BAB - 3 Analisis
2. Jaringan Angkutan Massal Berbasis Rel
Secara umum, rencana pengembangan jaringan jalur KA pada Permen No.54 Tahun 2013 tidak berbeda dengan rencana pengembangan yang ada pada Masterplan Perkeretaapian Jabodetabek Tahun 2020 yang dikeluarkan oleh Dirjen Perkeretaapian, Kementerian Perhubungan Republik Indonesia.
Ditinjau dari rencana program pengembangan yang ada, lintas Bogor sebagai jaringan KA yang melayani Kota Depok telah dianggap cukup mapan dan tidak menjadi prioritas dalam pengembangan jaringan KA di wilayah Jabodetabek. Secara umum, program pengembangan pada lintas ini hanya bersifat peningkatan fasilitas, baik stasiun maupun perkeretaapian. Meskipun demikian, dalam kerangka program pengembangan jangka panjang terdapat 2 program yang dapat dipertimbangkan akan mempengaruhi pergerakan penumpang KA di Kota Depok, yaitu pengembangan jalur KA lingkar dalam dan lingkar luar Jabodetabek.
Jalur KA Lingkar Dalam Jabodetabek yang akan menghubungkan Kamal Muara – Rawa Buaya – Lebak Bulus – Margonda – Cibubur – Cakung – Pulo Gebang – Tj. Priok dapat dipertimbangkan akan menarik pergerakan komuter Kota Depok yang bertujuan langsung ke Jakarta Barat, Jakarta Timur dan Jakarta Utara. Sementara itu, Jalur KA Lingkar Luar Jabodetabek yang menghubungkan Parung Panjang – Citayam – Nambo – Cikarang – Tj. Priok dapat diperkirakan akan mengurangi pergerakan melintas (through traffic) penumpang dan barang di Kota Depok, mengingat lintas ini akan menghubungkan beberapa kawasan industri dengan Tj. Priok dan Parung Panjang sebagai akses pelabuhan.
3.3.2. Kebutuhan Sistem Angkutan Umum Berdasarkan Pola Pergerakan Penumpang Kota Depok
Pada dasarnya, pola pergerakan internal penumpang Kota Depok masih sangat dipengaruhi oleh keberadaan Kota Depok sebagai kota penyangga DKI Jakarta, dan keberadaan jaringan rel KA yang membelah kota menjadi barat dan timur. Adapun secara umum pergerakan internal Kota Depok diuraikan sebagai berikut :
1. Pergerakan utara-selatan
Pergerakan utara-selatan merupakan arah pergerakan utama di Kota Depok. Berkembangnya kota sebagai pusat pemukiman kaum komuter menjadikan pergerakan menuju/dari Kota DKI Jakarta sebagai pergerakan dominan dalam pola perjalanan rutin penumpang di Kota Depok. Selain itu, perkembangan prasarana dan pusat-pusat kegiatan yang secara alamiah mengikuti arah pergerakan ini juga semakin memperkuat posisi pergerakan utara-selatan sebagai pergerakan utama dalam pola pergerakan penumpang Kota Depok.
2. Pergerakan ke pusat kota
Secara umum, pergerakan ke pusat kota dalam pola pergerakan penumpang rutin di Kota Depok merupakan bagian dari pergerakan utara-selatan kota. Pergerakan ini umumnya disebabkan oleh kebutuhan penumpang untuk mengakses Jl. Margonda Raya sebagai penghubung utama Depok – Jakarta dan jaringan pelayanan KA yang berdiri sejajar dengan jalan ini.
Meskipun demikian, berkembang cukup pesatnya Jl. Margonda Raya sebagai pusat pelayanan kota pada saat ini, pada akhirnya juga menimbulkan tarikan pergerakan penumpang yang cukup besar, khususnya pada pola pergerakan akhir minggu (weekend).
3. Pergerakan barat-timur
Secara imajiner, keberadaan jaringan rel KA di tengah kota dan berkembangnya Jl. Margonda Raya sebagai pusat kegiatan kota telah membelah Kota Depok menjadi 2 bagian, barat dan timur.
Selain itu, berkembangnya sub-sub pelayanan kota yang cukup merata di seluruh bagian Kota Depok (Sawangan dan Cinere di sebelah barat, Tapos dan Cimanggis di sebelah timur), dan masih minimnya akses pergerakan timur membuat pergerakan barat-timur Kota Depok sangatlah minim. Pergerakan ini umumnya hanya disebabkan oleh kebutuhan distribusi barang dan keberadaan jalan tol Jagorawi disebelah timur kota. Berdasarkan pola pergerakan penumpang Kota Depok diatas, maka dapat disimpulkan kebutuhan sistem angkutan Kota Depok masih terpusat pada koridor pergerakan utara-selatan, baik yang menghubungkan antar Sub Pelayanan Kota maupun Sub Pelayanan Kota dengan Pusat Pelayanan Kota. Sementara itu, kebutuhan sistem angkutan umum pada koridor barat-timur Kota Depok lebih menitikberatkan pada layanan angkutan pengumpul/pengumpan untuk koridor-koridor utama pergerakan utara-selatan.
Sehubungan dengan minimnya akses pergerakan barat – timur, yang saat ini praktis hanya dilayani oleh koridor Jl. Raya Sawangan – Jl. Tole Iskandar, pembagian wilayah layanan
menjadi barat – timur dapat dilakukan guna mengurangi beban lalu lintas Jl. Dewi Sartika dengan mengoptimalkan fungsi Terminal Depok sebagai transfer point.
Adapun beberapa kondisi akan kebutuhan sistem angkutan umum diatas sendiri telah cukup diakomodasi dengan rencana umum sistem jaringan transportasi yang telah dirumuskan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Depok Tahun 2012-2032 sebagaimana ditampilkan dalam Gambar 3.9.
``
Gambar 3.6. Rencana Umum Sistem Jaringan Transportasi Kota Depok
Sumber : RTRW Kota Depok 2012 – 2032
3.3.3. Potensi Tarikan Penumpang Dari Peningkatan Layanan KA
Dengan semakin tingginya tingkat kemacetan lalu lintas pada akses-akses utama Jakarta dan adanya upaya peningkatan pelayanan KA, potensi moda KA sebagai moda alternatif bagi kaum komuter Kota Depok sangatlah besar.
Hasil kajian KOICA Jepang, dibawah Dirjen Perkeretaapian, Kementerian Perhubungan terhadap Rencana Umum Jaringan Jalur KA di Kawasan Perkotaan Jabodetabek sebagaimana diuraikan pada sub bab 3.3.1, memperkirakan terjadinya penambahan penumpang KA pada lintas Bogor menjadi 348.834 pnp/hari pada tahun 2020 dan 657.299 pnp/hari pada tahun 2030, apabila rencana tersebut dapat terimplementasi dengan baik. Dengan asumsi proporsi perjalanan moda KA Kota Depok terhadap lintas Bogor tetap (25%), maka berdasarkan studi tersebut akan terjadi penambahan penumpang KA di Kota Depok menjadi 87.209 pnp/hari pada tahun 2020 dan meningkat hampir 2 kali lipat pada
tahun 2030 menjadi 164.325 pnp/hari. Adapun prakiraan distribusi penumpang untuk tiap stasiun ditampilkan pada tabel berikut.
Tabel 3.7. Prakiraan Jumlah Penumpang Per Hari Tiap Stasiun Kota Depok
Asumsi :
- Mengacu pada studi “PMC Service of Master Plan and FS for JABODETABEK
Railway in Indonesia, KOICA 2012”
- Proporsi perjalanan Kota Depok terhadap lintas Bogor tetap (25%)
- Distribusi penumpang di tiap stasiun tetap
Sumber : Hasil Analisis, 2013
Mengacu pada tabel diatas, maka kebutuhan akan pengembangan sistem angkutan pengumpan dan fasilitas pendukung angkutan massal (peningkatan jalan akses, fasilitas park and ride, dsb) diperlukan di sepanjang Jl. Margonda Raya sebagai jalan akses utama layanan KA.