• Tidak ada hasil yang ditemukan

Model Bisnis yang Dikembangkan di Industri Telekomunikasi Seluler

Implementasi teknologi telekomunikasi generasi kelima (5G) sudah dimulai. Kehadirannya akan mempengaruhi berbagai sektor kehidupan, ditandai dengan jutaan bahkan miliaran perangkat saling terkoneksi berbasis teknologi Internet of Things (IoT), Artificial

18 Intelligence, dan layanan Big-Data yang saling bersinergi satu dengan yang lain. Hal ini sebagai salah satu penanda hadirnya era kolaborasi teknologi.

Social networks dan messaging apps yang semakin luas digunakan masyarakat telah berkontribusi pada budaya kolaborasi antarumat manusia. Para pemimpin pemerintahan, politik, dan bisnis sudah menggunakannya secara luas sebagai bagian dari komunikasi dan proses pengambilan keputusan. Berdasarkan hasil survei yang dipublikasikan dalam https://www.avanade.com/, bahwa sebanyak 87%

pembuat keputusan di bidang IT, 67% pemimpin bisnis dan 68% end users menggunakan teknologi enterprise social networking untuk mengadopsi dan memanfaatkan teknologi jaringan sosial untuk berkolaborasi di tempat kerja.

Teknologi 5G memberikan target ambisius, dengan menghadirkan kecepatan data hingga 20 Gbps, kapasitas meningkat 1.000 kali, dan latensi di bawah 1ms, yang memungkinkan untuk diimplementasikan pada human level response time, yaitu implementasi pada bidang khusus, seperti bidang medis yang menggunakan medical nano-surgery, dengan intra-body robotics systems yang memungkinkan dilakukannya tindakan operasi pada tubuh manusia secara real time menggunakan mesin dan alat operasi berskala mikro.

Perkembangan teknologi digital ini, khususnya yang mendukung peningkatan konektivitas internet, telah memberikan dampak positif bagi berbagai sektor kehidupan, antara lain pada sektor pertanian, pendidikan, layanan finansial, pemerintahan, dan layanan kesehatan. Hal ini secara langsung akan mendukung pertumbuhan ekonomi dunia, yang saat ini memiliki nilai secara menyeluruh mencapai US$ 86 triliun, dengan dukungan ekonomi digital yang telah mencapai nilai US$ 2,946 triliun, yaitu setara dengan 3,53% dari total ekonomi dunia.

Asia Tenggara memiliki jumlah koneksi broadband dua kali lipat lebih besar dibandingkan dengan Eropa Barat, di mana potensi pertumbuhannya tetap besar dan jumlahnya diperkirakan akan terus tumbuh pada tingkat yang sehat hingga tahun 2021. Saat ini, jumlah

19 pelanggan mobile broadband di seluruh dunia sebanyak 5,3 miliar dan fixed broadband sebanyak 1,1 miliar. Lebih lanjut, terdapat 1,7 MB data yang dihasilkan per orang per detik atau 2,5 triliun byte data yang dihasilkan setiap harinya, sertaterdapat 830 juta perangkat yang terhubung satu dengan lainnya. Pada tahun 2021 diperkirakan terdapat 27,1 miliar perangkat dalam koneksi jaringan. Sementara itu, sebanyak 45 miliar kamera terpasang pada tahun 2022 dan 75 miliar perangkat IoT pada tahun 2025, di mana seperempatnya kemungkinan besar akan akan terkait dengan pembangunan Smart City.

Menurut data yang dirilis oleh PSB Research pada tahun 2019 terkait harapan para stakeholder dari perspektif bisnis atas implementasi teknologi 5G, sebesar 91% mengharapkan produk dan layanan baru yang belum ditemukan. Di samping itu, 87% stakeholder mengharapkan industri baru akan muncul, antara lain Augmented Reality, Automation, Robotic, Smart City, Smart Transport, dan Smart Building. Sekitar 82%

mengharapkan pertumbuhan bisnis kecil dan lebih banyak persaingan global. Di sisi lain, 85% stakeholder mengharapkan dapat membuat perusahaan lebih kompetitif secara global dan 89% mengharapkan peningkatan produktivitas.

Perubahan dalam model bisnis, investasi dan pembiayaan infrastruktur telekomunikasi/TIK menjadi layer infrastruktur yang mendasar bagi ekonomi digital. Perubahan terjadi dalam proses pengaturan dan pendekatan untuk mendorong pendekatan regulasi yang inovatif (pendekatan regulasi kolaboratif). Konsep seperti identitas digital diimplementasikan pada semakin banyak layanan. Prinsip-prinsip, seperti perlindungan konsumen, kerahasiaan atau perlindungan data juga menimbulkan perubahan end to end process, seperti Blockchain dan Artificial Intelligence (AI) lintas sektor seperti keuangan dan kesehatan.

Perubahan struktur pasar dalam bentuk pemisahan secara vertikal, integrasi secara horizontal, inovasi jaringan dan inovasi layanan memerlukan perubahan regulasi dalam hal regulasi lisensi, regulasi interkoneksi, regulasi tarif, universal access, manajemen spektrum,

20 penomoran alamat pelanggan/IP, dan kompetisi usaha. Dari sisi regulasi, tren perkembangan teknologi, supply-demand layanan jasa dan perubahan struktur pasar akan menuntut regulator untuk mengadopsi pendekatan regulasi kolaboratif, lintas-sektoral, bekerja dengan pemangku kepentingan lain, agar dapat dibentuk masa depan digital bersama yang lebih bersifat competitive advantage.

Regulasi generasi kelima (5G) atau regulasi kolaboratif tidak berarti akan menimbulkan lebih banyak regulasi. Sebaliknya, hal ini menunjukkan peraturan yang lebih praktis, inklusif, berbasis bukti, dan berorientasi pada keputusan. Hal ini akan memanfaatkan pengetahuan, pengalaman, dan alat yang dibuat pada generasi sebelumnya, sembari mempromosikan kerja sama lintas sektor yang berbeda untuk mengatasi masalah yang diangkat oleh pertumbuhan layanan seperti e-commerce, e-banking dan e-health.

Bisnis dan teknologi sudah bersifat vertikal, sehingga diperlukan regulasi untuk menyesuaikannya. UU Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja merupakan terobosan yang dapat menjadi jawaban. Sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar nomor 4 di dunia, Indonesia sedang mempersiapkan diri untuk dapat berperan aktif dalam pengembangan teknologi 5G. Salah satu yang akan dikembangkan adalah teknologi IoT, yang diperkirakan akan mempengaruhi masyarakat, tidak hanya dari segi perkembangan teknologinya, namun juga akan memiliki implikasi luas di bidang sosial dan ekonomi.

Pengaruh teknologi IoT terhadap masyarakat diperkirakan akan cukup kompleks dan sulit diprediksi. Namun ada beberapa hal utama yang akan terjadi, antara lain bahwa inovasi organisasi dan institusi akan menjadi kunci dari perkembangan IoT, karena hal ini akan mengubah cara kita melakukan sesuatu. Adanya ketersediaan data dan informasi dengan kuantitas sangat besar, yang dihasilkan oleh sensor-sensor IoT, akan mempengaruhi masyarakat, walau tidak semuanya berguna, namun akan memberikan kesempatan yang sangat besar untuk membuat kehidupan menjadi lebih baik dan efisien.

21 Kehadiran teknologi 5G merupakan tuntutan kebutuhan yang tidak bisa dihindarkan, yang diharapkan dapat memberikan revolusi terhadap peningkatan kecepatan pengiriman data, widespread connectivity, flexible service creation, dan diperolehnya low latency network yang sangat diperlukan dalam implementasi ICT di bidang-bidang yang sangat critical, seperti bidang-bidang kesehatan, transportasi, control, security, militer, aerospace, intelligence manufacturing, dan beberapa bidang lainnya.

Para pemangku kepentingan di bidang ICT global telah mempersiapkan, mendiskusikan, melakukan uji coba, dan mencanangkan kehadiran serta implementasi teknologi ini di tahun 2020. Beberapa emerging applications yang memungkinkan untuk dikembangkan berbasis teknologi 5G ini antara lain, Software-defined Networking (SDN), Network Functions Virtualization (NFV), IoT, Machine to Machine Communications (M2M), eHealth dan beberapa teknologi yang merupakan key drivers teknologi 5G, yang dapat membantu pengembangan neutral environment, yang tentu harus melibatkan pemerintah, operator-operator, vendor-vendor, para akademisi, dan masyarakat pengguna untuk dapat mengidentifikasi masalah yang ditimbulkan dengan mencari solusi terbaik.

Hal yang tidak kalah penting yaitu teknologi 5G ini merupakan disruptor yang dapat memberikan peluang bagi startup dan enterpreneur baru, sehingga akan berpengaruh sangat luas bagi kehidupan modern.

Penyesuaian regulasi diperlukan untuk mengatasi ratusan atau ribuan transaksi atau jasa penyedia yang telah dikumpulkan oleh perangkat sensor yang dipergunakan dalam jaringan IoT ini. Pengaturan data yang dihasilkan perlu dipertimbangkan. Data yang dikumpulkan oleh perangkat IoT, baik berupa sensor, kamera atau user generated data, yang dapat terkait dengan privasi seseorang, akan meningkat signifikan, sehingga perlu dilakukan pengaturan yang tegas, transparan, dan akuntabel.

22 1.2 Produk yang Dikembangkan di Industri Telekomunikasi

Seluler

Masyarakat Indonesia yang sudah mengenal dan memanfatkan teknologi telekomunikasi seluler sejak 30 tahun lalu, sampai saat ini terkesan masih menjadi sasaran empuk pengembangan pasar industri telekomunikasi global. Sulit dipahami, mengapa negara dengan kemampuan sumber daya manusia yang sangat potensial ini menyerah begitu saja, tanpa bisa berbuat banyak, dan rela menjadi objek bisnis industri telekomunikasi global.

Dalam kurun waktu tersebut, ada beberapa pelaku usaha nasional yang telah mencoba untuk mengembangkan inovasi teknologi berbasis komponen lokal, namun hantaman dan tekanan dari pelaku global sangat kuat, sehingga beberapa dari mereka terpaksa harus menyerah, mengalah dan pasrah begitu saja, tanpa mampu menghasilkan produk dan solusi inovasi teknologi yang bisa berdiri sejajar dengan produk global, yang sudah telanjur menguasai pasar dalam negeri.

Tentu saja banyak faktor penyebabnya, khususnya dari sisi strategi riset bidang teknologi dan pengembangan strategi ekonomi dan investasi nasional, serta regulasi yang terlihat kurang memiliki keberpihakan pada pelaku industri dalam negeri, bahkan telah membelenggu pihak-pihak yang sedang berusaha meningkatkan potensi produk inovasi nasional, khususnya industri telekomunikasi seluler.

Beberapa tahun terakhir, terlihat ada pergeseran pasar di industri telekomunikasi seluler, di mana beberapa perusahaan Indonesia sudah mulai berani tampil untuk memproduksi perangkat telekomunikasi seluler dalam negeri. Sejauh ini, sebagian dari mereka cukup berhasil menggaet segmen pasar tertentu, yang keberhasilan mereka sangat ditentukan oleh beberapa faktor, antara lain dari sisi teknologinya, model bisnisnya, dan aspek regulasi yang memayunginya.

Respons pasar akan sangat mempengaruhi keberlanjutan bisnisnya, mengingat sebagian besar perusahaan produsen, dalam perencanaan dan roadmap produksinya pasti sudah berusaha agar

23 perangkat yang diproduksinya memiliki kemampuan setara, bahkan lebih tinggi dibanding produk dari negara asing, namun dengan harga yang lebih terjangkau. Selain itu, tentu saja akan dipengaruhi oleh keberadaannya pada sisi Device, Network, dan Application (DNA). Berikut ini dipaparkan beberapa perusahaan Indonesia tersebut.

1. Xirka

PT. Xirka Silicon Technology (Xirka) merupakan perusahaan yang bergerak di bidang perancangan Chipset Semiconductor dan merupakan perintis industri design house chip pertama di Indonesia sejak tahun 2009. Hadirnya Xirka membuat industri telekomunikasi lebih bergeliat dan menjadi lebih bersemangat. Hal ini dikarenakan, industri yang selama ini hanya menjadi “tukang jahit” atau kemampuan melakukan assembling saja, kini sudah berani tampil dengan penguasaan teknologi microelectronics, yang merupakan “jantung” dari perangkat telekomunikasi.

Xirka mampu menghadirkan design chip dalam negeri, yang sudah diimplementasikan di Indonesia, khususnya terkait dengan pengembangan 4G Worldwide Interoperability for Microwave Access (WiMax) saat itu, yaitu untuk Fixed WiMax (IEEE 802.16d) dan Mobile WiMax (IEEE 802.16e), yang akhirnya hanya diimplementasikan secara terbatas, tidak diimplementasikan secara luas di sisi komersial.

Di samping itu, Xirka juga telah mengembangkan produk smart card dan chipset Internet of Things (IoT). Sampai dengan saat ini, produk Smart Campus yang menggunakan teknologi smart card Xirka telah digunakan di beberapa universitas ternama, seperti Institut Teknologi Bandung, Universitas Indonesia, Universitas Hasanuddin, Universitas Telkom, dan Universitas Riau. Implementasi teknologi Smart Campus ini memungkinkan untuk dilakukan digitalisasi data mahasiswa, meliputi data pribadi mahasiswa, data akademik, data presensi kehadiran mahasiswa, access control, kebutuhan e-money, dan keperluan lainnya.

Respons pasar terhadap produk Xirka terlihat sangat positif, terbukti bahwa sampai awal 2021, Xirka semakin maju dan berkembang.

Berangkat dari kontribusi di industri telekomunikasi, saat ini, bahkan di

24 saat pandemi, Xirka telah memberikan bukti komitmennya pada bangsa Indonesia, dengan pengembangan produk dan solusi di berbagai bidang, antara lain di bidang kesehatan, khususnya produksi perangkat medis untuk melawan Covid-19 dan perangkat komunikasi jarak pendek Near Field Communication (NFC), yang sangat penting diimplementasikan di berbagai sektor kehidupan. Di bidang smart home, Xirka memberikan solusi sistem rumah pintar berbasis IoT yang dapat menghubungkan semua perangkat rumah secara otomatis untuk mengontrol peralatan rumah tangga kapan saja dan dari mana saja.

2. Polytron

Polytron merupakan salah satu pabrikan perangkat elektronik ternama di Indonesia yang mulai beroperasi di Kudus sejak 1975.

Perusahaan ini juga telah berkiprah di industri telekomunikasi seluler dengan memproduksi smartphone yang ditujukan untuk mengisi segmen pasar menengah ke atas dan dikenal memiliki keunggulan spesifikasi tinggi, fitur lengkap, dan harga affordable.

Polytron awalnya berada di bawah bendera PT Indonesian Electronic & Engineering, kemudian berubah nama menjadi PT Hartono Istana Electronic, dan terakhir merger menjadi PT Hartono Istana Teknologi. Perusahaan yang juga memproduksi perangkat elektronik untuk rumah tangga seperti lemari es, mesin cuci, AC, dan sound system ini juga berkiprah di industri penyiaran TV dengan memproduksi pesawat televisi dan mendukung pemerintah dalam melakukan migrasi siaran televisi teresterial dari analog ke digital dengan memproduksi Set Top Box (STB) untuk siaran televisi Digital DVB-T2.

3. Evercross

Pabrikan ponsel atau telepon pintar (smartphone) yang berasal dari Indonesia ini mendapat respons produk yang cukup positif dari pasar, khususnya dari kalangan menengah ke bawah. Perusahaan yang sebelumnya bernama Cross Mobile ini sudah banyak memproduksi berbagai tipe perangkat ponsel tablet dan smartphone dengan kualitas

25 bagus, fitur lengkap, dan harga affordable, sehingga dapat bersaing dan memperoleh segmen pasar yang cukup pasti.

Dengan dukungan produksi yang dipusatkan di Semarang, perusahaan ini terus berkiprah, walaupun belum bisa memproduksi 100% komponen lokal, namun paling tidak telah membuktikan dirinya mejadi produsen yang dapat menyediakan perangkat pintar telekomunikasi seluler untuk masyarakat Indonesia.

4. Advan

Produsen perangkat elektronik Advan, sejak tahun 2007 telah berkiprah dalam memproduksi perangkat ponsel 2G, 3G, telepon pintar, dan juga tablet. Perusahaan ini memiliki kelebihan dalam memproduksi perangkat teknologi tinggi dengan spesifikasi dan fitur lengkap, serta dengan tampilan bentuk yang tidak kalah dengan produsen berkelas international. Advan sebelumnya memiliki pabrik di Taiwan, namun pada tahun 2009 telah membangun pabrik di Semarang dan lebih fokus dalam memberikan layanan bagi masyarakat Indonesia, khususnya kelompok mahasiswa dan profesional muda yang memiliki perhatian pada pentingnya kehadiran fitur yang lengkap, kinerja yang bagus, dan harga yang terjangkau.

5. Digicoop

Salah satu produsen telepon seluler lokal lainnya, yaitu Digicoop, yang dibuat langsung oleh tim dari Institut Teknologi Bandung (ITB).

Produk Digicoop memiliki tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) cukup tinggi. Di samping fitur yang cukup lengkap dan penggunaan teknologi Android versi terbaru yang didukung beberapa aplikasi lokal karya anak bangsa, Digicoop juga dirancang untuk dapat bekerja secara optimal pada jaringan telekomunikasi seluler 4G.

Pada tahap awal peluncuran, produsen ponsel ini mengimplementasikan bisnis model yang cukup inovatif, yaitu pengguna hanya perlu untuk membayar iuran wajib satu kali dan iuran pokok per bulan selama satu tahun, sebagai anggota Koperasi Digital Indonesia

26 Mandiri (KDIM), sehingga belum dijual kepada masyarakat, hanya untuk anggota KDIM saja. Namun, kini ponsel Digicoop sudah bisa diperoleh di pasar elektronik maupun online dengan harga yang sangat kompetitif.

Di saat pandemi Covid-19, beberapa produsen ponsel dalam negeri tersebut sangat merasakan dampaknya, karena permintaan menurun drastis, sehingga beberapa terpaksa harus menghentikan produksinya, dan hanya menyelesaikan produksi yang sudah terjadwal sebelumnya. Industri ponsel ini diharapkan bisa bergerak kembali dan mampu untuk mendapatkan respons positif dari segmen pasar yang menjadi fokus bisnisnya.

1.3 Gambaran dan Prospek Teknologi Seluler ke Depan