• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III TOPIK PENELITIAN

B. Jenis – Jenis Anggaran

Anggaran dapat dikelompokkan dari beberapa sudut pandang sebagai berikut : 1. Menurut dasar penyusunan anggaran terdiri dari :

a. Anggaran tetap (fixed budget), adalah angaran yang dibuat untuk satu tingkat satu kegiatan selama jangka waktu tertentu, dimana pada tingkat kegiatan tersebut direncanakan pendapatan dan biaya. Anggaran ini tidak memungkinkan adanya penyesuaian oleh karena sudah tetap.

b. Anggaran variable (flexible budget), adalah anggaran yang dibuat berdasarkan pada kegiatan tingkat kegiatan. Prinsip dari anggaran ini adalah bahwa untuk setiap tingkat kegiatan harus terdapat norma-norma untuk kegiatan yang dikeluarkan. Norma-norma ini merupakan patokan dari pengeluaran-pengeluaran yang seharusnya pada masing-masing tingkat kegiatan tersebut. Penyusunan anggaran ini dilakukan dengan memperhatikan biaya tetap dan biaya variabel.

2. Menurut cara penyusunan, anggaran terdiri dari :

b. Anggaran periodik, yaitu anggaran yang disusun untuk satu periode tertentu, umumnya satu tahun yang disusun setiap akhir periode anggaran. c. Anggaran kontiniu, yaitu anggaran yang dibuat untuk memperbaiki

anggaran yang telah dibuat.

3. Menurut jangka waktu, anggaran terdiri dari :

a. Anggaran jangka pendek (anggaran taktis), yaitu anggaran yang dibuat dengan jangka waktu paling lama satu tahun. Anggaran ini untuk keperluan modal kerja merupakan anggaran jangka pendek.

b. Anggaran jangka panjang (anggaran strategis), yaitu anggaran yang dibuat untuk jangka waktu lebih dari satu tahun. Anggaran untuk keperluan investasi barang modal (capital budget). Anggaran jangka panjang tidak harus berupa anggaran modal. Anggaran jangka panjang diperlukan sebagai dasar penyusunan anggaran jangka pendek.

4. Menurut bidangnya, anggaran terdiri dari anggaran operasional dan anggaran keuangan. Kedua anggaran ini bila dipadukan disebut “anggaran induk (master budget)”. Anggaran tidak merupakan konsolidasi rencana keseluruhan perusahaan untuk jangka pendek, biasanya disusun atas dasar tahunan. Anggaran tahunan dipecah lagi menjadi anggaran triwulan. Anggaran triwulan dipecah lagi menjadi anggaran bulanan.

a. Anggaran biaya operasional, adalah anggaran untuk menyusun anggaran laporan laba rugi. Anggaran ini terdiri dari: anggaran penjualan, anggaran biaya pabrik, anggaran beban usaha.

b. Anggaran keuangan, adalah anggaran untuk menyusun anggaran neraca. Anggaran keuangan terdiri dari: anggaran kas, anggaran piutang, anggaran persediaan, anggaran utang, anggaran neraca.

5. Menurut kemampuan didalam penyusunan anggaran, terdiri dari :

a. Anggaran komprehensif, merupakan rangkaian dari berbagai macam anggaran yang disusun secara lengkap. Anggaran komprehensif perpaduan dari anggaran operasional dan anggara keuangan yang disusun secara lengkap.

b. Anggaran parsial, merupakan anggaran yang disusun secara tidak lengkap. Anggaran yang hanya menyusun bagi anggaran tertentu saja. Misalnya karena keterbatasan kemampuan, maka yang dapat disusun hanya anggaran operasional.

6. Menurut fungsinya, anggaran terdiri dari :

a. Anggaran appropriasi (appropritation budget), adalah anggaran yang dibentuk bagi tujuan tertentu dan tidak boleh digunakan untuk tujuan lain. b. Anggaran kinerja (performance budget), adalah anggaran yang disusun

berdasarkan fungsi kegiatan yang dilakukan dalam organisasi (perusahaan) misalnya, nilai untuk menilai apakah biaya yang dikeluarkan oleh masing-masing aktivitas tidak melampaui batas.

Dalam menyusun anggaran semua bagian yang terdapat dalam instansi dilibatkan. Adapun anggaran yang disusun oleh Badan Lingkungan Hidup Pemerintah Provinsi Sumatera Utara adalah anggaran belanja dan pendapatan, dimana anggaran belanja dan pendapatan tersebut merupakan anggaran induk yang berhubungan dengan aktifitas Badan Lingkungan Hidup Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dalam merealisasikan anggaran pendapatan yang diperoleh dari pemerintah pada periode yang akan datang.

C. Tujuan Anggaran Dan Manfaat Anggaran

Ada beberapa tujuan disusunnya anggaran, oleh Hendra Poerwanto, antara lain

1. Digunakan sebagai landasan yuridis formal dalam memilih sumber dan investasi dana,

2. Memberikan batasan atas jumlah dana yang dicari dan digunakan,

3. Merinci jenis sumber dana yang dicari maupun jenis investasi dana, sehingga dapat mempermudah pengawasan,

4. Merasionalkan sumber dan investasi dana agar dapat mencapai hasil yang maksimal,

5. Menyempurnakan rencana yang telah disusun, karena dengan anggaran lebih jelas dan nyata terlihat,

6. Menampung dan menganalisis serta memutuskan setiap usulan yang berkaitan dengan keuangan.

Berikut ini merupakan manfaat dari Anggaran : 7. Di bidang perencanaan

a. Membantu manajemen meneliti dan mempelajari segala masalah yang berkaitan dengan aktivitas yang akan dilaksanakan.

b. Membantu mengarahkan seluruh sumber daya yang ada diperusahaan dalam menentukan arah atau aktivitas yang paling menguntungkan.

c. Membantu arah atau menunjang kebijaksanaan perusahaan. d. Membantu manajemen memilih tujuan perusahaan.

e. Membantu menstabilkan kesempatan kerja yang tersedia. f. Membantu pemakaian alat - alat fisik secara efektif dan efisien. 8. Di bidang pengendalian

a. Membantu mengawasi kegiatan dan pengeluaran b. Membantu mencegah pemborosan

D. Keuntungan dan Kelemahan Anggaran A. Keuntungan Anggaran

Sistem anggaran memiliki biaya dan memerlukan pengorbanan tetapi dibalik pengorbanan itu banyak keuntungan. Keuntungan anggaran antara lain adalah :

a. Mempercepat dan mengefesienkan pencapaian tugas.

4 Mengurangi tugas-tugas rutin operasional pimpinan sehingga ia lebih terfokus kepada hal-hal yang bersifat jangka panjang dari stategis.

5 Meningkatkan daya kopetensi, motivasi, dan menimbulkan proses penilaian yang lebih objektif.

6 Dapat menilai kemajuan kerja (progress) pencapaian tujuan. 7 Dapat mengetahui lebih dini setiap penyimpangan dari tujuan. 8 Dapat membedakan antara yang efisien dan yang tidak efisien. 9 Mengurangi hal-hal yang bersifat kabur, ambivalen, atau ambigius. 10 Dapat memantapkan pelaksanaan manajemen, pengawasan, akuntansi

secara lebih baik.

11 Dapat mengarahkan kegiatan kebidang yang lebih menguntungkan. 12 Dapat menilai prestasi karyawan atau bagian yang lebih objektif. 2. Kelemahan Anggaran

Meskipun begitu banyak keuntungan yang diperoleh dengan menyusun anggaran, tetapi masih terdapat beberapa kelemahan yang membatasi anggaran. Kelemahan - kelemahan tersebut antara lain :

a. Anggaran hanya merupakan rencana, dan rencana tersebut baru berhasil apabila dilaksanakan sungguh-sungguh.

b. Anggaran hanya merupakan suatu alat yang dipergunakan untuk membantu manajer dalam melaksanakan tugasnya, bukan menggantikannya.

c. Kondisi yang terjadi tidak selalu seratus persen sama dengan yang diramalkan sebelumnya, karena itu anggaran perlu memiliki sifat yang luwes.

d. Anggaran harus disesuaikan dengan perkembangan yang terjadi.

E. Hubungan Anggaran dengan Perencanaan

Komponen utama perencanaan adalah anggaran, yang merupakan rencana keuangan untuk masa yang akan datang. Rencana tersebut mengidentifikasi tujuan dan tindakan yang diperlukan untuk mencapainya. Perencanaan meliputi pemilihan serangkaian aktivitas dan spesifikasi bagaimana aktivitas tersebut akan dilaksanakan. Perencanaan merupakan landasan dari proses manajemen, tanpa perencanaan tidak akan ada dasar bagi fungsi koordinasi dan pelaksanaan fungsi pengendalian. Anggaran merupakan rencana tertulis dari perusahaan, dengan adanya anggaran maka tiap bagian perusahaan dapat mengetahui apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan. Indra Bastian (2006: 1)

Langkah pertama dalam perencanaan adalah mengidentifikasi berbagai alternatif yang tersedia, dan selanjutnya memilih alterantif yang yang terbaik untuk memenuhi tujuan organisasi. Pada saat menentukan pilihan tersebut dan pilihan yang lain, manajemen harus menyeimbangkan antara kesempatan dan kebutuhan sumber daya dalam organisasi. Secara umum, seluruh alternatif yang

dipertimbangkan oleh manajemen dalam tahap perencanaan memiliki pengaruh terhadap pendapatan atau biaya.

Rencana manajemen biasanya dijabarkan secara formal dalam bentuk anggaran dan istilah penganggaran diterapkan untuk menggambarkan proses perencanaan secara umum. Anggaran disusun tahunan dan menunjukkan rencana manajemen secara spesifik dan kuantitatif. Anggaran merupakan salah satu unsur dari perencanaan. Dengan adanya rincian dari rencana ,maka dengan demikian manajemen akan lebih mudah mengarahkan jalannya pelaksanaan kegiatan perusahaan.

Anggaran adalah bagian yang penting dari proses perencanaan karena anggaran menentukan kepastian mengenai pengelolaan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan. Sebelum anggaran disiapkan , pihak manajemen terlebih dahulu harus membangun suatu rencana strategis. Rencana strategis ini akan menjadi dasar dalam pembuatan anggaran perusahaan. Indra Bastian (2006:1)

F. Analisis Anggaran sebagai Perencanaan Pada Badan Lingkungan Hidup Pemerintah Provinsi Sumatera Utara

Badan Lingkungan Hidup Pemerintah Provinsi Sumatera Utara selaku organisasi pasti memerlukan anggaran untuk mewujudkan visi dan misinya dengan efektif dan efisien. Pada proses perencanaan anggaran Badan Lingkungan Hidup Pemerintah Provinsi Sumatera Utara mempunyai sebuah tim anggaran yang dibawahi oleh Subdis Bidang Bina Program dan dibantu oleh :

1. Kepala Seksi Data dan Informasi. 2. Kepala Seksi Evaluasi dan Laporan.

3. Kepala Seksi Rencana Program.

Rencana anggaran diajukan oleh masing-masing Subdis sesuai dengan kebutuhan. Rencana tersebut kemudian diajukan kepada Subdis Bidang Bina Program untuk kemudian disahkan kepada Kepala Badan Lingkungan Hidup Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Dalam penyusunan rencana anggaran tersebut, tim anggaran melakukan banyak pertimbangan, seperti :

1. Belanja Pegawai 2. Belanja Barang dan Jasa 3. Belanja Modal

Dalam penyusunan rencana anggaran ini, tim anggaran juga melakukan berbagai analisa, yaitu sebagai berikut :

1. Analisa terhadap biaya-biaya langsung yang mungkin akan dikeluarkan yang berhubungan langsung dengan operasi normal instansi, seperti Belanja-Belanja kegiatan.

2. Analisa terhadap biaya-biaya yang terjadi di Badan Lingkungan Hidup Pemerintah Provinsi Sumatera Utara yang naik turunnya biaya tersebut dipengaruhi volume kegiatan atau proyek, seperti kegiatan yang tidak rutin dilakukan dan proyek yang bersangkutan.

Berdasarkan analisa-analisa tersebut, disusunlah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Badan Lingkungan Hidup Pemerintah Provinsi Sumatera

Utara . Anggaran tersebut kemudian diajukan kepada Kepala Badan Lingkungan Hidup Pemerintah Provinsi Sumatera Utara untuk mendapatkan persetujuan.

tersebut dikoreksi kembali oleh Biro Keuangan Sekretaris Daerah. Apabila anggaran tersebut dapat diterima, maka anggaran tersebut akan diserahkan kepada Sekretaris Daerah untuk disetujui. Selanjutnya Pihak Biro Keuangan Sekretaris Daerah memberikan dana ke Badan Lingkungan Hidup Pemerintah Provinsi Sumatera Utara sehingga Badan Lingkungan Hidup Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dapat menjalankan kegiatan-kegiatannya sesuai dengan anggaran yang telah direncanakan, disusun dan disepakati.

Badan Lingkungan Hidup Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menyusun anggaran untuk menentukan kegiatan-kegiatan apa saja yang akan dilakukan dan kebutuhan apa saja yang diperlukan selama satu tahun anggaran berdasarkan laporan setiap Subdis. Anggaran ini juga berfungsi sebagai rencana program kerja Badan Lingkungan Hidup Pemerintah Provinsi Sumatera Utara yang akan dilaksanakan selama satu tahun kedepan.

G. Anggaran Sebagai Alat Pengawasan/Pengendalian

Anggaran merupakan suatu alat pengawasan atau alat pengendalian (controlling). Pengawasan berarti mengevaluasi (menilai) terhadap pelaksanaan suatu pekerjaan, dengan cara :

1. Membandingkan realisasi dengan rencana (anggaran)

2. Melakukan tindakan perbaikan bila dipandang perlu (atau bila terdapat penyimpangan yang merugikan).

Untuk mengetahui apakah rencana yang telah ditetapkan dijalankan dengan semestinya, maka dibutuhkan suatu pengawasan atau pengendalian.

Seluruh kegiatan yang dilakukan perusahaan harus diawasai secara terus-menerus, jika pihak manajemen ingin tetap berada dalam batas-batas yang telah ditetapkan. Menurut Sofyan (1996:8) ”dalam ilmu manajemen pengawasan, langkah-langkah yang diikuti dalam proses pengawasan ini adalah penyusunan tujuan, penetapan standar, pengukuran hasil kerja, perbandingan fakta dengan standar, dan tindakan koreksi.

1. Penyusunan tujuan

Dalam penyusunan tujuan, diperlukan informasi dari sistem yang dihasilkan akuntansi dan format penyajiannya juga harus sesuai dengan format akuntansi.

2. Penetapan standar

Penetapan standar yang sebenarnya merupakan bagian dari proses perencanaan juga menggunakan data dan format akuntansi.

3. Pengukuran hasil kerja

Pengukuran hasil kerja dilakukan melalui pencatatan kejadian atau transaksi yang dilakukan melalui prosedur akuntansi sampai akhirnya dilaporkan melalui laporan keuangan.

4. Perbandingan fakta dengan standar

Informasi yang diperoleh kemudian dibandingkan dengan standar (budget) yang telah disusun untuk mengetahui penyimpangan yang terjadi dari rencana atau estandar yang telah ditentukan.

5. Tindakan koreksi

Dengan diketahuinya penyimpangan ini maka diperlukan evaluasi apakah penyimpangan itu perlu diinvestigasi untuk mendapatkan umpan balik

selanjutnya, yang pada intinya adalah agar usaha yang dilakukan sesuai dengan atau jangan terlalu jauh dari rencana.

Pengawasan dapat dibagi menjadi tiga tipe dasar, yaitu pengawasan pendahuluan, pengawasaan pada saat pekerjaan berlangsung, dan pengawasan umpan balik.

1. Pengawasan pendahuluan (Preliminary control)

Pengawasan ini memusatkan perhatian pada masalah mencegah timbulnya penyimpangan-penyimpangan pada kualitas sumber-sumber daya yang digunakan sebuah perusahaan.

2. Pengawasan pada saat pekerjaan berlangsung (Concurrent control) Pengawasan ini dilakukan untuk memonitor pekerjaan yang berlangsung, guna memastikan bahwa sasaran yang dicapai sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.

3. Pengawasan umpan balik (Feedback control)

Pengawasan ini memusatkan perhatian pada hasil-hasil akhir untuk menentukan tindakan-tindakan korektif apabila terdapat penyimpangan.

Ada beberapa perbedaan dalam mendefenisikan konsep pengawasan, termasuk di dalamnya pengawasan internal dan pengawasan manajemen.

Akuntansi sering menggunakan pengawasan internal dalam mengontrol kegiatan bisnis suatu perusahaan.

Ada tiga elemen dari struktur pengawasan internal suatu perusahaan yaitu : 1. Pengawasan lingkungan yang merupakan kerangka kerja utama diantara

2. Pengawasan sistem akuntansi yang terdiri dari catatan dan prosedur yang digunakan untuk mencatat, memproses, melaporkan semua transaksi perusahaan, memelihara tingkat kepercayaan terhadap aset dan hutang perusahaan,

3. Pengawasan prosedur yang merupakan langkah khusus untuk meminimumkan resiko terhadap ancaman tertentu.

Tabel 3.1

Badan Lingkungan Hidup Pemerintah Provinsi Sumatera Utara Anggaran Pendapatan dan Belanja

Tahun Anggaran 2013

No. Program/Kegiatan Alokasi (Rp) Realisasi (Rp) % VII. Belanja Tidak Langsung 4,405,369,667 4,405,369,667 100% VIII. Pelayanan Administrasi

Perkantoran 2,886,650,330 1,477,208,371 51,2% IX. Peningkatan Sarana Dan

Prasarana Aparatur 344,762,000 162,925,783 47,3% X. Peningkatan Disiplin

Aparatur 437,634,000 23,510,000 5,34%

XI. Peningkatan Kapasitas

Sumber Daya Aparatur 740,306,450 140,322,730 19% XII. Peningkatan

Pengembangan Sistem Pelaporan Pencapaian Kinerja dan Keuangan

550,188,000 441,264,000 81% VII. Perlindungan Dan

Konservasi Sumberdaya Alam 1,772,977,800 624,663,350 35,3% VIII. Pengembangan Kapasitas Pengelolaan Sumberdaya Alam Dan Lingkungan Hidup 5,161,751,794 1,692,356,982 33% IX. Pengendalian Pencemaran Lingkungan 2,946,846,000 1,538,386,900 53% X. Peningkatan Kualitas

Sumberdaya Alam Dan Lingkungan Hidup

Total 21,206,240,780 7,529,540,315 35,6% Pada tahun 2013, Badan Lingkungan Hidup Pemerintah Provinsi Sumatera Utara telah melaksanakan kegiatan-kegiatan Program Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup di Kota Medan dan sekitarnya , Program-program perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang dilaksanakan adalah : 1. Perlindungan Dan Konservasi Sumberdaya Alam

Program ini bertujuan melindungi sumber daya alam dari kerusakan dan mengelola kawasan konservasi yang sudah ada untuk menjamin kualitas ekosistem agar fungsinya sebagai penyangga system kehidupan dapat terjaga dengan baik. Pada program ini terdapat selisih sebesar Rp. 1.148.314.450,- atau mengalami penurunan sebesar 64,70% dari yang dianggarkan Rp. 1.772,977,800,-. Hal ini diakibatkan karena besarnya dana untuk dialokasikan dan program dari kegiatan ini hanya dilakukan dalam 3 kali dalam 1 tahun.

2. Pengembangan Kapasitas Pengelolaan Sumberdaya Alam Dan Lingkungan Hidup

Program ini bertujuan meningkatkatkan kapasitas pengelolaan sumber daya alam dan fungsi lingkungan hidup melalui tata kelola yang baik (goo environmental governance) berdasarkan prinsip transparansi, partisipasi dan akuntabilitas. Pada program ini terdapat selisih sebesar Rp. 1.692.358.982,- atau mengalami penurunan 67% dari yang dianggarkan Rp. 5.161.751.794,-. Hal ini diakibatkan karena besarnya dana untuk dialokasikan dan program dari kegiatan ini hanya dilakukan dalam 3 kali dalam 1 tahun.

3. Pengendalian Pencemaran Lingkungan

Program ini bertujuan meningkatkan kualitas lingkungan hidup dalam upaya mencegah perusakan atau pencemaran lingkungan hidup baik didarat, perairan tawar dan laut, maupun udara sehingga masyarakat memperoleh kualitas lingkungan hidup yang bersih dan sehat. Pada program ini terdapat selisih sebesar Rp. 1.408.459.10,- atau mengalami penurunan 47% dari yag dianggaran Rp. 2.946.846.000,-. Hal ini diakibatkan karena kegiatan yang dilakukan dalam program ini hanya mengevaluasi dan memonitoring apakah kegiatan pengendalian pencemaran lingkungan berjalan dengan baik dan kegiatan ini hanya dilakukan 1 kali dalam 1 tahun.

4. Peningkatan Kualitas Dan Akses Informasi Sumberdaya Alam Dan Lingkungan Hidup

Program ini bertujuan meningkatkan kualitas dan akses informasi dan sumber daya alam dan lingkungan hidup dalam rangka mendukung perencanaan pemamfaatan sumber daya alam dan perlindungan fungsi lingkungan hidup. Pada program ini terdapat selisih sebesar Rp. 530.864.540,- atau mengalami penurunan 27% dari yang dianggarkan Rp. 1.959.754.739,-. Program ini berlangsung dengan baik dengan pencapaian 73%.

5. Pelayanan Administrasi Perkantoran

Untuk mendukung program administrasi perkantoran dilakukan beberapa kegiatan antara lain :

a. Pelayanan jasa komunikasi, sumber daya air dan listrik b. Penyediaan jasa kebersihan kantor

d. Penyediaan barang cetakan dan penggandaan

e. Penyediaan komponen instalasi listrik / penerangan bangunan kantor f. Rapat koordinasi dan konsultasi ke luar derah

g. Penyediaan jasa operasional THL / PNS daerah Hasil –hasil yang dicapai adalah :

- Tersedianya jasa komunikasi Listrik, dan Air bersih : 35,15 % - Terjaganya Kebersihan Kantor : 100 %

- Tersedianya alat tulis kantor : 99,995 % - Tersediannya barang cetakan : 100 % 6. Peningkatan Sarana Dan Prasarana Aparatur

Untuk mendukung program peningkatan sarana dan prasarana aparatur dilakukan beberapa kegiatan antara lain :

a. Pembangunan gedung kantor

b. Pemeliharaan rutin / berkala gedung kantor

7. Program Peningkatan Pengembangan Sistem Pelaporan Capaian Kinerja Dan Keuangan

Kegiatan- kegiatan yang dilaksanakan untuk mendukung program ini pada tahun 2013 ;

a. Penyusunan Laporan Capaian Kinerja dan Ikhtisar Realisasi SKPD (LAKIP Badan ingkungan Hidup Pemerintah Provinsi Sumatera Utara 2012)

8. Program Peningkatan Disiplin Aparatur

Untuk mendukung program administrasi perkantoran dilakukan beberapa kegiatan antara lain :

a. Pengadaan Pakaian Dinas beserta perlengkapannya b. Pembinaan fisik dan mental aparatur

H. Analisis Anggaran sebagai Pengendalian Pada Badan Lingkungan Hidup Pemerintah Provinsi Sumatera Utara

Pengendalian merupakan fungsi manajemen yang menempati urutan terbawah tapi tidak berarti fungsi ini kalah penting dari fungsi manajemen lainnya. Fungsi pengendalian ini berhubungan erat dengan fungsi perencanaan karena pengendalian yang baik tidak dapat dilakukan tanpa adanya rencana dan petunjuk pelaksana yang dibuat sebelumnya, yaitu anggaran.

Anggaran merupakan salah satu alat pengendalian dalam suatu organisasi/instansi, begitu juga Badan Lingkungan Hidup Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Dengan adanya anggaran yang disusun oleh Badan Lingkungan Hidup Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, maka Badan Lingkungan Hidup Pemerintah Provinsi Sumatera Utara juga telah menetapkan standar kerja dalam organisasinya.

Pengendalian dilakukan untuk mengetahui penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam suatu kegiatan kerja. Penyimpangan ini diukur dari realisasi kegiatan dengan anggaran yang telah ditetapkan. Adapan penyimpangan yang mungkin terjadi di Badan Lingkungan Hidup Pemerintah Provinsi Sumatera Utara antara lain :

1. Penyimpangan kelebihan dana, yaitu suatu kegiatan yang dalam pelaksanaannya realisasi kegiatan hanya membutuhkan dana lebih kecil dari anggaran yang telah ditetapkan.

2. Penyimpangan kekurangan dana, yaitu suatu kegiatan yang dalam pelaksanaannya realisasi kegiatan ternyata membutuhkan dana lebih besar dari anggaran yang telah ditetapkan.

Adapun pengendalian yang dilakukan oleh Badan Lingkungan Hidup Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dalam melakukan kegiatan-kegiatan kerjanya dengan cara :

1. Mengembalikan adanya kelebihan dana kepada Pemerintah agar tidak terjadi penyelewengan dana tersebut.

2. Apabila dana yang diberikan ternyata tidak mencukupi pembiayaan suatu proyek, maka dana tersebut tetap akan dikembalikan kepada Pemerintah dan proyek tersebut dibatalkan.

I. Hasil Analisis Anggaran pada Badan Lingkungan Hidup Pemerintah Provinsi Sumatera Utara

Anggaran yang disusun oleh Badan Lingkungan Hidup Pemerintah Provinsi Sumatera Utara secara garis besar masih mengalami penyerapan anggaran yang masih rendah, hal ini dibuktikan dengan lebih besarnya jumlah dana yang dianggarkan daripada jumlah dana yang terealisasi.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan masih rendahnya penyerapan anggaran pada Badan Lingkungan Hidup Pemerintah Provinsi Sumatera Utara yaitu :

1. Faktor Proses Perencanaan Pembuatan Anggaran

Aspek perencanaan yang tidak matang dalam penentuan anggaran yang akan disajikan akan berdampak pada tidak akan berjalannya program kerja dengan baik, hal ini dikarenakan tidak selarasnya antara perencaan anggaran dan program kerja yang akan dilaksanakan , dibawah ini adalah bentuk dari faktor perencanaan yang tidak matang pada Badan Lingkungan Hidup Pemerintah Provinsi Sumatera Utara :

a. Perencanaan Kegiatan Tidak Sesuai dengan Kebutuhan

b. Ketidaklengkapan data pendukung sewaktu penyusunan anggaran c. Salah penentuan akun sehingga perlu revisi dokumen anggaran

d. Penyusunan pagu anggaran terlalu rendah (tidak sesuai dengan harga pasar)

e. Adanya penyesuaian harga karena adanya kebijakan pemerintah (eskalasi) f. Tidak menganggarkan biaya pendukung dan administrasi pengadaan g. Rencana anggaran biaya tidak sesuai dengan satuan biaya

h. Masa penyusunan dan penelaahan anggaran yang terlalu lama

i. Adanya pejabat pengelola keuangan ( bendahara ) yang sering mutasi juga turut memperburuk faktor perencanaan dalam pencairan dana

j. Adanya pagu alokasi anggaran yang diblokir mengakibatkan anggaran tersebut tidak dapat dicairkan oleh satuan kerja

2. Faktor Proses Pengadaan Barang dan Jasa

Faktor pengadaan barang dan jasa mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap penyerapan anggaran satuan kerja. Dibawah ini beberapa faktor yang

juga turut berpengaruh terhadap rendahnya penyerapan anggaran sewaktu proses pengadaan barang dan jasa pada Badan Lingkungan Hidup Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.

a. Masa penyusunan dan penelaahan anggaran yang terlalu lama juga

mengakibatkan keterlambatan pembentukan panitia pengadaan barang dan jasa. Apabila pembentukan panitia pengadaan barang dan jasa tersebut mengalami keterlambatan, maka bisa dipastikan pelaksanaan

program/proyek tersebut terhambat. sehingga semakin memperendah penyerapan anggaran.

b. Jumlah pegawai untuk melakukan pengadaan barang dan jasa pada Badan Lingkungan Hidup Pemerintah Provinsi Sumatera Utara tidak memadai. c. Kesulitan dalam menentukan harga karena tidak melalui survey pasar

terlebih dahulu.

d. Belum ada kerangka acuan dalam pelaksanaan kegiatan proses pengadaan barang dan jasa.

e. Salah dalam memilih tata cara dan system pengadaan sehingga perlu waktu yang lama.

f. SDM pelaksana pengadaan kurang kompeten

g. Jadwal pelaksanaan lelang yang disusun tidak realistis atau tidak sesuai kebutuhan.

3. Faktor – Faktor Lain yang Berpengaruh Atas Rendahnya Penyerapan Dana Anggaran pada Badan Lingkungan Hidup pemerintah Provinsi Sumatera Utara :

Faktor lain seperti keterlambatan pejabat daerah dalam menetapkan pengelolaan anggaran pada satuan kerja perangkat daerah, dan faktor

Dokumen terkait