Tentu. Jadi, dalam fakultas yang baru ini, pendekatannya pun baru. Selama ini kalau kita bikin fakultas, isinya itu ilmu-ilmu yang kurang lebih serumpun. Di fakultas yang baru, kita gabung-gabungkan: ada science, ada engineering. Nah, karena itu menyangkut manusia, humaniora harus ada di situ. Dan karena bisnis juga terlibat, maka HaKI harus masuk di situ.

Kalau dalam pandangan Bapak, apakah kelemahan dari metode orientalis?

Jadi, kelemahan metode orientalis, dibandingkan dengan metode Western adalah, dalam metode Western, cara-cara itu bisa direproduksi oleh orang lain, dengan prosedur yang sama, dan hasil yang sama. Ini persoalan reproducibility. Sedangkan metode orientalis tidak begitu. Pendekatannya holistik dan unik. Nah, ada seorang kawan yang menggeluti akupuntur, dan mencoba mengembangkan metode orientalis, sehingga bisa terukur dan reproducible. MIT sudah melakukan hal-hal seperti itu. Jadi, waktu saya bilang, “when the west meets the east,” MIT sudah punya program serupa. Dan yang ikut di situ banyak yang doktor.

Kalau tidak salah, di China sudah ada beberapa fakultas medisin yang tradisional?

Sudah banyak, tetapi platform-nya tetap orientalis. Jadi, yang harus bisa dijawab adalah persoalan reproducibility itu. Selama ini kan the master yang harus melakukan segalanya. Sekarang paramedis pun sudah bisa melakukan sampai tahap-tahap tertentu.

Untuk bisa lebih jauh harus dibantu dengan alat-alat ukur. Jamu juga seperti itu.

Misalnya, di Depkes, kenapa jamu tidak bisa masuk? Salah satu alasannya, pure substance itu dapat ijin sebagai obat, karena dia punya uji klinik. Jamu tidak bisa diuji secara klinik. Jadi harus dibuatkan sistem pengujian jamu, yang namanya ‘uji manfaat,’

sebagai komplemen dari uji klinik. Kalau uji klinik mengatakan “Betul, tidak ini tidak mematikan,” untuk jamu, uji manfaat menyatakan, “Betul, ini memberikan manfaat.”

Nah, di bidang farmasi kita bikin dua stream. Tapi ada satu hal yang masih belum bisa kita sentuh, yaitu yang disebut medical doctor. Mustinya juga ada yang disebut natural doctor. Dua negara yang cukup konsisten menerapkan dua hal ini adalah Jerman dan Kanada. Jadi, di sana seorang pasien bisa memilih, apakah dilayani oleh natural doctor atau medical doctor. Dua-duanya sudah bisa dijamin oleh perusahaan asuransi.

Pihak asuransi pun sudah bisa menuntutnya. Jadi, jangan kaget jika seorang natural doctor di sana itu memberi resep, “OK, kamu harus ikut aromatherapy ini. Untuk obat, kamu beli belimbing sekian, ini sekian.” Nah, itu resep.

Ini yang musti kita tumbuhkan, dan ini perjalanan panjang. Jadi, kalau ITB memulai, formasinya ada dua stream, ada yang fitofarmaka yang back to nature, ada yang farmakologi, yang Western itu. Ini yang kita mulai. Mudah-mudahan tetangga kita yang punya tugas di bidang medicine menengok juga. Kita juga membuat pressure group ke Depkes, supaya ada juga itu laboratorium untuk uji manfaat.

Jadi, dalam pengembangan bidang farmasi dan teknologi kesehatan ini, kita harus melakukannya dengan baik, dengan cermat dan dengan seksama. ITB itu kan trend setter.

If you don’t do it right, maka dampaknya, kesalahan Anda akan dilakukan oleh orang lain. Dosanya double. Kesatu, kita salah. Dan kedua, kita membuat orang lain melakukan kesalahan. []

There is no race to win and nothing to be proven,   only dreams to be nurtured, a self to be expressed, and love to be shared. 

From a poem by Donna Newman 

"Bersih-Bersih" Menuju ITB BHMN Landscape bagi Entrepreneurial University Pendidikan Tinggi:

Gengsi ataukah Prestasi?

3,75 x 4 = 60 - 45

"Jalur Khusus" On Trial

"Old Boys" Network

Sebuah Sketsa untuk Entrepreneurial University Sebuah Sketsa untuk Entrepreneurial University

Bagian Dua Bagian Dua

Dialog yang disajikan di Bagian 2 ini bersentral pada landscape pendidikan tinggi, di era otonomi perguruan tinggi. Mengemukanya persoalan ini kiranya bertautan dengan dinamika sosial yang kini tengah berkembang, yang menuntut peningkatan peranan ekonomi dan sosial dari perguruan tinggi. Dan dalam konteks ini, muncul istilah entrepreneurial university. Sosok Kusmayanto Kadiman tampil sebagai pimpinan eksekutif ITB dalam konteks dinamika sosial seperti ini. Banyak persoalan yang harus dijawab, mulai dari komersialisasi kegiatan akademik, transformasi bentuk perguruan tinggi, peran dan tanggung jawab sosial dari kampus, sampai soal seleksi penerimaan mahasiswa dan penyediaan biaya pendidikan.

Beberapa figur publik seperti Hermawan Kartajaya (tokoh marketing), Rhenald Kasali (pakar bisnis), Parni Hadi (tokoh media massa dan pengamat politik), dan tak ketinggalan, Komisi VI DPR dan LSM, melihat arti penting dari persoalan ini, dan

Pak Kus dan figur-figur publik tersebut, di berbagai kesempatan yang berbeda-beda. Ini semua disajikan dengan susunan sebagai berikut:

Bagian Dua

Sebuah Sketsa untuk 

Dalam dokumen Sepatah Kata dari Pak Kus  (Halaman 42-46)