CPI t = indeks harga konsumen pada peride t
5.2 Analisis Sektor/Subsektor/Komoditas Unggulan Kabupaten Sangihe
5.6.5 Jalur perdagangan dan pertukaran komoditas
Pada saat ini sulit membedakan pergerakan orang dan barang sebagai pelintas illegal dan
legal, karena “pintu resmi” dapat juga digunakan oleh para “pelintas batas yang illegal”. Namun
untuk dapat memberikan gambaran yang lebih utuh, maka disampaikan beberapa hasil
pengamatan dan wawancara dengan kesimpulan disampaikan bahwa pergerakan secara legal
dapat dilakukan dalam rute sebagai berikut:
(1) Rute tradisional lewat wilayah Sangihe. Rute ini biasa dilewati dari Manado melalui
perjalanan laut ke pelabuhan Petta (Kecamatan Tabukan Utara). Dari Petta ke
Tinakareng melalui perjalanan laut, terus ke Marore sebagai Pos Imigrasi untuk
mengurus surat dan dari pulau perbatasan ini berlayar ke pelabuhan Batuganding di P.
Balut dan dari pelabuhan Batuganding melalui perjalanan laut ke pelabuhan General
Santos Minandao.
Perjalanan dari Tahuna saat ini juga sudah ada kapal laut yang
berlayar menuju Filipina (General Santos) dengan biaya yang murah.
(2) Rute tradisional lewat wilayah Talaud. Dari Manado ke Lirung, Batunuris, Bowongbaru,
Salibabu, Moronge, dan singgah di Karatung, terus ke Miangas (Pos Imigrasi untuk
mengurus surat-surat). Dari Miangas menyeberang ke wilayah Filipina dengan tujuan
Pos Tibanban, dan dari sana bisa langsung berlayar ke pelabuhan laut Santa Ana.
(3) Rute pelayaran resmi dari Bitung. Jalur Bitung – Davao – Bitung yang dilayari kapal
barang, juga dapat menggunakan rute lain Bitung – General Santos – Bitung yang
diusahakan pengusaha Indonesia di Bitung maupun pengusaha Filipina. Jalur ini pernah
semarak oleh pergerakan perdagangan barang pada saat krisis yaitu nilai kurs mencapai
Rp. 10 000 sampai dengan Rp. 15 000 per dolar. Saat itu banyak pedagang Filipina
berbelanja di Manado dengan barang dagangan yang dibeli adalah: sabun deterjen (rinso),
Davao dan General Santos sudah jauh menurun sejak rupiah menguat dan stabil,
walaupun masih ada muatan barang ke Davao dan General Santos dari Bitung.
Secara geografis Filipina di bagian Selatan dengan Kepulauan Sangihe dan Kepulauam
Talaud adalah satu, sebelumnya terpisah karena adanya penjajahan Belanda di Indonesia dan
Spanyol di Filipina bagian selatan, dan kemudian bersatu kembali dalam satu wadah kerjasama
BIMP EAGA pada tahun 1994. Oleh karena itu keputusan bersama para pimpinan BIMP EAGA
untuk lebih meningkatkan hubungan kerjasama air linkage, sea linkage, transportasi dan
mempercepat serta mendorong kerjasama pariwisata perlu memperoleh perhatian.
Berdasarkan persetujuan yang diambil dalam BIMP EAGA perusahaan angkutan laut
negara yaitu PT. PELNI melakukan kegiatan pelayaran dari wilayah barat (Jakarta, Surabaya, dan
beberapa pelabuhan di Sumatera seperti Teluk Bayur, Padang) ke wilayah timur (diantaranya
Makasar, Bitung, Maluku, Papua) bisa ke Davao atau General Santos mengikuti rute kapal
PELNI, demikian pula terkait dengan komitmen BIMP EAGA dibuka penerbangan dengan rute
Manado – Davao – Manado. Namun beberapa penerbangan menutup pelayanan rute tersebut
karena merugi, dan saat ini dilayani oleh Philippines Air. Kondisi ini memberikan gambaran
bahwa untuk dapat melakukan perdagangan ke Filipina terutama ke Santa Ana dan General
Santos dapat dilakukan melalui Manado. Rute ini dapat gunakan sepanjang perdagangan tersebut
adalah pedagang besar bukan pedagangan rakyat antar pulau.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa terjadinya pelintas batas illegal adalah untuk
menghindari birokrasi BCA, imigrasi dan kepabeanan. Hal ini dimungkinkan karena para
pelintas batas illegal mengerti dan memahami rute serta jadwal patroli laut. Pelintas batas illegal
menggunakan P2K Perbatasan sebagai lintasan dan pelabuhan Petta (Tabukan Utara) sebagai titik
pemberangkatan. Pada dasarnya untuk pelintas batas illegal maupun legal tujuannya adalah
berdagang, wisata, dan kunjungan keluarga.
Khusus untuk perdagangan di Filipina bagian
selatan telah ada “agen” dari pedagang besar Filipina yang memasok barang-barang seperti
kesulitan dalam memperoleh barang dagangan. Pada tahun 2005, produk rokok Filipina
bermerek “Mas” dan “Durian” diperdagangkan dengan harga setengah dari harga rokok dalam
negeri, demikian terdapat beberapa barang dagangan yang harganya relatif lebih murah yang
berasal dari Filipina. Pedagang dari Sangihe berupaya untuk perdagangan rokok dilegalkan
dengan membayar cukai rokok serta bea impor, tetapi sampai dengan saat penelitian dilaksanakan
belum dapat direalisikan, bahwa kedua jenis rokok ini tidak ada lagi dipasaran Kabupaten
Kepulauan Sangihe.
Perdagangan lintas batas dilakukan dengan menjual hasil bumi dan barang produk
industri dalam negeri atau ex-ipmor Indonesia ke Filipina bagian selatan. Perdagangan yang
melibatkan ekspor hasil bumi dilakukan tergantung dari harga pasar yang berlaku. Menurut
Pemerintah Daerah Kepulauan Sangihe Talaud (2008), keadaan perdagangan sudah jauh berbeda.
Jika dalam tahun sebelumnya barang Indonesia yang mendominasi pasar di Filipina bagian
selatan, namun saat ini tinggal 10 jenis saja. Selanjutnya barang Filipina meningkat menjadi 34
jenis, dan bahkan saat penelitian semakin meningkat lebih dari 50 jenis. Barang yang “diimpor”
dari Filipina meliputi: plywood, cocacola, minyak cat (tiner), cat, minuman keras (tanduay,
kulafu, clube, dry gin), tikar plastik, lem kayu (epory), periuk nasi (banickaldero), periuk goreng
(calahai), spons, jaring nilon, paku antikarat, dan lain-lain. Sedangkan dari Indonesia adalah
sabun cuci, bumbu masak, piring kedaung, sandal lyly, kain batik, sepeda motor, dan lain-lain.
Produk-produk yang “diimpor” tersebut apabila ditelaah kegunaannya justru sangat
membantu para nelayan dan perajin pembuat perahu pump boat baik mesin kecil, mesin Fuso,
dan Pamo. Pump boat tersebut digunakan untuk nelayan dalam penangkapan ikan, artinya
kehadiran barang-barang seperti polywood atau tripleks, paku anti karat, minyak cat dan cat
sangat bermanfaat untuk perjain perahu karena selain harga barang itu murah juga tersedia untuk
pembuat perahu, dan pembuatan jaring nilon oleh nelayan untuk penangkapan ikan. Fuso adalah
pump boat dengan ukuran dan kapasitas 10 ton yang menggunakan mesin diesel truk Fuso,
Barang yang “diimpor” dari Filipina sebagian besar adalah illegal, namun apabila
dikategorisasi maka dapat dilakukan pengkategorian sesuai fungsi seperti untuk (1) pembuat
pamboat digunakan paku anti karat, tripleks, cat dan minyak cat; (2) untuk pembuatan pancing
dan jaring digunakan jaring nilon dan alat pancing (snart); dan (3) barang dagangan untuk hiasan
rumah adalah kap lampu dari kerang dan kulit mutiara, hiasan berbentuk hewan dari kerang, pot
dan vas bunga, lampun hias, dan lain-lain; dan (4) barang konsumsi seperti minuman (minuman
keras bagi yang menggunakan, minuman cocacola), rokok, beras, gula, dan lain-lain; (5) barang
lainnya seperti lotion housty, gitar, blancket, dan lain-lain. Artinya, kecuali minuman keras dan
rokok, produk-produk yang “diimpor” dari Filipina sangat bermanfaat bagi para nelayan
khususnya dan masyarakat pada umumnya, karena kepentingan persediaan perahu angkutan laut
dan alat untuk perikanan tangkap .
Selain peningkatan jumlah penyelundupan barang-barang keperluan hidup akibat desakan
ekonomi, kawasan P2K Perbatasan saat ini digunakan sebagai area kejahatan lintas negara
(transnational crime), antara lain: penyelundupan senjata, perdagangan obat-obatan terlarang,
pemasukan dolar palsu, penyelundupan orang untuk bekerja di dunia prostitusi (trafficking in
person, people trade), terorisme, dan lain-lain. Oleh karena itu penataan pengelolaan P2K
Perbatasan Kepulauan Sangihe secara terintegrasi merupakan suatu tuntutan.
5.7 Analisis Perdagangan Illegal
Menurut Margaretha (2008), adanya ketimpangan ekonomi masyarakat perbatasan yang
relatif pra sejahtera, telah menjadi pemicu praktek penyeludupan barang, senjata dan bahan
peledak dengan motif mendapatkan keuntungan dari kondisi perbedaan harga jual di Indonesia
dan Filipina serta kebutuhan konsumen untuk barang-barang tersebut. Oleh karena itu sudah
saatnya diperlukan perubahan secara mendasar dalam penataan perdagangan di P2K perbatasan