• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jenis-Jenis Bank

Dalam dokumen OLEH : CHAIRUNNAZRI HARAHAP NIM: (Halaman 39-0)

BAB II: PENGATURAN PEMBERIAN JAMINAN OLEH

2. Jenis-Jenis Bank

a. Bank Dari Segi Fungsinya

Sebelum berlakunya Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 dikenal pembagian jenis bank sebagai berikut, yaitu :

1) Bank Sentral ialah Bank Indonesia sebagaimana dimaksud dalam UUD 1945 (penjelasan pasal 23 ayat 3) yang selanjutnya diatur dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1968 tentang bank sentral.37

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1968, Bank Sentral adalah suatu Lembaga negara yang bertugas membantu Presiden dalam melaksanakan kebijakan moneter, sehingga karena itu Bank Sentral menjalankan tugasnya berdasarkan garis-garis pokok kebijaksanaan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah.38

36 Adrian Sutedi, loc it.

37 Zainal Asikin, op.cit, hal. 9.

38.Otoritas Jasa Keuangan, “Undang-Undang Nomor 13 Tahun1968 tentang Bank Sentral”, di akses melalui https://www.ojk.go.id/id/kanal/perbankan/regulasi/undang-undang/Pages/undang-undang-nomor-13-tahun-1968-tentang-bank-sentral.aspx, pada tanggal 21 juli 2021, pukul 22:34 WIB.

2) Bank Tabungan, yaitu bank yang dalam mengumpulkan dananya terutama menerima simpanan dalam bentuk tabungan dan dalam usaha utama mempergunakan dananya dalam kertas berharga.

3) Bank pembangunan, yaitu bank yang dalam pengumpulan dananya terutama menerima simpanan dalam bentuk deposito dan atau mengeluarkan kertas berharga jangka menengah dan jangka panjang dan dalam usahanya terutama memberikan kredit jangka menengah dan jangka panjang di bidang pembangunan.39

4) Bank-bank lainnya yang ditetapkan dengan undang-undang. Dalam Pasal 3 ayat (3) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1967 pemerintah telah mendirikan mengelompokan bank kedalam beberapa jenis bank, yaitu:

a) Bank Pembangunan Indonesia sebagaimana diatur dengan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1960;

b) Bank Pembangunan Daerah sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1962;

c) Bank Dagang Negara sebagaimana diatur dalam Undang- Undang Nomor 17 Tahun 1968 Jo Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1968;

d) Bank Bumi Daya sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1968;

e) Bank Tabungan Negara sebagaimana diatur dalam Undang- Undang Nomor 20 Tahun 1968;

39 Marhainis Abdul Hay, “Hukum Perbankan Di Indonesia”, (Jakarta: Pradnya Paramita, 1975), hal. 16.

f) Bank Rakyat Indonesia sebagaimana diatur dalam Undang- Undang Nomor 21 Tahun 1968;

g) Bank Eksport Import sebagaimana diatur dalam Undang- Undang Nomor 22 Tahun 1968.

Maksud dari pemerintah menetapkan jenis-jenis bank tersebut (sesuai dengan namanya) adalah agar bank-bank tersebut dapat melaksanakan fungsinya secara lebih spesifik dan terkonsentrasi pada bidang-bidang tertentu. Akan tetapi, dalam pelaksanaannya prinsip itu tidak terlaksana, artinya masing- masing bank melaksanakan tugasnya secara umum (terkesan serabutan) sehingga pembagian jenis bank sesuai dengan aktivitas kegiatannya tersebut dipandang tidak relevan lagi.

Kemudian dengan berlakunya UU No. 9 Tahun 1992 yang disempurnakan dengan UU No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan, dibagi beberapa jenis bank yang disesuaikan dengan bidang usahanya, kepemilikan, dan dari segi operasionalnya, sebagai berikut.40

b. Bank Dari Segi Usahanya

1) Bank Umum, dalam pasal 1 angka 3 UU Perbankan 1998, yaitu, “Bank Umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan/atau berdasarkan prinsip Syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran”.41

40 Zainal Asikin, op.cit, hal. 35-36.

41 Uswatun Hasanah, op.cit, hal. 26.

2) Bank Perkreditan Rakyat adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.42 3) Bank Khusus, dalam pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Perbankan

dikemukakan bahwa bank khusus dapat mengkhususkan diri untuk melaksanakan kegiatan tertentu atau memberikan perhatian yang lebih besar kepada kegiatan tertentu. Yang dimaksud dengan mengkhususkan diri dalam kegiatan tertentu antara lain melaksanakan kegiatan pembiayaan jangka panjang, pembiayaan untuk pengembangan koperasi, pengembangan usaha ekonomi lemah/pengusaha kecil, pengembangan ekspor nonmigas, dan pengembangan pembangunan perumahan.

Bank umum kepemilikannya mungkin saja dimiliki oleh negara (pemerintah daerah), swasta asing, dan koperasi, sedangkan BPR hanya dimungkinkan dimiliki oleh negara (pemerintah daerah), swasta dan koperasi saja.

c. Bank Dari Segi Kepemilikan

1) Bank milik negara adalah bank yang dimiliki oleh negara dalam arti permodalannya berasal dari pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerindah daerah. Sebelum berlakunya Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1992, pengaturan tentang bank milik diatur dalam undang-undang tersendiri yaitu Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1967 tentang Perbankan, yang dalam Pasal 5 ayat (1) dikemukakan bahwa Bank

42 Rachmadi Usman, op.cit, hal. 63.

Umum milik negara didirikan dengan undang- undang berdasarkan undang-undang ini.

Seiring dengan berlakunya Undang-undang Badan Usaha Milik Negara (UU No. 19 Tahun 2003) maka bentuk perusahaan negara terdiri dari Perusahaan Umum ( Perum) dan Perusahaan Perseroan (Persero), maka Bank Negara harus dibentuk dalam bentuk Perum, PT Persero, maupun BUMD.

2) Bank milik swasta baik dalam negeri maupun luar negeri

a) Bank Swasta Nasional adalah bank yang dimiliki oleh warga negara Indonesia secara individual dan atau badan hukum Indonesia;

b) Bank Swasta Asing adalah bank yang modalnya dimiliki warga negara asing atau badan hukum asing, dan bank tersebut bisa berbentuk kantor cabang.

Dari pembagian di atas jelaslah bahwa bank sentral tidak termasuk kedalam jenis bank karena fungsi, tugas bank sentral adalah sebagai otoritas moneter yang bertugas menjaga kestabilan moneter, serta melakukan pengawasan dan pembinaan bank. Oleh sebab itu, bank sentral bukan merupakan tenis bank yang diatur dalam undang-undang perbankan yang baru. Tetapi justru merupakan lembaga negara yang ikut dan peranan bertanggung jawab atas dilaksanakannya undang-undang ini.

d. Bank Dari Segi Operasional

1) Bank Devisa yaitu bank yang telah memperoleh izin dari Bank Indonesia untuk melakukan transaksi perdagangan dengan menggunakan valuta asing;

2) Bank Non Devisa yaitu bank yang tidak mendapatkan izin untuk melakukan transaksi pembayaran dengan menggunakan valuta asing.43 3. Fungsi dan Kegiatan Usaha Bank

Fungsi utama perbankan Indonesia adalah sebagai penghimpun dan penyalur dana masyarakat (pasal 3 Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992). Hal ini berarti bahwa perbankan dituntut peranan yang lebih aktif dalam menggali dana dari masyarakat dalam rangka pembangunan nasional. Selanjutnya tujuan perbankan Indonesia adalah bertujuan menunjang pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan, pertumbuhan ekonomi, dan stabilitas nasional ke arah peningkatan kesejahteraan rakyat (pasal 4 Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992).

Dengan memperhatikan prinsip kehati-hatian itu, maka diharapkan perbankan Indonesia dalam melakukan usahanya akan melindungi kepentingan masyarakat penyimpan dana khususnya serta menunjang kegiatan ekonomi pada umumnya, bahkan lembaga perbankan diharapkan dituntut mampu menciptakan stabilitas nasional dalam arti yang seluas-luasnya.

Berdasarkan uraian-uraian di atas jelaslah dapat disimpulkan bahwa prinsip-prinsip perbankan yang dianut dalam Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 adalah sebagai berikut: Prinsip Demokrasi Ekonomi, Prinsip Kehati-hatian, Prinsip perbankan yang menunjang pembangunan, Prinsip perbankan yang menunjang stabilitas, Prinsip likuiditas dan Prinsip Profesional.44

Kedudukan dan fungsi Bank Indonesia dicantumkan dalam penjelasan pasal 23 Undang Dasar 1945. Berdasarkan penjelasan Pasal 23

Undang-43 Zainal Asikin, op.cit, hal. 37-39.

44 Zainal Asikin, loc it.

Undang Dasar 1945 tersebut, jelaslah bahwa di Indonesia hanya ada satu bank sentral yang disebut Bank Indonesia. Bank Indonesia ini mempunyai kedudukan yang khusus dan itu diatur dalam penjelasan Pasal 23 Undang- Undang Dasar 1945 tersebut, yakni sebagai satu-satunya lembaga yang diberi hak monopoli oleh negara, dimana Bank Indonesia, berwenang untuk menerbitkan, mengeluarkan, dan mengatur peredaran macam dan harga mata uang. Untuk menjamin hal tersebut, maka kedudukan hukum Bank Indonesia sebagai bank sentral (sirkulasi) harus ditetapkan dengan undang-undang.45

Fungsi dan peranan bank secara umum adalah 3 (tiga) hal, yaitu:

a. Penghimpun Dana

Dana yang dapat dimanfaatkan oleh sebuah bank untuk menjalankan fungsinya antara lain bersumber dari:

1) Pemilik modal yang berupa setoran modal awal pendirian ataupun pengembangan modal.

2) Masyrakat luas yang diperoleh melalui usaha bank menawarkan produk simpanan, berupa tabungan, deposito, dan giro.

3) Lembaga keuangan yang diperoleh dari pinjaman dana yang berupa kredit likuiditas dan call money (dana yang sewaktu-waktu dapat ditarik kembali oleh bank yang meminjam).

b. Penyalur dana

Penyaluran atas dana yang berhasil dihimpun oleh sebuah bank diwujudkan dalam bentuk kredit atau bentuk lainnya kepada masyarakat yang memerlukan, seperti pembelian surat-surat berharga, penyertaan, pemilikan

45 Rachmadi Usman, loc it.

harta tetap, dan lain sebagainya. Aktivitas ini menimbulkan risiko, karena itu dalam memenuhi asas kehati-hatian, pelaksanaannya ditetapkan berbagai persyaratan dan ketentuan.

c. Pelayanan jasa keuangan

Sebagai pelaksana lalu lintas pembayaran, bank melakukan berbagai aktivitas kegiatan lainnya, seperti pengiriman uang/transfer, penagihan surat berharga/collection, penyelenggara alat pembayaran menggunakan kartu (debit/kredit), BI-RTGS, SKN-BI, ATM, E-banking, sampai dengan sebagai penyelenggaraan jasa sistem pembayaran.

Bank dapat berfungsi sebagai agent of trust, agent of development, dan agent of services.

1) Agent of Trust, yaitu lembaga yang berlandaskan kepercayaan dalam menghimpun dan menyalurkan dana. Masyarakat mau menyimpan dananya di bank apabila dilandasi kepercayaan. Dalam fungsi ini, dibangun kepercayaan dari pihak penyimpan dana (termasuk investor), bank, juga debitur. Kepercayaan ini penting sebagai landasan aktivitas usaha yang saling diuntung kan, baik dari aktivitas penyimpangan dana, penampung dana, maupun penerima penyaluran dana,

2) Agent of Development, yaitu lembaga yang memobilisasi dana untuk pembangunan ekonomi. Kegiatan penghimpunan dan penyaluran dana berdampak pada perkembangan lancarnya kegiatan perekonomian di sektor riil. Kegiatan bank tersebut memungkinkan masyarakat melakukan kegiatan investasi, distribusi, serta konsumsi barang dan

jasa. Kelancaran kegiatan inilah yang akan menggerakkan pembangunan perekonomian suatu masyarakat.

3) Agent of Services, yaitu sebagai lembaga yang memobilisasi dana untuk pembangunan ekonomi di samping melakukan kegiatan penghimpunan dan penyaluran dana, bank juga memberikan penawaran jasa perbankan kepada masyarakat Jasa yang ditawarkan ini erat kaitannya dengan seluruh ativitas keuangan yang dapat menggerakkan perekonomian secara umum.46

Sebagai lembaga yang berorientasi bisnis, bank juga melakukan berbagai kegiatan, sebagai lembaga keuangan, kegiatan bank sehari-hari tidak akan terlepas dari bidang keuangan Kegiatan perbankan yang paling pokok adalah membeli uang dengan cara penghimpun dana dari masyarakat luas Kemudian menjual uang yang berhasil dihimpun dengan cara menyalurkan kembali kepada masyarakat melalui pemberian pinjaman atau kredit.

Dalam praktinya kegiatan bank dibedakan sesuai dengan jenis bank tersebut. Setiap jenis bank memilikı ciri dan tugas tersendiri dalam melakukan kegiatanya, misalnya dilihat dari segi fungsi bank yaitu antara kegiatan bank umum dengan kegiatan bank perkreditan rakyat, jelas memiliki tugas atau kegiatan yang berbeda.

Dalam membahas usaha-usaha yang dapat dilakukan oleh perbankan, maka sebaiknya dibedakan tentang usaha-usaha apa yang dapat dilakukan oleh Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR).47

46 Ikatan Bankir Indonesia (IBI), Forum Komunikasi Direksi Kepatuhan Perbankan (FKDKP), “Menguasai Fungsi Kepatuhan Bank”, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2018), hal. 3-4.

47 Zainal Asikin, op.cit, hal. 135.

a. Usaha Bank Umum

Dalam pasal 6 Undang-undang Perbankan yang diubah disebutkan bahwa usaha-usaha yang dapat dijalankan oleh Bank umum meliputi :

1) Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa giro, deposito berjangka, sertifikat deposito, tabungan atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu;48

2) Memberikan kredit dengan memerhatikan prinsip kehati-hatian serta mempunyai keyakinan atas kemampuan debitur untuk melunasi utangnya;49

3) Memindahkan uang, Bank Umum menjalankan usaha memindahkan uang baik untuk kepentingan sendiri maupun untuk kepentingan nasabah;

4) Menempatkan atau meminjamkan dana, Bank Umum menjalankan usaha menempatkan dana pada, meminjamkan dana dari, atau meminjamkan dana kepada bank lain, baik dengan menggunakan surat, sarana telekomunikasi maupun dengan wesel unjuk, cek atau sarana lainnya;

5) Menerima pembayaran tagihan, Bank Umum menerima pembayaran dari tagihan atas surat berharga dan melakukan perhitungan dengan atau antarpihak ketiga. Kegiatan ini mencakup antara lain inkaso dan kliring;

6) Menyediakan tempat penyimpanan, Bank Umum menyediakan tempat untuk menyimpan barang dan surat berharga. Penyediaan tempat di sini adalah kegiatan bank yang semata-mata melakukan penyewaan tempat

48 Rachmadi Usman, op cit, hal. 208.

49 Zainal Asikin, op cit, hal. 136.

penyimpanan barang dan surat berharga (safety box) tanpa perlu diketahui mutasi dan isinya oleh bank;

7) Melakukan kegiatan penitipan, Bank Umum melakukan kegiatan penitipan untuk kepentingan pihak lain berdasarkan suatu kontrak.

Kegiatan penitipan dapat dilakukan baik dengan menerima titipan harta penitip maupun mengadministrasikannya secara terpisah dari kekayaan bank. Mutasi darı barang titipan dilaksanakan oleh bank atas perintah penitip. Jika bank yang menyelenggarakan kegiatan penitipan mengalami pailit. semua harta yang dititipkan pada bank tersebur tidak dimasukkan dalam harta kepailitan dan wajib dikembalikan kepada penitip yang bersangkutan.50

b. Usaha Bank Perkreditan Rakyat

Disebutkan dalam ketentuan Pasal 13 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998, bahwa kegiatan usaha Bank Perkreditan Rakyat konvensional, meliputi:

1) Menghimpun dana masyarakat dalam bentuk simpanan berupa deposito berjangka, tabungan, dan/atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu. Penyebutan “bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu” dimaksudkan untuk menampung kemungkinan adanya bentuk penghimpunan dana dari masyarakat oleh BPR konvensional yang serupa dengan deposito berjangka dan tabungan, tetapi bukan giro atau simpanan lain yang dapat ditarik dengan cek.

50 Djoni S. Gazali, Rachmadi Usman., “Hukum Perbankan”, (Jakarta: Sinar Grafika, 2012), hal. 154-155.

2) Memberikan kredit;51

3) Menyediakan pembiayaan dan penempatan dana, Bank Perkreditan Rakyat menyediakan pembiayaan dan penempatan dana berdasarkan Prinsip Syariah, sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Bank Perkreditan Rakyat yang melaksanakan usahanya berdasarkan Prinsip Syariah tidak diperkenankan melaksanakan kegiatan secara konvensional dan Bank Perkreditan Rakyat yang berdasarkan prinsip konvensional tidak diperkenankan melakukan kegiatan berdasarkan Prinsip Syariah;

4) Menempatkan dananya dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI), deposito, sertifikat deposito, dan/atau tabungan pada bank lain;52 5) Menyediakan pembiayaan bagi nasabah berdasarkan prinsip bagi hasil

sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh peraturan pemerintah.53 4. Pendirian dan Kepemilikan Bank

Ketentuan mengenal pendirian bank dalam UU Perbankan No. 10 Tahun 1998 diatur secara terpisah, dan berbeda antara pendirian jenis bank umum dengan jenis bank perkreditan rakyat. Menyangkut ketentuan pendirian ini termasuk juga pembukaan kantor cabang pembantu dan kantor kas.

a. Pendirian Bank Umum

Bank umum dapat didirikan dan menjalankan usaha dengan izin Menteri Keuangan setelah mendengar pertimbangan dari Bank Indonesia. Bank tersebut dapat didirikan oleh warga negara Indonesia, dan badan hukum

51 Ibid, hal 165.

52 Rachmadi Usman, op cit, hal. 213.

53 Zainal Asikin, op cit, hal. 138.

Indonesia, atau atas kerja sama antarwarga negara Indonesia atau badan hukum Indonesia dengan bank yang berkedudukan di luar negeri.

Menurut Pasal 2 Surat keputusan Menteri Keuangan mengenai Bank Umum. Pemberian izin mengenai Bank Umum dilakukan dalam dua tahap, pertama adalah tahap persetujuan prinsip, yaitu persetujuan untuk melakukan persiapan pendirian bank yang bersangkutan. Tahap kedua, pemberian izin usaha yang diberikan untuk melakukan usaha setelah persiapan selesai dilakukan. Selama belum mendapatkan izin usaha, pihak yang mendapat persetujuan prinsip tidak di perkenankan melakukan kegiatan usaha apapun di bidang perbankan. Permohonan untuk mendapatkan persetujuan prinsip diajukan sekurang- kurangnya oleh salah seorang calon pemilik, dengan melampirkan:

1) Rancangan Anggaran Dasar (RAD);

2) Daftar calon pemegang saham, berikut pernyataan masing-masing dan simpanan wajib serta daftar pihak yang akan melakukan penyertaan, berikut jumlah penyertaannya bagi bank umum yang berbentuk hukum koperasi;

3) Calon direksi, susunan direksi, dewan komisaris, dan susunan organisasi;

4) Rencana kerja tahun pertama;

5) Bukti setoran modal sekurang-kurangnya sebesar 30% dari modal sektor.54

b. Pendirian Bank Perkreditan Rakyat

54 Yoyo Sudaryo, Aditya Yudanegara, “Investasi bank dan Lembaga Keuangan”, (Yogyakarta: CV Andi Offset, 2017), hal. 123-124.

Sebagaimana halnya pendirian bank umum, maka dalam pendirian bank perkreditan rakyat diperlukan adanya izin prinsip dan izin usaha dari pimpinan Bank Indonesia.

Permohonan izin prinsip untuk bank perkreditan rakyat wajib memenuhi persyaratan tertentu sebagaimana ditentukan dalam Pasal 6 Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor 32/35/KEP/DIR tentang bank perkreditan rakyat, serta melampirkan:

1) Rancangan akta pendirian badan hukum, termasuk rancangan anggaran dasar badan hukum yang telah disahkan oleh instansi yang berwenang.

2) Data kepemilikan berupa: daftar pemegang saham berikut perincian besarnya masing-masing kepemilikan saham bagi bank yang berbentuk hukum perseroan terbatas/perusahaan daerah, dan daftar calon anggota berikut perincian jumlah simpanan pokok dan simpanan wajib, serta daftar hibah bagi bank yang berbentuk hukum koperasi.

3) Daftar susunan dewan komisaris dan direksi.

4) Rencana dan susunan organisasi.

5) Rencana kerja untuk tahun pertama, yang memuat hasil penelaahan peluang pasar dan potensi ekonomi; rencana kegiatan usaha yang mencakup penghimpunan dan penyaluran dana serta langkah-langkah kegiatan yang akan dilakukan dalam mewujudkan rencana tersebut;

rencana kebutuhan pegawai; dan proyeksi arus kas bulanan selama 12 bulan serta proyeksi neraca dan perhitungan laba rugi.

6) Bukti pelunasan modal sekurang-kurangnya sebesar 30% dalam bentuk fotokopi bilyet deposito pada bank umum di Indonesia dan atas nama

Direksi Bank Indonesia c.q. salah seorang calon pemilik bank perkreditan rakyat yang bersangkutan. .

7) Surat pernyataan dari calon pemegang saham bagi bank yang berbentuk hukum perseroan terbatas/perusahaan daerah atau dari calon anggota bagi bank yang berbentuk hukum koperasi, bahwa pelunasan modal disetor tidak berasal dari pinjaman atau fasilitas pembiayaan dalam bentuk apa pun dari bank dan/atau pihak lain di Indonesia atau tidak berasal dari hasil kegiatan yang melanggar hukum.55

Menurut pasal 22 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 ditegaskan:

a. Bank Umum hanya dapat didirikan oleh :

1) Warga negara Indonesia dan atau badan hukum Indonesia; atau

2) Warga negara Indonesia dan atau badan hukum Indonesia dengan warga negara asing dan atau badan hukum asing secara kemitraan.56 Adapun untuk Bank Perkreditan Rakyat, disebutkan dalam ketentuan Pasal 23 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998, hanyabdapat didirikan dan dimiliki oleh:

1) Warga negara Indonesia;

2) Badan hukum Indonesia yang seluruh pemiliknya warga negara Indonesia;

3) Pemerintah Daerah;

55 Hermansyah, “Hukum Perbankan Nasional Indonesia”, (Jakarta: Kencana, 2020), hal.

27-28.

56 Zainal Asikin, op cit, hal. 46.

4) Dapat dimiliki bersama di antara warga negara Indonesia, badan hukum Indonesia dan/atau Pemerintah Daerah.57

B. Tinjauan Hukum Mengenai Jaminan Berdasarkan Peraturan Perundang- undangan Di Indonesia

1. Pengertian Jaminan

Berdasarkan Pasal 1131 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPer), semua kebendaan si berutang, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, baik yang sudah ada maupun yang baru akan ada di kemudian hari, menjadi tanggungan untuk segala perikatan perseorangan. Hal ini dinamakan jaminan.

Jaminan itu sendiri dibagi menjadi dua, yaitu jaminan umum dan jaminan khusus.58

Jaminan adalah tanggungan yang diberikan oleh debitur dan atau pihak ketiga kepada kreditur karena pihak kreditur mempunyai suatu kepentingan bahwa debitur harus memenuhi kewajibannya dalam suatu perikatan.59 Pendapat yang sama menurut Mariam Darus Badrulzaman, jaminan adalah suatu tanggungan yang diberikan seorang debitur dan atau pihak ketiga kepada kreditur untuk menjamin kewajibannya dalan suatu perikatan.60 Pengertian jaminan menurut Djuhaendah Hasan adalah sarana perlindungan bagi keamanan kreditur, yaitu kepastian akan pelunasan utang debitur atau pelaksanaan suatu

57 Djoni S. Gazali, Rachmadi Usman, op cit, hal. 188.

58 Indonesia, (KUHPer), Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, LN No. 12 tahun 1975, pasal 1131.

59 Hasanudin Rahman, “Aspek-aspek Hukum Pemberian Kredit Perbankan di Indonesia”, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1995), hal.174.

60 Mariam Darus Badrulzaman, “Perjanjian Kredit Bank”, (Bandung:Alumni, 1983), hal.1.

prestasi oleh debitur atau oleh penjamin debitur.61 Jaminan dalam perspektif yuridis dimaknai sebagai salah satu upaya untuk memberikan kepastian hukum kepada kreditor (pihak yang berhak) bahwa debitor (pihak yang memiliki kewajiban) akan melaksanakan kewajibannya.62

Dalam praktek, bank sering meminta jaminan secara khusus dengan membuat perjanjian jaminan baik berupa perjanjian jaminan kebendaan maupun perjanjian jaminan perorangan. Perjanjian jaminan kebendaan biasanya lebih disukai para kreditur daripada perjanjian jaminan perorangan, karena dalam perjanjian jaminan kebendaan dengan jelas ditentukan benda tertentu yang diikat dalam perjanjian dan benda tersebut disediakan untuk menjaga terjadinya kredit macet dikemudian hari, yaitu sebagai ajang pelunasan utang.63

Jaminan dalam istilah perbankan disebut objek jaminan. Jaminan biasanya diartikan dengan harta benda milik debitor yang dijadikan jaminan atas piutangnya. Kredit senantiasa dibayangi oleh risiko, untuk berjaga-jaga timbulnya risiko ini diperlukan benteng untuk menyelamatkan yaitu jaminan sebagai sarana pengaman timbul atas atas risiko yang mungkin cedera janjinya nasabah dikemudian hari.64 Istilah jaminan dalam ketentuan perbankan berbeda dengan istilah didalam hukum jaminan yaitu jaminan pokok dan jaminan tambahan. Jaminan pokok maksudnya hal yang berkaitan langsung dengan kredit yang dimohon misalnya dapat berupa barang, proyek, hak tagih yang

61 Djuhaendah Hasan, “Lembaga Jaminan Kebendaan Bagi Tanah Dan Benda Lain Yang Melekat Pada Tanah Dalam Konsepsi PenerapanAsas Pemisahan Horisontal”, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1996), hal. 233.

62 Lastuti Abubakar, “Telaah Yuridis Perkembangan Lembaga dan Objek Jaminan (Gagasan Pembaruan Hukum Jaminan Nasional)”, Buletin Hukum Kebanksentralan, Vol 12 No. 1, januari-juni 2015, hal. 1.

63 Ibid, hal. 12.

64 Etty Mulyati, Fajrina Aprilianti Dwiputri, op cit, hal. 140.

dibiayai kredit bersangkutan. Sedangkan istilah jaminan tambahan adalah merupakan jaminan berupa barang yang tidak berkaitan dengan objek yang dibiayai kredit yang bersangkutan, dalam hal ini berupa jaminan khusus baik jaminan kebendaan yaitu harta benda milik debitur. Jaminan pokok lebih aman

dibiayai kredit bersangkutan. Sedangkan istilah jaminan tambahan adalah merupakan jaminan berupa barang yang tidak berkaitan dengan objek yang dibiayai kredit yang bersangkutan, dalam hal ini berupa jaminan khusus baik jaminan kebendaan yaitu harta benda milik debitur. Jaminan pokok lebih aman

Dalam dokumen OLEH : CHAIRUNNAZRI HARAHAP NIM: (Halaman 39-0)

Dokumen terkait