• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.6 Pembuatan Peta Penelitian Dengan ArcGIS 10.5

Langkah-langkah yang dilakukan dalam pelaksanaan penelitian, khususnya tahap pembuatan peta penelitian antara lai:

1. Persiapan

Tahap Persiapan meliputi persiapan alat dan bahan. Adapun alat yang diperlukan yakni seperangkat komputer, printer, dan perangkat keras lainnya. Sedangkan bahan yang diperlukan yaitu data-data sekunder yang menunjang penelitia, antara lain: Peta Kecamatan Sibolangit dalam format .shp; Peta RTRW dari Bappeda Kabupaten Deli Serdang, data Sibolangit dalam Angka Badan Pusat Statistik Kabupaten Deli Serdang, dan data-data penunjang penelitian lainnya.

2. Digitasi Peta

Peta RTRW yang dari Bappeda Kabupaten Deli Serdang masih berupa peta fisik yang harus diolah terlebih dahulu untuk mendapatkan format .shp. Maka, terlebih dahulu peta tersebut harus di-scan agar berbentuk digital sehingga dapat dilakukan proses digitasi dengan software ArcGIS 10.5. Adapun proses digitasi adalah sebagai berikut:

a. Membuka software ArcGIS dan mengatur koordinat

Hal pertama yang harus dilakukan setelah membukan software ArcGIS 10.5 adalah mengatur koordinat peta tersebut. Pengaturan

koordinat dilakukan dengan membuka menu arc-catalog, kemudian klik kanan pada foto, lalu pilih menu properties,pada Spatial Reference klik Edit, kemudian pilih koordinat. Pada penelitian di Kecamatan Sibolangitini, koordinat yang digunakan adalah WGS 1984 UTM zona 47N.

\

Gambar 3.1. Mengatur Koordinat

b. Proses Georeferencing

Georeferencing adalah proses pemberian sistem koordinat pada suatu objek Gambar dengan menempatkan suatu titik kontrol terhadap persimpangan antar garis lintang dan bujur pada Gambar berupa objek, atau dengan menempatkan titik ikat pada lokasi yang sudah diketahui koordinatnya (Prasetyo, 2011)

Proses Georeferencing ini dilakukan dengan cara klik menu add control points pada toolbar georeferencing, klik pada salah satu perpotongan grid kemudian klik kanan dan pilih input X dan Y.

Kemudian masukkan nilai koordinat titik-titik kontrol tersebut. Karena koordinat acuan berupa koordinat geografis maka harus dikonversikan dulu ke dalam koordinat UTM.

Titik kontrol yang harus dibuat adalah minimal 4 buah, semakin banyak titik kontrol yang dimasukkan maka data raster tersebut akan semakin akurat. Setelah memasukkan semua koordinat titik kontrol, maka klik georeferencing pada toolbar georeferencing lalu pilih update georeferencing

Gambar 3.2. Proses Georeferencing

c. Buat Shapefile (.shp)

Tahap selanjutnya yaitu membuat shapefile atau feature class kosong untuk menampung data hasil digitasi. Tahapan ini dilakukan dengan cara klik kanan pada folder penyimpanan data (catalog) lalu pilih new lalu pilih shapefile, ketikkan nama file dan pilih tipe data yang sesuai dengan feature type. Kemudian klik edit, lalu select, dan pilih koordinat sistem yaitu WGS 1984 UTM zona 47N lalu klik add.

Kemudian akan muncul layar baru di TOC. Tahap ini dapat dilihat pada Gambar,

Gambar 3.3. Membuat Shapefile Baru

d. Proses Digitasi

Proses digitasi peta adalah membuat peta ke dalam format vektor sehingga dapat diolah dengan menggunakan ArcGIS 10.5. Adapaun format vektor yang dapat digunakan antara lain: titik, garis, dan poligon. Proses digitasi harus menyesuaikan dengan jenis data vektor tersebut. Untuk data yang berupa lokasi pasti seperti ibu kota wilayah menggunaka data vektor titik (point), untuk data berupa jalan dapat menggunakan vektor garis (line), sedangkan untuk wilayahnya menggunakan vektor poligon (polygon).

Tahapan digitasi dilakukan dengan cara klik tombol editor lalu pilih start editing. Pastikan create feature target nya tepat sesuai peta yang dipilih. Klik tombol polygon untuk memulai digitasi. Zoom salah satu objek di Kecamatan Sibolangit hingga cukup jelas untuk di digitasi. Setelaj digitasi selesai lalu klik tombol editor lagi, lalu pilih save editing setelah itu pilih stop editing.

e. Data Atribut dan Editing

Data atribut adalah data yang mendeskripsikan karakteristik dan kenampakan di peta. Data atribut memberi keterangan terhadap masing-masing-masing feature pada tema dan digunakan sebagai acuan dalam operasi matematis. Data atribut dibuat dengan memanipulasi tabel pada masing-masing tema.

Tahapan ini dilakukan dengan cara klik kanan pada layer peta tersebut kemudian klik open attribute table lalu akan muncul tabel.

Setelah itu klik table option lalu pilih add field. Kemudian beri nama dan isi jenis data tersebut sesuai dengan kebutuhan. Setelah itu klik ok maka tabel baru akan muncul.

Untuk memasukkan data ke dalam tabel tersebut klik editor lalu klik start editing, nilai skor di isi sesuai pada klasifikasi Puslitanak Bogor (2004). Untuk lebih jelas dapat dilihat pada Gambar.

Gambar 3.4. Pengisian Skor

Selanjutnya akan ditampikan dara skoring ke dalam layout peta dengan menggunakan symbology.Klik kanan pada layer peta kemudian klik properties lalu pilih symbology. Pada bagian categories pilih unique value lalu pada value field pilih skor, kemudain di bagian bawah pilih add all values untuk memasukkan data skoring ke dalam peta.

Untuk mengganti warna pilih color ramp. Setelah selesai klik ok maka akan terlihat pembagian peta sesuai dengan pembobotan dan peta

RTRW di Kabupaten Deli Serdang. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar3.5.

.

Gambar 3.5. Editing Data Atribut

f. Membuat Keterangan Nama Desa

Sebelum membuat keterangan nama desa, terlebih dahulu dibuat batas desa Kecamatan Sibolangit. Cara membuat batas desa sama dengan klasifikasi peta yaitu menggunakan digitasi. Cara membuat keterangan nama desa yaitu klik kanan pada layer adm_sibolangit, lalu piih open attribute table kemudian buat tabel baru dengan klik add field. Isi nama dengan nama desa lalu type diisi dengan menggunakan text. Kemudian klik ok. Klik start editing agar tabel bisa di edit, kemudian isi nama desa sesuai dengan polign batas desa tersebut, kemudian save lalu stop editing.

Setelah itu klik kanan layer adm_sibolangit lalu pilih properties kemudian pada bagian labels pilih nama desa pada label field kemudian klik ok. Untuk menampilkan nama desa pada prta maka klik kanan layer adm_sibolangit lalu pilih label features maka nama desa akan terlihat pada peta. Untuk jelasnya dapat dilihat pada Gambar.

Gambar 3.6. Membuat Keterangan Nama Desa

g. Memunculkan Koordinat pada Frame Peta

Hal yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah mengatur halaman layout dengan cara klik file lalu pilih page and print setup.

Kemudian atur orientasi halaman ke landscape. Setelah itu klik ikon layout view pada bagian halaman data.

Selanjutnya koordinat dimunculkan dengan cara klik kanan pada peta kemudian pilih properties lalu pada bagian grid klik new grid untuk membuat grid baru, lalu pilih measured grid dan klik next, setelah itu pilih appearance dan interval koordinat yang kita inginkan kemudian next lalu pilih ok. Maka koordinat akan muncul pada frame peta. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar.

\\

Gambar 3.7. Memunculkan Koordinat pada Peta h. Membuat Keterangan Peta

Keterangan pada peta berisi arah utara, skala, legenda, serta tampilan kecil (insert) pemetaan tersebut. Semua keterangan ini berada pada menu insert. Untuk arah utara, klik insert, pilih north arrow insector lalu pilih tipe simbol arah anginnya, kemudian atur atur ukuran dan posisinya.

Untuk simbol skala, klik insert kemudian pilih scale bar, lalu pilih jenis simbolnya dan klik ok. Sedangkan untuk keterangan skala, klik insert dan pilih scale text kemudia pilih jenis nya dan klik ok.

Sedangkan untuk legenda, masih dari menu insert kemudian pilih legend, pilih layer yang akan dimasukkan ke legenda, klik next lalu ol.

Kemudian atur letak legenda tersebut pada peta. Kemudian untuk tampilan peta, klik insert lalu pilih data frame, kemudian atur ukuran, setelah itu klik kanan , klik add data, kemudian pilih layer yang sama dengan peta. Selain itu, keterangan peta juga dapat berupa nama penulis atau instansi yang dapat dibuat dengan menu text pada toolbar draw.

Gambar 3.8. Hasil Pemetaan dengan ArcGIS 10.5

3.8. Diagram Alir Penelitian

Gambar 3.9. Diagram Alir Penelitian

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Peta Kerawanan Longsor

4.1.1 Letak, Luas dan Batas Wilayah

Kecamatan Sibolangit merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Deli Serdang, Propinsi Sumatera Utara yang terletak antara 3o24’– 6o37’ Lintang Utara dan 98o56’– 98o60’bujur timur. Kecamatan Sibolangit memiliki luas wilayah sebesar 173,32 km2 dan memiliki ketinggian 350-700 m di atas permukaan laut.

Menurut BPS (2018) Deli Serdang, Kecamatan Sibolangit terdiri dari 30 desa, yaitu Bandar Baru, Sikeben, Martelu, Bukum, Negeri Gunung, Cinta Rakyat, Ketangkuhen, Suka Maju, Buluh Awar, Batu Layang, Rumah PilPil, Suka Makmur, Durin Serugun, Ujug Deleng, Tanjung Beringin, Tambunen, Puang Aja, Betimus Mbaru, Rumah Sumbul, Rumah Kinangkung, Sala Bulan, Bengkurung, Kuala, Batu Mbelin, Sibolangit, Sembahe, Buah Nabar, Bingkawan, Sayum Sabah, dan Rambung Baru. Pada posisi pemetaan, batas wilayah Kecamatan Sibolangit dapat diuraikan sebagai berikut :

• Timur : Berbatasan dengan Kecamatan Namo Rambe, Kecamatan Biru-Biru, dan Kecamatan STM Hilir

• Selatan : Berbatasan dengan Kabupaten Karo

• Barat : Berbatasan dengan Kabupaten Kutalimbaru

• Utara : Berbatasan dengan Kecamatan Pancur Batu

Berdasarkan data Sibolangit dalam Angka (2018) BPS Deli Serdang, luas Kecamatan Sibolangit yang terdiri atas 30 desa dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut.

.

Tabel 4.1. Luas Desa di Kecamatan Sibolangit

Sumber : Kecamatan Sibolangit dalam Angka 2018 Wilayah administrasi Kecamatan Sibolangit juga dipetakan secara Sistem Informasi Geografis menggunakan software ArcGIS 10.5. Peta wilayah

administrasi Kecamatan Sibolangit yang terdiri dari 30 desa tersebut dapat dilihat pada Gambar 4.1 berikut ini.

Gambar 4.1. Peta Administrasi Kecamatan Sibolangit

4.1.2 Faktor Curah Hujan

Sebagai salah satu parameter penentuan wilayah rawan longsor, faktor-faktor curah hujan yang menentukan yaitu: besar curah hujan, intensitas hujan dan distribusi curah hujan. Berdasarkan klasifikasi curah hujan RTRW Kabupaten Deli Serdang, Kecamatan Sibolangit memiliki 2 (dua) kelas curah hujan yaitu 2000 mm/tahun, dan 2001-2500 mm/tahun. Curah hujan dengan intensitas 1501-2000 mm/tahun memiliki luasan wilayah terkecil yaitu 20,89 km2. Curah hujan dengan intensitas 2001-2500 mm/tahun memiliki luasan wilayah terbesar yaitu 156,73 km2. Secara rinci, dapat dilihat di tabel 4.2 berikut:

Tabel 4.2. Tingkat Curah Hujan per Tahun di Kecamatan Sibolangit No Desa/Kelurahan Curah Hujan (mm/tahun) Skor

1

Sumber : Data RTRW Kabupaten Deli Serdang

Dapat dilihat pada tabel di atas bahwa terdapat 2 desa di Sibolangit yang memiliki curah hujan 1501 mm/tahun sampai dengan 2500 mm/tahun yaitu desa Bukum dan Negeri Gugung. Maka dapat dilihat di table tersebut bahwa kedua desa tersebut memiliki skor yang lebih tinggi, yaitu 5 (lima). Sedangkan 28 desa lainnya memiliki curah hujan 2001 mm/tahun sampai dengan 2500 mm/tahun, sehingga desa-desa tersebut memiliki skor yang lebih rendah yaitu 3 (tiga) sesuai dengan Pengharkatan Pusitanak (2004).

Selain tabel diatas, curah hujan tersebut di petakan dengan sistem informasi geografis menggunakan software ArcGIS 10.5 sesuai dengan wilayah desa dan parameter curah hujan yang diambil dari Peta RTRW Kabupaten Deli Serdang.

Peta curah hujan di setiap desa pada Kecamatan Sibolangit yang dapat dilihat pada Gambar 4.2.

Gambar 4.2. Peta Curah Hujan Kecamatan Sibolangit

4.1.3 Jenis Batuan

Secara geologi Kecamatan Sibolangit merupakan wilayah dengan struktur batuan yang sangat dipengaruhi oleh kondisi pegunungan disekitarnya. Sifat-sifat teknis batuan berbeda-berda tergantung pada asal usulnya. Secara umum sifat-sifat teknis batuan dipengaruhi oleh : struktur dan tekstur, kandungan mineral, kekar/bentuk gabungan lapisan bidang dasar, kondisi cuaca dan sedimentasi/rekatan. Berdasarkan klasifikasi RTRW Kabupaten Deli Serdang (2018) klasifikasi formasi batuan di Kecamatan Sibolangit berdasarkan asal bentukannya dibagi menjadi dua yaitu batuan vulkanik dan batuan alluvial. Formasi batuan vulkanik merupakan batuan gunung api yang tidak teruraikan. Batuan ini memiliki sifat kepekaan terhadap longsor tinggi. Batuan vulkanik terdiri atas satuan batuan gunung api barus, mikrodiorit menden, satuan binjai, satuan mentar, satuan sibayak, dan satuan singkuf. Batuan alluvial merupakan batuan hasil endapan proses geodinamika yang terjadi pada batuan di wilayah tersebut. Batuan ini memiliki sifat kepekaan terhadap longsor rendah. Satuan batuan aluvial yang terdapat di Kecamatan Sibolangit yaitu batuan aluvium muda.

Kondisi stratigrafi dan formasi geologi yang terdapat pada daerah penelitian antara lain :

a. Satuan Mentar (QTvm)

Litologinya terdiri dari batuan piroklastik batu apung, dengan komposisi batu apung dan fragmen-fragmen batuan beku, warna coklat kekuningan berbintik hitam, berbutir sangat kasar, massa dasar debu gunung api. Fragmen-fragmen batu apung berwarna putih kecoklatan berbintik hitam dan struktur skoria. Melihat dari karakteristik litologinya, Satuan Mentar bersifat berpori dan permeabel. Formasi batuan ini memiliki luas sekitar 74 km2 di Kecamatan Sibolangit.

b. Satuan Binjai (Qvbj)

Satuan Binjai tersusun oleh breksi aliran (lahar) dengan fragmen-fragmen campuran lepas berupa bongkah-bongkah maupun blok-blok besar batuan beku berbentuk menyudut hingga membulat tanggung, berukuran diameter 5 cm hingga 75 cm, terdapat debu dan pasir serta sortasi buruk. Breksi lahar tersebut terlihat sangat berpori dan permeabel dengan butiran-butiran berada dalam keams terbuka, dan terdapatnya aliran berupa mata air kecil akibat dari resapannya dari permukaan tanah. Formasi batuan ini memiliki luas sekitar 19 km2 di Kecamatan Sibolangit.

c. Satuan Singkrut (Qvbs)

Permukaan satuan ini ditutupi oleh tanah pelapukan. Satuan ini tersusun oleh tuf batu apung dan piroklastik. Tuf batu apung berwarna abu-abu cerah, putih kekuningan berbintik hitam dan fragmen-fragmen batu apung serta batuan beku dalam berbagai ukuran.Batuan-batuan ini banyak tersingkap dengan rekahan-rekahan sebagai jalan keluarnya mata air. Hal ini menunjukkan batuan tuf batu apung Satuan Singkut memiliki permeabilitas rekahan dan daya resap air tanah yang tinggi. Formasi batuan ini memiliki luas sekitar 54 km2 di Kecamatan Sibolangit.

d. Satuan Sibayak (Qvba)

Satuan Sibayak terdiri dari lava, piroklastik dan tuf yang menyebar menempati daerah-daerah sekitar lereng, kaldera dan puncak. Satuan Sibayak berupa lava, bersifat masif dan sangat keras, warna hitam, tidak bersifat lulus air. Satuan Sibayak berupa lava dengan struktur kekar kolom diperkirakan bisa bertindak sebagai media resapan air hujan dan air tanah melalui pola rekahan vertikal yang terbentuk.

Formasi batuan ini memiliki luas sekitar 10 km2 di Kecamatan Sibolangit.

e. Mikrodiorit Menden (Qtim)

Batuan ini merupakan batuan beku intrusive, dimana proses pembentukannya terjadi di dalam kerak bumi atau di bawah permukaan bumi. Batuan ini merupakan bentuk dari pendinginan magma yang ada di dalam kerak bumi sehingga tekstur batuan beku biasanya bersifat kasar. Pada batuan beku bahkan bisa dilihat butiran mineral yang sangat jelas dan dapat dilihat oleh mata telangjang. Formasi batuan ini memiliki luas sekitar 5 km2 di Kecamatan Sibolangit.

f. Gunung Api Barus (Qvbr)

Batuan ini merupakan batuan beku ekstrusif, dimana proses pembentukannya terjadi di atas permukaan kerak bumi karena adanya pencairan magma di dalam

Batuan ini merupakan batuan sedimen Klastik/Mekanik (Clastic Sedimentary Rock). Batuan ini terbentuk melalui proses perombakan batuan lain yang telah ada sebelumnya. Hasil rombakan itu kemudian mengalami transportasi oleh media air,

angin atau es dan diendapkan di tempat lain. Endapan tersebut disebut sebagai sedimen. Dengan berjalannya waktu, endapan sedimen mengalami pembatuan atau litifikasi menjadi batuan sedimen. Batuan aluvium ini merupakan batuan sedimen yang dibentuk atau diendapkan oleh sungai-sungai. Formasi batuan ini memiliki luas luas sekitar 1 km2 di Kecamatan Sibolangit.

Jenis dan distribusi batuan di Kecamatan Sibolangit dapat dilihat pada Tabel 4.3 berikut ini.

Tabel 4.3. Jenis Formasi Batuan di Kecamatan Sibolangit

No Desa/Kelurahan Formasi Batuan Skor

1

Sumber : Data RTRW Kabupaten Deli Serdang

Dimana:

Qvba : Satuan Sibayak Qvbj : Satuan Binjai

Qvbr : Batuan Gunung Api Barus QTvm : Satuan Mentar

Qh : Aluvium Muda Qtim : Mikrodiorit Menden

Jenis formasi batuan di Kecamatan Sibolangit dipetakan secara Sistem Informasi Geografis sesuai dengan data RTRW Kabupaten Deli Serdang (Bappeda, 2018). Peta jenis batuan tersebut dapat dilihat pada Gambar 4.3.

Gambar 4.3. Peta Jenis Batuan Kecamatan Sibolangit

4.1.4 Jenis Tanah

Jenis tanah di Kecamatan Sibolangit antara lain aluvial, podsolik, andosol, litosol, latosol, regosol serta perpaduan diantaranya jenis-jenis tanah tersebut seperti yang terdapat pada beberapa wilayah. Jenis serta distribusi jenis tanah di Kecamatan Sibolangit dapat dilihat pada Tabel 4.4 dan Gambar 4.4. Klasifikasi dan deskripsi jenis tanah di Kecamatan Sibolangit menurut data RTRW Kabupaten Deli Serdang (2018) dapat diuraikan sebagai berikut :

a. Tanah Aluvial

Terbentuk dari hasil sedimentasi erosi tanah dengan bahan Aluvial dan Koluvial. Secara umum tergolong ke dalam sub group entisols terbentuk pada daerah dengan bentuk fisiografi dataran banjir. Tanah jenis ini memiliki tingkat kepekaan rendah terhadap longsor.

b. Tanah Podsolik

Ketebalan Solum antara 50 – 180 cm, dengan batasan horison yang nyata warna merah kuning dengan strukur lempung berpasir Osol hingga liat. Jenis tanah ini bersifat gembur dan mempunyai perkembangan penampang.

Cenderung tidak seberapa mantap dan teguh, peka terhadap pengikisan. Tanah jenis ini memiliki tingkat kepekaan tinggi terhadap longsor.

c. Tanah Andosol

Jenis tanah ini terdapat pada tofografi datar, bergelombang dan berbukit.

Jenis tanah ini umumnya berwarna hitam, memiliki penampang yang berkembang, dengan horizon-A yang tebal, gembur dan kaya bahan organik.

Sifat fisiknya baik, dengan kelulusan sedang serta peka terhadap erosi.

d. Tanah Latosol

Ketebalan jenis tanah ini antara 130 – 500 mm, batas horizon jelas, warna merah, coklat sampai kuning, pH tanah 4.5 – 6.5 dengan tekstur tanah liat dan struktur renah, daya menahan air cukup baik dan agak tahan menahan erosi.

Tanah jenis ini digolongkan kedalam jenis dengan kepekaan rendah terhadap longsor.

f. Regosol

Tanah Regosol, jenis tanah ini terbentuk dari bahan induk abu dan pasir vulkan intermedier. Bentuk wilayahnya berombak sampai bergunung. Tekstur tanah ini biasanya kasar, tanpa ada struktur tanah, konsistensi lepas sampai

gembur dan keasaman tanah dengan pH sekitar 6-7. Tanah jenis ini digolongkan kedalam jenis dengan kepekaan tinggi terhadap longsor.

Berdasarkan data RTRW Kabupaten Deli Serang, didapatkan jenis tanah pada setiap desa di Kecamatan Sibolangit seperti pada Tabel 4.4 berikut ini.

Tabel 4.4. Jenis Tanah di Kecamatan Sibolangit

No Desa/Kelurahan Jenis Tanah Skor 1

Sumber : Peta RTRW Kabupaten Deli Serdang

Dimana :

A : Andosol L : Latosol P : Podsolik R : Regosol

LA : Asosiasi Latosol Aluvium LK : Latosol Kuning

RA : Asosiasi Regosol Aluvium RP : Asosiasi Regosol Podsolik

Secara Sistem Informasi Geografis, parameter jenis tanah ini dipetakan berdasarkan data RTRW Kabupaten Deli Serdang menggunakan software ArcGIS 10.5 yang dapat dilihat pada Gambar 4.4. Dapat dilihat pada Gambar tersebut bahwa jenis tanah asosiasi regosol, podsolik mendominasi wilayah Sibolangit.

Gambar 4.4. Peta Jenis Tanah Kecamatan Sibolangit

4.1.5 Kemiringan Lahan

Kemiringan lahan di Kecamatan Sibolangit bervariasi mulai dari datar sampai sangat curam.

Berdasarkan hasil DEM (Digital Elevation Model) Kecamatan Sibolangit, didapatkan klasifikasi kemiringan lahan datar (kemiringan 0-8%), landai (kemiringan (8-15%), terjal (kemiringan 15-25%), curam (kemiringan 25-45%) dan sangat curam (kemiringan >45%). Luas dan distribusi masing-masing kelas kemiringan lahan dapat dilihat pada Tabel 4.5 dan Gambar 4.5.

Secara rinci, kemiringan lereng pada Kecamatan Sibolangit dapat dikelompokkan sebagai berikut:

Tabel 4.5. Kemiringan Lahan pada Kecamatan Sibolangit No Desa/Kelurahan Kemiringan

Lahan (%) Skor

Tabel 4.5. Kemiringan Lahan Kecamatan Sibolangit (Lanjutan) No Desa/Kelurahan Kemiringan

Lahan (%) Skor

24 Batu Mbelin <8 s/d 30 6

25 Sibolangit <8 s/d 45 10

26 Sembahe <8 s/d 30 6

27 Buah Nabar <8 s/d 30 6

28 Bingkawan <8 s/d 30 6

29 Sayum Sabah <8 s/d 30 6

30 Rambung Baru <8 s/d 45 10

Sumber : Peta RTRW Kabupaten Deli Serdang Keterangan:

a. Kemiringan <8% : Datar b. Kemiringan 8-15% : Landai c. Kemiringan 15-30% : Miring d. Kemiringan 30-45% : Terjal

e. Kemiringan >45% : Sangat Terjal

Peta kemiringan lereng di Kecamatan Sibolangit dibuat secara Sistem Informasi Geografis menggunakan software ArcGIS 10.5. Pemetaan tersebut dapat dilihat pada Gambar 4.5

Gambar 4.5. Peta Kemiringan Lahan Kecamatan Sibolangit

4.1.6 Penggunaan Lahan

Penggunaan lahan di Kecamatan Sibolangit terbagi kedalam lima tipe yaitu : Hutan, Perkebunan, Permukiman, Persawahan, dan Tegalan (Bappeda 2018). Tipe dan distribusi penggunaan lahan di Kecamatan Sibolangit dapat dilihat pada Tabel 4.6.

Tabel 4.6. Penggunaan Lahan di Kecamatan Sibolangit

No Desa/Kelurahan Kemiringan

Lahan (%) Skor

Sikeben Permukiman, Hutan, Perkebunan 5

3 Martelu Permukiman, Perkebunan 5

4 Bukum Permukiman, Perkebunan, Hutan, Persawahan 10 5 Negeri Gugung Perkebunan, Persawahan, Hutan 5 6 Cinta Rakyat Perkebunan, Permukiman, Persawahan 10 7 Ketangkuhen Perkebunan, Permukiman, Persawahan 10 8 Suka Maju Perkebunan, Permukiman, Persawahan 10

9 Buluh Awar Perkebunan, Permukiman 5

10 Batu Layang Perkebunan, Permukiman, Persawahan 10

11 Rumah PilPil Perkebunan, Persawahan 8

12 Suka Makmur Perkebunan 3

13 Durin Serugun Perkebunan, Permukiman, Tegalan 10

14 Ujug Deleng Hutan, Perkebunan, Permukiman 5

15 Tanjung Beringin Tegalan, Perkebunan 8

16 Tambunen Tegalan, Perkebunan,, Permukiman 10

17 Puang Aja Perkebunan 3

18 Betimus Mbaru Perkebunan 3

19 Rumah Sumbul Tegalan, Perkebunan, Permukiman 10

20 Rumah Kinangkung Perkebunan, Tegalan 8

21 Sala Bulan Perkebunan, Tegalan 8

22 Bengkurung Perkebunan, Tegalan 8

23 Kuala Perkebunan, Permukiman 5

24 Batu Mbelin Perkebunan, Permukiman 5

25 Sibolangit Perkebunan, Permukiman, Tegalan, Persawahan

10 26 Sembahe Perkebunan, Permukiman, Tegalan,

Persawahan

10

27 Buah Nabar Perkebunan, Tegalan 8

28 Bingkawan Tegalan, Perkebunan, Persawahan 8

29 Sayum Sabah Perkebunan, Permukiman 5

30 Rambung Baru Perkebunan 3

Sumber: Sibolangit dalam Angka (2018) BPS Deli Serdang

Tipe penggunaan lahan terbesar di Kecamatan Sibolangit adalah perkebunan yang memiliki luasan 120,59 km2 atau sebesar 63,57% dari total luas Kecamatan Sibolangit. Tipe penggunaan lahan berupa hutan memiliki luasan 37,34 km2 atau

Tipe penggunaan lahan terbesar di Kecamatan Sibolangit adalah perkebunan yang memiliki luasan 120,59 km2 atau sebesar 63,57% dari total luas Kecamatan Sibolangit. Tipe penggunaan lahan berupa hutan memiliki luasan 37,34 km2 atau

Dokumen terkait