• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.3 Interpretasi Hasil

4.3.2 Dalam Jangka Pendek

Dari hasil estimasi ARDL dalam jangka pendek dapat diketahui bahwa variabel Tax Holiday (TH), Nilai Tukar (E), PDB maupun IHK tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap PMA di Indonesia karena memiliki nilai probabilitas lebih dari 0,05.

Tax holiday merupakan salah satu bentuk insentif pajak yang yang diberikan oleh pemerintah di hampir 80% negara berkembang. Efektifitas tax holiday sendiri di Indonesia terlihat lemah dalam mendorong aliran PMA. Berdasrkan penelitian di negara-negara Afrika, dari 12 faktor yang menentukan suatu investasi, insentif pajak hanya berada pada urutan 11 dari 12 faktor tersebut. Insentif pajak hanya akan semakin kuat korelasinya jika terdapat perbaikan terhadap iklim usaha yang sifatnya mendasar seperti stabilitas politik dan ekonomi. Tercatat sejak diberlakukanya PMK No. 130 Tahun 2011 hanya ada 3 perusahaan yang berhasil

103

mendapatkan fasilitas tax holiday, yaitu : PT. Unilever Oleochemical Indonesia, Petrokimia Butadiene Indonesia, dan Energi Sejahtera Mas dengan nilai investasi sebesar Rp 5,5 Triliun.

Kebijakan mengenai tax holiday secara khusus akan terfokus untuk menarik modal dari investor asing dalam beberapa bidang yang diprioritaskan oleh pemerintah. Pemberian insentif perpajakan dirancang untuk dapat memberikan pengaruh tentang efisiensi penggunaan sumber daya. Insentif tax holiday yang diberikan oleh pemerintah kepada investor berupa pembebasan pajak penghasilan (PPh). Pajak penghasilan merupakan pungutan yang dilakukan oleh negara yang dikenakan kepada subjek pajak atas penghasilan yang diterima. Setiap subjek pajak adalah menjadi wajib pajak apabila telah memperoleh penghasilan, baik itu penghasilan yang diterima dari sumber penghasilan dalam negeri (Indonesia) atau diperoleh melalui bentuk usaha tetap di Indonesia. Peraturan mengenai ketentuan tax holiday yang telah ada pada Undang- Undang No.25 tahun 2007 lebih disempurnakan dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Keuangan (PMK).

Ketentuan tentang sistem tax holiday ditetapkan secara lebih spesifik dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 130/PMK.011/2011 dan diperbaharui kembali pada tahun 2015, menjadi Peraturan Menteri Keuangan Nomor 159/PMK.010/2015. (Sugianto,2018) Peraturan tersebut dinilai belum efektif dan menarik para investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia, sehingga Menteri Keuangan Republik Indonesia, kemudian diterbitkan kembali Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 150/PMK.010/2018. Dimana dalam peraturan ini terdapat 8 tambahan industri pionir. Sehingga, totalnya ada 17 bidang industri

pionir yang menerima tax holiday, pasca diterapkannya kebijakan ini. Dengan adanya pembaruan kebijakan ini diharapkan dapat menarik para investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Adanya fasilitas pengurangan pajak (tax holiday) penghasilan (PPh) bagi investasi baru, terbagi menjadi 5 kelas yang berbeda. Berikut penggolongan kelasnya yang disajikan dalam tabel.

Tabel 4.11 Skema Tax Holiday

Nilai Investasi Jangka Waktu Bebas Pajak Rp500 Miliar s/d < 1T 5 Tahun

Rp 1T s/d < 5T 7 Tahun

Rp 5T s/d < 15T 10 Tahun Rp 15T s/d < 30 T 15 Tahun

Minimal 30 T 20 Tahun

Sumber : Kementrian Keuangan

Dengan adanya skema ‘tax holiday’ yang demikian, namun masih belum juga menarik para pemilik modal untuk menempatkan modalnya di Tanah air, sehingga kebijakan ini belum dapat berjalan optimal. Ada faktor lain yang harus diperhatikan dari sekedar meringankan pajak. Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA, 2018) hal tersebut ialah mengenai isu konektivitas, infrastruktur, rantai pasok, dan masalah perizinan yang masih begitu rumit. Dengan adanya perluasan tax holiday tidak akan berdampak signifikan apabila persoalan utamanya belum teratasi maka peraturan harus tuntas terlebih dahulu. Menurut Laporan BKPM tahun 2018, selama ini keluhan para investor adalah regulasi yang rumit dan tumpang tindih antara pusat dan daerah. Sistem perizinan elektronik yang melalui Online Single Submission (OSS) seringkali masih mengalami kendala. Hal

105

tersebut perlu dilakukan perbaikan secara menyeluruh baik di tingkat pusat maupun daerah, agar tidak menimbulkan disinsentif bagi para pengusaha.

Dari berbagai penjelasan di atas, dapat dirasakan bahwa kebijakan tax holiday belum efektif dan efesien dari sisi pengusaha maupun investor. Namun dari sisi iklim investasi, kebijakan tersebut dapat dikatakan cukup efektif dan efesien.

Dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Mengapa pelaksanaan tax holiday dan belum efektif dan efesien, dilihat dari sudut pandang kepentingan investor bahwa, belum efektif karena yang mendapatkan insentif pajak investasi masih sangat sedikit, sedangkan belum efesien karena proses untuk mendapatkan insentif pajak investasi tersebut tidak mudah karena birokrasi yang rumit.

2. Mengapa pelaksanaan kebijakan tax holiday cukup efektif dan efesien, dilihat dari sudut pandang perkembangan iklim investasi di Indonesia bahwa, dapat dikatakan efektif karena semakin banyak investor asing yang menunjukkan minatnya untuk menanamkan modal di Indonesia karena mereka melihat perubahaan iklim investasi yang terasa semakin baik, sedangkan dapat dikatakan cukup efesien karena kebijakan yang dapat dengan cepat menarik minat investor asing adalah tax holiday.

Kebijakan insentif pajak bagi penanam modal mampu membuat Indonesia menjadi negara yang kian aktraktif dimata investor, khususnya investor asing. Hal ini tentunya memberikan dampak positif bagi perkembangan investasi di Indonesia. Meskipun tax holiday bukanlah faktor penentu utama meningkatknya investasi di Indonesia, namun

perannya mampu memberikan kontribusi yang cukup baik bagi iklim investasi di Indonesia. Dengan adanya kebijakan tersebut, Indonesia dipandang semakin matang dalam membentuk iklim investasi yang kondusif melalui kepastian hukum tersebut.

Saat ini memang saat yang tepat bagi Indonesia untuk memberikan gebrakan kebijakan menarik investasi ke Indonesia melalui tax holiday. Karena 10-20 tahun ke depan Indonesia akan berada pada masa keemasan akibat adanya bonus ledakan demografi penduduk berusia produktif. Penduduk berusia produktif ini tidak hanya banyak jumlahnya, namun juga memiliki daya beli yang tinggi dan rajin berkonsumsi. Hal ini akan mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi, di mana para pengusaha akan memanen laba besar akibat konsumsi yang tinggi. Bonus ledakan demografi ini datang sekali dalam ratusan tahun, dan sudah mulai terasa saat ini yang terlihat dari adanya peningkatan konsumsi masyarkat, sehingga Indonesia memang sudah seharusnya memanfaatkan momentum ini untuk meningkatkan investasi.

Kebijakan Untuk Mengatasi Berkurangnya Penerimaan Pajak Negara Akibat tax holiday Pendapatan negara yang selama ini didominasi sektor perpajakan, kini berpotensi berkurang dengan diberlakukannya kebijakan tax holiday. Hadirnya tax holiday dapat menyebabkan pajak penghasilan badan berkurang dalam jangka pendek dan menengah. Hingga saat ini belum ada upaya khusus yang dilakukan pemerintah untuk menutupi berkurangnya pendapatan pajak tersebut.

Namun sejak diberlakukannya tax holiday pada tahun 2011, pada saat yang sama pemerintah juga mengeluarkan kebijakan Sensus Pajak Nasional. Memang

107

kebijakan tersebut dibuat bukan karena adanya tax holiday namun lebih kepada karena masih sedikitnya masyarakat yang membayar pajak. Dengan kegiatan tersebut diharapkan semua orang atau badan yang belum melaksanakan kewajiban membayar pajak dengan benar, dapat melaksanakannya sesuai kondisi atau potensi yang sebenarnya, sehingga pendapatan pajak negara dapat meningkat dan berkurangnya potensi pendapatan negara akibat adanya tax holiday dapat sedikit tertutupi. Tidak adanya tindakan khusus dari pemerintah untuk menutupi berkurangnya pendapatan pajak penghasilan badan tersebut dikarenakan potensi pajak yang hilang tersebut dapat kembali dengan sendirinya melalui pembayaran pajak penghasilan oleh para pekerja yang diciptakan perusahaan investor tersebut.

Berdasarkan analisis Points of Tax Impact in Circular Flow (dikemukakan oleh Musgrave’s), yang menjelaskan bahwa kebijakan pembebasan atau penurunan tarif pajak dalam jangka panjang tidak akan menurunkan penerimaan negara secara aggregate, bahkan sebaliknya akan meningkatkan penerimaan negara dari jenis-jenis pajak lainnya. Karena dengan banyaknya investasi, penerimaan pegawai atau tenaga kerja juga besar sehingga penerimaan pajak bertambah seiring dengan jumlah tenaga kerja yang di rekrut. Selain itu pembebasan pajak penghasilan yang diterapkan kepada perusahaan dapat menjadi saving bagi mereka, maka penerimaan negara dari pajak atas capital market akan meningkat. Selain sebagai saving, dana tersebut dapat mereka manfaatkan untuk ekspansi perusahaan mereka sehingga secara tidak langsung pertumbuhan produksi Indonesia juga akan meningkat.

Gambar 4.7

Faktor yang Berpengaruh Dalam Menentukan Lokasi Investasi

Sumber: UNIDO , dalam Majalah Pajak Edisi 34

Berdasarkan hasil kajian United Nations Industral Development Organization (UNIDO), bahwa peran insentif pajak hanya berada pada posisi 11 dan tidak terlalu dianggap penting untuk menjadi komponen penentu lokasi investasi yang ditawarkan oleh suatu negara. Faktor di luar itu seperti stabilitas ekonomi, politik, transparansi dalam hukum maupun sumber daya manusia jauh lebih penting dalam keputusan tersebut. Bahkan berdasarkan rangkuman berbagai survei investor pada negara berkembang, menunjukkan bahwa insentif pajak sering kali bukan menjadi pertimbangan investor dalam mengambil keputusan untuk berinvestasi melainkan sistem perpajakan secara keseluruhan lebih penting dibandingkan fasilitas insentif pajak itu sendiri (Yakubova, 2013).

Dokumen terkait