C. Analisis Hak Cipta di Youtube sebagai Benda Tidak Berwujud yang dapat dijadikan sebagai Objek Jaminan
3. Jaminan Fidusia dalam kaitanya dengan Hak Cipta sebagai Objek Jaminannya
Dalam sebuah perjanjian kredit atau utang-piutang, objek jaminan merupakan sebuah faktor penting yang digunakan sebagai penjamin untuk dilaksanakannya pembayaran atau pelunasan utang tertentu oleh debitor. Umumnya berupa agunan (kebendaan tertentu) yang dapat dinilai dengan uang, yang nilainya minimal sebesar jumlah utang yang diberikan kepadanya. Maka sebelum dilakukan kesepakatan lembaga penjamin utang atau perseorangan yang disini bertindak sebagai kreditor akan meminta kebendaan jaminan sehingga apabila debitor tidak dapat melunasi utangnya (wanprestasi) atau dinyatakan pailit, maka jaminan tersebut dapat dicairkan atau diuangkan guna menutupi pelunasan atau pengembalian uang pinjaman (utang).42
Prinsip kebebasan berkontrak merupakan dasar bagi pencipta atau pemegang Hak Cipta dan pemberi kredit pada perjanjian pembiyayaan. Penerapan prinsip tersebut berkaitan dengan kebebasan debitor (pemberi fidusia) dan kreditor (penerima fidusia) untuk melakukan perjanjian. Setelah perjanjian disepakati maka pengikatannya berlaku bagi tiap pihak yang tercantum didalamnya, sehingga harus ditaati (prinsip pacta sunt servanda). Ketaatan terhadap perjanjian tersebut berkaitan dengan unsur kepercayaan bahwa pemberi fidusia akan melakukan kewajibannya sesuai dengan yang telah disepakati, antara lain memelihara barang jaminan dan melunasi utangnya. Sebaliknya penerima fidusia berjanji akan mengembalikan penguasaan secara yuridis kepada pemberi fidusia setelah
42 J. Satrio, Hukum Jaminan Hak Jaminan Kebendaan, Cetakan Keempat, Citra Abadi, Bandung, 2002, hlm.13.
utangnya dilunasi. Kesepakatan tersebut harus dilaksanakan dengan itikad baik (prinsip itikad baik), dalam arti pemberi fidusia dan penerima fidusia berkewajiban melaksanakan kesepakatan tersebut tanpa ada maksud untuk melakukan kecurangan, misalnya apabila debitor wanprestasi, kreditor baru dapat melakukan eksekusi barang jaminan. kemudian apabila terdapat kelebihan harga barang yang dilelang harus dikembalikan kepada debitor (pemberi fidusia).43
Seperti yang diberlakukan dalam perkara yang berada dalam Putusan 78/Pdt.G/2016/PN.Rap, Pada suatu perjanjian pembiyayaan konsumen yang di barengi oleh perjanjian fidusia, debitor menjaminkan satu unit mobil type/merk Toyota Kijang Innova Type E STD DIESEL2.5 M/T, Warna Silver Metalik, No.
Mesin : 2KD9537264, No. Rangka : MHFXS41G351501112, No. BPKB : D8373883H, No. Polisi : F 1597 BO atas nama Hernita Langga Sari, SH. Dimana pada saat debitor melakukan cidera janji, Kreditor berdasarkan Pasal 29 Ayat 1 huruf a Undang-Undang No. 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia. Apabila Debitor atau Pemberi Fidusia cidera janji, eksekusi terhadap benda yang menjadi objek Jaminan Fidusia dapat dilakukan dengan pelaksanaan titel eksekutorial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 Ayat (2) Undang – Undang No. 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia. Sertifikat Jaminan Fidusia mempunyai kekuatan eksekutorial yang sama dengan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap oleh Penerima Fidusia.
43 Sudjana, Hak Cipta Sebagai Jaminan Kebendaan Bergerak Dikaitkan dengan Pengembangan Objek Fidusia, Jurnal Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, Bandung, 2012.
hlm. 410.
Kreditor memiliki hak penuh untuk melakukan penjualan atas Objek Jaminan Fidusia tersebut dan jika hasil dari penjualannya terdapat kelebihan yang telah diperhitungkan dari total angsuran debitor dikurangkan dengan total penjualan objek jaminan tersebut, maka kreditor akan mengembalikan sisa dari kelebihan perhitungan tersebut. Namun sebaliknya, jika setelah dilakukan penjualan dan diperhitungkan dengan total angsuran debitor dikurangkan dengan total penjualan unit kendaraan ternyata masih ada kekurangan yang harus dibayarkan oleh debitor.
Besar kecilnya harga penjualan objek Jaminan Fidusia tersebut didasarkan atas harga pasar.44
Jika dilihat dari bentuk penyerahan, Hak Cipta sebagai Objek Jaminan Fidusia dapat dialihkan hak kepemilikannya secara yuridis berdasarkan Constitutum possesorium, dimana secara yuridis hak milik dimiliki oleh kreditor tetapi secara nyata benda berada pada penguasan debitor. Jika Hak Cipta akan dialihkan secara keseluruhan, maka pengalihan atas pemegang Hak Cipta ciptaan tersebut harus di informasikan ke instansi terkait.45
Benda tidak berwujud, surat berharga dan hak atas piutang dapat diserahkan dengan endosemen dan cessie sehingga pengikatannya dapat dilakukan dengan lembaga jaminan gadai. Tapi, penyerahan untuk Hak Cipta sebagai sebuah objek jaminan tidak cukup dilakukan dengan penyerahan sertifikat Hak Cipta saja.
Harus dilakukan melakukan permohonan pendaftaran peralihan Hak Cipta pada Ditjen HKI.46
44 Ibid.
45 M Bahsan, Op.Cit, hlm.3.
46 Subagio Gigih Wijaya, Pascasarjana Jurnal Ilmu Hukum, Hak cipta sebagai objek jaminan utang dalam perspektif hukum jaminan Indonesia, UNS,2010, hlm. 132.
Suatu Hak Cipta yang akan dijadikan jaminan utang sebaiknya telah terdaftar dalam daftar umum ciptaan walaupun dalam undang-undangnya tidak diharuskan suatu Hak Cipta itu untuk didaftarkan karena sistem dari Hak Cipta bukanlah dengan pencatatan (konstitutif) tetapi dengan pengumuman (deklaratif) saja Hak Cipta tersebut telah diakui. Akan tetapi pendaftaran suatu ciptaan ke Ditjen HKI sebagai lembaga pencatatan Hak Cipta di Indonesia, sebenarnya akan sangat berguna dalam hal pembuktian apabila ada sengketa kepemilikan di kemudian hari, Meski pada Pasal 72 UU Hak Cipta disebutkan bahwa pendaftaran ciptaan dalam Daftar Umum Ciptaan tidak mengandung arti sebagai pengesahan atas isi, arti, maksud, atau bentuk dari Ciptaan yang didaftar. Namun, dalam penilaian Hak Cipta sebagai objek jaminan utang, surat pencatatan Hak Cipta sebagai bukti tertulis kepemilikan akan Hak Cipta tentu akan sangat membantu pembuktian siapa pemilik Hak Cipta tersebut.47
Pengikatan Jaminan Fidusia atas Hak Cipta harus dibuat berdasarkan akta notaris dan didaftarkan ke Kantor Pendaftaran Fidusia di bawah Kementrian Hukum dan HAM. Sebab, Sertifikat Hak Cipta dipegang oleh kreditor, jika debitor (Pemegang Hak Cipta) hendak melaksanakan hak eksklusifnya (seperti membuat Perjanjian Lisensi/ Waralaba) maka debitor harus terlebih dahulu mendapatkan ijin dari pihak kreditor.
47Ibid, hlm. 131.
Bagan 1 48: Penjaminan Hak Cipta Melalui Skema Jaminan Fidusia
Model seperti ini dapat dijadikan rujukan dan dengan demikian dapat dipergunakan apabila suatu waktu hak atas konten yang diunggah di Youtube reasonable untuk dijadikan objek Jaminan Fidusia.
48 Iswi Hariyani, Jurnal Hukum : Ius Quia Iustum No. 2 Vol, 23 April 2016, hlm. 294-319.
Bahwa membuat Perjanjian Kredit (sebagai perjanjian pokok) dan Perjanjian Jaminan Fidusia (sebagai perjanjian tambahan)
Surat Pencatatan Hak Cipta
Perjanjian Lisensi/Waralaba
Pilihan Eksekusi Jaminan Fidusia : a) Eksekusi melalui flat Ketua Pengadilan
Negri
b) Parate Eksekusi (tanpa flat ketua Pengadilan Negri)
c)Penjualan Agunan di Bawah Tangan)
Perjanjian Lisensi/Waralaba (Agunan Tambahan) Objek Jaminan Fidusia