i
SKRIPSI
“Untuk Memenuhi Persyaratan Mencapai Sarjana Keperawatan”
Oleh :
Berlianti Diah Nawaningrum NIM S11009
PROGRAM STUDI S-1 KEPERAWATAN
STIKES KUSUMA HUSADA
SURAKARTA
2015
iv
Segala puji dan syukur peneliti panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan karunia-Nya, akhirnya peneliti dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Pengalaman Perawat Dalam Penanganan Cardiac Arrest Di Instalasi
Gawat Darurat RSUD Karanganyar”. Penelitian ini disusun sebagai salah satu persyaratan dalam menempuh mata ajar skripsi di Program Studi Ilmu Keperawatan STIKes Kusuma Husada Surakarta. Dalam penyusunan skripsi ini, peneliti banyak mendapat bimbingan, arahan dan dukungan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini peneliti mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada :
1. Dra. Agnes Sri Harti, M.Si, selaku ketua STIKes Kusuma Husada Surakarta. 2. Wahyu Rima Agustin, S.Kep., Ns., M.Kep, selaku Ketua Program Studi S1
Keperawatan STIKes Kusuma Husada Surakarta..
3. Wahyuningsih Safitri, S.Kep.,Ns., M.Kep, selaku pembimbing utama yang telah memberikan bimbingan, arahan dan saran selama penyusunan penelitian ini.
4. Aria Nurahman Hendra Kusuma, S.Kep., Ns., M.Kep. selaku pembimbing II yang juga telah memberikan bimbingan, masukan dan dukungan selama penyusunan penelitian ini.
5. bc. Yeti Nurhayati, M.Kes selaku penguji yang telah memberikan arahan dan bimbingan dalam penyusunan penelitian ini.
v
dalam melakukan studi pendahuluan proposal skripsi.
8. Orang tua tercinta dan terhebat, yaitu Bapak Suhardi, BA dan Ibu Sri Suparni, kakakku tercinta yang selalu memberikan dukungan doa, materi dan kasih sayangnya sepanjang waktu.
9. Partisipan yang berpartisipasi dalam penelitian ini.
10.Teman-teman seperjuangan S1-Keperawatan angkatan 2011 yang selalu mendukung dan membantu dalam proses pembuatan skripsi ini.
11.Semua pihak yang telah memberikan dukungan moral maupun material dalam penyusunan skripsi ini, yang tidak bisa disebutkan peneliti satu persatu.
Semoga segala bantuan dan kebaikan, menjadi amal sholeh yang akan mendapat balasan yang lebih baik. Pada akhirnya peneliti bersyukur kepada Allah SWT semoga skripsi ini dapat bermanfaat kepada banyak pihak dan peneliti sangat mengharapkan masukan, saran dan kritik demi perbaikan proposal skripsi ini sehingga dapat digunakan untuk pengembangan ilmu dan pelayanan keperawatan.
Surakarta, 15 Agustus 2015
vi
HALAMAN JUDUL i
HALAMAN PERSETUJUAN ii
SURAT PERNYATAAN iii
KATA PENGANTAR iv DAFTAR ISI vi DAFTAR TABEL ix DAFTAR GAMBAR x DAFTAR LAMPIRAN xi ABSTRAK xii ABSTRACT xiii BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1 1.2. Rumusan Masalah 5 1.3. Tujuan 5 1.4. Manfaat 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Tinjauan Teori 7
2.1.1 Pengertian Cardiac Arrest 7
2.1.1. Pengetahuan 22
vii
2.3. Fokus Penelitian 35
2.4. Keaslian Penelitian 36
BAB III METODELOGI PENELITIAN
3.1. Jenis dan Rancangan Penelitian 38
3.2. Tempat dan Waktu Penelitian 39
3.3. Populasi dan Sampel 39
3.4. Instrumen dan Prosedur Pengumpulan Data 41
3.5. Analisa Data 47
3.6. Keabsahan Data 49
3.7. Etika Penelitian 53
BAB IV HASIL PENELITIAN
4.1 Karakteristik Partisipan 58
4.2 Tema Hasil Penelitian 58
4.2.1 Pengetahuan perawat 58
4.2.2 Tindakan perawat 66
4.2.3 Faktor pendukung. 76
4.2.4 Faktor penghambat 81
BAB V PEMBAHASAN
5.1 Pengetahuan perawat tentang penanganan cardiac arrest 84 5.2 Tindakan perawat dalam penanganan cardiac arrest 95
viii
6.1 Kesimpulan 125
6.2 Saran 127
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
ix Nomor Tabel 2.1 Judul Tabel Keaslian Penelitian Halaman 36
x
Nomor Gambar Judul Gambar Halaman
2.1 Algoritma Penatalaksanaan Henti Jantung Pada Arithmia
11
2.3 Skema Kerangka Teori 34
xi Lampiran 1 : F.01 Usulan Topik Penelitian Lampiran 2 : F.02 Pengajuan Persutujuan Judul Lampiran 3 : F.04 Pengajuan Izin Studi Pendahuluan Lampiran 4 : Lembar Pengantar Studi Pendahuluan
Lampiran 5 : Surat Tidak Keberatan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Lampiran 6 : Surat Rekomendasi Survey Badan Perencanaan Pembangunan
Lampiran 7 : Surat Jawaban Izin Studi Pendahuluan RSUD Karanganyar Lampiran 8 : Surat Keterangan Melakukan Penelitian
Lampiran 9 : Lembar Permohonan Menjadi Partisipan Lampiran 10 : Lembar Persetujuan Menjadi Partisipan Lampiran 11 : Data Demografi
Lampiran 12 : Pedoman Wawancara Lampiran 13 : Bukti Penelitian Lampiran 14 : Analisis Tematik Lampiran 15 : Transkip Wawancara Lampiran 16 : Lembar Konsultasi
Lampiran 17 : Lembar Oponent Ujian Sidang Proposal Skripsi Lampiran 18 : Lembar Audience Ujian Sidang Proposal Skripsi Lampiran 19 : Jadwal Penelitian
xii
Berlianti Diah Nawaningrum
Pengalaman Perawat Dalam Penanganan Cardiac Arrest di Instalasi Gawat
Darurat RSUD Karanganyar
Abstrak
Kematian jantung mendadak merupakan tidak berfungsinya kelistrikan jantung dan menghasilkan irama jantung yang tidak normal. Hasil dari rekam medik di RSUD Karanganyar selama bulan Januari sampai Oktober 2014 terdapat 127 pasien mengalami cardiac arrest dengan tindakan resusitasi 30 kompresi dada dan 2 ventilasi sebanyak 5 siklus dengan hambatan karena keterbatasan tempat penuh sehingga kekurangan tenaga kesehatan dan fasilitas.
Tujuan penelitian untuk mengetahui pengalaman perawat dalam penanganan cardiac arrest diInstalasi Gawat Darurat RSUD Karanganyar. Penelitian ini menggunakan rancangan kualitatif fenomenologis. Teknik pengambilan sampel dengan purposive sampling yang melibatkan 3 partisipan. Pengumpulan data dilakukan dengan in-depth interviewing. Teknik analisa yang digunakan adalah metode Colaizzi.
Hasil penelitian dari 1) pengetahuan didapatkan tema (a) definisi henti jantung, (b) penyebab henti jantung, (c) tanda dan gejala henti jantung, (d) tindakan henti jantung. 2) tindakan perawat didapatkan tema (a) pengkajian awal resusitasi jantung paru, (b) tindakan resusitasi jantung paru, (c) evaluasi resusitasi jantung paru, (d) posisi recovery, (e) faktor dihentikan resusitasi jantung paru, (f) pemberian obat – obatan emergency. 3) faktor pendukung didapatkan tema (a) pengetahuan perawat, (b) sarana pendukung, (c) kesiapan perawat. 4) faktor penghambat didapatkan tema (a) hambatan sarana dan prasarana, (b) faktor pasien, (c) faktor keluarga.
Kesimpulan dalam penelitian ini bahwa pengalaman perawat dalam penanganan cardiac arrest didukung oleh pengetahuan dan kesiapan perawat dengan hambatan sarana dan prasarana.
Kata Kunci : Pengalaman, perawat, penanganan, cardiac arrest. DaftarPustaka : 69 (2005-2014)
xiii
Berlianti Diah Nawaningrum
Nurses’ Experience in Cardiac Arrest Management at the Emergency Installation of Local General Hospital of Karanganyar
ABSTRACT
Sudden cardiac death (SCD) is a sudden, unexpected death caused by loss of heart function (sudden cardiac arrest). The medical record of Local General Hospital of Karanganyar shows that in the period of January up to October 2014, there were 127 patients of cardiac arrest with resuscitation intervention of 30 chest compressions and two ventilations as many as 5 cycles inhibited by the lack of health workers and facilities.
The objective of the research is to investigate the nurses’ experience in the cardiac arrest management at the Emergency Installation of Local General Hospital of Karanganyar. The research used the phenomenological qualitative method. The samples of research were 3 participants. They were taken by using the purposive sampling technique. The data were collected through in-depth interview and analyzed by using the Colaizzi’s method.
The result of the research shows that there were several themes namely: (1) knowledge: (a) definition of cardiac arrest, (b) cause of cardiac arrest, (c) signs and symptoms of cardiac arrest, and (d) action of cardiac arrest; (2) nurses ‘s intervention : (a) initial assessment of cardiopulmonary resuscitation, (b) cardiopulmonary resuscitation intervention, (c) evaluation of cardiopulmonary resuscitation, (d) recovery position, (e) factors of the stop of cardiopulmonary resuscitation , (f) administration of emergency drugs; (3) supporting factors: (a) nurses’ knowledge (b) supporting facilities, (c) nurses’ preparedness ; and (4) inhibiting factors: (a) facilities and infrastructure constraints, (b) patient factors, (c) family factors.
Thus, the nurses’ experience in the cardiac arrest was supported by the nurses’ knowledge and readiness but was inhibited by the lack of facilities and infrastructures.
Keywords: Experience, nurse, management, cardiac arrest.
1
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Kematian jantung mendadak atau cardiac arrest adalah berhentinya fungsi jantung secara tiba-tiba pada seseorang yang telah atau belum diketahui menderita penyakit jantung. Hal ini terjadi ketika sistem kelistrikan jantung menjadi tidak berfungsi dengan baik dan menghasilkan irama jantung yang tidak normal (American Heart Association, 2010). Henti jantung merupakan penyebab kematian utama di dunia dan penyebab tersering dari cardiac arrest adalah penyakit jantung koroner (Subagjo A, 2010).
Secaraklinis, keadaan henti jantung ditandaidengan tidak adanya nadi dan tanda – tanda sirkulasi lainnya. Pada tahun 2010 menurut catatan WHO diperkirakan sekitar 17 juta orang akibat penyakit gangguan cardiovascular setiap 5 detik 1 orang meninggal dunia akibat Penyakit Jantung Koroner (WHO, 2010). Angka kejadian cardiac arrest di Amerika Serikat mencapai 250.000 orang pertahun dan 95 persennya diperkirakan meninggal sebelum sampai di rumah sakit (Suharsono, 2009). Data di Indonesia tidak ada data statistik mengenai kepastian jumlah kejadian cardiac arrest tiap tahunnya, tetapi diperkirakan adalah 10 ribu warga. Data di ruang perawatan koroner intensif Rumah Sakit Cipto Mangunkusuma tahun 2006, menunjukkan
terdapat 6,7% pasien mengalami atrial fibrilasi, yang merupakan kelainan irama jantung yang bisa menyebabkan henti jantung (Depkes, 2006).
Cardiac arrest dapat menyebabkan kematian otak dan kematian permanen terjadi dalam jangka waktu 8 sampai 10 menit (Pusponegoro, 2010). Cardiac arrest dapat dipulihkan jika tertangani segera dengan cardiopulmonary resusitation dan defibrilasi untuk mengembalikan denyut jantung normal. Kesempatan pasien untuk bisa bertahan hidup berkurang 7 sampai 10 persen pada tiap menit yang berjalan tanpa cardiopulmonary resusitation dan defibrilasi (American Heart Assosiacion, 2010).
Penanganan cardiac arrest adalah kemampuan untuk dapat mendeteksi dan bereaksi secara cepat dan benar untuk sesegera mungkin mengembalikan denyut jantung ke kondisi normal untuk mencegah terjadinya kematian otak dan kematian permanen (Pusponegoro, 2010). Berdasarkan standar kompetensi dari Vanderblit University School of Nursing (Gebbie,dkk 2006), kesiapan perawat dalam menghadapi situasi kegawatan adalah kemampuan untuk berfikir kritis, kemampuan untuk menilai situasi, mempunyai ketrampilan teknis yang memadai, dan kemampuan untuk berkomunikasi.
Kesiapan perawat dalam penanganan cardiac arrest dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu pengetahuan yang cukup dari perawat tentang penanganan situasi kegawatan, pengalaman yang memadai, peraturan atau protokol yang jelas, sarana dan suplai yang cukup, serta pelatihan atau training tentang penanganan situasi kegawatan (Wolff.dkk, 2010).
Pengetahuan berpengaruh pada ketrampilan perawat dalam melaksanakan tugas (Cristian, 2008). Pengalaman yang memadai mempengaruhi karena sektor klinik berperan dalam memberi kesempatan atau tugas kepada staff perawat dengan hal-hal baru dan penanganan situasi yang bersifat khusus untuk memperoleh pengalaman-pengalaman baru. Peraturan atau protokol yang jelas karena pembuat kebijakan atau rumah sakit mempunyai tanggung jawab membuat kebijakan untuk dijalankan oleh setiap staff perawat dalam menjalankan tugasnya (Wolff.dkk, 2010).
Sarana dan suplai yang cukup merupakan segala sesuatu yang dapat memudahkan dan memperlancar pelaksanaan usaha yang berupa benda – benda (Cristian, 2008). Pelatihan membantu perawat untuk menguasai keterampilan dan kemampuan atau kompetensi yang spesifik untuk berhasil dalam pekerjaannya (Ivancevich, 2008). Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan tidak ada hubungan antara fasilitas dengan kesiapan perawat dalam menangani cardiac arrest, dimana fasilitas tidak lengkap atau tidak memadai sehingga perawat tidak siap menangani cardiac arrest (Aminuddin, 2013).
Berdasarkan data dari rekam medik di RSUD Karanganyar selama bulan Januari sampai Oktober 2014 jenis pelayanan emergency yang paling sering dilakukan di IGD adalah penanganan pasien serangan jantung atau payah jantung, terdapat 127 pasien mengalami cardiac arrest dan yang meninggal dunia sebanyak 34 pasien. Ini membuktikan masih tingginya angka kematian dan pentingnya tindakan penanganan cardiac arrest oleh
semua perawat. Hasil observasi peneliti dari data perawat di Instalasi Gawat Darurat berjumlah 17 perawat dengan 3 perawat pernah mengikuti pelatihan PPGD (Pertolongan Pertama Gawat Darurat) atau BTCLS (Basic Training Cardiac Life Support).
Hasil wawancara yang peneliti lakukan dengan 3 perawat pada tanggal 30 Desember 2014, semua perawat tersebut sudah pernah melakukan penanganan cardiac arrest dengan pertolongan cardio pulmonary resuscitation (CPR). Satu perawat mengatakan bahwa pasien cardiac arrest diberikan tindakan resusitasi dengan 30 kali kompresi dada dan 2 kali ventilasi sebanyak 5 kali siklus dengan kesulitan tindakan yaitu keterbatasan tempat penuh sehingga kekurangan tenaga kesehatan dan fasilitas. Satu perawat lagi mengatakan bahwa yang pertama dilakukan adalah membebaskan jalan napas dan mengalirkan darah ke tempat yang penting dalam tubuh, sehingga pasokan oksigen ke otak terjaga untuk mencegah terjadinya kematian sel otak, walaupun usaha untuk melakukan resusitasi tidak selalu berhasil, lebih banyak nyawa yang hilang akibat tidak dilakukannya resusitasi dengan tepat dan cepat. Perawat terakhir mengatakan melakukan perekaman EKG untuk mengetahui kelainan jantung sebelum mengetahui pasien cardiac arrest dan melakukan resusitasi.
Berdasarkan data tersebut diatas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Pengalaman Perawat Dalam Penanganan Cardiac Arrest di RSUD Karanganyar”.
1.2 Rumusan Masalah
Pasien yang mengalami cardiac arrest dapat dipulihkan jika ditangani segera dengan cardiopulmonary resusitation dan defibrilasi. Tindakan tersebut dapat mengembalikan fungsi jantung kembali normal. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pengalaman perawat dalam penanganan cardiac arrest di RSUD Karanganyar.
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1Tujuan Umum
Mengetahui pengalaman perawat dalam penanganan cardiac arrest di RSUD Karanganyar.
1.3.2Tujuan Khusus
1. Mendeskripsikan pengetahuan perawat tentang penanganan cardiac arrest.
2. Mendeskripsikan tindakan perawat dalam penanganan cardiac arrest.
3. Mengidentifikasi faktor pendukung perawat dalam penanganan cardiac arrest.
4. Mengidentifikasi faktor penghambat perawat dalam penanganan cardiac arrest.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1Rumah Sakit Karanganyar
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi Rumah Sakit Karanganyar untuk menentukan langkah–langkah dalam peningkatan pengetahuan dan kompetensi tentang penanganan cardiac arrest sehingga pihak managemen Rumah Sakit diharapkan meningkatkan ketrampilan perawat melalui pelatihan dalam penanganan cardiac arrest dan diharapkan pelayanan kepada pasien gawat darurat meningkat.
1.4.2Institusi Pendidikan
Memperkaya literatur ilmu keperawatan dibidang kegawatdaruratan kardiovaskuler sebagai penunjang dalam proses belajar mengajar atau praktik gawat darurat.
1.4.3Peneliti Lain
Peneliti lain dapat menambah pengetahuan tentang penanganan cardiac arrest dan menjadikan hasil penelitian ini untuk referensi atau acuan peneliti lainya dengan metode yang berbeda dan meneliti faktor lain seperti peraturan atau protokol yang jelas, sarana dan suplai yang cukup yang berhubungan dengan penanganan cardiac arrest.
1.4.4Peneliti
Hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan peneliti tentang pengalaman perawat dalam penanganan cardiac arrest, sehingga peneliti lebih memahami tentang cardiac arrest.
7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.2Tinjauan Teori 2.2.1 Cardiac Arrest 1. Definisi
Cardiac arrest adalah hilangnya fungsi jantung secara tiba-tiba dan mendadak, bisa terjadi pada seseorang yang memang didiagnosa dengan penyakit jantung ataupun tidak. Waktu kejadiannya tidak bisa diperkirakan, terjadi dengan sangat cepat begitu gejala dan tanda tampak (American Heart Association, 2010).
Cardiac arrest adalah semua keadaan yang memperlihatkan penghentian mendadak fungsi pemompaan jantung, yang mungkin masih reversible jika dilakukan intervensi dengan segera tetapi dapat menimbulkan kematian jika tidak dilakukan intervensi. Kecenderungan keberhasilan intervensi berhubungan dengan mekanisme terjadinya cardiac arrest dan kondisi klinis pasien (Parnia, 2012).
2. Etiologi Cardiac Arrest
Penyebab cardiac arrest adalah serangan jantung atau infark miokard (aritmia jantung, khususnya fibrilasi ventrikel dan ventrikel tachycardia tanpa nadi) terjadi akibat arteri koroner yang menyuplai oksigen ke otot-otot jantung menjadi keras dan menyempit akibat sebuah material (plak) yang terbentuk di dinding dalam arteri. Semakin meningkat ukuran plak semakin buruk sirkulasi ke jantung dan otot-otot jantung tidak lagi memperoleh suplai oksigen yang mencukupi untuk melakukan fungsinya, sehingga dapat terjadi infark, beberapa jaringan jantung mati dan menjadi jaringan parut. Jaringan parut ini dapat menghambat sistem konduksi langsung dari jantung, meningkatkan terjadinya aritmia dan cardiac arrest.
Sumbatan jalan napas oleh benda asing, tenggelam, stroke atau CVA, overdosis obat-obatan (antidepresan trisiklik, fenotiazin, beta bloker, calcium channel blocker, kokain, digoxin, aspirin, asetominophen) dapat menyebabkan aritmia. Tercekik, trauma inhalasi, tersengat listrik, reaksi alergi yang hebat (anafilaksis), trauma hebat misalnya kecelakaan kendaraan bermotor dan keracunan (Suharsono, T., & Ningsih, D. K., 2012).
3. Manifestasi klinis cardiac arrest
Gejala yang paling umum adalah munculnya rasa tidak nyaman atau nyeri dada yang mempunyai karakteristik seperti perasaan tertindih yang tidak nyaman, diremas, berat, sesak atau nyeri. Lokasinya ditengah dada di belakang sternum. Menyebar ke bahu, leher, rahang bawah atau kedua lengan dan jarang menjalar ke perut bagian atas. Bertahan selama lebih dari 20 menit. Gejala yang mungkin ada atau mengikuti adalah berkeringat, nausea atau mual, sesak nafas (nafas pendek-pendek), kelemahan, tidak sadar (Suharsono & Ningsih, 2012). 4. Patofisiologi cardiac arrest
Kebanyakan korban henti jantung diakibatkan oleh timbulnya aritmia yaitu fibrilasi ventrikel (VF), takhikardi ventrikel (VT), aktifitas listrik tanpa nadi (PEA), dan asistol (Kasron, 2012).
a. Fibrilasi ventrikel
Merupakan kasus terbanyak yang sering menimbulkan kematian mendadak, pada keadaan ini jantung tidak dapat melakukan fungsi kontraksinya, jantung hanya mampu bergetar saja. Pada kasus ini tindakan yang harus segera dilakukan adalah CPR dan DC shock atau defibrilasi.
b. Takhikardi ventrikel
Mekanisme penyebab terjadinya takhikardi ventrikel biasanya karena adanya gangguan otomatisasi (pembentukan impuls) ataupaun akibat adanya gangguan konduksi. Frekuensi nadi yang cepat akan menyebabkan fase pengisian ventrikel kiri akan memendek, akibatnya pengisian darah ke ventrikel juga berkurang sehingga curah jantung akan menurun. VT dengan keadaan hemodinamik stabil, pemilihan terapi dengan medika mentosa lebih diutamakan. Pada kasus VT dengan gangguan hemodinamik sampai terjadi henti jantung (VT tanpa nadi), pemberian terapi defibrilasi dengan menggunakan DC shock dan CPR adalah pilihan utama.
c. Pulseless Electrical Activity (PEA)
Merupakan keadaan dimana aktifitas listrik jantung tidak menghasilkan kontraktilitas atau menghasilkan kontraktilitas tetapi tidak adekuat sehingga tekanan darah tidak dapat diukur dan nadi tidak teraba.
d. Asistole
Keadaan ini ditandai dengan tidak terdapatnya aktifitas listrik pada jantung, dan pada monitor irama yang terbentuk adalah seperti garis lurus. Pada kondisi ini tindakan yang harus segera diambil adalah CPR.
Gambar 2.1 Algoritma penatalaksanaan henti jantung pada arithmia Sumber : (American Heart Association, 2010)
1. Henti Jantung Tanpa Nadi
a. BLS algoritma: meminta bantuan, lakukan CPR. b. Beri oksigen bila tersedia.
c. Pasang monitor jantung.
2. VF/VT 3. Periksa irama jantung, perlu defibrilasi?
4. Beri 1 kali shock a. Manual biphasic:
ukuran khusus (120-200 J)
b. AED : dng ukuran khusus.
c. Monophasic: 360 J
Lakukan CPR segera
7. Periksa irama jantung, perlu defibrilasi?
5. Periksa irama jantung, perlu defibrilasi?
9. Asistol/PEA
11. Periksa irama jantung, perlu defibrilasi?
10.Lakukan CPR segera sebanyak 5 siklus. Ketika telah tersedia IV/IO, beri vasopresor. Epinephrine 1 mg IV/IO, ulangi setiap 3-5 menit atau beri 1 dosis vasopresin 40
unit IV/IO untuk
menggantikan epinephrine dosis pertama dan kedua. Atropin 1 mg IV/IO untuk asistol atau PEA dng frekuensi lambat, ulangi tiap 3-5 menit (sampai 3 dosis)
8. Lanjutkan CPR , lakukan defibrilasi 1X. Segera mulai lagi CPR setelah pamberian defibrilasi. Berikan bersamaan dng CPR (sebelum/sesudah defibrilasi) amiodrone 300mg IV/IO, kemudian siapkan kemungkinan tambahan 150 mg, atau lidocain 1-1,5 mg/kg BB dosis pertama, kemudian 0,5-0,75 mg/kg (max 3)
6. Lanjutkan pemberian CPR sementara defibrillator di-charge kemudian berikan 1 kali shock.
Segera mulai lagi CPR Setelah pemberian defibrilasi.
Ketika IV/IO tersedia, berikan vasopresor dan lanjutkan CPR (sebelum/sesudah defibrilasi) a. Epinephrine 1 mg IV/IO : Ulangi setiap 3-5 menit.
b. Mungkin bisa diberikan 1 dosis vasopresin 40 unit IV/IO untuk menggantikan dosis pertama dan kedua dari epinephrine.
12.
a.Jika asistol kembali ke box10.
b. Jika ada aktifitas kelistrikan, periksa nadi, jika tidak ada nadi, kembali ke box 1. c. Jika nadi teraba, lanjutkan ke perawatan post resusitasi.
13.
Kembali ke box 4
5. Prognosis
Kematian otak dan kematian permanen dapat terjadi hanya dalam jangka waktu 8 sampai 10 menit dari seseorang tersebut mengalami henti jantung. Kondisi tersebut dapat dicegah dengan pemberian resusitasi jantung paru dan defibrilasi segera (sebelum melebihi batas maksimal waktu untuk terjadinya kerusakan otak), untuk secepat mungkin mengembalikan fungsi jantung normal. Resusitasi jantung paru dan defibrilasi yang diberikan antara 5 sampai 7 menit dari korban mengalami henti jantung, akan memberikan kesempatan korban untuk hidup rata-rata sebesar 30% sampai 45 %. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa dengan penyediaan defibrillator yang mudah diakses di tempat-tempat umum seperti pelabuhan udara, dalam arti meningkatkan kemampuan untuk bisa memberikan pertolongan (defibrilasi) sesegera mungkin, akan meningkatkan kesempatan hidup rata-rata bagi korban cardiac arrest sebesar 64% (American Heart Assosiacion, 2010).
6. Resusitasi Jantung Paru / Cardio Pulmonary Resusitation. a. Pengertian
Resusitasi Jantung Paru (RJP) merupakan suatu metode untuk memberikan bantuan sirkulasi. Resusitasi Jantung Paru (RJP) dapat meningkatkan angka kelangsungan hidup korban yang mengalami henti jantung dengan
mengkombinasikan antara kompresi dada dan nafas buatan untuk memberikan oksigen yang diperlukan bagi kelangsungan fungsi sel tubuh (Suharsono, T., & Ningsih, D. K., 2012).
Resusitasi juga dapat diartikan sebagai suatu upaya untuk menghidupkan kembali, melalui usaha untuk mencegah suatu episode henti jantung berlanjut menjadi kematian biologis (Cadogan, 2010).
b. Prosedur Cardio Pulmonary Resusitation
Pada penanganan korban cardiac arrest dikenal istilah rantai untuk bertahan hidup (chain of survival) : cara untuk menggambarkan penanganan ideal yang harus diberikan ketika ada kejadian cardiac arrest. Jika salah satu dari rangkaian ini terputus, maka kesempatan korban untuk bertahan hidup menjadi berkurang, sebaliknya jika rangkaian ini kuat maka korban mempunyai kesempatan besar untuk bisa bertahan hidup.
Rantai kehidupan (chain survival) terdiri dari beberapa tahap berikut ini (AHA, 2010):
1) Mengenali tanda-tanda cardiac arrest dan segera mengaktifkan panggilan gawat darurat (Emergency Medical Services).
2) Segera melakukan RJP dengan tindakan utama kompresi dada.
3) Segera melakukan defibrilasi jika diindikasikan.
4) Segera memberi bantuan hidup lanjutan (advanced life support).
5) Melakukan perawatan post cardiac arrest .
Prosedur CPR menurut American Heart Association 2010 adalah terdiri dari circulation, airway dan breathing : 1) Memastikan kondisi lingkungan sekitar aman bagi
penolong.
2) Memastikan kondisi kesadaran pasien.
Penolong harus segera mengkaji dan menentukan apakah korban sadar/ tidak. Penolong harus menepuk atau menggoyang bahu korban sambil bertanya dengan jelas: ‘Hallo, Pak/ Bu! Apakah anda baik-baik saja?’. Jangan menggoyang korban dengan kasar karena dapat mengakibatkan cedera. Juga hindari gerakan leher yang tidak perlu pada kejadian cedera kepala dan leher. 3) Mengaktifkan panggilan gawat darurat (Emergency
Medical Services)
Jika korban tidak berespon, segera panggil bantuan dan segera menghubungi 118 untuk memanggil ambulans. Jika ada orang lain disekitar korban, minta orang
tersebut untuk menelpon ambulans dan ketika menelpon memberitahukan hal-hal berikut: lokasi korban nomor telpon yang anda pakai, apa yang terjadi pada korban, jumlah korban, minta ambulans segera datang dan tutup telepon hanya jika diminta oleh petugas.
4) Memastikan posisi pasien tepat
Agar resusitasi yang diberikan efektif maka korban harus berbaring pada permukaan yang datar, keras, dan stabil. Jika korban dalam posisi tengkurap atau menyamping, maka balikkan tubuhnya agar terlentang. Pastikan leher dan kepala tersangga dengan baik dan bergerak bersamaan selam membalik pasien.
Fase-fase Resusitasi Jantung Paru sesuai Algoritma AHA (2010) adalah :
1) Fase I: Tunjangan Hidup Dasar (Basic Life Support) a) C (Circulation)
Mengkaji nadi/ tanda sirkulasi: Ada tidaknya denyut jantung korban/pasien dapat ditentukan dengan meraba arteri karotis di daerah leher korban/ pasien, dengan dua atau tiga jari tangan (jari telunjuk dan tengah) penolong dapat meraba pertengahan leher sehingga teraba trakhea, kemudian kedua jari digeser ke bagian sisi kanan
atau kiri kira-kira 1–2 cm raba dengan lembut selama 5–10 detik. Jika teraba denyutan nadi, penolong harus kembali memeriksa pernapasan korban dengan melakukan manuver tengadah kepala topang dagu untuk menilai pernapasan korban/ pasien. Jika tidak bernapas lakukan bantuan pernapasan, dan jika bernapas pertahankan jalan napas.
Melakukan kompresi dada: Jika telah dipastikan tidak ada denyut jantung, selanjutnya dapat diberikan bantuan sirkulasi atau kompresi jantung luar, dilakukan dengan teknik sebagai berikut : (1) Menentukan titik kompresi (center of chest):
Cari possesus xypoideus pada sternum dengan tangan kanan, letakkan telapak tangan kiri tepat 2 jari diatas posseus xypoideus.
(2) Melakukan kompresi dada: Kaitkan kedua jari tangan pada lokasi kompresi dada, luruskan kedua siku dan pastikan mereka terkunci pada posisinya, posisikan bahu tegak lurus diatas dada korban dan gunakan berat badan anda untuk menekan dada korban sedalam minimal 2 inchi (5 cm), lakukan kompresi 30x dengan
kecepatan minimal 100x/menit atau sekitar 18 detik. (1 siklus terdiri dari 30 kompresi: 2 ventilasi). Lanjutkan sampai 5 siklus CPR, kemudian periksa nadi carotis, bila nadi belum ada lanjutkan CPR 5 siklus lagi. Bila nadi teraba, lihat pernafasan (bila belum ada upaya nafas) lakukan rescue breathing dan cek nadi tiap 2 menit.
b) A (Airway)
Tindakan ini bertujuan mengetahui ada tidaknya sumbatan jalan napas oleh benda asing. Buka jalan nafas dengan head tilt-chin lift/ jaw thrust.
Jika terdapat sumbatan harus dibersihkan dahulu, kalau sumbatan berupa cairan dapat dibersihkan dengan jari telunjuk atau jari tengah yang dilapisi dengan sepotong kain (fingers sweep), sedangkan sumbatan oleh benda keras dapat dikorek dengan menggunakan jari telunjuk yang dibengkokkan. Mulut dapat dibuka dengan teknik Cross Finger, dimana ibu jari diletakkan berlawanan dengan jari telunjuk pada mulut korban.
c) B (Breathing)
Bantuan napas dapat dilakukan melalui mulut ke mulut, mulut ke hidung atau mulut ke stoma (lubang yang dibuat pada tenggorokan) dengan cara memberikan hembusan napas sebanyak 2 kali hembusan, waktu yang dibutuhkan untuk tiap kali hembusan adalah 1,5–2 detik dan volume udara yang dihembuskan adalah 7000–1000ml (10ml/kg) atau sampai dada korban/pasien terlihat mengembang. Konsentrasi oksigen yang dapat diberikan hanya 16 – 17%. Penolong juga harus memperhatikan respon dari pasien setelah diberikan bantuan napas.
Cara memberikan bantuan pernapasan:
(1) Mulut ke mulut: penolong harus mengambil napas dalam terlebih dahulu dan mulut penolong harus dapat menutup seluruhnya mulut korban dengan baik agar tidak terjadi kebocoran saat menghembuskan napas dan juga penolong harus menutup lubang hidung pasien dengan ibu jari dan jari telunjuk untuk mencegah udara keluar kembali dari hidung. Volume udara yang diberikan pada kebanyakkan orang dewasa
adalah 700–1000ml (10ml/kg). Volume udara yang berlebihan dan laju inpirasi yang terlalu cepat dapat menyebabkan udara memasuki lambung, sehingga terjadi distensi lambung.
Setelah nafas dan nadi korban ada, jika tidak ada kontraindikasi untuk mencegah kemungkinan jalan nafas tersumbat oleh lidah, lender, atau muntah berikan posisi recovery pada korban dengan langkah sebagai berikut (Suharsono, T., & Ningsih, D. K., 2012):
(1) Letakkan tangan korban yang dekat dengan anda dalam posisi lengan lurus dan telapak tangan menghadap keatas kearah paha korban.
(2) Letakkan lengan yang jauh dari anda menyilang diatas dada korban dan letakkan punggung tangannya menyentuh pipinya.
(3) Dengan menggunakan tangan anda yang lain, tekuk lutut korban yang jauh dari anda sampai membentuk sudut 90˚.
(4) Gulingkan korban kearah penolong.
(5) Lanjutkan untuk memonitor denyut nadi korban, ‘tanda sirkulasi’, dan pernafasan tiap 2 menit hingga bantuan datang.
2) Fase II: Tunjangan Hidup Lanjutan (Advance Life Support)
Fase kedua merupakan fase yang dilakukan setelah tunjangan hidup dasar (basic life support) berhasil diberikan. Fase ini terdiri dari:
a) D (Drug): pemberian obat-obatan termasuk cairan untuk memperbaiki kondisi korban atau pasien. b) E (ECG) : melakukan pemeriksaan diagnosis
elektrokardiografis secepat mungkin untuk mengetahui fibrilasi ventrikel.
3) Fase III: Tunjangan Hidup Terus-Menerus (Prolonged Life Support)
a) G (Gauge): pengukuran dan pemeriksaan untuk monitoring penderita secara terus menerus, dinilai, dicari penyebabnya dan kemudian mengobatinya. b) H (Head): tindakan resusitasi untuk menyelamatkan
otak dan sistem saraf dari kerusakan lebih lanjut akibat terjadinya henti jantung, sehingga dapat dicegah terjadinya gangguan neurologic yang permanen.
c) I (Intensive Care): perawatan intensif di ICU, meliputi: tunjangan ventilasi (trakheostomi), pernafasan dikontrol terus menerus, sonde lambung.
c. Obat Emergency atau Resusitasi
1) Menurut Philladelpia (2010) prinsip obat emergency adalah :
a) Koreksi hipoksia.
b) Mempertahankan sirkulasi spontan pada kondisi tekanan darah yang adekuat.
c) Membantu mengoptimalkan fungsi jantung. d) Menghilangkan nyeri.
e) Koreksi asidosis.
f) Mengatasi gagal jantung kongestif.
2) Obat-obat resusitasi jantung paru dan obat-obat perbaikan sirkulasi.
a) Oksigen.
b) Meningkatkan tekanan darah : epinefrin atau adrenalin, vasopressin, dopamine.
c) Meningkatkan denyut jantung atau nadi (heart rate) : atropin.
d) Menurunkan atau mengatasi aritmia supraventrikel : adenosine, dilteazem, amiodaron.
e) Obat-obatan untuk IMA : morfin, aspirin, fibrinolitik.
2.2.2 Pengetahuan
1. Pengertian Pengetahuan
Menurut Notoatmojo yang dikutip oleh (Wawan & Dewi, 2011), pengetahuan merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan sangat erat hubunganya dengan pendidikan, dimana bahwa dengan pendidikan yang tinggi maka orang tersebut akan semakin luas pola pengetahuanya (Wawan & Dewi, 2011). Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (ovent behavior) (Wawan & Dewi, 2011).
2. Tingkat Pengetahuan
Ada 6 tingkat pengetahuan seseorang menurut Notoatmojo (2003), yaitu:
a. Tahu (know) diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya.
b. Memahami (Comprehention) diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.
c. Aplikasi (Application) diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarya.
d. Analisis (Analysis) adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain.
e. Sintesa (Syntesis) adalah suatu kemampuan untuk meletakkan atau menggabungkan bagianbagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
f. Evaluasi (Evaluation) berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek tertentu.
3. Faktor – faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan perawat
Mubarak & Chayatin (2009) menyatakan faktor – faktor yang berpengaruh terhadap pengetahuan meliputi tingkat pengetahuan perawat diantaranya :
a. Usia
Pada umumnya semakin dewasa seseorang, tingkat pengetahuan CPR akan semakin meningkat.
b. Tingkat pendidikan
Tingkat pendidikan menentukan mudah tidaknya seseorang menyerap dan memahami pengetahuan yang mereka peroleh sehingga akan semakin mudah dalam menerima informasi.
c. Pengalaman kerja (lama kerja)
Pengalaman merupkan sumber pengetahuan, hasil interaksi dengan lingkungan (kerja) yang dapat meningkatkan pengetahuan pada sesuatu.
d. Pelatihan kegawat daruratan yang pernah diikuti
Pendidikan dan pelatihan dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang, sehingga seseorang dapat melakukan sesuatu dengan lebih cepat dalam melakukan cardio pulmonary resuscitation.
e. Informasi
Meskipun seseorang memiliki pendidikan yang rendah tetapi jika ia mendapat informasi yang baik dari berbagai media maka hal itu akan meningkatkan pengetahuan.
2.2.3 Pengalaman
1. Pengertian Pengalaman
Menurut kamus besar bahasa indonesia (2010) pengalaman diartikan sebagai sesuatu yang pernah (dijalani, dirasai, ditanggung). Menurut Notoatmodjo (2010) pengalaman merupakan guru yang baik, yang menjadi sumber pengetahuan dan juga merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. Pengalaman dapat diartikan juga sebagai memori episodik, yaitu memori yang menerima dan menyimpan
peristiwa-peristiwa yang terjadi atau dialami individu pada waktu dan tempat tertentu, yang berfungsi sebagai referensi otobiografi (Syah, 2008).
2. Indikator dari Pengalaman
Indikator pengalaman kerja menurut Foster 2001 dalam Mulyawati (2008) yaitu lama waktu atau masa kerja, tingkat pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki, pengetahuan merujuk pada konsep, prinsip, prosedur, kebijakan atau informasi lain yang dibutuhkan oleh karyawan, penguasaan terhadap pekerjaan dan peralatan.
Ukuran tentang lama waktu atau masa kerja yang telah ditempuh seseorang dapat memahami tugas – tugas suatu pekerjaan dan telah melaksanakan dengan baik. Pengetahuan juga mencakup kemampuan untuk memahami dan menerapkan informasi pada tanggung jawab pekerjaan. Sedangkan keterampilan merujuk pada kemampuan fisik yang dibutuhkan untuk mencapai atau menjalankan suatu tugas atau pekerjaan. Tingkat penguasaan seseorang dalam pelaksanaan aspek-aspek teknik peralatan dan teknik pekerjaan (Efendi & Makhfudli, 2009).
Perawat dituntut untuk memiliki kompetensi dalam menangani korban yang membutuhkan bantuan hidup dasar. Salah satu upaya dalam peningkatan kompetensi tersebut
dilakukan melalui pelatihan bantuan hidup dasar, pelatihan ini merupakan pelatihan dasar bagi perawat dalam menangani korban yang memerlukan bantuan hidup dasar akibat trauma dan gangguan kardiovaskuler. Penanganan masalah tersebut ditujukan untuk memberikan bantuan hidup dasar sehingga dapat menyelamatkan nyawa dan meminimalisir kerusakan organ serta kecacatan penderita (Yanti Bala, 2014).
2.2.4 Perilaku
1. Pengertian Perilaku
Perilaku adalah aksi seseorang individu terhadap reaksi rangsangan tertentu dari hubungannya dengan lingkungan (Suryani dalam Susilo, 2011). Perilaku adalah suatu perbuatan atau tindakan seseorang terhadap suatu respon dan dijadikan kebiasaan karena adanya nilai yang diyakin (Mubarak, 2012). Dari kedua definisi perilaku tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa perilaku adalah suatu respon yang didapat dari lingkungan dan menjadi kebiasaan seseorang, baik dapat diamati secara sadar maupun tidak sadar, sehingga respon yang didapat dari seseorang dalam berperilaku bermacam-macam.
2. Pengukuran Perilaku
Cara mengukur perilaku ada 2 cara (Notoatmodjo, 2010) yaitu perilaku dapat diukur secara langsung yakni wawancara
terhadap kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan beberapa jam, hari, bulan yang lalu (recall) dan perilaku yang diukur secara tidak langsung yakni, dengan mengobservasi tindakan atau kegiatan responden.
Benyamin Bloom (1908) yang dikutip Notoatmodjo (2010), membagi perilaku manusia ke dalam 3 domain ranah atau kawasan yaitu kognitif (cognitive), afektif (affective) dan psikomotor (psychomotor). Dalam perkembangannya, teori ini dimodifikasi untuk pengukuran hasil pendidikan kesehatan yakni pengetahuan, sikap dan praktik atau tindakan (Notoatmodjo, 2010).
3. Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku
Faktor yang dapat mempengaruhi perilaku adalah faktor predisposisi, faktor pemungkin (enabling factors), dan faktor penguat (reinforcing factors). Faktor predisposisi merupakan faktor yang mempermudah perilaku seseorang atau masyarakat yaitu pengetahuan dan sikap seseorang terhadap apa yang akan dilakukan. Faktor pemungkin (enabling factors) terdiri dari faktor fasilitas, sarana atau prasarana yang memfasilitasi terjadinya perilaku seseorang atau masyarakat. Faktor penguat (reinforcing factors) adalah tokoh masyarakat, peraturan, undang-undang dan surat keputusan pejabat pemerintah maupun
faktor penguat dalam seseorang atau masyarakat untuk berperilaku (Notoadmojo, 2010).
4. Teori Terjadinya Perilaku
Perilaku manusia tidak dapat lepas dari keadaan individu itu sendiri dan lingkungan dimana individu itu berada. Perilaku manusia didorong oleh motif tertentu sehingga manusia berperilaku (Ircham, 2005) dalam Hasanah (2010).
5. Bentuk Perilaku
Secara lebih operasional perilaku dapat diartikan suatu respon organisme atau seseorang terhadap rangsangan (stimulus) dari luar subjek tersebut. Respon ini berbentuk dua macam (Suryani dalam Susilo 2011) yakni :
a. Bentuk Pasif
Respons internal yaitu yang terjadi di dalam diri manusia dan tidak secara langsung dapat terlihat oleh orang lain, misalnya berpikir, tanggapan atau sikap batin dan pengetahuan.
b. Bentuk Aktif
Perilaku itu jelas dapat diobservasi secara langsung, oleh karena perilaku mereka ini sudah tampak dalam bentuk tindakan nyata disebut overt behavior.
6. Klasifikasi Perilaku
Beberapa klasifikasi perilaku menurut beberapa ahli, antara lain:
a. Berdasarkan teori “S-O-R” dalam Notoatmodjo (2010) maka perilaku manusia dapat dikelompokkan menjadi 2, yaitu:
1) Perilaku Tertutup (Covert behavior)
Perilaku tertutup terjadi bila respons terhadap stimulus tersebut masih belum dapat diamati orang lain (dari luar) secara jelas. Respons tersebut masih terbatas dalam bentuk perhatian, perasaan, persepsi, pengetahuan dan sikap terhadap stimulus yang bersangkutan.
2) Perilaku terbuka (Overt Behavior)
Perilaku terbuka ini terjadi bila respons terhadap stimulus tersebut sudah berupa tindakan, atau praktik tersebut dapat diamati orang lain.
2.2.5 Konsep Kesiapan
1. Pengertian
Kesiapan adalah keseluruhan kondisi seseorang yang membuatnya siap untuk memberi respon atau jawaban dengan cara tertentu terhadap suatu situasi. Penyesuaian kondisi pada
suatu saat akan berpengaruh atau kecenderungan untuk memberi respon (Slameto, 2008). Seorang ahli bernama Cronbach memberikan pengertian tentang kesiapan sebagai segenap sifat atau kekuatan yang membuat seseorang dapat bereaksi dengan cara tertentu. Kemampuan seseorang dalam kesiapan terdiri dari: mempunyai kemampuan dasar umum dan kemampuan untuk menangani hal -hal yang bersifat khusus, memberikan perawatan yang aman kepada klien, mampu menghadapi atau bertahan dengan kenyataan sekarang dan kemungkinan-kemungkinan kedepan, serta mempunyai keseimbangan antara pelaksanaan, pengetahuan dan berpikir.
Perawat dituntut tidak hanya siap dalam kondisi stabil dan sesuatu yang sudah biasa saja, tetapi juga dalam hal-hal bersifat khusus yang memerlukan konsentrasi tinggi dan keadaan yang sedang berubah dan baru. Pemberian perawatan yang aman kepada klien merupakan suatu komponen yang penting dari praktek keperawatan. Seorang perawat yang dikatakan siap mempunyai alasan yang menyakinkan kenapa dia memutuskan untuk melakukan suatu tindakan keperawatan dan mendemonstrasikan kemampuan untuk melaksanakan praktek keperawatan sesuai dengan etika, penuh kehatihatian, dan aman (Yanti Bala, 2014).
Perawat harus bisa menunjukkan bahwa mereka mampu bekerja (berfungsi) dengan realitas yang ada sekarang, dengan segala keterbatasannya, dan mereka juga harus bisa beradaptasi terhadap suatu yang baru dan perubahan-perubahan yang terjadi dalam dunia kesehatan. Perawat mempunyai dasar pengetahuan yang baik untuk mengenali situasi yang sedang terjadi dan mampu memutuskan kapan mereka memerlukan bantuan jika dibutuhkan. Critical Thinking yaitu kemampuan untuk membuat keputusan yang pasti dan hati-hati tentang kondisi klien, adalah komponen kunci dari kesiapan. Pelaksanaan tindakan keperawatan harus didasari dengan kemampuan untuk berpikir kritis berdasarkan pengetahuan yang cukup dari perawat (Wolff.dkk, 2010).
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesiapan Perawat dalam Menangani Cardiac Arrest.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapan perawat dalam menangani cardiac arrest adalah pengetahuan, pengalaman dan pelatihan atau training. Pengetahuan sangat berhubungan erat dengan kesiapan. Sebagai contoh dalam kondisi seseorang menghadapi pasien cardiac arrest, agar seseorang tersebut mampu mengambil keputusan terhadap apa yang akan dilakukan, maka dia harus mempunyai pengetahuan tentang cardiac arrest, yaitu pada tingkat evaluasi yang
merupakan tingkatan tertinggi dari pengetahuan. Sebagaimana yang dikatakan oleh Notoadmodjo (1993): evaluasi yang merupakan tingkatan tertinggi dari pengetahuan, adalah kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu meteri atau objek, penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria yang telah ada. Kemampuan untuk menilai, kemampuan untuk berfikir kritis dan mengambil keputusan terhadap tindakan sesuai dengan kondisi klien itulah yang disebut kesiapan (Wolff.dkk, 2010).
Pengalaman merupakan faktor penting yang mempengaruhi kesiapan seseorang, dalam arti akan lebih meningkatkan kemampuan seseorang dalam menangani sesuatu (Simanjutak, Payama J. ,2005). Semakin luas pengalaman kerja seseorang, semakin terampil melakukan pekerjaan dan semakin sempurna pola berpikir dan sikap dalam bertindak untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Puspaningsih, A. 2004). Dengan kata lain bahwa seorang yang berpengalaman akan lebih siap bila dihadapkan pada suatu beban masalah yang sama.
Faktor lain yang mempengaruhi kesiapan adalah training. Training yang mempunyai pengertian proses pendidikan jangka pendek yang menggunakan cara dan prosedur yang sistematis dan terorganisir, menurut Sikula dalam (Sumantri, 2010),
bertujuan untuk mengubah perilaku kerja sekelompok pegawai dalam usaha meningkatkan kinerja organisasi (Ivancevich, 2008). Pelatihan yang efektif merupakan pelatihan yang berorientasi proses, dimana organisasi tersebut dapat melaksanakan program-program yang sistematis untuk mencapai tujuan dan hasil yang dicita-citakan. Pelatihan efektif apabila pelatihan tersebut dapat menghasilkan sumber daya manusia yang meningkat kemampuannya, keterampilan dan perubahan sikap yang lebih mandiri.
Simamora (2007), mengukur keefektifan pendidikan dan pelatihan adalah bagaimana reaksi-reaksi atau perasaan partisipan terhadap program, peningkatan pengetahuan, keahlian, dan sikap-sikap yang diperoleh sebagai hasil dari pelatihan, perilaku perubahan-perubahan yang terjadi pada pekerjaan sebagai akibat dari pelatihan, hasil-hasil dampak pelatihan pada keseluruhan yaitu efektivitas organisasi atau pencapaian pada tujuan-tujuan organisasional, perawat yang telah mendapatkan pelatihan penanganan cardiac arrest diharapkan mendapatkan peningkatan pengetahuan, mempunyai keahlian yang lebih meningkat seperti yang diajarkan dalam pelatihan, dan menunjukkan adanya perubahan sikap yang lebih siap bila sewaktu-waktu ada kejadian cardiac arrest di tempat kerjanya.
2.2 Kerangka Teori
Gambar 2.2 Kerangka Teori
Sumber : (Wolff.dkk, 2010), (Notoadmojo, 2010). Faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapan perawat dalam menangani kondisi kegawatan (cardiac arrest) : 1. Pengetahuan penanganan cardiac arrest. 2. Pengalaman menangani cardiac arrest. 3. Pelatihan atau training. Kesiapan Perawat dalam menangani cardiac arrest Dimensi kesiapan :
1. Kemampuan menilai situasi
2. Critical thinking, decision making yang tepat.
3. Pemberian asuhan keperawatan dengan memperhatikan aspek keamanan dan perlindungan. 4. Komunikasi efektif. Penanganan cardiac arrest Faktor yang mempengaruhi perilaku : 1. Faktor predisposisi. 2. Faktor pemungkin (enabling factors). 3. Faktor penguat (reinforcing factors). Perilaku Pengetahuan Faktor yang mempengaruhi perilaku : 1. Faktor predisposisi. 2. Faktor pemungkin (enabling factors). 3. Faktor penguat (reinforcing factors).
2.3 Fokus Penelitian Gambar 2.3 Fokus Penelitian Pengalaman Perawat Faktor Penghambat Penanganan Cardiac Arrest Pengetahuan Perawat Faktor Pendukung
2.4 Keaslian Penelitian Tabel 2.1 Keaslian Penelitian Nama / Tahun Judul Penelitian Metode Hasil Aminuddin (2013) Analisis faktor yang berhubung an dengan kesiapan perawat dalam menangani cardiac arrest di ruangan ICCU dan ICU RSU Anutapura Palu
Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik cros sectional dengan pengambilan sampel total sampling menggunakan kuesioner dan ceklist. Uji statistic menggunakan chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan bermakna antara pengetahuan dengan kesiapan perawat dalam menangani cardiac arrest (p = 0,001), tidak ada hubungan bermakna antara fasilitas dengan kesiapan perawat dalam menangani cardiac arrest (p = 0,301), ada hubungan bermakna pelatihan dengan kesiapan perawat dalam menangani cardiac arrest (p = 0,025). Pengetahuan dan pelatihan berhubungan dengan kesiapan perawat dalam menangani cardiac arrest. Fasilitas tidak berhubungan dengan kesiapan perawat dalam
k k k k k k
menagani cardiac arrest. Diharapkan kepada peneliti lain dapat mengembangkan
penelitian ini dengan variabel yang lain.
Ifa Roifah (2014) Metode cardio pulmonary resuscitati on untuk meningkat kan survival rates pasien post cardiac arrest.
Desain penelitian ini adalah analitik dengan menggunakan pendekatan case-control atau retrospektive study yang kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif yaitu tabel distribusi frekuensi dan nilai mean.
Hasil ini membuktikan
bahwa semakin
seseoarang diberikan jumlah siklus yang sesuai dengan prosedur (5 siklus) maka waktu ketahanan hidupnya akan lebih lama dibandingkan dengan yang tidak diberikan, sehingga dengan demikian terdapat pengaruh pemberian CPR terhadap survival rates pasien cardiac arrest.
38
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1Jenis dan Rancangan Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif dilakukan karena peneliti ingin mengeksplor fenomena-fenomena yang tidak dapat dikuantifikasikan yang bersifat deskriptif seperti proses suatu langkah kerja, formula suatu resep, pengertian-pengertian tentang suatu konsep yang beragam, karakteristik suatu barang dan jasa, gambar-gambar, gaya-gaya, tata cara suatu budaya, model fisik suatu artifak dan lain sebagainya (Satori & Komariah, 2013).
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan fenomenologis, menurut Rieman dalam Santana (2007) penelitian fenomenologi bertujuan untuk menyajikan persepsi berbagai orang yang menjadi informan di dalam sebuah masalah, melihat bagaimana pengalaman mereka, kehidupan dan tampilan fenomenanya, serta mencari pemaknaan dari berbagai orang yang menjadi partisipan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengalaman perawat tentang penanganan cardiac arrest di RSUD Karanganyar. Bertujuan khusus untuk mendeskripsikan pengetahuan perawat tentang penanganan cardiac arrest, mendeskripsikan tindakan perawat dalam penanganan cardiac arrest, mengidentifikasi faktor pendukung perawat dalam penanganan cardiac arrest,
mengidentifikasi faktor penghambat perawat dalam penanganan cardiac arrest.
3.2Tempat dan Waktu Penelitian 3.2.1Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di ruang instalasi gawat darurat (IGD) RSUD Karanganyar.
3.2.2Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada 5 Februari sampai 21 April 2015.
3.3Populasi dan Sampel
Satori & Komariah (2013) menyatakan bahwa populasi dalam penelitian kualitatif lebih tepat disebut sebagai sumber data pada situasi sosial tertentu yang menjadi subjek penelitiannya adalah benda, hal atau orang yang padanya melekat data tentang objek penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah 17 perawat Instalasi Gawat Darurat yang pernah menangani kasus cardiac arrest di RSUD Karanganyar.
Sampel merupakan obyek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2012). Sampel terdiri dari bagian populasi terjangkau yang dapat dipergunakan sabagai subjek penelitian melalui sampling. Sampel sebanyak 1 – 10 orang hingga tercapai saturasi (Afiyanti, 2014). Peneliti mengambil partisipan perawat IGD yang pernah menangani kasus cardiac arrest sebanyak 3 partisipan. Teknik pengambilan sampel dilakukan
menggunakan metode purposive sampling yaitu sampel yang dipilih berorientasi pada tujuan penelitian individu diseleksi atau dipilih secara sengaja karena memiliki pengalaman yang sesuai dengan fenomena yang diteliti sampel ini menetapkan terlebih dahulu kriteria – kriteria inklusi yang telah ditetapkan. Sedangkan sampling adalah proses menyeleksi porsi dari populasi yang dapat mewakili populasi yang ada (Nursalam, 2011). Wawancara akan dihentikan oleh peneliti ketika semua jawaban dari partisipan sudah mencapai saturasi. Saturasi adalah ketika semua jawaban sudah dikatakan benar sama atau jenuh (Sutopo, 2006).
Kriteria inklusi adalah subjek penelitian yang memenuhi syarat sebagai sampel atau persyaratan umum yang harus dipenuhi oleh subjek agar dapat diikutkan dalam penelitian (Sastroasmoro dan Ismael, 2007). Dalam penelitian ini kriteria inklusi sendiri adalah:
1) Perawat berpendidikan minimal D III Keperawatan.
2) Perawat yang telah bekerja lebih dari 3 tahun di Instalasi Gawat Darurat. 3) Perawat yang memiliki sertifikat pelatihan BTCLS atau PPGD.
4) Perawat yang pernah melakukan penanganan cardiac arrest. 5) Bersedia menjadi partisipan.
3.4Instrumen dan Prosedur Pengumpulan Data
3.4.1Dalam penelitian ini menggunakan dua instrumen penelitian yaitu: 1. Instrumen Inti
Instrumen inti dalam penelitian ini adalah peneliti itu sendiri. Peneliti sebagai instrument inti berusaha untuk meningkatkan kemampuan diri dalam melakukan wawancara. Usaha yang dilakukan berlatih wawancara terlebih dahulu sebelum pengambilan data kepada partisipan (Sugiyono, 2013).
Peneliti menjadi segalanya dari keseluruhan proses penelitian, sebagai perencana, pelaksana, pengumpulan data, analisis, penafsir data, dan pengevaluasi hasil penelitian. Peneliti harus paham metode penelitian, penguasaan teori wawancara terhadap bidang yang diteliti dan peneliti siap untuk memasuki obyek penelitian, baik secara akademik maupun logistiknya. Peneliti adalah seorang mahasiswi dari program studi S-1 Keperawatan STIKes Kusuma Husada Surakarta yang ingin melakukan penelitian dan ingin mengeksplorasi tentang pengalaman perawat dalam menangani kasus cardiac arrest di RSUD Karanganyar.
2. Penunjang penelitian
Pengumpulan data dilakukan dengan tiga teknik yaitu: a. Wawancara mendalam
Sumber data yang sangat penting dalam penelitian kualitatif adalah berupa manusia yang dalam posisi sebagai partisipan.
Informasi dari sumber data ini dikumpulkan dengan teknik wawancara, dalam penelitian kualitatif khususnya dilakukan dalam bentuk yang disebut wawancara mendalam (in-depth interviewing) yaitu wawancara yang dilakukan untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka dimana partisipan yang diwawancara diminta pendapat, ide-idenya, peneliti mencatat apa yang dikemukakan oleh partisipan (Sugiyono, 2013). Wawancara akan dihentikan oleh peneliti ketika semua jawaban dari partisipan jenuh (Sutopo, 2006). Wawancara mendalam dalam penelitian ini menggunakan:
1. Lembar Informed Consent berfungsi sebagai bukti persetujuan dari partisipan dalam penelitian yang dilakukan oleh peneliti.
2. Pedoman wawancara yang berisi 12 pertanyaan tentang penanganan cardiac arrest berfungsi untuk pedoman dalam melakukan wawancara penelitian.
3. Voice Recorder dengan smartphone dengan kapasitas memori 1 Gb yang mampu merekam suara kurang lebih 60 menit sebanyak dua kali perekaman untuk satu partisipannya berfungsi untuk merekam suara semua percakapan yang dilakukan peneliti dan partisipan. Wawancara di lakukan sebanyak dua kali.
b. Observasi tersamar
Teknik observasi tersamar yaitu peneliti melakukan observasi tanpa diketahui partisipan sehingga data yang didapatkan lebih natural (Sugiyono, 2013). Teknik ini digunakan untuk menggali data dari sumber data yang berupa peristiwa, aktivitas, perilaku, tempat atau lokasi dan benda, serta rekaman gambar. Observasi dalam penelitian menggunakan lembar catatan lapangan yang berfungsi untuk catatan peneliti dalam penelitian yang telah dilakukan.
Observasi dapat dilakukan secara langsung ataupun tidak langsung (Sutopo, 2006). Alasan peneliti melakukan observasi adalah untuk menyajikan gambaran realitis perilaku atau kejadian, untuk menjawab pertanyaan dan untuk evaluasi melakukan pengukuran terhadap aspek tertentu serta melakukan umpan balik terhadap pengukuran tersebut (Sumantri, 2011). Peneliti melakukan observasi terus terang atau tersamar yaitu peneliti menyatakan terus terang kepada sumber data bahwa peneliti sedang melakukan penelitian sehingga sumber mengetahui sejak awal sampai akhir tentang aktivitas peneliti, namun dalam suatu saat peneliti juga tidak berterus terang atau tersamar dalam observasi untuk menghindari adanya suatu data yang masih dirahasiakan (Sugiyono, 2013).
c. Dokumentasi
Studi dokumen adalah teknik pengumpulan data dengan mempelajari catatan-catatan mengenai suatu data. Dokumen tertulis merupakan sumber data yang memiliki posisi penting dalam penelitian kualitatif (Sutopo, 2006). Sumber data dan dokumen pada penelitian ini diperoleh dari buku dan jurnal yang membahas mengenai penanganan cardiac arrest. Dari data sumber tersebut kemudian di analisis sehingga dapat memperkuat hasil penelitian peneliti. Dokumentasi penelitian ini menggunakan :
1. Lembar data demografi mengenai kode, nomer partisipan, usia, jenis kelamin, pendidikan terakhir, pengalaman lama kerja di Instalasi Gawat Darurat dan pelatihan yang pernah diikuti.
2. Alat tulis berfungsi untuk menulis dan mencatat segala sesuatu yang penting dalam penelitian.
3. Bukti penelitian mengenai inisial perawat, diagnosa medis, tindakan dan tanda tangan partisipan.
4. Camera berfungsi untuk mendokumentasikan pembicaraan antara peneliti dengan informan atau sumber data. Dengan adanya foto ini, maka dapat meningkatkan keabsahan penelitian akan lebih terjamin, karena peneliti betul-betul melakukan pengumpulan data. Camera yang digunakan
adalah camera handphone 5 megapixel dengan kapasitas memory 4 Gb.
3.4.2Prosedur pengumpulan data 1. Tahap persiapan
Pengumpulan data dimulai setelah peneliti menyelesaikan ujian proposal dan diperbolehkan melakukan pengambilan data di lapangan. Peneliti mengurus surat ijin pengambilan data mengenai kriteria inklusi partisipan yang dikeluarkan oleh Program Studi S-1 Keperawatan STIKes Kusuma Husada kepada Kesatuan Bangsa dan Politik (KESBANGPOL) untuk tembusan ke Bupati Karanganyar, Kepala BAPPEDA dan Direktur serta bagian diklat RSUD Karanganyar.
Partisipan yang memenuhi kriteria inklusi kemudian diberikan penjelasan mengenai maksud dan tujuan penelitian serta dampak yang mungkin terjadi pada proses pengumpulan data. Peneliti memberi tahu kepada partisipan bahwa akan dilakukan perekaman wawancara dan pengambilan gambar mengenai pengalaman perawat dalam menangani kasus cardiac arrest. Setelah diberikan penjelasan partisipan diminta kesediaannya untuk menandatangani lembar persetujuan menjadi partisipan. Selanjutnya peneliti dan partisipan membuat kontrak waktu dan tempat untuk proses pengambilan data.
2. Tahap pelaksanaan
Pada tahap pelaksanaan peneliti menyiapkan instrumen inti dan penunjang. Instrumen inti ini disiapkan dengan melatih ketrampilan wawancara kepada perawat yang bukan menjadi partisipan, kemudian peneliti melakukan pengembangan diri terhadap proses wawancara. Sebelum ke tahap wawancara, peneliti mencari data atau dokumentasi angka kejadian kematian kasus cardiac arrest di rekam medik RSUD Karanganyar. Instrumen penunjang yang disiapkan meliputi buku, catatan, bolpoint, pedoman pertanyaan, lembar data demografi, bukti penelitian dan kamera untuk mendokumentasikan gambar pada saat wawancara. Alat perekam yang sudah dipastikan dapat digunakan kembali diperiksa dengan baik. Lembar obsevasi, buku catatan dan bolpoint disiapkan dengan baik kemudian peneliti bertemu dengan partisipan.
Peneliti datang sesuai dengan waktu dan tempat yang telah disepakati sebelumnya dengan partisipan. Peneliti melakukan wawancara secara mendalam (indepth interview) dengan terstruktur. Peneliti menggunakan pedoman pertanyaan yang berisi garis besar pertanyaan yang diajukan kepada partisipan, pertanyaan wawancara dikembangkan dari jawaban partisipan tetapi tidak keluar dari pedoman yang telah dibuat. Partisipan diberikan kebebasan untuk memberikan informasi selengkapnya dan seluas mungkin. Sehingga
pertanyaan dan hasil wawancara yang diperoleh bervarisasi untuk setiap partisipan.
3. Tahap terminasi
Tahap terminasi adalah tahap akhir dari pengumpulan data yang dilakukan terminasi dengan melakukan validasi terhadap data yang telah ditemukan kepada partisipan. Setelah dilakukan pengambilan data wawancara selanjutnya dilakukan observasi guna menyajikan gambaran realistis perilaku atau kejadian, dan untuk memvalidasi hasil wawancara dengan hasil observasi apakah sama dan akan memberikan umpan balik terhadap pengambilan data yang telah dilakukan. Peneliti memperlihatkan hasil transkip wawancara dan intrepetasi peneliti kepada informan, jika informan mengatakan apa yang ditulis peneliti telah sesuai dengan apa yang dimaksud oleh partisipan dan dilakukan terminasi dan ucapan terimakasih telah bersedia berpartisipasi dalam penelitian dan menyampaikan bahwa proses penelitian telah selesai.
3.5 Analisa Data
Analisa data merupakan proses pengumpulan data, mengajukan pertanyaan-pertanyaan dari peneliti dan menulis catatan singkat sepanjang penelitian (Creswell, 2013). Teknik analisa yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan menggunakan metode Colaizzi (Creswell, 2013). Metode Colaizzi dinilai efektif digunakan dalam penelitian ini, dikarenakan dengan
metode Colaizzi fenomena-fenomena dapat terungkap dengan jelas sesuai dengan makna-makna yang di dapat. Adapun langkah-langkah analisa data sebagai berikut :
3.5.1 Membuat deskripsi informan tentang fenomena dari informan dalam bentuk narasi yang bersumber dari wawancara.
3.5.2 Membaca kembali secara keseluruhan deskripsi informasi dari informan untuk memperoleh perasaan yang sama seperti pengalaman informan. Peneliti melakukan 3-4 kali membaca transkip untuk merasakan hal yang sama seperti informan.
3.5.3 Mengidentifikasi kata kunci melalui penyaringan pernyataan informan signifikan dengan fenomena yang diteliti. Pernyataan-pernyataan yang merupakan dan mengandung makna yang sama atau mirip maka pernyataan ini diabaikan.
3.5.4 Memformulasikan arti dari kata kunci dengan cara mengelompokkan kata kunci yang sejenis. Peneliti sangat berhati-hati agar tidak membuat penyimpangan dari pernyataan informan dengan merujuk kembali pada pernyataan yang signifikan. Cara yang perlu dilakukan adalah menelaah kalimat satu dengan yang lain.
3.5.5 Mengorganisasikan arti-arti yang telah teridentifikasi dalam beberapa kelompok tema. Setelah tema-tema terorganisir, peneliti menvalidasi kembali kelompok tema tersebut.
3.5.6 Mengintegrasikan semua hasil penelitian ke dalam suatu narasi yang menarik dan mendalam sesuai dengan topik penelitian.
3.5.7 Mengembalikan semua hasil penelitian pada masing-masing informan lalu diikut sertakan pada diskripsi hasil penelitian.
3.6 Keabsahan Data
Dalam pengujian keabsahan data pada penelitian ini dicapai dengan melakukan pengecekan keabsahan temuan untuk menjamin kepercayaan hasil penelitian. Pada penelitian kualitatif menurut Polit & Beck (2012) mengemukakan yang dapat dicapai untuk mendapat kepercayaan tertentu dengan 4 prinsip, meliputi uji creadibility, transferability (validitas eksternal), dependability (reliabilitas), dan confirmability (obyektivitas). 3.6.1 Creadibility (kepercayaan data)
Kredibilitas data atau ketepatan dan keakuratan suatu data yang dihasilkan dari studi kualitatif menjelaskan derajat atau nilai kebenaran dari data yang dihasilkan termasuk proses analisis data tersebut dari penelitian yang dilakukan. Suatu hasil penelitian dikatakan memiliki kredibilitas yang tinggi atau baik ketika hasil-hasil temuan pada penelitian tersebut dapat dikenali dengan baik oleh partisipannya dalam konteks sosial mereka.
Pada penelitian ini kredibilitas dicapai dengan melakukan validasi kembali hasil wawancara dan catatan lapangan untuk dilihat dan dibaca partisipan apakah ada diantara ungkapan dan pernyataan tidak sesuai dengan maksud partisipan. Partisipan juga diberi kesempatan untuk memberi gambaran yang sebenarnya dirasakan oleh