• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

D. Jenis dan Sumber Data

Dalam penelitian ini, ada beberapa sumber data yang digunakan, yaitu : 1. Data primer, Data primer merupakan data yang diperolah secara

langsung dari para informan, yaitu orang-orang yang mengetahui lebih mendalam dan akurat tentang topik dalam penelitian ini (Al-Uqud, 2017).

Adapun yang menjadi sumber data dalam penelitian ini adalah Petani

23

rumput laut di Desa Bontojai Kecamatan Tamalatea Kabupaten Jeneponto.

2. Data sekunder adalah data-data yang didapatkan dari berbagai sumber yang berfungsi sebagai data pendukung, yang sumbernya diperoleh dari jurnal-jurnal ilmiah serta literatur-literatur lain yang berkaitan dengan topik penelitian ini.

E. Teknik Pengumpulan Data

Untuk mendapatkan data serta keterangan-keterangan yang diperlukan dalam penelitian ini, penulis menggunakan beberapa metode pengumpulan data, yaitu :

1. Observasi (Pengamatan)

Observasi merupakan teknik pengumpulan data dengan cara mengamati objek yang diteliti secara langsung.

2. Wawancara (Interview)

Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara Tanya jawab sambil bertatp muka antara si penanya (pewawancara) dengan si penjawab (responden) dengan menggunakan alat yang dinamakan interview guide (panduan wawancara).

3. Studi Dokumentasi

Studi dokumentasi adalah teknik non interaksi yang dilakukan oleh peneliti agar data yang diperoleh semakin kuat. Secara detail bahan dokumentasi terbagi beberapa macam, yaitu autobiografi, surat-surat pribadi, catatan harian, kliping, dokumen pemerintah maupun swasta, film, foto dan sebagainya.

F. Instrument Penelitian

Adapun instrument penelitian yang digunakan adalah melakukan pengamatan dan pencatatan terhadap apa yang diteliti dengan menggunakan kuesioner, buku catatan, alat rekam, kamera, handphone dan pedoman wawancara.

G. Metode Analisis Data

Dalam penelitian ini, teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif kualitatif dengan menggambarkan atau menganalisa hasil penelitian dengan cara mengembangkan hasil data tersebut kedalam kata-kata. Dimana langkah awal yang dilakukan dalam teknik analisis data deskriptif kualitatif adalah melakukan reduksi data, atau melakukan penyederhanaan data, kemudian setelah melakukan reduksi data, data-data tersebut disajikan dan di verifikasi.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 1. Desa Bontojai

Desa Bontojai merupakan desa yang berpenduduk cukup padat.

Hal ini dapat di lihat dari hasil pendataan yang dilakukan oleh Kader Masyarakat (KPM), tercatat jumlah penduduk Desa Bontojai sekitar 2.758 jiwa, perempuan 1.377 jiwa, laki-laki 1.391 jiwa dari 797 kk.

Jumlah penduduk Desa Bontojai yang begitu banyak merupakan salah satu aset bagi Desa Bontojai dalam hal angkatan kerja yang bisa membangun desanya. Hanya saja skill yang di miliki masyarakat masih belum memadai karena rendahnya pendidikan. Tingkat pendidikan masyarakat pada umumnya hanya sampai pada jenjang menengah pertama, sehingga harapan untuk mengubah desa yeng lebih cerah dan berkembang masih menjadi tantangan yang harus dicarikan solusinya sehingga Desa Bontojai dapat juga berkembang dan bersaing dengan desa-desa yang ada di Kabupaten Jeneponto.

2. Letak Geografis dan Batas Wilayah Desa Bontojai terletak antara :

 Sebelah Selatan berbatasan Desa Bontosunggu

 Sebelah Utara berbatasan Desa Turatea

 Sebelah Barat berbatasan Laut Flores

 Sebelah Timur berbatasan Desa Borongtala

26

Gambar. 4.1 Dena Lokasi Penelitian

Desa Bontojai terdiri dari atas enam (6) dusun yakni

 Dusun I : Bontomanai

 Dsun II : Bontoa

 Dusun III : Bontojai

 Dusun IV : Kassika

 Dusun V : Ujung Batu

 Dusun VI : Bontobaddo 3. Topografi Desa

Desa Bontojai merupakan daerah pesisir dan daerah daratan dengan ketinggian berkisar antara 0-500 km dari permukaan laut. Tiga dusun berada di wilayah pantai dan Dua dusun berada di daerah daratan,dengan luas daerah perkebunan ± 97,41Ha dan luas persawahan 35,00 Ha. Selain daerah perkebunan dan persawahan juga memiliki daerah perikanan yakni laut.

Sekarang ini, masyarakat menjadikan kawasan laut sebagai sumber mata Desa Bontojai

pencaharian ganda selain nelayan, laut juga di jadikan sebagai lahan rumput laut. Luas Desa Bontojai seluruhnya ± 3,6 km/segi.

B. Gambaran Umum Petani Budidaya Rumput Laut Desa Bontojai Pada Obyek Penelitian

Responden dalam penelitian ini adalah para petani budidaya rumput laut Kabupaten Jeneponto yang bermukim di Kecamatan Tamalatea Desa Bontojai sebagai salah satu daerah pesisir di Kabupaten Jeneponto.

Responden pada penelitian ini diambil secara acak di beberapa Dusun di Desa Bontojai yang berkerja sebagai petani budidaya rumput laut.

Karakteristik responden yang di bahas dalam penelitian ini meliputi karakter sosial ekonomi masyarakat yang bekerja sebagai petani budidaya rumput laut di Desa Bontojai. Adapun sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 40 orang.

1. Modal

Distribusi responden berdasarkan modal petani budidaya rumput laut Desa Bontojai dapat dilihat pada Tabel berikut:

Tabel 4.1 Distribusi Responden Berdasarkan Modal Petani Budidaya Rumput Laut Di Desa Bontojai.

Modal Petani Rumput Laut (Rupiah)

Jumlah Persentase (%)

1.000.000-5.000.000 20 50 %

5.000.001-10.000.000 15 37,5 %

10.000.001-15.000.000 5 12,5 %

Total 40 100 %

Sumber : Data primer kuisioner penelitian

Dapat dilihat dari Tabel 1.1 bahwa modal petani rumput laut di Desa Bang Tuohai dapat dikatakan antara Rp1 juta hingga Rp15 juta, dimana petani dengan modal Rp1 juta hingga Rp5 juta merupakan mayoritas. Petani rumput laut di Desa Bontojai masih memiliki modal yang relatif rendah.

Mayoritas responden yang memiliki usahatani rumput laut dengan modal Rp1 juta hingga Rp5 juta adalah 20 orang (50%), disusul petani dengan Rp500.0001 hingga Rp10 juta, sebanyak 15 orang (37,5%), dan petani bermodal Rp10.000.0001 hingga Rp15.000.000 hanya mencakup 5 (12,5%) dari total responden. Jumlah pembudidaya rumput laut dengan modal antara 10.000.001-15.000.000 rupiah sangat kecil, hal ini menunjukkan bahwa pembudidaya rumput laut di desa Bontojai masih sangat sedikit.

2. Hari Orang Kerja (HOK)

Distribusi responden berdasarkan hari orang kerja (HOK) petani budidaya rumput laut di Desa Bontojai dapat dilihat pada Tabel berikut:

Tabel 4.2 Distribusi Responden Berdasarkan Hari Orang Kerja (HOK) Petani Budidaya Rumput Laut Di Desa Bontojai

Hok Petani Rumput Laut (Jam)

Jumlah Persentase (%)

1-10 6 15 %

11-20 31 77,5 %

21-30 3 7,5 %

Total 40 100 %

Sumber : Data primer kuisioner penelitian

Berdasarkan Tabel 1.2, sebaran responden berdasarkan hari kerja (HOK) petani rumput laut di Desa Bontojai menunjukkan bahwa terdapat 6

petani rumput laut yang menghabiskan waktu 1 - 10 jam untuk panen atau 1 - 10 jam dalam produksi Dan 31 petani menghabiskan 11-20 jam dalam proses pendapatan.

Pada saat yang sama, hanya 3 orang petani yang menggunakan waktunya untuk bekerja selama 21-30 jam. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar petani rumput laut di Desa Bontojai menghabiskan 11 hingga 20 jam untuk melakukan budidaya rumput laut dalam proses pendapatannya.

3. Luas lahan

Distribusi responden berdasarkan luas lahan yang digunakan petani budidaya rumput laut Desa Bontojai dapat dilihat pada Tabel 1.3 berikut:

Tabel 4.3 Distribusi Responden Berdasarkan Luas Lahan Petani Budidaya Rumput Laut Di Desa Bontojai

Luas Lahan Petani Rumput Laut (M2)

Jumlah Persentase (%)

1.000-5.000 25 62,5 %

5.001-10.000 12 30 %

10.001-15.000 3 7,5 %

Total 40 100 %

Sumber : Data primer kuisioner penelitian

Berdasarkan Tabel 1.3, sebaran responden berdasarkan luas lahan yang digunakan oleh pembudidaya rumput laut di Desa Bontojai terdapat 25 pembudidaya rumput laut dengan luas lahan 1.000-5.000 M2, dan pembudidaya rumput laut dengan luas lahan 1.000 Luas tanah antara -5.000 M2 antara 5.001-10.000 M2, ada sebanyak 25 orang dan 12 orang. Sementara itu, terdapat 3 petani rumput laut dengan luas lahan

10.000 hingga 15.000 M2. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar petani rumput laut di Desa Bontojai hanya memiliki lahan yang digunakan untuk menanam rumput laut seluas 1.000-5.000 M2.

C. Lembaga Pemasaran Rumput Laut Desa Bontojai

Lembaga pemasaran yang terlibat dalampemasaran rumput laut di desa Bontojai adalah :

1. Produsen adalah petani yang membudidayakan rumput laut di pantai (pesisir). Lahan budidaya rumput laut di laut lepas dikuasai oleh negara, sehingga petani hanya berhak memanfaatkannya. Pembatasan penggunaan lahan tergantung pada jumlah tali yang dimiliki oleh masing-masing petani.Hak penggunaan lahan tidak dimiliki secara permanen dan hanya dikontrol ketika mereka terlibat dalam kegiatan pertanian.

Sebagian hasil produksi rumput laut digunakan kembali sebagai bibit, sebagian dikeringkan dan dijual kepada pedagang. Rumput laut dikeringkan di atas platform atau terpal. Jika cuaca bagus, pengeringan akan memakan waktu sekitar 4 hari.

2. Pedagang perantara adalah orang-orang yang membeli langsung dari petani di desa. Biasanya rumput laut yang dibeli adalah rumput laut yang dikeringkan oleh produsen atau petani rumput laut, dan dikemas dalam karung berisi 60-80 kg rumput laut. Pengepul membeli rumput laut kering dari petani dengan harga Rp. 10.000

3. Pedagang pengumpul adalah pedagang yang membeli rumput laut dari pedagang tengkulak dan juga petani yang umumnya yang berada di Kabupaten Jeneponto (Bontojai). Pedagang pengumpul memiliki modal

besar sehingga mereka dapat menampung sementara rumput laut untuk menunggu harga yang cocok atau harga yang lebih tinggi.

Biasanya melalui beberapa agen pemasaran seperti tengkulak dan pengepul, rantai pemasaran rumput laut kering di lokasi penelitian relatif sederhana. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi lapangan, petani di Desa Bontojai biasanya menjual hasil pertaniannya kepada tengkulak yang ada di desa, karena tidak lagi repot-repot membawa hasil pertanian ke kota pedagang, dan tidak mengeluarkan biaya yang besar, waktu. dan energi.

Proses tawar menawar dilakukan antara petani dan pedagang, namun pada umumnya petani selalu berada dalam situasi sulit, karena pada akhirnya tengkulak dan pengepul yang menentukan harga jual. Tidak ada masalah dengan petani, karena petani dan pedagang sudah saling kenal. Selain itu, petani cenderung langsung menjual produknya karena tertekan oleh kebutuhan finansial keluarganya.

D. Analisis Pemasaran Rumput Laut Desa Bontojai

Analisis Pemasaran menunjukkan bahwa pemsaran rumput laut mulai dari petani sampai diekspor melalui dua saluran yaitu :

1. Petani menjual kepada pedagang tengkulak selanjutnya melalui pedagang pengumpul dan terakhir disalurkan kepada pedagang antar kota.

2. Petani menjual kepada pedagang pengumpul dan selanjutnya disalurkan ke pedagang antar kota.

Gambar 4.2 Saluran Pemasaran Dari Petani Rumput Laut Desa Bontojai

E. Analisis Pendapatan Rumput Laut Desa Bontojai

Distribusi responden berdasarkan pendapatan petani budidaya rumput laut Desa Bontojai dapat dilihat pada Tabel 1.4 berikut:

Tabel 4.4 Distribusi Responden Berdasarkan Pendapatan Petani Budidaya Rumput Laut Di Desa Bontojai

Pendapatan Petani Rumput Laut (Rp

Jumlah Persentase (%)

1.000.000-12.000.000 30 75 %

12.000.001-24.000.000 8 20 %

24.000.001-36.000.000 2 5 %

Total 40 100 %

Sumber : Data primer kuisioner penelitian

Berdasarkan tabel 1.4 distribusi responden berdasarkan pendapatan petani budidaya rumput laut Desa Bontojai menunjukkan bahwa pendapatan petani budidaya rumput laut antara Rp 1.000.000 – Rp 12.000.000 paling

Petani

Pedagang Tengkulak

Pedagang Pegumpul

Pedagang Antar Kota

Pedagang Antar Kota Pedagang Pegumpul

Petani

banyak dibandingkan dengan yang lainnya yaitu sebanyak 30 orang, diikuti petani budidaya rumput laut yang pendapatannya antara Rp 12.000.001 – Rp 24.000.000 sebanyak 8 petani. Sedangkan petani budidaya yang memiliki pendapatan Rp 24.000.001 – Rp 36.000.000 hanya sebanyak 2 orang. Hal ini menggambarkan bahwa petani budidaya rumput laut di Desa Bontojai sebagian besar memiliki pendapatan hasil budidaya rumput laut hanya berkisar antara Rp 1.000.000 – Rp 12.000.000 persatu kali proses pendapatan.

Tabel 4.5 Saluran Pendapatan Rantai Pasok I Petani Budidaya Rumput Laut Di Desa Bontojai

Rantai Pasok Pendapatan Selisih

Petani Rp. 16.000/Kg Rp. 1.000/Kg

Pedagang Tengkulak Rp. 17.000/Kg Rp. 1.000/Kg Pedagang Pengumpul Rp. 18.500/Kg Rp. 1.500/Kg Pedagang Antar Kota Rp. 20.500/Kg Rp. 2.000/Kg

Sumber : Data primer kuisioner penelitian

Tabel 4.6 Saluran Pendapatan Rantai Pasok II Petani Budidaya Rumput Laut Di Desa Bontojai

Rantai Pasok Pendapatan Selisih

Petani Rp. 17.000/Kg Rp. 1.500/Kg

Pedagang Pengumpul Rp. 18.500/Kg Rp. 1.500/Kg Pedagang Antar Kota Rp. 20.500/Kg Rp. 2.000/Kg

Sumber : Data primer kuisioner penelitian

1. Pembahasan Saluran Pendapatan Rantai Pasok I dan II Petani Budidaya Rumput Laut di Desa Bontojai

Adapun saluran pendapatan sesuai rantai pasok I dan II memiliki perbedaan , dimana rantai pasok I petani menjual kepada pedagang tengkulak selanjutnya melalui pedagang pengumpul dan terakhir disalurkan kepada pedagang antar kota. Memiliki selisih harga pendapan dari petani sampai kepedagang antar kota yaitu Rp. 1.000/kg sampai Rp.

2.000/kg. Sedangkan saluran pendapatan rantai pasok II petani menjual kepada pedagang pengumpul dan selanjutnya disalurkan ke pedagang antar kota. Memiliki selisih harga pentapatan dari petani sampai kepedagang antar kota yaitu Rp. 1.500/kg sampai Rp. 2.000/kg.

Kelebihan saluran pendapatan rantai pasok I yaitu petani mudah menyalurkan hasil panennya kepedagang tengkulak sebab petani yang berada pada rantai pasok pertama itu terikat pada pedagang tengkulak. Sedangkan kelebihan saluran pendapatan rantai pasok II yaitu petani memiliki kebebasan menyalurkan hasil panennya kepedagang pengumpul ataupun kepedagang antar kota sebab petani di saluran pendapatan di rantai pasok II ini mereka tidak terikat seperti petani di saluran pendapatan di rantai pasok I.

Tabel 4.7 Selisih Saluran Pendapatan Rantai Pasok I dan II Petani Budidaya Rumput Laut Di Desa Bontojai

Rantai Sumber : Data primer kuisioner penelitian

2. Modal Terhadap Pendapatan Petani Budidaya Rumput Laut di Desa Bontojai

Tabel 4.8 Tabulasi Silang Antara Modal Terhadap Pendapatan Petani Budidaya Rumput Laut di Desa Bontojai

Modal Petani Rumput Laut

(Rupiah)

Pendapatan Per Panen (Rupiah) Total

Sumber : Data primer kuisioner penelitian

Berdasarkan tabel 1.5 menunjukkan bahwa sebagian besar petani budidaya rumput laut di Desa Bontojai yang memiliki modal antara Rp 1.000.000 – Rp 5.000.000 dapat menerima pendapatan hasil budidaya rumput laut antara Rp 1.000.000 – Rp 12.000.000 per panen yaitu sebanyak 20 orang dan petani budidaya rumput laut yang memiliki modal antara Rp 5.000.001 – Rp 10.000.000 yang hanya memperoleh pendapatan Rp 1.000.000 – Rp 12.000.000 sebanyak 6 orang. Petani yang memiliki modal Rp 5.000.001 – Rp 10.000.000 yang memperoleh pendapatan antara Rp 12.000.001 – Rp 24.000.000 per panen sebanyak 10 orang dan ada pula petani yang hanya memperoleh pendapatan Rp 16.000.001 – Rp 24.000.000 padahal memiliki modal yang cukup besar antara Rp 10.000.001 – Rp 15.000.000 sebanyak 2 orang. Sedangkan

petani yang memperoleh pendapatan antara Rp 24.000.001 – Rp 36.000.000 per panen dengan modal yang dimiliki antara Rp 10.000.001 – Rp 15.000.000 hanya sebanyak 2 orang.

Adapun pendapatan rata-rata petani rumput laut adalah:

a. Penerimaan Rata-rata Rp. 10.000.000.

b. Pengeluaran

1. Biaya Tetap Rata-rata

 Penyusutan Perahu Rp. 85.000

 Penyusutan Pelampung Rp. 45.000

 Penyusutan Tali ris Rp. 50.000 Sub Total Biaya tetap Rp. 180.000 2. Biaya Variabel Rata-rata

 Tenaga Keja Rp. 500.000

 Bibit Rp. 2.000.000

 BBM Rp. 705.000

 Tali Rafia Rp. 200.000

Sub total biaya variabel Rp. 3.405.000 Total biaya Rp. 3.585.000

3. Pendapatan Petani Rp. 7.500.000

Dari analisis diatas menunjukkan pendapatan rata-rata usaha tani rumput laut adalah Rp. 7.500.000 perpanen untuk masa 4-6 minggu (30-50 hari). Dengan pendapatan sebesar itu petani rumput laut di desa bontojai sdah cukup mampu untuk mencukupi kebutuhan keluarga, serta memberikan kebahagiaan dan kesejahteraan bagi sebagian keluarga usaha tani rumput laut. Sehingga diperlukan keseriusan dalam mengelolah usaha tani rumput

laut, agar usaha tani rumput laut di desa Bontojai sudah menjadi mata pencarian pokok, dan bisa memberikan kebahagiaan dan kesejahteraan bagi masyarakat di desa Bontojai.

F. Pembahasan

1. Pengaruh Hubungan Kerja Terhadap Peningkatan Penghasilan Petani Rumput Laut Desa Bontojai

Untuk melihat pengaruh hubungan kerja terhadap apeningkatan penghasilan rumput laut dapat kita lihat dari :

1. Biaya Tanaman Selama Pemeliharaan

Biaya-biaya yang termasuk dalam biaya selama pemeliharaan tanaman rumput laut dalam sekali tanam sampai 3.5 jutaan yang dikeluarkan oleh petani.

2. Bibit

Bibit adalah bahan yang tumbuh selama produksi budidaya rumput laut. Jumlah dan kualitas benih yang digunakan akan mempengaruhi pertumbuhan dan hasil rumput laut. Sebagian benih yang digunakan dalam budidaya rumput laut jenis ini diperoleh dari hasil penanaman sebelumnya, sedangkan sebagian lagi diperoleh dari benih yang dibeli dari petani lain.

3. Peralatan

Peralatan yang digunakan oleh petani turut mempengaruhi usaha tani. Peralatan yang dimaksud adalah semua jenis peralatan usaha tani yang digunakan dalam mengolah usaha tani rumput laut. Jenis peralatan yang digunakan adalah tali plastik, tali rafia, botol minuman plastik (pelampung), pisau dan tikar jemuran.

4. Tenaga Kerja

Tenaga kerja yang digunakan pada usaha tani rumput laut ini adalah tenaga kerja mesin penggerak perahu serta tenaga kerja manusia.

Tenaga kerja yang dihitung berdasarkan jumlah yang dikerjakannya baik persiapan bibit tanaman, penenman, pemeliharaan, pemaneman, sampai kepada penjemuran.

4. Hubungan kerja antara pedagang rumput laut dan petani rumput laut di Desa Bontosunggu

Berdasarkan hasil penelitian, dilihat dari luas lahan yang dimiliki dan pekerjaan yang dilakukan, petani rumput laut yang ada di Desa Bontojai dapat dibagi atas beberapa golongan yaitu:

a. Petani yang memiliki lahan sendiri

b. Petani penggarap, yaitu yang menggarap sendiri lahan yang mereka miliki, atau menggarap lahan orang lain dengan sistema bagi hasil dari keuntungan yang diperoleh setelah panen

c. Buruh tani, yaitu petani yang bekerja dilahan orang lain denagn sistem upah harian atau biasanya mendapatkan uapah rumput laut itu sendiri.

Hubungan yang tercipta antara dua komponen, yaitu petani dan pedagang rumput laut bisa kita sebut sebagai hubungan yang saling menguntungkan antara satu dan yang lainnya terdapat saling ketergantungan. Tampa pedagang sebagai pemilik modal petani akan mengalami kesulitan dalam mengembangkan usaha pertaniannya, sebaliknya, pedagang tampa adanya petani yang menjadi kliennya, akan kesulitan untuk mendapatkan barang hasil pertanian berupa rumput laut.

Sebagaimana yang disapaikan oleh bapak LS dalam wawancara yang dilakuakan oleh peneliti bahwa

“Alhamdulillah semenjak saya melakukan usaha tani rumput laut saya mendapat hasil yang luamayang dan juga bisa menafkahi keluargaku memang dalam satu kali paneng saya menunggu waktu yang lama tapi setelah paneng saya mendapatkan hasil yang lumayang banyak, jadi kalau saya lama menunggu hasil paneng biasanya saya minta pinjaman dulu kepedagang rumput laut, nanti hasil rumput laut yang akan saya paneng saya jual kepedagang yang saya tempati meminjam.”(hasil wawancara 3 Desember 2020. Pukul 10.00 wita)

Hal yang sama juga ditegaskan oleh informasi J bahwa

“Alhamdulillah semenjak saya melakukan budidaya rumput laut saya bisa mendapatkan pendapatan yang lumayang dan juga bisa menyekolahkan anak saya sampai kejenjang yang lebih tinggi”.(hasil wawancara 6 Desember 2020, pukul 13.30 wita)

Dita"mbah dari penjelasan informan MT bahwa:

“Saya selaku pedagang rumput laut semenjak melakukan pekerjaan ini saya mendapatka keuntungan yang lumayang dan juga bisa menbantu petani rumput laut agar tidak terlalu jauh menjual hasil panengnya,begitu juga sebaliknya petani rumput laut membantu saya mendapatka keuntungan yang lebih bany ak lagi.”( hasil wawancara 6 Desember 2020, Pukul 14.35).

Ada tiga pihak yang sangat berperan dalam sistem usaha tani rumput laut di Desa Bontojai yaitu: Pmerintah, Pedagang (Pemilik modal), dan Petani. Ketiga pelaku tersebut memainkan peran berbeda,

namun saling ketergantungan dalam mendorong terjadinya iklim usaha tani rumput laut satu peningkatan kesejateraan petani rumput laut khususnya dan pembangunan ekonomi pada umumnya.

1. Pemerintah

Pada awal permulaan usaha tani rumput laut peran swasta sangat dominan. Tingginya permintaan rumput laut dibeberapa Negara mendorong pihak swasta menanamkan modal dalam sektor usaha tani rumpur laut. Pemerintahpun juga merespon dengan melakukan survey terhadap beberapa wilayah pesisir yang memiliki potengsi pengembangan budidaya rumput laut. Hasil survey menghasilakn klasifikasi wilayah dan jenis rumput laut yang cocok dikembangkan, diantaranya ialah Sulawesi Selatan termasuk Kabupaten Jeneponto.

Kabupaten Jeneponto merupakan salah satu tujuan pengembangan rumput laut di Sulawesi Selatan karena dinilai memiliki kondisi laut yang sesuai untuk jenis rumput laut tertentu. Namun demikian, pemerintah akan dibatasi dalam melakukan investasi kecuali hanya menyediakan tenaga dan mempermudah kelompok swasta yang berminat berinvestasi di bidang budidaya laut untuk menarik minat masyarakat pesisir di Desa Bontosunggu yang sudah memiliki keterampilan budaya tangkap. Dalam hal pembudidayaan rumput laut, pemerintah memberikan peluang investasi bagi kelompok swasta.

Sejak saat itu, pihak swasta di Makassar telah memberikan kemudahan kepada para calon petani untuk pertama kalinya melalui bantuan permodalan dan bantuan permodalan awal berupa bibit, alat tanam, perlengkapan jemuran, dll, serta silaturahmi antara petani dan

masyarakat. pihak swasta Kesepakatan mengenai kualitas produksi, harga jual dan informasi jaminan produksi hanya akan dijual kepada pemberi bantuan modal swasta. Dalam hal pemberian bantuan modal tidak ada bunga dan tidak ada masa kontrak, hanya hasil petani yang dijual ke swasta. Seperti yang dikatakan Bapak JS dalam wawancara yang dilakukan oleh peneliti:

“Saya berharap sekali ka sama pemerintah supaya bersedia na bantuka bagikanki bibit-bibit yang bagus atau modal supaya mudahki dalam bertani jadi tidak meminta maki lagi bantuan pinjaman kepedagang supaya nanti kalau panenki tersera mamika dimanaka nanti mau jualki hasil panenku carika harga yang paling tinggi supaya dapatki keuntungan yang besar kalau tidak adaji pinjamanta dipedagang”. (hasil wawancara 3 Januari 2021, pukul 11.30 wita).

Ditambah penjelasan dari informasi JB bahwa:

“Saya selaku pedagang berharapka sama pemerintah supaya ada nanti nabagikanki untuk petani-petani bibit-bibit yang baguska dan gratis untuk petani supaya semangatki bertani dengan adanya bantuan pemerintah”. (hasil wawancara 3 Januari 2021, pukul 14.15 wita).

Ditambah penjelasan dari informan S bahwa:

“Saya berharap kepada pemerintah nabiganki bibit baguska yang garatis supaya bebanta seorang petani berkurang sedikit karena dapatki pembagian dari pemerintah yang gratis ada tong issede tidak di beli”. (hasil wawancara 6 Januari 2021 pukul 09.45 wita).

Hal yang sama juga ditegaskan oleh informasi MT bahwa:

“Saya seorang pedagang sangat berharap sekali agar kiranya nanti pemerintah daerah menaikka harga rumput laut agar saya sama

“Saya seorang pedagang sangat berharap sekali agar kiranya nanti pemerintah daerah menaikka harga rumput laut agar saya sama

Dokumen terkait