• Tidak ada hasil yang ditemukan

JARINGAN DAN KERJASAMA

Dalam dokumen BUKU 5 PENGEMBANGAN DESA rev (Halaman 41-45)

A. Kerja Sama Desa: Amanat UU Desa

Kerja sama diatur di Pasal 91-93 UU Desa. Ketentuan Pasal 1 mengatur bahwa “Desa dapat mengadakan kerja sama dengan Desa lain dan/atau kerja sama dengan pihak ketiga”. Ketentuan tersebut menginformasikan bahwa sifat kerja sama sesungguhnya opsional, atau pilihan. Pengertiannya, sejauh kerja sama tersebut dibutuhkan maka kerja sama dapat dilakukan, baik dengan Desa lain maupun dengan pihak ketiga.

Sebagaimana ketentuan di Pasal 92 ayat (1), kerja sama antar-Desa meliputi beberapa bidang:

a. Pengembangan usaha bersama yang dimiliki oleh Desa untuk mencapai nilai ekonomi yang berdaya saing;

b. Kegiatan kemasyarakatn, pelayanan, pembangunan, dan pemberdayaan masyarakat antar-Desa;

c. Bidang keamanan dan ketertiban.

Dilihat dari sudut pandang normatif, kerja sama Desa dilindungi dan menjadi jalan keluar dari permasalahan keterbatasan sumber daya Desa yang ditawarkan oleh UU Desa.

Dengan kewenangannya, Desa memiliki kesempatan yang sangat luas untuk meletakkan penyelenggaraan kerja sama dalam tata nilai sosio-kultural dan kebiasaan masyarakat Desa. Tujuan adaptasi sesuai kewenangan lokal tersebut adalah agar kerja sama dilakukan atas dasar konstruksi tata kultural yang ada di masyarakat. Sehingga kerja sama dengan pihak lain (baik Desa lain maupun Pihak Ketiga) sinambung baik dengan kebutuhan yang perlu dikerjasamakan sekaligus dengan tata kultural masyarakat Desa itu sendiri.

seutuhnya melibatkan partisipasi masyarakat atau warga Desa. Sebab itu kerja sama terlebih dahulu harus disepakati di dalam Desa melalui musyawarah Desa, sebelum dibicarakan dan disepakati dalam musyawarah antar-Desa yang dilaksanakan oleh Badan Kerja Sama Antar Desa. Kerja sama antar-Desa juga harus memiliki pijakan legalnya, yakni melalui Peraturan Desa tentang Kerjasama Desa dan Peraturan Bersama Kepala Desa.

Mekanisme yang sama (musyawarah Desa) juga harus dilalui dalam penyelenggaraan kerja sama Desa dengan Pihak Ketiga. Dalam hubungannya dengan Pihak Ketiga, pelaksanaan kerja sama diatur dengan Perjanjian Bersama (Pasal 143 ayat (3) PP No. 43/2014).

Isi Peraturan Bersama Kepala Desa dan Perjanjian Bersama, menurut ketentuan Pasal 143 ayat (4) PP No. 43/2014, setidaknya memuat:

a. Ruang lingkup kerja sama b. Bidang kerja sama

c. Tata cara dan ketentuan pelaksanaan kerja sama d. Jangka waktu

e. Hak dan kewajiban f. Pendanaan

g. Tata cara perubahan, penundaan, dan pembatalan, dan h. Penyelesaian perselisihan.

Pijakan legal konstitusional di atas harus difahami Pendamping dan oleh Desa (Pemerintah Desa dan masyarakat Desa). Bagi Pendamping Desa, pemahaman tersebut mutlak karena perannya sebagai tempat bertanya masyarakat Desa dan penggerak partisipasi masyarakat Desa.

B. Dasar Pengembangan Jaringan Dan Kerja Sama Desa

Mengapa kerja sama penting dilakukan? Dan mengapa sebaiknya kerja sama dikembangkan dari pola jaringan sosial yang sudah ada? Dua pertanyaan tersebut setidaknya yang harus dijawab di bagian ini.

Pertamadan yang paling mendasar adalah fakta bahwa potensi alam, sumber daya manusia, dan modal sosial Desa tidak selalu sama antara satu Desa dengan Desa yang lain. Pada saat yang sama hubungan masyarakat antar beberapa Desa tersebut bisa telah terjalin dengan baik, atau sebaliknya, terdapat gejala-gejala perselisihan atau konflik.

Sebagai ilustrasi, yang kami singgung di bab sebelumnya, sebuah sungai yang melintasi beberapa Desa dan digunakan untuk berbagai keperluan seperti irigasi, mandi-cuci-kakus, atau bahkan untuk konsumsi. Apabila di bagian hulu sungai itu dimanfaatkan untuk irigasi atau untuk mencuci, bagian aliran yang lebih rendah akan mendapatkan air yang kotor. Padahal masyarakat di situ membutuhkan air tersebut untuk keperluan konsumsi. Hubungan antara masyarakat Desa di dua Desa (atau lebih) tersebut dapat digunakan sebagai titik mula untuk membangun kerja sama.

Kedua, Desa-Desa kedepan sudah harus mampu menciptakan

kemandirian khususnya dalam sistem pemenuhan kebutuhan dasar seperti pangan, energi, pendidikan dan kesehatan. Desa tidak dituntut untuk memenuhi secara mandiri kebutuhan energi apabila di Desa tersebut tidak ada potensi energi. Maksud dari sistem pemenuhan kebutuhan daar adalah cara atau mekanisme yang yang dikembangkan oleh kebiasaan dan jaringan sosial yang telah terbangun di Desa untuk memenuhi kebutuhan itu, yaitu melalui kerja sama atau kemitraan. Di sinilah makna sifat saling membutuhkan antar masyarakat.

Ketiga, tuntutan pengelolaan sumber daya alam semakin diarahkan pada penyesuaian tata kelola dengan prinsip-prinsip keberlanjutan

(sustainability). Sebab itu kerja sama, kemitraan, dan pengembangan potensi jaringan sosial ditekankan pada beberap aspek, meliputi:

1. Keberlanjutan ekologi, dimana pemanfaatan sumber daya alam dilakukan dengan tidak merusak lingkungan dan senangtiasa memperhatikan daya dukung ekologinya.

2. Keberlanjutan sosial ekonomi yang mengacu pada kesejahteraan masyarakat pedesaan.

3. Keberlanjutan komunitas masyarakat pedesaan yang mengacu pada terjaminnya peran masyarakat dalam pembangunan, dan jaminan akses komunitas pada sumber daya alam,

4. Keberlanjutan institusi yakni yang mencakup institusi politik, institusi sosial-ekonomi dan institusi pengelola sumber daya. Keempat, program-program pembangunan seringkali menciptakan ketergantungan masyarakat Desa atau Desa pada penyelenggara program. Kerja sama dan jaringan sosial dimaksudkan untuk memperkuat kapasitas masyarakat lintas Desa dalam memperkuat kemandirannya sebagai subjek pembangunan. Melalui kerja sama, posisi Desa (dalam hal ini Pemerintah Desa dan masyarakat Desa) dituntut untuk memikirkan secara serius kebutuhan dan kepentingannya untuk dibicarakan atau dinegosiasikan dengan Desa lain.

Dasar pemikiran selanjutnya terkait dengan keberadaan Pendamping Desa yang dimulai tahun 2015 ini. Keberadaan Pendamping Desa adalah untuk melanjutkan dan meningkatkan visi kerja program PPK (Program Pengembangan Kecamatan, 1998-2008) dan PNPM MPd (2009-2014). Perbedaan mendasar dalam program Pendampingan Desa adalah prinsip partisipatif dan keaktoran masyarakat Desa dalam penyelenggaraan program pembangunan Desa seperti digariskan oleh UU No. 6/2014 tentang Desa. Pendamping dituntut untuk memahami secara komprehensif karakteristik sosial-budaya, sosial-politik, dan sosial-ekonomi masyarakat Desa yang ia dampingi. Dalam konteks kerja sama Desa, prinsip tersebut juga harus diperhatikan.

Sebab itu, kelima, jaringan sosial harus diketahui dan dikenal betul untuk menjahit seluruh kekuatan ekonomi dan politik di wilayah perdesaan agar secara keseluruhan, masyarakat Desa dapat terlibat dalam proses pembangunan dan pemberdayaan. Aktor atau subjek- subjek dalam jaringan sosial pada dasarnya merupakan mitra strategis

desa yang harus senantiasa dijaga dan dikembangkan untuk memajukan pembangunan di desa.

2.

PRINSIP & LANGKAH PENGEMBANGAN

Dalam dokumen BUKU 5 PENGEMBANGAN DESA rev (Halaman 41-45)

Dokumen terkait