Kekerasan langsung telah menurun beberapa tahun terakhir, tapi intimidasi dan pelecehan tetap dihadapi oleh pembela HAM di seluruh Indonesia. Organisasi pembela HAM yang bernama Imparsial, yang melacak situasi pembela HAM di Indonesia, menemukan 139 kasus ancaman dan serangan terhadap pembela HAM dari tahun 2005 sampai 2009. Temuan- temuan mengkonfirmasikan perhatian PBB ketikaSpecial Representativenyayang mengatakan kepadaHuman Rights Counciltentang “berlangsungnya kegiatan- kegiatan polisi, militer dan inteligen atau lembaga keamanan lain dan juga satgas agama garis keras yang terarah pada pelecehan dan intimidasi terhadap pembela HAM atau membatasi akses pembela HAM terhadap korban- korban satuan formal maupun tidak formal sebagai situs pelanggaran HAM.”13Macamnya ancaman termasuk pembunuhan dan jenis kekerasan lain, kriminalisasi dan pelanggaran hukum sipil, pelecehan keluarga korban, penyidikan, dan ancaman gender spesifik terhadap perempuan pembela HAM.
Pembunuhan dan jenis kekerasan lain
Selain pembunuhan aktivis, penghilangan, atau penyerangan di bawah rezim Suharto, paling sedikit 15 pembela HAM telah dibunuh semenjak era reformasi dimulai. Mereka yang terbunuh termasuk Jafar Siddiq Hamzah, orang Aceh yang tinggal di New York dan diculik pada saat berkunjung ke Indonesia di mana dia disiksa sampai meninggal dan Sufrin Sulaiman, seorang pengacara yang terbunuh pada saat membantu seorang klien di kantor polisi. Pada Desember 2000, tiga pekerja organisasi yang didanai oleh lembaga Dana asal Denmark bernama Rehabilitation Action for Torture Victims (RATA),dibunuh secara berturut turut oleh kelompok prajurit dan cuak (informan) sipil.
Kekerasan di Papua tetap menjadi masalah. Opinus Tabuni, pemimpin masyarakat Papua dan anggota Majelis Adat Papua (badan yang mewakili semua kelompok masyarakat adat di Papua) terbunuh oleh senjata api pada 9 April 2008, upacara peringatan pada International Day of the World’s Indigenous People. Walau saksi mata telah mengatakan bahwa satgas keamanan yang menembaki kerumunan, polisi menaruh fokus investigasinya pada pengangkatan bendera kemerdekaan yang dilarang hukum Indonesia.
Kasus terakhir menggambarkan bahayanya bagi para wartawan, atau siapa pun yang melaporkan tentang korupsi. Pada 11 Februari 2009 di Bangli, Bali, wartawan Anak Agung Narendra Prabangsa terbunuh karena melaporkan korupsi di kantor Depdiknas setempat. Dia dibunuh pembunuh bayaran yang dikira menjadi pembunuh yang dikontrak oleh kakak dari PNS yang melakukan korupsi.
Kasus Munir
“Kami yakin dalam transisi, semuanya berjalan cukup mulus, dan tiba- tiba Munir di-bunuh. Sekarang kita bisa bicarakan apa saja dengan bebas, tapi kami merasa sesuatu bisa terjadi kapan saja kepada kami”
– Pembela HAM Mugiyanto, October 2009
Pada bulan September 2004, salah satu pemimpin pembela Hak Asasi Manusia, Munir Said Thalib, meninggal pada saat terbang dengan pesawat Garuda menuju Belanda untuk belajar hukum international. Laporan Autopsi yang dibocorkan kemudian membuka bahwa dosis arsenik massif berada pada sistem tubuhnya. Tidak lama kemudian, isteri Munir menerima suatu paket yang mengandung mayat ayam dengan catatan “Be careful!!!! Janganlah mengkaitkan tentara pada kematian Munir. Maukah anda bernasib seperti ini.”
Memang sulit mengukur peran Munir pada Hak Asasi Manusia di Indonesia. Dia membantu mendirikan beberapa organisasi penting dalam gerakan menunjang Hak Asasi Manusia, suatu think tankreformasi militer dan stasiun radio buat Hak Asasi
Manusia. Terkenal buat kajian dengan berhati- hati dan pembelaan yang berani, Munir berbicara lantang dan cuat melawan kekerasan dan ketakutan terhadap militer. Dia mewakili mahasiswa yang diculik pada tahun 1998-1999, dan menjabat sebagai pejabat pemeriksaan kekerasan 1999 Timor-Timor dan merekomendasikan penuntutan pejabat senior Indonesia diprosekusi atas pelanggaran yang terjadi.
Kematian Munir memang menyiasati keamanan komunitas hak asasi manusia. Wakil Khusus PBB mengatakan bahwa “Bila ada kelambanan atau kemalasan perihal mengurus kematian Munir, tidak ada satu pun pembela hak asasi manusia yang akan merasa aman di Indonesia.” President Yudhoyono mengatakan bahwa kasus Munir adalah “ujian sejarah Indonesia.”
Reaksi:Untuk menyelesaikan kasus Munir, kelompok sipil telah memperdaya beberapa strategi yang menggunakan mekanisme resmi seperti bekerja dalam koalisi, dan melakukan pembelaan international. Aktivis berusaha dalam kampanye membela kasus Munir bernama, “Justice for Munir, Justice for All,” or “Keadilan untuk Munir, Keadilan untuk semua,” dan hampir disetiap organisasi Hak Asasi Manusia di Indonesia telah memasang foto Munir pada dindingnya.
Komite Aksi Solidaritas Untuk Munir, atau KASUM, dibentuk untuk menyediakan analisa hukum dan pembelaan. Istrinya Munir, Suciwati, telah memperjuangkan keadilan bagi suaminya tanpa lelah, dan mengadakan perjalanan dari Geneva dan Washington untuk memperjuangkan tekanan international pada Indonesia agar kasusnya diurus dengan jelas. Advokasi telah mendukung berbagai campur tangan, termasuk surat- surat dari kongres Amerika Serikat dan suatu deklarasi oleh Parlemen Eropa. Dia telah menciptakan persamaan visi tujuan bersama dengan korban- korban lain, terutama isteri dan ibu mereka yang terbunuh atau hilang.
Usaha-usaha ini telah menghasilkan kemajuan demi kemajuan secara berangsur-angsur. Presiden menciptakan suatu Tim Pencari Fakta bagi Kasus Munir yang membantu mendongkrak investigasi kepolisian, yang akhirnya menggiring tiga staff perusahaan Garuda untuk peran mereka dalam pembunuhan Munir. Salah satu terdakwa adalah co-pilot penerbangan pesawat yang ditumpangi Munir melakukan percakapan berpuluh kali melalui telpon kepada seorang pejabat tinggi badan intelijen, yakni pensiunan pejabat intelijen Muchdi Purwopranjono, sekitar waktu pembunuhannya. Ada pula bukti bahwa Muchdi telah campur tangan untuk memastikan bahwa co-pilot sedang menumpang dalam penerbangan Munir. Tekanan terus menerus pada polisi dan para jaksa berhasil menuntut Muchdi, seorang mantan komandan Pasukan Khusus, pada tahun 1998. Sesudah persidangan di pengadilan di mana banyak saksi- saksi gagal hadir atau berbalik arah pada kesakian yang sudah disumpah pada polisi. Akhirnya vonis pada Muchdi tidak berhasil dibukukan oleh Hakim pada bulan Desember 2008. PengadilanTinggi mempertahankan pencabutan keputusan Hakim, namun tim advokasi tetap mendorong untuk meninjau kembali keputusan Hakim dan membuka kembali segel tim investigasi kepolisian.14
Selain pembunuhan, pihak yang melawan reformasi telah menggunakan kekerasan terorganisir untuk mencegah usaha mendukung keadilan. Serangan- serangan macam ini biasanya dilakukan oleh kelompok wakil yang dibayar atau dijadikan wakil para kelompok-kelompok penguasa samar- samar. Mereka, para preman kontrakan atau kelompok-kelompok sipil yang dikait-kaitkan pada militer, di Indonesia sering disebut preman. Pada bulan Mei 2003, suatu kelompok bernama Pemuda Panca Marga, terdiri dari anak -anak perwira dan bermuara pada pos- pos komando militer menyerang kantor KontraS dan PBHI pada waktu para kelompok sedang protes terhadap darurat militer di Aceh. Komandan TNI pada waktu itu, Gen. Endriartono Sutarto sepertinya mau menyalahkan para serangan dari KontraS dengan seringnya mengkritik pemerintah. “Tidak semua kebijakan pemerintah salah, bukan? Pasti ada juga yang baik. Jadi masyarakat akhirnya putus asa... bagaimanapun,
Saya berharap kejadian KontraS ini akan membuat orang merenung, kalau KontraS memang bagian dari bangsa ini.”15
Selain kehadiran preman, kelompok Islam garis keras yang dibentuk oleh inisiatif sendiri atau, dalam beberapa kasus, dengan partisipasi pihak keamanan, juga telah menyerang kantor- kantor dan demonstrasi. Pada Juni 2008, suatu persekutuan organisasi menyelenggarakan demonstrasi untuk membela kebebasan beragama di Monumen Nasional atau Monas. Ratusan anggota Front Pembela Islam menyerang demonstrasi protes tersebut, yang berakhir dengan banyaknya orang cedera. Mirip dengan kejadian pada 19 April 2006 perempuan dari Koalisi Perempuan Indonesia berdemonstrasi melawan hukum moralitas yang diskriminatif terhadap gerakan kebebasan perempuan.
Ada massa di sekitar protes mereka yang memukul dan menghina mereka. Polisi di sekitar protes tersebut hanya diam saja.16
Penyiksaan polisi dan penganiayaan selama penahanan tetap hal yang biasa terjadi di Indonesia, dan aktivis tetap menjadi yang paling sering disiksa. Sebagai contoh, paralegal LBH Jakarta Tommy Albert Tobing dan M. Haris Barkah ditahan dan diperlakukan dengan kasar di rumah tahanan Jakarta Utara pada tanggal 27 Juli 2009. Pada esok harinya, LBH Jakarta bertanya mengenai kasusnya dan polisi mengusir mereka dari kantor polisi dengan kekerasan. Kasus ini juga membuktikan keluhan yang sering terdengar dari pengacara pembela bahwa polisi tidak mengerti atau menghormati peran mereka sebagai pengacara.
Ancaman Kekerasan
Ancaman lewat email, telepon atau SMS sangat biasa, terutama di Papua. Salah satu pembela HAM berbicara kepada Front Line bahwa, “Ancaman sangat biasa bagi kami. Tidak hanya korban dan keluarga mereka, tapi aktivis tenaga kerja, mahasiswa. Selalu terjadi pada semua orang, jadi kami mengabaikannya. Kami tidak tahu, sesuatu bisa saja terjadi kapan pun.”
Dalam satu contoh dari Oktober 2007, seorang prajurit pasukan khusus yang di Papua memberitahu para wartawan bahwa Pastor John Djonga, seorang pendeta dan pembela hak asasi manusia, adalah seorang pengkhianat dan harus ‘”dikubur 700 meter di bawah tanah.” Djonga, yang nantinya memenangkan penghargaan hak asasi manusia pada tahun 2009, baru- baru ini mencela pelanggaran hak asasi manusia dan penebangan pohon liar oleh militer.
Setelah kunjungan Hina Jilani ke Indonesia pada tahun 2007, ada semacam gelombang ancaman terhadap pejuang hak asasi manusia di Papua. Pada 8 Juni, sebuah kendaraan yang digunakan anggota- anggota Komisi Perdamaian dan komisi Keadilan bagi keuskupan Jayapura ditabrak oleh mobil yang dikendarai oleh petugas intelijen negara.
Pada 11 Juni, Wakil Komnas HAM, Albert Rumbekwan menerima suatu SMS yang mengancam: “Anda yang melaporkan situasi hak asasi manusia di Papua sedang membinasakan masyarakatnya. Anda mau bukti bahwa orang sedang dibunuh, Saya akan membunuh suku anda, keluarga anda dan anak- anak anda akan menjadi tulang- tulang untuk membuktikan bahwa hanya ada satu daerah perdamaian di Papua.”
Usman Hamid, Koordinator KontraS dan anggota tim pencari fakta kasus pembunuhan Munir, telah menerima banyak ancaman menggunakan SMS bahwa dia akan ditikam di jalan, dibutakan, diculik dan dibunuh.17Walaupun mengancam adalah suatu kejahatan, dalam suatu pemeriksaan lima tahun terakhir, pada kasus-kasus Imparsial tidak ditemukan usaha- usaha menangkap yang melanggar hukum tersebut.18
Kriminalisasi dan Gugatan Perdata
Walau di bawah pemerintahan Suharto, aktivis juga ditahan karena kritikan mereka, dari pada mereka dipenjarakan tanpa divonis oleh pengadilan. Jaksa sering bersandar pada
pasal karet atau “pasal karet”, kebijakan di kitab hukum pidana yang bisa diterapkan untuk kritikan terhadap presiden atau “menyebarkan kebencian” terhadap pemerintah.
Praktek macam ini masih berkelanjutan dalam bentuk yang dimodifikasi ke dalam bentuk baru dalam Indonesia demokratis. Staf di Imparsial mengatakan kepada Front Line: “Kami sering melihat kasus terhadap pelindung Hak Asasi Manusia yang terkait denganpasal karetdi dalam kitab pidana naskah hukum yang dipakai kasusnya. Pasal karet seperti ini memang dipakai dan diperalat supaya pihak aparat menguasai ruang gerak aktivis hak asasi manusia.”
Pihak pengadilan sudah mulai mengalahkan beberapa pasal karet seperti berikut: • Pada Desember 2006, Mahkamah Konstitusi menginstruksikan bahwa butir hukum
yang mengkriminalisasikan kata- kata kasar terhadap presiden dan wakil presiden (pasal 134, 136, 137) adalah peninggalan kolonial yang bertentangan dengan kon-stitusi;19
• Pada Juli 2007, pihak pengadilan menghapus butir butir hukum yang menyebarkan rasa benci (pasal 154 dan 155, dikenal dalam bahasa Belanda dengan istilah Haatzai Artikelen) yang kriminalisasi pernyataan ‘rasa kemarahan, benci atau dendam ter-hadap Pemerintah Indonesia di ter-hadapan publik” dengan hukuman yang wajib den-gan tahanan sampai 7 tahun di penjara.20
Sementara kebijakan baru ini pantas dirayakan, UU pidana masih menyimpan kebijakan yang bisa digunakan untuk menindas para Pembela Hak Asasi Manusia, termasuk tulisan tentang fitnah atau pencemaran nama baik (310-316,) penghasutan (160-161), pelecehan agama (156), dan pelecehan pihak berwenang (207-208). Pada Agustus 2008, Mahkamah Konstitusi menolak permohonan untuk menyatakan inkonstitusionalitas pada beberapa ketetapan termasuk yang menyangkut pelecehan nama baik.21
Ketetapan-ketetapan tersebut telah dipakai untuk mengintimidasi pembela HAM dalam beberapa tahun belakangan ini. Seperti contoh pada Oktober 2007, seorang pengacara Hak Asasi Manusia Sabar Olif Iwanggin ditangkap di Jayapura oleh tim gabungan yang melibatkan polisi anti terror unit 88. Iwanggin telah menyampaikan kepada beberapa kawan suatu pesan singkat dalam sirkulasi luas, yang berisi suatu rumor bahwa Presiden sedang merencanakan suatu kampanye meracuni orang-orang Papua. Rumor macam ini tidak aneh lagi di Papua dan Iwanggin menjelaskan bahwa dia sedang menyampaikannya kepada kawan-kawan sebagai suatu peringatan untuk berhati-hati dengan penghasutan. Pihak kepolisian menangkap Iwanggin tanpa surat perintah dan memeriksanya tanpa seorang pengacara. Pihak kejaksaan menuntut dia dengan penghasutan dibawah UU 160, tetapi tidak bisa dibuktikan bahwa mereka telah menulis pesannya atau bahwa dia telah menyampaikan kepada siapapun yang pernah melakukan tindakan kekerasan. Maka pengadilan tinggi Negara di Jayapura membebaskannya dari segala tuduhan pada Januari 2009, setelah setahun ditahan.
Suatu kasus dari Aceh pada tahun 2007 menunjukkan bahwa selama ada pasal-pasal berkonotasi luas di dalam buku hukum pidana, para pembela HAM dan pengritik lain akan tetap mudah dijerat oleh praktek-praktek penindasan. Seorang polisi lokal yang menangkap 8 anggota staff dari organisasi HAM karena memasang poster dan flyer tentang perseteruan kasus tanah, menjelaskan situasi: “Masalahnya adalah mereka pikir pasal karet ini bisa dipasang sesuai dengan keleluasaan kami, tetapi yang penting adalah, selama tidak dicabut oleh negara, tulisan tersebut masih sah. Maka kalau mereka tidak ingin dituntut sesuai dengan tulisan tadi mereka harus minta agar tulisan tersebut dicabut negara dan tidak lagi ditetapkan.”22Pada 14 Agustus 2008, pengadilan di kabupaten Langsa di Aceh Timur menghukum 8 orang pembela HAM dengan pelanggaran dan penghasutan dan pencemaran nama baik dan memvonis mereka dengan 3 bulan penjara dan 6 bulan masa percobaan.
Pidana pencemaran nama baik
Walaupun semua “pasal karet” memang bermasalah, selama 2 tahun terakhir tidak terjadi peningkatan penggunaan pencemaran nama baik tersebut. Tidak seperti penanaman kebencian yang dijelaskan diatas, pencemaran nama baik bisa dilontarkan oleh diri sendiri dan para pengusaha tidak hanya petugas pemerintah. Dalam laporan tahun 2008 tentang penggunaan tuduhan pencemaran nama baik melawan wartawan, menemukan bahwa Kitab Hukum Pidana “masih dipakai untuk menjaga pejabat negara, pejabat politik dan pengusaha... dengan cara dipenjarakan atau mengancam wartawan profesional yang membuka pakaian kotor mereka pada publik.”23Masing-masing orang yang dinamakan oleh media juga menggunakan hukum perdata untuk menuntut jutaan dollar untuk melawan para wartawan dan terbitannya.
Kasus aktivis kebebasan pers bernama Upi Asmaradhana mendemonstrasikan bahwa kasus yang berakhir dengan pencabutan tuntutan bisa memiliki akibat serius. Seorang kepala kantor polisi di Sulawesi Selatan telah mendorong pejabat lokal untuk mengusut para wartawan yang kritis, dengan mengatakan “silahkan saja tuduh mereka, laporkan mereka dan kami akan proses mereka.”24Sebagai koordinator melawan kriminalitas pada pers, Asmaradhana mengorganisir suatu protes. Tidak lama kemudian, kepala kantor polisi mengajukan suatu pengaduan terhadap Asmaradhana kepada para bawahannya, dalam pelanggaran prosedur kepolisian yang membutuhkan pengaduan macam itu untuk diajukan pada pemimpin yang lebih tinggi agar mengurangi efek bias dalam investigasinya. Atasan Asmaradhana tidak lama kemudian memecatnya, dengan mengatakan bahwa dia harus menghindari persoalan dengan polisi. Wartawan memberitahu kepada Front Line,” Yang terburuk adalah mereka telah menculik profesi saya; ekonomi saya dan hak intelektual saya telah dilanggar. Mereka tidak berhasil dalam mengancam saya, jadi mereka melangkah lebih jauh dan memaksa saya meninggalkan pekerjaan saya.” Dia juga pernah diancam dalam pembunuhan, penahanan dan tikus mati ditinggal di beranda rumah sebagai ancaman. Akhirnya dia dibebaskan, tapi kasusnya bisa dipertimbangkan pihak jaksa kapanpun.25
Makin hari, tidak hanya para wartawan yang mudah disakiti dengan pengaduan. Menurut Anggara, seorang pengacara yang telah melacak isu ini bagi LBH dan Asosiasi Hak Asasi Manusia (PBHI) “pidana pencemaran nama baik biasanya ditujukan pada wartawan, bukan aktivis. Tapi sejak 2006, tindakan besar tertuju pada aktivis anti korupsi. Maka bisa disimpulkan bahwa adatrendyang tidak lagi berupa ancaman fisik; ancaman-ancaman kepada Pembela Hak Asasi manusia berupa perangkat hukum.” Pada sebuah contoh utama, pada September 2009, Usman Hamid, Direktur Organisasi HAM bernama KontraS, dipanggil untuk pemeriksaan polisi yang berhubungan tentang sebuah keluhan oleh seorang pensiunan Jendral bernama Muchdi Purwopranjono tentang komentar-komentar mengenai keterlibatannya dalam kasus pembunuhan Munir. LBH Jakarta telah mengidentifikasi 11 orang aktivis dari berbagai organisasi yang terjerat pencemaran nama baik kriminal pada 9 bulan pertama tahun 2009 saja.
Bersama dengan wartawan, aktivis-aktivis anti korupsi merupakan yang pertama dijadikan sasaran. Seorang anggota staff Indonesia Corruption Watch, Emerson Yuntho, telah membuat daftar tentang 18 kasus pencemaran nama baik yang diajukan pada aktivis anti korupsi. Pada Oktober 2009, Yuntho dan rekannya Illian Deta Arta Sari dipanggil polisi untuk pemeriksaan sebagai tersangka kasus pencemaran nama baik. Seorang jaksa di kantor Jaksa Agung telah mengajukan suatu laporan polisi setelah para aktivis mengajukan pertanyaan mengenai jumlah uang yang telah mereka pulangkan pada kas negara melalui usaha korupsi. Memang memprihatinkan kalau kantor Jaksa Agung, suatu lembaga yang seharusnya mencegah pengaduan tanpa dasar dari jangkauan pengadilan, ternyata dua aktivis menjadi sumber keluhannya.
untuk memprioritaskan kasus korupsi sebelum mengincar pencemaran nama baik yang terkait.26Walau demikian, perintah 2005 ini belum diimplementasikan dengan baik untuk mengurangi pelecehan terhadap aktivis anti korupsi.
Juga keprihatinan, pelecehan nama baik telah dimasukkan ke dalam undang-undang baru.27 Ada sekitar 20 ketetapan yang berbeda dalam 7 undang-undang (termasuk Kitab Pidana) yang mengkriminalisasikan pencemaran nama baik petugas negara, bendera, pejabat luar negeri, calon untuk pejabat publik, dan anggota masyarakat dengan hukuman sampai dengan 6 tahun dipenjara dan denda sampai Rp. 1 milyar (€80,000).28
Stigmatisasi
Suatu bentuk intimidasi adalah menamakan Pembela Hak Asasi Manusia dengan istilah yang membawa noda di Indonesia:komunis, separatis, anti Islam dan juga teroris.29Di Nusa Tenggara Timur, seorang komandan militer memberikan pidato kepada rekan-rekannya memperingatkan pada “ancaman komunis tersembunyi,” dan akhirnya menamakan sejumlah organisasi Hak Asasi Manusia lokal sebagai ancaman keamanan negara.
Disuatu lokakarya di Jakarta seorang aktivis menjelaskan betapa berpengaruh siasat ini: “Setiap kali kami melakukan advokasi, nama seperti ‘separatis’ diterapkan kepada kita, yang berdampak pada keluarga kita. Seluruh keluarga bisa dipengaruhi kalau salah satu anggota dianggap pemberontak atau seorang komunis, jadi dengan jelas ada ciri ketakutan tercampur didalamnya.”
Tuduhan menjadi anti Islam membawa resiko khusus. Salah satu aktivis menjelaskan, “Orang mudah dihasut bila kita membawa masuk agama, melebihi dari separatisme, komunisme dan terorisme.” “Bila kekerasan datang dari kelompok fundamentalis dampaknya lebih buruk lagi. Suatu pendukung Ahmadiyah telah berhenti berbicara keras. Dia tidak mau bereaksi karena dia tidak berani berbicara lantang.”
Ancaman dan tuduhan terhadap anggota keluarga
Target investigasi atau Advokasi kadang-kadang mengancam sanak saudara para Pembela Hak Asasi Manusia, terutama para pembela perempuan. Salah satu pembela HAM menjelaskan,”Saya tidak takut buat diri saya, tapi buat anak-anak saya. Suami saya dan saya, tidak apa. Tapi pada saat anak-anak saya didekati orang di sekolah yang mengatakan,’ kami akan membunuh ibumu,’ hati saya patah. Saya mengirimkan salah satu anak keluar kota untuk tinggal bersama seorang sepupu agar dia tidak menyaksikan ancaman terhadap diri saya. Saya juga mengetahui guru-guru melalui tugas anti korupsi dan mereka berjanji akan mengurus mereka sebaik-baiknya selama mereka di sekolah.” Seorang pembela HAM yang menginvestigasi korupsi di NTB memberitahu Front Line,” Pada tahun 2007, ayah saya menghadiri pesta ulang tahun, bermain kartu. Polisi meletakkan uang pada saku bajunya dan mengancam akan menuntut dia karena bermain judi bila ayah saya tidak mau menyuruh saya berhenti. Kami tidak berkompromi dan dia dibawa ke pengadilan. Pada akhirnya ayak saya ditahan 5 bulan, usianya 76 tahun.”
Penyadapan dan pemantauan lain
Pembela Hak Asasi Manusia membicarakan kekuatiran mereka soal penyadapan, pelacakan telepon genggam dan pemantauan elektronik lainnya. Para aktivis Papua secara khusus menjelaskan memata-matai secara elektronik tanpa henti oleh agen-agen intel dalam bentuk wartawan palsu, penjual makanan keliling dan tukang ojek yang berdiam diluar kantor-kantor mereka seperti menyadap telepon dan melacak telepon genggam.
Ancaman terhadap Perempuan Pembela Hak Asasi Manusia
WHRD menghadapi ancaman unik. Kajian Komnas Perempuan menemukan bahwa, selain ancaman yang dihadapi oleh semua aktivis, aktivis perempuan juga menghadapi 10 kategori
ancaman lain termasuk pemerkosaan dan penindasan seksual; teror dan intimidasi berdimensi seksual; serangan pada pembela HAM dari kedua fungsi mereka sebagai