BAB III : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Jenis, Bahan, dan Cara Pembuatan Timphan
Timphan adalah jajanan kecil khas Aceh yang mirip dengan lepat. Bahan pembuatan timphan adalah tepung terigu, pisang, dan santan. Semua bahan ini kemudian digabungkan dan diaduk hingga kenyal, sebelum dipanjangkan dan diisi dengan serikaya atau parutan kelapa yang dicampur dengan gula. Campuran ini kemudian dibungkus dengan daun pisang dan dikukus selama satu jam (direbus tanpa direndam air). Dalam proses pengelolahan timpan memiliki berbagai macam jenis.
1. Timphan Baloen
Timphan baloen terbuat dari bahan dasar tepung terigu dilarutkan dengan air dan sedikit garam. Proses pembuatannya menyerupai dengan telur dadar yang dimasak diatas wajan yang anti lengket. Macam-macam isianya berbeda-beda ada yang isi srikaya dan inti kelapa. Masyarakat Aceh menyebutkan dengan timphan Baloen, sedangkan diluar Aceh disebut dadar gulung. Dihidangkan bersamaan dengan kopi dan teh22
Bahan:
• Tepung terigu
• Tepung kanji
• Susu kental manis/susu bubuk
• Air
• Mentega/margarin
22 Bahruzzaman Ismail, Ensiklopedia budaya Adat Aceh, (Banda Aceh: Majelis Adat Aceh), Hal 191
• Garam
• Minyak goreng untuk mengoles telfon Isi:
• Kelapa parut
• Gula pasir
• Garam Cara pembuatan:
• Mixer/blender, campurkan semua bahan hingga benar-benar halus (dan warnai adonan sesuai selera).
• Panaskan taplon, lalu olesi sedikit dengan minyak goreng agar tidak lengket. Tunggu beberapa detik hingga matang. (lanjutkan sampai adonan habis).
• Angkat dan isi kelapa
• Lalu lipat sisi bawah, sisi samping kanan dan kiri
• Lalu gulung
• Selesai.
Cara membuat isinya:
Masukan semua bahan lalu remas-remas sebentar agar gula pasir larut dan beri sedikit air lalu masak hingga matang, masak dengan api kecil agar tidak gosong bagian bawahnya. Jika kurang manis bisa ditambahkan gula lagi atau sesuai selera.
2. Timphan Ubi
Timphan adalah tradisi Aceh untuk hidangan khusus yang biasanya disajikan pada perayaan dan peringatan hari besar keagamaan. Sebelumnya, timphan hanya dibuat dengan pisang sebagai bahan utamanya. Namun seiring berjalannya waktu, banyak orang yang mulai membuat timphan dari berbagai bahan dasar seperti labu kuning, pepaya, dan singkong. Hanya saja kamu harus membuat adonan dengan tepung dan telur untuk bahan dasar labu kuning dan pisang.
Sedangkan timphan ubi jauh lebih praktis.
Bahan:
• Ubi/singkong
• Gula merah batu
• Kelapa parut
• Daun pisang
• Gula
Cara pembuatannya:
• Cuci dan kupas ubi, lalu parut ubi sampai halus
• Potong-potong gula merah dengan halus
• Campurkan ubi hasi dari parutan tadi dengan gula merah, kelapa parut, dan gula putih, aduk semuanya sampai tercampur
• Potong-potong daun pisang menjadi beberapa lembar
• Letakkan satu sendok makan adonan di atas daun pisang dan gulung rapat agar adonan tidak tumpah.
• Lakukan semuanya sampai selesai, setelah selesai susun dalam panci rebusan, setelah tersusun rapi letakkan diatas kompor dan tunggu sampai daunnya layu kira-kira 10 sampai 15 menit
• Setelah matang, angkat dari wajan dan letakkan di atas piring.
Gambar 3.1 Isian Kelapa Parut Gambar 3.2 Adonan Timphan Ubi
Gambar 3.3 Pembentukan Adonan Gambar 3.4 Pembentukan adonan di daun pisang
3. Timphan labu isi srikaya
Timphan labu isi srikaya terbuat dari tepung ketan yang dilarutkan dengan air dan sedikit garam, bahan yang digunakan adalah telur ayam, gula pasir, santan kental, sedikit daun pandan wangi.
Bahan:
• tepung ketan putih
• santan
• labu kuning
• Garam
• lembar daun pisang
• Minyak goreng secukupnya
• Sebutir telur
Gambar 3.5 Bungkus adonan dengan daun pisang
Isi
• Santan
• Garam
• Vanili
• Tepung meizena
• Daun pandan
Uleni hingga adonan bisa digulung dan dibentuk. membuat timphan labu kuning isi srikaya, campur semua bahan isi, aduk rata, kupas labu kuning, cuci, potong-potong lalu kukus.
Cara pembuatan:
• Kupas, potong potong labu. Masukkan ke wadah bersama dengan santan, garam, dan vinili. Kukus sampai empuk, setelah itu blender (santannya hanya ikut sedikit agar tidak terlalu basah). Kemudian tunggu labu hingga dingin
• Setelah dingin campur dengan beras ketan dan telur. Uleni hingga kalis, kemudian bentuk adonan menjadi bulatan, bisa ditambah tepung sedikit demi sedikit
• Srikaya blender pandan, telur dan santan saring, lalu masukkan pewarna, gula, vinili, sedikit garam, maizena dan panaskan
• Aduk- aduk dengan api kecil hingga bergerindil (tidak halus seperti selai)
• Kembali ke adonan labu. Potong-potong daun pisang selebar telapak tangan, kemudian lumuri permukaan daun dengan minyak goreng
selanjutnta, ambil bulatan adonan lalu tipiskan. Isi dengan bahan srikaya dengan arah searah dengan guratan pisang
• Habiskan semua adona lalu kukus selama 25-30 menit. Susun jangan terlalu padat. Tutup kukusannya dilapis kain agar tidak terlalu basah
• Setelah matang, buka kukusan dan tunggu hingga dingin. Kemudian rapikan daun pisang dan sajikan
Gambar 3.6 Daun Pisang yang dioles minyak goreng
Gambar 3.7 minyak goreng
Gambar 3.8 Ulenin tepung
Gambar 3.9 pengisian selai srikaya ke dalam adonan yang akan di bentuk
Gambar 3. 10 Adonan yang telah di bentuk
4. Timphan labu isi kelapa
Timphan isi kelapa terbuat dari tepung ketan yang dilarutkan dengan air dan sedikit garam, bahan yang digunakan adalah kelapa muda, gula pasir dan daun pandan wangi.
Bahan:
• Labu kuning (berat setelah di kupas)
• Santan ketan putih
• lembar daun pisang
• Santan
• Garam
• Minyak goreng Isi:
• Tepung beras ketan putih
• ½ buah kelapa parut (agak muda)
Gambar3. 11 Adonan timphan yang sudah di bungkus
• 1 lembar daun pandan
• Santan
• Garam
• ½ tepung maizena di larutkan dengan sedikit air
Uleni hingga adonan bisa digulung dan dibentuk. Membuat timphan kuning isi kelapa campur semua bahan isi, aduk rata, kupas labu kuning, cuci, potong-potong lalu kukus
Proses pembuatan:
• Sebagai permulaan, campurkan gula merah dengan sedikit air, lalu tambahkan daun pandan dan garam, masak hingga gula larut, lalu tambahkan kelapa parut, aduk hingga rata.
• Tambahkan cairan maizena diaduk hingga rata sampai air mengering kemudian angkat pindahkan ke wadah sisihkan dahulu
• Kukuskan labu kuning kemudian haluskan
• Masak santan dan masukan daun pandan dan garam kemudian masukan labu kuning halus aduk sampai rata matika kompor biarkan hangat
• Pindahkan ke wadah lain campur tepung ketan sedikit demi sedikit sampai adonan tersenut bisa dibentuk.
• Ambil selembar daun pisang dan dioleskan sedikit minyak, ambil adonan pipihkan beri isian isi kelapa kemudian bungkus lakukan sampai selesai
• Kukus selama 25 menit kemudian angkat biarkan dingin.
5. Timphan ubi ungu isi srikaya nangka
Timphan ubi ungu terbuat dari tepung ketan yang dilarutkan dengan air dan sedikit garam, Bahan yang digunakan adalah ubi ungu, gula pasir, daun pandan wangi sedangkan isinya ada yang isi serikaya, isi kelapa. Adapun bahan bahan untuk membuat timphan sebagai berikut:
Bahan:
• Tepung ketan
• Ubi ungu
• Garam
• Santan kental
• Telur
• Daun pisang
• Minyak makan untuk olesan Isi:
• Telur
• Gula pasir
• Garam
• Tepung terigu protein
• Santan
• Nangka dipotong kecil-kecil apabila perlu
• Daun pandan
• Vanili
Proses pembuatan:
Buat isiannya dengan gula dan garam. Aduk rata, lalu tambahkan tepung dan aduk rata lagi. Terakhir, tuangkan santan perlahan-lahan dan aduk rata.
• Masukkan nangka, kelapa parut, dan daun pandan. Aduk rata. Masak, aduk terus, dengan api kecil sampai mengental. menyisihkan
• Untuk membuat adonan kulitnya, campurkan ubi ungu, tepung ketan putih, dan garam dalam mangkuk. Aduk rata, lalu masukkan santan sedikit demi sedikit sambil diuleni hingga kalis.
• Mulailah dengan daun pisang muda olesi wajan secara bebas dengan minyak. Letakkan adonan kulit di atasnya dan ratakan. Buat isiannya lonjong dan rata bungkus seperti pepe dan jepit ujungnya menjadi satu.
• Kukus timphan selama 25 menit dengan api sedang, atau hingga matang.23
Gambar 3.12 daun pisang
23 Wawancara dengan Nafisah, Ibu Rumah Tangga Gampong Lamkawe tanggal 13 Juli 2022
Gambar 3.13 Minyak goreng
Gambar 3.14 Serikaya campur nangka
Gambar 3.15 Adonan tepung ubi ungu
Gambar 3.16 Proses pembuatan timphan
Gambar 3.17 Timphan yang sudah matang
B. Makna Dan Fungsi Timphan
Makna timphan di kalangan masyarakat Gampong Lamkawe antara lain sebagai bekal. Timphan adalah salah satu contoh kue basah tradisional yang berasal dari Aceh. Timphan banyak disukai oleh masyarakat Aceh hampir setiap kalangan usia mulai dari anak-anak hingga lansia.24 Selain memilki makna timphan juga berfungsi untuk memper erat tali silaturahmi seperti yang di lakukan oleh seoraang menantu yang berkunjung ke tempat sang mertua tersebut dengan membawa timphan sebagai buah tangan maka dari itu silaturahmi antara menantu dan mertua tetap terjaga.
Makanan tradisional dapat punah akibat pengaruh budaya luar seiring dengan semakin modernnya dunia. Menjadi tanggung jawab semua pihak,
24 Wawancara dengan Ninawati, pedagang dipasar Kembang Tanjong Tanggal 14 Juli 2022
khususnya masyarakat Pidie, untuk melestarikan tradisi ini agar anak cucu mereka tidak terpengaruh dan terbawa oleh budaya luar yang lambat laun akan mengikis budaya Aceh, khususnya makanan khas yaitu timphan.
Timphan memang sudah sangat dikenal di Pidie sejak zaman ke zaman.
Timphan selalu menjadi makanan pokok dalam adat Aceh. Misalnya, pada acara khitanan, pernikahan, dan maulid Nabi. Timphan biasanya disajikan bersama berbagai makanan tradisional lainnya. Setiap daerah di Aceh memiliki adat dan tradisi masing-masing, namun semuanya berpedoman pada Al-Qur'an dan hadits para sahabat. Hal-hal yang dilarang untuk mereka tinggalkan, serta makanan tradisional lainnya mereka siapkan berdasarkan apa yang baik untuk mereka dan mudah disiapkan.
Kuliner atau makanan tradisional memiliki peran strategis dalam upaya diversifikasi bahan pangan daerah dan memberikan alternatif ketahanan pangan nasional. Timphan merupakan budaya bercita rasa tinggi yang memadukan pengolahan kreatif sumber daya lokal dengan adat istiadat setempat yang telah diwariskan secara turun-temurun. Timphan dapat digunakan sebagai penangkal pengaruh urbanisasi dan globalisasi yang menyebabkan masyarakat lebih memilih makanan asing atau dikenal dengan fastfood. Timphan juga makanan dan salah satu kekayaan budaya bangsa.
D. Upaya Masyarakat Kembang Tanjong Dalam Melestarikan Timphan Menurut hasil wawancara dan observasi peneliti, timphan banyak digemari oleh berbagai kalangan, baik pria maupun wanita, dan lintas usia, dari anak-anak hingga orang dewasa, sebagai salah satu makanan khas Aceh yang masih sangat
populer dari dulu hingga sekarang, bahwa timphan ini ada pada suatu masa Timphan merupakan masakan yang populer di Aceh, khususnya di kalangan masyarakat Pidie.
Timphan adalah makanan tradisioanal yang begitu mudah untuk membuatnya. Timphan identik dengan masyarakat yang tinggal di daerah Pidie.
Karena masyarakat Pidie telah melestarikan makanan tradisional dari masa ke masa, kita selalu ingat bagaimana rasanya ketika orang menyebut timphan.
Saat ini, timphan telah berkembang karena banyak masyarakat Pidie yang mengembangkan makanan tradisional Aceh Timphan agar tidak punah seiring berjalannya waktu. Timphan kini tersedia di acara-acara resmi bahkan kedai kopi;
selain mudah didapat, Timphan tidak mengandung bahan-bahan berbahaya yang tidak diinginkan oleh tubuh. 25
Timphan juga sangat disukai oleh semua orang, termasuk anak muda yang jauh dari orang tuanya. Timpan unik karena rasanya yang enak dan cara membuatnya yang sangat sederhana. Tentunya di era modern saat ini, sangat sulit bagi makanan tradisional untuk bertahan dan bersaing dengan makanan modern.
Pasalnya, budaya yang cepat berubah terkadang mempengaruhi proses pengawetan sehingga keberadaan timphan tidak kalah dengan makanan modern lainnya.
Upaya pelestarian timphan dilakukan dengan memperkenalkannya pada pameran Pidie se-provinsi dan mengajak masyarakat untuk lebih memanfaatkan dan mencintai dalam kehidupan sehari-hari dengan membuat timphan di rumah agar generasi muda tidak melupakan dan mendidik anak-anaknya. Agar generasi
25 Wawancara dengan ibu nurbaiti Pedagang dipasar Kembang Tanjong Tanggal 14 juli 2022
seterusnya paham kalau makanan tradisional lebih unggul dari makanan kemasan atau jajanan.
43 BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian diperoleh kesimpulan sebagai berikut: timphan merupakan salah satu makanan khas Aceh yang banyak dinikmati oleh masyarakat Pidie pada umumnya. Makanan ini terbuat dari tepung ketan dan pisang/labu yang pipih dan panjang seperti lepat. Timphan juga merupakan salah satu makanan yang tahan uji waktu dengan kata lain dapat bertahan di setiap perkembangan zaman.
Bagi masyarakat Kembang Tanjong timphan sudah dikenal oleh kalangan masyarakat Aceh sejak dahulu namun, namun tidak mudah untuk menemukannya.
Timphan merupakan produk lokal yang dibanggakan oleh masyarakat Aceh. Pada umumnya timphan terbuat dari tepung beras ketan yang dicampur dengan pisang, labu kuning, pepaya, santan untuk kulitnya, kemudian diisi dengan parutan kelapa yang telah dimasak dengan gula pasir atau biasa disebut sari kelapa oleh orang Indonesia yang unik adalah kue timphan srikaya yang kemudian dikukus hingga matang.
Makna timphan di kalangan masyarakat Gampong Lamkawe antara lain sebagai bekal. Timphan adalah salah satu contoh kue basah tradisional yang berasal dari Aceh. Timphan banyak disukai oleh masyarakat Aceh hampir setiap kalangan usia mulai dari anak-anak hingga lansia.26 Selain memilki makna timphan juga berfungsi sebagai menu berbuka puasa, hari raya idul fitri, idul adha maulid Rasul dan berfungsi untuk memper erat tali silaturahmi seperti yang di lakukan oleh
26 Wawancara dengan Ninawati, Pedagang, Tanggal 14 juli 2022
seoraang menantu yang berkunjung ke tempat sang mertua tersebut dengan membawa timphan sebagai buah tangan maka dari itu silaturahmi antara menantu dan mertua tetap terjaga.
Upaya pelestarian timphan dilakukan dengan cara mengajarkan kepada remaja putri yang sudah mengenalnya bahwa makanan tradisional lebih unggul dari makanan kemasan atau jajanan. Saat ini, timphan telah berkembang sebagai hasil dari banyak orang yang mengembangkan makanan tradisional Aceh, tujuannya agar timphan tidak punah seiring berjalannya waktu.
Upaya pemerintah Pidie untuk melestarikan makanan tradisional ini antara lain dengan mengikutsertakannya dalam setiap festival makanan tradisional dan mengadakan festival khusus.
B. Saran
Berdasarkan beberapa kesimpulan yang telah diuraikan di atas, peneliti ingin menyoroti beberapa hal dari penulisan karya ilmiah ini yang secara khusus membahas timphan dan upaya pelestariannya untuk gambaran dan saran untuk penelitian selanjutnya, sebagai berikut:
1. Kepada pemerintah agar lebih memperhatikan makanan tradisional seperti timphan agar tetap terjaga kelestariannya agar tidak punah seiring dengan berlalunya kepunahan.
2. Diharapkan dengan penulisan karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi pembaca penulis lain yang melakukan penelitian lebih lanjut. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih memiliki banyak kekurangan, dan
penulis berharap akan dilakukan penelitian lebih lanjut untuk menyelidiki masalah ini secara menyeluruh.
3. Diharapkan masyarakat Pidie pada umumnya dapat menjaga, merawat, dan melestarikan warisan kuliner Aceh yang memiliki nilai-nilai berharga bagi anak cucu kita.
46
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Rani Usman dkk. Budaya Aceh, Pemerintahan Provinsi Aceh, 2009.
Badan Pusat Statistik. Provinsi Aceh Dalam Angka 2017.
Badruzzaman Ismail. Ensiklopedia budaya Adat Aceh. Banda Aceh: Majelis Adat Aceh. 2018.
Beni Ahmad Saebani. Pengantar Antropologi. Bandung: CV Pustaka Setia. 2012.
BPNB Aceh. Panduan Pencatatan, Penetapan, Penominsian, Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Banda Aceh: BPNB Aceh, 2015.
Bustami Abubakar, dkk. Dari Warisan Budaya Tak Benda Menjadi Warisan Budaya Nasional. Jurnal. Ar-raniry. 2022.
Dian Hardiyanti. Gutel Gayo. Upaya Masyarakat Kecamatan Permata Dalam Melestarikan Makanan Tradisional: Skripsi Karya Maha Siswa Sejarah Kebudayaan Islam Universitas UIN Ar-Raniry. Fakultas Adab dan Humaniora. Banda Aceh. 2019.
Kharie A. 150 resep Kue Tradisional. Jakarta: PT. Agromedia Pustaka. 2014.
Kusudianto Hadinoto. Perencanaan Pengembangan Destinasi Pariwisata, Jakarta:
Universitas Indonesia. 1996.
Muhammad Nazir. Metode Penelitian Cet IV. Jakarta: Ghalia Indonesia. 1998.
Koentjranigrat. Pengantar Ilmu Antropologi Jakarta: Rineka Cipta. 2013.
Putri Permata Azwar. Pengunaan Ubi Celembu sebagai penganti pisang raja dalam pembuatan kue timphan: Skripsi Karya Mahasiswa Jurusan Sejarah Hospitality Program Studi Manajemen Patiseri. Bandung. 2017.
Rusjdi Ali Muhammad. Buletin Haba. Banda Aceh: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional. 2011
Sa’diah Multi Karina. Endang Titi Amrihati. Pengembangan Kuliner. 2017.
Soejono Soekanto, Sosiologi suatu Pengantar, Jakarta: Rajawali Press, 1986 Sustrisno. Metedeologi Research Jilid II Yogyakarta Andi Off Set. 2000.
Uswatun Hasanah. Masyarakat Desa Air Dingin Kecamatan Simeulue Timur Dalam Melestarikan Makanan Tradisional memek: Skripsi karaya Maha siswa Sejarah Kebudayaan Islam Universitas UIN Ar-Raniry, Fakultas Adab dan Humaniora Banda Aceh 2020
Sumber Web:
https://acehprov.go.id/berita/kategori/jelajah/timphan-makanan-khas-aceh-saat-lebaran
http://tpa.fateta.unand.ac.id/index.php/JTPA/article/view/333 Sumber Wawancara:
Wawancara Dengan Junaidi Pedagang Tanggal 12 Juli 2022.
Wawancara Dengan Nafisah Tanggal IRT 14 Juli 2022.
Wawancara Dengan Ninawati Tanggal IRT 14 Juli 2022.
Wawancara Dengan Nurbaidah IRT Tanggal 13 Juli 2022.
Wawancara Dengan Nurbaiti Pedagang Tanggal 14 Juli 2022.
DAFTAR PERTANYAAN 1. Apakah anda mengetahui tentang Timphan?
2. Pada monen apa Timphan dibuat dan dimakan?
3. Bagaimana cara membuat Timphan?
4. Bahan apa saja yang menjadi bahan untuk membuat timphan?
5. Apa yang membedakan Timphan dengan makanan tradisional lainnya?
6. Bagaimana latar belakang historis Timphan?
7. Bagaimana Timphan disajikan dan disantap?
8. Apa makna dan fungsi timphan?
9. Seberapa pentingnya Timphan bagi anda?
10. Mengapa Timphan masih digemari oleh masyarakat?
11. Bagaimana cara melestarikan Timphan?
12. Apakan terdapat perubahan dalam pengolahan Timphan dijaman dulu dan sekarang?
DAFTAR INFORMAN
1. Ibu keuchik : Nafisah Umur : 45 tahun Pekerjaan : IRT
Alamat : Gampong Lamkawe
2. Pak keuchik : Fauzi Umur : 55 tahun
Pekerjaan : Keuchik gampong Alamat : Gampong Lamkawe
3. Nama : Junaidi Umur : 40 tahun Pekerjaan : Pedagang
Alamat : Gampong Lamkawe
4. Nama : Asiah Umur : 75 tahun Pekerjaan : IRT
Alamat : Gampong Lamkawe
5. Nama : Nurbaidah Umur : 53 tahun Pekerjaan : IRT
Alamat : Gampong Lamkawe
6. Nama : Nurbaiti Umur : 43 tahun Pekerjaan : Pedagang
Alamat : Tanjong
7. Nama : Ninawati Umur : 41 tahun Pekerjaan : Pedagang Alamat : Tanjong
LAMPIRAN DOKUMENTASI
wawancara dengan ibu keuchik buk Nafisah
Wawancara dengan bu Nurbaidah
Wawancara dengan pak Husaini
Wawancara dengan buk Asiah
Wawancara dengan pedagang di pasar kembang Tanjong (ibu Nurbaiti)