• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

5. Jaminan Kesehatan Nasional

Funsi utama dari pemerintah ialah mengatur, memerintah, menyediakan fasilitas, serta memberikan pelayanan kepada masyarakat. Tidak ada organisasi lain dalam negara yang lebih tinggidari organisasi pemerintah itu. Sesungguhnya fungsi utamanya adalah memberi pelayanan. Pelayanan hendaknya ditafsirkan dalam arti yang seluas luasnya. Seorang bayi yang masih berada dikandungan ibunya, sudah memerlukan perawatan pemeriksaan secara teratur sampai ia lahir secara terhormat dalam sebuah rumah sakit atau rumah sakit bersalin. Sejak ia lahir sampai ia menjadi dewasa, menikah, mengunjak masa senja, dan kembali ke panggkuan ibu pertiwi, ia memerlukan pelayanan yang tidak habis-habisnya.

Sandang, pangan, perkawinan, perumahan, pendidikan, kesehatan, air, lapangan kerja, transportasi, penerangan, jaminan hari tua,asuransi ketentraman hidup, keamanan dan keselamatan, fasilitas perbankan, dan tak terhitung jumlah kebutuhan yang pelu di beri perhatian. Salusu (2005 : 8)

Jaminan Kesehatan Nasional merupakan pola pembiayaan pra-upaya, artinya pembiayaan kesehatan yang dikeluarkan sebelum atau tidak dalam kondisi sakit. Pola pembiayaan pra-upaya menganut hukum jumlah besar dan perangkuman risiko. Supaya risiko dapat disebarkan secara luas dan direduksi secara efektif, maka pola pembiayaan ini membutuhkan jumlah besar peserta.

Oleh karena itu, pada pelaksanaannya, Jaminan Kesehatan Nasional mewajibkan seluruh penduduk Indonesia menjadi peserta agar hukum jumlah besar tersebut dapat dipenuhi. Perangkuman risiko terjadi ketika sejumlah individu yang berisiko sepakat untuk menghimpun risiko kerugian dengan tujuan mengurangi

beban (termasuk biaya kerugiam/klaim) yang harus ditanggung masing-masing individu.(Azwar Murti, 2008:11)

Peserta Jaminan Kesehatan Nasional dibedakan menjadi 2 kelompok, yaitu : a. Penerima bantuan iuran, yang meliputi fakir miskin dan orang tidak

mampu.

b. Bukan penerima bantuan iuran, yang meliputi pekerja formal dan informal beserta keluarganya.

Penerapan Jaminan Kesehatan Nasional juga dapat mempengaruhi perilaku sehat peserta jaminan, Adanya iuran seringkali dipersepsikan salah oleh peserta jaminan; mereka akan merasa rugi apabila telah membayar iuran namun tidak bisa memanfaatkannya karena tidak menderita suatu penyakit. Peserta akan sulit sekali diajak untuk menjalankan perilaku sehat dalam rumah tangganya.

Dengan demikian, menumbuhkembangkan perilaku sehat kepada masyarakat dalam konteks penyelenggaraan jaminan kesehatan merupakan keharusan untuk dilaksanakan secara terstruktur dan berkesinambungan. Untuk menumbuhkembangkan perilaku sehat secara terstruktur dan berkesinambungan, pengelola jaminan kesehatan nasional dapat memanfaatkan 6 komponen motivasi dari pendekatan health belief model.(Purwoko, 2012:9).

Komponen pertama adalah bagaimana memunculkan persepsi kerentanan pada peserta dengan menumbuhkan pemahaman dan keyakinan bahwa perilaku tidak sehat akan menghasilkan derajat risiko yang besar sekalipun biaya

pengobatan sudah dijamin. Misalnya dengan memberikan ilustrasi mengenai besarnya kehilangan pendapatan akibat proses penyembuhan.

Komponen kedua adalah bagaimana memunculkan persepsi keparahan pada peserta dengan menumbuhkan tingkat kepercayaan yang tinggi bahwa perilaku tidak sehat berhubungan dengan derajat keparahan penyakit. Misalnya dengan memberikan ilustrasi mengenai pentingnya imunisasi.

Komponen ketiga dan keempat adalah bagaimana memunculkan persepsi manfaat dan meniadakan persepsi hambatan pada peserta dengan menunjukkan hasil-hasil positif apabila peserta menjalankan perilaku sehat dan sebaliknya menunjukkan hasil-hasil negatif apabila peserta tidak menjalankan perilaku sehat. Misalnya dengan perilaku sehat dapat meningkatkan konsentrasi pada anak sehingga dapat meningkatkan prestasi belajarnya, sebaliknya apabila anak tidak menjalankan perilaku sehat maka jika sakit berarti sang anak tidak bisa mengikuti pelajaran sehingga prestasi belajar bisa terhambat.

Komponen kelima adalah bagaimana menyusun petunjuk bagi peserta melalui suatu peristiwa eksternal yang dapat memotivasinya untuk bertindak.

Beberapa kegiatan bisa dirancang untuk tahapan ini, misalnya melalui lomba rumah sehat, balita sehat, dan lain sebagainya.

Komponen keenam adalah bagaimana membangkitkan efikasi diri pada peserta untuk meyakinkan bahwa dirinya mampu menjalankan perilaku sehat.

Perubahan perilaku tentunya tidak bisa terjadi sekaligus namun bertahap, oleh

karena itu penting untuk memberi kesempatan pada peserta untuk melaksanakan perilaku hidup sehat sesuai kemampuannya. Penyediaan lembar informasi brosur/ buklet akan sangat membantu pada tahapan ini.

Penyesuaian tentunya harus senantiasa dilakukan, penerapan health belief model dalam pelaksanaan perilaku sehat mungkin perlu dilakukan pentahapan

tergantung situasi kondisi yang dihadapi. Misalnya tahap yang menjadi target tahap pertama adalah mencuci tangan dengan sabun, kemudian menggosok gigi sebelum tidur dan seterusnya.

Bercermin pada permasalahan tersebut di atas maka penerapan health belief model dalam mendukung terbentuknya perilaku sehat, harus dilakukan

secara aktif. Pelayanan promotif-preventif Jaminan Kesehatan Nasional harus diberikan pada setiap peserta tanpa menunggu penderita datang ke fasilitas pelayanan kesehatan di kala mereka sakit. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial harus dapat memastikan bahwa kunjungan rumah juga dilakukan (misalnya dengan bekerja sama dengan Puskesmas setempat), untuk memastikan setiap peserta telah (senantiasa) menjalankan perilaku sehatnya.

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial juga harus memastikan bahwa kegiatan penyuluhan perorangan harus dilakukan oleh setiap pemberi pelayanan (provider) yang sedapat mungkin melibatkan kepala keluarga sehingga perilaku sehat tidak diterapkan secara individu namun secara bersama-sama dalam suatu rumah tangga (sebagaimana yang ditempuh oleh program perilaku hidup bersih dan sehat. (Isman, 2007:18)

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial juga harus mengidentifikasi program-program / kegiatan-kegiatan yang dapat menunjang pelaksanaan perilaku sehat pada peserta Jaminan Kesehatan Nasional (seperti Program Perilaku Bersih dan Sehat, Program Perawatan Kesehatan Masyarakat, Posyandu, Posbindu, dan lain sebagainya). Melalui kegiatan identifikasi tersebut dapat dilakukan sinergi pelayanan promotif-preventif sehingga akan lebih mudah dalam mencapai terlaksananya perilaku sehat pada peserta Jaminan Kesehatan Nasional.

6. Mekanisme Program Jaminan Kesehatan Nasional 1. Karakteristik

a) Diselenggarakan secara nasional berdasarkan prinsip asuransi sosial dan prinsip ekuitas (UU No. 40 Tahun 2004 Pasal 19 ayat 1).

1. Prinsip asuransi sosial meliputi (UU No. 40 Tahun 2004 Penjelasan Pasal 19 ayat 1):

a. kegotongroyongan antara peserta kaya dan miskin, yang sehat dan sakit, yang tua dan muda, serta yang beresiko tinggi dan rendah b. kepesertaan bersifat wajib dan tidak selektif

c. iuran berdasarkan persentase upah/penghasilan untuk peserta penerima upah atau suatu jumlah nominal tertentu untuk peserta yang tidak menerima upah

d. dikelola dengan prinsip nir-laba, artinya pengelolaan dana

digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan peserta dan setiap

surplus akan disimpan sebagai dana cadangan dan untuk peningkatan manfaat dan kualitas layanan.

2. Prinsip ekuitas (UU No. 40 Tahun 2004 Penjelasan Pasal 19 ayat 1 ) yaitu kesamaan dalam memperoleh pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis yang tidak terkait dengan besaran iuran yang telah dibayarkan.

Prinsip ini diwujudkan dengan pembayaran iuran sebesar prosentase tertentu dari upah bagi yang memiliki penghasilan (UU No. 40 Tahun 2004 Pasal 17 ayat 1) dan pemerintah membayarkan iuran bagi mereka yang tidak mampu (UU No. 40 Tahun 2004 Pasal 17 ayat 4 ).

b) Tujuan penyelenggaraan adalah untuk memberikan manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan akan pemenuhan kebutuhan dasar kesehatan (UU No. 40 Tahun 2004 Pasal 19 ayat 2 ).

c) Manfaat diberikan dalam bentuk pelayanan kesehatan perseorangan yang komprehensif, mencakup pelayanan peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif), pengobatan (kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif) termasuk obat dan bahan medis dengan menggunakan teknik layanan terkendali mutu dan biaya (managed care) (UU No. 40 Tahun 2004 Pasal 22 ayat 1,2, Pasal 23, Pasal 24, Pasal 25, Pasal 26 ).

2. Kelembagaan

1. Program jaminan kesehatan diselenggarakan oleh badan penyelenggara jaminan sosial yang dibentuk dengan Undang-Undang (UU No. 40 Tahun 2004 Pasal 5 ayat 1 )

2. Organisasi, fungsi dan hubungan antar kelembagaan masih menunggu penetapan RUU BPJS

3. Mekanisme Penyelenggaraan a. Kepesertaan

1. Peserta adalah setiap orang yang telah membayar iuran atau iurannya dibayar oleh pemerintah (UU No. 40 Tahun 2004 Pasal 20 ayat 1 ).

2. Penerima manfaat adalah peserta dan anggota keluarga (istri/suami yang sah, anak kandung, anak tiri dari perkawinan yang sah dan anak angkat yang sah) sebanyak-banyaknya lima orang (UU No. 40 Tahun 2004 Pasal 20 ayat 2 ). Penerima manfaat dapat diperluas kepada anak keempat dan seterusnya, ayah, ibu dan mertua dengan membayar iuran tambahan (UU No. 40 Tahun 2004 Pasal 20 ayat 3 ).

3. Kepesertaan berkesinambungan sesuai prinsip portabilitas dengan memberlakukan program di seluruh wilayah Indonesia dan menjamin keberlangsungan manfaat bagi peserta dan keluarganya hingga enam bulan pasca pemutusan hubungan kerja (PHK). Selanjutnya, pekerja yang tidak memiliki pekerjaan setelah enam bulan PHK atau mengalami cacat tetap total dan tidak memiliki kemampuan ekonomi tetap menjadi peserta dan iurannya dibayar oleh Pemerintah (UU No. 40 Tahun 2004 Pasal 21 ayat 1,2,3 ). Kesinambungan kepesertaan bagi pensiunan dan ahli warisnya akan dapat dipenuhi dengan melanjutkan pembayaran iuran jaminan kesehatan dari manfaat jaminan pensiun.

4. Kepesertaan mengacu pada konsep penduduk dengan mengizinkan warga negara asing yang bekerja paling singkat enam bulan di Indonesia untuk ikut serta (UU No. 40 Tahun 2004 Pasal 1 angka 8 ).

b. Iuran

1. iuran berdasarkan persentase upah/penghasilan untuk peserta penerima upah atau suatu jumlah nominal tertentu untuk peserta yang tidak menerima upah.

2. iuran tambahan dikenakan kepada peserta yang mengikutsertakan anggota keluarga lebih dari lima orang.

c. Manfaat dan Pemberian manfaat

1. Pelayanan kesehatan diberikan di fasilitas kesehatan milik Pemerintah atau swasta yang menjalin kerjasama dengan badan penyelenggara jaminan sosial (UU No. 40 Tahun 2004 Pasal 23 ayat 1) .

2. Dalam keadaan darurat, pelayanan kesehatan dapat diberikan pada fasilitas kesehatan yang tidak menjalin kerja sama dengan badan penyelenggara jaminan sosial (UU No. 40 Tahun 2004 Pasal 23 ayat 2 ).

3. Badan penyelenggara jaminan sosial wajib memberikan kompensasi untuk memenuhi kebutuhan medik peserta yang berada di daerah yang belum

tersedia fasilitas kesehatan yang memenuhi syarat. Kompensasi dapat diberikan dalam bentuk uang tunai. (UU No. 40 Tahun 2004 Pasal 23 ayat 3 dan penjelasannya ).

4. Layanan rawat inap di rumah sakit diberikan di kelas standar (UU No. 40 Tahun 2004 Pasal 23 ayat 4 ).

5. Besar pembayaran kepada fasilitas kesehatan untuk setiap wilayah ditetapkan berdasarkan kesepakatan antara badan penyelenggara jaminan kesehatan dengan asosiasi fasilitas kesehatan di wilayah tersebut (UU No.

40 Tahun 2004 Pasal 24 ayat 1 ).

6. Badan penyelenggara jaminan sosial wajib membayar fasilitas kesehatan atas pelayanan yang diberikan kepada peserta paling lambat 15 hari sejak permintaan pembayaran diterima (UU No. 40 Tahun 2004 Pasal 24 ayat 2).

7. Badan penyelenggara jaminan sosial dapat memberikan anggaran di muka kepada rumah sakit untuk melayani peserta, mencakup jasa medis, biaya perawatan, biaya penunjang dan biaya obat-obatan yang penggunaannya diatur sendiri oleh pemimpin rumah sakit (metoda pembayaran prospektif) (UU No. 40 Tahun 2004 Penjelasan Pasal 24 ayat 2 ).

8. Badan penyelenggara jaminan sosial menjamin obat-obatan dan bahan medis habis pakai dengan mempertimbangkan kebutuhan medik, ketersediaan, efektifitas dan efisiensi obat atau bahan medis habis pakai sesuai ketentuan peraturan perundangan (UU No. 40 Tahun 2004 Pasal 25 dan penjelasannya) .

Dalam pengembangan pelayanan kesehatan, badan penyelenggara jaminan sosial menerapkan sistem kendali mutu, sistem kendali biaya dan sistem pembayaran untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi jaminan kesehatan serta untuk mencegah penyalahgunaan pelayanan kesehatan (UU No. 40 Tahun 2004 Pasal 24 ayat 3 dan penjelasannya ). Untuk jenis pelayanan yang dapat menimbulkan penyalahgunaan pelayanan, peserta dikenakan urun biaya (UU No.

40 Tahun 2004 Pasal 22 ayat 2)pemberian pelayanan.

a. Kepesertaan

Ketentuan tentang kepesertaan yang harus diatur lebih lanjut dalam Peraturan Presiden mencakup:

1. Penahapan pendaftaran perusahaan dan pekerjanya kepada BPJS (Pendelegasian UU No. 40 Tahun 2004 Pasal 13 ayat 2 )

2. Perpanjangan kepesertaan hingga 6 bulan pasca pemutusan hubungan kerja (Pendelegasian UU No. 40 Tahun 2004 Pasal 21 ayat 1 )

3. Perpanjangan kepesertaan bagi pekerja yang tidak mendapatkan pekerjaan setelah 6 bulan pasca pemutusan hubungan kerja dan tidak mampu

(Pendelegasian UU No. 40 Tahun 2004 Pasal 21 ayat 3 )

4. Kepesertaan bagi peserta mengalami cacat total tetap dan tidak mampu (Pendelegasian UU No. 40 Tahun 2004 Pasal 21 ayat 3)

b. Iuran

Ketentuan tentang iuran jaminan kesehatan yang didelegasikan untuk diatur lebih lanjut dalam Peraturan Presiden mencakup:

1. presentase upah untuk penetapan besaran nominal iuran bagi peserta penerima upah (Pendelegasian UU No. 40 Tahun 2004 Pasal 27 ayat 1 ) 2. Besaran nominal iuran bagi peserta yang tidak menerima upah dan periode

peninjauan (Pendelegasian UU No. 40 Tahun 2004 Pasal 27 ayat 2 ) 3. Besaran nominal iuran bagi penerima bantuan (Pendelegasian UU No. 40

Tahun 2004 Pasal 27 ayat 3 )

4. Batas upah untuk penghitungan iuran peserta penerima upah (Pendelegasian UU No. 40 Tahun 2004 Pasal 27 ayat 4 )

5. proporsi iuran yang secara bertahap ditanggung bersama oleh pekerja dan pemberi kerja (Pendelegasian UU No. 40 Tahun 2004 Pasal 27 ayat 1 ) 6. Besar tambahan iuran bagi penambahan anggota keluarga (Pendelegasian

UU No. 40 Tahun 2004 Pasal 28 ayat 1 ).

c. Paket Manfaat

Ketentuan tentang paket manfaat jaminan kesehatan yang didelegasikan untuk diatur lebih lanjut dalam Peraturan Presiden mencakup:

1. Paket pelayanan kesehatan termasuk obat dan bahan medis yang ditanggung, dibatasi atau tidak ditanggung (Pendelegasian UU No. 40 Tahun 2004 Pasal 22 ayat 1 dan Pasal 26 )

2. Besar urun biaya dan jenis-jenis pelayan yang dikenakan urun biaya (Pendelegasian UU No. 40 Tahun 2004 Pasal 22 ayat 2 ).

d. Pemberian Pelayanan

Ketentuan tentang pemberian pelayanan jaminan kesehatan yang harus diatur lebih lanjut dalam Peraturan Presiden mencakup:

1. Kompensasi wajib yang diberikan BPJS kepada peserta di daerah yang belum tersedia fasilitas kesehatan yang memenuhi persyaratan untuk bekerjasama dengan BPJS (Pendelegasian UU No. 40 Tahun 2004 Pasal 23 ayat 3).

2. Kelas standar pelayanan di rumah sakit (Pendelegasian UU No. 40 Tahun 2004 Pasal 23 ayat 4 ).

1. Jenis Pelayanan

Ada 2 (dua) jenis pelayanan yang akan diperoleh oleh Peserta JKN, yaitu berupa pelayanan kesehatan (manfaat medis) serta akomodasi dan ambulans (manfaat non medis). Ambulans hanya diberikan untuk pasien rujukan dari Fasilitas Kesehatan dengan kondisi tertentu yang ditetapkan oleh BPJS Kesehatan.

2. Prosedur Pelayanan

Peserta yang memerlukan pelayanan kesehatan pertama-tama harus memperoleh pelayanan kesehatan pada Fasilitas Kesehatan tingkat pertama.

Bila Peserta memerlukan pelayanan kesehatan tingkat lanjutan, maka hal itu harus dilakukan melalui rujukan oleh Fasilitas Kesehatan tingkat pertama, kecuali dalam keadaan kegawatdaruratan medis.

3. Kompensasi Pelayanan

Bila di suatu daerah belum tersedia Fasilitas Kesehatan yang memenuhi syarat guna memenuhi kebutuhan medis sejumlah Peserta, BPJS Kesehatan wajib memberikan kompensasi, yang dapat berupa: penggantian uang tunai, pengiriman tenaga kesehatan atau penyediaan Fasilitas Kesehatan tertentu.

Penggantian uang tunai hanya digunakan untuk biaya pelayanan kesehatan dan transportasi.

4. Penyelenggara Pelayanan Kesehatan

Penyelenggara pelayanan kesehatan meliputi semua Fasilitas Kesehatan yang menjalin kerja sama dengan BPJS Kesehatan baik fasilitas kesehatan milik Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan swasta yang memenuhi persyaratan melalui proses kredensialing dan rekredensialing.

B. Kerangka Pikir

Lembaga BPJS yang dikordinasi langsung oleh pemerintah untuk memberikan jaminan sosial baik berupa program Jaminan Kesehatan Nasional yang diberikan wewenang oleh tiap rumah sakit di indonesia yang salah satunya adalah Rumah Sakit Daerah Syeck Yusuf Kabupaten Gowa merupakan salah satu istansi pemerintah terdepan dan gerban pelayanan kesehan bagi masyarakat.

Jaminan Kesehatan Nasional yang bertujuan memberikan perlindungan kesehatan. Dengan demikian Jaminan kesehatan nasional diharapkan mampu mensejahtrakan masyarakat khususnya mengenai kesehatan. Yang dimaksud

Jaminan kesehatan dalam penelitian ini adalah berupa perlindungan kesehatan agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan yang diberikan kepada orang yang telah membayar yuran, atau dibayarkan oleh pemerintah.Untuk memberikan gambaran singkat mengenai alur program JKN di rumah sakit RSUD Syech Yusuf Kabupaten Gowa berikut bagan kerangka pikir sebagaimana yang tertera di bawah ini :

Bagan Kerangka Pikir Di Rumah Sakit Umum Daerah Syech

Yusuf KAB. Gowa

Faktor Penghambat 1. Kurang Sosialisasi 2. Fasilitas / SDM

C. Fokus Penelitian

Fokus kajian dalam penelitian ini adalah tentang pelaksanaan Efektivitas pengelolaan Jaminan kesehatan Nasional di Rumah Sakit Umum Daerah Syeck Yusuf Kabupaten Gowa sudah berjalan dengan semestinya atau ada kendala yang dihadapi. Di mana untuk mengetahui proses pelaksanaanya berjalan dengan baik tentunya ada faktor pendukung dan faktor penghambat dalam pelaksanaan jaminan kesehatan nasional.

D. Deskripsi Fokus Penelitian

Pembatasan fokus penelitian sangat penting dan berkaitan erat dengan masalah maupun data yang dikumpulkan, di mana fokus merupakan pecahan dari masalah. Agar penelitian ini lebih terarah dan mudah dalam pencarian data maka terlebih dahulu di tetapkan fokus penelitiannya. Yang menjadi fokus penelitian ini adalah :

1. Mengetahui sejauh mana tingkat kepuasan masarakat tentang Pelayanan yang diberikan oleh pihak rumah sakit Syech Yusuf Kabupaten Gowa kepada peserta JKN

a. Sosialisasi kepada Masyarakat Pengguna JKN

b. Ketersediaan fasilitas khususnya mengenai obat di rumah sakit 2. Mengetahui kelengkapan Fasilitas dalam proses pelaksanaan JKN di

rumah sakit Syech Yusuf Kabupaten Gowa

a. Kelengkapan fasilitas ruangan dan alat pemeriksaan di rumah sakit b. Kelengkapan Fasilitas pengobatan kepada peserta JKN

3. Mengetahui manejemen yang menangani mekanisme Pengelolaan peserta JKN di rumah sakit Syech Yusuf Kabupaten Gowa

a. Prosedur mekanisme pengelolaan JKN di rumah sakit Syech Yusuf Kabupaten Gowa

b. Pelaksanaan tugas tugasnya dalam mengelola JKN di rumah sakit Syech Yusuf Kabupaten Gowa

Faktor- factor yang mempengaruhi dalam melakukan pelaksanan pelayanan, yaitu :

a. Faktor pendukung merupakan suatu hal atau kejadian yang dapat membantu proses terjadinya suatu kegiatan yang berlengsung.

b. Faktor penghambat merupakan suatu hal atau kejadian yang dapat menjadi kendala atau proses terjadinya suatu kegiatan yang berlangsung

BAB III

METODE PENELITIAN A. Lokasi Penelitian

Dalam penelitian mengenai Efektivitas Pengelolaan Jaminan Kesehatan Nasional Di Rumah Sakit Umum Derah Syech Yusuf Kabupaten Gowa dibutuhkan lokasi penelitian. Penelitia ini berlangsung Agustus 2014 – september 2014 dengan pertimbangan penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Nasional Dilaksanakan Di Rumah Sakit Syech Yusuf Kabupaten Gowa

B. Jenis dan Tipe Penelitian 1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang saya gunakan disini ialah jenis penelitian kualitatif yaitu penelitian tentang riset yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis. Proses dan makna (perspektif subyek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. Landasan teori dimanfaatkan sebagai pemandu agar fokus penelitian sesuai dengan fakta di lapangan. Selain itu landasan teori juga bermanfaat untuk memberikan gambaran umum tentang latar penelitian dan sebagai bahan pembahasan hasil penelitian.

2. Tipe Penelitian

Tipe penelitian yang saya gunakan adalah tipe penelitian survei dan deskriptif yaitu di mana tipe penelitian survei adalah mengumpulkan informasi tentang variabel dari sekolompok obyek (populasi) dan tipe penelitian deskriptif yaitu tipe penelitian yang berusaha menggambarkan kejadian atau peristiwa sekarang.

C. Sumber Data

Sumber data yang dipakai dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder.

1. Sumber data primer yaitu sumber data yang di peroleh dari lapangan yang berkaitan dengan objek yang meliputi wawancara

2. Sumber data sekunder yaitu sumber data tambahan yang berfungsi sebagai pelengkap atau pendukung data primer yang meliputi :

a. Catatan lapangan b. Dokumentasi

D. Informan

Penulis mencoba menggali data melalui informan sebagai sumber yaitu sebahagian masyarakat pengguna Jaminan Kesehatan Nasional Di Rumah Sakit Umum Daerah Syech Yusuf Kabupaten Gowa. Target penelitian yang akan menjadi informan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

Tabel I. Daftar Informan Peneliti

No

Nama Jabatan

1 Misnawati, SKM Rekam Medis

2 Dr.Helena Kendengan SP.Kk

POLI UMUM

3 Nasriah,amd Kep Perawat Rumah sakit 4 Syamsudding Dg. Siala Masyrakat pengguna JKN 5 Bapak Dg. Sisi Masyrakat pengguna JKN

6 Hj. Raiyah Masyrakat pengguna JKN

7 Hj. Aminah Masyrakat pengguna JKN

E. Teknik Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini, maka digunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut :

1. Observasi, yaitu sebagai teknik yang pertama dilakukan dalam mengamati secara langsung dilapangan yang berkaitan dengan pemerintah dalam penanganan jaminan kesehatan nasioal.

2. Interview (wawancara), yaitu teknik ini digunakan untuk mendapatkan informasi baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Dimana wawancara langsung dapat dilakukan dengan tatap muka langsung (personal interview), sementara wawancara secara tidak langsung dapat dilakukan melalui telepon atau melalui mail interview.

3. Dokumentasi digunakan dalam penelitian ini sebagai sumber data karena dalam hal dokumen, sumber data dimanfatkan untuk menguji, menafsirkan, dan meramalkan dokument sendiri.

F. Teknik Analisis Data

Dalam penelitian kualitatif adalah data yang muncul berwujud kata-kata dan bukan rangkaian angka. Data itu mungkin telah dikumpulkan dalam aneka macam cara (observasi, wawancara, intisari dokumen, pita rekaman), dan yang biasanya “diproses” kira-kira sebelum siap digunakan (melalui pencatatan, pengetikan, penyuntingan, atau alih-tulis), tetapi analisis kualitatif tetap menggunakan kata-kata, yang biasanya disusun ke dalam teks yang diperluas.

Secara umum analisis terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan yaitu : reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi.

1. Reduksi Data

Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data “kasar” yang muncul dari càtatan-catatan tertulis di lapangan.

Langkah-langkah dalam tahap reduksi yaitu :

a) Meringkaskan data kontak langsung dengan orang, kejadian dan situasi di lokasi penelitian.

b) Pengkodean.

c) Pembuatan catatan obyektif.

d) Membuat catatan reflektif.

e) Membuat catatan marginal.

f) Penyimpanan data.

g) Pembuatan memo.

h) Analisis antarlokasi.

i) Pembuatan ringkasan sementara antar lokasi.

2. Penyajian Data atau Analisis Data

Kumpulan penyajian informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Dengan melihat penyajian-penyajian kita akan dapat memahami apa yang sedang terjadi dan apa yang harus dilakukan lebih jauh menganalisis ataukah mengambil tindakan berdasarkan atas pemahaman yang didapat dari penyajian-penyajian tersebut.

Dalam pelaksanaan penelitian penyajian-penyajian yang lebih baik merupakan suatu cara yang utama bagi analisis kualitatif yang valid. Penyajian-penyajian yang dimaksud meliputi berbagai jenis matriks, grafik, jaringan dan bagan.

Tahap penyajian, pada tahapan ini dikembangkan model-model :

a) Mendeskripsikan konteks dalam penelitian.

b) Cheklist matriks

c) Mendeskripsikan perkembangan antar waktu.

d) Matriks tata peran

e) Matriks konsep terklaster.

f) Matriks efek dan pengaruh g) Matriks dinamika lokasi h) Daftar Kejadian

3. Menarik Kesimpulan atau Verifikasi

Kegiatan analisis ketiga yang penting adalah menarik kesimpulan dan verifikasi. Dari permulaan pengumpulan data, seorang penganalisis kualitatif mulai mencari arti benda-benda, mencatat keteraturan. penjelasan, konfigurasi-konfigurasi yang mungkin, alur sebab-akibat, dan proposisi. Kesimpulan hasil penelitian yang diambil dari hasil reduksi dan panyajian data adalah merupakan kesimpulan sementara. Kesimpulan sementara ini masih dapat berubah jika ditemukan bukti-bukti kuat lain pada saat proses verifikasi data di lapangan. Jadi proses verifikasi data dilakukan dengan cara peneliti terjun kembali di lapangan untuk mengumpulkan data kembali yang dimungkinkan akan memperoleh bukti-bukti kuat lain yang dapat merubah hasil kesimpulan sementara yang diambil.

Kegiatan analisis ketiga yang penting adalah menarik kesimpulan dan verifikasi. Dari permulaan pengumpulan data, seorang penganalisis kualitatif mulai mencari arti benda-benda, mencatat keteraturan. penjelasan, konfigurasi-konfigurasi yang mungkin, alur sebab-akibat, dan proposisi. Kesimpulan hasil penelitian yang diambil dari hasil reduksi dan panyajian data adalah merupakan kesimpulan sementara. Kesimpulan sementara ini masih dapat berubah jika ditemukan bukti-bukti kuat lain pada saat proses verifikasi data di lapangan. Jadi proses verifikasi data dilakukan dengan cara peneliti terjun kembali di lapangan untuk mengumpulkan data kembali yang dimungkinkan akan memperoleh bukti-bukti kuat lain yang dapat merubah hasil kesimpulan sementara yang diambil.

Dokumen terkait