BAB II KAJIAN TEORI
3. Jenis- Jenis Kompetensi Guru
Berbagai perkembangan kehidupan yang pesat dan tantangan yang semakin komplek telah menuntut agar guru selalu besifat profesional,guru harus memiliki kompetensi tertentu dengan kualifikasi akademik yang layak. Dalam hal ini, guru sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, yang diperjelas lagi oleh Peraturan Pemerintah Republik Indosesia Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru sebagai ...pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan,melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal,
pendidikan dasar, pendidikan menengah. (pasal 1 ayat 1, PP
No.74/2008).16
Dalam perspektif kebijakan nasional, pemerintah telah merumuskan empat jenis kompetensi guru, sebagaimana tercantum dalam Penjelasan Peraturan Pemerintah No 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, yaitu : kompetensi pedagis, kepribadian, sosial dan profesional. Guru diharapakan dapat menjalankan tugasnya secara profesional dengan memiliki dan menguasai keempat kompetensi tersebut. Kompetensi yang harus dimiliki pendidik itu sungguh sangat ideal sebagaimana tergambar dalam peraturan pemerintah tersebut.
Berikut ini dijelaskan hal-hal yang terkait kompetensi guru itu. Penjelasan ini diharapkan dapat membantu guru untuk lebih memahami segala hal yang terkait dengan kompetensi yang harus sesegera mungkin dicapai agar ia benar- benar bisa disebut guru profesional.17
15
Ibid.hal.163 16
Suryono &Haryanto, Belajar dan Pembelajaran Teori dan Konsep Dasar (Bandung : PT Rosda, 2011)h. 185
17
Musfah, Jejen, Peningkatan Kompetensi Guru Melalui Pelatihan dan Sumber Belajar Teori dan Praktik , (Jakarta : Kencana, 2011 ) hal.30-32
a. Kompetensi Pedagogis
Tugas guru yang utama ialah mengajar dan mendidik murid dikelas dan diluar kelas. Guru selalu berhadapan dengan murid yang memerlukan pengetahuan, keterampilan, dan sikap utama untuk menghadapi hidupnya dimasa depan. Menurut Badan Standar Nasional Pendidikan, yang dimaksud dengan kompetensi pedagogis adalah :
Kemampuan dalam mengelola peserta didik yang meliputi : (a) pemahaman wawasan atau landasan pendidikan (b) pemahaman tentang peserta didik (c) pengembangan kurikulum/silabus (d) perancangan pembelajaran (e) pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis (f) evaluasi hasil belajar dan (g) pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasi berbagai potensi yang dimilikinya.
pemahaman wawasan atau landasan pendidikan. Seorang guru
harus memahami hakikat pendidikan konsep yang terkait dengannya. Diantaranya yaitu fungsi dan peran lembaga pendidikan, konsep pendidikan seumur hidup dan berbagai implikasinya, peranan keluarga dan masyarakat dalam pendidikan, pengaruh timbal balik antara sekolah, keluarga, dan masyarakat, sistem pendidikan nasional dan inovasi pendidikan.
Pemahaman yang benar tentang konsep pendidikan tersebut akan membuat guru sadar posisi strategisnya di tengah masyarakat dan perannya yang sangat besar bagi upaya pencerdasan generasi bangsa. Joseph Fischer
menulis : “ pendidikan adalah penanaman pengetahuan, keterampilan, nilai, dan perilaku melalui prosedur yang standar.”
pemahaman tentang peserta didik. “ Guru harus mengenal dan
memehami siswa dengan baik, memahami tahapan perkembangan yang telah dicapainya, kemampuannya, keunggulan dan kekurangannya, hambatan yang dihadapi serta faktor dominan yang memengaruhinya.”.
Pada dasarnya anak-anak itu ingin tahu, dan sebagian tugas ialah membantu perkembangan keingintahuan tersebut, dan membuat
merekalebih ingin tahu.
Horowitz, et al ( Darling- Hammond dan Bransford, 2005 : 88 )18 dalam Educating Teacher for Developmentally Appropriate Practice, menjelaskan tentang kriteria guru yang baik dan efektif berikut ini :
Guru yang baik memahami bahwa mengajar bukan sekedar berbicara, dan belajar bukan sekedar mendengarkan. Guru yang efektif mampu menunjukan bukan hanya apa yang ingin mereka ajarkan, namun juga bagaimana siswa dapat memahami dan menggunakan pengetahuan dan keterampialan baru. Selanjutnya mereka tahu apa yang dibutuhkan siswa, maka mereka memiliki tugas produktif, dan mereka menyusun tugas ini melalui cara menimbulkan pemahaman. Akhirnya, mereka memantau keterlibatan siswa disekolah, belajar produktif, dan tumbuh sebagai anggota masyarakat yang kooperatif dan bijaksana yang akan dapat berpartisipasi di masyarakat.
Guru harus memahami bahwa semua siswa dalam seluruh konteks pendidikan itu unik. Dasar pengetahuan tentang keragaman sangat penting, dan termasuk perbedaan dalam kecerdasan, emosional, bakat, dan bahasa. Demikian juga seorang guru harus meperlakukan siswa dengan respek, apakah ia dari keluarga miskin atau kaya. Guru harus mampu mengarahkan siswa untuk fokus pada kemampuannya dalam bidang tertentu dan menunjukan cara yang tepat untuk meraihnya.
Pengembangan kurikulum / silabus. Setiap guru menggunakan buku
sebagai bahan ajar. Buku pelajaran bnayak tersedia demikian buku penunjang. Guru dapat mengadaptasikan materi yang akan diajarkan dari buku- buku yang telah distandarisasi oleh Depdiknas, tepatnya Badan Standardisasi Nasional Pendidikan (BSNP ). Singkatnya guru tidak perlu repot menulis buku sesuai dengan bidangnya.
Meskipun demikian, guru harus memperhatikan proses pengembangan kurikulum, yang menurut Miller dan Saller mencakup tiga
18 Ibid
hal :
1. Menyusun tujuan umum dan tujuan khusus 2. Mengindentifikasi materi yang tepat 3. Memilih strategi belajar mengajar
Guru harus memehami hakikat kurikulum. Doll menyatakan “
definisi kurikulum yang telah di terima secara umum telah berubah dari materi dan daftar pelajaran menjadi seluruh pengalaman yang diberikan pada siswa dibawah bimbingan sekolah.sama dengan Doll, Eisner menjelaskan makna kurikulum yaitu “ seluruh pengalaman yang dialami anak di bawah pengawasan sekolah”. Pengalaman ini sebagai besar telah didesain oleh sekolah sebelumnya. Ia juga menjelaskan bahwa “ kurikulum
sekolah atau pelatihan, atau kelas dapat dibuat sebagai seri pertunjukan yang dimaksudkan dapat mendidik satu atau lebih.
Perancangan pembelajaran. guru mengetahui apa yang akan
diajarkan pada siswa. Guru menyiapkan metode dan media pembelajaran setiap akan mengajar.perancangan pembelajaran menimbulkan dampak positif berikut ini. Pertama, siswa akan selalu mendapatkan pengetahuan baru dari guru. Kedua, menumbuhkan kepercayaan siswa pada guru, sehingga mereka akan senang dan giat belajar. Ketiga , belajar akan menjadi aktivitas yang menyenangkan dan ditunggu-tunggu oleh dan bagi siswa, akrena mereka merasa tidak akan sia-sia datang belajar ke kelas.19
Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis. Pada anak-
anak dan remaja, inisiatif belajar harus muncul dari para guru, karena mereka pada umumnya belum memahami pentingnya belajar. Maka guru harus mampu menyiapkan pembelajaran yang menarik, menantang, dan tidak menoton, baik dari sisi kemasan maupun isi atau materinya.
Evaluasi hasil belajar. Kesuksesan seorang guru sebagai pendidik
profesional tergantung pada pemahaman terhadap penilaian pendidikan,
dan kemampuan berkerja efektif dalam penilaian. “Penilaian adalah proses
pengumpulan dan pengelolaan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik”. Penilaian hasil pembelajaran mencakup aspek
19
kognifif, psikomotorik, dan afektif sesuai dengan karakteristik mata pelajaran.
Pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai
potensi yang dimilikinya. Belajar merupakan proses di mana pengetahuan,
konsep, keterampilan dan perilaku diperoleh, dipahami, diterapkan dan dikembangkan. Anak- anak mengetahui perasaan mereka melalui rekannya belajar.
Pendidik harus memiliki kualifikasi dan kompetensi sebagai agen pembelajaran (learning agent ). yang dimaksud dengan pendidik sebagai
agent pembelajaran ialah “ peran pendidik antara lain sebagai fasilitator,
motivator, pemacu, dan pemberi inspirasi belajar bagi peserta didik.
b. Kompetensi Kepribadian
Kompetensi kepribadian , yaitu “ kemampuan kepribadian yang (a) berakhlak mulia (b) mantap, stabil dan dewasa (c) arif dan bijaksana (d) menjadi teladan (e) mengevaluasi kinerja sendiri (f) mengembangan diri (g)
religius “. (BNSP, 2006 : 88)20
Berakhlak mulia. “ pendidikan nasional yang bermutu diarahkan
untuk pengembangan potensi peserta didik agar menjadi manusia tang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang
demokratis serta tanggung jawab”.
Mantap, stabil, dan dewasa. Menurut Husain dan Ashraf “ jika
disepakati bahwa pendidikan bukan hanya melatih manusia untuk hidup,
maka karakter guru merupakan hal yang sangat penting.”itu sebabnya, menurut Husain dan Ashraf : “ Meskipun murid pulang kerumah
meninggalkan sekolah atau kampus guru mereka, mereka tetap menyenangkan dalam hati dan pikiran mereka, kenangan tentang kepribadian yang agung di mana mereka pernah berinteraksi dalam masa tertentu dalam hidup mreka. Guru harus memiliki standar kulitas pribadi
20
tertentu yaitu mencakup tanggung jawab, wibawa, mandiri, dan disiplin”. Tulis Mulyasa, minimal ada tiga ciri kedewasaan antara lain :
Pertama, orang yang telah dewasa memilki tujan dan
pedoman hidup, yaitu sekumpulan nilai yang ia yakini kebenarannya dan menjadi pegangan dan pedoman hidupnya.
Kedua, orang dewasa adalah orang yang mampu melihat segala
sesuatu secara objektif. Tidak hanya dipengaruhi oleh subjektivitas dirinya. Ketiga, orang yang telah bisa bertanggung jawab. Orang dewasa adalah orang yang telah memiliki kemerdekaan, kebebasan, tetapi di sisi lain dari kebebasan adalah tanggung jawab.21
Arif dan bijaksana. “ guru bukan hanya menjadi seorang manusia
pembelajaran tetapi menjadi pribadi bijak, seorang saleh yang dapat
mempengaruhi pikiran generasi muda.” Husain dan Ashraf seorang guru
tidak boleh sombong dengan ilmunya, karena merasa paling mengetahui dan terampil dibandingkan guru yang lainnya, sehingga menganggap remeh dan rendah rekan sejawatnya.
Menjadi teladan. Mulyasa mengatakan, “ Pribadi guru sangat
berperan dalam membentuk pribadi peserta didik. Ini dapat dimaklumi karena manusia merupakn mahluk yang suka mencontoh, termasuk
mencontoh pribadi gurunya dalam membentuk pribadinya.” “secara
teoretis, menjadi teladan merupakan bagian integral dari seorang guru,
sehingga menjadi guru berati menerima tanggung jawab menjadi telatan”.
Mengevaluasi kinerja sendiri. Pengalaman adalah guru terbaik
(experience is the best teacher ) demikian pepatah Inggris. Pengalaman
mengajar merupakan modal besar guru untuk meningkatkan mengajar dikelas. pengalaman di kelas memberikan wawasan bagi guru untuk memahami karakter anak-anak, dan bagaimana cara terbaik untuk menghadapi keragaman tersebut. Guru jadi tahu metode apa yang terbaik bagi mata pelajaran apa, karena ia pernah mencoba berkali-kali.
Tujuan evaluasi kinerja diri adalah untuk memperbaiki proses pembelajaran dimasa mendatang. Umar bin Utbah berkata kepada guru
21
anaknya : “ Hal pertama yang harus anda lakukan dalam mendidik anakku
adalah perbaiki dirimu sendiri, karena matanya melihatmu. Kebaikan baginya adalah apa yang kau lakukan, dan keburukan adalah apa yang kau tinggalkan”.22
Mengembangkan diri. Diantara sifat yang harus di miliki guru ialah
pembelajaran yang baik atau pembelajaran mandiri, yaitu semangat yang besar untuk menuntut ilmu. Sebagai contoh kecil yaitu kegemarannya membaca dan berlatih keterampilan yang dapat menunjang profesinya sebagai pendidik. Berkembang dan bertumbuh hanya dapat terjadi jika guru mampu konsisten sebagai membelajaran mandiri, yang cerdas manfaatkan fsilitas pendidikan yang ada di sekolah dan lingkingannya.
Husain dan Ashraf mengutip pendapat Hossein Nasr, Baloch, Aroosi, dan Badawi terkait dengan eksistensi dan peran guru :
Pertama, poros utama sistem pendidikan adalah guru. Kedua, guru tidak hanya menjadi manusia pembelajaran (man of learning ) namun juga harus menjadi manusia yang bermoral tinggi. Ketiga, dia harus menjadi manusia yang mampu menginspirasi orang lain untuk antusiasi apada moral dan etik yang dia katakan dan juga ia contohkan. Keempat, dia harus menjadi orang mengajarkan keyakinannya. Tidak boleh ada kontradiksi antara apa yang dia ajarkan dan keyakinan pribadinya.23
Religius. Ciri religiositas pada kompetensi kepribadian, karena ia
erat kaitannya dengan akhlak mulia dan kepribadian seorang muslim. Akhlak mulia timbul karena seseorang percaya pada Allah sebagai pencipta yang dimilki nama-nama baik ( asmaul husna) dan sifat yang terpuji. Budi pekerti yang baik tumbuh subur dalam pribadi yang khusyuk dalam menjalankan ibadah vertikal danharizontal. Pribadi yang selalu menghayati ritual ibadah dan mengingat Allah akan melahirkan sikap terpuji.
Aspek tertinggi dari keberagaman seseorang ialah saat seluruh
22
Ibid. hal 48 23
aktivitas kehidupannya baik duniawi maupun ukhrawi hanya didasari untuk meraih keridhaan Allah SWT maka, seorang guru yang religius pasti akan membimbing siswannya untuk memilki kepribadian yang luhur dan utama, terutama akhlak pada Tuhan lalu akhlak pada sesama makluk hidup di sekelilingnya. Ilmu akan hampa dan tidak manfaat bahkan cenderung menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan, jika tidak dimilki oleh pribadi
yang religius dan berakhlak. Menurut Muhammad Qutb, “ tujuan
pendidikan Islam adalah membimbing manusia sedemikian rupa, sehingga ia selalu tetap berada dalam hubungan dengan Allah SWT”
c. Kompetensi Sosial
Seorang guru sama seperti manusia lainnya adalah makhluk sosial, yang dalam hidupnya berdampingan dengan manusia lainnya. Guru diharapkan memberikan contoh baik terhadap lingkungannya dengan menjalankan hak dan kewajibannya sebagai bagian dari masyarakat sekitarnya. Guru harus berjiwa sosial tinggi, mudah bergaul dan suka menolong, bukan sebaliknya, yaitu individi yang tertutup dan tidak memedulikan orang –orang sekitar disekitarnya.
Kompetensi sosial merupakan kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk (a) berkomunikasi lisan dan tulisan (b) menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional (c) bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan,orang tua/wali peserta didik dan (d) bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar.
Menurut Sukmadinata, “ diantara kemampuan sosial dan personal
yang paling mendasar yang harus dikuasai guru adalah cita-cita semacam ini dapat diwujudkan guru melalui : pertama, kesungguhan mengajar dan mendidik para murid. Tidak peduli kondisi ekonomi, sosial,politik, dan medan yang dihadapinnya. Ia selalu semangat memberikan pengajaran bagi muridnya. Kedua, pembelajaran masyarakat melalui interaksi atau komunikasi langsung dengan mereka di beberapa tempat seperti masjid,
majelis taklim, balai desa dan pos yandu. Dalam kontek ini, guru bukan hanya guru bagi para muridnya, tetapi juga guru bagi masyarakat dan lingkungannya. Ketiga, guru menuangkan dan mengekspesikan pemikiran dan idenya melalui tulisan, baik dalam bentuk artikel,cerpen,novel,sajak, maupun artikel ilmiah.keterampilan dan kepercayaan diri guru dalam menulis perlu ditumbuhkan melalui pealtihan dan dorongan kepada sekolah.24
d. Kompetensi Profesional
Tugas guru ialah mengajarkan pengetahuan kepada muridnya.guru tidak sekedar mengetahui materi yang akan diajarkannya, tetapi memahaminya secara luas dan mendalam.oleh karena itu, murid harus selalu belajar untuk memperdalam pengetahuannya terkait mata pelajaran yang diampuninya. Menurut Badan Standar Nasional Pendidikan kompetensi profesional adalah :
Kemampuan menguasai materi pelajaran secara luas dan mendalam yang meliputi : (a) konsep, struktur, dan metode keilmuan/teknologi/seni yang menaungi/kohoren dengan materi ajar (b) materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah (c) hubungan konsep antara mata pelajaran tekait (d) penerapan konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari dan (e) kometisi secara profesional dalam konteks global dengan tetap melestarikan nilai budaya nasional.
Seorang guru harus menjadi orang yang special, namun lebih baik lagi jika ia menjadi spesial bagi semua siswanya.guru merupakan kumpulan orang-orang yang pintar di bidangnya masing-masing dan juga dewasa dalam bersikap. Namun yang lebih penting lagi adalah bagaimana caranya guru tersebut dapat menularkan kepntarannya dan kedwsanaannya tersebut pada para siswanya di kelas. Sebab guru adalah jembatan bagi lahirnya anak-anak cerdas dan dewasa di masa menadatang.
24
Menjadi guru profesional bukan hal mudah. Sebelum mencapai tingakt expert (ahli), guru harus melalui beberapa tahapan seperti dijelaskan
Berliner, “ Guru berkembang menjadi ahli melalui beberapa tingkatan dari
pendatang baru (novice) ke pemula lanjut, kompeten, pandai (proficient), dan pada akhirnya ahli (expert)”.
Hammerness, et al. (Darling Hammonf dan Bransford,2005: 361) dalam How Teacher Learn and Develop menjelaskan tentang kemampuan
guru yang ahli, bahwa “ Guru yang ahli mampu melakukan beragam
aktivitas tanpa harus berhenti dan berpikir bagaimana melakukan hal itu”.25 Seorang guru akan mampu melaksanakan tugasnya dengan baik apabila dia memiliki berbagai Kemampuan dasar atau kompetensi keguruan yang dimilikinya.kompetensi guru ada empat yaitu:
1. Mempumyai pengetahuan tentang belajar dan tingkah laku manusia. 2. Mempunyai pengetahuan dan menguasai bidang studi yang dibinanya. 3. Mempunyai sikap yang tepat tentang diri sendiri,sekolah,teman
sejawat dan bidang studi yang dibinanya 4. Mempunyai keterampilan teknik mengajar.
Penulis sendiri berpendapat Kompetensi guru dapat dipersempit menjadi kompetensi kepribadian, kompetensi atas penguasaan bahan pengajaran dan kompetensi dalam cara cara mengajar, menyangkut ketrampilan menyusun setiap program satuan pelajaran, demikian pula merencanakan atau menyusun kegiatan untuk siswa satuan waktu, mempergunakan dan mengembangkan media pendidikan dan mempergunakan semua metode mengajar.
Dari penjelasan tersebut dapat bahwa kompetensi merupakan kemampuan seseorang yang meliputi pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dapat diwujudkan dalam hasil kerja nyata yang bermanfaat bagi diri dan lingkungannya. Ketiga aspek kemampuan ini saling terkaitan dan mempengaruhi satu sama lain. Kondisi fisik dan mental serta spiritual
25
seseorang besar pengaruhnya terhadap produktivitas kerja seseorang, maka tiga aspek ini harus dijaga pula sesuai standar yang disepakati. Membagi
kompetensi guru dalam tiga bagian, yaitu “ bidang kgnitif,bidang sikap,
bidang perilaku ( performance ) . Ketiga kompetensi ini tidak berdiri
sendiri, tetapi saling berhubungan dan mempengaruhi satu sama lain ”. 26 Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kompetensi guru dapat dibagi menjadi 3 (tiga) bidang yaitu :
1) Kompetensi bidang kognitif
Kompetensi bidang kognitif artinya kemampuan intelektual, seperti penguasaan mata pelajaran, pengetahuan mengenai cara mengajar, pengetahuan mengenai belajar dan tingkah laku individual, pengetahuan tentang bimbingan penyuluhan, pengetahuan tentang administrasi kelas, pengetahuan tentang cara menilai hasil belajar siswa, pengetahuan tentang kemasyarakatan serta pengetahuan umum lainnya.
2) Kompetensi bidang sikap
Kompetensi bidang sikap, artinya kesiapan dan kesediaan guru terhadap berbagai hal yang berkenaan dengan tugas dan profesinya. Misalnya sikap menghargai pekerjaan, mencintai dan memiliki perasaan senang terhadap mata pelajaran yang dibinanya, sikap toleransi terhadap sesarria teman profesinya, memiliki kemauan yang keras untuk meningkatkan hasil pekerjaannya.
3) Kompetensi Perilaku/ Performance
Kompetensi perilaku/ performance, artinya kemampuan guru dalam berbagai ketrampilan perilaku, seperti ketrampilan mengajar membimbing, menilai, menggunakan alat bantu pengajaran, bergaul atau berkomunikasi dengan siswa, ketrampilan menumbuhkan semangat belajar para siswa, ketrampilan menyusun persiapan/perencanaan mengajar, ketrampilan melaksanakan administrasi kelas dan lain-lain.