TIMPHAN SEBAGAI KULINER KHAS MASYARAKAT ACEH (Studi Di Kecamatan Kembang Tanjong Kabupaten Pidie)
SKRIPSI
Diajukan Oleh:
Mahasiswi Fakultas Adab dan Humaniora Prodi Sejarah Kebudayaa Islam
FAKULTAS ADAB & HUMANIORA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI AR –RANIRY
DARUSSALAM BANDA ACEH 2022 M/ 1444
NAIZA FADILLA NIM. 180501019
v
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat serta hidayah- Nya. Sholawat beserta salam penulis persembahkan keharibaan Nabi Muhammad SAW yang telah membawa manusia dari alam kegelapan dan kealam terang menerang seperti yang dirasakan sekarang ini. Alhamdulilah, dengan petunjuk dan karunia-Nya, penulis akhirnya telah selesai menyusun sebuah skripsi untuk memenuhi dan melengkapi syarat guna mencapai gelar sarjana pada jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Ar- raniry Banda Aceh, dengan judul “Timphan Sebagai Kuliner Khas Masyarakat Aceh” lengkapi dengan berbagai macam bantuan salah satunya dengan adanya panduan penulisan skripsi dari pihak fakultas. Dalam hal ini tentu sangat membantu bagi mahasiswa/i dalam menjalankan tugas skripsi. Tidak lupa ucapan terima kasih kepada:
1. Kepada kedua orang tua penulis, yaitu ayahanda tercinta Muhammad Jurnalis dan ibunda tercinta Mursyidah, yang senantiasa mendoa’kan penulis dan juga telah memberi dukungan dan motivasi kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini serta telah ikut membantu penulis selama proses penelitian. Kemudian, ucapan terimakasih untuk saudara kandung tercinta Mulya Ananda, Daffa Tria Ananda dan seluruh keluarga yang telah memberi dukungan dan semangat serta senantiasa mendoa’akan penulis selama ini
vi
2. Bapak Syarifuddin, M.A., Ph.D selaku Dekan Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Uin Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh, wakil dekan beserta stafnya yang telah banyak membantu kelancaran skripsi.
3. Bapak Hermansyah, M.Th. MA Hum dan bapak Ikhwan M.A. selaku ketua dan sekretaris program studi Sejarah dan Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Uin Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh
4. Bapak Sanusi Ismail S.Ag,M.Hum dan bapak Dr.Bustami Abubakar, M.Hum. selaku pembimbing I dan pembimbing II yang telah banyak meluangkan waktu, tenaga dan pikiran dalam mengarahkan dan mebimbing serta memotivasi penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.
5. Ibu Ruhamah, M.Ag. selaku penguji I dan bapak Dr.H Ajidar Matsyah, Lc, M.A yang telah memberikan ujian dan masukan terhadap skripsi penulis:
6. Terimkasih kepada ibu Dra.Fauziah Nurdin, M.A selaku penasehat akademik penulis, yang telah memberi arahan serta bimbingan selama perkuliahan.
7. Terimakasih kepada seluruh bapak/ibu dosen dan karyawan Program Studi Sejarah dan Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Humanira Uin Ar-Raniry Banda Aceh yang telah memberi ilmu dan bimbingan kepada penulis selama masa perkuliahan.
8. Kepada yang terkhusus Muhammad Fadhil, Riski Julfarel, Muhammad Riski Al-Munanzar, Syifa Fadilla, Rukhniza Ulva, Rosdiana, Riska Muliani serta sahabat surga Secawan Madu yang telah setia menyemangati dan
vii
menemani dalam setiap waktu serta turut membantu dalam menyelesaikan skripsi ini.
9. Rekan-rekan mahasiswa/i letting 2018. Terimaksih juga kepada kakak dan abang leting serta teman-teman yang juga lebih banyak yang menyemangati dan membantu dalam menyelesaikan skripsi ini yang tidak mungkin disebut satu persatu.
10. Geuchik, perangkat Gampong, serta masyarakat Gampong Lamkawe dan para informan yang telah membantu selama penelitian.
Dengan segala kerendahan hati penulis sangat mengharapkan kritikan dan saran. Akhirnya kepada Allah SWT penulis berserah diri karena tidak ada satu hal pun terjadi melainkan atas kehendak-Nya. Semoga segala bantuan yang di berikan kepada penulis medapatkan balasan yang baik Allah subhanallahuwata’ala dan semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi semua pihak, aamiin ya rabballaalamin.
Banda Aceh, 21 Desember 2022 Penulis,
Naiza Fadilla
viii DAFTAR ISI LEMBARAN JUDUL
PENGESAHAN PEMBIMBING PENGESAHAN SIDANG
SURAT KEASLIAN SKRIPSI
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR GAMBAR ... xi
DAFTAR LAMPIRAN ... xii
ABSTRAK ... xiii
BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 3
C. Tujuan Masalah ... 3
D. Manfaat Penelitian ... 4
E. Penjelasan Istilah ... 4
F. Kajian Pustaka ... 5
G. Metode Penelitian... 7
H. Sistematika Penulisan ... 10
BAB II : LANDASAN TEORITIS A. Tinjauan Tentang Budaya 1. Definisi Timphan ... 12
2. Definisi Kuliner ... 13
3. Definisi Masyarakat ... 14
B. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 1. Sejarah Gampong Lamkawe ... 15
2. Pendidikan dan keagamaan ... 17
3. Perekonomian dan pencarian ... 19
4. Kondisi sosial dan budaya ... 20
BAB III : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Latar Belakang Historis Timphan ... 23
B. Jenis, Bahan, dan Cara Pembuatan Timphan ... 24
C. Makna dan Fungsi Timphan ... 40
D. Upaya Masyarakat dalam Melestarikan Timphan ... 42
BAB IV : PENUTUP A. Kesimpulan ... 44
B. Saran ... 45
DAFTAR PUSTAKA ... 47 LAMPIRAN-LAMPIRAN
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
ix
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Jumlah Penduduk Gampong Lamkawe ... 19
Tabel 2.3 Jumlah Tingkat Pendidikan Masyarakat Gampong Lamkawe ... 20
Tabel 2.4 Jumlah Fasilitas Gampong Lamkawe ... 23
Tabel 2.5 Tenaga Kerja Berdasarkan Profesi ... 23
Tabel 2.5 Kegiatan Sosial Gampong Lamkawe ... 25
xi
DAFTAR GAMBAR
Gambar 3.1 Isian Kelapa Parut Yang Sudah Matang ... 32
Gambar 3.2 Adonan Ubi Yang Sudah Diaduk ... 33
Gambar 3.3 Pembentukan Adonan ... 33
Gambar 3.4 Pembentukan Adonan Dengan Daun Pisang ... 34
Gambar 3.5 Bungkus Adonan Dengan Dengan Daun Pisang ... 34
Gambar 3.6 Daun Pisang Yang Dioles Minyak Goring ... 37
Gambar 3.7 Minyak Goreng ... 37
Gambar 3.8 Ulenin Tepung ... 38
Gambar 3.9 Pengisian Selai Srikaya Kedalam Adonan Yang Akan Di bentuk ... 38
Gambar 3.10 Adonan Timphan Yang Sudah Dibungkus ... 39
Gambar 3.11 Daun Pisang... 43
Gambar 3.12 Minyak Goreng ... 43
Gambar 3.13 Serikaya Campur Nangka... 44
Gambar 3.14 Adonan Tepung Ubi Ungu ... 44
Gambar 3.15 Proses Pembuatan Timphan ... 45
Gambar 3.16 Timphan Yang Sudah Matang ... 45
xii
DAFTAR LAMPIRAN
1. Surat Keterangan Pembimbing Skripsi
2. Surat Izin Melaksanakan Penelitian dari Dekan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry Banda Aceh
3. Surat Balasan Telah Melakukan Penelitian dari Keuchik Gampong Lamkawe
4. Daftar Wawancara 5. Daftar Informan
6. Dokumentasi Penelitian 7. Daftar Riwayat Hidup Penulis
xiii ABSTRAK
Nama : Naiza Fadilla
NIM : 180501019
Fakultas/Prodi : Fakultas Adab dan Humaniora/Sejarah dan Kebudayaan Islam Judul : Timphan sebagai Kuliner Khas Masyarakat Aceh
(Studi di Kecamatan Kembang Tanjong, Kabupaten Pidie) Tebal Skripsi : 69 Halaman
Pembimbing I : Sanusi Ismail, S.Ag M.Hum
Pembimbing I : Dr. Bustami Abubakar, S.Ag., M.Hum Kata kunci: Timphan, Kuliner Aceh, Kembang Tanjong
Penelitian ini berjudul Timphan sebagai Kuliner Khas Masyarakat Aceh (Studi Di Kecamatan Kembang Tanjong Kabupaten Pidie)”. Timphan adalah makanan khas Aceh yang banyak digemari masyarakat Pidie pada umunnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang historis, jenis, bahan, fungsi, makna, cara pembuatan dan cara melestarikan timphan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif yang mana peneliti sendiri yang menjadi instrumen kunci, teknik hasil pengumpulan data dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Adapun hasil yang diperoleh dari penelitian ini menyimpulkan bahwa Timphan sudah ada dari zaman ke zaman dan masih bertahan sampai dengan masa sekarang. Timphan dilakukan dengan cara mengajarkan kepada remaja putri yang sudah mengenalnya bahwa makanan tradisional lebih unggul dari makanan kemasan atau jajanan. Saat ini, timphan telah berkembang sebagai hasil dari banyak orang yang mengembangkan makanan tradisional Aceh, tujuannya agar timphan tidak punah seiring berjalannya waktu. Proses pembuatan makanan tradisional sangatlah mudah sedangkan proses memasaknya memerlukan waktu paling lama satu jam. Makna Timphan ini di kalangan masyarakat Gampong Lamkawe terdahulu yang mengandalkan timphan sebagai kudapan dan bekal. Timphan berfungsi sebagai menu untuk berbuka puasa, acara perkawinan, sunatan, hari raya idul fitri, idul adha, maulid Rasul dan juga berfungsi untuk memper erat tali silaturahmi seperti yang di lakukan oleh seoraang menantu yang berkunjung ke tempat sang mertua tersebut dengan membawa timphan sebagai buah tangan maka dari itu silaturahmi antara menantu dan mertua tetap terjaga. Sedangkan upaya melestarikan timphan adalah dengan cara memperkenalkan ke acara dan expo-expo Pidie sampai dengan acara ke provinsi dan menghimbau masyarakat untuk lebih menerapkan dan mencintai dalam kehidupan sehari-hari yaitu dengan cara membuat timphan tersebut di rumah sehingga anak-anak generasi muda tidak melupakannya.
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Aceh adalah salah satu provinsi di Indonesia. Aceh adalah provinsi paling barat Indonesia yang terletak di ujung utara Pulau Sumatera dan Banda Aceh adalah ibu kotanya. Aceh memiliki 23 kabupaten/kota dengan mayoritas penduduk beragama Islam. Penduduk Aceh yang tersebar di 23 kabupaten/kota ini memiliki beragam suku. Oleh karena itu, Aceh terkenal dengan keragaman budaya, adat istiadat dan rempah-rempahnya.1
Pidie merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Aceh. Pusat pemerintahan kabupatennya terletak di kota Sigli, dan Kabupaten Pidie memiliki jumlah penduduk terbesar kedua di provinsi Aceh. Sebanyak 23 kabupaten yang ada di Pidie memiliki potensi wisata, perkebunan, kelautan, dan sumber daya alam yang beragam. Budaya dan adat istiadat khas masyarakat Pidie antara lain kupiah riman, seudati, dan tari meugroeb. Selain itu, Pidie juga menyajikan makanan tradisional tradisional salah satunya timphan. Timphan ini merupakan salah satu makanan yang mendapat banyak perhatian. 2
Timphan adalah panganan kecil khas Aceh yang mirip dengan lepat. Bahan pembuatan timphan adalah tepung terigu, pisang, dan santan. Semua bahan tersebut kemudian digabungkan dan diaduk hingga kenyal. Kemudian memanjang dan diisi dengan srikaya atau parutan kelapa yang dicampur dengan gula. Adonan kemudian
1 Badan Pusat Statistik,Provinsi Aceh Dalam Angka 2017 hal 45
2 https://acehprov.go.id/berita/kategori/jelajah/timphan-makanan-khas-aceh-saat-lebaran
dibungkus dengan daun pisang dan dikukus (direbus tanpa direndam air) selama satu jam. 3
Timphan akan sangat mudah ditemukan di warung-warung dan di pasar.
Timphan juga mudah ditemukan pada bulan suci Ramadhan. Karena timphan tersebut adalah salah satu hidangan untuk berbuka puasa. Selain itu timphan juga sering dihidangkan di acara sunatan, maulid rasul, hari raya dan dalam acara berkumpul bersama masyarakat dan keluarga. Makanan ini bisa disiapkan kapan saja dan dijual bebas di warung dan pasar. Keberadaan timphan sebagai salah satu makanan tradisioanal yang perlu diamati dan dikaji secara ilmiah. Masyarakat dewasa ini lebih memilih makanan fastfood ketimbang makanan tradisional, oleh karena itu kebanyakan dari kalangan remaja Pidie sudah melupakan bagaimana cara pembuatan makanan tradisioanal itu sendiri. 4
Fenomena ini terjadi merata di seluruh Kabupaten Pidie melihat banyak masyarakat dari Kecamatan Kembang Tanjong yang menjual dan mempertahankan Timphan sebagai kuliner khas masyarakat Aceh perlu dikaji secara mendalam, berdasarkan gambaran di atas penulis tertarik mengkaji lebih jauh tentang
“Timphan Sebagai Kuliner Khas Masyarakat Aceh (Studi, Di Kecamatan Kembang Tanjong Kabupaten Pidie)”
3 Kusudianto Hadinoto, Perencanaan Pengembangan Destinasi Pariwisata, (Jakarta: UI, 1996), hal. 192
4 Rusjdi Ali Muhammad, Buletin Haba, (Banda Aceh: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional, 2011), hal 30
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana latar belakang historis timphan dalam masyarakat Kembang Tanjong?
2. Bagaimana upaya masyarakat Kembang Tanjong dalam melestarikan timphan?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui latar belakang historis timphan dalam masyarakat Kembang Tanjong
2. Untuk mengetahui upaya masyarakat Kembang Tanjong dalam Melestarikan timphan
D. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini dapat dilihat dalam dua hal yaitu manfaat teoretis dan manfaat praktis, yaitu:
1. Manfaat Teoritis
Diharapkan temuan penelitian ini dapat memberikan wawasan pengetahuan budaya pada masyarakat Aceh, serta menjadi referensi bagi masyarakat dan pemerintah.
2. Manfaat Praktis
Manfaat praktis yang penulis dapatkan adalah menambah wawasan dan pengetahuan tentang masalah yang diteliti, serta kesempatan bagi penulis untuk belajar menerapkan teori-teori yang dipelajari di perkuliahan, yaitu di Program Studi Sejarah dan Kebudayaan Islam.
E. Penjelasan Istilah
Penjelasan istilah diperlukan untuk memberikan penjelasan tentang judul skripsi karena dikhawatirkan akan terjadi salah tafsir. Hal ini dilakukan untuk menghindari kebingungan dan kesalahpahaman pembaca. Istilah-istilah yang terdapat pada judul skripsi ini adalah:
1. Timphan
Timphan adalah panganan kecil khas Aceh yang mirip dengan lepat. Bahan pembuatan timphan adalah tepung terigu, pisang, dan santan. Semua bahan tersebut kemudian digabungkan dan diaduk hingga kenyal. Kemudian dipanjangkan dan diisi dengan serikaya yaitu parutan kelapa yang dicampur dengan gula. Adonan tersebut kemudian dibungkus dengan daun pisang dan dikukus selama satu jam (tanpa direndam air).
2. Kuliner
Kuliner adalah sesuatu yang berhubungan dengan masakan, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yang biasa disingkat KBBI, masakan kuliner sama dengan hasil olahan dari masakan berupa lauk pauk, makanan ringan, dan minuman.
Kuliner juga terkait erat dengan kegiatan masak-memasak. Istilah kuliner berasal dari kata serapan bahasa Inggris yaitu culinary, yang diartikan sesuatu berhubungan dengan dapur dan keterampilan memasak.
F. Kajian Pustaka
Penelitian mengenai timphan sebagai kuliner khas masyarakat Aceh sejauh ini belum pernah dikaji dalam bentuk skripsi. Mahasiswa Program Studi Sejarah dan Budaya Islam, serta mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora Uin Ar-Raniry Banda Aceh, khususnya. Untuk menghindari duplikasi, penulis terlebih dahulu akan melakukan kajian pustaka sebagai rangkuman referensi atau acuan yang akan penulis rujuk dengan membaca karya ilmiah.
Pada tahun 2010 di terbitkan sebuah jurnal hasil kajian tentang sejarah dan nilai tradisional. Buku ini menjelaskan tentang kuliner khas Aceh, dan makanan yang merupakan salah satu kebutuhan pokok yang harus dipenuhi oleh masyarakat untuk melanjutkan kehidupannya.
Kemudian pada tahun 2020, Uswatun Hasanah menulis skripsi tentang Upaya Masyarakat Desa Air Dingin Kecamatan Simeulue Timur Dalam Melestarikan Makanan Tradional (memek) yang di dalamnya membahas tentang makna, fungsi, dan pelestarian memek di masyarakat Simeulue.5
Pada tahun 2019. Dian Hardianti menulis skripsi yang berjudul “Gutel Gayo Upaya Masyarakat Kecamatan Permata Dalam Mempertahankan Makanan Tradisional”. Skripsi ini membahas tentang perkembangan dan fungsi Gutel pada masyarakat Gayo dan bertujuan menjadikan Gutel sebagai identitas bagi penduduk Gayo. 6
5 Uswatun Hasanah, Masyarakat Desa Air Dingin Kecamatan Simeulue Timur Dalam Melestarikan Makanan Tradisional memek: Skripsi karaya Maha siswa Sejarah Kebudayaan Islam Universitas UIN Ar-Raniry, Fakultas Adab dan Humaniora Banda Aceh 2020
6 Dian Hardiyanti, Gutel Gayo, Upaya Masyarakat Kecamatan Permata Dalam Melestarikan Makanan Tradisional: Skripsi Karya Maha Siswa Sejarah Kebudayaan Islam Universitas UIN Ar-Raniry, Fakultas Adab dan Humaniora Banda Aceh 2019
Pada tahun 2020 diterbitlah jurnal penelitian yang berjudul “analisis kualitas timphan ubi jalar ungu berdasarkan perbedaan lama pengukusan dan penyimpanan beku” yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama pengukusan dan lama penyimpanan beku terhadap sifat fisik dan hedonik timphan ubi jalar ungu.7
Pada tahun 2017 Putri Permata Azwar menulis Skripsi yang berjudul”
penggunaan ubi celembu sebagai pengganti pisang raja dalam pembuatan kue timphan” skripsi ini membahas tentang cara membuat inovasi baru dari kue timphan Aceh dengan memasukkan akar singkong Jawa Barat. 8
Penelitian ini dapat mengkaji makanan tradisional, fokus dalam penelitian tentang eksistensi, makna, fungsi dan upaya melestarikan timphan di kalangan masyarakat Pidie
G. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang secara objektif mendeskripsikan dan memaparkan hasil penelitian terhadap kondisi aktual yang ditemui di lapangan untuk menggambarkan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas, sikap, kepercayaan, dan persepsi pemikiran masyarakat secara individu maupun kelompok.
7 http://tpa.fateta.unand.ac.id/index.php/JTPA/article/view/333
8 Putri Permata Azwar, Pengunaan Ubi Celembu sebagai penganti pisang raja dalam pembuatan kue timphan: Skripsi Karya Mahasiswa Jurusan Sejarah Hospitality Program Studi Manajemen patiseri Bandung 2017
1. Lokasi Penelitian
Penelitian ini mengambil lokasi di Kecamatan Kembang Tanjong di Mukim Reung-reung yaitu Gampong Lamkawe, Karena masih banyak budaya membuat timphan di desa ini, untuk mendapatkan informasi sangat mudah. Lokasi ini sangat ideal untuk mengumpulkan informasi, terutama tentang proses pembuatan timphan dan penelitian terkait.
2. Objek Penelitian
Objek dalam penelitian ini berupa pedagang yang menjual timphan di pasar Kembang Tanjong dan masyarakat yang memahami dan mengetahui tentang Timphan.
3. Sumber Data
Untuk menentukan dan memperoleh hasil data, penelitian ini menggunakan dua sumber yaitu data primer dan data sekunder.
a. Data Primer
Data primer adalah data yang dikumpulkan langsung dari sumber aslinya, dapat diperoleh melalui wawancara, pendapat individu atau kelompok, atau melalui observasi, peristiwa, dan hasil pengujian terhadap suatu objek. Data primer pada penelitian ini wawancara langsung dengan pedagang dan masyarakat Kembang Tanjong
b. Data Sekunder
Data sekunder adalah informasi yang peneliti gunakan untuk melengkapi penelitian mereka. Data sekunder biasanya diperoleh dari hasil observasi lapangan.
Selain itu, peneliti juga mengunakan buku, jurnal artikel, situs website (internet) dan referensi lain yang menurut penulis berkenaan dengan penelitian ini.
4. Teknik Pengumpulan Data
Untuk dapat mengambarkan tentang timphan sebagai khas kuliner masyarakat Aceh, maka langkah-langkah yang harus dilakukan adalah mengumpulkan data untuk makalah ini dalam menentukan sumber data, peneliti data melalui:
a. Observasi
Observasi adalah pengamatan secara sistematik atau pencatatan terhadap gejala-gejala yang diselidiki atau pengamatan terhadap objek penelitian. Dalam observasi ini, penulis mengamati langsung produksi timphan guna mendapatkan data yang lebih akurat. 9
b. Wawancara
Wawancara digunakan untuk mengumpulkan informasi guna kepentingan penelitian dengan cara mengajukan dan menjawab pertanyaan secara tatap muka antara peneliti dan informan tentang masalah yang sedang diteliti. Informan dalam penelitian ini adalah warga Kecamatan Kembang Tanjong. Pemilihan informan dimulai secara purposive sampling yaitu informan yang dianggap dapat memberi informasi topik kajian. Maka informannya adalah 1) pembuat timphan 2) penjual timphan 3) konsumen timphan dan 4) masyarakat.
c. Dokumentasi
9 Muhammad Nazir, Metode Penelitian.Cet IV, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1998), hal, 63
Dokumentasi adalah pendataan yang lebih jelas penulis mengumpulkan data makanan tradisional melalui buku, majalah, artikel, dan jurnal, kemudian difoto sebagai bukti lampiran akhir laporan. Adapun teknik penulisan skripsi ini berpaduan kepada “Buku Panduan Penulisan Tesis Mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry Banda Aceh Tahun 2021 ini memandu teknik penulisan proposal tesis ini” 10
1. Analisis Data
Metode analisis data deskriptif kualitatif digunakan dalam penelitian ini.
Teknik pembuatan timphan diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi setelah data direkam dan dikumpulkan, kemudian penulis melakukan verifikasi dan menganalisis data yang diperoleh untuk mendapatkan data yang akurat. Selanjutnya data yang terpilih disederhanakan dengan mengolah atau menarik kesimpulan terkait timphan. Hasil pengelolaan dan analisis data kemudian diinterpretasikan.
H. Sistematika Penulisan
Penulis membagi penelitian menjadi bab IV untuk memudahkan pembaca memahami, dan setiap bab terkait erat dengan bab sebelumnya.
1. Bab pertama penulis memberikan penjelasan tentang latar belakang masalah, Rumusan Masalah, Tujuan Masalah, Tujuan penelitian, penelitian istilah, Kajian pustaka (library reseach), Metode penelitian dan Sistematika pembahasan.
10 Sustrisno, Metedeologi Research Jilid II ( Yogyakarta Andi Off Set. 2000) Hal 130
2. Bab ke dua terdiri dari paparan yang terdiri dari landasan teoristis, gambaran umum lokasi penelitian serta jumlah penduduk dan keadaan masyarakat.
3. Bab ke tiga terdiri dari hasil penelitian dan pembahasan 4. Bab ke empat, terdiri dari kesimpulan dan saran
11 BAB II
LANDASAN TEORITIS
A. Tinjauan Tentang Budaya
Kebudayaan meliputi seluruh sikap dan pola tingkah laku seseorang, serta pengetahuan yang merupakan kebiasaan yang diwariskan dan dimiliki oleh anggota masyarakat tertentu. Agama, adat istiadat, politik, bahasa, pakaian, bangunan, dan karya seni semuanya dipengaruhi oleh budaya. Budaya material dan budaya tak berwujud adalah dua jenis budaya. Budaya tak benda didefinisikan sebagai tubuh warisan budaya dengan nilai sejarah, ilmiah, teknologi, dan artistik yang signifikan.
Warisan budaya tak benda dimiliki bersama oleh suatu komunitas atau masyarakat dan berkembang dari generasi ke generasi sebagai akibat dari suatu aliran tradisi.
Edi Sedyanti menyatakan bahwa budaya tak benda bersifat tak dapat di pegang dalam seperti konsep teknologi, dan ciri-cirinya seperti bahasa, musik, tarian, upacara, dan berbagai perilaku terstruktur lainnya dapat berlalu dan hilang seiring berjalannya waktu. Menurut Konvensi UNESCO, budaya tak benda didefinisikan sebagai berbagai praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan dan instrumen, objek, dan ruang budaya yang terkait dengannya.
Warisan budaya mencakup komunitas, kelompok, dan, dalam beberapa kasus, individu. Menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 106 Tahun 2013, budaya tak berwujud didefinisikan sebagai
“segala hasil perbuatan dan pikiran yang terwujud dalam identitas, ideologi, mitologi, ungkapan konkrit berupa bunyi, gerak, dan gagasan yang terwujud dalam benda, sistem tingkah laku, sistem kepercayaan, dan adat istiadat di Indonesia.”
Warisan Budaya Tak benda Indonesia terdiri dari berbagai hasil praktik perwujudan, ekspresi pengetahuan dan keterampilan yang berkaitan dengan ranah budaya yang secara terus menerus diwariskan dari generasi ke generasi melalui pelestarian dan penciptaan kembali, serta merupakan hasil budaya berupa benda takbenda. kebudayaan setelah melalui proses pembentukan kebudayaan tidak ada apa-apanya. 11
Kabupaten Pidie memilki sejumlah budaya tak benda yang menjadi milik dan kekhasan masyarakatnya. Pada umumnya jenis budaya tak benda yang dikatakan milik masyarakat Pidie yaitu Timphan.
1. Definisi Timphan
Timphan sudah lama dikenal masyarakat Aceh, Namun timphan merupakan produk lokal yang di banggakan oleh masyarakat Aceh. Pada umumnya timphan terbuat dari tepung beras ketan yang dicampur dengan pisang, labu kuning, pepaya, gula santan untuk kulitnya, kemudian diisi dengan parutan kelapa yang sudah dimasak dengan gula, atau orang Pidie menyebutnya dengan inti kelapa.
Beberapa timphan diisi dengan srikaya, yang dikenal sebagai kue. Timphan srikaya.
12
Timphan adalah jajanan kecil khas Aceh yang mirip dengan lepat. Bahan pembuatan timphan adalah tepung terigu, pisang, dan santan. Semua bahan kemudian dicampur hingga kenyal, dan bagian dalamnya diisi dengan serikaya atau
11 Bustami Abubakar dkk, Dari warisan budaya tak benda menjadi warisan budaya nasional, Jurnal. Ar-raniry, 2022
12 Kharie A, 150 resep Kue Tradisional, (Jakarta: PT.Agromedia Pustaka 2014) Hal 15
parutan kelapa yang dicampur dengan gula. Campuran ini kemudian dibungkus dengan daun pisang dan dikukus selama satu jam (direbus tanpa direndam air).
Secara umum, timphan merupakan masakan tradisional Aceh yang sangat digemari banyak orang. Timphan cocok untuk berbuka puasa selain rasanya yang enak. Timphan umumnya tersedia selama hari libur Islam. Walaupun masyarakat Aceh cukup familiar dengan Timphan. Namun, perkembangan kue tradisional ini sedikit banyak dibayangi oleh perkembangan kue modern yang sangat pesat, sehingga popularitasnya masih rendah khususnya dalam bisnis kuliner.
2. Definisi Kuliner
Kata kuliner adalah unsur serapan yang berhubungan dengan memasak dan dapur merupakan seni membuat hidangan, jadi seni kuliner dimulai dengan seni memilih bahan makanan, menyiapkan, memasak, dan menyajikan. makanan menjadi hidangan yang menarik. 13
Kuliner identik dengan memasak yang mengacu pada produk olahan yang berasal dari hidangan berupa lauk pauk. Kuliner juga terkait erat dengan kegiatan memasak yang berhubungan dengan makanan. Seni kuliner penting dalam memperkenalkan wisatawan pada selera dan tradisi baru. kuliner merupakan salah satu bentuk budaya dan hiburan makanan dan minuman telah berkembang menjadi transaksi yang dapat menarik banyak wisatawan.
13 Sa’diah Multi Karina dkk, Pengembangan Kuliner (Oktober, 2017) Hal 2
3. Definisi Masyarakat
Menurut M.J. Herskovis, masyarakat adalah kelompok individu yang terorganisir yang mengikuti cara hidup tertentu. JL. Giilin dan J.P Giilin, sebaliknya, menyatakan bahwa masyarakat adalah kelompok masyarakat terbesar yang memiliki kebiasaan, tradisi, sikap, dan perasaan persatuan yang sama.
Menurut S. R. Steimentz, masyarakat adalah kelompok manusia terbesar yang mencakup kelompok manusia yang lebih kecil yang memiliki hubungan yang erat dan teratur. 14
Istilah komunitas berasal dari bahasa Arab syarauka, yang berarti melakukan atau mencakup interaksi sosial dan rasa memiliki. Jadi masyarakat adalah sekelompok orang yang telah lama hidup dan bekerja sama. Kelompok manusia yang sudah lama tidak terorganisir telah melalui proses fundamental.
Masyarakat adalah sekelompok orang yang telah hidup bersama sejak lama dan memiliki identitas, wilayah, dan kebiasaan serta tradisi yang sama dan dipersatukan oleh rasa persatuan.15
14 Prof. Dr. Koentjranigrat, Pengantar Ilmu Antropologi ( Jakarta: rineka Cipta, 2013) hal 34
15 Soejono Soekanto, Sosiologi suatu Pengantar, (Jakarta: Rajawali Press, 1986) hal 37-40
B. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 1. Sejarah Gampong Lamkawe
Gampong Lamkawe pada tahun 1987 pernah menjadi satu-satunya desa teladan di kecamatan Kembang Tanjong hal ini menjadi suatu kebanggaan bagi seluruh masyarakat Lamkawe, di tengah kondisi yang tidak menentu namun tidak menyurutkan langkah masyarakat guna sama-sama membangun gampong ditahun yang sama.
Gampong Lamkawe memilki sebuah sekolah dasar yang berdiri sejak zaman Jepang hanya saja nama yang berbeda. SD Lamkawe dulu hanya di peruntukan untuk anak-anak kaum bangsawan. Seiring dengan berjalanya waktu, sekolah ini terbuka untuk seluruh lapisan masyarakat yang ingin menyekolahkan anak-anaknya. Saat ini SD Lamkawe tersebut salah satu sekolah inti yang ada di Kecamatan Kembang Tanjong.
Dahulu Gampong Lamkawe merupakan wilayah yang mempunyai sungai yang luas, lebar sungai pada masa itu kira-kira 15 meter. Di sungai Lamkawe terdapat banyak jenis ikan sehingga membuat masyarakat tetangga kepincut untuk memancing disungai tersebut. Salah seorang warga memancing mendapatkan pancingan seperti ada menarik ke arah yang lebih dalam (dalam bahasa Aceh di sebut “Lham”) oleh karena tarikan yang sangat kuat tersebut membuat pemancing tercebur kedalam sungai. Sejak saat itu masyarakat menyebut gampong Lamkawe.
Kata “Lam yang berarti tenggelam dan “kawe” yang berarti mancing. 16
16 Wawancara dengan Junaidi, Pedagang dipasar Kembang Tanjong tanggal 12 Juli 2022
Gampong Lamkawe merupakan desa dalam wilayah administratif kemukiman Reung-Reung Kecamatan Kembang Tanjong Kabupaten Pidie yang mempunyai luas ± 46.50 km. Secara umum keadaan Gampong Lamkawe merupakan daratan rata tidak berbukit dengan mayoritas adalah lahan persawahan dan perkebunan rakyat. Batas wilayah Gampong Lamakawe dengan desa lainnya dipisahkan oleh jalan dan lorong maupun sawah. Gampong Lamkawe memilki luas kseluruhan ± 1km, dengan pengunaan lahan sebagai berikut:
- Tanah sawah ± 52 Ha - Tanah kering ± 20 Ha - Tanah bangunan ± 24 Ha
Gampong Lamkawe terdiri dari tiga dusun yaitu, dusun Ingin Jaya, dusun Mulia dan dusun Tgku Meunasah Raya. Gampong Lamkawe di dominasi oleh masyarakat yang mata pencahariannya berdagang, bercocok tanam, dan berkebun.17Adapun batas batas Gampong yaitu:
- Sebelah utara berbatasan dengan Kandang - Sebelah selatan berbatasan dengan Reung-reung - Sebelah barat berbatasan dengan Teumpeun - Sebelah timur berbtasan dengan Tanjong
Jumlah Penduduk gampong Lamkawe berdasarkan jenis kelamin
17 Tim Penyusun Gampong Lamkawe Hal 12
Tabel 2.1
Jumlah Pnduduk Gampong Lamkawe
No Jenis kelamin Jumlah(jiwa)
1 Perempuan 220
2 Laki-laki 200
Sumber: Badan Pusat Statistik Kecamatan Kembang Tanjong
Dapat dilihat perbandingan jumlah penduduk dengan jenis kelamin laki- laki dan perempuan, di mana penduduk perempuan lebih dominan
2. Pendidikan dan Keagamaan
Sumber daya manusia (SDM) merupakan salah satu penunjang kemajuan suatu daerah, sehingga tingkat pendidikan yang tinggi sangat berpengaruh dalam berbagai hal. Segi pendidikan masyarakat Gampong Lamkawe secara keseluruhan memiliki latar belakang pendidikan yang beragam; meski dengan sumber daya yang terbatas, masyarakat Gampong Lamkawe mengutamakan kegiatan untuk jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Upaya pemerintah yaitu pembangunan sarana dan prasarana pendidikan di setiap lokasi hal ini dapat bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di daerah tertentu.
Sistem pendidikan di Gampong Lamkawe seperti sistem pendidikan universal dimulai dari jenjang PAUD, TK, SD/SMP, SMP/MTs, dan SMA/SMK. Meskipun masyarakat di Gampong Lamkawe secara ekonomi terbatas, para orang tua berusaha agar anaknya mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Beberapa putra- putri Gampong Lamkawe bercita-cita melanjutkan pendidikan agar bisa lebih berguna bagi daerah sekaligus berkontribusi dalam keuangan keluarga. Alhasil,
mereka akan terus bekerja keras untuk mendapatkan beasiswa, meski sebagian masih mengandalkan aset dan penghasilan orang tua. Tabel di bawah ini memuat data pendidikan masyarakat Gampong Lamkawe.
Tabel 2.2
Jumlah Tingkat Pendidikan Masyarakat Gampong Lamkawe
No Tingkat Pendidikan Jumlah
1 SLTA/sederajat 123
2 D-2 4
3 D-3 9
4 S-1 60
5 S-2 5
Sumber: Badan Pusat Statistik Kecamatan Kembang Tanjong
Sedangkan dari segi agama, mereka beragama Islam sebagai sistem kepercayaan atau kepercayaan di Gampong Lamkawe. Karena tidak ada penduduk yang memeluk agama selain Islam atau non muslim, maka aktivitas sehari-hari tidak dapat dipisahkan dari Islam. Upacara, ibadah, jual beli, dan kegiatan lainnya dilakukan. Baik itu melalui kegiatan individu atau kelompok, formal maupun informal, mereka semua sangat berkomitmen pada nilai-nilai agama mereka. 18
Agama adalah anugerah dari Tuhan untuk kemaslahatan umat manusia agama adalah tuntunan Tuhan kepada manusia sebagai petunjuk dan arah dalam menjalankan perintah dan menciptakan karya manusia yang bermanfaat maju bernilai positif mengangkat harkat dan martabat manusia. Dari segi agama, Gampong Lamkawe sangat kuat terlihat dari kesadaran membayar zakat, kehadiran takziah dan pengajian. Dari segi agama, Gampong Lamkawe dapat dilihat dari
18 Tim Penyusun, Gampong Lamkawe, Hal 15
kegiatan yang dilakukan pada saat shalat berjamaah, seperti pengajian. Selain itu, masyarakat Gampong Lamkawe tidak ketinggalan dalam memperingati hari-hari besar Islam, seperti Maulid Nabi Muhammad SAW dan Isra Mi'raj. Gampong Lamkawe memiliki sejumlah fasilitas, diantaranya:
Tabel 2.3
Jumlah fasilitas di Gampong Lamkawe
No Fasilitas Jumlah
1 Meunasah 2
2 Balai pengajian 1
3 Posyandu 1
Sumber: Badan Pusat Statistik Kecamatan Kembang Tanjong 3. Ekonomi Dan Mata Pencarian
Pada umumnya masyarakat Gampong Lamkawe bermata pencaharian sebagai petani dan banyak yang menganggur. Namun banyaknya yang berprofesi sebagai pengusaha dan pedagang membuat jenis pekerjaan di masyarakat semakin beragam karena tidak cukup hanya memiliki satu pekerjaan. Selain pekerjaan utama, warga Gampong Lamkawe memiliki pekerjaan sampingan seperti jasa laundry, pedagang, warung kopi, jasa menjahit, dan lain-lain. Pembukaan layanan tersebut dapat memberikan kesempatan dan kemudahan kepada masyarakat menengah ke bawah, sehingga memungkinkan mereka untuk mencari nafkah dan menjalani kehidupannya.
Sementara itu, masyarakat Gampong Lamkawe tidak hanya mengandalkan satu sumber pendapatan saja sebagian produknya bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS), tukang kayu, buruh bengkel, pedagang, sopir, dan pengrajin industri
rumah tangga. Tabel di bawah ini menunjukkan jumlah pekerja Gampong Lamkawe menurut profesinya. 19
Tabel 2.4
Jumlah Tenaga Kerja Berdasarkan Profesi
No Uraian Jumlah Keterangan
1 Petani 60
2 Pedagang 40
3 Pertukangan 7
4 Pekerja industry 4
5 PNS 10
6 Wiraswasta 17
7 Sopir 2
Sumber: Badan Pusat Statistik Kecamatan Kembang Tanjong
Beberapa jenis infrastruktur membantu mendukung kegiatan ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat Gampong Lamkawe.
4. Kondisi Sosial Dan Budaya
Setiap daerah seperti halnya budaya Gampong Lamkawe memiliki sistem sosial dan budaya yang unik. Keberadaan kebudayaan tidak dapat dipisahkan dari masyarakat tempat ia tumbuh dan berkembang. Salah satu suku bangsa yang diwariskan secara turun-temurun adalah budaya.
Ketika seseorang berinteraksi dengan orang lain dalam kehidupan sehari- hari, dia secara bersamaan mengekspresikan budaya dan identitas etnisnya. Dengan
19 Tim penyusun, Gampong Lamkawe hal 20
kata lain, setiap orang akan mewakili kelompok budaya mereka sendiri. Unsur budaya merupakan salah satu hal yang sangat penting untuk diperhatikan dalam berkomunikasi, baik oleh komunikator (penyampai pesan) maupun oleh komunikan (penerima pesan).
Dari segi sosial budaya, masyarakat Gampong Lamkawe masih sangat kental dengan nilai-nilai sosial budayanya. Komunikasi adalah aspek penting lain dari pengembangan budaya. Saat berkomunikasi, masyarakat Gampong Lamkawe umumnya menggunakan bahasa yang berbeda, hal ini terjadi karena bau logatnya bercampur. 20
Adat istiadat dan budaya mengandung nilai-nilai fundamental yang dapat diberikan kepada setiap individu, tetapi juga terkait erat dengan berbagai faktor sosial, ekonomi, politik, dan lainnya. Adat dan budaya adalah dua konsep yang saling terkait dan tidak dapat dipisahkan. Meugang, akad nikah, samadiyah, dan memperingati hari lahir adalah kebiasaan umum.
Intervensi komunitas untuk tumbuh satu sama lain sangat membantu untuk interaksi sosial dasar ini. Hubungan yang baik antara pemerintah dengan masyarakat merupakan salah satu kekuatan Gampong Lamkawe dalam mengelola pemerintahan dan masyarakat, serta berfungsinya struktur pemerintahan desa itu sendiri. Berikut adalah beberapa kegiatan sosial sehari-hari di masyarakat:
Tabel 2.5
Kegiatan Sosial Gampong Lamkawe
Golongan Jenis Kegiatan Sosial
20 Abdul Rani Usman dkk, Budaya Aceh,( Pemerintahan Provinsi Aceh, 2009), Hal, 5
1. 1. Pemuda • Gotong royong
• melakukan takziah ke tempat orang meninggal dunia
• pengajian rutin (Dalail Khairat)
• berkunjung ke tempat orang sakit
• persatuan olah raga
2. 2. Ibu-ibu • Gotong royong
• Pengajian rutin (Wirid Yasin)
• Kelompok marhaban
• Takziah ke tempat orang meninggal
• Berkunjung ke tempat orang sakit dan melahirkan
• Kegiatan PKK 3. 3. Bapak-bapak (orang tua) • Gotong royong
• Bersama-sama melakukan fardhu kifayah apabila ada yang meninggal dunia
• Takziah ke tempat orang meninggal
• Berkunjung ke tempat orang sakit
Sumber: Badan Pusat Statistik Kecamatan Kembang Tanjong
Menurut situasi, masyarakat Gampong Lamkawe masih memilki hubungan yang sangat baik satu sama lain. Warga Gampong Lamkawe juga menyelenggarakan beberapa kegiatan lainnya.
24 BAB III
TIMPHAN DAN UPAYA PELESTARIAANYA A. Latar Belakang Historis Timphan
Timphan merupakan salah satu makanan khas Aceh yang sangat disukai oleh masyarakat Pidie pada umumnya. Makanan ini terbuat dari tepung ketan dan pisang/labu yang pipih dan panjang seperti lepat. Timphan juga merupakan salah satu makanan yang tahan di tengah perkembangan zaman.
Dari wawancara yang telah penulis dapatkan menyatakan bahwa ada beberapa olahan yang berbentuk timphan salah satunya yaitu lepat. Beberapa nara sumber menyatakan bahwa timphan ini sudah eksis dari zaman ke zaman. Timphan merupakan makanan yang terkenal di Aceh terutama masyarakat Pidie. Bagi kalangan masyarakat Pidie, khususnya Gampong Lamkawe timphan merupakan salah satu menu yang digemari masyarakat dengan cita rasanya. Timphan juga cocok untuk makanan berbuka puasa di karenakan terbuat dari bahan alami.
Timphan memilki rahasia turun menurun yang berasal dari perempuan Aceh dan bukanlah hanya sekedar resep belaka namun mempunyai nilai tradisi. Timphan juga dibuat dengan berbagai varian rasa/isi, seperti parutan kelapa dan serikaya.
Timphan termasuk salah satu makanan tradisional yang terkenal dan sering disajikan pada hari-hari besar. 21
21 Wawancara dengan Nurbaidah, Ibu Rumah Tangga Gampong Lamkawe Tanggal 13 Juli 2022.
B. Jenis, Bahan dan Cara Pembuatan Timphan
Timphan adalah jajanan kecil khas Aceh yang mirip dengan lepat. Bahan pembuatan timphan adalah tepung terigu, pisang, dan santan. Semua bahan ini kemudian digabungkan dan diaduk hingga kenyal, sebelum dipanjangkan dan diisi dengan serikaya atau parutan kelapa yang dicampur dengan gula. Campuran ini kemudian dibungkus dengan daun pisang dan dikukus selama satu jam (direbus tanpa direndam air). Dalam proses pengelolahan timpan memiliki berbagai macam jenis.
1. Timphan Baloen
Timphan baloen terbuat dari bahan dasar tepung terigu dilarutkan dengan air dan sedikit garam. Proses pembuatannya menyerupai dengan telur dadar yang dimasak diatas wajan yang anti lengket. Macam-macam isianya berbeda-beda ada yang isi srikaya dan inti kelapa. Masyarakat Aceh menyebutkan dengan timphan Baloen, sedangkan diluar Aceh disebut dadar gulung. Dihidangkan bersamaan dengan kopi dan teh22
Bahan:
• Tepung terigu
• Tepung kanji
• Susu kental manis/susu bubuk
• Air
• Mentega/margarin
22 Bahruzzaman Ismail, Ensiklopedia budaya Adat Aceh, (Banda Aceh: Majelis Adat Aceh), Hal 191
• Garam
• Minyak goreng untuk mengoles telfon Isi:
• Kelapa parut
• Gula pasir
• Garam Cara pembuatan:
• Mixer/blender, campurkan semua bahan hingga benar-benar halus (dan warnai adonan sesuai selera).
• Panaskan taplon, lalu olesi sedikit dengan minyak goreng agar tidak lengket. Tunggu beberapa detik hingga matang. (lanjutkan sampai adonan habis).
• Angkat dan isi kelapa
• Lalu lipat sisi bawah, sisi samping kanan dan kiri
• Lalu gulung
• Selesai.
Cara membuat isinya:
Masukan semua bahan lalu remas-remas sebentar agar gula pasir larut dan beri sedikit air lalu masak hingga matang, masak dengan api kecil agar tidak gosong bagian bawahnya. Jika kurang manis bisa ditambahkan gula lagi atau sesuai selera.
2. Timphan Ubi
Timphan adalah tradisi Aceh untuk hidangan khusus yang biasanya disajikan pada perayaan dan peringatan hari besar keagamaan. Sebelumnya, timphan hanya dibuat dengan pisang sebagai bahan utamanya. Namun seiring berjalannya waktu, banyak orang yang mulai membuat timphan dari berbagai bahan dasar seperti labu kuning, pepaya, dan singkong. Hanya saja kamu harus membuat adonan dengan tepung dan telur untuk bahan dasar labu kuning dan pisang.
Sedangkan timphan ubi jauh lebih praktis.
Bahan:
• Ubi/singkong
• Gula merah batu
• Kelapa parut
• Daun pisang
• Gula
Cara pembuatannya:
• Cuci dan kupas ubi, lalu parut ubi sampai halus
• Potong-potong gula merah dengan halus
• Campurkan ubi hasi dari parutan tadi dengan gula merah, kelapa parut, dan gula putih, aduk semuanya sampai tercampur
• Potong-potong daun pisang menjadi beberapa lembar
• Letakkan satu sendok makan adonan di atas daun pisang dan gulung rapat agar adonan tidak tumpah.
• Lakukan semuanya sampai selesai, setelah selesai susun dalam panci rebusan, setelah tersusun rapi letakkan diatas kompor dan tunggu sampai daunnya layu kira-kira 10 sampai 15 menit
• Setelah matang, angkat dari wajan dan letakkan di atas piring.
Gambar 3.1 Isian Kelapa Parut Gambar 3.2 Adonan Timphan Ubi
Gambar 3.3 Pembentukan Adonan Gambar 3.4 Pembentukan adonan di daun pisang
3. Timphan labu isi srikaya
Timphan labu isi srikaya terbuat dari tepung ketan yang dilarutkan dengan air dan sedikit garam, bahan yang digunakan adalah telur ayam, gula pasir, santan kental, sedikit daun pandan wangi.
Bahan:
• tepung ketan putih
• santan
• labu kuning
• Garam
• lembar daun pisang
• Minyak goreng secukupnya
• Sebutir telur
Gambar 3.5 Bungkus adonan dengan daun pisang
Isi
• Santan
• Garam
• Vanili
• Tepung meizena
• Daun pandan
Uleni hingga adonan bisa digulung dan dibentuk. membuat timphan labu kuning isi srikaya, campur semua bahan isi, aduk rata, kupas labu kuning, cuci, potong-potong lalu kukus.
Cara pembuatan:
• Kupas, potong potong labu. Masukkan ke wadah bersama dengan santan, garam, dan vinili. Kukus sampai empuk, setelah itu blender (santannya hanya ikut sedikit agar tidak terlalu basah). Kemudian tunggu labu hingga dingin
• Setelah dingin campur dengan beras ketan dan telur. Uleni hingga kalis, kemudian bentuk adonan menjadi bulatan, bisa ditambah tepung sedikit demi sedikit
• Srikaya blender pandan, telur dan santan saring, lalu masukkan pewarna, gula, vinili, sedikit garam, maizena dan panaskan
• Aduk- aduk dengan api kecil hingga bergerindil (tidak halus seperti selai)
• Kembali ke adonan labu. Potong-potong daun pisang selebar telapak tangan, kemudian lumuri permukaan daun dengan minyak goreng
selanjutnta, ambil bulatan adonan lalu tipiskan. Isi dengan bahan srikaya dengan arah searah dengan guratan pisang
• Habiskan semua adona lalu kukus selama 25-30 menit. Susun jangan terlalu padat. Tutup kukusannya dilapis kain agar tidak terlalu basah
• Setelah matang, buka kukusan dan tunggu hingga dingin. Kemudian rapikan daun pisang dan sajikan
Gambar 3.6 Daun Pisang yang dioles minyak goreng
Gambar 3.7 minyak goreng
Gambar 3.8 Ulenin tepung
Gambar 3.9 pengisian selai srikaya ke dalam adonan yang akan di bentuk
Gambar 3. 10 Adonan yang telah di bentuk
4. Timphan labu isi kelapa
Timphan isi kelapa terbuat dari tepung ketan yang dilarutkan dengan air dan sedikit garam, bahan yang digunakan adalah kelapa muda, gula pasir dan daun pandan wangi.
Bahan:
• Labu kuning (berat setelah di kupas)
• Santan ketan putih
• lembar daun pisang
• Santan
• Garam
• Minyak goreng Isi:
• Tepung beras ketan putih
• ½ buah kelapa parut (agak muda)
Gambar3. 11 Adonan timphan yang sudah di bungkus
• 1 lembar daun pandan
• Santan
• Garam
• ½ tepung maizena di larutkan dengan sedikit air
Uleni hingga adonan bisa digulung dan dibentuk. Membuat timphan kuning isi kelapa campur semua bahan isi, aduk rata, kupas labu kuning, cuci, potong-potong lalu kukus
Proses pembuatan:
• Sebagai permulaan, campurkan gula merah dengan sedikit air, lalu tambahkan daun pandan dan garam, masak hingga gula larut, lalu tambahkan kelapa parut, aduk hingga rata.
• Tambahkan cairan maizena diaduk hingga rata sampai air mengering kemudian angkat pindahkan ke wadah sisihkan dahulu
• Kukuskan labu kuning kemudian haluskan
• Masak santan dan masukan daun pandan dan garam kemudian masukan labu kuning halus aduk sampai rata matika kompor biarkan hangat
• Pindahkan ke wadah lain campur tepung ketan sedikit demi sedikit sampai adonan tersenut bisa dibentuk.
• Ambil selembar daun pisang dan dioleskan sedikit minyak, ambil adonan pipihkan beri isian isi kelapa kemudian bungkus lakukan sampai selesai
• Kukus selama 25 menit kemudian angkat biarkan dingin.
5. Timphan ubi ungu isi srikaya nangka
Timphan ubi ungu terbuat dari tepung ketan yang dilarutkan dengan air dan sedikit garam, Bahan yang digunakan adalah ubi ungu, gula pasir, daun pandan wangi sedangkan isinya ada yang isi serikaya, isi kelapa. Adapun bahan bahan untuk membuat timphan sebagai berikut:
Bahan:
• Tepung ketan
• Ubi ungu
• Garam
• Santan kental
• Telur
• Daun pisang
• Minyak makan untuk olesan Isi:
• Telur
• Gula pasir
• Garam
• Tepung terigu protein
• Santan
• Nangka dipotong kecil-kecil apabila perlu
• Daun pandan
• Vanili
Proses pembuatan:
Buat isiannya dengan gula dan garam. Aduk rata, lalu tambahkan tepung dan aduk rata lagi. Terakhir, tuangkan santan perlahan-lahan dan aduk rata.
• Masukkan nangka, kelapa parut, dan daun pandan. Aduk rata. Masak, aduk terus, dengan api kecil sampai mengental. menyisihkan
• Untuk membuat adonan kulitnya, campurkan ubi ungu, tepung ketan putih, dan garam dalam mangkuk. Aduk rata, lalu masukkan santan sedikit demi sedikit sambil diuleni hingga kalis.
• Mulailah dengan daun pisang muda olesi wajan secara bebas dengan minyak. Letakkan adonan kulit di atasnya dan ratakan. Buat isiannya lonjong dan rata bungkus seperti pepe dan jepit ujungnya menjadi satu.
• Kukus timphan selama 25 menit dengan api sedang, atau hingga matang.23
Gambar 3.12 daun pisang
23 Wawancara dengan Nafisah, Ibu Rumah Tangga Gampong Lamkawe tanggal 13 Juli 2022
Gambar 3.13 Minyak goreng
Gambar 3.14 Serikaya campur nangka
Gambar 3.15 Adonan tepung ubi ungu
Gambar 3.16 Proses pembuatan timphan
Gambar 3.17 Timphan yang sudah matang
B. Makna Dan Fungsi Timphan
Makna timphan di kalangan masyarakat Gampong Lamkawe antara lain sebagai bekal. Timphan adalah salah satu contoh kue basah tradisional yang berasal dari Aceh. Timphan banyak disukai oleh masyarakat Aceh hampir setiap kalangan usia mulai dari anak-anak hingga lansia.24 Selain memilki makna timphan juga berfungsi untuk memper erat tali silaturahmi seperti yang di lakukan oleh seoraang menantu yang berkunjung ke tempat sang mertua tersebut dengan membawa timphan sebagai buah tangan maka dari itu silaturahmi antara menantu dan mertua tetap terjaga.
Makanan tradisional dapat punah akibat pengaruh budaya luar seiring dengan semakin modernnya dunia. Menjadi tanggung jawab semua pihak,
24 Wawancara dengan Ninawati, pedagang dipasar Kembang Tanjong Tanggal 14 Juli 2022
khususnya masyarakat Pidie, untuk melestarikan tradisi ini agar anak cucu mereka tidak terpengaruh dan terbawa oleh budaya luar yang lambat laun akan mengikis budaya Aceh, khususnya makanan khas yaitu timphan.
Timphan memang sudah sangat dikenal di Pidie sejak zaman ke zaman.
Timphan selalu menjadi makanan pokok dalam adat Aceh. Misalnya, pada acara khitanan, pernikahan, dan maulid Nabi. Timphan biasanya disajikan bersama berbagai makanan tradisional lainnya. Setiap daerah di Aceh memiliki adat dan tradisi masing-masing, namun semuanya berpedoman pada Al-Qur'an dan hadits para sahabat. Hal-hal yang dilarang untuk mereka tinggalkan, serta makanan tradisional lainnya mereka siapkan berdasarkan apa yang baik untuk mereka dan mudah disiapkan.
Kuliner atau makanan tradisional memiliki peran strategis dalam upaya diversifikasi bahan pangan daerah dan memberikan alternatif ketahanan pangan nasional. Timphan merupakan budaya bercita rasa tinggi yang memadukan pengolahan kreatif sumber daya lokal dengan adat istiadat setempat yang telah diwariskan secara turun-temurun. Timphan dapat digunakan sebagai penangkal pengaruh urbanisasi dan globalisasi yang menyebabkan masyarakat lebih memilih makanan asing atau dikenal dengan fastfood. Timphan juga makanan dan salah satu kekayaan budaya bangsa.
D. Upaya Masyarakat Kembang Tanjong Dalam Melestarikan Timphan Menurut hasil wawancara dan observasi peneliti, timphan banyak digemari oleh berbagai kalangan, baik pria maupun wanita, dan lintas usia, dari anak-anak hingga orang dewasa, sebagai salah satu makanan khas Aceh yang masih sangat
populer dari dulu hingga sekarang, bahwa timphan ini ada pada suatu masa Timphan merupakan masakan yang populer di Aceh, khususnya di kalangan masyarakat Pidie.
Timphan adalah makanan tradisioanal yang begitu mudah untuk membuatnya. Timphan identik dengan masyarakat yang tinggal di daerah Pidie.
Karena masyarakat Pidie telah melestarikan makanan tradisional dari masa ke masa, kita selalu ingat bagaimana rasanya ketika orang menyebut timphan.
Saat ini, timphan telah berkembang karena banyak masyarakat Pidie yang mengembangkan makanan tradisional Aceh Timphan agar tidak punah seiring berjalannya waktu. Timphan kini tersedia di acara-acara resmi bahkan kedai kopi;
selain mudah didapat, Timphan tidak mengandung bahan-bahan berbahaya yang tidak diinginkan oleh tubuh. 25
Timphan juga sangat disukai oleh semua orang, termasuk anak muda yang jauh dari orang tuanya. Timpan unik karena rasanya yang enak dan cara membuatnya yang sangat sederhana. Tentunya di era modern saat ini, sangat sulit bagi makanan tradisional untuk bertahan dan bersaing dengan makanan modern.
Pasalnya, budaya yang cepat berubah terkadang mempengaruhi proses pengawetan sehingga keberadaan timphan tidak kalah dengan makanan modern lainnya.
Upaya pelestarian timphan dilakukan dengan memperkenalkannya pada pameran Pidie se-provinsi dan mengajak masyarakat untuk lebih memanfaatkan dan mencintai dalam kehidupan sehari-hari dengan membuat timphan di rumah agar generasi muda tidak melupakan dan mendidik anak-anaknya. Agar generasi
25 Wawancara dengan ibu nurbaiti Pedagang dipasar Kembang Tanjong Tanggal 14 juli 2022
seterusnya paham kalau makanan tradisional lebih unggul dari makanan kemasan atau jajanan.
43 BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian diperoleh kesimpulan sebagai berikut: timphan merupakan salah satu makanan khas Aceh yang banyak dinikmati oleh masyarakat Pidie pada umumnya. Makanan ini terbuat dari tepung ketan dan pisang/labu yang pipih dan panjang seperti lepat. Timphan juga merupakan salah satu makanan yang tahan uji waktu dengan kata lain dapat bertahan di setiap perkembangan zaman.
Bagi masyarakat Kembang Tanjong timphan sudah dikenal oleh kalangan masyarakat Aceh sejak dahulu namun, namun tidak mudah untuk menemukannya.
Timphan merupakan produk lokal yang dibanggakan oleh masyarakat Aceh. Pada umumnya timphan terbuat dari tepung beras ketan yang dicampur dengan pisang, labu kuning, pepaya, santan untuk kulitnya, kemudian diisi dengan parutan kelapa yang telah dimasak dengan gula pasir atau biasa disebut sari kelapa oleh orang Indonesia yang unik adalah kue timphan srikaya yang kemudian dikukus hingga matang.
Makna timphan di kalangan masyarakat Gampong Lamkawe antara lain sebagai bekal. Timphan adalah salah satu contoh kue basah tradisional yang berasal dari Aceh. Timphan banyak disukai oleh masyarakat Aceh hampir setiap kalangan usia mulai dari anak-anak hingga lansia.26 Selain memilki makna timphan juga berfungsi sebagai menu berbuka puasa, hari raya idul fitri, idul adha maulid Rasul dan berfungsi untuk memper erat tali silaturahmi seperti yang di lakukan oleh
26 Wawancara dengan Ninawati, Pedagang, Tanggal 14 juli 2022
seoraang menantu yang berkunjung ke tempat sang mertua tersebut dengan membawa timphan sebagai buah tangan maka dari itu silaturahmi antara menantu dan mertua tetap terjaga.
Upaya pelestarian timphan dilakukan dengan cara mengajarkan kepada remaja putri yang sudah mengenalnya bahwa makanan tradisional lebih unggul dari makanan kemasan atau jajanan. Saat ini, timphan telah berkembang sebagai hasil dari banyak orang yang mengembangkan makanan tradisional Aceh, tujuannya agar timphan tidak punah seiring berjalannya waktu.
Upaya pemerintah Pidie untuk melestarikan makanan tradisional ini antara lain dengan mengikutsertakannya dalam setiap festival makanan tradisional dan mengadakan festival khusus.
B. Saran
Berdasarkan beberapa kesimpulan yang telah diuraikan di atas, peneliti ingin menyoroti beberapa hal dari penulisan karya ilmiah ini yang secara khusus membahas timphan dan upaya pelestariannya untuk gambaran dan saran untuk penelitian selanjutnya, sebagai berikut:
1. Kepada pemerintah agar lebih memperhatikan makanan tradisional seperti timphan agar tetap terjaga kelestariannya agar tidak punah seiring dengan berlalunya kepunahan.
2. Diharapkan dengan penulisan karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi pembaca penulis lain yang melakukan penelitian lebih lanjut. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih memiliki banyak kekurangan, dan
penulis berharap akan dilakukan penelitian lebih lanjut untuk menyelidiki masalah ini secara menyeluruh.
3. Diharapkan masyarakat Pidie pada umumnya dapat menjaga, merawat, dan melestarikan warisan kuliner Aceh yang memiliki nilai-nilai berharga bagi anak cucu kita.
46
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Rani Usman dkk. Budaya Aceh, Pemerintahan Provinsi Aceh, 2009.
Badan Pusat Statistik. Provinsi Aceh Dalam Angka 2017.
Badruzzaman Ismail. Ensiklopedia budaya Adat Aceh. Banda Aceh: Majelis Adat Aceh. 2018.
Beni Ahmad Saebani. Pengantar Antropologi. Bandung: CV Pustaka Setia. 2012.
BPNB Aceh. Panduan Pencatatan, Penetapan, Penominsian, Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Banda Aceh: BPNB Aceh, 2015.
Bustami Abubakar, dkk. Dari Warisan Budaya Tak Benda Menjadi Warisan Budaya Nasional. Jurnal. Ar-raniry. 2022.
Dian Hardiyanti. Gutel Gayo. Upaya Masyarakat Kecamatan Permata Dalam Melestarikan Makanan Tradisional: Skripsi Karya Maha Siswa Sejarah Kebudayaan Islam Universitas UIN Ar-Raniry. Fakultas Adab dan Humaniora. Banda Aceh. 2019.
Kharie A. 150 resep Kue Tradisional. Jakarta: PT. Agromedia Pustaka. 2014.
Kusudianto Hadinoto. Perencanaan Pengembangan Destinasi Pariwisata, Jakarta:
Universitas Indonesia. 1996.
Muhammad Nazir. Metode Penelitian Cet IV. Jakarta: Ghalia Indonesia. 1998.
Koentjranigrat. Pengantar Ilmu Antropologi Jakarta: Rineka Cipta. 2013.
Putri Permata Azwar. Pengunaan Ubi Celembu sebagai penganti pisang raja dalam pembuatan kue timphan: Skripsi Karya Mahasiswa Jurusan Sejarah Hospitality Program Studi Manajemen Patiseri. Bandung. 2017.
Rusjdi Ali Muhammad. Buletin Haba. Banda Aceh: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional. 2011
Sa’diah Multi Karina. Endang Titi Amrihati. Pengembangan Kuliner. 2017.
Soejono Soekanto, Sosiologi suatu Pengantar, Jakarta: Rajawali Press, 1986 Sustrisno. Metedeologi Research Jilid II Yogyakarta Andi Off Set. 2000.
Uswatun Hasanah. Masyarakat Desa Air Dingin Kecamatan Simeulue Timur Dalam Melestarikan Makanan Tradisional memek: Skripsi karaya Maha siswa Sejarah Kebudayaan Islam Universitas UIN Ar-Raniry, Fakultas Adab dan Humaniora Banda Aceh 2020
Sumber Web:
https://acehprov.go.id/berita/kategori/jelajah/timphan-makanan-khas-aceh-saat- lebaran
http://tpa.fateta.unand.ac.id/index.php/JTPA/article/view/333 Sumber Wawancara:
Wawancara Dengan Junaidi Pedagang Tanggal 12 Juli 2022.
Wawancara Dengan Nafisah Tanggal IRT 14 Juli 2022.
Wawancara Dengan Ninawati Tanggal IRT 14 Juli 2022.
Wawancara Dengan Nurbaidah IRT Tanggal 13 Juli 2022.
Wawancara Dengan Nurbaiti Pedagang Tanggal 14 Juli 2022.
DAFTAR PERTANYAAN 1. Apakah anda mengetahui tentang Timphan?
2. Pada monen apa Timphan dibuat dan dimakan?
3. Bagaimana cara membuat Timphan?
4. Bahan apa saja yang menjadi bahan untuk membuat timphan?
5. Apa yang membedakan Timphan dengan makanan tradisional lainnya?
6. Bagaimana latar belakang historis Timphan?
7. Bagaimana Timphan disajikan dan disantap?
8. Apa makna dan fungsi timphan?
9. Seberapa pentingnya Timphan bagi anda?
10. Mengapa Timphan masih digemari oleh masyarakat?
11. Bagaimana cara melestarikan Timphan?
12. Apakan terdapat perubahan dalam pengolahan Timphan dijaman dulu dan sekarang?
DAFTAR INFORMAN
1. Ibu keuchik : Nafisah Umur : 45 tahun Pekerjaan : IRT
Alamat : Gampong Lamkawe
2. Pak keuchik : Fauzi Umur : 55 tahun
Pekerjaan : Keuchik gampong Alamat : Gampong Lamkawe
3. Nama : Junaidi Umur : 40 tahun Pekerjaan : Pedagang
Alamat : Gampong Lamkawe
4. Nama : Asiah Umur : 75 tahun Pekerjaan : IRT
Alamat : Gampong Lamkawe
5. Nama : Nurbaidah Umur : 53 tahun Pekerjaan : IRT
Alamat : Gampong Lamkawe
6. Nama : Nurbaiti Umur : 43 tahun Pekerjaan : Pedagang
Alamat : Tanjong
7. Nama : Ninawati Umur : 41 tahun Pekerjaan : Pedagang Alamat : Tanjong
LAMPIRAN DOKUMENTASI
wawancara dengan ibu keuchik buk Nafisah
Wawancara dengan bu Nurbaidah
Wawancara dengan pak Husaini
Wawancara dengan buk Asiah
Wawancara dengan pedagang di pasar kembang Tanjong (ibu Nurbaiti)
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama : Naiza Fadilla
Tempat/Tanggal Lahir : Glp Minyeuk/ 04 Januari 2001 Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Status Perkawinan : Belum kawin
Pekerjaan/Nim : Mahasiswi/180501019 Alamat : Gampong Peurada Data Orang Tua
Ayah : Muhammad Jurnalis
Pekerjaan : Swasta
Ibu : Mursyidah
Pekerjaan : PNS
Alamat : Desa pulolon/ pulodayah Pendidikan
SDN : SDN 1 Glumpang Minyeuk
SMPN : SMPN 1 Mutiara
SMAN : SMAN 1 Mutiara
Demikian daftar riwayat hidup ini dibuat dengan sebenarnya, agar dapat dipergunakan semestinya
BandaAceh 21Desember 2022
Naiza Fadilla