BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH
Jl. Margonda Raya No. 54 Telp. 021 775 9869, 021 7776134 Depok 16423RINGKASAN EKSEKUTIF
Disampaikan oleh :
Komplek Villa Cibubur Indah Blok V-2/22
BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH
Jl. Margonda Raya No. 54 Telp. 021 775 9869, 021 7776134 Depok 16423
RINGKASAN EKSEKUTIF
Disampaikan oleh :
Komplek Villa Cibubur Indah Blok V-2/22
BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH
Jl. Margonda Raya No. 54 Telp. 021 775 9869, 021 7776134 Depok 16423
RINGKASAN EKSEKUTIF
Disampaikan oleh :
P
P
e
e
k
k
e
e
r
r
j
j
a
a
a
a
n
n
J
J
a
a
s
s
a
a
K
K
o
o
n
n
s
s
u
u
l
l
t
t
a
a
n
n
s
s
i
i
:
:
K
K
A
A
J
J
I
I
A
A
N
N
D
D
A
A
M
M
P
P
A
A
K
K
P
P
E
E
N
N
I
I
N
N
G
G
K
K
A
A
T
T
A
A
N
N
F
F
R
R
E
E
K
K
U
U
E
E
N
N
S
S
I
I
K
K
E
E
R
R
E
E
T
T
A
A
A
A
P
P
I
I
T
T
E
E
R
R
H
H
A
A
D
D
A
A
P
P
P
P
E
E
R
R
G
G
E
E
R
R
A
A
K
K
A
A
N
N
M
M
A
A
S
S
Y
Y
A
A
R
R
A
A
K
K
A
A
T
T
Desember 2013
Disampaikan oleh :
DAFTAR ISI
Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar BAB I PENDAHULUAN ... 1-1 1.1. Latar Belakang ... 1-1 1.2. Maksud dan Tujuan Pekerjaan ... 1-3 1.3. Sasaran ... 1-3 1.4. Ruang Lingkup Pekerjaan ... 1-3BAB II RANGKUMAN HASIL PENGUMPULAN DATA ... 2-1
2.1. Data Sekunder ... 2-1 2.1.1. Tata Ruang dan Pola Pergerakan Masyarakat Kota Depok ... 2-1 2.1.2. Sistem Transportasi Kota Depok ... 2-10 2.1.3. Jaringan Transportasi Kereta Api ... 2-23 2.2. Data Primer ... 2-25 2.2.1. Hasil Survey Inventarisasi Perlintasan Sebidang KA ... 2-26 2.2.2. Hasil Survey Arus Lalu – Lintas Sekitar Perlintasan Sebidang KA ... 2-26 2.2.3. Hasil Survey Panjang Antrian Sekitar Perlintasan Sebidang KA ... 2-27 2.2.4. Hasil Survey Inventarisasi Kondisi Lima Stasiun KA di Depok ... 2-30
BAB III ANALISIS ... 3-1
3.1.Kebutuhan Sistem Transportasi
Berdasarkan Pola Pergerakan Masyarakat Kota Depok ... 3-1
3.1.1.Sebaran Permukiman Sebagai Pusat Bangkitan Pergerakan... 3-1
3.1.2.Pusat Pelayanan Kegiatan Kota Sebagai Pusat Tarikan Pergerakan 3-3
3.1.3.Pola Pergerakan ... 3-5
3.1.4.Peluang Pengembangan Transit Oriented Development... 3-7
3.2.Kebutuhan Sistem Jaringan Jalan Kota Depok ... 3-9 3.2.1.Perhitungan Volume Lalu – Lintas Dalam smp... 3-9
3.2.3.Kebutuhan Sistem Jaringan Jalan Di Lokasi Tinjauan... 3-12 3.3. Kebutuhan Sistem Angkutan Umum ... 3-12
3.3.1.Rencana Umum Jaringan Angkutan Massal
Pada Kawasan Perkotaan Jabodetabek (PM No.54 Tahun 2013)... 3-12
3.3.2.Kebutuhan Sistem Angkutan Umum Berdasarkan
Pola Pergerakan Penumpang Kota Depok ... 3-15
3.3.3.Potensi Tarikan Penumpang Dari Peningkatan Layanan KA ... 3-16
BAB IV KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ... 4-1
4.1. Kesimpulan ...4-1 4.2.Rekomendasi Sistem Jaringan Jalan Kota Depok...4-6 4.3. RekomendasiSistem Angkutan Umum Kota Depok...4-9
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Jumlah Perlintasan Sebidang antara Jalan Raya danRel Kereta Api di Indonesia ... 1-2
Tabel 2.1 Hierarkhi Pusat Pelayanan Kota Depok 2011-2031 ... 2-2
Tabel 2.2 Rencana Fungsi Jalan di sekitar Jalur KA Kota Depok ... 2-3
Tabel 2.3 Rencana Pembangunan Jalan Baru Di sekitar Jalur KA Kota Depok ... 2-3
Tabel 2.4 Peningkatan Kapasitas Jalan Di sekitar Jalur KA Kota Depok ... 2-5
Tabel 2.5 Rencana Peningkatan Kinerja Simpang Tidak Sebidang
Di Sekitar Jalur KA Kota Depok ... 2-5
Tabel 2.6 Kecamatan dan Kelurahan Sepanjang Jalur KA Kota Depok ... 2-6
Tabel 2.7 Penggunaan Lahan Eksisting Kelurahan
sepanjang Jalur KA Kota Depok 2012 ... 2-7
Tabel 2.8 Jumlah Penduduk Kelurahan Di sekitar Jalur KA Kota Depok 2012 ... 2-7
Tabel 2.9 Proyeksi Jumlah Penduduk Kelurahan Di sekitar Jalur KA Kota Depok 2031 ... 2-8
Tabel 2.10 Data Ruas Jalan Fungsi dan Statusnya ... 2-13
Tabel 2.11 Panjang Jalan Menurut Jenis Permukaan, Kondisi Jalan Dan Kelas Jalan
Di Kota Depok Tahun 2012 ... 2-16
Tabel 2.12 Usulan Pelebaran Jalan (2007-2011) pada Tatralok ... 2-17
Tabel 2.13 Usulan Pembangunan Jalan Baru (2007-2011) pada Tatralok ... 2-17
Tabel 2.14 Usulan Peningkatan Kapasitas Simpang Sebidang (2007-2011) pada Tatralok .... 2-18
Tabel 2.15 Usulan Pembangunan Simpang Tidak Sebidang (2007-2011) pada Tatralok ... 2-18
Tabel 2.16 Usulan Pelebaran Jalan (2011-2016) pada Tatralok ... 2-18
Tabel 2.17 Usulan Pembangunan Jalan Baru (2011-2016) pada Tatralok ... 2-19
Tabel 2.18 Usulan Pembangunan Simpang Tidak Sebidang (20117-2016) pada Tatralok ... 2-19
Tabel 2.19 Usulan Pelebaran Jalan (2016-2021) pada Tatralok ... 2-19
Tabel 2.20 Usulan Pembangunan Jalan Baru (2016-2021) pada Tatralok ... 2-20
Tabel 2.21 Daftar Trayek Angkutan Umum Dalam Kota Depok Tahun 2012 ... 2-20
Tabel 2.22 Komposisi Lalu Lintas Pada Lokasi Jalan Gerbang Kota Depok ... 2-22
Tabel 2.23 Kinerja Lalu Lintas Jaringan Jalan Kota Depok ... 2-22
Tabel 2.24 Daftar Rekapitulasi Panjang Antrian di Daerah Studi ... 2-28
Tabel 2.25 Lima Stasiun Kota Depok ... 2-30
Tabel 3.1 Proyeksi Jumlah Penduduk Kelurahan di Sekitar Jalur KA Kota Depok 2031 ... 3-1
Tabel 3.2 Hierarki Pusat Pelayanan Kota Depok 2011-2031 ... 3-3
Tabel 3.3 Kecenderungan Orientasi Pola Pergerakan Masyarakat ke Pusat Pelayanan
Kota Depok ... 3-5
Tabel 3.4 Lokasi Peluang Pengembangan TOD di Sekitar Stasiun Kota Depok ... 3-7
Pada Lokasi Persimpangan KA Dewi Sartika, Stasiun Citayam
dan Bojong Gede – Lapangan Siaga ... 3-10
Tabel 3.6 Perhitungan Kapasitas dan Derajat Kejenuhan Pada Simpang Tak Bersinyal
Di Persimpangan KA Rawa Geni ... 3-11
Tabel 3.7 Prakiraan Jumla Penumpang Per Hari Tiap Stasiun Depok ... 3-17
Tabel 4.1 Matrik Rekomendasi Penanganan Sistem Jaringan Jalan... 4-8
Tabel 4.2 Rencana Pembangunan dan Peningkatan Sub Terminal Kota Depok ... 4-10
Tabel 4.3 Prakiraan Rencana Trayek Sistem Angkutan Massal Jabodetabek ... 4-10
Tabel 4.4 Proporsi Tarikan Penumpang Dari Fasilitas Park and Ride di beberapa Kota
Amerika... 4-11
Tabel 4.5 Estimasi Kasar Kapasitas Park and Ride Kota Depok... 4-12
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Peta Rencana Struktur Ruang Kota Depok ... 2-4
Gambar 2.2 Peta Rencana Pola Ruang ... 2-9
Gambar 2.3 Pola Jaringan Jalan kota Depok ... 2-11
Gambar 2.4 Sistem Jaringan Jalan kota Depok ... 2-15
Gambar 2.5 Peta Rute KRL Jabodetabek ... 2-23
Gambar 2.6 Proporsi Perjalanan KRL Jabodetabek ... 2-24
Gambar 2.7 Grafik Jumlah Penumpang KA Kota Depok 5 Tahun Terakhir ... 2-25
Gambar 3.1 Peta Rencana Pola Ruang ... 3-2
Gambar 3.2 Peta Rencana Struktur Ruang Kota Depok ... 3-4
Gambar 3.3 Kecenderungan Pola Pergerakan ... 3-6
Gambar 3.4 Lokasi Peluang Pengembangan TOD ... 3-8
Gambar 3.5 Pola Perjalanan Harian di Wilayah Jabodetabek ... 3-13
BAB - 1
Pendahuluan
PT. Multi Area Desentralisasi PembangunanBAB - 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pengembangan jaringan dan layanan kereta api regional Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) merupakan salah satu upaya untuk mengoptimalkan jaringan kereta api perkotaan untuk angkutan umum. Untuk angkutan umum, peluang usaha kereta api sangat besar. Di samping jumlahnya yang terus meningkat, realisasi angkutan penumpang yang melebihi target menunjukkan kebutuhan akan jasa kereta api melebihi yang ditargetkan. Peluang besar angkutan kereta api juga didukung oleh beberapa keunggulan yang dimiliki kereta api dibandingkan moda angkutan lainnya. Kereta api dikenal sebagai moda angkutan yang memiliki multi keunggulan, yaitu hemat energi, hemat lahan, bersahabat dengan lingkungan, tingkat keselamatan relatif tinggi, mampu mengangkut dalam jumlah yang besar dan massal, serta adaptif terhadap perkembangan teknologi. Dikaitkan dengan kecenderungan saat ini, kereta api menjadi moda transportasi yang sangat relevan untuk dikembangkan. Pihak PT. KAI sendiri mengakui manfaat dalam skala nasional dari pengembangan perkeretaapian di Indonesia antara lain dapat menekan kerusakan jalan raya dan menekan kepadatan lalu lintas jalan raya.
Kondisi kereta api Jabodetabek saat ini tidaklah terlalu baik, kapasitas angkut yang mencapai ± 600.000 orang per hari dirasakan masih kurang. Pada tahun 2020 diperkirakan jumlah penumpang kereta api Jabodetabek mencapai 1,2 juta orang per hari. Permasalahan yang ditemukan antara lain frekuensi pelayanan angkutan yang rendah, kapasitas angkut sangat terbatas, serta masih terdapatnya penumpang yang duduk di atap kereta yang dapat membahayakan keselamatan jiwa.
Untuk meningkatkan kapasitas angkut kereta api, pemerintah dan PT KAI telah berkomitmen untuk meningkatkan fekuensi pelayanan dan menambah jumlah rangkaian kereta. Peningkatan pelayanan ini akan sangat mendukung mobilitas penumpang, namun di lain pihak juga dapat mengakibatkan meningkatnya angka kecelakaan lalu lintas mengingat masih banyaknya ditemukan perlintasan sebidang rel kereta api dengan jalan baik perlintasan yang resmi maupun yang tidak (Tabel 1.1). Di Depok saja setidaknya terdapat 4 (empat) titik perlintasan sebidang rel kereta Jakarta-Bogor Line dengan jalan utama, yaitu perlintasan sebidang dengan Jalan Dewi Sartika, Jalan Kampung Rawa Geni, Jalan Stasiun Citayam, dan Jalan Raya Bojonggede.
Tabel 1.1: Jumlah Perlintasan Sebidang antara Jalan Raya dan Rel Kereta Api di Indonesia
Tahun Resmi
Di Jaga
Resmi
Tidak Dijaga Liar Total
2005 1.145 6.929 314 8.388
2006 1.145 6.926 314 8.385
2007 1.142 6.940 592 7.674
2008 1.164 3.415 479 5.058
2009 1.174 3.419 618 5.211
Sumber : Ditjen KA Kementerian Perhubungan
Peningkatan frekuensi kereta api berarti headway kereta api menjadi semakin singkat. Dengan kondisi headway yang ada selama ini saja angka kecelakaan cukup tinggi khususnya pada perlintasan sebidang rel kereta api dengan jalan yang berlalu lintas padat. Untuk menekan angka kecelakaan serta mengurangi antrian kendaraan pada perlintasan kereta api, penurunan headway kereta api perlu diantisipasi dengan mengurangi jumlah perlintasan sebidang dengan cara penutupan perlintasan sebidang terutama perlintasan tidak resmi serta membangun perlintasan tidak sebidang pada lokasi-lokasi yang dipandang layak. Meskipun dengan alasan keselamatan, penutupan perlintasan sebidang akan berdampak pada mobilitas masyarakat di dalam Kota Depok khususnya yang bermukim di sisi Barat rel kereta mengingat terbatasnya jalan raya yang menghubungkan dengan pusat kota Depok. Jalan Raya Citayam yang terletak di sisi Timur rel merupakan akses tercepat dan tersingkat menuju ke Jalan Raya Margonda, sehingga penutupan perlintasan sebidang perlu dipersiapkan dengan baik dan dipikirkan alternative jalan penggantinya. Dalam rangka mempersiapkan alternative tersebut maka perlu dilakukan Kajian Dampak Peningkatan Frekuensi Kereta Api terhadap Pergerakan Masyarakat ini.
1.2. Maksud dan Tujuan Pekerjaan
Maksud dari pekerjaan ini adalah untuk mengetahui dampak peningkatan frekuensi kereta api Jakarta-Bogor line terhadap pengembangan jalan kota dan jalan lokal di Kota Depok. Tujuan dari pekerjaan ini adalah adalah untuk mengantisipasi dampak peningkatan frekuensi kereta api terhadap pergerakan masyarakat, mengidentifikasi kebutuhan pengembangan jaringan jalan kota, serta mempersiapkan rencana penanganan jalan-jalan lokal yang bersilangan sebidang dengan rel kereta api.
1.3. Sasaran
Sasaran yang ingin dicapai adalah :
a. Teridentifikasinya kebutuhan pengembangan jaringan jalan kota.
b. Tersusunnya rencana penanganan jalan-jalan lokal yang bersilangan sebidang dengan rel kereta api.
1.4. Ruang Lingkup Pekerjaan
Penyusunan Kajian Dampak Peningkatan Frekuensi Kereta Api terhadap Pergerakan Masyarakat harus memperhatikan rencana tata guna lahan yang terdapat dalam RTRW, rencana dan hasil kajian Pemda Kota Depok maupun pemerintah pusat yang terkait seperti rencana pembangunan tol Depok-Antasari, rencana Jalan Lingkar Luar Depok, rencana induk transportasi Jabodetabek, dll, serta memadukan data primer dan sekunder yang diperoleh. Kajian ini harus aktual terkait isu permasalahan lalu-lintas Kota Depok yang sedang berkembang saat ini. Data sekunder dikumpulkan dari dinas-dinas terkait, sedangkan pengumpulan data primer dilakukan dengan observasi dan pengukuran lapangan secara langsung.
BAB - 2
Rangkuman
Hasil
Pengumpulan
Data
BAB - 2
RANGKUMAN HASIL PENGUMPULAN DATA
2.1. Data Sekunder
2.1.1. Tata Ruang dan Pola Pergerakan Masyarakat Kota Depok A. RPJMD Kota Depok 2011 – 2016
Isu strategis Kota Depok
Rumusan isu strategis pembangunan Kota Depok terdiri dari : 1. Kualitas pelayanan publik.
2. Tatakelola pemerintahan dan reformasi birokrasi. 3. Potensi ekonomi lokal dan investasi daerah.
4. Pendapatan dan pembiayaan pembangunan daerah. 5. Infrastruktur dasar daerah.
6. Tata ruang dan lingkungan hidup.
7. Kreativitas, inovasi dan prestasi masyarakat.
8. Kualitas kehidupan keluarga, berbangsa dan beragama.
9. Kesehatan, kesejahteraan sosial dan penanggulangan kemiskinan.
Visi
Terwujudnya Kota Depok yang Maju dan Sejahtera
Misi
1. Mewujudkan pelayanan publik yang profesional, berbasis teknologi informasi; 2. Mewujudkan kemandirian ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal;
3. Mewujudkan Infrastruktur dan lingkungan yang nyaman; 4. Mewujudkan SDM unggul, kreatif dan religius.
Tujuan dari misi ketiga di atas adalah :
Meningkatkan kapasitas dan kualitas infrastruktur dasar.
Sedangkan sasarannya adalah :
Strategi dan Arah Kebijakan
Meningkatkan ketersediaan dan kualitas sarana-prasarana transportasi serta penataan kawasan strategis
Program Prioritas
1. Pengembangan transportasi massal;
2. Pengembangan sarana prasarana transportasi;
3. Pembangunan, Peningkatan, rehabilitasi dan pemeliharaan jalan dan
jembatan;
4. Penataan Jalur Margonda;
5. Pembangunan sarana prasarana Terminal Jatijajar; 6. Penataan kawasan Terminal Terpadu Margonda; 7. Peningkatan layanan bidang pekerjaan umum. 8. Peningkatan layanan bidang perhubungan;
B. RTRW Kota Depok 2012 – 2032
Rencana Struktur Ruang
Rencana hierarkhi pusat pelayanan Kota Depok disajikan pada Tabel 2.1. Di sub bab ini hanya akan disajikan data pusat pelayanan yang berada di sekitar jalur KA Kota Depok sebagai wilayah studi.
Tabel 2.1. Hierarkhi Pusat Pelayanan Kota Depok 2011-2031
No. Hierarkhi PusatPelayanan Kecamatan Kelurahan Fungsi Utama
1 Pusat Pelayanan
Kota (PPK)
Beji Semua kelurahan di
Kec. Beji
Depok, Depok Jaya,
Pancoran Mas (Pancoran Mas) Mekarjaya, TirtaJaya (Sukmajaya) Kantor pemerintahan Perguruan Tinggi
Perdagangan & jasa regional
Terminal terpadu
Perumahan kepadatan
tinggi (vertikal)
Konservasi budaya
Ruang Terbuka Hijau
Cipayung Seluruh kelurahan
di Kecamatan Cipayung
Perdagangan & jasa skala subwilayah kota
Kawasan SNADA
Industri
Ruang Terbuka Hijau
Rencana pengembangan jaringan jalan di sekitar Jalur KA Kota Depok 2011-2031 terdiri dari (Tabel 2.2. s/d Tabel 2.5.):
Pengembangan fungsi jalan
Pembangunan jalan baru
Peningkatan kapasitas jalan
Peningkatan kinerja simpang tidak sebidang
Tabel 2.2. Rencana Fungsi Jalan di sekitar Jalur KA Kota Depok
No. Fungsi Jalan Ruas
1 Jalan Tol Cinere – Cimanggis
Depok – Antasari
2 Arteri Sekunder Jl. Arief Rachman Hakim
Pitara Raya – Cipayung Raya Jl. Kartini – Jl. Raya Citayam Jl. Akses UI
Jl. Margonda Raya
3 Kolektor Primer Jl. Juanda
Jl. Dewi Sartika Jl. Siliwangi
Sumber : Ranperda RTRW Kota Depok 2011-2031
Tabel 2.3. Rencana Pembangunan Jalan Baru Di sekitar Jalur KA Kota Depok
No. Pembangunan Jalan Baru Ruas
1 Pembangunan jalan untuk arah
Utara – Selatan
jalan sejajar jalur rel kereta api yang
menghubungkan Jalan Siliwangi dengan Jalan Arif Rahman Hakim
2 Pembangunan jalan untuk arah
barat – timur
terusan Jalan Kota Kembang menghubungkan
simpang Jalan Kartini dengan Jalan Sawangan;
terusan Jalan AR Hakim sampai Jalan Raya Tanah
Baru;
jalan tembus lanjutan Jalan Ir. H. Juanda,
menghubungkan Jalan Margonda dengan Jalan Limo Raya.
Tabel 2.4. Peningkatan Kapasitas Jalan Di sekitar Jalur KA Kota Depok
No Ruas
1 Jl. Akses UI
2 Jl. Pitara Raya – Jl. Raya Cipayung
3 Jl. Kartini – Jl. Raya Citayam
4 Jl. Dewi Sartiki – Jl. Raya Sawangan
5 Jl. Siliwangi – Jl.Tole Iskandar
Sumber : Ranperda RTRW Kota Depok 2011-2031
Tabel 2.5. Rencana Peningkatan Kinerja Simpang Tidak Sebidang
Di Sekitar Jalur KA Kota Depok
No Lokasi
1 Simpang rencana terusan Jalan Ir. H. Juanda
dengan rel kereta api; dan
2 Simpang Jalan Siliwangi sampai dengan Jalan
Raya Sawangan.
Sumber : Ranperda RTRW Kota Depok 2011-2031
Rencana Pola Ruang
Secara umum pola ruang di kelurahan-kelurahan di sekitar jalur KA Kota Depok terdiri atas (Gambar 2.2.):
Subzona Permukiman kepadatan tinggi
Subzona Permukiman kepadatan rendah
Zona Perdagangan & jasa skala regional
Subzona perkantoran pemerintah
Subzona perkantoran swasta
Subzona industri mikro/kecil
Subzona pariwisata
Subzona ruang terbuka hijau
C.
Pola Pergerakan Masyarakat Umum
Secara umum wilayah administratif Kota Depok yang berinteraksi langsung dengan jalur KA terdiri atas 7 kelurahan yaitu; Kelurahan Pondokcina dan Kelurahan Kemirimuka (Kecamatan Beji), Kelurahan Depok, Kelurahan Pancoran Mas (Kecamatan Pancoran Mas), dan Kelurahan Ratujaya, Kelurahan Bojongpondok Terong, dan Kelurahan Pondokjaya (Kecamatan Cipayung) (Tabel 2.6).
Tabel 2.6. Kecamatan dan Kelurahan Sepanjang Jalur KA Kota Depok
No. Kelurahan Luas (Ha) Keterangan
I. Kecamatan Beji
1 Beji 212
2 Beji Timur 81
3 Kemirimuka 222 Jalur KA
4 Pondok Cina 238 Jalur KA
5 Kukusan 328
6 Tanahbaru 348
II. Kecamatan Pancoran Mas
1 Rangkapan Jaya Baru 382
2 Rangkapan Jaya 383
3 Mampang 199
4 Pancoran Mas 372 Jalur KA
5 Depok Jaya 111
6 Depok 373 Jalur KA
III. Kecamatan Cipayung
1 Cipayung Jaya 222
2 Bojongpondok Terong 244 Jalur KA
3 Pondokjaya 163 Jalur KA
4 Ratujaya 265 Jalur KA
5 Cipayung 269
Sumber : Analisis Konsultan 2013
Penggunaan lahan
Penggunaan lahan di wilayah kelurahan yang berbatasan langsung dengan jalur KA Kota depok, terdiri dari ; perumahan 1148,10 Ha (59,70 %), penggunaan lainnya 314,98Ha (16,38 %), ladang 114,5 Ha (5,95 %), sarana umum 108,30 Ha (5,63%). Sedangkan penggunaan selain itu relative kecil (kurang dari 5 % luas wilayah) (Tabel 2.7.).
Tabel 2.7. Penggunaan Lahan Eksisting Kelurahan sepanjang Jalur KA Kota Depok 2012
No Guna Lahan
Kec. Beji Kec. PancoranMas Kec. Cipayung Luas Pondok
cina Kemirimuka Depok
Pancoran Mas Ratujaya Bjpondok Terong Pondok Jaya Ha % 1 Pekarangan 31,50 42,20 73,70 3,83 2 Perumahan 98,50 170,80 230,00 353,00 152,30 111,50 32,00 1.148,10 59,70 3 Perkantoran 3,00 3,60 6,60 0,34 4 Perusahaan 11,45 11,45 0,60 5 Ladang 58,50 56,00 114,50 5,95 6 Empang 0,00 0,50 0,50 0,03 7 Kuburan 0,60 0,50 1,10 0,06 8 Sawah 37,00 42,00 2,30 81,30 4,23 9 Lapangan O.R. 1,00 1,20 8,40 1,20 11,80 0,61 10 Peribadatan 2,70 4,50 7,20 0,37 11 Jalan 43,60 43,60 2,27 12 Sarana umum 108,30 108,30 5,63 13 Lainnya 46,60 9,50 29,68 29,90 71,30 128,00 314,98 16,38 Jumlah 235,70 279,50 345,00 480,43 236,20 196,30 160,00 1.923,13 100,00
Sumber : Kecamatan Dalam Angka 2012 Laporan Tahunan Kelurahan Depok 2012 Laporan Tahunan Kelurahan Pancoran Mas 2012
Jumlah Penduduk
Secara umum penduduk di sekitar jalur KA Kota Depok ada pada Tabel 2.8. Tabel 2.8. Jumlah Penduduk Kelurahan Di sekitar Jalur KA Kota Depok 2012
No. Kecamatan Jumlah Penduduk (Jiwa) Luas Wilayah (Ha) Kepadatan (Jiwa/Ha) I Beji - Pondokcina 16.395 238 68,88 - Kemirimuka 39.012 222 175,72 II Pancoran Mas - Depok 46.502 373 124,67 - Pancoran Mas 62.572 372 168 III Cipayung - Ratujaya 35.521 265 134,04 - Bojongpondok Terong 34.945 244 143,21 - Pondokjaya 26.215 163 160,82
Proyeksi Jumlah Penduduk
Proyeksi jumlah penduduk di kelurahan di sekitar jalur KA Kota Depok dihitung berdasarkan analisis daya tampung dengan menggunakan klasifikasi kepadatan penduduk dalam SNI 03-2733-2004. Proyeksi jumlah penduduk ini dapat digunakan sebagai dasar bagi analisis perhitungan bangkitan pegerakan Kota Depok, khususnya di kelurahan-kelurahan di sekitar Jalur KA (Tabel 2.9.).
Tabel 2.9. Proyeksi Jumlah Penduduk Kelurahan Di sekitar Jalur KA Kota Depok 2031
No. Kelurahan Luas(Ha) Kepadatan*Klasifikasi
Kepadatan Jiwa/Ha ** Jumlah Penduduk (Jiwa) 1 Kemirimuka 222 Tinggi 400 88.800 2 Pondokcina 238 Tinggi 400 95.200 3 Depok 373 Tinggi 400 149.200
4 Pancoran Mas 372 Tinggi 400 148.800
5 Bj Pondokterong 244 Rendah 150 36.600
6 Pondokjaya 163 Rendah 150 24.450
7 Ratujaya 265 Rendah 150 39.750
Sumber : Analisis Konsultan 2013
* Ranperda RTRW Kota Depok 2011-2031 ** SNI 03-1733-2004
Secara umum pergerakan masyarakat Kota Depok berasal dari zona permukiman/ perumahan yang merupakan pusat bangkitan pergerakan menuju zona/subzona perdagangan & Jasa berupa pasar, mal, trade centre, pusat perbelanjaan lainnya, zona perkantoran baik perkantoran pemerintahan, maupun perkantoran swasta dan sarana pelayanan umum seperti pasar/puasat perbelanjaan, sekolah, kampus, terminal, stasiun KA, rumah sakit, dan lainnnya sebagai pusat tarikan pergerakan. Umumnya zona perdagangan jasa skala regional maupun perkantoran dan kampus berkembang secara linear (ribbon development) sepanjang jalan Margonda Raya sebagai Pusat Pelayanan Kota.
2.1.2. Sistem Transportasi Kota Depok
Pergerakan orang dan barang di Kota Depok dilayani dengan sistem transportasi umum yang terdiri dari Angkutan Kota (Angkot), Angkutan Antar Kota Dalam Propinsi (AKADP), Angkutan Antar Kota Antar Propinsi (AKAP), dan Kereta Rel Listrik (KRL).
Kota Depok hanya memiliki satu terminal yaitu Terminal Terpadu Kota Depok yang merupakan terminal tipe C yang terletak di Pusat Kota yaitu di jalan Margonda, tetapi secara fungsi, terminal ini difungsikan sebagai terminal tipe A karena melayani juga jenis angkutan Antar Kota Dalam Propinsi (AKADP) dan Antar Kota Antar Propinsi (AKAP). Terminal ini berhubungan langsung dengan Stasiun KRL Depok Baru sehingga memudahkan untuk pergerakan orang dan barang yang akan berganti moda dari angkutan jalan raya (Angkot, AKDP & AKAP) ke angkutan KRL.
Selain Terminal Terpadu dalam kota, kota Depok juga ditunjang oleh beberapa Pangkalan / Sub Terminal. Keberadaan pangkalan / sub terminal ini ditetapkan berdasarkan rute trayek angkutan kota dan sebagian lagi timbul dengan sendirinya sesuai dengan kebutuhan penumpang. Pangkalan angkutan kota di Kota Depok terletak di Pasar Cisalak, Pasar Palsigunung, Simpangan (Simpang Jl. Tole Iskandar dengan Jl. Raya Bogor), Jl. Raya Bogor, Simpang Meruyung, Kukusan, Jl. Raya Parung dan Jl. Sawangan.
Sistem transportasi kota Depok, selain terdiri dari moda angkutan seperti yang sudah disebut di atas, ditunjang juga dengan keberadaannya Ojek Motor. Hampir di seluruh wilayah kota Depok terdapat pangkalan ojek, khususnya di sekitar wilayah perumahan. Sistem Jaringan Jalan Kota Depok
A. Pola Jaringan Jalan
Secara umum dapat dikatakan bahwa pola jaringan jalan kota Depok adalah berbentuk grid, dengan mayoritas pelayanan jaringan jalan arah Utara-Selatan. Hal ini dapat dilihat dari sejunlah jalan utama yang melayani pergerakan arah Utara-Selatan seperti Jl. Margonda Raya – Jl. Citayam, Jl. Limo Raya – Jl. Meruyung Raya – Jl. Keadilan – Jl. Cipaung, Jl. Kukusan – Jl. H. Asmawi – Jl. Nusantara Raya – Jl. Pitara – Jl. Cipayung dan Jl. Raya Bogor. Sementara untuk pelayanan pergerakan arah Timur-Barat masih sangat terbatas.
Terbentuknya pola jaringan jalan mayoritas arah Utara-Selatan dapat dipahami. Hal ini terjadi karena pembangunan jalan yang dilaksanakan didasarkan pada basis pergerakan Depok – Jakarta (Jabodetabek). Disamping itu posisi Kota Depok yang menempatkannya sebagai kota penghubung justru memperkuat arus pergerakan Utara-Selatan.
Pergerakan Timur –Barat praktis hanya dilayani oleh ruas jalan Jl. Tole Iskandar – Jl. Siliwangi – Jl. Dewi Sartika – Jl. Raya Sawangan. Ruas jalan Jl. Ir. Juanda sebenarnya dapat difungsikan untuk memfasilitasi pergerakan Timur-Barat, sayangnya ruas jalan tersebut hanya sampai pada Jl. Margonda Raya. Dengan demikian dapat dilihat bahwa jaringan jalan yang ada belum mampu menghubungakan pertumbuhan Kota Depok di sisi Timur dengan
sisi Barat secara optimal. Gambar 2.2. berikut ini memaparkan pola jaringan jalan Kota Depok tersebut. Jl. Tole Iskandar Jl. Raya Sawangan Jl. Margonda Raya Jl. Citayam Jl. Siliwangi Jl. Dewi Sartika
DKI JAKARTA
Kabupaten Bogor
Jl. Ir. JuandaSumber: Studi Kelayakan Depok Outer Ring Road
Gambar 2.3. Pola Jaringan Jalan kota Depok
Perkembangan kota Depok menuntut adanya keseimbangan pertumbuhan dan konektivitas jaringan antar wilayah. Memperhatikan pola jaringan jalan yang ada akan mengarahkan kegiatan peningkatan konektivitas pola jaringan jalan yang berorientasi pada akomodasi pergerakan Timur-Barat. Untuk mengurangi penumpukan pergerakan di pusat kota (konflik arah pergerakan Utara-Selatan dan Timur Barat), maka perlu pula dibangun pola jalan melingkar pada sisi luar dan sisi dalam kota. Dengan demikian akan terjadi pola pergerakan yang lebih baik. Disamping itu pembangunan pola melingkar akan melingkupi kawasan-kawasan yang belum terakomodasi oleh jaringan jalan Utara-Selatan dan Timur-Barat. Jaringan jalan yang mendukung sistem transportasi kota depok terdiri dari Jalan Margonda Raya sebagai jalan utama di pusat kota yang didukung jaringan – jaringan jalan kota, propinsi dan nasional yang membentuk suatu sistem jaringan pendukung sistem trasportasi kota Depok. Jalan Margonda Raya, ke arah Bogor terhubung dengan Jalan Raya Citayam sedangkan untuk ke arah Jakarta terhubung dengan Jalan Lenteng Agung Barat/Timur dan Jalan Akses UI. Jalan Margonda Raya terhubung juga dengan Tol Jagorawi melalu Tol Cijago.
B. Sistem Jaringan Jalan
Sistem jaringan jalan merupakan satu kesatuan jaringan jalan yang terdiri atas sistem jaringan jalan primer dan sistem jaringan jalan sekunder yang terjalin dalam hubungan hierarki. Sistem Jaringan Jalan Primer merupakan sistem jaringan jalan dengan peran pelayanan distribusi barang dan jasa untuk pengembangan semua wilayah di tingkat nasional dengan menghubungkan semua simpul jasa distribusi yang berwujud pusat kegiatan. Sementara Sistem Jaringan Jalan Sekunder merupakan sistem jaringan jalan dengan peranan pelayanan distribusi barang dan jasa untuk masyarakat di dalam kawasan perkotaan. Dalam konteks jaringan jalan perkotaan, maka unsur pembentuk sistem jaringan jalan adalah pusat kegiatan, fungsi jalan dan status jalan.
Pusat Kegiatan
Pusat Kegiatan sebagai unsur pembentuk sistem jaringan jalan meliputi:
(1) Pusat Kegiatan Nasional (PKN) merupakan kawasan perkotaan yang berfungsi untuk
melayani kegiatan skala internasional, nasional, atau beberapa provinsi.
(2) Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) merupakan kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala provinsi atau beberapa kabupaten/kota.
(3) Pusat Kegiatan Lokal (PKL) merupakan kawasan perkotaan yang berfungsi untuk
melayani kegiatan skala kabupaten/kota atau beberapa kecamatan.
(4) Pusat Kegiatan Lingkungan (PK-Ling) merupakan kawasan perkotaan yang berfungsi untuk melayani kegiatan skala kecamatan atau beberapa desa.
(5) Pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN) merupakan kawasan perkotaan yang ditetapkan
untuk mendorong pengembangan kawasan perbatasan negara. Fungsi Jalan
Fungsi Jalan sebagai unsur pembentuk sistem jaringan jalan meliputi:
Fungsi jalan dalam sistem jaringan jalan primer meliputi Jaringan Anteri Primer (JAP), Jaringan Kolektor Primer (JKP), Jaringan Lolak Primer (JLP), dan Jaringan Lingkngan Primer (JLing-P).
JAP menghubungkan secara berdaya guna:
a) Antar PKN;
b) antara PKN dan PKW;
c) antara PKN dan/atau PKW dan pelabuhan utama/pengumpul; dan d) antara PKN dan/atau PKW dan bandar udara utama/pengumpul.
JKP meliputi:
a) JKP-1 adalah JKP yang menghubungkan secara berdaya guna antar ibukota provinsi;
b) JKP-2 adalah JKP yang menghubungkan secara berdaya guna antara ibukota provinsi dan ibukota kabupaten/kota;
c) JKP-3 adalah JKP yang menghubungkan secara berdaya guna antar ibukota kabupaten/ kota; dan
d) JKP-4 adalah JKP yang menghubungkan secara berdaya guna antara ibukota kabupaten/kota dan ibukota kecamatan.
JLP menghubungkan secara berdaya guna simpul:
a) antara PKN dan PK-Ling; b) antara PKW dan PK-Ling; c) antarPKL; dan
d) antara PKL dan PK-Ling.
JLing-P menghubungkan antarpusat kegiatan di dalam kawasan perdesaan dan jalan di dalam lingkungan kawasan perdesaan.
Status Jalan
Status jalan meliputi jalan nasional (ruas jalan sebagai JAP, JKP-1, jalan tol, dan Jalan Strategis Nasional), jalan propinsi (ruas jalan sebagai JKP-2, JKP-3, dan Jalan Strategis Provinsi) dan jalan kota (ruas jalan sebagai JAS, JKS, JLS, dan JLing-S).
Dalam konteks Kota Depok, maka dapat dikatakan bahwa sistem jaringan jalan kota Depok terbentuk dalam sistem jaringan jalan primer dan jalan sekunder, baik dengan kelas jalan arteri maupun kolektor. Pada Tabel 2.10. dipaparkan data jalan di Kota Depo beserta dengan fungsi dan statusnya, sementara pada Gambar 2.3. dapat dilihat sistem jaringan jalan Kota Depok
Tabel 2.10. Data Ruas Jalan Fungsi dan Statusnya
No. Nama Ruas Jalan Kelas Fungsi Status
1 Rencana Jalan Tol Jagorawi - Cinere Arteri Primer Nasional
2 Rencana Jalan Tol Depok - Antasari Arteri Primer Nasional
3 Jalan Tol Jagorawi Arteri Primer Nasional
4 Jalan Raya Bogor Arteri Primer Nasional
5 Jalan Siliwangi Arteri Sekunder Kota
6 Jalan Juanda (Dari Cinere sampai Tol Jagorawi) Arteri Sekunder Kota
7 Jalan Prof. Lafran Pane Arteri Sekunder Kota
8 Jalan Kemakmuran Arteri Sekunder Kota
9 Jalan Sentosa Raya Arteri Sekunder Kota
10 Jalan baru mulai terusan Jalan Prof. Lafran Pane - Jalan
Sentosa Raya Arteri Sekunder Kota
11 Jalan Raya Parung Kolektor Primer Nasional
12 Jalan Trace Yogi Kolektor Primer Provinsi
13 Jalan Tole Iskandar Kolektor Primer Provinsi
14 Jalan Dewi Sartika Kolektor Primer Provinsi
No. Nama Ruas Jalan Kelas Fungsi Status
16 Jalan Raya Sawangan Kolektor Primer Provinsi
17 Jalan Akses UI Kolektor Primer Provinsi
18 Jalan Kartini Kolektor Primer Provinsi
19 Jalan Raya Citayam Kolektor Primer Provinsi
20 Jalan KSU Kolektor Primer Provinsi
21 Jalan Cinere Raya Kolektor Sekunder Kota
22 Jalan Meruyung Raya Kolektor Sekunder Kota
23 Jalan Keadilan Kolektor Sekunder Kota
24 Jalan Bojong Gede Raya Kolektor Sekunder Kota
25 Jalan Tanah Baru Kolektor Sekunder Kota
26 Jalan Pramuka Kolektor Sekunder Kota
27 Jalan Krukut Raya Kolektor Sekunder Kota
28 Jalan Pitara Kolektor Sekunder Kota
29 Jalan Nusantara Kolektor Sekunder Kota
30 Jalan Kota Kembang Kolektor Sekunder Kota
31 Jalan Radar AURI Kolektor Sekunder Kota
32 Jalan Putri Tunggal Kolektor Sekunder Kota
33 Jalan Sukatani Kolektor Sekunder Kota
34 Jalan Tapos Raya Kolektor Sekunder Kota
35 Jalan Abdul Wahab Kolektor Sekunder Kota
36 Jalan Baru Ramp Cimanggis Tol Jagorawi - Terminal
Jatijajar Jagorawi - Terminal Jatijajar
Kolektor Sekunder Kota
37 Jalan Baru mulai dari simpang jalan Parung Raya
sampai Jalan Bogor Raya
Kolektor Sekunder Kota
38 Jalan baru mulai dari Simpang Jalan Meruyung Raya
sampai jalan Parung Raya Kolektor Sekunder Kota
39 Jalan baru terusan Jalan AR Hakim sampai Tanah Baru Kolektor Sekunder Kota
40 Jalan baru terusan Jalan Kota Kembang (Sp. Jalan
Kartini) sampai Jalan Sawangan (Sp. Jl. Pramuka)
Kolektor Sekunder Kota
41 Jalan baru sejajar rel KA Lokal Sekunder Kota
42 Ruas-ruas jalan lokal lainny Lokal Sekunder Kota
Sumber: Studi Kelayakan Depok Outer Ring Road,
Keterangan:
Gambar 2.4. Sistem Jaringan Jalan kota Depok
Berdasarkan data dari Kota Depok Dalam Angka Tahun 2012 menunjukkan bahwa kota Depok memiliki panjang jalan total sepanjang 518,42 km dengan rincian, jalan nasional sepanjang 30,77 km, jalan provinsi sepanjang 11,50 km dan jalan kota sepanjang 476,15 km.
Sedangkan Kondisi Jaringan jalan di kota Depok terdiri dari 82,82% berada dalam kondisi baik, dan 17,18% dalam kondisi rusak. Kondisi prasarana jalan tersebut disajikan pada Tabel 2.11. dibawah ini.
Jalan Provinsi Jalan Arteri kota Jalan Kolektor Kota
Tabel 2.11. Panjang Jalan Menurut Jenis Permukaan, Kondisi Jalan Dan Kelas Jalan Di Kota Depok
Tahun 2012
Uraian Jalan Nasional(KM) Jalan Provinsi(KM) Jalan Kota(KM) Jumlah(KM) Persentase(%)
Jenis Permukaan Diaspal 30,77 6,50 117,35 154,62 29,82 Kerikil - - - - -Tanah - 5,00 358,80 363,80 70,18 Beton - - - -Jumlah 30,77 11,50 476,15 518,42 100,00 Kondisi Jalan Baik 30,77 6,00 392,56 429,33 82,82 Sedang - - - - -Rusak - 5,50 83,59 89,09 17,18 Rusak Berat - - - - -Jumlah 30,77 11.50 476,15 518, 42 100,00 Kelas Jalan Kelas I 30,77 - - 30,77 5,94 Kelas II - 11,50 - 11,50 2,22 Kelas IIIa - - 78,62 78,62 15,17 Kelas IIIb - - 397,53 397,53 76,67 Kelas IIIc - - - - -Kelas Tdk Dirinci - - - - -Jumlah 30,77 11,50 476,15 518,42 100,00
Sumber: Kota Depok Dalam Angka 2012
C. Rencana Pengembangan Jaringan Jalan
Rencana pengembangan jaringan jalan meliputi pelebaran jalan, pembangunan jalan dan simpang tidak sebidang.
a. Periode 2007-2011
(1) Pelebaran Jalan
Tabel 2.12. Usulan Pelebaran Jalan (2007-2011) pada Tatralok
No. Nama Jalan Usulan Pelebaran Jalan
1 Jalan Tole Iskandar (Margonda-Kemakmuran) 4 X 3.50
2 Jalan Kemakmuran 4 X 3.50
3 Jalan Sentosa 4 X 3.50
4 Jalan Prof Lafrane Pane 4 X 3.50
5 Jalan Akses UI (Ruas Lafran Pane-Margonda) 4 X 3.50
6 Jalan Cinere 4 X 3.25
7 Jalan Akses UI (Ruas Lafran Pane-Bogor Raya) 4 X 3.50
8 Jalan Radar AURI 2 X 3.50
9 Jalan Meruyung Raya 2 X 3.50
10 Jalan Kartini 4 X 3.00
11 Jalan Tanah Baru 2 X 3.25
12 Jalan Pramuka 2 X 3.25
13 Jalan Tole Iskandar (Kemakmuran-Bogor Raya)) 4 X 3.50
14 Jalan Pitara 2 X 3.50
15 Jalan Krukut Raya 2 X 3.25
16 Jalan KSU 2 X 3.50
Sumber: Studi TATRALOK (2) Pembangunan Jalan Baru
Tabel 2.13. Usulan Pembangunan Jalan Baru (2007-2011) pada Tatralok
No Nama Jalan Usulan JalanBaru
1 Jalan Tol Depok-Antasari 6/2 D
2 Jalan Tol Cinere-Jagorawi 6/2 D
3 Terusan Jalan Kelapa Dua/ Jalan Lafran Pane dengan Jalan Sentosa
Raya / Jalan Kemakmuran
4/2 D
4 Terusan Jalan Juanda menuju Cinere 4/2 D
5 Terusan Jalan AR Hakim sampai Jalan Tanah Baru 4/2 UD
6 Jalan Sejajar Rel Kereta Api 2/1
7 Terusan Jalan Parung - Citayam - Kel. Kali Baru - Sp. Jalan Raya
Bogor - Sp. Jalan Tapos 4/2 UD
(3) Peningkatan Kapasitas Simpang Sebidang
Tabel 2.14. Usulan Peningkatan Kapasitas Simpang Sebidang (2007-2011) pada Tatralok
No Nama Lokasi Simpang Sebidang Tipe Simpang
1 Sp. Jalan Bukit Cinere - Jalan Gandul Raya 444M
2 Sp. Jalan Tole Iskandar - Jalan Kemakmuran 346M
3 Sp. Jalan Ir. Juanda - Jalan Sentosa - Jalan Lafran Pane 466M
4 Sp. Jalan Akses UI - Jalan Lafran Pane - Jalan Nusantara 346M
5 Sp. Jalan Radar AURI - Jalan Raya Bogor 446M
6 Sp. Jalan Tanah Baru - Jalan Sawangan 324M
7 Sp. Jalan Sawangan - Jalan Pramuka 444M
8 Sp. Jalan Nusantara - Jalan Dewi Sartika 446M
9 Sp. Jalan Raya Bogor - Jalan Akses UI 344M
10 Sp. Jalan Tole Iskandar - Jalan Raden Saleh 324M
Sumber: Studi TATRALOK
(4) Pembangunan Simpang Tidak Sebidang
Tabel 2.15. Usulan Pembangunan Simpang Tidak Sebidang (2007-2011) pada Tatralok
No Nama Lokasi Simpang Tidak Sebidang Usulan
1 Simpang Tidak Sebidang AR Hakim dengan Rel Kereta Api 4/2 D
2 Simpang Tidak Sebidang Jalan Margonda - Jalan Kartini - Jalan Siliwangi dan
Rel Kereta Api
4/2 D
3 Simpang Tidak Sebidang Rencana Jalan Baru Sp. Jalan Parung - Citayam - Sp.
Jalan Raya Bogor dengan Jalan Rel Kereta Api
4/2 D
4 Simpang Tidak Sebidang Rencana Jalan Baru Sp. Jalan Parung - Citayam
dengan Jalan Tol Antasari-Depok
4/2 D
5 Simpang Tidak Sebidang Rencana Jalan Terusan Juanda dengan Rel Kereta Api 4/2 D
Sumber: Studi TATRALOK,
b. Periode 2012-2016
(1) Pelebaran Jalan
Tabel 2.16. Usulan Pelebaran Jalan (2011-2016) pada Tatralok
No. Nama Jalan Pelebaran JalanUsulan
1 Jalan Siliwangi 6 x 3.50
2 Jalan Kemakmuran 6 x 3.50
3 Jalan Sentosa 6 x 3.50
4 Jalan Lafran Pane 6 x 3.50
No. Nama Jalan Pelebaran JalanUsulan
7 Jalan Dewi Sartika 4 X 3.50
8 Jalan Putri Tunggal 2 x 3.00
9 Jalan Bojong Gede 2 X 3.25
10 Jalan Abdul Wahab 2 x 3.00
11 Jalan Keadilan 2 X 3.25
12 Jalan Sawangan 4 X 3.00
13 Jalan Citayam 2 X 3.25
Sumber: Studi TATRALOK (2) Pembangunan Jalan Baru
Tabel 2.17. Usulan Pembangunan Jalan Baru (2011-2016) pada Tatralok
No. Nama Jalan Jalan BaruUsulan
1 Pintu Tol Cimanggis menuju Terminal Jatijajar 4/2 D
2 Terusan Jalan Juanda menuju Tol Jagorawi 4/2 D
3 Terusan Jalan Kota Kembang (Sp. Jalan Kartini) sampai Jalan Sawangan (Sp.
Jalan Pramuka)
2/2 UD
Sumber: Studi TATRALOK
(3) Pembangunan Simpang Tidak Sebidang
Tabel 2.18. Usulan Pembangunan Simpang Tidak Sebidang (20117-2016) pada Tatralok
No. Nama Lokasi Simpang Tidak Sebidang SimpangUsulan
1 Simpang Tidak Sebidang Rencana Jalan Terusan Jalan Kota Kembang
dengan Rel Kereta Api
4/2 D
Sumber: Studi TATRALOK
c. Periode 2016-2021
(1) Pelebaran Jalan
Tabel 2.19. Usulan Pelebaran Jalan (2016-2021) pada Tatralok
No. Nama Jalan Usulan Pelebaran Jalan
1 Jalan Sinar Matahari 2 x 3.00
2 Jalan Sukatani 2 x 3.00
3 Jalan Tapos Raya 2 x 3.00
4 Jalan Pengasinan 2 x 3.00
5 Jalan Meruyung Raya 4 x 3.00
6 Jalan ARCO Raya 2 x 3.00
(2) Pembangunan Jalan Baru
Tabel 2.20. Usulan Pembangunan Jalan Baru (2016-2021) pada Tatralok
No. Nama Jalan Usulan Jalan Baru
1 Jalan dari Sp. Jalan Meruyung Raya sampai Jalan
Parung Raya
2/2 UD
Sumber: Studi TATRALOK
Sistem Angkutan Umum Kota Depok
Sistem angkutan umum Kota Depok terdiri angkutan umum yang melayani kebutuhan dalam Kota Depok, yaitu yang dilayani oleh moda Angkutan Kota (Angkot) dan ditunjang oleh moda angkutan Ojek Motor. Sedangkan untuk luar kota dilayani oleh moda angkutan AKDP, AKAP dan KRL.
Terdapat 22 trayek angkutan dalam kota dengan jenis moda yang melayaninya adalah jenis mini cab. Tabel 2.21. Dibawah ini berisikan daftar trayek angkutan dalam kota Depok berikut jumlah armada yang melayaninya.
Sedangkan untuk angkutan Antar Kota Dalam Propinsi (AKDP) terdapat 10 trayek yang memiliki asal/tujuan Kota Depok dengan total Perusahaan Oto Bus (PO Bus) yang melayani sebanyak 12 PO Bus.
Untuk trayek Antar Kota Antar Propinsi (AKAP) yang asal/tujuannya melalui Terminal Terpadu Kota Depok, hanya ada 1 tarayek ke propinsi lain, yaitu ke Propinsi DKI Jakarta dengan 6 trayek asal/tujuan dan dilayani oleh 2 PO Bus. Disamping AKAP yang asal/tujuannya melalui Terminal Terpadu Kota Depok, terdapat juga beberapa AKAP yang asal/tujuannya tidak melalui terminal tersebut, tetapi melalui lokasi agen/pool dari masing – masing PO Bus yang bersangkutan.
Tabel 2.21: Daftar Trayek Angkutan Umum Dalam Kota Depok Tahun 2012
NO. TRAYEKKODE LINTASAN TRAYEK
JUMLAH MODA YANG MELAYANI
1 D.01 Terminal Depok – Depok Dalam PP 157
2 D.02 Terminal Depok – Depok II Tengah/Timur PP 555
3 D.03 Terminal Depok – Sawangan PP 547
4 D.04 Terminal Depok – Beji – Kukusan PP 170
5 D.05 Terminal Depok – Citayam PP 376
6 D.06 Terminal Depok – Pasar Cisalak PP 286
7 D.07 Terminal Depok – Rawa Denok PP 46
NO. TRAYEKKODE LINTASAN TRAYEK
JUMLAH MODA YANG MELAYANI
9 D.08 Terminal Depok – BBM – Kali Mulya PP 34
10 D.09 Terminal Depok – Studio Alam – Kali Mulya PP 56
11 D.10 Terminal Depok – Parung Serab – Kali Mulya PP 81
12 D.11 Terminal Depok – Kelapa Dua – Palsigunung PP 145
13 D.15 Terminal Depok – Simpangan – Limo PP 36
14 D.17 Terminal Jatijajar – Cibubur PP 10
15 D.21 Terminal Sub Sawangan – Bedahan – Duren Seribu PP 20
16 D.25 Terminal Sub Sawangan – Curug – Pondok Petir PP 32
17 D.26 Terminal Sub Sawangan – Citayam PP 27
18 D.27 Perum. Arco – Sawangan – Cinangka PP 12
19 (35) Pasar Palsigunung – Pangkalan Sugutamu PP 17
20 (35A) Pasar Palsigunung – Pasar Cisalak PP 5
21 (69) Pasar Cisalak – Pekapuran – Leuwinanggung PP 86
22 (107) Pasar Cisalak – Gas Alam – Leuwinanggung PP 112
TOTAL 2884
Sumber: Kota Depok Dalam Angka 2012
Kondisi Lalu – Lintas Kota Depok
Kota Depok yang berbatasan langsung dengan kota Metropolitan Jakarta, maka, mau tidak mau akan berfungsi sebagai kota penyangga kota Metropolitan Jakarta. Dengan kondisi itu, karakteristik lalu – lintas kota ini akan padat pada pagi dan sore hari. Hal ini disebabkan karena sebagian besar penduduk Kota Depok, bekerja/beraktifitas di Jakarta. Pada pagi hari, pergerakan orang akan ke luar kota Depok menuju Jakarta dan pada sore hari dari Jakarta kembali ke kota Depok.
Kepadatan lalu – lintas pada jam – jam puncak (pada pagi dan sore hari) akan sangat tampak pada lokasi – lokasi jalan yang menjadi gerbang kota Depok, seperti jalan Merawan, jalan Pangkalan Jati, jalan Margonda Raya dan jalan Raya Bogor
Jika dilihat dari komposisi lalu – lintasnya, hampir 70% adalah moda angkutan sepeda motor sedangkan sisanya, sekitar 30% adalah kendaraan roda empat pribadi dan umum; dimana komposisinya, kendaraan roda empat pribadi lebih dominan dibandingkan kendaraan umum, kecuali pada jalan Raya Bogor kendaraan roda empat umum lebih mendominasi dibandingkan dengan kendaraan pribadi.
Ditinjau dari V/C Ratio (ratio volume/kapasitas) kepadatan lalu – lintas kota Depok sudah masuk dalam katagori Cukup Padat, terutama pada jam – jam puncak/sibuk, bahkan pada beberapa ruas jalan Nilai V/C Ratio-nya melebihi angka 0,8.
Pada tabel di bawah ini, disajikan komposisi lalu – lintas pada lokasi – lokasi ruas jalan yang menjadi gerbang kota depok dan kinerja lalu – lintas jaringan jalan di kota Depok.
Tabel 2.22. Komposisi Lalu Lintas Pada Lokasi Jalan Gerbang Kota Depok Ruas Jalan Sepeda Motor (%) Pribadi (%) MPU (%) Bus Sedang (%) Bus Besar (%) Truk Kecil (%) Truk Sedang (%) Truk Besar (%) Kendaraan Tak Bermotor (%) Jl. Merawan 56,33 33,54 5,98 0,12 0,01 1,75 1,26 0,05 0,96 Jl. Margonda 69,21 14,84 9,87 3,1 1,23 0,88 0,63 0,03 0,219 Jl. Raya Bogor 70,88 8,4 16,25 1,16 0,19 1,53 1,02 0,26 0,3 Jl. Pangkalan Jati 73,53 13,91 9,93 0,14 0,09 1,49 0,28 0,08 0,55 Jl. Juanda 68,22 22,68 3,13 0,2 0,14 3,31 1,49 0,06 0,77
Sumber : TATRALOK Kota Depok
Tabel 2.23. Kinerja Lalu Lintas Jaringan Jalan Kota Depok
No. Nama Jalan A B Type
Volume Lalu Lintas
(smp) V/C ratio Jalan A ke B B ke A Total
1 Jl. Merawan Cinere Jakarta 2/2UD 1216 697 2559 1.05 2 Jl. Margonda Depok Jakarta 4/2D 4288 2079 6367 1.09 3 Jl. Raya Bogor Jakarta Depok 4/2D 2097 2255 4352 0.80 4 Jl. Raya Bogor Depok Cibinong 4/2D 1335 1416 2750 0.46 5 Jl. Citayam Citayam Depok 2/2UD 1123 523 1285 0.65 6 Jl. Parung Jakarta Bogor 2/2UD 819 1408 2227 0.78 7 Jl. Cinangka Jakarta Parung 2/2UD 759 1770 2529 0.80 8 Jl. Bojong Gede Bojong Gede Depok 2/2UD 665 500 1165 0.68 9 Jl. Parung Serab Cibinong Depok 2/2UD 601 492 1093 0.45 10 Jl. Trace Yogie Cileungsi Depok 4/2D 2320 2441 4761 0.77 11 Jl. Pangkalan Jati Depok Jakarta 2/2UD 1030 484 1504 0.61 12 Jl. Tanah Baru Gandul Sawangan 2/2UD 251 432 683 0.44 13 Jl. Sawangan Depok Parung 2/2UD 762 955 1717 0.64 14 Jl. Cinere Jakarta Depok 4/2D 766 2036 2802 1.05 15 Jl. Kukusan Jakarta Depok 2/2UD 246 488 734 0.55 16 Jl. Nusantara Kukusan AR Hakim 2/2UD 631 346 977 0.61 17 Jl. Dewi Sartika Sawangan Depok 4/2D 1552 1007 2559 0.52 18 Jl. Ir. Juanda Raya Bogor Margonda 4/2D 933 584 1517 0.29 19 Jl. Radar AURI Tol Jagorawi Raya Bogor 2/2UD 363 1135 1498 1.00 20 Jl. Putri Tunggal Jambore Gas Alam 2/2UD 450 675 1125 0.72 21 Jl. Tole Iskandar Margonda Raya Bogor 2/2UD 1292 1431 2723 1.03 22 Jl. AR. Hakim AR Hakim Margonda 2/2UD 1615 430 2045 0.79 23 Jl. Kemakmuran Kemakmuran Tole Iskandar 2/2UD 614 697 1311 0.50 24 Jl. Jatijajar Raya Bogor Cimanggis 2/2UD 677 414 1091 0.46
2.1.3. Jaringan Transportasi Kereta Api A. Jenis Pelayanan, Rute dan Jadwal
Jaringan transportasi kereta api di Kota Depok merupakan bagian dari sistem jaringan KRL Jabodetabek yang pada saat ini biasanya disebut commuter line. Dengan posisi wilayah yang strategis, berada diantara Kota Bogor dan Jakarta, jaringan kereta api Kota Depok sendiri merupakan bagian dari lintas Bogor (Bogor line), salah satu lintas dari 4 lintas utama KRL Jabodetabek (Bogor, Bekasi, Serpong dan Tangerang). Adapun pada saat ini, KRL Jabodetabek memiliki 6 rute utama untuk melayani ke empat lintas tersebut seperti yang ditampilkan pada Gambar 2.4 berikut ini.
Gambar 2.5: Peta Rute KRL Jabodetabek
Sumber: www.krl.co.id
Lintas Bogor merupakan jalur KRL Jabodetabek yang menghubungkan stasiun Bogor dengan sistem jaringan lingkar dalam Kota Jakarta di stasiun Manggarai. Jalur ini sudah merupakan jalur kembar (double track) dengan sistem persinyalan hubungan blok otomatik terbuka, panjang 44,9 km dan sudah dilengkapi dengan listrik aliran atas. Hingga saat ini, jalur ini tidak dilintasi oleh pelayanan kereta api jarak jauh dan seiring dengan dihapuskannya
pelayanan kereta api ekonomi pada bulan Juli 2013 sebagai upaya PT. KAI dalam meningkatkan pelayanannya, jalur Bogor hanya dilintasi oleh pelayanan KA Komuter dan kereta barang yang menuju ke Cibinong.
Sesuai dengan GAPEKA 2013, jumlah perjalanan KRL pada lintas Bogor sebanyak 266 perjalanan/hari.Jumlah perjalanan ini dipenuhi oleh 2 rute yang melintas, yaitu rute Bogor/Depok – Jakarta Kota (red route) dan Bogor/Depok – Jatinegara (orange route).Adapun ditinjau dari proporsinya terhadap keseluruhan jumlah perjalanan KRL Jabodetabek (575 perjalanan/hari), maka hampir 50% perjalanan KRL Jabodetabek melayani lintas ini.
Gambar 2.6: Proporsi perjalanan KRL Jabodetabek
Sumber: Hasil analisis
Berdasarkan jadwal yang dikeluarkan oleh PT. KAI, waktu antara (headway) kereta api pada lintas Bogor berkisar antara 5–10 menit. Headway rata-rata 5-7 menit dipertahankan pada periode jam sibuk pagi (06.00 – 08.00 WIB) dan jam sibuk sore (16.00– 20.00 WIB). Meskipun dalam aplikasinya masih terdapat beberapa keterlambatan jadwal KA, dengan headway yang cukup singkat ini maka permasalahan kemacetan lalu lintas kerap terjadi pada perlintasan-perlintasan sebidang KA dengan jalan raya.
B. Jumlah Penumpang
Secara umum, sistem pergerakan masyarakat Kota Depok tidak dapat dipisahkan dari moda kereta api. Dibangun sekitar tahun 1880 dan dielektrifikasi sejak tahun 1930, lintas KA Bogor telah menjadi salah satu moda utama dari pergerakan masyarakat Bogor dan Depok untuk menuju Jakarta, dan sebaliknya. Seiring dengan meningkatnya permasalahan kemacetan lalu lintas, terutama pada jalan-jalan utama perbatasan, bukan tidak mungkin menjadikan sarana transportasi KA sebagai moda utama bagi kaum komuter Kota Depok.
Dari data penumpang yang diperoleh untuk 5 stasiun KA yang berada di Kota Depok selama 5 tahun terakhir, jumlah penumpang KA Kota Depok di tahun 2012 telah meningkat 1,2 kali dibandingkan tahun 2008 dengan rata-rata tingkat pertumbuhan pengguna 6,6% pertahun.
Gambar 2.7: Grafik Jumlah Penumpang KA Kota Depok 5 Tahun Terakhir
Sumber: Hasil analisis
Meskipun demikian, cukup tingginya pertumbuhan pengguna moda KA tidak berbanding lurus dengan proporsi kereta api dalam transport mode share Kota Depok secara keseluruhan. Dengan rata-rata penumpang harian 76.376 penumpang, hasil studi Jabodetabek Urban Transport Policy Integration (JUTPI, 2012) menyatakan secara keseluruhan proporsi moda KA di Jabodetabek masih dibawah 3%.
Sementara itu, ditinjau dari jumlah penumpang KA pada tiap stasiun, Gambar2.6 menunjukkan Stasiun Depok Baru dan Citayam sebagai dua stasiun dengan jumlah penumpang terbesar diantara lima stasiun KA di Kota Depok. Secara tidak langsung, hal ini menunjukkan kedua stasiun merupakan pusat pergerakan penumpang KA di Kota Depok dan sesuai dengan berkembangnya wilayah di sekitar kedua stasiun sebagai lahan pemukiman penduduk.
2.2. Data Primer
Pengambilan data Primer yang dengan cara survey lapangan dilakukan dari tanggal 01Oktober 2013 sampai tanggal 24 Oktober 2013. Kegiatan pertama dari survey lapangan adalah dilakukannya Survey Inventarisasi Perlintasan Sebidang Kereta Api (KA) baru kemudian diikuti dengan Survey Panjang Antrian Sekitar Lintasan Sebidang KA dan Survey Pencacahan Arus Lalu – Lintas Sekitar Pelintasan Sebidang KA.
2.2.1. Hasil Survey Inventarisasi Perlintasan Sebidang KA
Pada pekerjaan ini Survey Inventarisasi dilakukan pada tanggal 1 Oktober 2013 meliputi 16 pelintasan sebidang KA dan jalan Kota Depok, yaitu:
1. Pondok Cina
2. Pipa Gas Pertamina 3. Gang Kedondong
4. Jl. Dewi Sartika (perlintasan besar) 5. Jl. Rawa Geni (perlintasan besar) 6. Jl. Haji Satiri
7. Jl. Raya Rawa Indah 8. Pondok Terong 9. Damai
10. Jl. Haji Dul 11. Gang Sakti 12. Villa Laskar Indah
13. Stasiun Citayam (perlintasan besar) 14. Gang Karet
15. Paseban
16. Bojong-Lapangan Siaga (perlintasan besar)
Survey pencacahan arus lalu-lintas dan panjang antrian hanya dilakukan di sekitar perlintasan KA dan Jalan Kota yang ditandai dengan kata-kata “perlintasan besar” dalam kurung. Hanya perlintasan nomer 4, 13 dan 16 yang merupakan perlintasan KA yang resmi dan dijaga petugas resmi pula. Selebihnya merupakan perlintasan KA yang tidak resmi yang dijaga secara informal. Perlintasan Pondok Cina hanya bisa dilalui oleh pejalan kaki dan sepeda motor. Walaupun perlintasan Rawa Geni bukan merupakan perlintasan resmi namun karena memiliki akses langsung ke Jl. Raya Citayam posisinya menjadi strategis sehingga digolongkan perlintasan besar dan diobservasi arus lalu-lintas dan panjang antriannya.
2.2.2. Hasil Survey Arus Lalu – Lintas Sekitar Perlintasan Sebidang KA
Untuk mengetahui Volume Lalu – Lintas disekitar perlintasan KA yang ditinjau, maka dilakukan Survey Pencacahan Lalu – Lintas.
Pada pekerjaan ini Survey Pencacahan Arus Lalu – Lintas dilakukan pada:
Rabu, 16 Oktober 2013 untuk simpang Rawa Geni
Kamis, 17 Oktober 2013 untuk Jalan Raya Citayam-Stasiun
Kamis, 24 Oktober 2013 untuk Jalan Raya Bojong Gede-Lapangan Siaga
Rangkuman hasil pencacahan arus lalu-lintas disajikan pada Bab 3 beserta analisis kinerja ruas dan simpang.
2.2.3. Hasil Survey Panjang Antrian Sekitar Perlintasan Sebidang KA
Survey panjang antrian sekitar lintasan sebidang KA bertujuan untuk mengetahui panjangnya antrian dilajur jalan tinjauan apabila terjadi hambatan pada lajur jalan tersebut dikarenakan adanya KA yang melintas.
Survey panjang antrian pada pekerjaan ini dilakukan pada:
Selasa, 8 Oktober 2013 untuk perlintasan sebidang Dewi Sartika
Rabu, 9 Oktober 2013 untuk perlintasan sebidang Rawa Geni
Kamis, 10 Oktober 2013 untuk perlintasan sebidang Stasiun Citayam
Tabel 2.24. Rekapitulasi Panjang Antrian di Daerah Studi
NO. NAMA
PERLINTASAN ARAH PENGUKURAN
PANJANG RATA -RATA ANTRIAN (M) PERIODE WAKTU 6.00-6.30 6.30-7.00 7.00-7.30 7.30-8.00 8.00-8.30 8.30-9.00 9.00-9,30 9.30-10.00 16.00-16.30 16.30-17.00 17.00-17.30 17.30-18.00 18.00-18.30 18.30-19.00 19.00-19.30 19.30-20.00 1 Dewi Sartika
Dari Arah Jalan Margonda
Raya ke Jalan Dewi Sartika 108 155 127 52 42 30 43 50 50 33 37 63 40 57 40 48
Dari Arah Jalan Dewi Sartika
ke Jalan Margonda Raya 77 62 48 65 99 72 61 83 47 60 50 53 45 47 46 60
2 Rawa Geni
Dari Jalan Raya Citayam (arah Citayam) ke Arah Jalan Rawa
Geni Raya
2 8 23 1 1 0 17 1 2 1 5 1 2 1 2 9
Dari Arah Jalan Rawa Geni Raya ke Arah Jalan Raya
Citayam
8 13 9 10 7 4 3 3 3 8 5 5 5 4 3 7
Dari Jln Raya Citayam (arah Bojonggede) ke Arah Jln
Rawa Geni Raya
Tabel 2.24. Rekapitulasi Panjang Antrian di Daerah Studi (Lanjutan)
NO NAMA
PERLINTASAN ARAH PENGUKURAN
PANJANG RATA-RATA ANTRIAN (M) PERIODE WAKTU 6.00-6.30 6.30-7.00 7.00-7.30 7.30-8.00 8.00-8.30 8.30-9.00 9.00-9,30 9.30-10.00 16.00-16.30 16.30-17.00 17.00-17.30 17.30-18.00 18.00-18.30 18.30-19.00 19.00-19.30 19.30-20.00 3 Stasiun Citayam
Dari Arah Jalan Raya Citayam ke Arah Jalan
Raya Bojonggede
61 260 380 400 67 22 42 62 48 27 48 60 37 25 60 63
Dari Arah Jalan Raya Bojonggede ke Arah Jalan
Raya Citayam
87 203 277 270 58 27 32 47 40 40 40 30 32 33 43 32
4 Bojonggede
Dari Arah Citayam & Jalan Raya Bojong Gedong ke
Arah Bogor
57 43 33 27 52 35 30 43 80 33 50 35 22 25 28 53
Dari Arah Bogor ke Arah Citayam & Jalan Raya
Bojong Gedong
2.2.4. Hasil Survey Inventarisasi Kondisi Lima Stasiun KA di Depok
Guna mengakses layanan kereta api, pada saat ini masyarakat Kota Depok dilayani oleh 5 stasiun sebagaimana yang ditampilkan pada Tabel 2.25 berikut.
Tabel 2.25. Lima stasiun Kota Depok
No Nama Stasiun Kelas
1 UI Kecil
2 Pondok Cina Kecil
3 Depok Baru Sedang
4 Depok Besar
5 Citayam Kecil
Sumber: Review Masterplan Pengembangan KA Jabodetabek, 2009
Untuk mengetahui kondisi eksisting prasarana pada stasiun tersebut, survei inventarisasi telah dilakukan pada 15-16 Oktober 2013. Kondisi prasarana pada kelima stasiun tersebut diuraikan berikut ini.
A. Stasiun Citayam 1. Prasarana Stasiun
Stasiun Citayam merupakan stasiun kereta api paling selatan di wilayah Kota Depok dan terletak tepat di Jl. Raya Citayam. Terletak diantara stasiun Depok dan Bojong Gede, emplasemen stasiun ini terdiri atas 2 jalur aktif dengan 3 peron penumpang.
Pada stasiun ini sendiri terdapat percabangan rel KA menuju ke Cibinong – Nambo, yang pada saat ini hanya dilalui oleh KA barang. Meskipun demikian, sesuai dengan Masterplan Perkeretaapian Jabodetabek, jalur Citayam – Nambo ini akan dikembangkan menjadi jaringan lingkar luar KRL Jabodetabek yang menghubungkan Stasiun Parung Panjang dan Stasiun Cikarang pada tahun 2030. Oleh karena itu, adanya penambahan frekuensi KA pada Stasiun Citayam masih memungkinkan untuk terjadi.
Fasilitas umum pada Stasiun Citayam masih sangatlah terbatas. Meskipun sudah dilengkapi dengan fasilitas dasar seperti toilet umum dan mushola, beberapa fasilitas lain belum tersedia di stasiun ini. Hasil tinjauan lapangan ke stasiun ini, fasilitas parkir pada stasiun ini hanya disediakan untuk kendaraan roda dua. Sementara itu, parkir kendaraan roda empat masih diarahkan pada lahan KA yang tidak terpakai disebelah selatan Stasiun Citayam. Saat tinjauan dilakukan pada fasilitas parkir yang ada sendiri, terdapat pohon yang hampir rubuh diluar pagar KA dan cukup membahayakan. Hal ini perlu mendapat perhatian dari pemerintah setempat.
Selain fasilitas parkir, satu hal lain yang perlu ditingkatkan adalah fasilitas penyeberangan pejalan kaki yang aman di wilayah sekitar stasiun. Pada saat ini, fasilitas penyeberangan pejalan kaki pada Stasiun Citayam yang menghubungkan Jl. Raya Citayam dan Jl. Bojong Gede Raya masih sebidang dan tidak terlindung.
2. Akses & Angkutan Pengumpan
Akses utama Stasiun Citayam adalah Jl. Raya Citayam. Jalan ini merupakan jalan 2/2 UD dengan lebar badan jalan ± 7 m. Adapun sebagai salah satu jalan raya utama di Kota Depok dan guna lahan samping komersial, arus lalu lintas pada jalan ini cukup padat terutama dengan adanya perlintasan sebidang KA di sebelah selatan Stasiun Citayam.
Sementara itu, dari hasil tinjauan lapangan, hanya ditemukan 1 rute angkutan umum yang melewati stasiun ini, yaitu D.05 (Terminal Depok–Citayam PP).
B. Stasiun Depok 1. Prasarana Stasiun
Stasiun Depok merupakan salah satu stasiun tertua di wilayah Jabodetabek. Stasiun yang seringkali disebut Stasiun Depok Lama ini terletak diantara Stasiun Citayam dan Stasiun Depok Baru, serta berlokasi di Jl. Stasiun, Pancoran Mas, Depok. Ditinjau dari fungsinya, pada saat ini Stasiun Depok berfungsi sebagai stasiun antara dan stasiun akhir pada 2 rute yang melintas pada jalur Bogor. Selain itu, di wilayah selatan dari stasiun ini terdapat sebuah dipo KRL.
Stasiun ini memiliki 2 peron penumpang dan 4 jalur yang berfungsi sebagai jalur pelayanan aktif dan langsiran bagi kereta dengan asal/tujuan Depok.
Seiring dengan usaha penertiban PKL yang dilakukan PT. KAI guna meningkatkan kenyamanan stasiun, pada saat ini kondisi Stasiun Depok cukup tertata rapi dan nyaman bagi penumpang. Penggunaan tiket elektronik dilayani oleh 8 loket dan entry gate guna menjamin kelancaran aliran penumpang di dalam stasiun. Adapun kondisi Stasiun Depok dapat dilihat pada beberapa gambar berikut.
Secara umum, fasilitas yang tersedia pada Stasiun Depok sudah cukup baik. Selain fasilitas dasar penumpang seperti mushola dan toilet, Stasiun Depok juga dilengkapi oleh balai pengobatan dan fasilitas pengisian batere telpon seluler. Terowongan untuk menghubungkan dua sisi stasiun disediakan bagi pejalan kaki dan menara kontrol disebelah selatan stasiun dibangun guna memisahkan aktifitas administrasi dan kontrol operasi stasiun.
Untuk mendorong aktifitas park & ride, fasilitas parkir yang cukup luas telah tersedia bagi kendaraan roda empat dan roda dua di Stasiun Depok. Meskipun demikian, masih adanya beberapa jasa penitipan motor di sekitar Jl. Stasiun dapat menjadi suatu indikator belum seimbangnya antara supply dan demand parkir roda dua di Stasiun Depok. Adapun beberapa usaha untuk mengatasi hal ini dapat dilakukan dengan mengoptimalkan pelayanan angkutan umum dan mendorong terciptanya kebiasaan kiss & ride bagi pengguna kereta api.
2. Akses & Angkutan Pengumpan
Akses utama Stasiun Depok adalah Jl. Stasiun. Jalan akses 2/2 UD dengan lebar ± 6 m ini menghubungkan langsung Stasiun Depok dengan Jl. Raya Citayam. Adapun hasil observasi lapangan, rute angkutan umum dominan yang melintasi wilayah ini adalah rute D.05 (Terminal Depok – Citayam PP).
C. Stasiun Depok Baru 1. Prasarana Stasiun
Dilihat dari jumlah penumpang, Stasiun Depok Baru merupakan stasiun dengan jumlah penumpang tertinggi di Kota Depok. Dengan lokasi strategis yang berdekatan dengan Pasar Kemiri Muka, Terminal Depok, ITC dan Kantor Walikota, stasiun ini telah menjadi pusat pergerakan penumpang KA di Kota Depok. Stasiun ini sendiri berada pada Jl. Arif Rahman Hakim.
Dari arah Jakarta, Stasiun Depok Baru berada diantara Stasiun Pondok Cina (utara) dan Stasiun Depok (selatan).
Stasiun Depok Baru memiliki dua gerbang utama yang terletak disisi barat dan timur stasiun, dengan loket dan entry gate pada masing-masing gerbang. Adapun berdasarkan lahan yang tersedia, stasiun ini memiliki lahan terluas diantara kelima stasiun yang berada di Kota Depok. Meskipun demikian, pada saat ini lahan yang ada belum dimanfaatkan secara optimal oleh PT. KAI. Beberapa gambar berikut menunjukkan kondisi Stasiun Depok Baru. Serupa dengan Stasiun Depok, Stasiun Depok Baru memiliki fasilitas penumpang yang cukup baik. Fasilitas umum seperti mushola, toilet, telpon umum dan ATM telah disediakan pada stasiun ini. Namun, banyaknya ruang pasif pada Stasiun Depok Baru menyebabkan jarak yang cukup jauh untuk memanfaatkan fasilitas tersebut.
Untuk memfasilitasi pergerakan penumpang antar peron, Stasiun Depok Baru dilengkapi dengan connecting tunnel yang nyaman. Sementara itu, situasi yang kontras terjadi pada pergerakan pejalan kaki dari barat ke timur, atau sebaliknya, diluar wilayah stasiun. Dengan adanya pusat kegiatan di sisi barat dan timur Stasiun Depok Baru, pergerakan pejalan kaki pada kedua sisi di sebelah utara stasiun belum terlindung dan cukup berbahaya.
Fasilitas parkir pada Stasiun Depok Baru terletak di sebelah barat stasiun dan dapat diakses baik melalui Jl. Kp. Lo dan Jl. Arif Rahman Hakim. Dengan kapasitas yang besar, fasilitas ini tidak hanya dimanfaatkan sebagai lahan parkir namun juga pool sementara angkot D.03. Dari hasil observasi diketahui juga, baik kegiatan park & ride maupun kiss & ride, telah berjalan di stasiun ini.
2. Akses & Angkutan Pengumpan
Stasiun Depok Baru dapat diakses melalui Jl. Margonda Raya (gerbang barat) dan Jl. Arif Rahman Hakim (gerbang timur). Dengan 2 jalan utama Kota Depok sebagai akses utama, maka tingkat aksesibilitas stasiun ini sangatlah tinggi. Meskipun demikian, dengan lokasi