• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. KAJIAN PUSTAKA

B. Tinjauan Konsep

2. Jenis-jenis Ketidakadilan Gender

Menurut (Fakih 1996), jenis-jenis ketidakadilan gender termanifestasikan dalam bermacam wujud ketidakadilan, yaitu :

a. Marginalisasi

Proses marginalisasi sebetulnya banyak sekali terjalin dalam warga serta Negeri. Walaupun tidak tiap marginalisasi wanita diakibatkan oleh ketidakadilan gender, hendak namun

yang dipersoalkan dalam analisis gender merupakan marginalisasi yang diakibatkan oleh perbandingan gender.

Marginalisasi terjalin telah semenjak dalam rumah tangga serta didukung secara kultur, agama, apalagi Negeri. Contoh marginalisasi yang kerap terjalin merupakan marginalisasi yang terjalin dalam rumah tangga, ialah diskriminasi atas anggota keluarga pria ataupun wanita, wanita tidak memperoleh hak waris yang sama dengan pria, kesempatan kerja yang cenderung lebih mengutamakan pria buat dipekerjakan dari pada wanita.

b. Subordinasi

Subordinasi merupakan asumsi tidak berarti dalam keputusan. Asumsi kalau wanita itu irasional ataupun emosional, sehingga wanita tidak dapat tampak mengetuai yang berdampak timbulnya perilaku yang menempatkan wanita pada posisi yang tidak berarti. Sepanjang sebagian abad kemudian, atas alibi agama, kalangan wanita tidak boleh mengetuai apapun, tercantum permasalahan duniawi. Contoh dari subordinasi merupakan asumsi kalau wanita tidak butuh sekolah tinggi-tinggi, sebab tumbangnya tentu kedapur, apalagi pemerintah sempat membagikan peraturan, apabila suami hendak berangkat belajar jauh dapat mengambil keputusan sendiri, sebaliknya apabila wanita yang hendak

belajar jauh wajib memperoleh izin dari suami. Perihal semacam ini terjalin sebab terdapatnya pemahaman gender yang tidak adil.

c. Stereotip

Stereotip merupakan pelebelan ataupun penandaan pada sesuatu kelompok tertentu. Stereotip senantiasa memunculkan ketidakadilan. Salah satu stereotip itu merupakan yang bersumber dari pemikiran gender. Banyak sekali ketidakadilan terhadap tipe kelamin tertentu yang bersumber dari penandaan yang didekatkan kepada mereka.

Dalam warga banyak sekali stereotip yang dilabelkan pada wanita sehingga berdampak menghalangi, menyulitkan, serta merugikan kalangan wanita. Contoh dari stereotip merupakan pemikiran kalau wanita berdandan sebab mau menarik atensi kalangan lelaki, sehingga tiap terjalin pelecehan intim ataupun apalagi pemerkosaan, warga cenderung menyalahkan korban sebab dikira berpenampilan tidak sewajarnya.

d. Kekerasan

Kekerasan merupakan serbuan ataupun invasi terhadap raga ataupun intergritas mental psikologi seorang.

Kekerasan yang diakibatkan oleh bias gender pada dasarnya diakibatkan oleh ketidaksetaraan kekuatan yang terdapat dalam warga. Wujud kejahatan yang dikategorikan selaku

kekerasan gender merupakan pemerkosaan, tindak pemukulan, wujud penyiksaan dalam organ kelamin, kekerasan dalam wujud prostitusi, pornografi serta pelecehan intim. Pada dasarnya kekerasan terjalin sebab perbandingan gender serta sosialisasi gender yang amat lama. Sehingga timbul asumsi kalau secara raga wanita itu lemah serta pria itu kokoh. Sesungguhnya perihal tersebut tidak memunculkan permasalahan selama asumsi lemah tersebut tidak mendesak pria buat berlagak seenaknya terhadap wanita. Tetapi, kerapkali terbentuknya kekerasan terhadap wanita dikira diakibatkan oleh wanita itu sendiri. Contoh wujud kekerasan yang kerap terjalin merupakan kekerasan psikologis, ialah ujaran ataupun siulan yang kerap dicoba para lelaki terhadap wanita kala wanita melalui didepan perkumpulan lelaki, perihal semacam ini tidaklah pujian untuk wanita, melainkan wujud pelecehan terhadap mereka (Rahmawati 2018:17–23).

e. Beban Ganda

Ada anggapan bahwa perempuan berpendidikan, pekerja keras dan tidak layak menjadi kepala rumah tangga.

Artinya, semua pekerjaan rumah tangga menjadi tanggung jawab perempuan. Oleh karena itu, banyak wanita bekerja keras untuk waktu yang lama untuk menjaga rumah mereka tetap rapi (Sari 2017:17–18).

b. Feminis

Feminis adalah kelompok aktivis perempuan yang menuntut kesetaraan dengan laki-laki atau kesetaraan kebebasan dan hak. Dari bahasa Latin, feminisme adalah femina, yang berarti perempuan.

Pada tahun 1890-an, istilah berikut digunakan untuk merujuk pada teori kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, dan pada gerakan atau organisasi untuk hak-hak perempuan. Secara etimologi feminis berasal dari kata femme yang berarti wanita (Prihatini 2019:18).

Feminisme adalah gerakan yang berupaya mewujudkan penindasan dan ketidakadilan hak-hak perempuan dan berupaya mengubah situasi ini menjadi sistem yang lebih adil. Perhatian utama di kalangan feminis adalah untuk menciptakan keadilan yang setara dalam tatanan sosial.

Feminisme menurut Goefe ialah teori tentang persamaan antara laki-laki dan perempuan di bidang politik, ekonomi dan sosial atau kegiatan terorganisasi yang memperjuangkan hak-hak serta kepentingan perempuan. Feminisme sebagai gerakan perempuan muncul dalam karakteristik yang berbeda-beda yang disebabkan perbedaan asumsi dasar yang memandang persoalan-persoalan yang menyebabkan ketimpalan gender. (Azis 2014:3)

Gerakan perempuan pada hakikatnya adalah gerakan untuk perubahan, bukan gerakan balas dendam terhadap laki-laki. Namun, kaum feminis menolak gagasan bahwa ketidaksetaraan antara

laki-laki dan perempuan adalah wajar dan tak terelakkan. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa gerakan transformasi perempuan merupakan proses gerakan untuk menciptakan hubungan interpersonal yang lebih baik, tanpa memandang status gender.

Bagi analisis feminis, ketidakadilan gender tersebut timbull sebab terdapatnya kesalahpahaman terhadap konsep gender yang disamakan dengan konsep seks. Sekalipun kata gender serta seks secara bahasa memanglah memiliki arti yang sama, ialah tipe kelamin. Konsep seks, untuk para feminis merupakan sesuatu watak kodrati, natural, dibawa semenjak lahir serta tidak dapat di ubah- ubah. Konsep seks cuma berhubungan dengan tipe kelamin serta fungsi- fungsi dari perbandingan tipe kelamin itu saja. Semacam, kalau wanita itu dapat berbadan dua, melahirkan, menyusui, sedangkan pria tidak.

Ada pula konsep gender bagi feminisme, tidaklah sesuatu watak yang kodrati ataupun natural, namun ialah hasil konstruksi sosial serta kultural yang sudah berproses selama sejarah manusia.

Secara historis, kita hidup dalam warga yang didominasi pria, wanita lebih kerap dijadikan objek kala pencipta pengetahuan. Perihal ini berdampak pada banyaknya perihal yang diwariskan selaku pengetahuan objektif menimpa dunia sesungguhnya dihasilkan oleh kalangan pria serta dibingkai oleh posisi mereka yang khas dalam warga. Metode teorisasi feminis menggugat metode mengenali yang

bertabiat androsentris, dengan mempertanyakan hierarki berbasis gender dalam warga serta budaya (Uljannah 2017:15–17).

c. Novel

Novel berasal dari bahasa Italia, novella, yang secara harfiah berarti hal kecil yang baru, dan kemudian dibaca sebagai cerita pendek dalam bentuk prosa. Novella memiliki arti yang sama dengan novel dalam bahasa Indonesia, artinya sebuah karya fiksi prosa yang tidak terlalu panjang namun juga tidak terlalu pendek. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online menyebutkan bahwa novel adalah karangan prosa panjang yang berisi rangkaian cerita tentang kehidupan seseorang dengan orang-orang di sekitarnya, menonjolkan watak dan sifat masing-masing pelaku (Wardani 2020:56).

Bagi Abdullah Ambary, novel merupakan cerita yang menggambarkan sesuatu peristiwa luar biasa dari kehidupan pelakunya yang menimbulkan pergantian perilaku hidup ataupun memastikan nasibnya. Sebaliknya bagi P.Suparman, novel merupakan cerita realita dari ekspedisi hidup seorang. Novel pula ialah salah satu karya sastra yang berupa prosa dimana karya seni yang dikarang bagi standar kesusastraan. Kesusastraan yang diartikan merupakan pemakaian kata yang indah serta style bahasa dan style cerita yang menarik (Uljannah 2017:44).

Novel muncul selaku hasil kegelisahan pengarang terhadap suasana serta keadaan yang terjalin di area warga. Tiap peristiwa

yang terjalin hendak dipotret oleh pengarang. Potret kehidupan tersebut diambil serta dibangun sedemikian menariknya oleh pengarang. Pengarang hendak memakai seluruh kreatifitas yang dimilikinya buat menggambarkan tiap sisi kehidupan warga dalam novel. Sisi kehidupan warga dalam novel sangat erat kaitannya dengan pengarang dan penikmat sastra, sehingga warga mempengaruhi pula terhadap pertumbuhan novel.

Novel biasanya terdiri dari beberapa bab yang mempunyai perbandingan cerita dalam tiap babnya. Pada tiap bab di dalam suatu novel terkadang mempunyai ikatan karena akibat ataupun ikatan kronologis. Bila kita membaca secara acak hingga kita tidak hendak memperoleh cerita secara lengkap. Perihal ini disebabkan keutuhan suatu cerita dalam novel meliputi tiap bab yang tercantum di dalamnya. Novel mengacu pada suatu kenyataan yang besar, dan mempunyai sisi psikologi yang lebih mendalam. Tidak hanya itu di dalam suatu novel wujud yang jadi gambaran cerminan tokoh berangkat dari kenyataan sosial yang terdapat (Wardani 2020:57–58).

Dengan penjelasan diatas, bisa disimpulkan kalau novel ialah media menuangkan benak, perasaan serta gagasan penulis dalam karangan prosa yang menggambarkan kehidupan manusia yang menimbulkan pergantian perilaku pelakunya, alur cerita dalam novel yang umumnya mengisahkan kehidupan seseorang tokoh, ialah suatu yang luar biasa terjalin dalam hidupnya yang memunculkan konflik

yang menjurus kepada pergantian nasib sang tokoh. Umumnya novel ditulis bersumber pada kehidupan individu ataupun kehidupan di area penulis yang ialah pengalaman sang pengarang serta secara tidak langsung membagikan suatu pesan.

d. Analisis Wacana Kritis

Dalam analisis wacana, bahasa dapat dilihat dari tiga perspektif, yaitu positivisme empiris, konstruktivisme, dan analisis kritis.

Pandangan positivis ditandai dengan pemisahan pikiran dan realitas.

Dalam pandangan ini, yang penting adalah kebenaran gramatikal dan sintaksis tanpa memperhatikan makna atau nilai subjektif di balik penggunaannya.

Konstruktivisme adalah pandangan yang tidak memisahkan subjek dan objek bahasa. Bahasa tidak hanya dilihat sebagai alat untuk memahami realitas objek murni. Dalam pandangan ini, bahasa diatur dan dimotivasi oleh pernyataan yang bertujuan. Setiap pernyataan pada dasarnya adalah tindakan menciptakan makna dan mengungkapkan identitas pembicara. Oleh karena itu, analisis wacana merupakan pembongkaran makna tersembunyi di balik bahasa yang digunakan.

Pemikiran kritis ialah wujud koreksi dari pemikiran konstruktivisme yang belum hingga pada proses penciptaan serta reproduksi arti yang terjalin secara historis ataupun institusional.

Analisis wacana dalam pemikiran kritis tidak dipusatkan pada struktur

tata bahasa ataupun proses pengertian, melainkan pada konstelasi kekuatan yang terjalin pada proses penciptaan serta reproduksi arti.

Orang tidak dikira selaku subjek yang netral yang dapat menafsirkan secara leluasa cocok dengan pikirannya. Orang sangat dipengaruhi oleh kekuatan sosial yang terdapat dalam warga. Bahasa, dengan demikian tidak dimengerti selaku medium netral di luar diri pembicara, melainkan selaku representasi yang berfungsi dalam membentuk subjek, tema, serta strategi tertentu. Analisis wacana digunakan buat memecahkan kuasa yang terdapat dalam tiap proses bahasa. Dengan pemikiran kritis, bahasa dalam suatu wacana terletak dalam ikatan kekuasaan, paling utama dalam pembuatan subjek dan tindakan- tindakan representasi dalam warga. Analisis wacana dalam pemikiran kritis lebih diketahui dengan sebutan analisis wacana kritis ataupun critical discourse analysis/CDA.

Analisis wacana kritis (AWK) ataupun critical discourse analysis (CDA) merupakan sesuatu tipe analisis wacana yang paling utama menekuni praktik-praktik penyalahgunaan kekuatan sosial, dominasi, serta ketidaksetaraan yang diterapkan, direproduksi, serta dipertahankan dalam bacaan serta pula pembicaraan dalam konteks sosial serta politik. Objek AWK merupakan wacana publik, semacam kabar pesan berita serta propaganda politik. Tujuannya merupakan buat mengeksplorasi ikatan antara bahasa, pandangan hidup, serta kekuasaan.

El Saj mengemukakan kalau AWK itu menekuni contoh-contoh yang nyata serta pula kerap lebih luas dari interaksi-interaksi sosial.

Tidak hanya itu, dalam AWK secara spesial dipelajari hal-hal yang berkaitan dengan ikatan antara bahasa serta warga, serta ikatan antara analisis serta aplikasi yang dianalisis. Lebih jauh dia mengemukakan kalau dalam AWK dikaji wujud, struktur, serta konten dari tata bahasa serta lapisan kata yang digunakan dalam penciptaan penerimaan serta interpretasi oleh khalayak yang lebih luas. Dalam permasalahan Oprah Winfrey, misalnya kenyataan menarik sudah terungkap dengan memakai kata ubah individu. Oprah sukses mewakili dirinya sendiri serta orang lain. Ini meyakinkan kalau opsi kata tercantum kata ubah individu merupakan salah satu aspek utama dalam mempertahankan pertukaran yang baik dalam aktivitas obrolan, yang bawa diskusi jadi pertukaran dinamis sepanjang proses diskusi itu sendiri.

Bagi Chen Hua, kerangka AWK digunakan buat menguji anggapan ide sehat tentang masalah-masalah sosial yang mendasari pemakaian bahasa dalam rasa serta kesanggupan merasa pengguna bahasa. Dalam AWK diakui kalau anggapan ide sehat membolehkan manusia buat menafsirkan bahasa serta menguasai dunia sosial, pada dikala yang sama anggapan ini pula menyerap dengan pandangan hidup yang berkontribusi terhadap pembangunan serta revalidasi ikatan kekuasaan yang tidak setara.

Bahasa merupakan aspek berarti dalam AWK. Bahasa digunakan buat memandang ketimpangan kekuasaan yang terjalin dalam warga. Perihal ini sejalan dengan yang diungkapkan oleh Fairclough serta Wodak kalau analisis wacana kritis menyelidiki gimana lewat bahasa kelompok sosial yang terdapat silih bertarung serta mengajukan versinya tiap-tiap. Jadi, bahasa merupakan medium netral yang terletak dari luar sisi sang pembicara. Bahasa dimengerti selaku representasi yang berfungsi dalam membentuk subjek tertentu, tema-tema wacana tertentu, ataupun strategi-strategi di dalamnya.

Dalam AWK bahasa tidak ditatap sebatas struktur serta kaidah kebahasaan, hendak namun dilihat pula hubungannya terhadap konteks, dominasi kelompok, kesenjangan sosial, serta aspek yang lain. Konteks yang dimaksudkan merupakan kalau bahasa dipakai buat tujuan serta aplikasi tertentu, tercantum di dalamnya aplikasi kekuasaan.

Van Dijk merumuskan analisis wacana kritis selaku kajian relasi antara wacana, kuasa, dominasi, ketidaksetaraan sosial, serta posisi analisis wacana dalam kedekatan sosial itu. Lebih jauh dikatakan kalau dalam analisis wacana kritis ditekankan pada konstelasi kekuatan yang terjalin pada proses penciptaan serta reproduksi arti sehingga analisis kitis ini mengaitkan bermacam disiplin ilmu/

multidisiplin. Perihal ini dimaksud kalau orang tidak dikira selaku subjek yang netral yang bisa menafsirkan secara leluasa cocok

dengan pikirannya, sebab sangat berhubungan serta dipengaruhi oleh kekuatan sosial yang terdapat dalam warga.

Senada dengan itu, Hodge melaporkan kalau analisis wacana kritis dimulai oleh pertumbuhan analisis sosial semiotik sehingga timbul teori dialektika Fairclough yang melaporkan kalau wacana selaku aplikasi sosial bisa memunculkan ikatan dialektis di antara peristiwa diskursif tertentu dengan suasana, institusi, serta struktur sosial yang membentuknya. Bagi pemikiran Fairclough analisis wacana kritis pada hakikatnya merupakan analisis terhadap 3 ukuran wacana, ialah bacaan bahasa baik lisan ataupun tulisan, instan kewacanaan berbentuk penciptaan serta interpretasi bacaan, dan instan sosiokultural yang ketiganya ialah satu kesatuan integral yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain.

Kesimpulannya dalam wacana memanglah digunakan bahasa dalam bacaan buat dianalisis, namun bahasa yang dianalisis sedikit berbeda dari riset bahasa dalam penafsiran linguistik tradisional.

Bahasa dianalisis bukan dengan menggambarkan semata dari aspek kebahasaan, namun pula menghubungkan dengan konteks. Bahasa dipakai buat tujuan serta aplikasi tertentu, tercantum di dalamnya aplikasi kekuasaan/tujuan politik. Tidak hanya itu, aplikasi wacana kritis bisa menunjukkan dampak pandangan hidup. Dia bisa memproduksi serta mereproduksi ikatan kekuasaan yang tidak imbang antarakelas sosial, pria serta wanita, kelompok kebanyakan serta

minoritas lewat perbandingan itu direpresentasikan dalam posisi sosial yang ditampilkan (Suciati 2018:26–30).

Perihal yang berarti dalam AWK merupakan sifatnya yang holistis serta kontekstual. Mutu AWK dinilai dari segi keahlian menempatkan bacaan dalam konteksnya yang utuh serta holistik lewat pertautan antara analisis pada jenjang bacaan serta analisis pada konteks pada jenjang yang lebih besar.

e. Model-Model Analisis Wacana Kritis 1. Norman Fairclough (1998, 1992, 1995)

Norman Fairclough diketahui selaku tokoh yang kerap berhubungan dengan pendekatan pergantian sosiokultural dalam analisis wacana. Pemikirannya banyak dipengaruhi oleh Meter.

Foucoult tentang orders of discourse, Julie Kristeva tentang intertekstualitas, serta Meter. Bakhtin tentang kekuasaan bahasa.

Dia membangun sesuatu model yang mengintegrasikan secara bersama-sama analisis wacana yang didasarkan pada linguistik serta pemikiran sosial serta politik yang secara universal diintegrasikan pada pergantian sosial. Model Fairclough ini lebih diketahui selaku model pergantian sosial sebab memandang konsumsi bahasa selaku aplikasi sosial.

Fairclough mengemukakan kalau aplikasi sosial wacana dibagi ke dalam tiga ukuran ialah text, discourse practice, serta sociocultural practice.

1) Dimensi Teks

Dalam pemikiran kritis, bacaan dibentuk dari beberapa piranti linguistis. Dalam pelaksanaannya, analisis wacana kritis menggunakan piranti linguistis buat memerikan kepemilikan struktur linguistik dalam bacaan. Bagi Fairclough, pemerian ini berbentuk analisis terhadap kosakata, gramatika, serta struktur bacaan.

2) Dimensi Praksis Wacana

Discourse practice (praksis wacana) ialah ukuran yang berhubungan dengan proses penciptaan serta mengkonsumsi bacaan, misalnya pola kerja, serta bagan kerja.

Ukuran praksis wacana tercantum dalam sesi interpretasi. Identitas tekstual jadi nyata beroperasi secara sosial kala bacaan dilekatkan dalam interaksi sosial tempat bacaan itu dibuat serta ditafsirkan. Pengertian dicoba buat mengungkap ikatan antara penciptaan serta interpretasi proses diskursif. Sesi ini berkaitan dengan urutan-urutan wacana, ialah praksis diskursif suatu institusi serta ikatan antarpraksis itu.

Bagi Fairclough, interpretasi dihasilkan lewat campuran apa yang terdapat dalam bacaan dengan apa yang terdapat dalam penafsir. Dari sudut pandang penafsir, fitur-fitur resmi bacaan ialah petunjuk ataupun isyarat yang menggerakkan

elemen-elemen sumber ataupun bahan-bahan partisipan tempat pengertian itu dihasilkan lewat silih pengaruh secara dialektis antara petunjuk serta bahan-bahan partisipan itu.

Interpretasi konteks meliputi ikatan konteks suasana serta jenis wacana, ikatan konteks antartekstual dengan presuposisi, serta tindak ujaran.

3) Dimensi Praksis Sosiokultural

Ukuran yang terakhir, sociocultural practice merupakan ukuran yang berhubungan dengan konteks di luar bacaan, misalnya konteks suasana, budaya warga serta budaya politik tertentu yang hendak mempengaruhi terhadap bacaan dalam karya sastra. Ulasan aplikasi sosial budaya meliputi 3 tingkatan, ialah situasional, berkaitan dengan penciptaan serta konteks situasinya : institusional, berkaitan dengan pengaruh institusi secara internal ataupun eksternal; serta sosial budaya, berkaitan dengan suasana yang lebih makro, semacam sistem politik, sistem ekonomi, serta sistem budaya warga secara totalitas.

Ikatan antara bacaan serta struktur sosial dimediasikan oleh konteks sosial wacana. Wacana hendak beroperasi secara sosial selaku bagian dari proses perjuangan institusional serta warga. Anggapan ide sehat wacana bermuatan pandangan hidup cocok dengan ikatan sosial

tertentu. Ikatan wacana dengan proses-proses perjuangan serta ikatan kekuasaan ialah bagian dari prosedur analisis wacana kritis sesi ketiga, ialah eksplanasi.

Tata cara eksplanasi digunakan buat membagikan uraian tentang ikatan fitur- fitur tekstual yang heterogen dengan proses pergantian sosiokultural, baik pergantian warga, institusional, serta cultural. Bagi Fairclough tujuan sesi eksplanasi merupakan memotret wacana selaku bagian proses sosial, selaku praksis sosial, yang menampilkan bentukan wacana oleh struktur sosial serta reproduksi yang pengaruhi wacana secara kumulatif.

2. Teun Van Dijk (1977, 1997, 2006)

Teun van Dijk merupakan seseorang mahaguru pada Universitas Amsterdam. Namanyaacapkali dikaitkan dengan pendekatan kognisi sosial pada analisis wacana kritis. Karenanya, model van Dijk acapkali dianggap sebagai “kognisi sosial”.

Menurutnya penelitian perihal wacana relatif hanya berdasarkan dalam analisis teks semata, lantaran teks hanyalah output menurut suatu praktik produksi yang wajib pula diamati. Dalam hal ini wajib ditinjau bagaimana suatu teks diproduksi, sebagai akibatnya diperoleh suatu pengetahuan mengapa teks eksklusif menjadi seperti itu. Model van Dijk lebih menekankan kognisi sosial individu yang menghasilkan teks tersebut. Van Dijk melihat

bagaimana struktur sosial, penguasaan dan grub kekuasaan yang terdapat pada warga dan bagaimana kognisi/pikiran dan pencerahan yang membangun dan berpengaruh terhadap teks eksklusif.

Wacana berdasarkan van Dijk mempunyai tiga bangunan, teks, kognisi sosial, dan konteks sosial. Inti analisis van Dijk merupakan penggabungan ketiga dimensi wacana tersebut ke pada kesatuan analisis. Bagaimana struktur teks dan taktik wacana yang digunakan buat menegaskan suatu tema eksklusif yang merupakan analisis perihal wacana pada level teks. Pada level kognisi sosial dianalisis proses produksi teks yang melibatkan kognisi individu politikus. Sementara itu, bangunan wacana yang berkembang pada masyarakat pada suatu masalah dianalisis pada level konteks. Ketiganya sebagai satu kesatuan yang saling bekerjasama dan saling mendukung satu sama lain.

3. Sara Mills (2007)

Sara Mills merupakan salah satu penulis teori wacana yang banyak memusatkan perhatiannya pada wacana feminisme, yakni bagaimana wanita ditampilkan pada teks termasuk pada karya sastra. Oleh sebab itu, apa yang dilakukan oleh Mills juga disebut perspektif feminis. Titik perhatian wacana feminis yaitu bagaimana teks menampilkan wanita. Pemikiran Mills ini tidak terlepas pada Michael Foucault, terutama berkaitan pada diskursus.

Sebagaimana diketahui, karya-karya Foucault ini sangatlah penting bagi perkembangan berbagai teori yang secara luas dikelompokkan di bawah istilah diskursus.

Seperti halnya dengan analisis wacana lain. Mills menempatkan representasi pada bagian terpenting pada analisisnya. Bagaimana satu pihak, kelompok, orang, gagasan, atau peristiwa ditampilkan dengan cara tertentu dalam wacana berita yang mempengaruhi pemaknaan ketika diterima oleh khalayak. Akan tetapi, berbeda dengan tradisi critical linguistic yang memusatkan pada struktur kata, kalimat, atau kebahasaan.

Mills disini lebih menekankan bagaimana posisi berbagai tokoh sosial, posisi gagasan, atau peristiwa ditempatkan di dalam teks.

Mills melihat bagaimana posisi tokoh ditampilkan pada teks.

Posisi ini dimaksudkan menjadi siapa sebagai subjek penceritaan dan siapa yang sebagai objek penceritaan. Keduanya akan memilih struktur teks dan bagaimana makna diperlakukan pada teks secara keseluruhan. Selain posisi tokoh pada teks, Mills juga memusatkan perhatian pada bagaimana pembaca dan penulis ditampilkan pada teks. Bagaimana penempatan pembaca dan tokoh pada teks akan berpengaruh terhadap pemahaman teks.

Yang pada akhirnya cara penceritaan dan penempatan tokoh dalam posisi eksklusif pada teks akan memilih satu pihak sebagai legitimate dan pihak lain sebagai illegitimate.

Dokumen terkait