LANDASAN TEORI
C. Layanan Bimbingan dan Konseling
3. Jenis-jenis Layanan Bimbingan dan Konseling
Pola umum bimbingan dan konseling mengenal 7 jenis layanan bimbingan dan konseling (Prayitno dkk 1997; MGMBK Propinsi DIY, 1995; Depdikbud, 1994). Ketujuh jenis layanan itu adalah: layanan orientasi, layanan informasi, layanan penempatan dan penyaluran, layanan pembelajaran, layanan konseling perseorangan, layanan konseling kelompok, dan layanan bimbingan kelompok.
a. Layanan Orientasi
1) Pengertian dan tujuan layanan orientasi
Layanan orientasi adalah layanan bimbingan yang dilakukan untuk mengenalkan siswa baru dan atau seseorang terhadap lingkungan yang baru saja dimasukinya (Prayitno dan Anti, 1999:255). Tujuan layanan ini adalah agar siswa cepat/mudah menyesuaikan diri dengan pola kehidupan sosial, kegiatan belajar dan kegiatan lain yang mendukung keberhasilan belajar (Prayitno dkk, 1997). 2) Materi layanan orientasi
Secara umum, materi layanan orientasi antara lain: kurikulum/mata pelajaran yang ada, lingkungan fisik sekolah, staf pengajar dan tata usaha, hak dan kewajiban siswa, peraturan/tata tertib sekolah, organisasi siswa, fasilitas dan sumber belajar dan penunjang (misalnya pelayanan kesehatan, dan layanan bimbingan dan konseling) (Prayitno dan Anti, 1999).
Secara khusus atau dalam bidang bimbingan dan konseling, materi layanan orientasi adalah perkenalan atau pembimbingan orientasi mengenai antara lain: kegiatan bimbingan dan konseling sebagai bagian dari keseluruhan pendidikan; bidang-bidang bimbingan (pribadi, sosial, belajar dan karier); jenis-jenis layanan bimbingan dan konseling dan bagaimana jenis-jenis layanan bimbingan dan konseling itu dilaksanakan untuk menunjang keberhasilan dalam bidang pribadi, sosial, belajar dan karier (Prayitno dkk, 1997).
3) Pelaksanaan layanan orientasi
Menurut Prayitno dkk (1997), layanan orientasi dapat dilaksanakan dalam bentuk pertemuan umum (para siswa dari banyak kelas), pertemuan klasikal (para
siswa di tiap kelas) atau pertemuan kelompok (siswa dalam jumlah terbatas). Dalam pertemuan klasikal, guru pembimbing mengunjungi/mendatangi setiap kelas (Prayitno dan Anti, 1999).
b. Layanan Informasi
1) Pengertian dan tujuan layanan informasi
Layanan informasi adalah layanan bimbingan yang memungkinkan peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi yang dapat dipergunakan untuk menyusun rencana atau untuk mengambil keputusan. Tujuan dari layanan ini adalah membekali individu dengan berbagai pengetahuan dan pemahaman tentang berbagai hal yang berguna untuk merencanakan dan mengembangkan pola kehidupan sebagai pelajar, anggota keluarga dan masyarakat (Prayitno, dkk 1997:276).
2) Materi layanan informasi
Menurut Prayitno dkk (1997), materi layanan informasi, antara lain: informasi mengenai pengembangan pribadi, informasi mengenai kehidupan sosial dan informasi mengenai pendidikan.
3) Pelaksanaan layanan informasi
Layanan informasi dapat dilakukan dengan metode ceramah, tanya jawab atau diskusi (Prayitno dkk, 1997; Prayitno dan Anti,199).
c. Layanan Penempatan dan Penyaluran
Layanan penempatan dan penyaluran adalah layanan bimbingan yang memungkinkan siswa memperoleh penempatan dan penyaluran secara tepat (misalnya penempatan/penyaluran didalam kelas, kelompok belajar, jurusan/program khusus, kegiatan ko/ekstra kurikuler sesuai dengan potensi,bakat dan minat, serta kondisi pribadinya (Depdikbud, 1994:22;Depdikbud, 1994b:23).
Tujuan dari layanan ini agar peserta didik (dengan seluruh kemampuannya berkembang secara optimal (Prayitno dkk, 1997; Prayitno dan Anti, 1999).
2) Bentuk-bentuk layanan penempatan dan penyaluran
Sesuai dengan pengertiannya, bentuk-bentuk layanan ini antara lain: penempatan siswa didalam kelas (pengaturan tempat duduk dan pembagian kelas); penempatan kelompok belajar (termasuk penempatan dalam program pengajaran perbaikan/pengayaan); penyaluran dalam kegiatan ko/ekstra; dan penyaluran dalam jurusan atau program studi (Prayitno dkk, 1997).
d. Layanan Pembelajaran
1) Pengertian layanan pembelajaran
Layanan pembelajaran adalah layanan bimbingan yang memungkinkan peserta didik mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik (Prayitno dkk, 1997; Depdikbud 1994).
2) Materi layanan pembelajaran
Menurut Prayitno dkk (1997), materi layanan pembelajaran, antara lain pengenalan siswa yang mengalami masalah belajar; peningkatan motivasi belajar (misalnya memperjelas tujuan belajar, dan melengkapi sumber dan sarana
belajar); peningkatan keterampilan belajar (misalnya pembuatan catatan dan ringkasan yang baik, serta ketrampilan membaca dan bertanya); dan pengembangan sikap dan kebiasaan belajar yang baik (misalnya pengembangan sikap positif terhadap guru dan mata pelajaran, serta pengaturan waktu belajar atau pembuatan jadwal belajar).
e. Layanan Bimbingan Kelompok
1) Pengertian dan tujuan layanan bimbingan kelompok
Layanan bimbingan kelompok adalah layanan bimbingan yang memungkinkan sejumlah peserta didik, melalui dinamika kelompok, memperoleh berbagai pengalaman, pengetahuan atau nilai-nilai yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari (baik sebagai individu, pelajar, maupun sebagai anggota masyarakat)(Prayitno dkk, 1997; Depdikbud, 1994b). Adapun tujuan layanan ini adalah perkembangan pribadi semua peserta melalui pendalaman topik-topik umum (Prayitno, 1995).
2) Materi layanan bimbingan kelompok
Materi/topik layanan bimbingan kelompok dikelompokkan berdasarkan asalnya dan sifatnya (Prayitno, 1995). Berdasarkan asalnya, topik bimbingan kelompok dibagi dalam “topik tugas” dan “topik bebas”. Sedangkan berdasarkan sifatnya, topik /materi bimbingan dibatasi pada topik umum.
Topik tugas adalah topik/materi bimbingan kelompok yang berasal dari guru pembimbing. Sedangkan topik bebas adalah topik yang berasal dari para peserta anggota. Oleh karena itu dikenal istilah “kelompok tugas” dan “kelompok
bebas”. Kelompok tugas adalah kelompok yang membahas topik tugas. Sedangkan kelompok bebas adalah kelompok yang membahas topik bebas.
Menurut Prayitno dkk (1997) dan Prayitno (1995), materi/topik umum bimbingan kelompok antara lain pengaturan dan penggunaan waktu secara efektif, pengembangan sikap dan kebiasaan belajar, kemampuan berkomunikasi, pemahaman dan pengendalian emosi, pemahaman dan penerimaan diri (orang lain), cara mengatasi konflik dalam hubungan antar pribadi, pengenalan dan pemahaman mengenai kelebihan dan kekurangan diri, motivasi dan tujuan belajar, dan hubungan dengan teman sebaya, termasuk didalamnya pengembangan konsep diri.
3) Pelaksanaan layanan bimbingan kelompok
Prayitno (1995) mengatakan bahwa jumlah anggota dalam bimbingan kelompok adalah 10 sampai dengan 15 orang; karenanya kegiatannya dilakukan dalam kelompok kecil. Hal itu berbeda dengan pengertian yang lama bahwa bimbingan kelompok dapat beranggotakan kelompok siswa dalam satu kelas atau lebih (maksimal 80 orang) (Prayitno, 1995).
Bimbingan kelompok dalam pengertian yang baru dalam pelaksanaannya menekankan pentingnya atau mengharuskan adanya dinamika kelompok (Prayitno, 1995). Menurut Kamari (Sinurat, Handout), dinamika kelompok adalah:
Suatu metode pendidikan dengan menggunakan seperangkat permainan untuk menumbuhkan pengalaman hidup berkelompok, kemudian pengalaman itu dianalisa, dipelajari, direnungkan, ditemukan maknanya. Tujuan agar masing-masing pribadi berkembang, tumbuh menjadi pribadi yang dewasa dan kelompok menjadi terbuka , hidup serta dinamis.
Metode belajar (untuk kegiatan bimbingan kelompok) yang sesuai dengan arti dinamika kelompok menurut Kamari tersebut adalah belajar melalui pengalaman (experiential learning), atau belajar melalui latihan pengalaman/pengalaman terstruktur (structured exercise experience). Menurut Pfifer dan Jones (Sinurat, handout), tahap-tahap belajar melalui pengalaman itu adalah:
a) Mengalami (experiencing): mengalami (menangkap dengan indera), berpikir, merasa, atau bertindak.
b) Membagi perasaan (sharing): mengemukakan perasaan yang timbul dari pengalaman.
c) Menginterpretasikan (interpreting): menafsirkan atau mengartikan pengalaman.
d) Membuat generalisasi (generalizing): merumuskan hipotesis-hipotesis dan prinsip-prinsip berdasarkan pengalaman.
e) Menerapkan (applying): merencanakan tindakan untuk mempraktikan prinsip-prinsip yang sudah dirumuskan.
f. Layanan konseling perorangan
1) Pengertian layanan konseling perorangan
Menurut Prayitno (1995) layanan konseling perorangan yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik (klien) mendapatkan layanan langsung tatap muka (secara perorangan) dengan guru pembimbing dalam rangka pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi.
2) Tujuan dan fungsi layanan konseling perorangan
Layanan konseling perorangan memungkinkan siswa mendapatkan layanan langsung secara tatap muka dengan guru Pembimbing dalam rangka pembahasan dan pengentasan permasalahannya.
3) Materi layanan konseling
Materi yang dapat diangkat melalui layanan konseling perorangan pada dasarnya tidak terbatas. Layanan ini dilaksanakan untuk segenap bidang bimbingan. Siswa dapat membawa segala macam masalah pada guru pembimbing tanpa membedakan pribadi siswa.
g. Layanan Konseling Kelompok
1) Pengertian dan tujuan layanan konseling kelompok
Layanan konseling kelompok adalah pembahasan dan pemecahan masalah perorangan/pribadi yang muncul didalam kelompok atau dialami oleh setiap anggota kelompok (maksimal 10 orang), melalui dinamika kelompok (Prayitno dkk, 1997); Prayitno, 1995). Sementara itu menurut Winkel (1997: 485), konseling kelompok adalah “Konseling antara konselor profesional dengan beberapa orang sekaligus yang tergabung dalam suatu kelompok kecil”.
Tujuan layanan ini adalah pengembangan pribadi semua peserta melalui pendalaman dan pemecahan masalah pribadi (Prayitno, 1995). Sementara itu menurut Olsen, Dinkmeyer & James, dan Corey (Winkel, 1997), tujuan-tujuan umum konseling kelompok, antara lain: peserta dapat memahami dirinya dengan lebih baik, peserta dapat mengembangkan kemampuan berkomunikasi secara
terbuka, saling menghargai dan saling memperhatikan, peserta menjadi lebih mampu memahami perasaan orang lain dan menjadi lebih peka terhadap kebutuhan orang lain, dan peserta lebih menyadari dan menghayati makna dari suatu kehidupan bersama (dapat menerima orang lain dan adanya harapan untuk diterima oleh orang lain).
2) Materi/topik layanan konseling kelompok
Materi/topik layanan konseling kelompok adalah masalah pribadi yang secara langsung dialami atau lebih tepat lagi, merupakan masalah yang sedang diderita oleh peserta yang menyampaikan masalah atau topik itu (Prayitno, 1995: 72). Jadi, seperti dalam konseling perseorangan, setiap anggota kelompok dapat menampilkan masalah yang dirasakannya. Masalah-masalah tersebut “dilayani” melalui pembahasan yang intensif oleh seluruh anggota kelompok (Prayitno dkk, 1997: 108).
Karena materi layanan adalah masalah perseorangan yang muncul/diungkapkan dalam kelompok, maka materi layanan ini tidak dapat ditentukan oleh guru pembimbing. Dengan kata lain, topik/materi dalam konseling kelompok adalah “topik bebas”, yaitu topik/materi yang berasal dari anggota kelompok. Materi-materi/topik-topik seperti itu meliputi materi dalam berbagai bidang (pribadi, sosial, belajar dan karier) (Prayitno dkk, 1997; Prayitno, 1995).
3) Perlunya konseling kelompok (sebagai kegiatan menolong teman sebaya) Tindall (Sinurat, 2002: 1) mendefinisikan penolongan sebaya sebagai “aneka ragam perilaku menolong antar pribadi yang dilakukan oleh tenaga
nonprofessional yang berusaha menolong orang lain”. Meskipun pengertian layanan konseling kelompok tidak dapat disamakan dengan pengertian penolongan sebaya (Peer Helping) tersebut, namun layanan konseling kelompok jelas merupakan kegiatan menolong sebaya, sebab semua anggota (yang pada dasarnya adalah teman sebaya) ikut secara langsung dan aktif membicarakan masalah kawannya dengan tujuan agar anggota kelompok yang bermasalah itu terbantu dan masalahnya terentaskan (Prayitno dkk, 1997: 112).
Oleh karena itu, alasan yang mendasar perlunya kegiatan ini dapat diambil dari beberapa asumsi yang mendasari gerakan konseling sebaya menurut Dizon (Sinurat, 2002). Asumsi-asumsi itu adalah:
a) Dalam diri remaja ada kemampuan dan keinginan untuk menolong orang lain. b) Remaja memiliki sifat-sifat/ciri-ciri yang bilamana dikembangkan akan
mendorongnya melakukan hal-hal yang berguna bagi dirinya sendiri dan orang lain.
c) Remaja itu pada dasarnya baik dan ingin terus mengaktualisasikan dirinya dalam hubungannya dengan orang lain.
d) Remaja dapat merasakan kebahagiaan dan kepuasaan dengan jalan menolong orang lain.
Selain itu, ada salah satu alasan yang mendasari berkembangnya program penolong sebaya, yang kiranya dapat pula dijadikan sebagai alasan perlunya konseling kelompok. Alasan itu, sebagaimana dikatakan Sinurat (Handout), adalah:
Adanya preferensi untuk menghubungi teman sebaya. Kalau seseorang menghadapi, dan ingin membicarakannya dengan
seseorang, maka biasanya dia lebih suka membicarakannya dengan teman dekatnya, seseorang yang seperti dia tetapi berbeda dengannya yaitu sebayanya, dari pada dengan orang dewasa lain.
4. Teknik dan Waktu Pelaksanaan Layanan Bimbingan dan