Perjalanan panjang penerapan teknologi seluler tersebut tentu terkait erat dengan infrastruktur telekomunikasi pendukung. Kelancaran komunikasi data pada jaringan telekomunikasi seluler tidak lepas dari dukungan jaringan broadband internet yang terkoneksi dengannya, dimulai dari jaringan first mile, yaitu jaringan yang terhubung dengan International Exchange, jaringan backbone nasional, jaringan middle mile (backhaul), sampai dengan jaringan last mile. Masing-masing jaringan tersebut memiliki peran yang mendukung kelancaran komunikasi data.
Pemanfaatan jaringan broadband internet secara global, telah berjalan lebih dari setengah abad, dimulai dari interkoneksi antaruniversitas di Amerika Serikat (AS), yaitu yang berada dalam program Advanced Research Projects Agency Network (ARPANET) dengan melibatkan empat universitas, yaitu The University of Utah,
6 University of California, Santa Barbara; Stanford Research Institute, dan University of California, Los Angeles. Sejalan dengan perkembangan teknologi telekomunikasi, kini lebih dari 59% penduduk dunia atau sekitar 4,58 miliar orang telah berpartisipasi dalam pemanfaatannya, bagi perkembangan ekonomi digital secara global (Internetwolrdstats, 2020).
Ketika jaringan itu digunakan pertama kali pada tahun 1969 empat node jaringan antaruniversitas di AS yang saling terhubung tersebut hanya mampu untuk mengirim paket data berkapasitas beberapa kilobytes saja. Namun, saat ini terdapat 22 miliar perangkat saling terhubung, dengan rata-rata pengiriman data lebih dari 74.500 Gigabytes (GB) setiap detik. Skala bisnis yang tercipta sekitar US$ 2.946 miliar, atau merupakan 3,53% dari nilai ekonomi dunia (UNCTAD, 2020).
Saat ini, Indonesia berada di urutanke-16 dari negara-negara yang mendominasi perekonomian dunia, dengan nilai Produk Domestik Bruto (PDB/GDP) US $1,204 triliun (Rp.18.060 triliun), menguasai sekitar 1,29% perekonomian dunia (Statisticstimes 2020). Namun, kontribusi sektor Ekonomi Digital Indonesia terhadap PDB masih relatif rendah, yaitu berkisar di angka 4%, kalah jauh dari Malaysia yang berada di angka 19,1%, dan Tiongkok yang sudah mencapai angka 36,2%.
Namun Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, telah menentukan target angka 18% kontribusi Ekonomi Digital bagi PDB Indonesia pada tahun 2025.
Menurut USAID dan Intellecap (2019), hadirnya teknologi digital, yang dimulai dengan konektivitas broadband internet ke suatu daerah, telah memberikan dampak positif bagi berbagai sektor kehidupan, antara lain pada sektor pertanian, pendidikan, layanan masyarakat/pemerintahan, layanan kesehatan dan finansial.
Peningkatan akses kepada informasi, produk dan layanan, serta keuangan akan lebih meningkatkan dampak positif tersebut, yang dapat langsung dirasakan oleh masyarakat atau institusi, baik di daerah urban maupun rural.
7 Di beberapa negara, khususnya negara berkembang, pemanfaatan teknologi digital di perdesaan, khususnya wilayah terpencil yang masih belum terlayani (unserved), memerlukan dukungan literasi dasar tertentu, karena tidak semua anggota masyarakat memiliki pendidikan dan pengalaman yang cukup dalam memanfaatkan perangkat digital, seperti smartphone dan computer. Oleh karena itu, diperlukan intervensi pemerintah untuk memfasilitasi capacity building yang bersifat berkelanjutan (Febriansa, 2020).
Penetrasi jaringan broadband yang luas, terjangkau, dan berkualitas tinggi akan mengubah suatu negara, meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya, mempromosikan penggunaan teknologi yang lebih bermanfaat, serta untuk mendorong percepatan transformasi digital di berbagai aspek kehidupan.
Katz dan Callorda (2019) menyampaikan bahwa terdapat hubungan antara peningkatan pembangunan jaringan dan sarana TIK dengan peningkatan ekonomi di suatu negara. Selain itu, terdapat korelasi positif antara persentase peningkatan PDB, dikaitkan dengan 10% peningkatan penetrasi broadband internet.
Di berbagai negara, pembangunan jaringan berbasis mobile broadband memiliki dampak ekonomi yang berbeda dibanding jaringan fixed broadband. Dampak ekonomi dari pembangunan jaringan fixed broadband lebih besar di negara-negara maju daripada di negara-negara berkembang, yaitu 0,6 – 1,4%. Namun, dampak ekonomi dari pembangunan jaringan mobile broadband lebih besar di negara-negara berkembang daripada di negara-negara maju, yaitu sekitar 1,5 -2,0%.
Kehadiran teknologi komunikasi generasi ke-5 (5G) yang sudah di depan mata, berbasis pendekatan teknologi OPEN RAN, O-RAN, V-RAN dan beberapa pendekatan lainnya seperti 5G NR, LTE 5G dan C-RAN sebagai kelanjutan teknologi 4G, di mana beberapa di antaranya sudah dilakukan uji coba komersial terbatas oleh beberapa operator telekomunikasi dan juga uji coba oleh beberapa konsorsium riset nasional yang didukung pemerintah akan dibahas secara mendetail di dalam buku ini.
8 1.1.3 Jaringan Broadband Terpadu
Indonesia sebagai negara kepulauan, secara teoritis memiliki tingkat kesulitan dan biaya lebih tinggi dalam pembangunan jaringan broadband internet kecepatan tinggi untuk menjangkau sampai ke pelosok daerah. Hal ini karena dibutuhkan infrastruktur jaringan tulang punggung (backbone) berkapasitas besar, yang terkoneksi menggunakan jaringan Fiber Optic (FO) melalui darat yaitu Sistem Komunikasi Serat Optik (SKSO), maupun lewat laut yaitu menggunakan Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL).
Saat ini, pemerintah telah berhasil membangun jaringan backbone internet berkecepatan tinggi sampai ke kabupaten/kota yang masuk pada kategori daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal (3T), bernama Palapa Ring. Palapa Ring dibangun oleh BAKTI-Kominfo.
Jaringan ini akan menjadi solusi tersedianya konektivitas di wilayah yang belum tersedia jaringan telekomunikasi (unserved). Jaringan backbone nasional Palapa Ring ini kemudian diintegrasikan dengan jaringan backbone nasional yang dibangun oleh operator nasional pemilik izin Jaringan tetap tertutup (Jartup).
Sebagai contoh, jaringan Palapa Ring yang dikombinasikan dengan jaringan backbone yang dibangun oleh PT Telkom akan menghubungkan Kota Dumai ke jaringan international Dumai Malaka Cable System, dengan panjang 159 km dan landing points-nya berada di Kota Dumai, Indonesia dan Malaka, Malaysia. Hal ini juga berpotensi menghubungkan Kota Batam ke jaringan Batam Singapore Cable System (BSCS), dengan panjang 762 km dan memiliki landing point di Batam dan Singapura. Potensilainnya yaitu dapat menghubungkan Jayapura dengan Papua New Guinea (PNG) melalui Kumul Domestic Submarine Cable System sepanjang 5.457 km,yang menghubungkan Jayapura ke Palotau PNG dan kemudian ke Australia.
Begitu pula bila dihubungkan dengan jaringan backbone yang dibangun oleh PT Moratelindo, akan berpotensi menghubungkan Kota Batam ke Malaka melalui jaringan Batam Dumai Malaka (BDM) Cable System, sepanjang 353 km dengan landing points di Batam, Dumai dan
9 Malaka Malaysia. Di samping itu, dapat juga menghubungkan Batam ke Singapura, jaringan Jakarta-Bangka-Bintan-Batam-Singapore (B3JS), sepanjang 1.031 km dengan landing point di Batam, Batu Prahu dan Singapura. Potensi yang sama juga akan menghubungkan kota Batam ke Malaka melalui jaringan Moratelindo International Cable System-1 (MIC-1) sepanjang 70 km, dengan landing points di Batam dan Changi Airport, Singapura.
Selanjutnya, bila dihubungkan dengan jaringan XL Axiata, akan berpotensi menghubungkan Kota Batam ke jaringan Batam Rengit Cable System (BRCS), dengan panjang 64 km dan memiliki landing points di Kota Rengit, Malaysia dan Tanjung Pinang, Indonesia. Hal ini juga berpotensi menghubungkan Kota Batam ke jaringan Batam Sarawak Internet Cable System (BaSICS), dengan panjang 762 km, memiliki landing point di Kg Buntai, Malaysia dan Tanjung Bemban, Indonesia. Di samping itu, terdapat juga berpotensi untuk menghubungkan SJKK ke Jaringan Australia Singapore Cable (ASC), dengan landing points di Anyer, Flying Fish Cove, Christmas Island Perth, Australia.
Apabila dihubungkan dengan jaringan yang dibangun oleh PT Indosat Ooredoo, berpotensi menghubungkan Palapa Ring ke jaringan INDIGO-West (panjang kabel 4.600 km, dengan landing points di Jakarta; Perth, Australia; dan Tuas, Singapura). Interkoneksi jaringan INDIGO-West dapat membawa traffic internet dari Australia dan Singapura ke Jaringan Palapa Ring Barat.
Bila dikoneksikan dengan jaringan yang dibangun oleh PT Trans Hybrid Communication (THC), maka akan berpotensi menghubungkan Kota Singkawang ke Serawak – Kuching, melalui jaringan Sistem Kabel Rakyat 1 Malaysia (SKR1M) milik Telekom Malaysia (TM) (panjang kabel 3.800 km, landing point di Bintulu, Cherating, Kota Kinabalu, Malaysia).
Selanjutnya, akan dihubungkan ke jaringan Asia-America Gateway (AAG) dan Southeast Asia Japan Cable System (SJC).
Hal ini sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN 2015-2019) yang mengamanatkan bahwa seluruh kabupaten di Indonesia harus memiliki jaringan telekomunikasi
10 berkualitas tinggi dengan kecepatan transfer data sekurang-kurangnya 10 Mbps di perdesaan dan 20 Mbps di perkotaan.
Ironisnya, pembangunan jaringan akses ke masyarakat di daerah yang masuk kategori Terdepan, Terluar, Tertinggal (3T), di mana kerapatan penduduknya sangat renggang dan tantangan geografis relatif lebih sulit, tidak terlalu diminati oleh operator telkomunikasi maupun penyedia layanan internet (ISP). Hal ini dikarenakan skala ekonomi yang kecil dan dari perspektif bisnis belum memenuhi kelayakan investasi.