BAB II ACUAN TEORI
A. Deskripsi Teoretik
2) Jenis Animasi
Herliyani mengatakan bahwa jenis animasi adalah proses menggambar dalam bentuk kemampuan menggambar dan berimajinasi. 38 Ada beberapa jenis animasi sebagai berikut:
a. Animasi dua dimensi adalah teknik menggambar manual atau biasa disebut animasi klasik.
b. Animasi tiga dimensi adalah teknik animasi digital dan animasi stop motion, biasa disebut animasi clay.
Ranang mengatakan bahwa jenis-jenis animasi sebagai berikut:
a. Animasi gambar diam (Stop-Motion Animation) sering juga disebut Claymation,karena animasi ini biasanya menggunakan lilin sebagai objek bergerak. 39
b. Animation Tradisional (Traditional Animation) adalah teknologi animasi yang paling awal dikembangkan dan sejauh ini merupakan jenis animasi yang populer saat ini. Animasi tradisional juga disebut Animasi Sel (Cel Animation), karena teknologinya dilakukan pada seluloid transparan yang sangat mirip dengan transparansi OHP yang sering digunakan untuk demonstrasi.
c. Animasi Komputer (Computer Animation) adalah menyelesaikan animasi secara utuh oleh komputer, melalui menu gerak kamera, maka semua objek dapat dibuat dari arah mana saja.Animasi ini biasa disebut animasi tiga dimensi (3D animation).
38 Elly Herliyani, Animasi Dua Dimensi, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2014), h. 8.
39 Ranang S A,dkk, Animasi Kartun Dari Analog Sampai Digital, (Jakarta: PT Indeks, 2010), h. 44.
Qirana mengatakan jenis film animasi yaitu: 40 animasi 2D, animasi 3D, animasi stop motion dan animasi jepang
a. Film animasi dua dimensi (2D) adalah film animasi yang disiarkan secara luas di TV dan terbuat dari gambar bergerak dua dimensi.
b. Film animasi tiga dimensi (3D) merupakan produk film animasi yang dihasilkan dengan kemajuan teknologi. Hampir semua orang menggunakan proses tersebut, termasuk pembuatan karakter, adegan dan setting suasana film. Dalam banyak hal, film ini menggunakan model gerak manusia atau hewan sebagai dasar animasi gerak agar terlihat begitu nyata.
c. Stop Motion Animation. Film animasi ini disebut juga dengan istilah “claying”, karena dalam kartun tersebut ini menggunakan tanah liat sebagai objek bergerak. Film animasi jenis ini adalah yang paling sedikit kami miliki diantara jenis lainnya. Kalaupun namanya tanah liat, itu bukan tanah liat biasa. Animasi tersebut menggunakan plastisin (bahan elastis seperti permen karet) dan ditemukan pada tahun 1897. Karakter dalam animasi tanah liat dibuat dengan menggunakan kerangka badan khusus, kemudian tulang tersebut ditutup dengan plastisin sesuai dengan bentuk karakternya. Tulang-tulang bagian tubuh, seperti kepala, tangan, kaki dapat diangkat dan disambungkan kembali. Setelah karakter siap mengambil foto aksinya. Kemudian foto-foto tersebut digabungkan menjadi gambar yang bisa bergerak seperti menonton di film, namun jenis animasi ini agak sulit dibuat.
d. Animasi Jepang (Anime), film animasi jepang ini memiliki nama tersendiri. Jepang memperhatikan animasi tidak kalah pentingnya Eropa. Berbeda dengan animasi Amerika, animasi jepang tidak
40 Dunia Pendidikan, Film Kartun Bagi Anak Usia Dini, 2017, (www. agroedupolitan.com).
Diakses tanggal 24 Oktober 2019 jam 08:45 WIB.
semuanya digunakan untuk anak-anak, bahkan ada pula yang cocok untuk orang dewasa.
Berdasarkan sudut pandangan di atas, dapat dikatakan bahwa jenis animasi merupakan gabungan dari jenis animasi sebelumnya dan saat ini. Animasi dibedakan menjadi empat jenis yaitu: animasi dua dimensi, animasi tiga dimensi, stop motion animation dan animasi jepang.
a. Manfaat Animasi
Manfaat Film animasi adalah alat komunikasi yang membantu proses belajar secara efektif. Dibandingkan dengan hanya melihat sesuatu, anak-anak lebih mudah mengingat dan mendengar sesuatu melalui mata dan telinga.
Munadi mengatakan manfaat animasi antara lain adalah:41 a) informasi yang ia sampaikan cepat dan mudah diingat, b) Menumbuhkan pemikiran dan pendapat anak, c) Menumbuhkan imajinasi anak, d) Memperjelas hal-hal yang abstrak dan memberikan gambaran yang realistis, e) Sangat mempengaruhi emosi anak, f) Sangat baik dalam menjelaskan suatu proses dan dapat menjelaskan suatu keterampilan, g) Menumbuhkan minat dan motivasi belajar untuk anak.
e. Sudarwan Danim mengatakan bahwa manfaat animasi memiliki nilai tertentu,42 seperti mampu melengkapi pengalaman dasar, menginspirasi-inspirasi baru, menarik perhatian, menyajikan dengan lebih baik, karena
41 Dunia Pendidikan, Film Kartun Bagi Anak Usia Dini, 2017, (www. agroedupolitan.com).
Diakses tanggal 24 Oktober 2019 jam 08:55 WIB.
42 Sudarwan Danim, Media Komunikasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2010), h.19.
mengandung nilai hiburan, dapat menunjukkan pengolahan benda yang sebenarnya, sebagai pelengkap catatan menjelaskan hal-hal yang abstrak dan mengatasi hambatan bahasa dan lain-lain.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas maka dapat dikatakan bahwa manfaat animasi antara lain adalah mempunyai nilai tertentu yang dapat diambil dari film tersebut, pesan yang disampaikan mudah diingat, menumbuhkan dorongan, motivasi untuk anak, sangat baik untuk keterampilan.
c. Kartun Nussa
Kartun Nussa merupakan kartun yang ditayangkan di salah satu Channel YouTube yaitu Nussa Official. Kartun Nussa dan Rara yang berasal dari Indonesia yang diproduksi oleh perusahaan animasi The Little Giantz yang diprakarsai oleh Mario Irwinsyah bekerjasama dengan 4 stripe production.
Kartun Nussa menceritakan tentang setiap hari dua saudara dan saudari ingin belajar menjadi baik, berpikir positif dan berterima kasih atas banyak hal yang telah mereka alami. Kartun Nussa ceritanya menarik dan karakternya unik, sehingga kartun ini sangat digemari anak-anak.
Adapun tokoh-tokoh dalam kartun Nussa adalah sebagai berikut:
1. Nussa
Nussa adalah seorang anak laki-laki yang memakai jubah dan peci berwarna putih. Nussa juga sebagai tokoh penyandang disabilitas, tampak kaki kirinya yang palsu.
2. Rara
Rara adalah seorang gadis yang memakai baju gamis berwarna kuning dan jilbab berwarna merah dan terlihat sangat ceria.
3. Umma
Umma adalah ibunya Nussa dan Rara yang memakai baju gamis berwarna pink dan memakai jilbab berwarna biru, umma sebagai ibu yang baik hati dan penyayang.
4. Anta
Anta adalah kucing kesayangan rara, bulunya berwarna abu-abu, anta nurut dengan keluarganya Nussa.
5. Syifa
Syifa adalah sahabat Nussa, memakai baju gamis berwarna ungu dan memakai jilbab berwarna ungu. Syifa mempunyai sifat yang cerdas dan memiliki inisiatif yang tinggi.
6. Abdul
Abdul adalah sahabat Nussa yang berkulit sawo matang, rambut keriting dan memakai baju warna ungu kemerahan. Abdul mempunyai sifat perhitungan kepada teman.
d. Media Kartun dalam Pendidikan Moral
Pendidikan moral adalah salah satu aspek harus dikembangkan diusia dini. Peneliti menjelaskan nilai-nilai moral dalam film animasi Nussa dan Rara. Nilai-nilai moral yang berasas keagamaan membuat orang tua percaya bahwa animasi tersebut berdampak positif bagi anak dan dapat membuat anak mengerti mana perilaku baik maupun buruk, hal tersebut berdasarkan pendapat Maulidya Pasaribu.
Film animasi yang diketahui pada zaman sekarang banyak tayang di stasiun TV Indonesia. Banyak juga film animasi pilihan yang bisa anak kecil menontonnya, tapi hanya sedikit yang menyajikan nilai moral ataupun edukasi di dalamnya. Kebanyakan film animasi sekarang hanya untuk menghibur penontonnya tanpa adanya nilai moral. Tetapi tidak semua film animasi, ada beberapa film yang beredukasi salah satunya film Nussa dan Rara.
Nussa adalah salah satu film animasi yang digemari anak-anak. Karena karakternya yang mudah diingat, dan filmnya sangat menyenangkan untuk di tonton oleh orang tua maupun anak-anak. Selain itu film tersebut mengandung nilai moral dan nilai edukasi.
Dalam film terdapat dampak positif dan negatif bagi anak yang menonton. Dampak positifnya seperti menjadi hiburan bagi anak, anak dapat menambah kosa kata, belajar nilai-nilai yang baik dari film. Dampak negatifnya seperti dapat mengganggu penglihatan mata karena radiasi dari handphone, membuat anak berimajinasi yang berlebihan, kurangnya bersosialisasi, anak dapat menggalami gangguan psikologis, dan prestasi anak menurun.
B. Hasil Penelitian yang Relevan
Dalam melakukan penelitian, terdapat beberapa referensi penelitian relevan yang dapat dijadikan pedoman dalam menyelesaikan penelitian ini, diantaranya sebagai berikut:
Tabel 2.1 Hasil Penelitian Relevan
Nama Penulis
Tahun Judul Persamaan Perbedaan
Basirudin
Shara
44 Shara Ameilia Dewi, “Nilai Moral dalam Film Kuranado (Clannad) Karya Sutradara Osamu Dezaki: Kajian Sosiologi Sastra”, Skripsi Pada Universitas Diponegoro, 2017.
45 Miftahur Rohmah, “Nilai Moral Kemanusiaan dalam Teks Film La Rafle Karya Roselyn Bosch”, Skripsi Pada Universitas Negri Yogyakarta, 2016.
Shidqi
Pesan moral Film animasi wall-E dan implikasinya terhadap pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA”, Skripsi pada Universitas UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2018.
47 Algo Vigura.S, “Pesan moral dalam animasi wall-E (analisis semiotika)”, Skripsi pada Universitas UIN Sultan Syarif Kasim Riau, 2013.
Nureta
Film Nussa Pesan dakwah dan analisis
Film Nussa Pesan keislaman dan Semiotika Roland Barthes”, Skripsi pada Universitas UIN SUSKA Riau, 2020.
49 Iftakhul Kamalia, “Pesan Akhlak dalam Film Animasi “Nussa dan Rara” Di Youtube”, Skripsi pada Universitas UIN Walisongo Semarang, 2019.
50 Akhmad Jaki, “Pesan Keislaman dalam Film Animasi Nussa”, Skripsi pada IAIN Palangka Raya, 2019.
C. Kerangka Berpikir
Kerangka berpikir dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
Berdasarkan gambaran di atas, kerangka berpikir bermula pada perfilman Indonesia yang di tayangkan di televisi atau YouTube terdapat beberapa film anak yang mencerminkan baik dan buruknya nilai moral khususnya untuk anak-anak. Orang dewasa atau orang tua memiliki cara agar anak tetap diam dan tenang ketika orang tua sedang sibuk melakukan aktivitas rumah. Dengan memberikan penayangan yang anak suka maka hal tersebut merupakan solusi yang baik.
Film untuk Anak-anak Perfilman Indonesia
Film Nussa
Muatan Moral
Penelitian Bagan 2.1 Kerangka Berpikir
Anak-anak yang gemar menonton televisi atau YouTube dapat meniru adegan atau perilaku yang anak lihat. Anak-anak juga senang melihat film animasi atau gambar gerak salah satunya film Nussa. Di dalam film Nussa terdapat banyak nilai edukasi salah satunya pendidikan moral yang ada dalam adegan film tersebut. Anak dapat mengambil pelajaran dari film Nussa.
35
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif adalah menggambarkan karakteristik sistematis dan tepat dari bidang atau populasi tertentu.51 Penelitian deskriptif, karena data yang dianalisis membutuhkan interpretasi yang akurat.
Penelitian kualitatif mengacu pada penelitian yang tidak dapat memperoleh hasil penelitian melalui metode kuantitatif lainnya. Peneliti dapat menggunakan metode naratif dan deskriptif untuk memahami fenomena atau peristiwa tertentu.52 Penelitian kualitatif ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan peristiwa atau fenomena. Penelitian ini digunakan untuk menjelaskan nilai-nilai moral dalam film Nussa.
B. Waktu penelitian
Penelitian tentang Nilai-nilai Moral dalam Film Kartun Nussa ini dilakukan selama beberapa bulan dengan susunan sebagai berikut:
Tabel 3.2 Waktu Penelitian
Menghubungi Dosen Maret-April 2019
Diskusi Judul Skripsi Maret-April 2019 Penyusunan Bab I Pendahuluan April-Agustus 2019 Penyusunan Bab II Acuan Teori Agustus-Desember 2019 Penyusunan Bab III Metode Penelitian November-Desember 2019 Penyusunan Bab IV Hasil Penelitian September-Desember 2020
51 Wagiran, Metodologi Penelitian Pendidikan:Teori dan Implementasi, (Yogyakarta:
Deepublish, 2013), h.124.
52 Albi Anggito & Johan Setiawan, “Metodologi Penelitian Kualitatif”, (Sukabumi:CV Jejak, 2018), h. 8-9.
Penyusunan Bab V Simpulan, Implikasi dan Saran
November-Desember 2020
Penyusunan Laporan Penelitian Juni 2020 Penyusunan Laporan Akhir Februari 2021
C. Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Data
Untuk mengumpulkan data yang obyektif, penelitian membutuhkan teknknologi yang tepat dan alat pengumpulan data terkait. Peneliti ini menggunakan teknik pengumpulan data untuk memperoleh data kualitatif melalui observasi, wawancara dan dokumentasi.
Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Observasi
Observasi adalah pengamatan langsung terhadap suatu objek yang dapat direkam secara sistematis dengan menggunakan indera (mata).53 Observasi sebagai alat penting untuk meneliti, karena dengan adanya observasi, peneliti lebih mudah untuk mengamati kejadian secara langsung.
Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data yaitu observasi. Observasi ini dilakukan untuk melihat secara langsung ke objek yang akan diteliti yaitu film Nussa. Serta dengan mengamati dialog-dialog yang ada pada film tersebut, peneliti akan lebih mudah untuk mendapatkan nilai-nilai moral dalam film animasi.
Penelitian ini menggunakan teknik observasi untuk mengungkapkan data dengan mengamati dialog-dialog dari setiap adegan atau episode yang diteliti dalam film Nussa.
53 H. Djaali & Pudji Muljono, Pengukuran dalam Bidang Pendidikan, (Jakarta,2007), h.16.
2. Wawancara
Jika peneliti ingin menemukan masalah yang harus diteliti dan peneliti juga mewawancarai secara mendalam, maka wawancara merupakan teknik pengumpulan data. Wawancara dibedakan menjadi dua jenis yaitu:
a) Wawancara terstruktur. Teknik penelitian ini digunakan sebagai teknik pengumpulan data untuk menemukan informasi yang dapat diperoleh.
b) Wawancara tidak terstruktur adalah wawancara independen dimana peneliti tidak menggunakan pedoman yang tersusun.54 Oleh karena itu, saat melakukan wawancara peneliti menyiapkan pertanyaan untuk dijawab 10 orangtua dengan menonton film, kemudian mereka dapat menjawab sesuai dengan konten yang mereka tonton.
Penelitian ini menggunakan teknik wawancara untuk mengungkapkan data dengan cara menanyakan kepada 10 orangtua yang sudah pernah menemani anaknya menonton film Nussa setelah itu, peneliti menayangkan film Nussa lalu orang tua menyimak film tersebut dan menjawab pertanyaan dari peneliti.
3. Dokumentasi
Dokumentasi adalah kumpulan data yang berupa anotasi seperti foto, gambar, film, buku dan lain-lain. Dokumentasi dalam penelitian ini adalah format fragmen citra yang menggambarkan nilai-nilai moral dalam film Nussa. Peneliti lebih mudah untuk mendapatkan nilai-nilai moral tersebut.
Penelitian ini menggunakan teknik dokumentasi untuk mengungkapkan data dengan mendokumentasikan setiap adegan yang
54 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, (Bandung:Alfabeta, 2011),h.137-140.
terdapat nilai-nilai moral yang diteliti dan mendokumentasikan saat orang tua di wawancarai oleh peneliti.
D. Pemeriksaan atau Pengecekan Keabsahan Data
Untuk menghindari kesalahan dalam pengumpulan data, maka perlu dilakukan pemeriksaan atau pengecekan data. Menurut Deny pemeriksaan atau pengecekan data dapat dibagi menjadi 4 syarat yang dibutuhkan dalam penelitian, sebagai berikut:
1. Keabsahan Konstruk (Construct Validity) adalah validitas suatu bentuk yang dibatasi terkait dengan kepastian variabel yang diukur. Validitas ini juga dapat ditangani melalui pengumpulan data. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan proses triangulasi.
Berkaitan dengan pemeriksaan atau pengecekan keabsahan data menurut Bachtiar mengatakan bahwa triangulasi adalah teknik mendapatkan data yang benar-benar akurat dalam penelitian kualitatif.55 Tujuan dari triangulasi ini adalah untuk memanfaatkan kebutuhan, untuk memeriksa atau membandingkan data dari luar. Ada banyak metode triangulasi yaitu:
a) Triangulasi sumber yaitu membandingkan dan memeriksa secara cermat informasi yang diperoleh dari peneliti dari berbagai sumber data. Misalnya membandingkan pengamatan dengan wawancara, membandingkan apa yang dikatakan secara umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi dan membandingkan hasil wawancara dengan dokumentasi. Dalam penelitian ini triangulasi sumber mengenai nilai-nilai moral dalam film Nussa yakni peneliti melakukan dengan mengumpulkan data yang
55 Bachtiar S. Bachri, Meyakinkan Validitas Data melalui Triangulasi pada Penelitian Kualitatif, (Jurnal Teknologi Pendidikan, Volume. 10, Nomor. 1), (Surabaya: Universitas Negeri Surabaya, 2010), h. 56.
diperoleh dari 10 orang tua serta membandingkan hasil wawancara dengan hasil dokumentasi dan observasi.
b) Triangulasi metode yaitu pengecekan keabsahan data atau pengecekan hasil penelitian. Triangulasi metode juga dapat dilakukan dengan menggunakan lebih dari satu teknik pengumpulan data untuk mendapatkan data yang sama dan dapat dilakukan melalui mengecek atau ceklist. Dalam penelitian ini triangulasi metode melakukan wawancara kepada orang tua mengenai nilai-nilai moral dalam film Nussa. Selanjutnya peneliti mengecek melakukan wawancara, pengamatan dan dokumentasi supaya data lebih valid lagi.
2. Validitas Internal (Internal Validity) merupakan suatu konsep yang mengacu pada kesimpulan hasil penelitian yang menggambarkan keadaan sebenarnya. Keefektifan ini harus melalui proses analisis dan interpretasi. Jika uji validitas internal dilakukan mungkin ada kesimpulan lain yang berbeda.
3. Validitas Eksternal (External Validity) adalah suatu konsep yang mengacu pada kesimpulan yang dapat di generalisasikan untuk penelitian kasus lain. Jika penelitian tidak memiliki kesimpulan yang pasti, tetapi memiliki latar belakang yang sama.
4. Keajegan (Reliability) adalah suatu konsep yang mengacu pada hasil penelitian selanjutya yang memperoleh hasil yang sama, apabila penelitian yang sama diulang kembali.56
Dalam penelitian ini, pemeriksaan atau pengecekan keabsahan data mengacu pada hasil pemerolehan yang sama, apabila peneliti melalukan subjek yang sama.
56 Deny Nofriansyah, Penelitian Kualitatif: Analisis Kinerja Lembaga Masyarakat, (Yogyakarta: Deepublish,2018), h.13-14.
E. Analisis Data
Menurut Sugiyono analisis data adalah proses mengumpulkan data secara sistematis data yang diperoleh dari observasi, wawancara dan dokumentasi yaitu dengan menyeleksi data-data penting dan menarik kesimpulan sehingga menjadi mudah bagi diri sendiri dan orang lain.57
Langkah-langkah yang digunakan dalam teknik analisis data adalah sebagai berikut:
1) Reduksi Data (Data Reduction)
Pada tahap ini, film yang dijadikan objek penelitian dibagi-bagi berdasarkan nilai-nilai edukasi islami yang terdapat dalam film Nussa.
Pembagian ini dimaksudkan untuk memudahkan observasi, bukan untuk memisahkan hubungan antar nilai dalam film.
2) Penyajian Data (Data Display)
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan nilai-nilai moral yang terkandung dalam film Nussa.
3) Kesimpulan (Conclusion)
Dalam tahap akhir, peneliti membuat ringkasan yang terdapat dalam tahapan-tahapan yang telah dijalani. Diharapkan kesimpulan ini dapat menjawab pertanyaan yang diajukan sejak awal.
57 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, (Bandung:Alfabeta, 2016), h. 244.
41
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Data
1. Film Kartun Nussa
Gambar 4.1: Nussa Officiall
Film Kartun Nussa adalah film yang diputar di saluran Youtube yaitu Nussa Official. Kartun Nussa yang berasal dari Indonesia dan di produksi oleh Little Giantz ini sedang digemari anak-anak.58 Film Kartun Nussa menceritakan seorang anak kecil yang bernama Nussa memiliki sifat anak seumuran. Terkadang mudah marah dan merasa nyaman dengan dirinya sendiri, namun keingintahuannya tentang luar angkasa membuatnya ingin menjadi astronot dan hafiz Qur’an, yang merupakan layanan kepada orang tuanya. Kartun Nussa memiliki jalan cerita yang menarik dan karakter yang unik, sehingga film ini sangat digemari oleh anak-anak.
58 Fathin H. Langga, dkk, “Web Series Animasi Nussa Sebagai Media Pendidikan
Islami Pada Anak”, Jurnal Komunikasi Visual Wimba Volume 10, No.1, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung, 2019.
Tabel 4.3: Pengisi Suara Animasi Nussa
No Nama Pengisi Suara
1. Muzakki Ramadhan Nussa
2. Aysha Razaana Ocean Fajar Rara
3. Jessy Milianty Umma
Tabel 4.4: Penghargaan Animasi Nussa
Tahun Penghargaan Nominasi Hasil
2019
Anugerah Syiar Ramadhan 2019
Production House Inspirasi Pemuda
Indonesia Menang
Anugerah penyiaran Ramah Anak 2019
Program Animasi Indonesia
Program Favorit Anak Nominasi
Anugerah Syiar Ramadhan 2019 diadakan pada tahun 2019 oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Tokoh-tokoh dalam film kartun Nussa adalah sebagai berikut:59
a. Nussa
Gambar 4.2: Tokoh Utama
59 Nussa Official store, 2018, ( www.nussaofficial.com). Diakses tanggal 22 desember 2020 jam 13:00 WIB.
Nussa adalah anak yang berusia 9 tahun yang memainkan peran utama dalam cerita ini dan memiliki sifat anak-anak yang sebaya. Diantara teman-temannya, Nussa biasanya menjadi pemecah masalah konflik dalam cerita tertentu. Dengan kekayaan ilmu agama, Nussa dijadikan teladan bagi adik-adik dan temannya.
Berbagai macam kelebihan yang dimiliki Nussa dari kakinya yang tidak sempurna. Selama ini, Nussa menggunakan kaki palsu di kaki kirinya agar bisa berlari dan bermain. Meski kepribadiaan Nussa memiliki berbagai keterbatasan, namun pandai mencapai tujuan tidak menjadi kendala untuk mencapai keunggulan.
b. Rara
Gambar 4.3: Rara Adik Nussa
Rara adalah tokoh utama pendukung Nussa, seorang gadis berusia 5 tahun memakai jilbab berwarna merah dan baju berwarna kuning. Rara ini memiliki sifat pemberani, selalu aktif, ceria dan memiliki daya imajinasi yang tinggi. Selain itu, Rara juga memiliki sifat anak-anak, ceroboh dan tidak sabaran. Rara sering dijadikan cerita konflik dalam kesehariannya, dia suka nonton TV, makan dan bermain.
c. Umma
Gambar 4.4: Ibunya Nussa dan Rara
Umma adalah panutan bagi Nussa dan Rara, Ibu kandung ini memiliki wajah cantik, memakai baju berwarna pink memiliki sifat ceria, perhatian dan bijaksana.
Dalam cerita ini Umma berperan sebagai mediator dalam konflik antara Nussa dengan Rara.
Sejak kecil Umma sudah terbiasa hidup dalam tradisi turun temurun dari keluarga besar, sehingga mudah memahami agama, hadist dan konsep hidup berdasarkan Al-Qur’an. Selain itu, Umma adalah seorang ibu yang sangat mencintai keluarganya dan mudah cemas. Karakter Umma penuh keibuan di setiap episode Nussa.
d. Anta
Gambar 4.5: Kucing Peliharaan Nussa dan Rara
Rara memiliki kucing berwarna abu-abu bernama Anta, saat ini anta berusia sekitar 1 tahun. Gambaran karakter Anta yang memiliki perilaku kucing yang
umum, cerdas dan aktif. Dalam cerita Nussa, Anta memainkan peran pelengkap dalam sebuah adegan dimana Nussa dan Rara sedang bercanda.
e. Abdul
Gambar 4.6: Abdul Sahabat Nussa
Karakter Abdul adalah salah satu sahabat Nussa, berusia 8 tahun, berkulit sawo matang dan berambut keriting hitam. Baju yang dipakai Abdul berwarna ungu kemerahan. Abdul menegaskan dalam cerita Nussa adalah kemampuan menghitung dan sabar dalam segala situasi. Nussa menjadi inspirasi bagi Abdul untuk menjadi anak kecil yang cerdas.
Dalam beberapa cerita, ketika Nussa membantu menyelesaikan konflik, apalagi saat Abdul di bully oleh teman-temannya yang lain, Abdul tampak lebih percaya diri. Hobi unik Abdul adalah bermain di rumah pohon, dia adalah pecinta seni dan bermain sepeda.
f. Syifa
Gambar 4.7: Syifa Sahabat Nussa