BAB III METODOLOGI PENELITAN
E. Jenis Dan Sumber Data
Adapun jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Jenis data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Data kuantitatif, yaitu data yang diperoleh dalam bentuk-bentuk angka dan berkaitan dengan masalah-masalah yang akan dibahas.
2. Sumber data
a. Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari perusahaan, melalui observasi, koesioner dan dokumentasi.
b. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari perusahaan melalui dokumen-dokumen dan laporan tertulis serta informasi lain yang ada hubungannya dengan masalah ini.
F. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, metode pengumpulan data yang penulis tempuh adalah sebagai berikut:
1. Observasi
Penelitian ini dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan atau peninjauan secara langsung pada tempat penelitian di Kantor Satuan Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum Provinsi Sulawesi Selatan.
2. Kuesioner
Kuesioner merupakan metode pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan secara tertulis kepada subjek
penelitian dengan maksud untuk memperoleh data tentang keputusan pembelian.
3. Dokumentasi
Dokumentasi adalah bentuk penelitian yang dillakukan dengan mengumpulkan dokumen atau arsip-arsip perusahaan.
G. Teknik Analisis Data
1. Uji Validitas dan Realibilitas a. Uji Validitas
Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner. Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut. Uji validitas ini dapat dilakukan dengan menggunakan korelasi antar skor tiap butir pertanyaan dengan total skor konstruk atau variabel. Setelah itu menentukan hipotesisis, Ho : skor butir pertanyaan berkorelasi positif dengan total konstruk, dan Ha : skorbutir pertanyaan tidak berkorelasi positif dengan skor total konstruk.
Setelah mengajukan hipotesis kemudian uji dengan membandingkan r hitung (tabel correted item total correlaction) dengan r tabel (tabel product moment dengan siginifikan 0,05) untuk degree of freedom (df) = n – k. Suatu kuesioner dikatakan valid apabila r hitung dan r tabel bernilai positif (Ghozali, 2011:52).
Jadi uji validitas ingin mengukur apabila pertanyaan dalam kuesioner sudah benar dapat mengukur apa yang hendak kita ukur.
b. Uji realibilitas
Uji realibilitas adalah alat untuk mengukur suatu kuesioner yang merupakan indikator dari variabel atau konstruk. Suatu kuesioner dikatakan reliable atau handal jika jawaban seseorang terhadap pernyataan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu (Ghozali, 2011:47).
Adapun cara yang digunakan untuk menguji realibilitas kuesioner dalam penelitian ini adalah mengukur reliabilitas dengan uji statistik Cronbach Alpha. suatu konstruk atau variabel dikatakan relibel jika memberikan nilai cronbanch Alpha > 0,60 (Nunnaly dalam Ghozaly, 2011:48).
2. Uji Asumsi Klasik a. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah apakah dalam model regresi, variabel residual memiliki distribusi normal (Ghozali, 2011:160), metode grafik yang handal adalah dengan melihat normal probality plot yang membandingkan distribusi kumulatif dan distribusi.
Distribusi normal akan membentuk suatu garis lurus diagonal, dan ploting data residual akan dibandingkan dengan garis diagonal. Jika data menyebar disekitar garis diagonal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas. Jika distribusi data residual normal, maka garis yang menggambarkan data sesungguhnya akan mengikuti garis diagonalnya. Uji normalitas data juga dilakukan dengan uji kolmogorov-smirnov. Untuk mempermudah dalam melakukan perhitungan secara statistik. Suatu data dinyatakan berdistribusi
normal jika nilai Asymp sig (2-tailed) hasil perhitungan kolmogorov-smirnov lebih besar dari 1/2 atau 0,05 (Ghozali, 2011:161).
b. Uji Multikolonieritas
Uji Multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen) (Ghozali, 2011:105). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen. Jika variabel independen saling berkorelasi, maka variabel-variabel tidak ortogonal. Variabel ortogonal adalah variabel independen yang nilai korelasi antar sesama variabel independen sama dengan nol. Multikolonieritas dapat juga dilihat dari nilai tolerance dan lawannya variance iflanition factor (VIF). Kedua ukuran ini menunjukkan setiap variabel independen manakah yang dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Setiap variabel independen menjadi variabel dependen (terikat) dan diregresi terhadap variabel independen lainnya. Tolerance mengukur variabilitas variabel independen yang terpilih yang tidak dijelaskan oleh variabel independen lainnya. Jadi nilai Tolerance yang rendah sama dengan nilai VIF tinggi (karena VIF = 1/Tolerance). Nilai cutoff yang umum dipakai untuk menunjukkan adanya multikolonieritas adalah nilai tolerance ≥ 0,10 atau sama dengan nilai VIF ≤ 10.
3. Analisis Regresi Linear Berganda
Analisis regresi berganda digunakan untuk meramalkan pengaruh dua atau lebih variabel prediktor (variabel bebas) terhadap satu variabel kriterium (variabel terikat) atau untuk membuktikan ada atau
tidaknya hubungan fungsional antara dua buah variabel bebas (X) atau variabel terikat (Y).
Keterangan :
Y : Kinerja Pegawai a : Konstanta
b1, b2 : Koefisien regresi linear masing-masing variabel X1 : Insentif
X2 : Lingkungan Kerja e : Standar kesalahan
4. Uji Hipotesis
a. Uji Parsial dengan Uji T
Uji statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh variabel penjelas atau independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen (Ghozali,2011).
Rumus uji t sebagai berikut : T uji = √
√
Keterangan : t uji : t hitung
r : koefisien korelasi n : jumlah sampel n – 2 : derajat kebebasan
Y = a + b1 X b1 + b2 X2 + e
Dalam pengujian hipotesis yang menggunakanan uji dua pihak (two tails) ini berlaku ketentuan, bahwa bila harga t hitung, berada pada daerah penerimaan Ho atau terletak diantara harga t tabel, maka Ho diterima dan Ha di tolak. Dengan demikian bila harga t hitung lebih kecil atau sama dengan (≤) dari harga t tabel maka Ho diterima. Harga t hitung adalah harga mutlak, jadi tidak dilihat (+) atau (-) nya (Sugiyono,2011).
Menurut Duwi Priyanto (2010:69), dasar pengambilan keputusan adalah sebagai berikut :
1) Ho : ß1 = 0
Jika nilai probalitas lebih besar dari 0,05 maka Ho diterima atau Ha ditolak, ini berarti menyatakan bahwa variabel independen atau bebas tidak mempunyai pengaruh secara individual terhadap variabel dependen atau terikat
2) Ha : ß ≠ 0
Jika nilai probalitas lebih kecil dari 0,05, maka Ho ditolak atau Ha diterima, ini berarti menyatakan bahwa variabel independen atau bebas mempunyai pengaruh secara individual terhadap variabel dependen atau terikat.
b. Uji Simultan dengan Uji F
Uji simultan (uji F) digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas secara simultan atau bersama-sama terhadap variabel terikatnya. Kriteria yang digunakan adalah : (a). Jika Ftabel > Fhitung atau jika sig > 0,05 maka H0 diterima dan Ha ditolak, (b). Jika Ftabel < Fhitung atau jika sig < 0,05 maka H1 diterima dan H0 ditolak.
c. Koefisien Determinasi (R²)
Koefisien determinasi R² pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model (ikatan, empati, timbal balik, dan kepercayaan) dalam menerangkan variasi variabel dependen / terikat (kepuasan pelanggan). Nilai koefisien determinasi adalah antara nol (0) dan satu (1). Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen (bebas) dalam menjelaskan variasi variabel-variabel dependen amat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen (Ghozali, 2011:97).
Kelemahan mendasar dalam penggunaan koefisien determinasi adalah jumlah variabel independen yang dimaksukkan kedalam model. Setiap tambahan satu variabel independen, maka R² pasti meningkat tidak peduli apakah variabel tersebut berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen. Oleh karena itu, banyak peneliti yang menganjurkan untuk menggunakan nilai Adjusted R² pada saat mengevaluasi mana model regresi yang terbaik. Tidak seperti nilai R², nilai Adjusted R² dapat naik atau turun apabila satu variabel independen ditambahkan ke dalam model.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Objek Penelitian 1. Sejarah Singkat
Dari periode ke periode, sejak masa awal kemerdekaan, pemerintah, melalui Departemen Pekerjaan Umum, sebenarnya terus melakukan upaya pengembangan prasarana air minum dan penyehatan lingkungan baik di kawasan perkotaan maupun perdesaan.
Sejarah pengembangan air minum dan penyehatan lingkungan di negeri ini dimulai pada era pemerintahan kolonial Belanda. Pada waktu itu, prasarana air minum dan sanitasi dibangun lebih sebagai usaha untuk memberikan pelayanan terhadap warga Belanda dan kaum bangsawan. Pengembangan prasarana drainase seperti pembangunan banjir kanal dilakukan pemerintah penjajah itu karena dampak yang akan ditimbulkan, bila banjir misalnya, skalanya luas.
Di era pemerintahan Belanda lah, kita memiliki modal dasar untuk mengembangkan prasarana air minum dan penyehatan lingkungan. Pemerintah kala itu membangun sejumlah instalasi air minum perpipaan. Sistem pengolahan limbah terpadupun sudah dikenal pada masa itu. Peninggalan instalasi air minum itu pada saat ini menjadi aset bagi banyak PDAM di seluruh Indonesia. Konsep perpipaan dalam hal penyehatan lingkungan ini yang kemudian dikembangkan pada tahun Sembilan puluhan, seperti Yogyakarta Urban Developmen Project , Surakarta Urban Developmen Project, Bandung Urban Developmen
34
Project, Cirebon Urban Developmen Project, Banjarmasin Urban Developmen Project , dan lain-lain.
Di era pasca-kemerdekaan, kebijakan pemerintah di bidang air minum hanya sebatas di ibukota provinsi. Maklum, kondisi keuangan negara usai revolusi fisik memang sangat minim. Pengembangan perkembangan fisik prasarana air minum memang tidak menonjol, kecuali mampu membangun instalasi air minum di Pejompongan, Jakarta. Di era ini juga ide tentang kemungkinan bidang air minum ditangani perusahaan negara, mirip Perusahaan Listrik Negara (PLN) pernah terlontar. Ini menandakan kepedulian pemerintah pada waktu itu terhadap bidang air minum sangat tinggi.
Arah pencapaian ketersediaan air bersih dan penyehatan lingkungan permukiman hingga mencapai persentase pelayanan optimal oleh pemerintah tetap dilakukan secara serius. Namun, harus diakui, setelah beberapa dasawarsa, kini, kebijakan-kebikakan tersebut, bisa dirasakan tidak tepat bila melihat implikasi-implikasinya. Melalui berbagai loan dari beberapa lembaga keuangan internasional dan kerja sama bilateral, terutama dengan Perancis dan Belanda, pengembangan infrastruktur air minum terus dilakukan. Di bidang sanitasi, Indonesia banyak bekerja sama dengan Pemerintah Jepang.
Indonesia pernah mencapai titik puncak pembangunan di bidang air minum, yakni pada saat Indonesia mengalami booming minyak pada awal 1980-an. Di era ini kebijakan pengembangan air minum di sejumlah ibu kota kecamatan atau yang dikenal dengan program IKK sebagai upaya terobosan untuk tidak menunda pemenuhan
kebutuhan air minum di kawasan yang tidak terlayani sistem perpipaan karena letaknya yang jauh dari ibukota kabupaten atau kota. Di era ini Pemerintah pusat banyak menyiapkan embrio PDAM berupa Badan Penyelenggaraan Air Minum di berbagai daerah.
Kini, di era reformasi, penyelenggaraan air bersih telah berada di pundak Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang merupakan badan usaha milik Pemda. (Sumber: Buku Sejarah Air Minum)
2. Visi dan Misi Perusahaan a. Visi
Visi direktorat pengembangan sistem penyediaan air minum terwujudnya masyarakat hidup sehat dan sejahtera dengan air minum berkualitas.
b. Misi
1) Membangun, memperluas dan /atau meningkatkan sistem fisik sesuai kaidah teknis dan inovasi teknologi.
2) Meningkatkan, kapasitas kelembagaan penyelenggara SPAM dan mengembangkan serta menerapkan norma, standar, prosedur dan kriteria (NSPK) di pusat daerah.
3) Mengembankan perdanaan dan kerja sama dengan badan usaha dan masyarakat,dan
4) Memenuhi kebutuhan air baku.
37
Perkotaan 2 Seksi SPAM
Perdesaan 2
38
Direktorat Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan pelaksanakan kebijakan, penyusunan produk pengaturan, pembinaan dan pengawasan serta fasilitasi di bidang pengembangan sistem penyediaan air minum.
Dalam melaksanakan tugas Direktorat Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum menyelenggarakan fungsi:
a. Penyusunan kebijakan dan strategi, perencanaan teknis, evaluasi dan pelaporan pengembangan sistem penyediaan air minum;
b. Penyiapan perumusan kebijakan di bidang pengembangan sistem penyediaan air minum perkotaan, perdesaan, kawasan khusus;
c. Pelaksanaan kebijakan di bidang pengembangan sistem penyediaan air minum perkotaan, perdesaan, kawasan khusus, serta fasilitasi penyediaan tanah;
d. Pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang pengembangan sistem penyediaan air minum;
e. Penyiapan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang pengembangan sistem penyediaan air minum;
f. Fasilitasi dan pemberdayaan kelembagaan di bidang pengembangan sistem penyediaan air minum; dan
g. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Direktorat.
Adapun job description masing-masing bagian adalah sebagai berikut.
a. Sub Bagian Tata Usaha
Mempunyai tugas melakukan urusan kepegawaian, keuangan, penyelesaian administrasi Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) dan tuntutan ganti rugi, perlengkapan, rumah tangga, pengelolaan barang milik negara, tata persuratan dan kearsipan serta koordinasi administrasi direktorat.
b. Subdirektorat Perencanaan Teknis
Mempunyai tugas melaksanakan penyiapan penyusunan kebijakan dan strategi, perencanaan teknis, evaluasi dan pelaporan pengembangan sistem penyediaan air minum. Dalam melaksanakan tugas Subdirektorat Perencanaan Teknis menyelenggarakan fungsi:
1) penyiapan penyusunan kebijakan dan strategi serta perencanaan teknis pengembangan sistem penyediaan air minum;
2) penyusunan program anggaran kegiatan pembinaan teknis, pengawasan teknis pengembangan sistem penyediaan air minum;
3) pelaksanaan analisa teknis, evaluasi dan pelaporan pengembangan sistem penyediaan air minum; dan
4) pengelolaan data dan informasi penyelenggaraan sistem penyediaan air minum.
c. Subdirektorat Perencanaan Teknis terdiri atas:
1) Seksi Penyusunan Rencana mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan penyusunan kebijakan dan strategi, program anggaran serta perencanaan teknis pengembangan sistem penyediaan air min um; dan
2) Seksi Analisa Teknis mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan pelaksanaan analisa teknis, evaluasi dan pelaporan serta pengelolaan data dan informasi penyelenggaraan sistem penyediaan air minum
d. Subdirektorat Sistem Penyediaan Air Minum Perkotaan
Mempunyai tugas melaksanakan pembinaan dan pengawasan teknis serta fasilitasi pengembangan sistem penyediaan air minum termasuk penanggulangan paska bencana alam dan kerusuhan sosial di wilayah perkotaan. Dalam melaksanakan tugas Subdirektorat Sistem Penyediaan Air Minum Perkotaan menyelenggarakan fungsi:
1) Penyiapan penyusunan kebijakan di bidang pengembangan sistem penyediaan air minum;
2) Penyiapan pelaksanaan kebijakan di bidang pengembangan sistem penyediaan air minum, dan fasilitasi penyediaan tanah;
3) Penyiapan pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang pengembangan sistem penyediaan air minum; dan
4) Fasilitasi serah terima aset pengembangan sistem penyediaan air minum.
e. Subdirektorat Sistem Penyediaan Air Minum Perkotaan terdiri atas:
1) Seksi Sistem Penyediaan Air Minum Perkotaan I mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan penyusunan kebijakan, pelaksanaan pembangunan, pemberian bimbingan teknis, supervisi serta fasilitasi penyediaan tanah dan serah terima aset
kegiatan pengembangan sistem penyediaan air minum perkotaan di wilayah Pulau Sumatera dan Jawa; dan
2) Seksi Sistem Penyediaan Air Minum Perkotaan II mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan penyusunan kebijakan, pelaksanaan pembangunan, pemberian bimbingan teknis, supervisi serta fasilitasi penyediaan tanah dan serah terima aset kegiatan pengembangan sistem penyediaan air minum perkotaan di wilayah pulau Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua.
f. Subdirektorat Sistem Penyediaan Air Minum Perdesaan
Mempunyai tugas melaksanakan pembinaan dan pengawasan teknis serta fasilitasi pengembangan sistem penyediaan air minum termasuk penanggulangan paska bencana alam dan kerusuhan sosial di wilayah Perdesaan. Dalam melaksanakan tugas Subdirektorat Sistem Penyediaan Air Minum Perdesaan menyelenggarakan fungsi:
1) Penyiapan penyusunan kebijakan di bidang pengembangan sistem penyediaan air minum;
2) Penyiapan pelaksanaan kebijakan di bidang pengembangan sistem penyediaan air minum, dan fasilitasi penyediaan tanah;
3) Penyiapan pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang pengembangan sistem penyediaan air minum; dan
4) Fasilitasi serah terima aset pembangunan dan pengembangan sistem penyediaan air minum.
Subdirektorat Sistem Penyediaan Air Minum Perdesaan terdiri atas:
1) Seksi Sistem Penyediaan Air Minum Perdesaan I
Mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan penyusunan kebijakan, pelaksanaan pembangunan, pemberian bimbingan teknis, supervisi serta fasilitasi penyediaan tanah dan serah terima aset kegiatan pengembangan sistem penyediaan air minum perdesaan di wilayah Pulau Sumatera dan Jawa; dan 2) Seksi Sistem Penyediaan Air Minum Perdesaan II
Mempunyai tugas melakukan penyiapan Seksi Sistem Penyediaan bahan penyusunan kebijakan, pelaksanaan pembangunan, pemberian bimbingan teknis, supervisi serta fasilitasi penyediaan tanah dan serah terima aset kegiatan pengembangan sistem penyediaan air minum perdesaan di wilayah pulau Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua.
g. Subdirektorat Sistem Penyediaan Air Minum Khusus
Mempunyai tugas melaksanakan pembinaan teknis, pengawasan teknis, dan fasilitasi dalam pengembangan sistem penyediaan air minum pada kawasan perbatasan, pulau-pulau kecil terluar, pasca bencana, dan kawasan tertentu yang ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan serta pengembangan inovasi teknologi, dan jejaring kemitraan. Subdirektorat Sistem penyediaan air minum khusus menyelenggarakan fungsi:
1) Penyiapan penyusunan kebijakan dan inovasi teknologi di bidang pengembangan sistem penyediaan air minum kawasan perbatasan, pulau-pulau kecil terluar, pasca bencana, dan kawasan tertentu yang ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan;
2) Penyiapan pelaksanaan kebijakan dan inovasi teknologi di bidang pengembangan sistem penyediaan air minum kawasan perbatasan, pulau-pulau kecil terluar, pasca bencana, dan kawasan tertentu yang ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan, serta fasilitasi penyediaan tanah;
3) Penyiapan pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang pengembangan sistem penyediaan air minum kawasan perbatasan, pulau-pulau kecil terluar, pasca bencana, dan kawasan tertentu yang ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan;
4) Fasilitasi serah terima aset pengembangan sistem penyediaan air minum kawasan perbatasan, pulau-pulau kecil terluar, pasca bencana, dan kawasan tertentu yang ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan;
5) Pengembangan jejaring kemitraan dalam rangka penyelenggaraan sistem penyediaan air minum;
6) Pengembangan dan fasilitasi alternatif pembiayaan dalam rangka pengembangan sistem penyediaan air minum.
h. Subdirektorat SPAM Khusus terdiri atas:
1) Seksi Sistem Penyediaan Air Minum Khusus I mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan penyusunan kebijakan, pelaksanaan 2) pembangunan, pemberian bimbingan teknis, supervisi, fasilitasi
penyediaan tanah dan serah terima aset, pengkajian dan penyusunan inovasi teknologi serta pengembangan alternatif pembiayaan dan jejaring kemitraan dalam rangka kegiatan pengembangan sistem penyediaan air minum pada wilayah Pulau Sumatera dan Jawa; dan
3) Seksi Sistem Penyediaan Air Minum Khusus II mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan penyusunan kebijakan, pelaksanaan pembangunan, pemberian bimbingan teknis, supervisi, fasilitasi penyediaan tanah dan serah terima aset, pengkajian dan penyusunan inovasi teknologi serta pengembangan alternatif pembiayaan dan jejaring kemitraan dalam rangka kegiatan pengembangan sistem penyediaan air minum pada wilayah Pulau Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua.
i. Subdirektorat Standardisasi dan Kelembagaan
Mempunyai tugas melaksanakan penyiapan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria serta pembinaan kelembagaan dan sumber daya manusia di bidang penyelenggaraan sistem penyediaan air minum. Dalam melaksanakan tugas Subdirektorat Standardisasi dan Kelembagaan menyelenggarakan fungsi:
1) Penyiapan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria bidang penyelenggaraan sistem penyediaan air minum;
2) Pemberian bimbingan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang penyelenggaraan sistem penyediaan air minum;
3) Pemantauan dan evaluasi penerapan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang penyelenggaraan sistem penyediaan air minum;
4) Fasilitasi dan pemberdayaan kelembagaan bidang penyelenggaraan sistem penyediaan air minum; dan
5) Pembinaan sumber daya manusia di bidang penyelenggaraan sistem penyediaan air minum.
j. Subdirektorat Standardisasi dan Kelembagaan terdiri atas:
1) Seksi Standardisasi mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan penyusunan dan pemberian bimbingan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang penyelenggaraan sistem penyediaan air minum; dan
2) Seksi Kelembagaan mempunyai tugas melakukan penyiapan pemantauan dan evaluasi penerapan norma, standar, prosedur, dan kriteria serta fasilitasi dan pemberdayaan kelembagaan bidang penyelenggaraan sistem penyediaan air minum.
B. Hasil Penelitian
1. Karakteristik Responden
Responden dalam penelitian ini adalah pegawai pada Kantor Satuan Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum Provinsi Sulawesi Selatan Di Kota Makassar. Terdapat tiga karakteristik responden yang terdapat dalam penelitian ini, yaitu berdasarkan jenis kelamin, usia, dan pekerjaan. Berikut
akan dijelaskan terlebih dahulu mengenai karakteristik responden dalam penelitian ini berdasarkan jenis kelamin dan usia.
a. Jenis Kelamin
Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin bertujuan untuk mengetahui tingkat proporsi responden yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Distribusi frekuensi responden menurut jenis kelamin disajikan pada Tabel berikut :
Tabel 4.1
Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis kelamin Jumlah Persentase (%)
Laki –laki 12 40%
Perempuan 18 60%
Total 30 100%
Sumber: Data primer diolah, tahun 2019
Berdasarkan Tabel 4.1 dapat diketahui bahwa klarifikasi responden yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 12 orang atau sebesar 40% (dari total responden), sedangkan berjenis kelamin perempuan sebanyak 18 orang atau sebesar 60% (dari total responden).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa jumlah responden perempuan lebih banyak dibandingkan responden laki-laki.
b. Responden Berdasarkan Usia
Karakteristik responden berdasarkan usia dapat dilihat pada Tabel dibawah ini:
Tabel 4.2
Karakteristik Responden Berdasarkan Usia
Usia Jumlah Persentase (%)
24-26 Tahun 10 33,3 %
27-30 Tahun 13 43,3 %
Lebih dari 30 Tahun 7 23,3 %
Total 30 100 %
Sumber : Data primer diolah, tahun 2019
Berdasarkan Tabel 4.2 dapat diketahui bahwa klasifikasi responden yang berusia antara 24-26 tahun sebanyak 10 orang atau sebesar 33,3%. Responden yang berusia antara 27-30 tahun sebanyak 13 orang atau sebesar 43,3 %, dan responden yang berusia lebih dari 30 tahun sebanyak 7 orang atau sebesar 23,3 %. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa jumlah responden terbanyak berusia 27-30 tahun sebanyak 13 orang atau sebesar 43,3% (dari jumlah responden).
2. Analisis Deskripsi
Analisis deskriptif digunakan untuk menganalisa data dengan cara mendeskriptifkan data-data yang diperoleh dan sebagai sarana melakukan interpretasi hasil kuesioner. Penelitian ini mengamati variabel terikat dan variable bebas, diimana variabel terikat adalah kinerja pegawai (Y), sedangkan variabel bebas adalah insentif (X1), dan lingkungan kerja (X2).
Berdasarkan data-data yang telah diperoleh dari penyebaran kuesioner terhadap 30 responden pada pegawai Kantor Satuan Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum Provinsi Sulawesi Selatan, maka dapat diuraikan analisis deskriptif untuk masing-masing variabel sebagai berikut :
a. Kinerja Pegawai (Y)
Di dalam suatu organisasi, kinerja merupakan hal yang terpenting. Setiap pegawai dituntut untuk dapat menampilkan kinerja yang baik dan memberikan kontribusi yang maksimal. Variabel kinerja pegawai dalam penelitian ini terdiri dari 8 uraian pernyataan.
Selengkapnya dapat dilihat pada Tabel berikut ini:
Tabel 4.3
Tanggapan Responden Tentang Kinerja Pegawai
Y Pernyataan
Y.6 Saya dapat
Mean Variabel Kinerja Pegawai 3,98
Mean Variabel Kinerja Pegawai 3,98