• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Bentuk Perlindungan dan Penyelesaian Kasus Jemaah

3. Jaminan Terselenggaranya Ibadah Umrah Sesuai

Pada pasal 45 ayat 1 huruf (c) UU No 13 Tahun 2008 disebutkan bahwa PPIU wajib memberikan pelayanan kepada

89 Pasal 15 PMA No 18 Tahun 2015 Tentang Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah

90 Pasal 10 huruf e Peraturan Menteri Agama No 18 Tahun 2015 Tentang Penyelenggaraan Perjalanan Ibadah Umrah

91 Pasal 16 Peraturan Menteri Agama No 18 Tahun 2015 Tentang Penyelenggaraan Perjalanan Ibadah Umrah

 

jemaah umrah sesuai dengan perjanjian tertulis yang disepakati antara penyelenggara dengan jemaah.92 Ditjen PHU pada dasarnya juga mengatur bahwa setiap PPIU diwajibkan untuk membuat kesepakatan dengan Jemaahnya terkait program paket ibadah umrah. Ketika PPIU telah mendapatkan Jemaah umrah maka harus ada kontrak kesepakatan yang di tanda tangani oleh kedua belah pihak baik hotel, pesawat, konsumsi dan lain sebagainya.

Pada saat di bandara Ditjen PHU mengadakan pengawasan kepada PPIU yang berangkat dan melihat sejauh mana PPIU mentaati aturan-aturan yang telah di tetapkan oleh Kementerian Agama, dan disana pihak Ditjen PHU menanyakan kepada PPIU terkait penanggung jawab keberangkatan dan menanyakan apakah keberangkatan tersebut sudah melapor atau belum ke Kementerian Agama, berapa paketnya, berapa lama disana, nama pesawatnya apa, dan lain sebagainya. Dari pengawasan tersebut terkadang Ditjen PHU dapat mendeteksi dini terjadinya pelanggaran-pelanggaran atau minimal dapat mendeteksi jemaah yang berangkat yang hanya mengetahui tiket keberangkatannya saja namun tidak mengetahui terkait tiket kepulangannya, disitulah Ditjen PHU mencari tahu dan memastikan bahwa tiket kepulangan jemaah sudah ada.93

92 Pasal 45 ayat 1 huruf (c) UU No 13 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji

93 Tree Agung Nugroho, Kepala Seksi Identifikasi dan Penanganan Masalah Ibadah Umrah, wawancara Pribadi, Tanggal 25 Januari 2018, Pukul 13.30 – 14.00 WIB.

 

D. Jenis Kasus dan Solusi dalam Penyelenggaraan Ibadah Umrah 1. Kasus Yang Menimpa Jemaah Umrah

Beragam upaya dilakukan Kementerian Agama dalam rangka memberikan perlindungan dan pelayanan kepada Jemaah umrah, namun demikian sejumlah masalah masih mewarnai dalam penyelenggaraannya.

Selama ini Kementerian Agama menangani kasus yang menimpa Jemaah umrah mulai dari gagal berangkat, tidak keluarnya visa, sampai tidak ada tiket kepulangan, namun apabila ranahnya pidana seperti penipuan dan penggelapan maka hal tersebut ditangani oleh pihak kepolisian. Dengan demikian apabila laporan kasus Jemaah umrah terkait dengan ranahnya Kementerian Agama maka akan ditangani oleh Pihak Kemenag, akan tetapi apabila kasus tersebut ranahnya pidana maka ditangani oleh pihak Kepolisian dengan meminta saksi ahli dari Kementerian Agama dan Jemaah langsung dapat melapor kepada pihak Kepolisian.94

Penulis mewawancarai korban kasus gagal berangkat dari travel Solusi Balad Lumampah (SBL) yaitu saudara Apipudin salah satu Alumni Jurusan Manejemen Dakwah. Beliau mendaftar bersama keluarga dan tetangganya ke travel tersebut lewat agen travel SBL yang menawarkan di kampung sebelah rumahnya di kawasan Kabupaten Tangerang. Apip pertama membayar uang daftar sebesar satu juta rupiah (Rp.1000.000), selanjutnya membayar lima juta rupiah (Rp.5.000.000) untuk memesan seat dan diberitahu jadwal keberangkatan. Apip mengambil paket

94 Ibid

 

umrah dari travel SBL senilai dua puluh satu juta lima ratus ribu rupiah (Rp.21.500.000) dan djanjikan ganti rugi senilai tujuh belas juta rupiah (Rp. 17.000.000) namun sampai hari ini baru mendapat ganti kerugian senilai delapan juta rupiah (Rp.8000.000).95

2. Jenis Kasus (Pelanggaran) Penyelenggara Umrah

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa Kementerian Agama sudah menangani kasus dalam ibadah umrah mulai dari gagal berangkat, tidak keluarnya visa, sampai tidak ada tiket kepulangan. Adapun jenis kasus (pelanggaran) yang dilakukan oleh Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) antara lain:

1. PT Mediterania Travel, kasus penelantaran jemaah pada tahun 2015;

2. PT Mustaqbal Lima, kasus penelantaran jemaah pada tahun 2015;

3. PT Kopindo Wisata, kasus penelantaran Jemaah pada tahun 2015;

4. PT Diva Sakinah, kasus penipuan dan penggelapan uang jemaah pada tahun 2016 ;

5. PT Hikmah Sakti Perdana, kasus penipuan dan penggelapan uang Jemaah pada tahun 2016;

6. PT Timur Sarana Tour & Travel (Tisa Tour), kasus gagal memberangkatkan Jemaah pada tahun 2016;

7. PT First Anugrah Karya Wisata (First Travel), kasus penipuan umrah pada tahun 2017;

95 Apipudin, Korban Gagal Berangkat Travel SBL, Wawancara Pribadi, 28 April 2018, pukul 16.00-16.30 WIB

 

8. PT Biro Perjalanan Wisata Al-Utsmaniyah Tours (Hanin Tours), kasus penipuan umrah pada tahun 2017.96

Pada tahun 2018 setidaknya ada empat travel yang memiliki kasus dan dikenai sanksi oleh Kementerian Agama antara lain:

1. PT Amanah Bersama Ummat (Abu Tours), kasus gagal memberangkatkan jemaah

2. Solusi Balad Lumampah (SBL), kasus gagal memberangkatkan jemaah

3. Mustaqbal Prima Wisata, kasus gagal memberangkatkan Jemaah

4. Interculture Tourindo, kasus gagal memberangkatkan Jemaah

Keempat PPIU yang disebutkan di atas telah di berikan sanksi oleh Kementerian Agama berupa pencabutan izin sebagai PPIU karena terbukti gagal memberamgkatkan Jemaah. Khusus untuk Interculture dianggap tidak lagi memiliki kemampuan finansial sebagai PPIU, disebabkan bank garansinya di sita oleh pihak kepolisian terkait kasus First Travel, Intelculture sendiri merupakan PPIU yang berafiliasi dengan First Travel.97 Lebih lengkapnya terkait kasus PPIU beserta sanksinya bias dilihat di halaman 75.

96 https://kemenag.go.id/berita/read/507435/sejak-2015--kemenag-beri-sanksi-26-travel-umrah, diakses pada Kamis, 3 Mei 2018, Pukul 15.00 WIB

97 http://www.harnas.co/2018/03/28/paket-umrah-murah-diantisipasi, diakses pada Selasa, 01 Mei 2018, Pukul 15:14 WIB

 

3. Penyelesaian Kasus Jemaah Umrah

Sebagaimana diatur Pasal 58 PP Nomor 79 Tahun 2012 tentang Pelaksana Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Pasal 10 PMA Nomor 18 tahun 2015 tentang tentang Penyelenggaraan Perjalanan Ibadah Umrah PPIU memiliki sejumlah kewajiban yang harus diberikan kepada kepada jemaah umrah 98 yaitu :

a. Bimbingan ibadah umrah (manasik);

b. Transportasi jemaah umrah;

c. Akomodasi dan konsumsi.

d. Kesehatan jemaah umrah

e. Perlindungan jemaah umrah dan petugas umrah;

f. Administrasi dan dokumen umrah

Maka apabila layanan tersebut ternyata tidak didapatkan atau layanan ternyata tidak sesuai dengan perjanjian maupun berbeda dengan promo yang dilakukan oleh PPIU, maka jemaah umrah dapat menempuh beberapa cara dan instrumen hukum kepada PPIU :

1) Pendekatan hukum administrasi

Jemaah dapat melaporkan pelanggaran atau layanan PPIU kepada pemerintah sebagai pengawas yakni Kementerian Agama. Kemenag akan merespon dan biasanya mengklarifikasi kepada PPIU selaku terlapor tentang duduk masalah yang sebenarnya. Apabila

98. Lihat Pasal 58 PP Nomor 79 Tahun 2012 tentang Pelaksanaan UU Nomor 13 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Perjalanan Ibadah Haji dan pasal 10 -17 PMA Nomor 18 tahun 2015 tentang tentang Penyelenggaraan Perjalanan Ibadah Umrah.

 

ditemukan pelanggaran maka secara administrasi PPIU akan dikenakan sanksi99 berupa peringatan terulis.

Peringatan tertulis oleh Menteri Agama apabila PPIU tidak melaksanakan beberapa ketentuan yaitu layanan transportasi dari dan ke Arab Saudi (dengan mempertimbangkan kenyamanan, keselamatan, dan keamanan), pelayanan akomodasi berupa penginapan yang layak, pengurusan dokumen perjalanan umrah dan visa bagi jemaah umrah, pelaporan keberangkatan jemaah umrah kepada Menteri, laporkan kedatangan dan kepulangan jemaah umrah dari dan ke Arab Saudi kepada Kepala Kantor Misi Haji Indonesia di Arab Saudi, laporan pelaksanaan Penyelenggaraan Ibadah Umrah kepada Menteri.100 pembekuan izin penyelenggaraan maksimal selama 2 (dua) tahun,101 dan pencabutan izin penyelenggaraan102 sesuai tingkat kesalahannya. Sejauh ini pihak Kementerian Agama telah mencabut izin 3 (tiga) izin PPIU yaitu PT Mediterania Travel, PT Mustaqbal Lima Wisata, PT Kopindo Wisata, beberapa lainnya PT Mulia Wisata Abadi, PT Sanabil Madinah Barokah, PT Al-Aqsha Jisru Dakwah, PT Pandi Kencana Murni, dan PT Muaz Barakat Safari dikenakan peringatan tertulis. Peranan

99. Pasal 6 ayat 1 UU Haji

100 Lihat Pasal 68 ayat 1 UU Haji.

101.Pembekuan dilakukan apabila terjadi pengulangan atas pelanggaran yang telah diberikan peringatan tertulis. Lihat pasal 68 ayat 2 UU Haji.

102. Pencabutan izin dilakukan apabila PPIU melakukan kesalahan berupa gagal berangkat ke Arab Saudi, melanggar masa berlaku visa, terancam keamanan dan keselamatannya.

 

Kementerian Agama sangat penting selain sebagai pengawas juga memberikan izin penerbitan izin dan kontrol standar layanan PPIU kepada jemaah umrah.

2) Pendekatan hukum perdata (litigasi)

Saluran hukum yang dapat ditempuh oleh jemaah umrah adalah mensengketakan PPIU melalui institusi pengadilan (litigasi). Jika seorang konsumen haknya terganggu dan menyebabkan kerugian, maka jemaah umrah dapat mengajukan gugatan ke pengadilan dengan mengajukan gugatan perdata (wanprestasi/perbuatan melawan hukum) untuk mempertahankan dan mendapatkan kembali haknya. Tentu saja bersengketa di pengadilan harus tunduk dan patuh pada mekanisme dan ketentuan-ketentuan sebagai mana diatur dalam penyelesaian sengketa keperdataan pada umumnya.103 Kelemahannya di pengadilan prosesnya berlangsung lama dan memakan biaya yang tidak sedikit.

3) Pendekatan hukum perlindungan konsumen

Sama dengan jalur perdata, mekanisme penyelesaian sengketa dalam Undang-Undang Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (UUPK) juga dapat menggunakan jalur pengadilan (litigasi) sebagai penyelesaian sengketa. Tetapi UUPK juga menawarkan alternatif lain, apabila konsumen (jemaah umrah) merasa keberatan dengan proses litigasi maka bisa melalui jalur Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) yang dapat dikategorikan sebagai instrumen penyelesaian

103. Janus Sidabalok, Op. Cit., h. 58.

 

sengketa di luar pengadilan (alternative dispute resulution)104 melalui konsiliasi, mediasi dan arbitrase sebagaimana diatur Pasal 49 ayat 1dan Pasal 54 ayat 2 UUPK. Panel mejelis nantinya terdiri dari unsur pelaku usaha, konsumen dan pemerintah.

4) Pendekatan hukum pidana

Penyelesaian sengketa melalui jalur pidana haruslah dipahami sebagai langkah terakhir (ultimum remedium) dalam penyelesaian sengketa umrah, sebab persoalan umrah tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek ibadah.

Akan tetapi pada umumnya jemaah umrah bersedia menempuh jalur musyawarah dan mediasi, namun apabila jalur ini sudah tidak memberikan solusi pemidanaan bisa menjadi langkah terakhir dengan melapor ke pihak penegak hukum (kepolisian). Dalam UU Haji sendiri ancaman pidana ditujukan kepada travel/biro perjalanan yang tidak memiliki izin menyelenggarakan umrah diancam dengan pidana paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500 juta.105

Ancaman pidana juga berlaku bagi PPIU tetapi tidak memberikan fasilitas dan pelayanan kepada jemaah umrah sebagaimana telah yang telah disepakati berupa pidana penjara selama 6 (enam) tahun dan/atau denda Rp 1 milyar.106 Ketentuan pidana dalam penyelenggaraan umrah juga bisa dikaitkan dengan UUPK sebagaimana diatur

104. Yusuf Shofie, Penyelesaian Sengketa Konsumen Menurut Undang-Undang Perlindungan Konsumen, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2003) h. 27.

105. Pasal 63 ayat (2) UU Haji.

106. Pasal 64 ayat (2) UU Haji

 

dalam pasal 62 UUPK bilamana PPIU merugikan jemaah.

PPIU juga dapat dijerat dengan Pasal 378 KUHP atas dasar tindak pidana penipuan, yakni secara melawan hukum dengan tipu muslihat, rangkaian kebohongan, dan menggerakkan calon jemaah haji/umrah untuk menyerahkan sesuatu kepadanya (misalnya mentransfer sejumlah uang) dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan melawan hak.

Kementerian Agama dalam menyelesaikan kasus Jemaah umrah yaitu dengan cara memeriksa laporan yang diterima dari Jemaah yang tertimpa kasus dengan mempelajari bukti-bukti dari laporan yang diterima oleh pihak Kemenag.

Apabila telah ditemukan bukti maka pihak Kemenag memanggil pihak-pihak terkait dalam hal ini PPIU yang berizin, namun apabila PPIU tersebut tidak berizin maka Kementerian Agama menyarankan agar Jemaah melapor kepada pihak Kepolisian.

Dalam proses penyelesaian kasus Jemaah umrah Kementerian Agama melakukan koordinasi dengan melibatkan pihak-pihak terkait, apabila di internal Kemenag maka pihak tersebut adalah Inspektorat Jenderal (Itjen) Kemenag RI, dan apabila diluar Kementerian Agama maka berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan, Kementerian Luar Negeri, dan Kementerian Imigrasi. Artinya apabila terjadi permasalahan maka Kementerian Agama melibatkan Inspektorat Jenderal dan bekerjasama dengan Kementerian Luar Negeri apabila Tempat Kejadian Perkara (TKP) terjadi di Luar Negeri, selain itu dapat melibatkan

 

Kementerian Perhubungan dalam hal ini Ditjen Perhubungan Udara dengan cara pihak Kemenag melakukan komunikasi dengan pihak Kementerian perhubungan apabila permasalahannya terjadi dalam hal perhubungan karena penyelenggaraan umrah menggunakan maskapai udara.

Apabila permasalahannya terkait Jemaah yang over stay seperti Jemaah yang tidak dapat pulang maka dalam hal ini pihak Kemenag berkoordinasi dengan Kementerian Imigrasi.107

Dalam perkembangannya, banyaknya jumlah korban jemaah umrah yang mencapai ribuan yang menjadi korban penipuan serta besarnya kerugian apabila cuma menghukum pelaku dengan kurungan badan dalam waktu tertentu dianggap suudah tidak mencerminkan rasa keadilan bagi para korban. Disisi lain minimnya hukuman tidak membuat efek jera, maka pemidanaan dengan instrumen UU Haji, UUPK dan KUHP masih kurang optimal.

Oleh karena itu semakin mendesak untuk menambah pemidanaan penipuan umrah dengan Undang-Undang Nomor 8 tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU), sehingga aset hasil penipuan dapat dirampas sebagaimana disuarakan oleh Komnas Haji Indonesia.108 Hal ini mengingat jemaah umrah adalah calon tamu-tamu Allah yang mestinya lebih dihargai. Langkah semacam ini telah diterapkan oleh

107 Tree Agung Nugroho, Kepala Seksi Identifikasi dan Penanganan Masalah Ibadah Umrah, wawancara Pribadi, Tanggal 25 Januari 2018, Pukul 13.30 – 14.00 WIB.

108. Komnas Haji: Harta Pelaku Penipuan Umrah Harus Dirampas, tersedia di http://hajiumrahnews.com/2016/05/20/komnas-haji-harta-pelaku-penipu-umrah-harus-dirampas-agar-jera/, diakses 20 Mei 2016.

 

Polda Metro Jaya dalam kasus dugaan penipuan umrah oleh PT Lasantu Sentosa terhadap 437 jemaah umrah dengan kerugian mencapai Rp 5,8 miliar. Selain menangkap direksi dan komisarisnya, penyidik menerapkan UU TPPU dengan menyita 30 unit taksi yang diduga berasal dari uang jemaah.109 Langkah Polda Metro Jaya semestinya diikuti oleh aparat kepolisian di wilayah lainnya.110

Secara konseptual dan normatif sesungguhnya regulasi penyelenggaraan ibadah umrah cukup memadai untuk memberikan jaminan perlindungan kepada jemaah umrah.

Hanya saja belum detail dan rinci sebagaimana aturan yang diberlakukan dalam penyelenggaraan haji khusus yang sama-sama dijalankan oleh pihak swasta. Disisi lain aturan tersebut bobot dan daya ikatnya masih sektoral karena diatur pada level Peraturan Menteri Agama (PMA) yang berdasarkan tata urut pembentukan peraturan perundang-undangan kurang kuat dan memliki daya ikat yang kurang luas. Sudah saatnya peraturan perlindungan terhadap jemaah umrah dinaikkan levelnya di tingkat undang-undang.

Selain itu yang perlu diperbaiki dalam tata kelola niaga umrah Kemenag sebabagi leading sector agar meningkatkan kerjasama lebih erat dan instens dengan pihak terkait seperti Kementerian Pariwisata, Kementerian Perdagangan, pihak

109.Pengusaha Taksi Ini Tipu 437 Jemaah Umrah Senilai Rp 5,8 M, tersedia di http://news.detik.com/berita/3214360/pengusaha-taksi-ini-tipu-437-jemaah-umrah-senilai-rp-58-m, diakses 23 November 2017.

110 Mustolih Siradj, Makalah Peneleitian Perlindungan Hukum Terhadap Jema’ah Umroh

 

imigrasi dan Kementerian Luar Negeri serta kepolisian. Sebab penananganan pesoalan umrah tidak bisa berjalan sendiri tetapi melibatkan lintas kementerian dan instansi. Termasuk dengan negara penyelenggara umrah yakni Arab Saudi.

Karena umrah sekarang ini melibatkan persoalan yang sangat kompleks.

4. Bentuk Sanksi Administrasi dan Hukum

Banyaknya masalah pada penyelenggaraan ibadah umrah tidak terlepas dari lemahnya kebijakan mengenai Penyelenggaraan perjalanan ibadah umrah sebagai contoh pada Pasal 3 PMA no 18 Tahun 2015 disebutkan bahwa “Perjalanan Ibadah Umrah bertujuan untuk memberikan pembinaan, pelayanan, dan perlindungan yang sebaik-baiknya kepada jemaah, sehingga jemaah dapat menunaikan ibadahnya sesuai ketentuan syariat islam,”111 namun pada kenyataannya dalam beberapa temuan masih ada permasalahan adanya jemaah umrah yang terlantar, gagal berangkat, terkena penipuan, dan lain sebagainya, hal ini membuktikan bahwa kebijakan tersebut masih memiliki kelemahan karena masih banyak PPIU yang melanggar kebijakan yang telah ditetapkan yang akhirnya jemaah terganggu ketika melaksanakan ibadah umrah dan Kementerian agama menerapkan sanksi administrasi kepada PPIU yang melakukan pelanggaran berupa peringatan, pembekuan, dan yang terberat adalah pencabutan.112

111 Pasal 3 PMA no 18 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Perjalanan Ibadah Umrah

112 Tree Agung Nugroho, Kepala Seksi Identifikasi dan Penanganan Masalah Ibadah Umrah, wawancara Pribadi, Tanggal 25 Januari 2018, Pukul 13.30 – 14.00 WIB.

 

PPIU wajib memberikan pelayanan kepada Jemaah umrah meliputi:

a. Bimbingan ibadah umrah;

b. Transportasi Jemaah umrah;

c. Akomodasi dan konsumsi di Arab Saudi;

d. Kesehatan Jemaah umrah;

e. Perlindungan Jemaah umrah dan Petugas umrah;

f. Administrasi dan dokumen umrah.113

Bimbingan kepada Jemaah umrah dilakukan sebelum keberangkatan, selama di perjalanan, dan selama di Arab Saudi.

Bimbingan yang diberikan kepada Jemaah umrah dilakukan oleh petugas yang diangkat oleh PPIU sesuai standar yang di tetapkan oleh Menteri. 114 Selain itu PPIU juga diwajibkan memberikan pelayanan transportasi dari dan ke Arab Saudi dan selama di Arab Saudi dengan wajib memperhatikan aspek kenyamanan, keselamatan, dan keamanan.115 Pelayanan akomodasi wajib dilakukan oleh PPIU dengan menempatkan Jemaah umrah di penginapan yang layak, adapun pelayanan konsumsi diberikan kepada Jemaah dengan memperhatikan standar menu, higienitas, dan kesehatan.116 Pelayanan kesehatan diberikan kepada Jemaah umrah dilakukan sesuai dengan

113 Pasal 58 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 79 Tahun 2012 Tentang Pelaksanaan Undang-undang No 13 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji

114 Pasal 59 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 79 Tahun 2012 Tentang Pelaksanaan Undang-undang No 13 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji

115 Pasal 60 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 79 Tahun 2012 Tentang Pelaksanaan Undang-undang No 13 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji

116 Pasal 61 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 79 Tahun 2012 Tentang Pelaksanaan Undang-undang No 13 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji

 

ketentuan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi, 117 adapun perlindungan Jemaah dan Petugas umrah menjadi tanggung jawab PPIU dengan memberikan asuransi jiwa, kesehatan, dan kecelakaan yang mana besaran pertanggungannya diatur dalam Peraturan Menteri.118 Pelayanan administrasi dan dokumen umrah wajib dilakukan PPIU dalam bentuk:

a. Melakukan pengurusan dokumen perjalanan umrah dan visa bagi Jemaah umrah

b. Melaporkan keberangkatan Jemaah umrah kepada Menteri c. Melaporkan kedatangan dan kepulangan Jemaah umrah dari

dan ke Arab Saudi kepada Kepala Kantor Misi Haji Indonesia di Arab Saudi

d. Melaporkan pelaksanaan Penyelenggaraan Ibadah Umrah kepada Menteri.119

PPIU apabila tidak memberikan pelayanan sesuai dengan apa yang uraikan di atas, maka Kementerian Agama memberikan sanksi administratif berupa peringatan tertulis, adapun apabila PPIU melakukan pengulangan terhadap pelanggaran maka Kementeraian Agama akan memberikan sanksi aministratif berupa pembekuan izin penyelenggaraan paling lama 2 (dua) tahun.

117 Pasal 62 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 79 Tahun 2012 Tentang Pelaksanaan Undang-undang No 13 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji

118 Pasal 63 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 79 Tahun 2012 Tentang Pelaksanaan Undang-undang No 13 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji

119 Pasal 64 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 79 Tahun 2012 Tentang Pelaksanaan Undang-undang No 13 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji

 

PPIU dilarang menelantarkan Jemaah umrah yang mengakibatkan Jemaah umrah gagal berangkat ke Arab Saudi, melanggar masa berlaku visa, terancam keamanan dan keselamatannya,120 apabila PPIU melanggar ketentuan tersebut maka Kementerian Agama memberikan sanksi administrative berupa pencabutan izin penyelenggaraan.121

Berikut tabel PPIU yang melanggar dan telah diberikan sanksi oleh Kemenag RI:

Tabel 4.1

PPIU yang diberikan Sanksi oleh Kemenag RI

No Nama PPIU Kasus/pelanggaran Sanksi Tahun 1 PT. Mediterania Pelaksanaan Undang-undang No 13 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji

121 Pasal 65 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 79 Tahun 2012 Tentang Pelaksanaan Undang-undang No 13 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji

 

Penelantaran Dan

Penipuan Umrah Pencabutan Izin 2017

8 PT Biro

Perjalanan Wisata Al-Utsmaniyah

Tours (Hanin Tours)

Penipuan Umrah Pencabutan Izin 2017

 

9 PT Interculture

15 PT. Maccadina Dinyatakan tidak Tidak diperpanjang (2015)

 

berlaku lagi Berdasarkan Hasil

Akreditasi

izin berdasarkan akreditasi

16 PT. Gema Arofah Dinyatakan tidak berlaku lagi

19 Pt. Maulana Dinyatakan tidak berlaku lagi

20 PT Al-Maha Tour Dinyatakan tidak Tidak diperpanjang 2017

 

& Travel berlaku berdasarkan Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah dilakukan oleh Pemerintah dan/

atau Biro Perjalanan wisata yang ditetapkan oleh Menteri.123 Hal ini dipertegas pula pada pasal 4 PMA No 18 tahun 2015 disebutkan bahwa Penyelenggaraan Perjalanan Ibadah Umrah dapat dilakukan oleh Pemerintah dan/ atau Biro Perjalanan Wisata yang ditetapkan oleh Menteri, dalam hal ini dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal yang mana ketentuannya ditetapkan

122 https://kemenag.go.id/berita/read/507435/sejak-2015--kemenag-beri-sanksi-26-travel-umrah, diakses pada Kamis, 3 Mei 2018, Pukul 15.00 WIB

123 Pasal 43 UU no 13 tahun 2008 Tentang penyelenggaraan Ibadah Haji

 

oleh Direktur Jenderal.124 Perihal penyelenggaraan umrah dalam UU no 13 tahun 2008 dan PMA no 18 tahun 2015 pada dasarnya sudah diatur sedemikian tegas dan rapi namun pada kenyataannya selama ini Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah hanya dilaksanakan oleh Biro Perjalanan Wisata namun artinya Pemerintah juga pada dasarnya dapat merealisasikan hal tersebut dengan menyelenggarakan perjalanan ibadah umrah seperti halnya biro perjalanan umrah lainnya karena sudah diatur secara legal. Artinya hal ini membuktikan dengan tidak ikut sertanya Pemerintah sebagai Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah bahwa kebijakan-kebijakan yang telah diatur dengan sedemikian rapi tidak dapat di realisasikan dengan baik.

124 Bab 2 Pasal 4 PMA No 18 Tahun 2015 tentang Psenyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah

 

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan analisis dari hasil penelitian dan pembahasan dalam skripsi ini maka penulis menyimpulkan sebagai berikut:

1. Efektivitas dan mekanisme perizinan, pengawasan dan pengendalian Kementerian Agama terhadap PPIU meliputi:

a. Mekanisme perizinan Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) merupakan proses pengajuan PPIU yang diajukan ke PTSP (Pelayanan Terpadu Satu Pintu) Kementerian Agama yang ditangani oleh petugas PTSP yang nantinya akan di proses sekitar satu sampai dua bulan sampai keluar izin sebagai PPIU dengan persyaratan yang telah ditentukan oleh Kementrian Agama. Mekanisme perizinan PPIU secara garis besar berjalan dengan efektif apabila proses pengajuannya berjalan dengan sesuai seperti sudah memiliki

a. Mekanisme perizinan Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) merupakan proses pengajuan PPIU yang diajukan ke PTSP (Pelayanan Terpadu Satu Pintu) Kementerian Agama yang ditangani oleh petugas PTSP yang nantinya akan di proses sekitar satu sampai dua bulan sampai keluar izin sebagai PPIU dengan persyaratan yang telah ditentukan oleh Kementrian Agama. Mekanisme perizinan PPIU secara garis besar berjalan dengan efektif apabila proses pengajuannya berjalan dengan sesuai seperti sudah memiliki

Dokumen terkait