• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.4 Pembahasan

4.4.1 Pengaruh Tax Holiday

Pada dasarnya kebijakan tax holiday diharapkan dapat mendorong masuknya investasi baru, meningkatnyapenanaman modal asing langsung, dan

109

masuknya stable inflow of foreign capital. Di samping itu, jugadiharapkan terjadi peningkatan kesempatan kerja, peningkatan pendapatan nasional, dan perbaikan neracapembayaran. Hal lainnya adalah terjadi transfer teknologi dan menajerial skill, dikhawatirkan berdampak, baik positif maupun negatif. Dalam hal ini tax holiday dikhawatirkan berdampak negatif pada penerimaan negara. Sehubungan dengan itu, pemerintah mencari sumber alternatif penerimaan negarauntuk menutupi potensi penerimaan Negara yang berkurang akibat kebijakan tax holiday.

Selain itu, kebijakan tax holiday untuk menarik investasi dinilai berbaai kalangan dapat berdampak buruk bagi perilaku bisnis. Halitu terjadi karena keputusan pemodal tidak didominasi oleh faktor pajak. Artinya, secara teoritis, insentif pajak menimbulkan distorsi karena keputusan untuk melakukan investasibergantung pada insentif pajak. Semakin besar insentif pajak tentu diharapkan semakin besar modal yangdiinvestasikan. Bahkan World Bank dan IMF tidak menyarankan negara berkembang memberikan insentif pajakkepada investor asing. Kekhawatiran di atas tidak sepenuhnya benar. Secara teoritis dapat dijelaskan sebagai berikut. Apabila tanpakebijakan tax holiday ternyata FDI (Foreign Direct Investment) yang masuk ke Indonesia dengan kriteria yangsudah ditetapkan dalam kebijakan tidak ada, penerimaan negara juga tidak ada. Sebaliknya, dengan kebijakan tax holiday ternyata FDI yang masuk ke Indonesia, penerimaan negara justru akan meningkat.

Dari sisi penerimaan pajak, penghasilan badan memang tertunda penerimaannya dalam jangka pendek. Akan tetapi, jenis-jenis pajak lain justru meningkat seperti pajak penghasilan orang pribadi. Di samping itu, apabila hasil produksi FDI dijual di ranah domestic, pemerintah juga berpotensi mendapatkan

pajak pertambahan nilai. Dampak positif lain tax holiday adalah dalam jangka panjang melaui dukungan fiscal ini diharapkan dapat mendorong kinerja perekonomian semakin berdaya. Dalam hal ini setidaknya terdapat tiga keuntungan, yaitu tax base akan semakin membesar, lapangan yang tercipta akan semakin banyak, baik secara langsung mapuntidak langsung, dan capital inflow akan meningkat. Akan tetapi, permasalahannya adalah bagaimana agar kebijakan tax holiday dapat tepat sasaran dan tidak menimbulkan distorsi. Untuk itu pemberian tax holiday harus selektif dengan memperhatikan berbagai kriteria.Sekurang kurangnya terdapat dua kriteria industri yang dapat dipertimbangkan untuk diberikan tax holiday. Pertama, industri yang menyerap banyak tenaga kerja, artinya tax holiday ikut berkontribusi memecahkan masalah pengangguran. Kedua, industry yang memiliki keterkaitan ke depan dan ke belakang. Keterkaitan ke depan berarti kalau terjadi peningkatan permintaan akhir terhadap suatu sektor tertentu, sektor tersebut akan mendorong peningkatan output semua sektor dengan kelipatan sebesar nilai multiplier-nya. Keterkaitan ke belakang menggambarkan keterkaitan intersektor (aktivitas) produksi yang berada di hilir (downstream sectors) dengan sektor sektor produksi yang berada di hulu (upstream sectors). Artinya, keterkaitan ke belakang akan eksis apabila peningkatan produksi sektor sektor hilir memberikandampak eksternalitas positif terhadap sektor sektor hulu. Pada sisi lain keterkaitan ke depan menunjukan derajatkepekaan suatu sektor tertentu terhadap permintaan akhir semua sektor. Jadi, dapat dikatakan bahwa tax holiday merupakan kebijakan publik yang simpatik yang perlu didukung oleh semua pihak demi pengkatan pendapatan negara.

111

Menurut Soewiknyo (2019), agresivitas pemerintah dalam menerbitkan insentif perpajakan berisiko memperlebar gap penerimaan negara yang disebabkan oleh kebijakan pemerintah. Namun, pemerintah tidak memiliki kebijakan khusus untuk mengurangi risiko yang diakibatkan oleh kebijakan-kebijakan tersebut.

Selama beberapa bulan terakhir pemerintah telah menerbitkan berbagai kebijakan yang dianggap akan mendorong kinerja investasi. Pertama, beleid terkait perubahan baseline pengenaan PPnBM bagi rumah atau properti mewah. Kedua, penurunan PPh pasal 22 hunian mewah dari 5% menjadi 1%. Ketiga, simplifikasi prosedur validasi PPh penjualan tanah dan bangunan dari 15 hari menjadi 3 hari.

Keempat, relaksasi pengenaan deemed divident dalam Controlled Foregin Company (CFC) rule yang hanya menyasar pendapatan pasif. Kelima, adalah PP No.45/2019 yang memberikan diskon pajak besar-besaran kepada para pelaku usaha khusunya yang berinvestasi di sektor padat karya, vokasi, serta riset dan pengembangan.

Di satu sisi, di sektor penerimaan, kinerja pertumbuhan penerimaan pajak per Mei 2019 hanya 2,4%. Lesunya kinerja penerimaan ini merupakan imbas dari pelaksanaan kebijakan percepatan resitusi yang kemudian menekan penerimaan PPN hingga minus 4,4%.

Demikian juga yang dikemukakan Priadi (2019) bahwa pemerintah sudah memberikan insentif perpajakan untuk investasi melalui insentif tax allowance.

Penerima tax allowance sudah diatur dalam Pasal 31A UU PPh. Skema yang diberikan, yaitu pengurangan penghasilan neto sebesar 30% dari jumlah penanaman modal yang dibebankan selama 6 tahun, atau masing-masing sebesar 5% per tahun.

Selain tax allowance, sekarang ini insentif perpajakan yang diberikan kepada dunia usaha adalah tax holiday yang diatur dalam PMK Nomor 35 Tahun 2018 dan PMK Nomor 150 Tahun 2018.

Setiap kebijakan yang diambil pemerintah selalu memperhitungkan efek baik maupun buruknya ke pengelolaan fiskal maupun perekonomian. Penerbitan insentif yang dilakukan pemerintah ini semata-mata untuk mendorong kinerja perekonomian yang menunjukan adanya pelemahan. Sama halnya dengan yang diungkapkan Kuncoro (2019), bahwa kinerja penerimaan pemerintah tengah mendapat sorotan. Penerimaan pajak yang merupakan penyumbang terbesar pendapatan negara menunjukkan tren perlambatan. Realisasi penerimaan pajak hingga Mei 2019, misalnya, hanya tumbuh 2,43%, jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu yang sebesar 14,2%.

Komparasi dengan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) agaknya tidak mengubah simpulan. Kinerja PNBP hanya tumbuh 8,6% secara tahunan, di bawah pertumbuhan setahun sebelumnya yang mencapai 18,1%. Sektor sumber daya alam yang menjadi tumpuan PNBP sepertinya juga tengah menghadapi tekanan.

Ironisnya, di saat penerimaan negara masih fluktuatif, pemerintah malah menyiapkan insentif pajak di sejumlah sektor usaha. Tarif pajak penghasilan (PPh) atas hunian mewah, pajak penjualan barang mewah (PPnBM) di subsektor otomotif serta kegiatan penelitian, pengembangan, dan pelatihan vokasi baru saja dipangkas.

Insentif pajak berikutnya yang sedang dilakukan simulasi ialah PPh Badan akan dipotong dari 25% menjadi 20%. Belum lagi, pembebasan pajak (tax allowance),

113

pengurangan pajak jumbo (super deduction tax), subsidi pajak, belanja pajak, dan relaksasi PNBP yang akan dirilis di tahun ini juga.

Dalam skala internasional, pemberian insentif pajak bisa terjebak ke dalam isu persaingan fiskal. Artinya, insentif pajak bisa tidak berpengaruh saat negara-negara lain, terutama yang berada di satu kawasan juga menawarkan insentif yang sama. Insentif perpajakan juga bisa ditafsirkan sebagai bagian dari politik dumping, terutama negara-negara lain yang tidak memberlakukan insentif sejenis. Dalam logika mereka, insentif pajak membuat harga produk ekspor lebih murah sehingga berpotensi menggerus pangsa pasar negara pesaing.

Dokumen terkait