AKSES SUMBER DAYA DAN STRATEGI AKTOR
6.2. Jenis dan Alur Manfaat Sumber Daya Waduk Djuanda
Ribot and Peluso (2003) menyebutkan bahwa identifikasi jenis sumber daya dan manfaatnya serta alur manfaat sumber daya merupakan hal yang pertama kali harus dilakukan. Menurutnya, “the analysis of resource access first require identifying the object of inquiry—a particular benefit coming from a particular resource”. Manfaat sumber daya ini tidak hanya yang bersifat ekstraksi langsung saja, seperti perikanan tangkap ataupun budidaya, namun juga dapat meliputi seluruh rangkaian proses produksi, distribusi hingga konsumsi.
Sumber daya Waduk Djuanda menyediakan berbagai bentuk barang dan jasa lingkungan yang dapat diambil manfaatnya oleh beberapa pihak yang berbeda. Identifikasi manfaat sumber daya tidak dapat terlepas dari identifikasi jenis barang dan jasa yang ditawarkan oleh sumber daya tersebut. Sumber daya Waduk Djuanda memberikan beberapa manfaat yaitu bahan baku air bersih dan sumber pembangkit tenaga listrik yang diambil manfaatnya oleh pihak PJT II; perairan untuk usaha budidaya KJA, jalur transportasi air dan pariwisata; ikan untuk kegiatan penangkapan; sumber air irigasi untuk pertanian; juga jasa-jasa lingkungan seperti halnya pengendalian banjir, cadangan air bersih, sumber plasma nutfah bagi perikanan dan lainnya.
Manfaat yang diperoleh tersebut tidak hanya melibatkan satu pengguna saja, sering kali melibatkan berbagai pengguna dalam satu rantai dan jejaring yang panjang dan saling terkait. Dengan demikian manfaat tersebut mengalir dari satu pengguna ke pengguna lainnya, dan dapat meningkat besaran manfaatnya dari satu pengguna ke pengguna lainnya. Ribot and Peluso (2003) menyebutkan, “Benefits
from a resource can accrue in production, extraction, product transformation, exchange, transport, distribution, or consumption”.
1. Alur manfaat bahan baku air bersih
PJT II berperan sebagai regulator dan distributor bahan baku air bersih untuk wilayah Jakarta. Air dari Waduk Djuanda didistribusikan kepada PDAM Jakarta untuk kemudian diolah lebih lanjut hingga memenuhi standar kelayakan. PDAM Jakarta kemudian mendistribusikannya kepada konsumen dan konsumen menikmati air tersebut untuk kegiatan keseharian dengan kompensasi membayar harga tertentu. Hal yang perlu diperhatikan adalah alur manfaat ini tidak hanya berjalan satu arah saja, namun juga berlaku sebaliknya dalam bentuk penanggungan resiko. Sebagai contoh jika terjadi penurunan kualitas bahan baku air bersih, maka akan menyebabkan bertambahnya resiko bagi PDAM berupa bertambahnya biaya dalam proses produksi air bersih.
2. Alur manfaat sumber tenaga pembangkit listrik
Air Waduk Djuanda dimanfaatkan sebagai sumber tenaga pembangkit listrik yang dikelola oleh PJT II. PJT II mengolah air menjadi tenaga listrik menggunakan turbin dan mendistribusikannya kepada PJB (Perusahaan Jawa Bali). PJB kemudian mendistribusikan listrik tersebut kepada konsumen dan konsumen menikmati listrik dengan membayar harga tertentu.
3. Alur manfaat perikanan budidaya
Perikanan budidaya memiliki alur manfaat yang lebih kompleks dan melibatkan banyak aktor di dalamnya. Alur manfaat perikanan budidaya lebih mudah diidentifikasi dengan mengikuti proses produksi, distribusi dan konsumsi. Pada rangkaian proses produksi, kegiatan budidaya melibatkan berbagai pihak, diantaranya penyedia jasa konstruksi KJA (berupa penyedia bahan baku konstruksi dan juga penyedia jasa perakitan konstruksi), pembudidaya, penyedia benih, penyedia pakan, operator (penjaga KJA), penyedia modal, pemerintah dan pengelola waduk melalui retribusi dan perizinan, dan transportasi. Alur manfaat pada rangkaian proses distribusi
melibatkan bakul ikan (pedagang pengumpul), buruh panen, penyedia es, penyedia jasa transportasi air dan darat. Sementara alur manfaat pada proses konsumsi melibatkan pedagang pengecer, rumah makan, dan konsumen.
Alur manfaat perikanan budidaya bisa melibatkan berbagai kombinasi dari seluruh aktor yang ada di atas. Hal ini terjadi karena seringkali satu pihak menjalankan beberapa fungsi aktor secara bersamaan. Sebagai contoh, tidak jarang dijumpai penyedia modal yang juga penyedia benih, pakan dan sekaligus bakul ikan. Semakin pendek alur manfaat maka semakin besar porsi manfaat yang diterima oleh masing-masing aktor. Semakin terkumpulnya fungsi aktor pada satu pihak juga akan semakin besar terakumulasinya manfaat pada pihak tersebut.
4. Alur manfaat perikanan tangkap
Kegiatan pemanfaatan perikanan tangkap yang ada di Waduk Djuanda lebih sederhana dibandingkan dengan perikanan budidaya. Alur manfaat yang terjadi di perikanan tangkap meliputi penyedia perlengkapan, nelayan, penyedia modal, bakul ikan (pedagang pengumpul), penyedia jasa transportasi air dan darat, penyedia es, pedangang pengecer, rumah makan dan konsumen. Sederhananya alur manfaat di perikanan tangkap karena sifat perikanan tangkap yang berupa skala kecil dengan alat tangkap yang sederhana dan hanya beroperasi seorang diri saja. Namun demikian, sama halnya dengan perikanan budidaya, alur manfaat yang ada bisa melibatkan berbagai kombinasi dari aktor yang ada. Panjang dan pendeknya alur manfaat mempengaruhi besaran porsi manfaat yang diterima oleh masing-masing aktor pengguna. Umumnya, bakul ikan merangkap sebagai pedagang pengecer dan penyedia modal sehingga akumulasi manfaat lebih banyak berada di bakul ikan dibandingkan dengan nelayan.
5. Alur manfaat transportasi air
Masyarakat memanfaatkan perairan sebagai sarana melintas antar desa. Hal ini disebabkan karena lokasi desa-desa yang mengelilingi waduk dan akses jalan darat yang memutar. Selain itu kegiatan budidaya juga memerlukan kebutuhan perlengkapan usaha yang difasilitasi oleh transportasi air untuk mengantarnya.
Kegiatan wisata seperti pemancingan juga memanfaatkan transportasi air. Alur manfaat kegiatan transportasi air diidentifikasikan terdiri dari penyedia jasa peralatan dan perbaikan, operator perahu, penyedia modal dan konsumen. Gambar 4 memperlihatkan akses, aliran manfaat sumber daya dan pola relasi aktor yang terdapat di Waduk Djuanda, Jatiluhur.
Gambar 4. Akses, Aliran Manfaat Sumber Daya dan Pola Relasi Aktor
6.3. Mekanisme Akses Sumber Daya Waduk Djuanda: Kepentingan dan