• Tidak ada hasil yang ditemukan

Etnografi Masyarakat Kerinc

Ulu Jernih

3 ETNOBOTANI MASYARAKAT KERINC

3.3 Hasil dan Pembahasan

4.2.2 Jenis dan Teknik Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan melalui wawancara secara terbuka dan mendalam (open- ended) dan semi terstruktur dengan informan kunci. Informan kunci terdiri dari satu orang tokoh adat pada masing-masing lokasi yaitu depati Muara Langkap Tamiai, rio Dusun Baru Lempur dan ninik mamak Dusun Ulu Jernih, , satu orang kepala desa pada masing-masing lokasi yaitu Kepala Desa Dusun Baru Lempur, Kepala Desa Keluru, Kepala Desa Dusun Lama Tamiai dan Kepala Desa Dusun Ulu Jernih, satu orang sekretaris desa pada masing-masing lokasi. Terhadap informan kunci ini dilakukan wawancara mendalam sehingga diperoleh informasi yang akurat. Untuk wawancara bebas dan wawancara berfokus dilakukan terhadap informan yang disarankan oleh informan kunci (snowball) sehingga didapatkan fakta yang nyata di lapangan.

Untuk menjawab tujuan pertama dan kedua, data yang dikumpulkan terdiri dari pengetahuan masyarakat di keempat lokasi tentang bentuk satuan lingkungan, pemanfaatannya dan keanekaragaman spesies tumbuhan pada setiap satuan lingkungan tersebut. Studi keanekaragaman spesies tumbuhan di setiap satuan lingkungan dilakukan inventarisasi spesies tumbuhan dan pemanfaatannya oleh masyarakat. Sedangkan untuk tujuan ketiga data yang dikumpulkan terdiri dari komposisi tanaman pada lahan pelak dan jumlah pendapatan dari hasil tanaman

pelak terhadap 30 responden masyarakat di Dusun Keluru. Hal ini disebabkan karena jumlah spesies tumbuhan yang terdapat di lahan pelak masyarakat Dusun Keluru memiliki jumlah paling banyak.

Untuk menjawab tujuan penelitian ditempuh melalui 4 tahap kegiatan yaitu : a. Membuat deskripsi serinci mungkin tentang bentuk satuan lahan dan kondisi

ekosistemnya yang mempengaruhi produktifitas sesuai dengan yang diamati seperti jenis dan sifat tanah, tipe vegetasinya dan kondisi topografi.

b. Menyusun kembali pola pemikiran (corpus) dari masyarakat dan melakukan dialog dengan para informan. Untuk mengungkapkan sistim pengetahuan dan pola pikir masyarakat Kerinci digunakan metode baku penelitian antropologi (Cotton, 1996) yaitu dengan cara melakukan pengamatan langsung dan turut serta dalam aktivitas kehidupan masyarakat serta dengan menggunakan berbagai teknik wawancara (wawancara bebas atau open ended, semi struktural dan struktural).

c. Menganalisis bentuk-bentuk produktivitas sumber daya alam dan ekosistemnya sesuai dengan pandangan masyarakat (praxis). Caranya adalah dengan mendiskripsi bentuk aktivitas masyarakat dalam mengelola sumber daya alam berikut teknologinya, produk-produk yang dihasilkan, pengaruhnya terhadap kondisi lingkungan dan aspek lainnya.

d. Melakukan penilaian secara ekologis sebuah praxis melalui analisis dampak pemanfaatan sumber daya alam terhadap struktur dan dinamika ekosistem yang telah dimanfaatkan tersebut. Penilaian tersebut didasarkan pada pengamatan langsung di lapangan dengan menggunakan metode

society point of view yaitu mengetahui penyebaran spesies tumbuhan melalui asumsi masyarakat di lokasi penelitian.

4.2.3 Analisis Data

a. Analisis data bentuk satuan lingkungan dan pemanfaatannya dilakukan secara deskriptif kualitatif dalam bentuk tabel dan naratif. Pada satuan lingkungan laman dan pelak, dilakukan analisis kesamaan spesies dengan rumus Indeks Kesamaan Komunitas. Indeks Kesamaan Komunitas merupakan suatu koefisien untuk mengetahui kesamaan tumbuhan di dua daerah yang berbeda menggunakan rumus yang diacu dari Muller – Dombois dan Ellenberg (1974) sebagai berikut :

Keterangan : IS = Indeks Kesamaan Spesies Sorenson, A = Jumlah spesies tumbuhan di daerah 1, B = Jumlah spesies tumbuhan di daerah 2, C = Jumlah spesies tumbuhan yang sama di kedua daerah 1 dan 2

b. Analisis sistem pelak berdasarkan konsep Tri Stimulus Amar Konservasi dilakukan pendekatan kuantitatif yaitu (a) menghitung Indeks of Cultural Significance (ICS) tumbuhan yang terdiri dari nilai kualitas, nilai intensitas dan nilai ekslusifitas masing-masing spesies tumbuhan yang terdapat di lahan pelak dan data penilaia sebaran spesies tumbuhan untuk melihat nilai penting ekologi masing-masing spesies tumbuhan dan (c) menghitung jumlah pendapatan masyarakat dari hasil tanaman pelak.

c. Hasil perhitungan digunakan untuk melakukan analisis menurut konsep Tri Stimulus Amar Konservasi yang diacu dari Zuhud (2007).

(1) Indeks of Cultural Significance (ICS) IS = 2�

Indeks Nilai Penting Budaya Tumbuhan atau Indeks of Cultural Significance (ICS) diacu dari Turner (1988) dimodifikasi Purwanto (2004) dengan persamaan sebagai berikut :

Keterangan : ICS= Indeks Kepentingan Budaya (index of cultural significance), q = nilai kualitas, i = nilai intensitas, e = nilai ekslusivitas, n= manfaat ke

Sedangkan analisis data penilaian penyebaran spesies tumbuhan dilakukan berdasarkan hasil pengamatan masyarakat (society point of view) (Kartikawati 2004), yaitu :

d. Penyebaran jenis-jenis tumbuhan yang diasumsikan sangat terbatas karena keberadaanya secara alamiah jarang dan atau hanya ditemukan pada jarak tempuh yang relatif jauh dari kawasan pemukiman (skor 1).

e. Penyebaran jenis-jenis tumbuhan yang diasumsikan terbatas karena banyak ditemukan di hutan primer dan hutan di sekitar pemukiman (hutan sekunder dan bekas ladang) (skor 2).

f. Penyebaran jenis-jenis tumbuhan yang diasumsikan banyak dan mudah ditemukan karena biasanya terdapat di ladang hingga sekitar pemukiman (skor 3).

(2) Tri Stimulus Amar Konservasi

Stimulus adalah rangsangan yang menyebabkan seseorang atau sesuatu melakukan respon atau reaksi terhadap suatu keadaan (Azwar 2013). Respon yang diberikan terhadap suatu rangsangan disebut dengan sikap. Stimulus dalam penelitian ini adalah fenomena yang diperlihatkan oleh keberadaan lahan pelak Sikap adalah kecendrungan bertindak (tend to act), kesediaan beraksi masyarakat Kerinci untuk tetap mempertahankan dan melanjutkan kegiatan perladangan sistem pelak. Tri Stimulus Amar Konservasi adalah suatu konsep yang menyatakan bahwa sikap-sikap yang dijadikan sebagai suatu aksi berbuat atau tidak berbuat merupakan suatu proses stimulus. Tri Stimulus Amar Konservasi dibedakan atas stimulus alami, stimulus manfaat dan stimulus rela (religi). Stimulus alami adalah ransangan-ransangan atau signal yang ditimbulkan secara alami dan menjadi penyebab untuk masyarakat melaksanakan suatu aksi konservasi. Stimulus manfaat artinya, ransangan-ransangan yang menyebabkan seseorang melakukan suatu tindakan/perbuatan karena merasakan manfaat dari tindakan tersebut. Stimulus rela (religi) adalah kerelaan atau keikhlasan seseorang untuk melakukan suatu perbuatan berdasarkan keyakinan, kepercayaan atau adat budaya, sehingga menjadikannya sebagai suatu keyakinan yang harus diperbuat Konsep Tri – Stimulus Amar Konservasi sebagaimana pada Gambar 4.1.

ICS = (q1 x i1 x e1)n1 + (q2 x i2 x e2)n2 + …….. + (qn x in x en)nn

Tri-stimulus amar konservasi Stimulus alami:

Nilai-nilai kebenaran dari alam, kebutuhan keberlanjutan sumberdaya alam hayati sesuai dengan karakter bioekologinya

Stimulus Manfaat

Nilai-nilai kepentingan untuk manusia :manfaat ekonomi, manfaat obat, manfaat biologis/ekologis dll

Stimulus Rela/ Religius

Nilai-nilai kebaikan, terutama

Sikap konservasi Cognitive Persepsi, pengetahuan, pengalaman, pandangan, keyakinan Affective mosi, senang, benci, dendam, sayang, cinta dll K O N S E R V A S

Gambar 4.1 Diagram alir Tri Stimulus-Amar Konservasi stimulus, sikap dan perilaku konservasi (Zuhud 2007)

4.3 Hasil dan Pembahasan