IV. METODOLOGI PENELITIAN
4.2. Jenis dan Sumber Data
Data adalah bahan dasar dalam melaksanakan penelitian untuk menghasilkan pengetahuan dan kebijaksanaan. Data adalah atribut, karakteristik dan sifat dari suatu benda atau fenomena, sehingga data adalah perkiraan bukan ukuran (Simatupang, 2010). Selanjutnya dikemukakan bahwa jenis data menurut sifatnya dapat dibedakan atas data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif dinyatakan dalam nilai numerik (bilangan), dapat diukur secara obyektif, dan dapat dideskripsikan dengan suatu aturan relasi, rumus atau prosedur teknik tertentu (matematis, statistik). Sedangkan data kualitatif dinyatakan tidak dalam bentuk numerik tetapi dalam kategorik, gambar, dan teks; deskripsi subyektif atau konvensi; serta tidak dapat langsung dideskripsikan dengan suatu aturan relasi, rumus atau prosedur teknis tertentu (matematis, statistik) tanpa melalui transformasi ke data kuantitatif terlebih dahulu.
Dalam penelitian ini menggunakan campuran data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif yang ideal harus baik, benar dan berguna (Simatupang, 2010). Data baik dalam arti memenuhi kriteria normatif yakni sesuai dengan hukum dan norma. Sedangkan data benar dalam arti memenuhi kriteria obyektif yakni sesuai dengan kaidah ilmiah. Sementara itu, data berguna dalam arti memenuhi kriteria utilitas yakni sesuai kebutuhan.
Data yang dikumpulkan meliputi data primer dan data sekunder. Data sekunder dikumpulkan dari berbagai instansi yang berhubungan dengan penelitian baik di tingkat pusat (Badan Pusat Statistik/BPS, Direktorat Jenderal Hortikultura, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, Balai Besar Sumberdaya dan Lahan) maupun Daerah (BPS Provinsi dan Kabupaten, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian/BPTP, Dinas Pertanian Provinsi dan Kabupaten, Statistik Kecamatan contoh). Sedangkan data primer dikumpulkan melalui survei di daerah sentra produksi di Provinsi Jawa Tengah: Kabupaten Brebes dan Boyolali untuk mewakili daerah sentra produksi cabai merah yang telah berkembang lama, sedangkan Kabupaten Klaten dan Purbalingga mewakili daerah sentra produksi cabai merah pertumbuhan baru, dengan kuesioner terstruktur yang secara khusus di desain untuk dapat menjawab tujuan penelitian.
Berdasarkan dari tujuan penelitian, maka data sekunder yang dikumpulkan meliputi:
1. Data perkembangan luas areal panen, produksi, dan produktivitas komoditas cabai merah di daerah sentra produksi (data tingkat kapupaten dan provinsi). 2. Data tanah (jenis tanah dan topografi) dan iklim atau cuaca (ketinggian
tempat, curah hujan dan suhu udara, serta kelembaban (di tingkat kabupaten dan provinsi).
98 4. Data karakteristik wilayah penelitian (data tingkat kabupaten dan kecamatan
contoh).
5. Data perkembangan harga cabai merah (terutama harga tingkat produsen). 6. Data dan informasi teknologi baik teknologi pembibitan, budidaya, maupun
pasca panen komoditas cabai merah.
7. Data dan informasi tentang infrastruktur fisik dan kelembagaan agribisnis cabai merah.
8. Data dan informasi tentang berbagai kebijakan pemerintah di bidang hortikultura unggulan di daerah sentra produksi (tingkat kabupaten, provinsi, dan nasional).
Berdasarkan dari tujuan penelitian, maka data primer yang dikumpulkan akan meliputi :
1. Data karakteristik petani yang mencakup data umur petani, pendidikan petani, pengalaman bertani, jumlah anggota rumah tangga, jumlah anggota rumah tangga usia kerja, keanggotaan dalam kelembagaan kelompok tani, keanggotaan dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), serta keikutsertaan dalam kemitraan usaha.
2. Persepsi petani tentang aspek teknologi pembibitan, budidaya, serta panen dan pasca panen usahatani cabai merah besar dan keriting.
3. Data tentang penguasaan aset pertanian, baik lahan dan non lahan.
4. Data dan informasi tentang status komoditas beberapa komoditas pertanian. 5. Data luas tanam menurut jenis lahan dan musim tanam, pola tanam, sistem
6. Data struktur penguasaan lahan milik dan garapan usahatani cabai merah dan total lahan milik dan garapan usaha pertanian.
7. Data struktur pendapatan rumah tangga petani cabai merah besar dan cabai merah keriting.
8. Data struktur input-output usahatani cabai merah besar dan cabai merah keriting.
9. Data adopsi teknologi usahatani cabai merah besar dan cabai merah keriting. 10. Data tingkat produksi (produktivitas) aktual dan diharapkan usahatani cabai
merah besar dan cabai merah keriting.
11. Data kebutuhan modal dan sumber modal usahatani cabai merah besar dan cabai merah keriting.
12. Data harga cabai merah besar dan cabai merah keriting aktual dan diharapkan petani.
13. Data harga input produksi (harga benih/bibit, pupuk kimia, pupuk organik, Pupuk Pelengkap Cair (PPC), Zat Perangsang Tumbuh (ZPT), pestisida, fungisida, kapur, serta bahan dan alat aktual dan harga yang diharapkan petani.
14. Data upah tenaga kerja luar keluarga aktual dan diharapkan petani.
15. Data harga atau sewa lahan, alat dan mesin pertanian yang diharapkan dan yang aktual dibayar petani.
16. Data ketersediaan air irigasi dan aksessibilitas petani cabai merah besar dan cabai merah keriting terhadap air irigasi.
17. Data kelembagaan kelompok tani/gapoktan dan koperasi tani serta keikutsertaan petani.
100 18. Data kelembagaan pasar input dan output serta aksesibilitas petani terhadap
pasar.
19. Data dan informasi persepsi dan strategi petani dalam menghadapi risiko produksi dan harga.
20. Data dan informasi tetang kinerja kelembagaan kemitraan usaha cabai merah, antara petani atau kelompok tani dengan perusahaan industri pengolahan.
4.3. Metode Pengambilan Contoh
Sampel yang baik dalam suatu penelitian survei adalah yang dapat mewakili populasi secara tepat (Singarimbun dan Effendi, 1989). Jumlah sampel yang dapat mewakili populasi tergantung kepada ukuran populasi dan tigkat homogenitas populasi. Petani cabai merah adalah populasi yang akan dijadikan sasaran penelitian. Namun demikian akan dilakukan wawancara dengan beberapa informan kunci (key informant) seperti kelompok tani/gapoktan/paguyupan kelompok tani, koperasi tani, Penyuluh Pertanian Lapang (PPL) dan Koordinator PPL, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), Kepala Cabang Dinas Pertanian/Unit Pelaksana Teknis Daerah (KCD/UPTD) dan Dinas Pertanian Kabupaten, serta dengan pelaku tataniaga (pedagang), dan perusahaan industri pengolahan untuk memperkaya dan memperdalam informasi. Sampai saat ini belum tersedia data secara lengkap tentang ragam populasi dan kerangka sampling petani cabai merah untuk populasi yang diteliti. Oleh karena itu, pengenalan populasi dan perilaku populasi dilakukan dengan wawancara dengan Dinas Pertanian Kabupaten, PPL
dan Koordinator PPL/KCD/BPP, serta grower, serta Gapoktan dan ketua kelompok tani setempat.
Mantra dan Kasto (1989) mengemukakan bahwa pengambilan sampel bagi populasi yang tidak dapat dibuat kerangka sampelnya ialah pengambilan sampel wilayah (area sampling). Dalam penelitian ini digunakan teknik multistage sampling area, yaitu suatu teknik pengambilan sampel berdasarkan daerah populasi yang telah ditetapkan berdasarkan kriteria yang diinginkan dengan mempertimbangkan secara mendalam aspek stratifikasi. Membagi provinsi terpilih menjadi dua kategori yaitu kabupaten sentra produksi cabai merah yang telah berkembang lama dan kabupaten sentra produksi cabai merah yang merupakan pertumbuhan baru. Dalam pelaksanaannya di lapang diambil dua kabupaten contoh sentra produksi lama (Kabupaten Brebes dan Boyolali) dan dua kabupaten contoh dataran sentra produksi baru (Kabupaten Klaten dan Purbalingga). Kemudian pada masing-masing kabupaten terpilih akan ditentukan satu atau beberapa kecamatan contoh sesuai ketersediaan sampel dan kriteria- kriteria yang diinginkan dengan teknik convenience melalui snowbolling. Selanjutnya setelah masing-masing kecamatan contoh terpilih akan ditentukan desa yang akan dijadikan sampel penelitian yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan secara purposive. Jumlah desa akan sangat tergantung pada jumlah ketersediaan petani cabai merah besar dan cabai merah keriting dan sebarannya.
Dalam pengambilan sampel dalam penelitian ini akan mempertimbangkan keragaman usahatani baik yang menyangkut jenis cabai merah (cabai merah besar dan cabai merah keriting), agroekologi (dataran rendah dan dataran tinggi), skala
102 usahatani (luas, sedang, dan sempit), aksessibilitasnya (aksessibilitas baik dan kurang), keanggotaan dalam kelompok tani serta kemitraan usaha (petani mitra dan non mitra). Sehingga sampel yang diambil dapat merepresentasikan populasi petani cabai merah yang ada di masing-masing lokasi penelitian. Metode pengambilan contoh akan dilakukan dengan cara metoderandom sampling.
Tabel 3. Sebaran Responden Contoh menurut Kategori Responden dan Lokasi Peneltian
No. Deskripsi Cabai Merah Besar Cabai Merah Keriting Total
A. Kabupaten Brebes Kecamatan Kersana 80 80 Sub Total 80 80 B. Kabupaten Klaten (1) Karangnongko 5 9 14 (2) Ngawen 1 8 9 (3) Jogonalan 4 12 16 (4) Manisrenggo 5 12 17 Sub Total 15 41 56 C. Kabupaten Boyolali (1) Teras 30 4 34 (2) Selo 22 38 60 Sub Total 52 42 94 D. Kabuaten Purbalingga (1) Karangrejo 44 13 57 (2) Karang Jambu 9 9 Sub Total 53 13 66 Jumlah 200 96 296
Jumlah petani responden yang digali informasinya meliputi 296 responden. Jumlah responden petani cabai merah besar mencapai 200 responden dan petani cabai merah keriting sebesar 96 responden. Secara terperinci sebaran responden yang akan dilakukan wawancara menurut lokasi penelitian dapat
disimak pada Tabel 3. Di samping itu, juga dilakukan wawancara dengan beberapa responden lain, seperti kelompok tani/gabungan kelompok tani, PPL dan Koordinator PPL/KCD/BPP, Dinas Peratanian Kabupaten, Dinas Pertanian Provinsi, BPS, Perwakilan Perusahaan Mitra, serta beberapa pedagang pada berbagai tingkatan (pedagang pengumpul, pedagang di pasar induk kabupaten/Sub Terminal Agribisnis, Pedagang Besar).