BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.3. Peta Kerawanan Longsor dengan Parameter Jarak Patahan
4.3.3 Peta Jarak Desa Terhadap Patahan Angkola
Ujung utara segmen ini bermula pada lembah Batang Toru, menyisir lembah Sungai Batang Angkola dan Batang Gadis di wilayah Sumatera Utara. Sementara ujung Selaatnnya berada di wilayah Sumatera Barat di dekat Lembah Batang Pasaman. Adapun jarak 30 desa di Kecamatan Sibolangit terhadap Patahan Angkola dapat dilihat pada tabel 4.27.
Tabel 4.27. Koordinat Desa dan Jarak Desa di Kecamatan Sibolangit Terhadap
Sumber : Google Earth Pro, Diolah Tahun 2019
Berdasarkan tabel 4.25 sampai dengan tabel 4.27 di atas dapat dilihat bahwa jarak desa-desa di Kecamatan Sibolangit terhadap 3 patahan yang melewati Provinsi Sumatera Utara, yaitu Patahan Renun, Patahan Toru, dan Patahan Angkola melebihi jarak 100000 m. Sesuai Perka BNPB 2012, jarak tersebut tergolong ke dalam kelas kerawanan rendah. Sehingga pengharkatan/pembobotan untuk masing-masing patahan adalah 1 (satu) untuk seluruh desa yang terdapat di Kecamatan Sibolangit.
Pemetaan jarak desa terhadap patahan-patahan tersebut dibuat berbasis sistem informasi geografis berdasarkan data jarak masing-masing desa yang telah diolah dan diberi pengharkatan/pembobotan sesuai peraturan BNPB, menggunakan software ArcGIS 10.5. Peta βpeta tersebut dapat dilihat dalam Gambar 4.14 sampai dengan Gambar 4.16 berikut ini.
Gambar 4.14. Peta Jarak Desa Terhadap Patahan Renun di Kecamatan Sibolangit
Gambar 4.15. Peta Jarak Desa Terhadap Patahan Toru di Kecamatan Sibolangit
Gambar 4.16. Peta Jarak Desa Terhadap Patahan Angkola di Kecamatan Sibolangit
4.3.4. Analisis Kerawanan Longsor dengan Parameter Jarak Terhadap Patahan
Pendugaan kawasan bencana tanah longsor dengan parameter jarak terhadap patahan masih dilakukan dengan menggunakan model pendugaan yang bersumber pada penelitian Puslitanak (2004). Berdasarkan model tersebut parameter yang digunakan untuk menduga kawasan rawan longsor meliputi parameter curah hujan, jenis batuan, jenis tanah, kemiringan lahan, penggunaan lahan ditamnah dengan parameter jarak terhadap patahan. Semua parameter tersebut diklasifikasi berdasarkan skor kemudian diberi bobot sesuai kontribusinya masing-masing.
Parameter curah hujan mendapat bobot 30%, jenis batuan 10%, jenis tanah 10%, kemiringan lahan 20%, penggunaan lahan 20% dan jarak terhadap patahan 10%
dengan formula sebagai berikut :
Skor Kumulatif : (0,3xFaktor Curah Hujan) + (0,1xFaktor Jenis Batuan) + (0,2xFaktor Penggunaan Lahan) + (0,2xFaktor Kemiringan Lereng) + (0,1xFaktor Jenis Tanah) + (0,1xFaktor Jarak Terhadap Patahan)
Berdasarkan hasil analisis skor total hasil parameter yang ada di lokasi penelitian diperoleh klasifikasi dari empat kelas kerawanan dengan interval skor yang didapat berdasarkan persamaan:
πΌππ‘πππ£ππ = ππππ ππππ‘πππππβππππ πππππππβ
π½π’πππβ πΎππππ πΌππ‘πππ£ππ = 9β3,9
4 = 1,275
Hasil interval tersebut menentukan kelas kerawanan yang dapat dilihat pada tabel 4.28 berikut ini:
Tabel 4.28. Interval tingkat kerawanan longsor di Kecamatan Sibolangit Interval Tingkat Kerawanan
3,900 β 5,175 Rendah 5,176 β 6,450 Sedang 6,451 β 7,800 Tinggi 7,801 β 9,000 Sangat Tinggi
Maka, sesuai hasil analisa skor kumulatif dan perhitungan kelas interval, tingkat kerawanan longsor dengan parameter jarak terhadap patahan pada di Kecamatan Sibolangit dapat dilihat pada Tabel 4.29 dan pemetaannya dapat dilihat di Gambar
Tabel 4.29. Tingkat Kerawanan Longsor dengan Parameter Jarak Patahan di Kecamatan Sibolangit
No Desa/Kelurahan Skor
Kumulatif
Sumber : Bappeda, diolah tahun 2019
Gambar 4.17. Peta Kerawaan Longsor dengan Jarak Patahan di Kecamatan Sibolangit
Berdasarkan tabel dan peta kerawanan bencana longsor di Kecamatan Sibolangit terdapat 4 tingkat kerawanan yang mencakup wilayah tersebut. Tingkat kerawanan longsor rendah meliputi 7 desa, tingkat kerawanan longsor sedang berjumlah 12 desa, untuk tingkat kerawanan longsor tinggi meliputi 9 desa, dan tingkat kerawanan longsor sangat tinggi meliputi 2 desa. Secara rinci dapat dilihat pada Tabel 4.30 β 4.33 berikut ini.
Tabel 4.30. Desa dengan Tingkat Kerawanan Longsor Rendah
No Desa/Kelurahan Skor Kumulatif
Tabel 4.31. Desa dengan Tingkat Kerawanan Longsor Sedang No Desa/Kelurahan Skor
Kumulatif
Tanjung Beringin 5,3 Sedang
3
Tabel 4.32. Desa dengan Tingkat Kerawanan Longsor Tinggi No Desa/Kelurahan Skor
Kumulatif
Tabel 4.33. Desa dengan Tingkat Kerawanan Longsor Sangat Tinggi No Desa/Kelurahan Skor
Kumulatif
Pemanfaatan Sistem Informasi Geografis dapat digunakan dalam menentukan luas wilayah yang memiliki tingkat kerentanan rendah, sedang, tinggi dan sangat tinggi. Pemetaan tersebut kemudian dibuat ke dalam tabel 4.34 seperti di bawah ini.
Tabel 4.34. Luas Wilayah dan Jumlah Desa Sesuai Tingkat Kerawanan Longsor
No Tingkat Kerentanan Luas Wilayah
(km2) Jumlah Desa
4.4. Perbandingan Hasil
4.4.1. Perbandingan Hasil Peta Kerawanan Longsor dengan Parameter Tanah dan Kerentanan Longsor dengan Parameter Kependudukan
Peta Kerawanan Longsor dengan Parameter Tanah memetakan resiko longsor dengan parameter curah hujan, kemiringan lereng, jenis tanah, jenis batuan, dan penggunaaan lahan. Sedangkan Peta Kerentanan Longsor dengan Parameter Kependudukan memetakan resiko longsor dengan parameter kepadatan penduduk, jumlah perempuan, jumlah lansia, dan jumlah anak-anak.
Perbandingan hasil pemetaan resiko longsor tersebut dipetakan berdasarkan jumlah desa dan luas wilayah dapat dilihat dari table 4.35.
Tabel 4.35. Tabel Perbandingan Pemetaan Resiko Longsor dengan Parameter Tanah dan Parameter Kependudukan
Sumber: Bappeda dan BPS Deli Serdang, Diolah Tahun 2019 Sesuai tabel di atas, terdapat perbedaan yang cukup signifikan antara pemetaan dengan parameter tanah dan pemetaan dengan parameter kependudukan. Untuk parameter tanah memiliki 4 interval resiko yaitu rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi. Sedangkan parameter kependudukan memiliki 3 interval resiko yaitu rendah, tinggi dan sangat tinggi.
Berdasarkan jumlah desa, Parameter Tanah di dominasi oleh kelas resiko sedang yaitu sebanyak 13 desa, sedangkan parameter kependudukan di dominasi oleh kelas resiko tinggi sebanyak 18 desa. Untuk kelas resiko yang sangat tinggi pada parameter tanah hanya ber.jumlah 1 desa sedangkan pada parameter kependudukan berjumlah 3 desa.
Jika ditinjau dari luas desa, wilayah dengan luas terbesar untuk parameter tanah berada pada potensi longsor sedang dengan luasan 74,58 km2, sedangkan untuk parameter kependudukan didominasi oleh kelas resiko tinggi yaitu seluas
102,57 km2. Untuk kelas resiko yang sangat tinggi pada parameter tanah seluas 10,01 km2 sedangkan pada parameter kependudukan seluas 14,10 km2.
4.4.2. Perbandingan Hasil Peta Kerawanan Longsor Tanpa Jarak Patahan dengan Parameter Tanah dengan Jarak Patahan
Penelitian ini juga membandingkan hasil pemetaan resiko kerawanan longsor tanpa jarak terhadap patahan dengan resiko kerawanan longsor dengan jarak terhadap patahan. Adapaun perbandingan hasil berdasarkan jumlah desa dan luas wilayah dapat dilihat dari tabel 4.36.
Tabel 4.36. Tabel Perbandingan Pemetaan Resiko Longsor Tanpa Jarak Patahan dan Parameter Tanah dengan Jarak Patahan
Potensi Longsor
Jumlah Desa Luas Desa
Tanpa Jarak
Sumber: Bappeda dan BPS Deli Serdang, Diolah Tahun 2019 Sesuai tabel di atas, tidak terlalu banyak perbedaan yang dihasilkan dari pemetaan kerawana longsor dengan dan tanpa jarak patahan. Untuk parameter tanah dengan jarak patahan dan tanpa jarak patahan keduanya memiliki 4 interval resiko yaitu rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi.
Berdasarkan jumlah desa, parameter tanah dengan jarak patahan dan tanpa jarak patahan keduanya di dominasi oleh kelas resiko sedang, namun memiliki jumlah yang berbeda yaitu secara berurut sebanyak 13 desa dan 12 desa, perbedaan lainnya juga terdapat pada kelas resiko sangat tinggi yaitu berjumlah 1 desa untuk tanpa patahan dan 2 desa untuk dengan patahan.
Jika ditinjau dari luas desa, wilayah dengan luas terbesar untuk parameter tanah tanpa jarak patahan berada pada potensi longsor sedang dengan luasan 74,58 km2, sedangkan untuk parameter dengan jarak patahan juga didominasi oleh kelas resiko sedang yaitu seluas 69,08 km2. Sedangkan ntuk kelas resiko tinggi pada parameter tanpa jarak patahan seluas 52,73 km2 sedangkan pada
parameter dengan jarak patahan memilki wilayah seluas 51,93 km2. Untuk kelas resiko sangat tinggi juga memiliki perbedaan luas yaitu 10,01 untuk tanpa jarak patahan dan 16,31 untuk dengan jarak patahan.
Perbandingan hasil antara kerawanan longsor dengan parameter tanah, kerentanan longsor dengan parameter kependudukan, serta kerawanan longsor dengan tambahan parameter jarak terhadap patahan dapat dilihat juga berdasarkan pemetaan berbasis sistem informasi geografis menggunakan software ArcGIS 10.5. Peta perbandingan hasil tersebut dapat dilihat pada Gambar 4.18.
4.4.2. Perbandingan Hasil Peta Kerawanan Longsor dengan Kondisi Lapangan Berikut ini adalah tabulasi beberapa kejadian longsor yang pernah terjadi di Kecamatan Sibolangit. Pada Tabel 4.37 berikut juga dijelaskan keterangan tingkat kerawanan yang dihasilkan sesuai pemetaan kerawanan (dengan jarak patahan) masing-masing desa tersebut.
Tabel 4.37. Perbandingan Hasil Peta Kerawanan Longsor dengan Kondisi Lapangan No Tahun Terjadi
Longsor Titik Daerah Longsor Kerawanan Longsor pada Peta
Sumber: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Diolah Tahun 2019)
Gambar 4.18. Perbandingan Hasil Pemetaan Resiko Longsor
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Kesimpulan yang diperoleh penulis selama mengerjakan Tugas Akhir adalah:
1. Berdasarkan model pendugaan, terdapat 4 (empat) kelas resiko kerawanan longsor di Kecamatan Sibolangit untuk Peta Resiko dengan Parameter Tanah yaitu rendah (32,75 km2) , sedang (74,58 km2), tinggi (52,73 km2), dan sangat tinggi (10,01 km2). Sedangkan Peta Resiko dengan Parameter Kependudukan memiliki 3 (tiga) kelas resiko yaitu rendah (56,75 km2), tinggi (102,57 km2), dan sangat tinggi (14,10 km2).
Untuk Peta Resiko dengan Parameter Tanah dan Jarak Patahan memiliki 4 (empat) kelas resiko yaitu rendah (32,75 km2), sedang (69,08 km2), tinggi (51,93 km2), dan sangat tinggi (16,31 km2).
2. Tingkat Potensi Longsor terbanyak di Kecamatan Sibolangit jika ditinjau dari parameter tanah adalah tingkat kerawanan Sedang.
3. Tingkat Potensi Longsor terbanyak di Kecamatan Sibolangit jika ditinjau dari parameter kerentanan/kependudukan adalah Tinggi.
4. Tingkat Potensi Longsor terbanyak di Kecamatan Sibolangit jika ditinjau dari parameter tanah dengan jarak patahan adalah Sedang.
5. Peta resiko longsor dengan parameter kependudukan memiliki perbedaaan persebaran yang cukup signifikan dengan peta resiko longsor dengan parameter tanah.
6. Peta resiko longsor dengan parameter tanah tanpa jarak patahan tidak memiliki perbedaaan persebaran yang signifikan dengan peta resiko longsor dengan parameter tanah, sehingga tidak cukup berpengaruh pada tingkat potensi longsor.
Dari hasil di atas dapat disimpulkan bahwa peta Parameter Kependudukan memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap tingkat resiko longsor di Kecamatan Sibolangit sedangkan untuk Parameter Jarak Patahan hanya memberikan sedikit pengaruh terhadap tingkat resiko longsor di Kecamatan Sibolangit
5.2. Saran
Upaya yang dapat dilakukan dalam mengurangi dan memperkecil kemungkinan terjadinya peningkatan daerah rawan longsor, yaitu:
1. Perlu dilakukan sosialisasi peta tingkat kerawanan longsor kepada masyarakat dan dinas terkait, terutama dalam upaya mitigasi bencana longsor lahan.
2. Perlu adanya pengembangan pemanfaatan sistem informasi geografis untuk menentukan daerah rawan longsor agar lebih interaktif dan informatif.
3. Perlu diadakan penelitian lebih lanjut tentang patahan-patahan lain di Sumatera serta penambahan parameter seperti uji permeabilitas tanah untuk melihat tingkat kerawanan longsor dengan parameter yang lebih bervariasi
DAFTAR PUSTAKA
Adil, A. 2017. Sistem Informasi Geografis, hal. 172. Tersedia pada:
https://books.google.co.id/books. Diakses Maret2 019.
Arsyad, S. (2006) Konservasi Tanah dan Air. Iowa State Press, Blackwell.
Data Online Pusat Database-BMKG, 2019, https://dataonline.bmkg.go.id/. Diakses Maret 2019.
Raharjo, B., 2013, ArcGIS bagi Pemula, hal. 198. Tersedia pada:
http;//www.raharjo.org. Diakses pada Februari 2019
Effendi, A.D., 2008, Identifikasi Kejadian Longsor Dan Penentuan Faktor-Faktor Utama Penyebabnya Di Kecamatan Babakan Madang Kabupaten Bogor. Bogor:
Institut Pertanian Bogor.
Kecamatan Sibolangit dalam Angka, 2018, https://deliserdangkab.bps.go.id/. Diakses Februari 2019
Muawanah, A., 2016, Analisis Risiko Kerentanan Sosial Dan Ekonomi Bencana Longsorlahan Di Kecamatan Kandangan Kabupaten Temanggung. Surakarta:
Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Mubekti dan Alhasanah, F., 2008, Menggunakan Teknik Pemodelan Sistem Informasi Geografis. Jurnal Teknik Lingkungan, 9(2), hal. 121β129.
Prasetyo, A., 2011. Modul Dasar Arcgis 10: Aplikasi Pengelolaan Sumberdaya Alam.
Bogor: Fakultas Kehutanan IPB.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat (Puslittanak), 2004, Laporan Akhir Pengkajian Potensi Bencana Kekeringan, Banjir dan Longsor di Kawasan Satuan Wilayah Sungai Citarum-Ciliwung, Jawa Barat Bagian Barat Berbasis Sistem Informasi Geografi. Bogor
Putra, Y. A., Ismail, N. dan Faisal, 2015, Analisis Penentuan Faktor Penyebab Gerakan Tanah di Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh. Jurnal Ilmu Kebencanaan (JIKA), Pascasarjana Universitas Syiah Kuala, 2(2), hal. 41β48.
Rahmad, R., Suib & Nurman, A., 2018, Aplikasi SIG Untuk Pemetaan Tingkat Ancaman Longsor Di Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Medan: Universitas Medan Area.
Rahman, A., 2004, Penggunaan Sistim Informasi Geografis untuk Pemetaan Kerawanan Longsor di Kabupaten Purworejo. Jurnal Bumi Lestari, 10(No. 02), hal. 191β199.
Ritter, D. F., 1986, Process Geomorphology. London: Winnipeg.
Sari, D. P., 2016, Manajemen Risiko Dan Mitigasi Bencana Longsor Di Kawasan
Model Das Mikro Watugede Kabupaten Gunungkidul. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.
Surastuti, Y. et al., 2016, Pemanfaatan Sistem Informasi Geografi Untuk Analisis Risiko Longsor Di Kecamatan Tirtomoyo Kabupaten Wonogiri. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Sutrisno, M. L., 2011, Aplikasi Sistem Informasi Geografi Untuk Penentuan Tingkat Kerentanan Longsor Lahan Di Kecamatan Imogiri Kabupaten Bantul. Bogor:
Institut Pertanian Bogor.
Yunianto, A. C., 2011, Analisis Kerawanan Tanah Longsor Dengan Aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG) Dan Penginderaan Jauh Di Kabupaten Bogor. Bogor:
Institut Pertanian Bogor.
(Ritter, 1986; Rahman, 2004; Arsyad, 2006; Effendi, 2008; Mubekti dan Alhasanah, 2008; Sutrisno, 2011; Yunianto, 2011; Prasetyo, 2011; Beni Raharjo, 2013; Putra, Ismail dan Faisal, 2015; Sari, 2016; Surastuti et al., 2016; Muawanah, 2016; Adil, 2017; Rahmad, Suib dan Nurman, 2018)
DAFTAR LAMPIRAN Lampiran I. Peta Administrasi Kabupaten Deli Serdang Lampiran II. Peta Curah Hujan Kabupaten Deli Serdang Lampiran III. Peta Penggunaan Lahan Kabupaten Deli Serdang Lampiran IV. Peta Jenis Tanah Kecamatan Sibolangit
Lampiran V. Peta Jenis Batuan Kecamatan Sibolangit
Lampiran VI. Luas Wilayah Menurut Desa/Kelurahan di Kecamatan Sibolangit Lampiran VII. Jumlah Penduduk, Distribusi dan Kepadatan Penduduk di Kecamatan Sibolangit
Lampiran VIII. Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur di Kecamatan Sibolangit
Lampiran IX. Jumlah Penduduk dan Rasio Jenis Kelamin di Kecamatan Sibolangit Lampiran X. Jumlah Penduduk 15 Tahun ke atas Menurut Pekerjaan di Kecamatan
Sibolangit