• Tidak ada hasil yang ditemukan

5.2 Karakteristik Responden .1 Umur

5.2.4 Jam Kerja

Dari total 45 responden, sebagian besar responden bekerja selama 8 jam yaitu sebanyak 36 orang atau 80,0% dari total responden. Sedangkan yang bekerja < 8 jam yaitu 9 orang atau 20,0 % dari total responden. Responden yang bekerja selama 8 jam adalah operator, helper, dan supervisor yang bertugas untuk selalu memantau masing-masing kolam di IPAL PT. X Batam agara kualitas effluent yang keluar tidak melebihi baku mutu air limbah. Sedangkan responden yang bekerja < 8 jam pada umumnya adalah super intendent yang bertugas mengatur kerja masing-masing supervisor dan operator.

Undang-Undang No.13 tahun 2003 Pasal 77 ayat 1, mewajibkan setiap pengusaha untuk melaksanakan ketentuan jam kerja. Ketentuan jam kerja ini telah diatur dalam 2 sistem yaitu 7 jam kerja dalam 1 hari atau 40 jam kerja dalam 1 minggu untuk 6 hari kerja dalam 1 minggu dan 8 jam kerja dalam 1 hari atau 40 jam kerja dalam 1 minggu untuk 5 hari kerja dalam 1 minggu.

5.3 Keluhan Kesehatan Responden

Berdasarkan tabel distribusi keluhan kesehatan responden dapat dilihat bahwa dari total 45 responden, hampir setengahnya yang mengalami keluhan kesehatan yaitu sebanyak 20 orang atau 44,4 % dari total responden, sedangkan yang tidak mengalami keluhan kesehatan yaitu 25 orang atau 55,6 % dari total responden. Dari 2

jenis keluhan kesehatan responden yaitu keluhan iritasi mata dan keluhan gangguan saluran pernapasan, selama bekerja responden paling banyak mengalami keluhan gangguan saluran pernapasan yaitu sebanyak 17 responden atau sebesar 44,4%, dengan jenis keluhan yang paling banyak adalah batuk-batuk yaitu sebanyak 14 responden dari 17 responden yang memiliki keluhan gangguan pernapasan.

Sedangkan untuk jenis keluhan kesehatan iritasi mata dari 45 responden, hanya 14 orang atau 31,1% dari total responden yang mengalaminya. Dengan jenis keluhan iritasi mata terbanyak adalah mata perih sebanyak 11 responden atau 78,6 % dari 14 responden yang mengalami keluhan iritasi mata.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Imelda (2007) tentang Analisa Dampak Gas Amonia dan Klorin Pada Faal Paru Pekerja Pabrik Sarung Tangan Karet “X” Medan diperoleh kesimpulan sebagai berikut: di bagian amonia terdapat keluhan berupa tenggorokan kering (80%), jalan pernapasan kering (73,3%), mata perih (66,67%), iritasi hidung dan batuk (53,3%), dan pingsan (6,67%). Hasil pemeriksaan udara menunjukkan bahwa kadar pada lingkungan kerja masih berada dibawah ambang batas menurut Permenaker No. 13 Tahun 2011 (25 ppm), yaitu gas amonia sebesar 1,7 ; 1,9, dan 3,5 ppm.

Seperti penelitian yang dilakukan oleh Pakpahan (2013) hasil Pengukuran kadar H2S pada PT. Allegrindo Nusantara Desa Urung Panei Kecamatan Purba Kabupaten Simalungun tidak ada yang melebihi batas baku mutu yang ditetapkan oleh KepMenLH No. 50 Tahun 1996. Hasil tertinggi berada pada jarak 60 meter dari

70

peternakan yakni sebesar 0,016 ppm, dan hasil yang terendah berada pada jarak 500 meter dari peternakan yakni sebesar 0,0002 ppm. Kemudian dari di jumpai ada 36 orang (40,0%) yang memiliki keluhan kesehatan saluran pernapasan selama 3 bulan terakhir dan 27 orang (30,0%) yang memiliki keluhan iritasi mata selama 3 bulan terakhir.

Gas amoniak merupakan gas yang mudah larut dalam air sehingga permukaan tubuh yang basah seperti mata dan kontak dengan gas secara langsung akan mengalami iritasi. Amoniak yang masuk melalui pernapasan akan diserap oleh paru-paru kemudian amoniak berikatan dengan darah yang ada di dalam paru-paru - paru-paru. Kemudian darah diedarkan ke suluruh tubuh dan masuk ke dalam ginjal dan diubah bentuk menjadi ion ammonium oleh glutamin dengan cara deaminasi yang dikatalis oleh enzim glutaminase. Amoniak yang tidak dikeluarkan melalui urin akan menumpuk di dalam ginjal dan akan menyebabkan kerusakan ginjal. Kerusakan ginjal dapat mengakibatkan hemoglobin dalam darah turun (anemia) dan sesak nafas karena menurunnya daya perfusi pulmonal (Arisman, 2010 dalam Sari, 2014). Anemia yang terjadi akan menyebabkan pusing dan juga nyeri dada akibat penyempitan pembuluh arteri pada jantung yang disebabkan oleh jantung kekurangan oksigen yang cukup. Batuk sendiri merupakan gangguan saluran pernapasan yang disebabkan oleh reaksi biologis tubuh untuk membersihkan saluran pernapasan dari benda asing.

Gas hidrogen sulfida (H2S) merupakan gas yang mudah larut dalam air sehingga permukaan tubuh yang basah seperti mata dan kontak dengan gas secara langsung akan mengalami iritasi. Selai itu gas hidrogen sulfida (H2S) dalam tubuh dapat menghambat enzim cytochorome axidase sebagai penghasil oksigen. Hal ini yang menyebabkan suplai oksigen dalam dibawa oleh darah ke jaringan tubuh berkurang yang dapat menyebabkan pusing. Kekurangan oksigen dapat menyebabkan sistem pernapasan terpicu untuk bernafas lebih sering untuk mencukupi kebutuhan oksigen yang dapat menyebabkan terjadinya sesak nafas dan juga akibat kurangnya oksigen maka terjadi penyempitan arteri yang menyuplai darah ke otot jantung yang dapat menyebabkan dada terasa nyeri.

Berdasarkan karakteristik responden menurut umur, responden dengan usia 26-35 tahun paling banyak mengalami keluhan kesehatan yaitu sebanyak 9 orang atau 45,0 % dari total responden. Tingginya persentase responden yang memiliki keluhan kesehatan pada kelompok umur 26-35 tahun dikarenakan kelompok umur tersebut merupakan kelompok umur produktif yang terus beraktivitas sehingga tingkat pemaparan polutan udara lebih tinggi. Menurut Mukono (2008). Pada kelompok umur 21-30 tahun, maupun 31-40 tahun, telah melewati pertumbuhan paru sehingga beresiko terhadap terjadinya gangguan pernapasan.

Berdasarkan karakteristik masa kerja responden , terjadi keluhan kesehatan tertinggi pada responden dengan masa kerja ≤ 5 tahun yaitu sebanyak 11 orang

72

(55,0%). Hal ini disebabkan karena mayoritas pekerja pengelola limbah berusia 26-35 tahun bekerja selama ≤ 5 tahun sehingga masa kerja belum relatif lama.

Berdasarkan karakteristik lama kontak responden , terjadi keluhan kesehatan terbanyak pada responden dengan lama kontak > 5 jam yaitu sebanyak 13 orang (65,0%). Menurut Suma’mur (2009) dalam Umakaapa M, dkk (2013), menyatakan bahwa salah satu variabel potensial yang dapat menimbulkan gangguan fungsi paru adalah lamanya seseorang terpapar zat toksik seperti gas maupun debu.

Berdasarkan karakteristik jam kerja responden, keluhan kesehatan tertinggi terjadi pada responden yang bekerja selama 8 jam. Jumlah responden yang bekerja selama 8 jam lebih banyak memiliki keluhan kesehatan dibandingkan dengan responden yang bekerja <8 jam. Hal ini disebabkan karena pada umumnya jam kerja di Indonesia adalah 8 jam/hari, yaitu sesuai dengan Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor 51 Tahun 1999.

Berdasarkan karakteristik penggunaan APD masker terhadap keluhan kesehatan yang berkaitan dengan keluhan saluran pernapasan menunjukkan bahwa responden yang memiliki keluhan saluran pernapasan tertinggi pada responden yang tidak menggunakan masker yaitu sebanyak 12 orang (70,6 %). Hal ini sesuai dengan Suma’mur (2009) yang menyatakan salah satu alat pelindung diri yang digunakan untuk melindungi alat pernapasan adalah masker yang dapat mengurangi resiko paparan gas berbahaya dalam lingkungan kerja. Noviyanti L (2014), dalam penelitiannya menjelaskan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara

penggunaan masker dengan gangguan fungsi pernapasan dan juga menjelaskan bahwa responden yang tidak memakai masker 12 kali lebih berisiko daripada responden yang tidak memakai masker.

Berdasarkan karakteristik riwayat merokok menunjukkan bahwa pada umumnya responden yang tidak merokok memiliki keluhan saluran pernapasan yaitu sebanyak 13 orang (76,5 %). Hal ini diperkuat dengan pernyataan Antoniusman (2013), yang menjelaskan bahwa adanya asap rokok akan lebih dirasakan dampaknya pada kalangan non perokok (perokok pasif) karena sensitivitasnya lebih tinggi sehingga lebih berisiko mengalami gangguan kesehatan.

74 BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait