• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2. Jenis-jenis Kedisiplinan

Jenis-jenis kedisiplinan di bedakan menjadi tiga macam: a. Disiplin tradisional

Disiplin tradisional merupakan disiplin yang bersifat menekan, menghukum, mengawasi, memaksa, dan akibatnya merusak penilaian yang terdidik.

b. Disiplin modem

Disiplin merupakan pendidikan yang hanya menciptakan suatu yang memungkinkan agar anak dapat mengatur dirinya. Jadi situasi yang akrab, hangat, bebas dari rasa takut sehingga anak mengembangkan kemampuan dirinya.

c. Disiplin liberal

Disiplin liberal merupakan disiplin yang di berikan kepada anak sehingga merasa memiliki kebebasan tanpa batas (www. suaranyawaxo. cc/2009/07/pengar).

Berdasarkan pandang lama, orang tua hanya mencegah perbuatan yang tidak di inginkan. Orang tua tidak mengingat dorongan jiwa yang menyebabkan anak ingin berbuat demikian, disiplin sering kali diajarkan pada saat yang salah yaitu disaat anak tidak dapat mendengarkan nasihat orang tua karena emosi. Dalam hal menghukum anak, sering kali cara

yang orang tua lakukan kurang tepat sehingga menimbulkan suatu perlawanan.

Berdasarkan pandangan baru, bahwa disiplin yang sekarang digunakan banyak membantu anak dalam hal perasaan maupun perbuatan. Orang tua membolehkan anak mengeluarkan isi hati dan perasaannya. Orang tua juga mencegah dan membatasi segala perbuatan yang tidak diinginkan atau mengarahkan mereka dengan baik, cara ini dilakukan sedemikian rupa sehingga diri anak ataupun harga diri orang tua tidak terluka. Hubungan orang tua yang akrab dan wajar bisa di pertahankan selama orang tua tetap bersikap hangat meskipun sebenarnya orang tua sedang berusaha menegakkan disiplin dengan perilaku tegas.

Menurut Elizabeth B. Hurlock jenis-jenis disiplin yang digunakan pada masa kanak-kanak ada tiga macam:

a. Disiplin otoriter

Disiplin otoriter merupakan bentuk disiplin tradisional yang berdasarkan pada ungkapan kuno yang mengatakan bahwa “menghemat cambukan berarti memanjakan anak”. Anak tidak di berikan kesempatan untuk mengemukakan tentang adil tidaknya peraturan tersebut. Disiplin otoriter akan sangat mempengaruhi kepribadian anak karena semakin banyak hukuman fisik digunakan, semakin anak cenderung menjadi cemberut, sehingga mengakibatkan penyesuaian pribadi dan sosial yang buruk.

20

b. Disiplin demokratis

Dalam peraturan demokratis diberikan kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya sendiri, bila anak menganggap bahwa peraturan itu tidak adil. Dalam disiplin yang demokratis hukuman di sesuaikan dengan kejahatan dalam arti diusahakan agar hukuman yang diberikan berhubungan dengan kesalahan dan perbuatannya. Penghargaan terhadap usaha-usaha untuk menyesuaikan dengan harapan sosial yang tercakup dalam peraturan-peraturan di perlihatkan melalui pemberian hadiah terutama dalam bentuk pujian dan pengakuan sosial. Anak yang di besarkan dibawah disiplin yang demokratis akan mempunyai penyesuaian pribadi dan penyesuaian sosial yang baik.

c. Disiplin yang lemah

Filsafat yang mendasari tehnik disiplin yang lemah dengan melalui akibat dari perbuatannya sendiri. Dari situ anak belajar bagaimana berperilaku secara sosial. Dengan demikian anak tidak di ajarkan peraturan. Anak tidak di hukum karena sengaja melanggar peraturan, juga tidak ada hadiah bagi anak yang berperilaku sosial yang baik, mengakibatkan anak cenderung tidak menghiraukan hak- hak orang lain, agresif dan kurang bersosialisasi (Hurlock, 1996:125).

Banyak keluarga yang mengharuskan anak-anak mereka melakukan beragam kegiatan mulai dari olah raga, musik, kesenian, dan macam-macam pelajaran tambahan, pada setiap sore hari dan akhir pekan.

Kalau segala kegiatan ‘tambahan’ tadi di gabung dengan tekanan karena pekerjaan rumah yang juga harus dikerjakan, kebanyakan anak hanya akan punya sedikit sekali sisa waktu untuk menjadi anak secara wajar. Orang tua yang keterlaluan dalam menerapkan jadwal yang sedemikian ketat. Pemecahan masalah itu bisa dilakukan dengan menerapkan satu aturan sederhana, satu anak satu kegiatan (Bilddulph, 2006:36).

Orang tua yang terlalu dini dengan sikap kaku, menjadikan anak penakut dan tidak berani berekspresi. Jika orang tua bersikap negatif dan banyak menghukum membuat anak menjadi pemarah dan agresif. Tetapi jika orang tua terlalu banyak memberikan kebebasan, akan mengarahkan anak menajadi impulsif dan terlibat pergaulan bebas pada saat remaja (Rimm, 2003:49). Orang tua menjadi faktor penentu dalam setiap kegiatan yang akan menjadi bekal anak untuk menghadapi kehidupan di masa datang. Disiplin harus di sesuaikan dengan watak dan kepribadian anak supaya orang tua tidak salah dalam langkah yang di ambil, konsekuensi tetap menjadi prioritas untuk mengambil suatu tindakan.

Menurut Steve Biddulph, menumbuhkan keluarga bagaikan menumbuhkan pohon. Yang menjadi akarnya tidak lain adalah masa kanak-kanak anda dan bagaimana anda memelihara diri sendiri. Batangnya adalah perkawinan anda dan komitmen anda kepada anak-anak anda. Cabang-cabang adalah segala tindakan anda berdasarkan berbagai pilihan yang anda ambil setiap harinya. Anak-anak adalah bunga dan buahnya (Bidulph, 2006: 37).

22

Hanya melalui disiplin orang tua dapat mengajarkan anak-anak untuk mengendalikan keinginan-keinginannya, membatasi berbagai macam hasratnya, membatasi dan melalui batasan, menerapkan berbagai sasaran aktifitasnya.

Fungsi disiplin adalah untuk menjamin ditaaatinya batas tertentu, jika batas yang sangat di perlukan tadi tidak ada. Jika kekuatan moral yang mengelilingi kita tidak dapat lagi menampung atau mengendalikan nafsu- nafsu kita, maka karena tidak lagi dibatasi, tindakan manusia hilang dalam kekosongan, hilang dalam kehampaan yang terselubung dan terhiasi dengan nama muluk kebebasan sepenuhnya (Durkheim, 1990 : 36).

Disiplin tentu banyak manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari, apalagi bagi kanak-kanak yang membutuhkan banyak pengarahan. Sehingga anak tidak bersikap semaunya sendiri dalam bertingkah laku dan juga dalam bertindak.

Apalagi masa kanak-kanak yang pada usia tersebut anak akan menghadapi masa puber yang bercirikan anak suka mencoba hal-hal yang baru karena pada usia itu anak mempunyai rasa penasaran yang sangat besar terhadap sesuatu yang belum diketahui. Pada saat inilah dibutuhkan sesuatu yang bisa membatasi anak untuk tidak bersikap yang melampui batasan yaitu dengan penerapkan disiplin yang disesuaikan dengan karakter anak sehingga anak bisa membatasi perbuatan mana yang boleh dilakukan dan perbuatan mana yang tidak boleh dilakukan.

Dokumen terkait