• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jenis dan Rancangan Penelitian

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis dan Rancangan Penelitian

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis dan Rancangan Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif dilakukan karena peneliti ingin mengeksplor fenomena-fenomena yang tidak dapat dikuantifikasikan yang bersifat deskriptif seperti proses suatu langkah kerja, formula suatu resep, pengertian-pengertian tentang suatu konsep yang beragam, karakteristik suatu barang dan jasa, gambar-gambar, gaya-gaya, tata cara suatu budaya, model fisik suatu artifak dan lain sebagainya (Satori & Komariah, 2013).

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan

fenomenologis, menurut Rieman dalam Santana (2007) penelitian

fenomenologi bertujuan untuk menyajikan persepsi berbagai orang yang menjadi informan di dalam sebuah masalah, melihat bagaimana pengalaman mereka, kehidupan dan tampilan fenomenanya, serta mencari pemaknaan dari berbagai orang yang menjadi partisipan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengalaman perawat tentang penanganan cardiac arrest di RSUD Karanganyar. Bertujuan khusus untuk mendeskripsikan pengetahuan perawat tentang penanganan cardiac arrest, mendeskripsikan tindakan perawat dalam penanganan cardiac arrest, mengidentifikasi faktor pendukung perawat dalam penanganan cardiac arrest,

mengidentifikasi faktor penghambat perawat dalam penanganan cardiac

arrest.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian 3.2.1 Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di ruang instalasi gawat darurat (IGD) RSUD Karanganyar.

3.2.2 Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada 5 Februari sampai 21 April 2015.

3.3 Populasi dan Sampel

Satori & Komariah (2013) menyatakan bahwa populasi dalam penelitian kualitatif lebih tepat disebut sebagai sumber data pada situasi sosial tertentu yang menjadi subjek penelitiannya adalah benda, hal atau orang yang padanya melekat data tentang objek penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah 17 perawat Instalasi Gawat Darurat yang pernah menangani kasus cardiac arrest di RSUD Karanganyar.

Sampel merupakan obyek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2012). Sampel terdiri dari bagian populasi terjangkau yang dapat dipergunakan sabagai subjek penelitian melalui sampling. Sampel sebanyak 1 – 10 orang hingga tercapai saturasi (Afiyanti, 2014). Peneliti mengambil partisipan perawat IGD yang pernah menangani kasus cardiac

menggunakan metode purposive sampling yaitu sampel yang dipilih berorientasi pada tujuan penelitian individu diseleksi atau dipilih secara sengaja karena memiliki pengalaman yang sesuai dengan fenomena yang diteliti sampel ini menetapkan terlebih dahulu kriteria – kriteria inklusi yang telah ditetapkan. Sedangkan sampling adalah proses menyeleksi porsi dari populasi yang dapat mewakili populasi yang ada (Nursalam, 2011). Wawancara akan dihentikan oleh peneliti ketika semua jawaban dari partisipan sudah mencapai saturasi. Saturasi adalah ketika semua jawaban sudah dikatakan benar sama atau jenuh (Sutopo, 2006).

Kriteria inklusi adalah subjek penelitian yang memenuhi syarat sebagai sampel atau persyaratan umum yang harus dipenuhi oleh subjek agar dapat diikutkan dalam penelitian (Sastroasmoro dan Ismael, 2007). Dalam penelitian ini kriteria inklusi sendiri adalah:

1) Perawat berpendidikan minimal D III Keperawatan.

2) Perawat yang telah bekerja lebih dari 3 tahun di Instalasi Gawat Darurat. 3) Perawat yang memiliki sertifikat pelatihan BTCLS atau PPGD.

4) Perawat yang pernah melakukan penanganan cardiac arrest. 5) Bersedia menjadi partisipan.

3.4 Instrumen dan Prosedur Pengumpulan Data

3.4.1 Dalam penelitian ini menggunakan dua instrumen penelitian yaitu: 1. Instrumen Inti

Instrumen inti dalam penelitian ini adalah peneliti itu sendiri. Peneliti sebagai instrument inti berusaha untuk meningkatkan kemampuan diri dalam melakukan wawancara. Usaha yang dilakukan berlatih wawancara terlebih dahulu sebelum pengambilan data kepada partisipan (Sugiyono, 2013).

Peneliti menjadi segalanya dari keseluruhan proses penelitian, sebagai perencana, pelaksana, pengumpulan data, analisis, penafsir data, dan pengevaluasi hasil penelitian. Peneliti harus paham metode penelitian, penguasaan teori wawancara terhadap bidang yang diteliti dan peneliti siap untuk memasuki obyek penelitian, baik secara akademik maupun logistiknya. Peneliti adalah seorang mahasiswi dari program studi S-1 Keperawatan STIKes Kusuma Husada Surakarta yang ingin melakukan penelitian dan ingin mengeksplorasi tentang pengalaman perawat dalam menangani kasus cardiac arrest di RSUD Karanganyar.

2. Penunjang penelitian

Pengumpulan data dilakukan dengan tiga teknik yaitu: a. Wawancara mendalam

Sumber data yang sangat penting dalam penelitian kualitatif adalah berupa manusia yang dalam posisi sebagai partisipan.

Informasi dari sumber data ini dikumpulkan dengan teknik wawancara, dalam penelitian kualitatif khususnya dilakukan dalam bentuk yang disebut wawancara mendalam (in-depth

interviewing) yaitu wawancara yang dilakukan untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka dimana partisipan yang diwawancara diminta pendapat, ide-idenya, peneliti mencatat apa yang dikemukakan oleh partisipan (Sugiyono, 2013). Wawancara akan dihentikan oleh peneliti ketika semua jawaban dari partisipan jenuh (Sutopo, 2006). Wawancara mendalam dalam penelitian ini menggunakan:

1. Lembar Informed Consent berfungsi sebagai bukti persetujuan dari partisipan dalam penelitian yang dilakukan oleh peneliti.

2. Pedoman wawancara yang berisi 12 pertanyaan tentang penanganan cardiac arrest berfungsi untuk pedoman dalam melakukan wawancara penelitian.

3. Voice Recorder dengan smartphone dengan kapasitas memori 1 Gb yang mampu merekam suara kurang lebih 60 menit sebanyak dua kali perekaman untuk satu partisipannya berfungsi untuk merekam suara semua percakapan yang dilakukan peneliti dan partisipan. Wawancara di lakukan sebanyak dua kali.

b. Observasi tersamar

Teknik observasi tersamar yaitu peneliti melakukan observasi tanpa diketahui partisipan sehingga data yang didapatkan lebih natural (Sugiyono, 2013). Teknik ini digunakan untuk menggali data dari sumber data yang berupa peristiwa, aktivitas, perilaku, tempat atau lokasi dan benda, serta rekaman gambar. Observasi dalam penelitian menggunakan lembar catatan lapangan yang berfungsi untuk catatan peneliti dalam penelitian yang telah dilakukan.

Observasi dapat dilakukan secara langsung ataupun tidak langsung (Sutopo, 2006). Alasan peneliti melakukan observasi adalah untuk menyajikan gambaran realitis perilaku atau kejadian, untuk menjawab pertanyaan dan untuk evaluasi melakukan pengukuran terhadap aspek tertentu serta melakukan umpan balik terhadap pengukuran tersebut (Sumantri, 2011). Peneliti melakukan observasi terus terang atau tersamar yaitu peneliti menyatakan terus terang kepada sumber data bahwa peneliti sedang melakukan penelitian sehingga sumber mengetahui sejak awal sampai akhir tentang aktivitas peneliti, namun dalam suatu saat peneliti juga tidak berterus terang atau tersamar dalam observasi untuk menghindari adanya suatu data yang masih dirahasiakan (Sugiyono, 2013).

c. Dokumentasi

Studi dokumen adalah teknik pengumpulan data dengan mempelajari catatan-catatan mengenai suatu data. Dokumen tertulis merupakan sumber data yang memiliki posisi penting dalam penelitian kualitatif (Sutopo, 2006). Sumber data dan dokumen pada penelitian ini diperoleh dari buku dan jurnal yang membahas mengenai penanganan cardiac arrest. Dari data sumber tersebut kemudian di analisis sehingga dapat memperkuat hasil penelitian peneliti. Dokumentasi penelitian ini menggunakan :

1. Lembar data demografi mengenai kode, nomer partisipan, usia, jenis kelamin, pendidikan terakhir, pengalaman lama kerja di Instalasi Gawat Darurat dan pelatihan yang pernah diikuti.

2. Alat tulis berfungsi untuk menulis dan mencatat segala sesuatu yang penting dalam penelitian.

3. Bukti penelitian mengenai inisial perawat, diagnosa medis, tindakan dan tanda tangan partisipan.

4. Camera berfungsi untuk mendokumentasikan pembicaraan antara peneliti dengan informan atau sumber data. Dengan adanya foto ini, maka dapat meningkatkan keabsahan penelitian akan lebih terjamin, karena peneliti betul-betul melakukan pengumpulan data. Camera yang digunakan

adalah camera handphone 5 megapixel dengan kapasitas

memory 4 Gb.

3.4.2 Prosedur pengumpulan data 1. Tahap persiapan

Pengumpulan data dimulai setelah peneliti menyelesaikan ujian proposal dan diperbolehkan melakukan pengambilan data di lapangan. Peneliti mengurus surat ijin pengambilan data mengenai kriteria inklusi partisipan yang dikeluarkan oleh Program Studi S-1 Keperawatan STIKes Kusuma Husada kepada Kesatuan Bangsa dan Politik (KESBANGPOL) untuk tembusan ke Bupati Karanganyar, Kepala BAPPEDA dan Direktur serta bagian diklat RSUD Karanganyar.

Partisipan yang memenuhi kriteria inklusi kemudian diberikan penjelasan mengenai maksud dan tujuan penelitian serta dampak yang mungkin terjadi pada proses pengumpulan data. Peneliti memberi tahu kepada partisipan bahwa akan dilakukan perekaman wawancara dan pengambilan gambar mengenai pengalaman perawat dalam menangani kasus cardiac arrest. Setelah diberikan penjelasan partisipan diminta kesediaannya untuk menandatangani lembar persetujuan menjadi partisipan. Selanjutnya peneliti dan partisipan membuat kontrak waktu dan tempat untuk proses pengambilan data.

2. Tahap pelaksanaan

Pada tahap pelaksanaan peneliti menyiapkan instrumen inti dan penunjang. Instrumen inti ini disiapkan dengan melatih ketrampilan wawancara kepada perawat yang bukan menjadi partisipan, kemudian peneliti melakukan pengembangan diri terhadap proses wawancara. Sebelum ke tahap wawancara, peneliti mencari data atau dokumentasi angka kejadian kematian kasus

cardiac arrest di rekam medik RSUD Karanganyar. Instrumen

penunjang yang disiapkan meliputi buku, catatan, bolpoint, pedoman pertanyaan, lembar data demografi, bukti penelitian dan kamera untuk mendokumentasikan gambar pada saat wawancara. Alat perekam yang sudah dipastikan dapat digunakan kembali diperiksa dengan baik. Lembar obsevasi, buku catatan dan bolpoint disiapkan dengan baik kemudian peneliti bertemu dengan partisipan.

Peneliti datang sesuai dengan waktu dan tempat yang telah disepakati sebelumnya dengan partisipan. Peneliti melakukan wawancara secara mendalam (indepth interview) dengan terstruktur. Peneliti menggunakan pedoman pertanyaan yang berisi garis besar pertanyaan yang diajukan kepada partisipan, pertanyaan wawancara dikembangkan dari jawaban partisipan tetapi tidak keluar dari pedoman yang telah dibuat. Partisipan diberikan kebebasan untuk memberikan informasi selengkapnya dan seluas mungkin. Sehingga

pertanyaan dan hasil wawancara yang diperoleh bervarisasi untuk setiap partisipan.

3. Tahap terminasi

Tahap terminasi adalah tahap akhir dari pengumpulan data yang dilakukan terminasi dengan melakukan validasi terhadap data yang telah ditemukan kepada partisipan. Setelah dilakukan pengambilan data wawancara selanjutnya dilakukan observasi guna menyajikan gambaran realistis perilaku atau kejadian, dan untuk memvalidasi hasil wawancara dengan hasil observasi apakah sama dan akan memberikan umpan balik terhadap pengambilan data yang telah dilakukan. Peneliti memperlihatkan hasil transkip wawancara dan intrepetasi peneliti kepada informan, jika informan mengatakan apa yang ditulis peneliti telah sesuai dengan apa yang dimaksud oleh partisipan dan dilakukan terminasi dan ucapan terimakasih telah bersedia berpartisipasi dalam penelitian dan menyampaikan bahwa proses penelitian telah selesai.

3.5 Analisa Data

Analisa data merupakan proses pengumpulan data, mengajukan pertanyaan-pertanyaan dari peneliti dan menulis catatan singkat sepanjang penelitian (Creswell, 2013). Teknik analisa yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan menggunakan metode Colaizzi (Creswell, 2013). Metode Colaizzi dinilai efektif digunakan dalam penelitian ini, dikarenakan dengan

metode Colaizzi fenomena-fenomena dapat terungkap dengan jelas sesuai dengan makna-makna yang di dapat. Adapun langkah-langkah analisa data sebagai berikut :

3.5.1 Membuat deskripsi informan tentang fenomena dari informan dalam bentuk narasi yang bersumber dari wawancara.

3.5.2 Membaca kembali secara keseluruhan deskripsi informasi dari informan untuk memperoleh perasaan yang sama seperti pengalaman informan. Peneliti melakukan 3-4 kali membaca transkip untuk merasakan hal yang sama seperti informan.

3.5.3 Mengidentifikasi kata kunci melalui penyaringan pernyataan informan signifikan dengan fenomena yang diteliti. Pernyataan-pernyataan yang merupakan dan mengandung makna yang sama atau mirip maka pernyataan ini diabaikan.

3.5.4 Memformulasikan arti dari kata kunci dengan cara mengelompokkan kata kunci yang sejenis. Peneliti sangat berhati-hati agar tidak membuat penyimpangan dari pernyataan informan dengan merujuk kembali pada pernyataan yang signifikan. Cara yang perlu dilakukan adalah menelaah kalimat satu dengan yang lain.

3.5.5 Mengorganisasikan arti-arti yang telah teridentifikasi dalam beberapa kelompok tema. Setelah tema-tema terorganisir, peneliti menvalidasi kembali kelompok tema tersebut.

3.5.6 Mengintegrasikan semua hasil penelitian ke dalam suatu narasi yang menarik dan mendalam sesuai dengan topik penelitian.

3.5.7 Mengembalikan semua hasil penelitian pada masing-masing informan lalu diikut sertakan pada diskripsi hasil penelitian.

3.6 Keabsahan Data

Dalam pengujian keabsahan data pada penelitian ini dicapai dengan melakukan pengecekan keabsahan temuan untuk menjamin kepercayaan hasil penelitian. Pada penelitian kualitatif menurut Polit & Beck (2012) mengemukakan yang dapat dicapai untuk mendapat kepercayaan tertentu dengan 4 prinsip, meliputi uji creadibility, transferability (validitas eksternal), dependability (reliabilitas), dan confirmability (obyektivitas). 3.6.1 Creadibility (kepercayaan data)

Kredibilitas data atau ketepatan dan keakuratan suatu data yang dihasilkan dari studi kualitatif menjelaskan derajat atau nilai kebenaran dari data yang dihasilkan termasuk proses analisis data tersebut dari penelitian yang dilakukan. Suatu hasil penelitian dikatakan memiliki kredibilitas yang tinggi atau baik ketika hasil-hasil temuan pada penelitian tersebut dapat dikenali dengan baik oleh partisipannya dalam konteks sosial mereka.

Pada penelitian ini kredibilitas dicapai dengan melakukan validasi kembali hasil wawancara dan catatan lapangan untuk dilihat dan dibaca partisipan apakah ada diantara ungkapan dan pernyataan tidak sesuai dengan maksud partisipan. Partisipan juga diberi kesempatan untuk memberi gambaran yang sebenarnya dirasakan oleh

partisipan. Peneliti juga berkonsultasi dengan pembimbing terkait hasil pengumpulan data yang diperoleh. Prinsip ini untuk mengetahui apakah kebenaran hasil penelitian kualitatif dapat dipercaya dalam mengungkapkan kenyataan yang sesungguhnya antara konsep peneliti dengan konsep partisipan.

Ukuran cara memvaliditas data terdapat pada alat untuk menjaring data, terletak pada penelitiannya yang dibantu dengan metode interview, observasi dan studi dokumen. Dengan demikian, yang diuji ketepatannya adalah kapasitas peneliti dalam merancang focus, menetapkan dan memilih partisipan, melaksanakan metode pengumpulan data, menganalisis dan menginterpretasi dan melaporkan hasil penelitian yang kesemuanya perlu menunjukkan konsistensinya satu sama lain.

3.6.2 Transferability (keteralihan data)

Seberapa mampu suatu hasil penelitian kualitatif dapat diaplikasikan dan dialihkan pada keadaan suatu konteks lain atau kelompok atau partisipan lainnya merupakan pertanyaan untuk menilai kualitas tingkat keteralihannya atau transferabilitas. Penilaian keteralihan suatu hasil penelitian kualitatif ditentukan oleh para pembaca. Istilah transferabilitas dapat dipakai pada penelitian kualitatif untuk menggantikan konsep generalisasi telah banyak dibahas dan direspon oleh para peneliti, baik kuantitatif maupun kualitatif.

Penulis melibatkan pembimbing dalam penulisan dan pelaporan hasil agar mudah dipahami oleh pembaca, selain itu peneliti membuat uraian yang diteliti dan secermat mungkin sehingga menghasilkan di skripsi yang padat dan dapat digunakan pada setting lain dengan konsep dan karakteristik yang sama.

3.6.3 Dependability (ketergantungan)

Dependabilitas mempertanyakan tentang konsistensi dan reabilitas suatu instrumen yang digunakan lebih dari sekali penggunaan. Masalah yang ada pada studi kualitatif adalah instrumen penelitian dan peneliti sendiri sebagai manusia memiliki sifat-sifat manusia yang sepenuhnya tidak pernah dapat konsisten dan dapat diulang walaupun dengan kondisi dan keadaan yang sama dan sangat dipengaruhi oleh latar belakang peneliti terutama berkaitan dengan apa saja yang di intrepetasikan dan disimpulkan oleh peneliti tersebut.

Peneliti sebagai instrumen kunci dapat membuat kesalahan dalam menginterpretasikan data sehingga timbul ketidakpercayaan pada peneliti. Agar penelitian ini dapat di pertanggungjawabkan secara ilmiah, peneliti melibatkan seseorang yang berkompeten di bidangnya yaitu selalu melibatkan pembimbing selama penelitian, analisa data dan penulisan hasil penelitian untuk menjaga dependabilitas hasil penelitian (Afiyanti, 2014).

3.6.4 Confirmability

Konfirmabilitas menggantikan aspek objektivitas pada penelitian kualitatif, namun tidak persis sama arti dari keduanya, yaitu kesediaan peneliti untuk mengungkap secara terbuka proses dan elemen-elemen penelitiannya.

Aspek confirmability dipenuhi peneliti dengan melakukan konfirmasi kembali terhadap hasil interpretasi kepada partisipan dan pembimbing serta mengintregasikan dengan catatan lapangan dan hasil observasi.

Strategi yang digunakan untuk memperoleh keabsahan data pada penelitian ini adalah dengan melakukan triangulasi (Denzin & Lincoln, 2005 di dalam Rachmawati & Afiyanti, 2014). Triangulasi yang dapat dilakukan peneliti antara lain:

1. Triangulasi data

Teknik triangulasi data, yaitu peneliti menggunakan berbagai sumber data yang dapat digunakan selama riset dilakukan. Data yang didapatkan dari partisipan kemudian divalidasi dengan menggunakan dokumentasi keperawatan contohnya tindakan dalam penanganan cardiac arrest di IGD RSUD Karangannyar. 2. Triangulasi peneliti

Teknik triangulasi peneliti, yaitu peneliti bekerja sama dengan peneliti lain untuk mengurangi potensial bisa dari satu riset dengan dilakukannya uji validitas. Pada penelitian ini peneliti

menggunakan jurnal penelitian yang membahas masalah yang sama dengan penelitian yang peniliti lakukan, hasil skripsi dan tesis dari universitas lainnya. Pandangan dan tafsir yang dilakukan oleh beberapa peneliti terhadap semua informasi yang berhasil digali dan dikumpulkan yang berupa catatan, bahkan sampai dengan simpulan sementara, diharapkan bisa terjadi pertemuan pendapat yang pada akhirnya bisa lebih memantapkan hasil akhir penelitan.

3. Triangulasi teori

Teknik triangulasi teori, yaitu peneliti menggunakan berbagai perspektif lebih dari satu teori dalam membahas permasalahan yang dikaji. Peneliti menggunakan beragam teori yang membahas mengenai tindakan dalam penanganan cardiac arrest dan pengalaman perawat.

3.7 Etika Penelitian

Etika penelitian adalah suatu system nilai normal yang harus dipatuhi oleh peneliti saat melakukan aktivitas penelitian yang melibatkan responden, meliputi kebebasan dari adanya ancaman, kebebasan dari adanya eksploitasi keuntungan dari penelitian tersebut dan resiko yang didapatkan (Polit & Hungler, 2005).

Peneliti meyakini bahwa partisipan harus di lindungi dengan memperhatikan aspek-aspek: self determination, privacy, anonymity,

3.7.1 Self determination.

Partisipan diberikan kebebasan untuk menentukan apakah bersedia atau tidak untuk mengikuti kegiatan penelitian sukarela. Peneliti memberikan kebebasan kepada partisipan untuk ikut berpartisipasi. Peneliti memberikan penjelasan kepada calon partisipan mengenai tujuan dan manfaat penelitian yang dilakukan. Peneliti juga menjelaskan bahwa partisipan yang mengikuti penelitian tidak dipungut biaya apapun, seluruh biaya sudah ditanggung peneliti. 3.7.2 Informed consent

Peneliti menegaskan kembali mengenai maksud dan tujuan penelitian yaitu untuk mengindetifikasi pengetahuan, tindakan, faktor pendukung dan penghambat dalam penanganan cardiac arrest. Setelah partisipan mengerti, peneliti memberikan lembar informed

consent kepada partisipan.

3.7.3 Privacy

Selama dan sesudah penelitian, privacy partisipan dijaga secara benar, semua partisipan diberlakukan sama, peneliti akan menjaga kerahasiaan partisipan dari informasi yang diberikan dan hanya digunakan untuk kegiatan penelitian serta tidak akan dipublikasikan tanpa izin dari partisipan.

3.7.4 Anonymity

Nama partisipan selama penelitian tidak digunakan melainkan diganti dengan nomor dan inisial penelitian. Nomor dan inisial dari

partisipan ini digunakan dengan tujuan untuk menjaga kerahasiaan partisipan dan mencegah kekeliruan peneliti dalam memasukkan data. 3.7.5 Protections for discomfort.

Selama pengambilan data penelitian, peneliti memberi kenyamanan pada partisipan dengan mengambil tempat wawancara sesuai dengan keinginan partisipan. Sehingga partisipan dapat leluasa tanpa ada pengaruh lingkungan untuk mengungkapkan hambatan yang dialami.

3.7.6 Beneficence

1. Bebas dari bahaya yaitu peneliti harus berusaha melindungi subyek yang diteliti, terhindar dari bahaya atau ketidaknyamanan fisik atau mental.

2. Bebas dari eksploitasi yaitu keterlibatan peserta dalam penelitian tidak seharusnya merugikan mereka atau memaparkan pada situasi yang mereka tidak disiapkam.

3. Rasio antara resiko dan manfaat adalah peneliti dan penilai

(reviewer) harus menelaah keseimbangan antara manfaat dan

resiko dalam penelitian (Hamid & Achir, 2008). 3.7.7 Non Meleficence

Mengurangi bahaya terhadap partisipan serta melindungi partisipan (Hamid & Achir, 2008).

3.7.8 Justice

Hak mendapatkan perlakuan yang adil adalah partisipan mempunyai hak yang sama, sebelum, selama, dan setelah partisipasi mereka dalam penelitian. Perlakuan yang adil mencakup aspek-aspek berikut ini:

1. Seleksi partisipan yang adil dan tidak diskriminatif.

2. Perlakuan yang tidak menghukum bagi mereka yang menolak atau mengundurkan diri dari kesertaannya dalam penelitian, walaupun dia pernah menyetujui untuk berpartisipasi.

3. Penghargaan terhadap semua persetujuan yang telah dibuat antara peneliti atau partisipan.

4. Mendapatkan penjelasan, jika diperlukan yang tidak diberikan sebelum penelitian dilakukan atau mengklarifikasi isu yang timbul selama penelitian.

5. Perlakuan yang penuh rasa hormat selama penelitian (Hamid & Achir, 2008).

57 BAB IV