• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Kewajiban Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah

2. Pelayanan Bimbingan Ibadah/Manasik Jemaah Umrah

Pelayanan bimbingan ibadah/manasik diatur pada pasal 10 huruf a PMA No 18 tahun 2015 bahwa salah satu kewajiban PPIU adalah memberikan pelayanan terkait bimbingan ibadah umrah.76 Pelayanan jemaah sebagaimana dimaksud dalam pasal 10 huruf a tersebut meliputi:

a. Pelayanan bimbingan umrah yang diberikan oleh pembimbing ibadah sebelum keberangkatan, dalam perjalanan, dan selama di Arab Saudi

b. Pelayanan bimbingan jemaah umrah meliputi materi bimbingan manasik dan perjalanan umrah

c. Pembimbing ibadah diangkat oleh PPIU, dan wajib memiliki standar kompetensi meliputi pengetahuan di bidang manasik haji/umrah dan telah melaksanakan haji/umrah

d. Materi bimbingan manasik dan perjalanan umrah berpedoman pada bimbingan manasik dan pejalanan haji dan umrah yang diterbitkan oleh Kemeterian Agama.77

3. Pelayanan Keberangkatan dan Pemulangan Jemaah Umrah Pelayanan keberangkatan dan pemulangan jemaah umrah diatur dalam Bab 13 pasal 45 ayat 1 huruf (b) UU No 13 Tahun 2008 yang berbunyi “Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah Wajib memenuhi ketentuan memberangkatkan dan memulangkan jemaah sesuai dengan masa visa umrah di Arab Saudi dan ketentuan peraturan perundang-undangan”.78 Selain itu

76 Pasal 10 huruf a Peraturan Menteri Agama no 18 tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Perjalanan Ibadah Umrah

77 Pasal 11 PMA no 18 tahun 2015 tentang penyelenggaraan Perjalanan Ibadah umrah.

78 Pasal 45 ayat 1 huruf b UU No 13 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji

 

Pelayanan Keberangkatan dan Pemulangan Jema‟ah Umrah juga diatur pada Bab 13 Pasal 36 ayat 2 huruf (e) Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 371 Tahun 2002 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah yang menyatakan bahwa Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah berkewajiban memberangkatkan, memulangkan dan memberikan pelayanan kepada jemaahnya sesuai dengan ketentuan ibadah umrah dan perjanjian yang disepakati kedua belah pihak meliputi hak dan kewajiban masing-masing.79

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa PPIU memiliki sejumlah kewajiban kepada jemaah umrah80 yaitu : a. Bimbingan ibadah umrah (manasik), dilakukan sebelum

berangkat dan selama di Arab Saudi yang diberikan oleh petugas yang memiliki standard kompetensi dan pernah memiliki pengalaman umrah ;

b. Transportasi jemaah umrah ke dan dari Arab Saudi (maksimal satu kali tansit dengan maskapai yang sama) serta selama di Arab Saudi dengan memperhatikan keselamatan, kenyamanan dan keamanan jemaah;

c. Akomodasi dan konsumsi selama di Arab Saudi. Konsumsi diberikan kepada jemaah sebelum dan selama di perjalanan dengan mempertimbangkan standard menu, higienitas dan kesehatan. Sedangkan akomodasi yang diberikan minimal hotel bintang tiga.

79 Kementrian Agama RI, Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Ibadah Haji, Himpunan Peraturan Perundang-undangan Tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji, 2011, hal 93

80. Lihat Pasal 58 PP Nomor 79 Tahun 2012 tentang Pelaksanaan UU Nomor 13 tahun 2008 tentang penyelenggaraan Perjalanan Ibadah Umrah dan pasal 10 -17 PMA Nomor 18 tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Perjalanan Ibadah Umrah.

 

d. Menjaga kesehatan jemaah umrah yaitu dengan penyediaan petugas kesehatan, obat-obatan dan pengurusan jemaah umrah selama di perjalanan dan di Arab Saudi;81

e. Perlindungan jemaah umrah dan petugas umrah melalui penyediaan asuransi jiwa, kesehatan dan kecelakaan (besarnya pertanggungan disesuaikan dengan disesuaikan dengan aturan asuransi perjalanan), pengurusan kehilangan dokumen selama proses perjalanan dan pengurusan jemaah yang meninggal sebelum tiba kembali di tempat domisili;

f. Administrasi dan dokumen umrah berupa visa jemaah dan dokumen bagi jemaah yang sakit, meninggal atau ghaib/hilang;

g. Melaporkan penyelenggaraan perjalanan umrah meliputi rencana perjalanan, pemberangkatan dan pemulangan dan laporan akhir tahun kepada Dirjen Penyelenggara Haji dan Umrah sebelum musim umrah berikutnya;82

4. Beberapa Aspek Pelayanan PPIU Yang Belum Sesuai Standar Pelayanan

Beberapa permasalahan dalam Penyelenggaraan Perjalanan Ibadah Umrah, yaitu adanya jemaah umrah yang terlantar, gagal berangkat, terkena penipuan, kurang tertib dalam pelaporan pemberangkatan, serta adanya rombongan umrah oleh kelompok bimbingan atau biro perjalanan wisata yang tidak memiliki izin sebagai PPIU, hal tersebut disebabkan beberapa hal antara lan:

81. Vaksinasi meningitis menjadi tanggungjawab pribadi dari jemaah. PPIU dapat memfasilitasi penyelenggaraan vaksinasi kepada para jemaah. Lihat pasal 15 angka (2) dan (3) PMA Nomor 18 tahun 2015 tentang tentang Penyelenggaraan Perjalanan Ibadah Umrah.

82. Pasal 19 PMA Nomor 18 tahun 2015 tentang tentang Penyelenggaraan Perjalanan Ibadah Umrah.

 

a. Adanya PPIU yang menawarkan biaya umrah murah tidak memperhitungkan biaya pelayanan yaitu tiket penerbangan yang nyaman, kesehatan jemaah, akomodasi, transportasi yang layak, asuransi dan sarana prasarana.

b. Hasil pemantauan di Bandara ditemukan adanya perusahaan, yayasan atau kelompok bimbingan yang tidak berhak sebagai Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah, tetapi memberangkatkan jemaah umrah dengan menonjolkan identitasnya.

c. Adanya PPIU yang melakukan kerjasama dan/atau memfasilitasi pengurusan visa jemaah umrah yang berasal dari biro perjalanan wisata, yayasan, kelompok bimbingan, atau keikutsertaan para pihak yang tidak memiliki izin sebagai PPIU melakukan kegiatan penyelenggaraan perjalanan ibadah umrah.

d. Hasil pemantauan di bandara bahwa masih di temukan PPIU yang memberangkatkan belum menyelesaikan dokumen administrasi yaitu tidak membuat laporan keberangkatan melalui aplikasi online.

e. Sesuai hasil monitoring KUH Jeddah yang dilaporkan kepada Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah ditemukan adanya jemaah umrah yang tidak memiliki tiket kembali, jadwal tiket dengan paket perjalanan yang tidak sama, jemaah diberikan akomodasi tidak sesuai perjanjian.

f. Sesuai laporan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia yang menjadi transit jemaah umrah, adanya jemaah umah yang tertunda keberangkatannya tidak mendapat pelayanan

 

yang layak, jemaah sakit tidak didampingi oleh petugas dari penyelenggara.

g. Hasil pemantauan dan klarifikasi hasil pengawasan diperoleh informasi adanya Provider visa dan PPIU yang mengurus/menjual visa kepada perusahaan atau yayasan yang tidak berhak sebagai PPIU.83

Dari uraian pemasalahan diatas penulis menyimpulkan bahwa permasalahan umrah yang terjadi selama ini tidak terlepas dari aspek pelayanan PPIU yang belum sesuai dengan standar dan mutu pelayanan, karena menurut Zeithmal dan Philip Kotler terdapat lima kriteria penentu mutu pelayanan, yaitu:

1) Reliability (keandalan), yaitu kemampuan untuk memberikan pelayanan yang tepat dan terpercaya.

2) Responsiveness (ketanggapan), yaitu kesediaan atau kemauan untuk membantu pelanggan dan memberikan pelayanan yang cepat.

3) Assurance (jaminan), yaitu pengetahuan dan kesopanan karyawan dan kemampuannya untuk memberikan rasa percaya dan keyakinan atas pelayanan yang diberikan kepada pelanggan. Dan komponen dari dimensi ini yaitu keramahan, kompetensi, dan keamanan.

4) Empathy (kepedulian), yaitu membina hubungan dan memberikan pelayanan serta perhatian secara individual pada pelanggannya.

83 Surat Edaran Ditjen PHU Kemenag RI kepada Kepala Kanwil Kemenag Provinsi seluruh Indonesia tentang Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Perjalanan Ibadah Umrah, Nomor DJ.VII/HJ.09/731/2015, 11 Februari 2015

 

5) Tangibles (keberwujudan), yaitu meliputi fasilitas fisik, peralatan, personil, dan media komunikasi yang dapat dirasakan langsung oleh pelanggan.84

C. Perlindungan Jemaah Umrah

1. Jaminan Kepastian Berangkat dan Pulang Jema’ah Umrah Keberangkatan dan pemulangan jemaah umrah diatur dalam Bab 13 pasal 45 ayat 1 huruf (b) UU No 13 Tahun 2008 yang berbunyi “Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah Wajib memenuhi ketentuan memberangkatkan dan memulangkan jemaah sesuai dengan masa visa umrah di Arab Saudi dan ketentuan peraturan perundang-undangan”.85 Terkait jaminan kepastian berangkat dan pulang jemaah umrah berbeda dengan jaminan pada perjalanan ibadah haji karena dari segi keuangan dan manajemennya diatur oleh Kementerian Agama sehingga kegagalan terkait keberangkatan dan kepulangan lebih kecil.

Sedangkan umrah sendiri dari segi keusangan dan manajemen diatur oleh Travel atau Biro Perjalanan Wisata yang mana ada semacam kemungkinan jemaah yang gagal berangkat untuk menjalankan ibadah umrah. Terkait hal tersebut, Kementerian Agama memberikan sanksi kepada PPIU yang gagal memberangkatkan jemaahnya, sanksi tersebut merupakan sanksi administrasi dari mulai peringatan, pembekuan sampai pencabutan. Dalam meminimalisir permasalahan umrah yang terjadi Kementerian agama sendiri mencanangkan gerakan Lima

84 Husein Umar, Riset Pemasaran dan Perilaku Konsumen, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2005, h.38-39.

85 Pasal 45 ayat 1 huruf b UU No 13 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji

 

Pasti Umrah, hal ini dilakukan untuk mengedukasi masyarakat agar lebih berhati-hati ketika memilih travel umrah.86

2. Jaminan Kesehatan dan Keamanan Selama Dalam Ibadah Umrah

a. Jaminan Kesehatan

Jaminan Kesehatan selama dalam ibadah umrah diatur pada Pasal 10 huruf d PMA No 18 Tahun 2015 disebutkan bahwa salah satu kewajiban PPIU adalah memberikan pelayanan kesehatan bagi Jemaah Umrah.87

Pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada pasal 10 huruf d meliputi :

1) Penyediaan Petugas Kesehatan 2) Penyediaan Obat-obatan

3) Pengurusan bagi Jemaah Umrah yang sakit selama di perjalanan dan di Arab Saudi.88

Selain itu pada pasal 15 PMA No 18 Tahun 2015 menyebutkan bahwa:

1) Setiap jemaah wajib melakukan vaksinasi meningitis 2) Vaksinasi meningitis sebagaimana dimaksud pada ayat

(1), menjadi tanggung jawab jemaah secara individu 3) PPIU dapat memfasilitasi vaksinasi meningitis Jemaah

86 Tree Agung Nugroho, Kepala Seksi Identifikasi dan Penanganan Masalah Ibadah Umrah, Wawancara Pribadi, Pada Kamis, 25 Januari 2018 (13.30-14.00)

87 pasal 10 huruf d Peraturan Menteri Agama no 18 tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Perjalanan Ibadah Umrah

88 Pasal 13 Peraturan Menteri Agama No 18 Tahun 2015 Tentang Penyelenggaraan Perjalanan Ibadah Umrah

 

4) Dalam hal PPIU memfasilitasi pemberian vaksinasi meningitis pada para jemaah, wajib mengacu pada peraturan perundang-undangan.89

b. Jaminan Keamanan

Jaminan Keamanan selama dalam ibadah umrah diatur dalam Pasal 10 huruf e PMA No 18 Tahun 2015 disebutkan bahwa salah satu kewajiban PPIU adalah memberikan perlindungan jemaah umrah dan petugas umrah.90

Pelayanan jemaah umrah dan petugas umrah sebagaimana dimaksud dalam pasal huruf e wajib dilakukan oleh PPIU meliputi

1) Asuransi jiwa, kesehatan, dan kecelakaan

2) Pengurusan dokumen jemaah yang hilang selama perjalanan ibadah

3) Pengurusan jemaah yang meninggal sebelum tiba kembali di tempat domisili

Adapun besaran pertanggung jawaban asuransi atau nilai manfaat sebagaimana dimaksud diatas disesuaikan dengan ketentuan dalam asuransi perjalanan.91

3. Jaminan Terselenggaranya Ibadah Umrah Sesuai Paket Program PPIU

Pada pasal 45 ayat 1 huruf (c) UU No 13 Tahun 2008 disebutkan bahwa PPIU wajib memberikan pelayanan kepada

89 Pasal 15 PMA No 18 Tahun 2015 Tentang Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah

90 Pasal 10 huruf e Peraturan Menteri Agama No 18 Tahun 2015 Tentang Penyelenggaraan Perjalanan Ibadah Umrah

91 Pasal 16 Peraturan Menteri Agama No 18 Tahun 2015 Tentang Penyelenggaraan Perjalanan Ibadah Umrah

 

jemaah umrah sesuai dengan perjanjian tertulis yang disepakati antara penyelenggara dengan jemaah.92 Ditjen PHU pada dasarnya juga mengatur bahwa setiap PPIU diwajibkan untuk membuat kesepakatan dengan Jemaahnya terkait program paket ibadah umrah. Ketika PPIU telah mendapatkan Jemaah umrah maka harus ada kontrak kesepakatan yang di tanda tangani oleh kedua belah pihak baik hotel, pesawat, konsumsi dan lain sebagainya.

Pada saat di bandara Ditjen PHU mengadakan pengawasan kepada PPIU yang berangkat dan melihat sejauh mana PPIU mentaati aturan-aturan yang telah di tetapkan oleh Kementerian Agama, dan disana pihak Ditjen PHU menanyakan kepada PPIU terkait penanggung jawab keberangkatan dan menanyakan apakah keberangkatan tersebut sudah melapor atau belum ke Kementerian Agama, berapa paketnya, berapa lama disana, nama pesawatnya apa, dan lain sebagainya. Dari pengawasan tersebut terkadang Ditjen PHU dapat mendeteksi dini terjadinya pelanggaran-pelanggaran atau minimal dapat mendeteksi jemaah yang berangkat yang hanya mengetahui tiket keberangkatannya saja namun tidak mengetahui terkait tiket kepulangannya, disitulah Ditjen PHU mencari tahu dan memastikan bahwa tiket kepulangan jemaah sudah ada.93

92 Pasal 45 ayat 1 huruf (c) UU No 13 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji

93 Tree Agung Nugroho, Kepala Seksi Identifikasi dan Penanganan Masalah Ibadah Umrah, wawancara Pribadi, Tanggal 25 Januari 2018, Pukul 13.30 – 14.00 WIB.

 

D. Jenis Kasus dan Solusi dalam Penyelenggaraan Ibadah Umrah 1. Kasus Yang Menimpa Jemaah Umrah

Beragam upaya dilakukan Kementerian Agama dalam rangka memberikan perlindungan dan pelayanan kepada Jemaah umrah, namun demikian sejumlah masalah masih mewarnai dalam penyelenggaraannya.

Selama ini Kementerian Agama menangani kasus yang menimpa Jemaah umrah mulai dari gagal berangkat, tidak keluarnya visa, sampai tidak ada tiket kepulangan, namun apabila ranahnya pidana seperti penipuan dan penggelapan maka hal tersebut ditangani oleh pihak kepolisian. Dengan demikian apabila laporan kasus Jemaah umrah terkait dengan ranahnya Kementerian Agama maka akan ditangani oleh Pihak Kemenag, akan tetapi apabila kasus tersebut ranahnya pidana maka ditangani oleh pihak Kepolisian dengan meminta saksi ahli dari Kementerian Agama dan Jemaah langsung dapat melapor kepada pihak Kepolisian.94

Penulis mewawancarai korban kasus gagal berangkat dari travel Solusi Balad Lumampah (SBL) yaitu saudara Apipudin salah satu Alumni Jurusan Manejemen Dakwah. Beliau mendaftar bersama keluarga dan tetangganya ke travel tersebut lewat agen travel SBL yang menawarkan di kampung sebelah rumahnya di kawasan Kabupaten Tangerang. Apip pertama membayar uang daftar sebesar satu juta rupiah (Rp.1000.000), selanjutnya membayar lima juta rupiah (Rp.5.000.000) untuk memesan seat dan diberitahu jadwal keberangkatan. Apip mengambil paket

94 Ibid

 

umrah dari travel SBL senilai dua puluh satu juta lima ratus ribu rupiah (Rp.21.500.000) dan djanjikan ganti rugi senilai tujuh belas juta rupiah (Rp. 17.000.000) namun sampai hari ini baru mendapat ganti kerugian senilai delapan juta rupiah (Rp.8000.000).95

2. Jenis Kasus (Pelanggaran) Penyelenggara Umrah

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa Kementerian Agama sudah menangani kasus dalam ibadah umrah mulai dari gagal berangkat, tidak keluarnya visa, sampai tidak ada tiket kepulangan. Adapun jenis kasus (pelanggaran) yang dilakukan oleh Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) antara lain:

1. PT Mediterania Travel, kasus penelantaran jemaah pada tahun 2015;

2. PT Mustaqbal Lima, kasus penelantaran jemaah pada tahun 2015;

3. PT Kopindo Wisata, kasus penelantaran Jemaah pada tahun 2015;

4. PT Diva Sakinah, kasus penipuan dan penggelapan uang jemaah pada tahun 2016 ;

5. PT Hikmah Sakti Perdana, kasus penipuan dan penggelapan uang Jemaah pada tahun 2016;

6. PT Timur Sarana Tour & Travel (Tisa Tour), kasus gagal memberangkatkan Jemaah pada tahun 2016;

7. PT First Anugrah Karya Wisata (First Travel), kasus penipuan umrah pada tahun 2017;

95 Apipudin, Korban Gagal Berangkat Travel SBL, Wawancara Pribadi, 28 April 2018, pukul 16.00-16.30 WIB

 

8. PT Biro Perjalanan Wisata Al-Utsmaniyah Tours (Hanin Tours), kasus penipuan umrah pada tahun 2017.96

Pada tahun 2018 setidaknya ada empat travel yang memiliki kasus dan dikenai sanksi oleh Kementerian Agama antara lain:

1. PT Amanah Bersama Ummat (Abu Tours), kasus gagal memberangkatkan jemaah

2. Solusi Balad Lumampah (SBL), kasus gagal memberangkatkan jemaah

3. Mustaqbal Prima Wisata, kasus gagal memberangkatkan Jemaah

4. Interculture Tourindo, kasus gagal memberangkatkan Jemaah

Keempat PPIU yang disebutkan di atas telah di berikan sanksi oleh Kementerian Agama berupa pencabutan izin sebagai PPIU karena terbukti gagal memberamgkatkan Jemaah. Khusus untuk Interculture dianggap tidak lagi memiliki kemampuan finansial sebagai PPIU, disebabkan bank garansinya di sita oleh pihak kepolisian terkait kasus First Travel, Intelculture sendiri merupakan PPIU yang berafiliasi dengan First Travel.97 Lebih lengkapnya terkait kasus PPIU beserta sanksinya bias dilihat di halaman 75.

96 https://kemenag.go.id/berita/read/507435/sejak-2015--kemenag-beri-sanksi-26-travel-umrah, diakses pada Kamis, 3 Mei 2018, Pukul 15.00 WIB

97 http://www.harnas.co/2018/03/28/paket-umrah-murah-diantisipasi, diakses pada Selasa, 01 Mei 2018, Pukul 15:14 WIB

 

3. Penyelesaian Kasus Jemaah Umrah

Sebagaimana diatur Pasal 58 PP Nomor 79 Tahun 2012 tentang Pelaksana Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Pasal 10 PMA Nomor 18 tahun 2015 tentang tentang Penyelenggaraan Perjalanan Ibadah Umrah PPIU memiliki sejumlah kewajiban yang harus diberikan kepada kepada jemaah umrah 98 yaitu :

a. Bimbingan ibadah umrah (manasik);

b. Transportasi jemaah umrah;

c. Akomodasi dan konsumsi.

d. Kesehatan jemaah umrah

e. Perlindungan jemaah umrah dan petugas umrah;

f. Administrasi dan dokumen umrah

Maka apabila layanan tersebut ternyata tidak didapatkan atau layanan ternyata tidak sesuai dengan perjanjian maupun berbeda dengan promo yang dilakukan oleh PPIU, maka jemaah umrah dapat menempuh beberapa cara dan instrumen hukum kepada PPIU :

1) Pendekatan hukum administrasi

Jemaah dapat melaporkan pelanggaran atau layanan PPIU kepada pemerintah sebagai pengawas yakni Kementerian Agama. Kemenag akan merespon dan biasanya mengklarifikasi kepada PPIU selaku terlapor tentang duduk masalah yang sebenarnya. Apabila

98. Lihat Pasal 58 PP Nomor 79 Tahun 2012 tentang Pelaksanaan UU Nomor 13 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Perjalanan Ibadah Haji dan pasal 10 -17 PMA Nomor 18 tahun 2015 tentang tentang Penyelenggaraan Perjalanan Ibadah Umrah.

 

ditemukan pelanggaran maka secara administrasi PPIU akan dikenakan sanksi99 berupa peringatan terulis.

Peringatan tertulis oleh Menteri Agama apabila PPIU tidak melaksanakan beberapa ketentuan yaitu layanan transportasi dari dan ke Arab Saudi (dengan mempertimbangkan kenyamanan, keselamatan, dan keamanan), pelayanan akomodasi berupa penginapan yang layak, pengurusan dokumen perjalanan umrah dan visa bagi jemaah umrah, pelaporan keberangkatan jemaah umrah kepada Menteri, laporkan kedatangan dan kepulangan jemaah umrah dari dan ke Arab Saudi kepada Kepala Kantor Misi Haji Indonesia di Arab Saudi, laporan pelaksanaan Penyelenggaraan Ibadah Umrah kepada Menteri.100 pembekuan izin penyelenggaraan maksimal selama 2 (dua) tahun,101 dan pencabutan izin penyelenggaraan102 sesuai tingkat kesalahannya. Sejauh ini pihak Kementerian Agama telah mencabut izin 3 (tiga) izin PPIU yaitu PT Mediterania Travel, PT Mustaqbal Lima Wisata, PT Kopindo Wisata, beberapa lainnya PT Mulia Wisata Abadi, PT Sanabil Madinah Barokah, PT Al-Aqsha Jisru Dakwah, PT Pandi Kencana Murni, dan PT Muaz Barakat Safari dikenakan peringatan tertulis. Peranan

99. Pasal 6 ayat 1 UU Haji

100 Lihat Pasal 68 ayat 1 UU Haji.

101.Pembekuan dilakukan apabila terjadi pengulangan atas pelanggaran yang telah diberikan peringatan tertulis. Lihat pasal 68 ayat 2 UU Haji.

102. Pencabutan izin dilakukan apabila PPIU melakukan kesalahan berupa gagal berangkat ke Arab Saudi, melanggar masa berlaku visa, terancam keamanan dan keselamatannya.

 

Kementerian Agama sangat penting selain sebagai pengawas juga memberikan izin penerbitan izin dan kontrol standar layanan PPIU kepada jemaah umrah.

2) Pendekatan hukum perdata (litigasi)

Saluran hukum yang dapat ditempuh oleh jemaah umrah adalah mensengketakan PPIU melalui institusi pengadilan (litigasi). Jika seorang konsumen haknya terganggu dan menyebabkan kerugian, maka jemaah umrah dapat mengajukan gugatan ke pengadilan dengan mengajukan gugatan perdata (wanprestasi/perbuatan melawan hukum) untuk mempertahankan dan mendapatkan kembali haknya. Tentu saja bersengketa di pengadilan harus tunduk dan patuh pada mekanisme dan ketentuan-ketentuan sebagai mana diatur dalam penyelesaian sengketa keperdataan pada umumnya.103 Kelemahannya di pengadilan prosesnya berlangsung lama dan memakan biaya yang tidak sedikit.

3) Pendekatan hukum perlindungan konsumen

Sama dengan jalur perdata, mekanisme penyelesaian sengketa dalam Undang-Undang Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (UUPK) juga dapat menggunakan jalur pengadilan (litigasi) sebagai penyelesaian sengketa. Tetapi UUPK juga menawarkan alternatif lain, apabila konsumen (jemaah umrah) merasa keberatan dengan proses litigasi maka bisa melalui jalur Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) yang dapat dikategorikan sebagai instrumen penyelesaian

103. Janus Sidabalok, Op. Cit., h. 58.

 

sengketa di luar pengadilan (alternative dispute resulution)104 melalui konsiliasi, mediasi dan arbitrase sebagaimana diatur Pasal 49 ayat 1dan Pasal 54 ayat 2 UUPK. Panel mejelis nantinya terdiri dari unsur pelaku usaha, konsumen dan pemerintah.

4) Pendekatan hukum pidana

Penyelesaian sengketa melalui jalur pidana haruslah dipahami sebagai langkah terakhir (ultimum remedium) dalam penyelesaian sengketa umrah, sebab persoalan umrah tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek ibadah.

Akan tetapi pada umumnya jemaah umrah bersedia menempuh jalur musyawarah dan mediasi, namun apabila jalur ini sudah tidak memberikan solusi pemidanaan bisa menjadi langkah terakhir dengan melapor ke pihak penegak hukum (kepolisian). Dalam UU Haji sendiri ancaman pidana ditujukan kepada travel/biro perjalanan yang tidak memiliki izin menyelenggarakan umrah diancam dengan pidana paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500 juta.105

Ancaman pidana juga berlaku bagi PPIU tetapi tidak memberikan fasilitas dan pelayanan kepada jemaah umrah sebagaimana telah yang telah disepakati berupa pidana penjara selama 6 (enam) tahun dan/atau denda Rp 1 milyar.106 Ketentuan pidana dalam penyelenggaraan umrah juga bisa dikaitkan dengan UUPK sebagaimana diatur

104. Yusuf Shofie, Penyelesaian Sengketa Konsumen Menurut Undang-Undang Perlindungan Konsumen, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2003) h. 27.

105. Pasal 63 ayat (2) UU Haji.

106. Pasal 64 ayat (2) UU Haji

 

dalam pasal 62 UUPK bilamana PPIU merugikan jemaah.

PPIU juga dapat dijerat dengan Pasal 378 KUHP atas dasar tindak pidana penipuan, yakni secara melawan hukum dengan tipu muslihat, rangkaian kebohongan, dan menggerakkan calon jemaah haji/umrah untuk menyerahkan sesuatu kepadanya (misalnya mentransfer sejumlah uang) dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan melawan hak.

Kementerian Agama dalam menyelesaikan kasus Jemaah umrah yaitu dengan cara memeriksa laporan yang diterima dari Jemaah yang tertimpa kasus dengan mempelajari bukti-bukti dari laporan yang diterima oleh pihak Kemenag.

Apabila telah ditemukan bukti maka pihak Kemenag memanggil pihak-pihak terkait dalam hal ini PPIU yang berizin, namun apabila PPIU tersebut tidak berizin maka Kementerian Agama menyarankan agar Jemaah melapor kepada pihak Kepolisian.

Dalam proses penyelesaian kasus Jemaah umrah Kementerian Agama melakukan koordinasi dengan melibatkan pihak-pihak terkait, apabila di internal Kemenag maka pihak tersebut adalah Inspektorat Jenderal (Itjen) Kemenag RI, dan apabila diluar Kementerian Agama maka berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan, Kementerian Luar Negeri, dan Kementerian Imigrasi. Artinya apabila terjadi permasalahan maka Kementerian Agama melibatkan Inspektorat Jenderal dan bekerjasama dengan Kementerian Luar Negeri apabila Tempat Kejadian Perkara (TKP) terjadi di Luar Negeri, selain itu dapat melibatkan

 

Kementerian Perhubungan dalam hal ini Ditjen Perhubungan Udara dengan cara pihak Kemenag melakukan komunikasi dengan pihak Kementerian perhubungan apabila permasalahannya terjadi dalam hal perhubungan karena penyelenggaraan umrah menggunakan maskapai udara.

Kementerian Perhubungan dalam hal ini Ditjen Perhubungan Udara dengan cara pihak Kemenag melakukan komunikasi dengan pihak Kementerian perhubungan apabila permasalahannya terjadi dalam hal perhubungan karena penyelenggaraan umrah menggunakan maskapai udara.

Dokumen terkait