BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Konsep Diri
2.3.2 Jenis-Jenis Konsep Diri
Karakteristik dengan konsep diri positif, yaitu bebas mengemukakan pendapat, cenderung memiliki motivasi tinggi untuk mencapai prestasi, mampu mengaktualisasikan potensinya dan mampu menyelaraskan diri dengan lingkungannya Coopersmith (Rakhmat, 2007 dalam Silaen, 2016: 5-6).
Pendapat tersebut sejalan dengan yang diungkapkan Brooks dan Emmert (Rakhmat, 2007: 105) yang menyatakan bahwa individu yang memiliki konsep diri positif ditandai dengan lima hal, yaitu:
a) Yakin akan kemampuannya mengatasi masalah b) Merasa setara dengan orang lain
c) Menerima pujian tanpa rasa malu
d) Menyadari bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan, keinginann dan perilaku yang tidak seluruhnya disetujui oleh masyarakat
e) Ia mampu memperbaiki dirinya karena ia sanggup mengungkapkan aspek-aspek kepribadian yang tidak disenanginya dan berusaha mengubahnya.
Individu yang memiliki konsep diri positif akan bersikap optimis, percaya diri sendiri dan selalu bersikap positif terhadap segala sesuatu, juga terhadap kegagalan yang dialami.
Kegagalan tidak dipandang sebagai akhir segalanya, namun dijadikan sebagai penemuan dan pelajaran berharga untuk melangkah kedepan. Individu yang memiliki konsep diri positif akan mampu menghargai dirinya sendiri dan melihat hal-hal yang positif yang dapat dilakukan demi keberhasilan di masa yang akan datang.
2.3.2.2 Konsep Diri Negatif
Sedangkan untuk konsep diri yang negatif Coopersmith (dalam Revina, 2016: 6) mengemukakan beberapa karakteristik, yaitu mempunyai perasaan tidak aman kurang menerima dirinya sendiri dan biasanya memiliki harga diri yang rendah. Fitts (Yanti, 2008
dalam Silaen, 2016: 6), menyebutkan ciri-ciri individu yang mempunyai konsep diri rendah adalah:
a) Tidak menyukai dan menghormati diri sendiri
b) Memiliki gambaran yang tidak pasti terhadap dirinya,
c) Sulit mendefinisikan diri sendiri dan mudah terpengaruh oleh bujukan dari luar d) Tidak memiliki pertahanan psikologis yang dapat membantu menjaga tingkat
harga dirinya
e) Mempunyai banyak persepsi yang saling berkonflik
f) Merasa aneh dan asing terhadap diri sendiri sehingga sulit bergaul.
g) Mengalami kecemasan yang tinggi, serta sering mengalami pengalaman negatif dan tidak dapat mengambil manfaat dari pengalaman tersebut.
Menurut William D. dan Philip E (Rakhmat, 2007 dalam Silaen, 2016: 6-7) ada empat tanda orang yang memiliki konsep diri negatif, yaitu :
a. Peka pada kritik. Orang ini sangat tidak tahan terhadap kritik yang diterimanya, dan mudah marah. Bagi orang ini,koreksi seringkali dipersepsi sebagai usaha untuk menjatuhkan harga dirinya.
b. Responsif sekali terhadap pujian. Walaupun ia mungkin berpura-pura menghindari pujian, ia tidak dapat menyembunyikan antusiasmenya pada waktu menerima pujian, segala macam embel-embel yang menunjang harga dirinya menjadi pusat perhatiannya.
c. Cenderung merasa tidak disenangi orang lain. Ia merasa tidak diperhatikan. Ia tidak akan pernah mempersalahkan dirinya, tetapi akan menganggap dirinya sebagai korban dari sistem sosial yang tidak beres.
d. Bersikap pesimis terhadap kompetisi seperti terungkap dalam keengganannya untuk bersaing dengan oran lain dalam membuat prestasi.
Individu yang memiliki konsep diri negatif meyakini dan memandang bahwa dirinya lemah, tidak berdaya, tidak dapat berbuat apa-apa, dan kehilangan daya tarik terhadap hidup. Individu ini akan cenderung bersikap pesimistik terhadap kehidupan dan kesempatan yang dihadapinya. Ia tidak melihat tantangan sebagai kesempatan, namun lebih sebagai halangan. Individu yang memiliki konsep diri negatif akan mudah menyerah
sebelum berperang dan jika ia mengalami kegagalan akan menyalahkan diri sendiri maupun menyalahkan orang lain (Silaen, 2016: 7)
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa karakteristik konsep diri dapat dibedakan menjadi dua yaitu konsep diri positif dan konsep diri negatif, yang mana keduanya memiliki ciri-ciri yang sangat berbeda antara ciri karakteristik konsep diri positif dan karakteristik konsep diri yang negatif. Individu yang memiliki konsep diri positif dalam segala sesuatunya akan menanggapinya secara positif, dapat memahami dan menerima sejumlah fakta yang sangat bermacam-macam tentang dirinya sendiri.
Individu yang memiliki konsep diri positif ia akan percaya diri, akan bersikap yakin dalam bertindak dan berperilaku. Sedangkan individu yang memiliki konsep diri negatif akan menanggapi segala sesuatu dengan pandangan negatif pula, dia akan mengubah terus menerus konsep dirinya atau melindungi konsep dirinya itu secara kokoh dengan cara mengubah atau menolak informasi baru dari lingkungannya.
2.3.3 Dimensi-dimensi dalam Konsep Diri
Menurut Fitts (Agustiani, 2006 dalam Silaen, 2016: 8-11) konsep diri terbagi dalam dua dimensi pokok, yaitu:
I. Dimensi Internal
Dimensi internal atau yang disebut juga kerangka acuan internal (internal frame reference) adalah penilaian yang dilakukan individu terhadap dirinya sendiri berdasarkan dunia di dalam dirinya. Dimensi ini terdiri dari tiga bentukFitts (Agustiani, 2006 dalam Silaen, 2016: 8-9)
a) Diri Identitas (identity self)
Bagian diri ini merupakan aspek yang paling mendasar pada konsep diri dan mengacu pada pertanyaan, “Siapakah saya?” Dalam pertanyaan tersebut tercakup label-label dan simbol-simbol yang diberikan kepada diri (self) oleh individu yang bersangkutan. Kemudian dengan bertambahnya usia dan interaksi dengan lingkungannya, pengetahuan individu tentang dirinya juga bertambah, sehingga ia dapat melengkapi keterangan tentang dirinya dengan hal-hal yang lebih kompleks.
b) Pelaku (behavioral self)
Diri pelaku merupakan persepsi individu tentang tingkah lakunya, yang berisikan segala kesadaran mengenai “apa yang dilakukan oleh diri”. Bagian ini berkaitan erat dengan diri identitas. Diri yang kuat akan menunjukkan adanya keserasian antara diri identitas dengan diri pelakunya, sehingga ia dapat mengenali dan menerima, baik diri sebagai identitas maupun diri sebagai pelaku.
c) Diri Penerima/Penilai (judging self)
Diri penilai berfungsi sebagai pengamat, penentu standar, dan evaluator.
Kedudukannya adalah sebagai perantara (mediator) antara diri identitas dan diri pelaku. Diri penilai menentukan kepuasan seseorang akan dirinya atau seberapa jauh seseorang menerima dirinya. Kepuasan diri yang rendah akan menimbulkan harga diri (self seteem) yang rendah pula dan akan mengembangkan ketidakpercayaan yang mendasar pada dirinya dan begitu juga sebaliknya II. Dimensi Eksternal
Pada dimensi eksternal, individu menilai dirinya melalui hubungan dan aktivitas sosialnya, nilai-nilai yang dianutnya, serta hal-hal lain di luar dirinya. Dimensi yang dikemukakan oleh Fitts adalah dimensi eksternal yang bersifat umum bagi semua orang dan dibedakan atas lima bentuk Fitts (Agustiani, 2006 dalam Silaen, 2016: 10-11), yaitu :
a) Diri Fisik (physical self)
Diri fisik menyangkut persepsi seseorang terhadap keadaan dirinyasecara fisik, terlihat dari persepsi seseorang mengenai kesehatan dirinya, penampilan dirinya (cantik, jelek, menarik, tidak menarik) dan keadaan tubuhnya (tinggi, pendek, gemuk, kurus).
b) Diri Etika-moral (moral-ethical self)
Persepsi seseorang terhadap dirinya dilihat dari standar pertimbangan nilai moral dan etika. Hal ini menyangkut persepsi seseorang mengenai hubungan dengan Tuhan, kepuasaan seseorang akan kehidupan keagamaannya dan nilai-nilai moral yang dipegangnya, yang meliputi batasan baik dan buruk.
c) Diri Pribadi (personal self)
Perasaan atau persepsi seseorang tentang keadaan pribadinya. Hal ini tidak dipengaruhi oleh kondisi fisik atau hubungan dengan orang lain,
tetapidipengaruhi oleh sejauh mana individu merasa puas terhadap pribadinya atau sejauh mana ia merasa dirinya sebagai pribadi yang tepat.
d) Diri Keluarga (family self)
Diri keluarga menunjukkan perasaan dan harga diri seseorang dalam sebagai anggota keluarga. Seberapa jauh seseorang merasa memadai terhadap dirinya sebagai anggota keluarga, terhadap peran maupun fungsi yang dijalankannya sebagai anggota dari suatu keluarga.
e) Diri Sosial (social self)
Bagian ini merupakan penilaian individu terhadap interaksi dirinya dengan orang lain maupun lingkungan sekitarnya. Pembentukan penilaian individu terhadap bagian-bagian dirinya dalam dimensi eksternal ini dapat dipengaruhi oleh penilaian dan interaksinya dengan orang lain. Seseorang tidak dapat begitu saja menilai bahwa ia memiliki fisik yang baik tanpa adaya reaksi dari orang lain yang memperlihatkan bahwa secara fisik ia memang menarik. Demikian pula seseorang tidak dapat mengatakan bahwa ia memiliki diri pribadi yang baik tanpa adanya tanggapan atau reaksi orang lain disekitarnya yang menunjukkan bahwa ia memang memiliki pribadi yang baik.
2.3.4 Aspek-aspek Konsep Diri
Konsep diri ini bersifat multi-aspek dan menurut Berk terdapat empat aspek dalam konsep diri Berk (Dariyo, 2007 dalam Silaen, 2016: 11-12), yaitu:
I. Aspek fisiologis
Aspek fisiologis dalam diri berkaitan dengan unsur-unsur fisik, seperti warna kulit, bentuk, berat atau tinggi badan, raut muka (tampan, cantik, sedang, atau jelek), memiliki kondisi badan yang sehat, normal/cacat dan sebagainya. Karakteristik fisik mempengaruhi bagaimana seseorang menilai diri sendiri; demikian pula tak dipungkiri bahwa orang lain pun menilai seseorang diawali dengan penilaian terhadap hal-hal yang bersifat fisiologis. Walaupun belum tentu benar masyarakat seringkali melakukan penilaian awal terhadap penampilan fisik untuk dijadikan sebagai dasar respon perilaku seseorang terhadap orang lain.
II. Aspek Psikologis
Aspek-aspek psikologis (psychological aspect) meliputi tiga hal, yaitu:
a) Kognisi (kecerdasan, minat dan bakat, kreativitas, kemampuan konsentrasi) b) Afeksi (ketahanan, ketekunan dan keuletan bekerja, motivasi berprestasi,
toleransi stres)
c) Konasi (kecepatan dan ketelitian kerja)
Pemahaman dan penghayatan unsur-unsur aspek psikologis tersebut akan mempengaruhi penilaian terhadap diri sendiri. Penilaian yang baik akan meningkatkan konsep diri yang positif (positive self concept), sebaliknya penilaian yang buruk cenderung akan mengembangkan konsep diri yang negatif (negative self concept).
III. Aspek Psiko-sosiologis
Aspek psiko-sosiologis (psych sociologico aspect) adalah pemahaman individu yang masih memiliki hubungan dengan lingkungan sosialnya. Aspek psiko-sosiologis ini meliputi tiga unsur, yaitu:
a) Orangtua saudara kandung, dan kerabat dalam keluarga.
b) Teman-teman pergaulan (peer-group)dan kehidupan bertetangga.
c) Lingkungan sekolah (guru, teman sekolah, aturan-aturan sekolah).
Seseorang yang menjalin hubungan dengan lingkungan sosial dituntut untuk dapat memiliki kemampuan berinteraksi sosial (social interaction), komunikasi, menyesuaikan diri (adjustment) dan bekerja sama (cooperation) dengan mereka. Tuntutan sosial secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi agar individu menaati aturan-aturan sosial. Individu pun juga berkepentingan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya melalui lingkungan.
IV. Aspek Psikoetika dan Moral
Aspek psikoetika dan moral (moral aspect), yaitu suatu kemampuan memahami dan melakukan perbuatan berdasarkan nilai-nilai etika dan moralitas. Setiap pemikiran, perasaan, dan perilaku individu harus mengacu pada nilai-nilai kebaikan, keadilan, kebenaran, dan kepantasan. Oleh karena itu, proses penghayatan dan pengamatan individu terhadap nilai-nilai moral tersebut menjadi sangat penting, karena akan dapat menopang keberhasilan seseorang dalam melakukan kegiatan penyesuaian diri dengan orang lain.
2.3.5 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Konsep Diri
Menurut Devito dalam buku yang berjudul The Interpersonel Communication Book
1. Others Image
Others Images merupakan orang yang mengatakan siapa anda, melihat citra diri dengan mengungkapkannya melalui perilaku dan aksi. Konsep diri seseorang dibentuk karena adanya orang-orang yang paling penting dalam hidup seseorang seperti orang tua. Menurut Demo.H menekankan bahwa konsep diri dibentuk, dipelihara, diperkuat, dan diubah oleh komunikasi para anggota keluarga. Mereka itulah yang disebut sebagai significant others. Significant Others yang dimaksud merupakan orang tua. Orang tua adalah faktor utama yang membentuk dan mengembangkan konsep diri seorang anak. Dalam perkembangan, significant others meliputi semua yang mempengaruhi perilaku, pikiran dan perasaan kita, mereka mengarahkan tindakan kita, membentuk pikiran kita dan menyentuh kita secara emosional.
2. Orang lain
Kita mengenal diri kita dengan mengenal orang lain terlebih dahulu. Ketika kita tumbuh menjadi dewasa, kita mencoba menghimpun penilaian semua orang yang pernah berhubungan dengan kita. Sebagai contoh, Rina memperoleh informasi tentang dirinya dari kedua orang tuanya dan orang sekitarnya bahwa Rina anak yang pintar. Rina berpikir, “saya pintar”. Ia menilai persepsinya dari orang lain. Richard dan W.J Humber, 1966 (dalam Naisyha, 2015) menamai orang lain sebagai affective others, dimana orang lain yang mengenal kita mempunyai ikatan emosional.
Pandangan diri kita tentang keseluruhan pandangan orang lain terhadap kita disebut generalized others. Konsep diri ini berasal dari George H. Mead, dimana kita memandang diri kita seperti orang lain memandangnya,berarti mencoba menempatkan diri kita seperti orang lain memandangnya.
3. Budaya
Melalui orang tua, pendidikan, latar belakang, makan akan ditanamkan keyakinan, nilai agama, ras, sifat, nasional untuk membentuk konsep diri seseorang. Contohnya, ketika seseorang mempunyai latar belakang budaya yang sangat baik dan memiliki etika maka orang tersebut memiliki konsep diri positif.
2.3.6 Proses Terbentuknya Konsep Diri
Salah satu faktor penentu atau gagalnya seseorang dalam menjalani kehidupan adalah konsep diri. Konsep diri yang ada pada seorang individu adalah sebagai bentuk keyakinan dirinya bahwa ia mampu dan bisa untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapinya. Konsep diri seseorang dinyatakan melalui sikap dirinya dalam suatu lingkungan. Manusia sebagai organisme yang memiliki dorongan untuk berkembang yang pada akhirnya menyebabkan ia sadar akan keberanian dirinya. Perkembangan yang berlangsung tersebut dapat membantu pembentukan konsep diri individu yang bersangkutan.
Persepsi tentang diri ini boleh bersifat psikologi, sosial dan fisik sedangkan menurut George H. Mead (dalam Rakhmat, 2007: 99) dalam buku Introducing Communication Theory Analysis an Aplication Third Edition konsep diri pada seseorang muncul bukan dari pikiran seseorang tersebut terlebih dahulu melainkan dari pemikiran atau pandangan dari orang lain terhadap diri kita dan baru diikuti pemikiran yang muncul pada diri. Sehingga dapat disimpulkan bahwa konsep diri adalah cara pandang secara menyeluruh tentang diri yang meliputi kemampuan yang dimiliki, perasaan yang dialami, kondisi fisik dirinya maupun lingkungan terdekatnya.
Konsep diri terbentuk dalam waktu yang relatif lama. Konsep diri pada dasarnya tersusun atas berbagai tahapan (Sobur, 2010: 510-511) , yaitu :
a) Konsep diri primer
Konsep ini terbentuk atas dasar pengalamannya terhadap lingkungan, yaitu lingkungan rumahnya sendiri. Pengalaman yang berbeda diterima melalui anggota rumah, baik dari orang tua, nenek, paman, atau saudara kandung. Konsep tentang bagaimana dirinya banyak bermula dari perbandingan antara dirinya dan saudaranya yang lain. Adapun konsep bagaimana perannya, aspirasinya ataupun tanggung jawabnya dalam kehidupan, ditentukan atas dasar pendidikan yang datang dari orang tuanya.
b) Konsep diri sekunder
Konsep ini banyak ditentukan oleh konsep diri primernya, misalnya apabila konsep diri primer seseorang adalah pendiam, tidak nakal, tidak suka keributan, maka ia akan memilih teman bermain yang sesuai dengan konsep diri yang sudah dimilikinya dan teman-teman baru yang nantinya menunjang terbentuknya konsep diri sekunder.
Konsep diri terbentuk karena adanya interaksi individu dengan orang-orang disekitarnya. Apa yang dipersepsi individu lain mengenai diri individu, tidak terlepas dari struktur, peran dan status sosial yang disandang seorang individu.
2.3.7 Proses Pengembangan Konsep Diri
Konsep diri bukan merupakan faktor yang dibawa sejak lahir, melainkan faktor yang dipelajari dan terbentuk dari pengalaman individu dalam berhubungan dengan individu lainnya. Tanggapan yang diberikan dijadikan cermin bagi individu untuk menilai dan memandang dirinya sendiri. Dengan demikian, konsep diri terbentuk karena suatu proses umpan balik dari individu lain. Pada dasarnya, pengembangan konsep diri merupakan proses yang relatif pasif. Pada pokoknya, individu akan berperilaku dengan cara tertentu dan mengamati reaksi orang lain terhadap perilaku (Sobur, 2010: 514)
Ada dua hal yang mendasari pengembangan konsep diri (Sobur, 2010: 515-516), yaitu :
a) Pengalaman Secara Situasional
Pengalaman yang pernah dialami, tidak seluruhnya mempunyai pengaruh dalam diri seseorang. Jika pengalaman tersebut sesuatu yang konsisten dengan nilai-nilai dan konsep diri yang ada, secara rasional dapat diterima, dan sebaliknya. Apa yang diperlukan dan tidak bisa dipertahankan, akan timbul keinginan untuk mengubah konsep diri agar bisa disesuaikan dengan pengalaman mutakhir sepanjang ada kesadaran untuk merespon pengalaman melalui pancaindera yang dapat dimengerti dan diterima. Penerimaan pengalaman mutakhir ke dalam konsep diri mungkin akan dapat mengubah sistem nilai yang kaku, yang dianut sebelumnya. Pengalaman ini, akan menjadi lebih terbuka untuk mengubah nilai-nilai, dan mengubah konsep diri.
b) Interaksi Dengan Orang Lain
Segala aktivitas dalam masyarakat memunculkan adanya interkasi seseorang dengan orang lain. Dari interaksi yang muncul, terdapat usaha untuk mempengaruhi antara seseorang dengan orang lain tersebut. Dalam situasi tersebut, konsep diri berkembang dalam proses saling memperngaruhi. Pandangan terhadap diri sendiri
adalah dasar konsep diri seseorang untu memperoleh pengertian mengenai dirinya sendiri melalui interaksi dengan orang lain yang disertai persepsi dan kesadaran terhadap cara orang lain tersebut.
2.3.8 Konsep Diri Pelajar
Pelajar Sekolah Menengah Atas termasuk dalam kelompok usia remaja. Remaja adalah suatu periode transisi dari masa awal dewasa yang dimasuki usia kira-kira 10-12 tahun dan berakhir pada 18-22 tahun. Dari sudut batas usia saja sudah tampak bahwa golongan remaja sebenarnya sudah tergolong kalangan yang transasional. Transasional adalah kemajuan gejala sosial yang bersifat sementara, karena masi diantara usia kanak-kanak dengan dewasa. Hal ini mengakibatkan remaja masih mencari identitas diri/jati dirinya. Ada berbagai faktor yang mempengaruhi kemampuan untuk mengatasi masalah-masalah tersebut misalnya, keadaan sosial-ekonomis, mentalistis, pekerjaan, dan lingkungan sosial (Ahmadi, 2007).
Konsep diri berkembang seiring dengan pertumbuhan yang dialami oleh individu.
Oleh karena itu, apabila perkembangan seorang anak normal, maka konsep diri yang dimiliki individu dari kecil harus beganti dengan konsep diri yang baru dan sejalan dengan berbagai macam dan penemuan ataupun pengalaman yang diperoleh pada usia-usia selanjutnya (Gunarsa, 2002 dalam Rola, 2006: 16).
Colemen (Burns, 1993 dalam Rola, 2006: 16) mengatakan bahwa konsep diri yang dimiliki individu relatif stabil sepanjang masa keremajaan. Konsep diri bertambah stabil pada periode masa remaja. Konsep diri yang stabil sangat penting bagi remaja karena hal tersebut merupakan salah satu bukti keberhasilan pada remaja dalam usaha untuk memperbaiki kepribadiannya (Hurlock, 1999 dalam Rola, 2006: 16). Selain itu, konsep diri juga menjadi penting bagi masa remaja karena pada masa ini tubuh remaja berubah secara mendadak sehingga dapat mengubah pengetahuan tentang diri dan juga, pada masa ini merupakan saat dimana individu harus mengambil keputusan mengenai kepribadiannya dalam rangka mengatasi berbagai pernyataan seperti pemilihan karir (Hardy dan Hayes,
Menurut Hurlock (dalam Rola, 2006: 17-18) pada masa remaja terdapat 8 kondisi yang mempengaruhi konsep diri yang dimilikinya, yaitu :
a) Usia Kematangan
Remaja yang matang lebih awal dan diperlakukan hampir seperti orang dewasa akan mengembangkan konsep diri yang menyenangkan sehingga dapat menyesuaikan diri dengan baik.
b) Penampilan diri
Penampilan diri yang berbeda bisa membuat remaja merasa rendah diri. Daya tarik fisik yang dimiliki sangat mempengaruhi dalam pembuatan penilaian tentang ciri kepribadian seorang remaja.
c) Nama dan julukan
Remaja peka dan merasa malu bila teman-teman sekelompok menilai namanya buruk atau bila member nama julukan yang bernada cemoohan.
d) Keluarga
Seorang remaja yang memiliki hubungan yang dekat dengan salah satu anggota keluarga akan mengidentifikasi dirinya dengan orang tersebut dan mengembangkan pola kepirbadian yang sama.
e) Teman Sebaya
Teman sebaya mempengaruhi pola kepribadian remaja dalam dua cara. Pertama, konsep diri remaja merupakan cerminan diri dari anggapan tentang konsep teman-teman tentang dirinya dan yang kedua, seorang remaja berada dalam tekanan untuk mengembangkan ciri-ciri kepribadian yang diakui kelompok.
Salah satu usaha remaja untuk mengatasi masalah status atau identitas yang tidak jelas adalah mencoba berbagai peran. Usaha ini dilakukan dengan harapan dapat mengembangkan seluruh ideologi dan minat remaja. Pembentukan konsep diri pada remaja sangat penting karena akan mempengaruhi kepribadian, tingkah laku, dan pemahaman terhadap dirinya sendiri. Remaja memiliki konsep diri yang cenderung menetap dan stabil, yang sudah terbentuk sejak mulai masa anak-anak.
Pencarian identitas merupakan konflik utama yang dialami pada masa remaja.
Dengan peninjauan kembali penting bagi remaja untuk mematangkan kepribadiannya, yang juga berarti memantapkan konsep dirinya karena konsep diri adalah inti pola kepibadian. Pada perkembangannya konsep diri akan ditinjau kembali dengan adanya pengalaman sosial dan pribadi yang baru Hurlock (dalam Rola, 2006: 18).
2.4 Media Baru (New Media)
Media baru adalah konsep yang menjelaskan kemampuan media yang dengan dukungan perangkat digital dapat mengakses konten kapan saja, di mana saja sehingga memberikan kesempatan bagi siapa saja-baik sebagai penerima/pengguna-untuk berpartisipasi aktif, interaktif, dan kreatif terhadap umpan balik pesan yang pada gilirannya membentuk komunitas/masyarakat “baru” melalui isi media (Liliweri, 2015: 284).
Media baru atau New Media merupakan media yang menggunakan internet, media online berbasis teknologi, berkarakter fleksibel, berpotensi interaktif dan dapat berfungsi secara privat maupun secara publik (Mondry, 2008 dalam Sembiring, 2015: 6). Secara umum, media baru tidak hanya menjembatani perbedaan pada beberapa media, namun juga pada perbedaan mengenai batasan kegiatan komunikasi pribadi.
Media baru dan media lama sangatlah berbeda. Perbedaan tersebut dapat dilihat melalui pendekatan interaksi sosial dan itegritas sosial media baru dan media lama.
Pendekatan interaksi sosial membedakan media dengan seberapa mirip media tersebut dengan model interaksi tatap muka. Media yang lebih lama memiliki peluang interaksi yang sedikit, media yang lebih menekankan penyebaran informasi dan sedikit adanya interaksi yang diciptakan seperti halnya radio dan televisi. Media baru lebih memiliki interaksi didalamnya komunikator dengan komunikannya lebih bebas berkomunikasi dan berinteraksi (Littlejohn dan Foss, 2009).
Pierre Levy memiliki pandangan yang dituangkannya dalam bukunya yang berjudul Cyberculture bahwa WWW (World Wide Web) merupakan sebuah informasi yang terbuka, fleksibel dan dinamis, yang memungkinkan manusia mengembangkan orientasi pengetahuan yang baru dan juga terlibat dalam dunia demokratis tentang pembagian kesamaan dan pemberian kuasa yang lebih interaktif dan berdasarkan masyarakat. Dunia maya memberikan tempat pertemuan semu yang memperluas dunia sosial, menciptakan peluang pengetahuan baru dan menyediakan tempat untuk
Pierre Levy memiliki pandangan yang dituangkannya dalam bukunya yang berjudul Cyberculture bahwa WWW (World Wide Web) merupakan sebuah informasi yang terbuka, fleksibel dan dinamis, yang memungkinkan manusia mengembangkan orientasi pengetahuan yang baru dan juga terlibat dalam dunia demokratis tentang pembagian kesamaan dan pemberian kuasa yang lebih interaktif dan berdasarkan masyarakat. Dunia maya memberikan tempat pertemuan semu yang memperluas dunia sosial, menciptakan peluang pengetahuan baru dan menyediakan tempat untuk