DALAM PENGEMBANGAN KONSEP DIRI SISWA
B. Peranan Guru Pembimbing sebagai Motivator
Peranan guru pembimbing sebagai motivator adalah berupaya untuk menyadarkan dan mendorong siswa untuk mengenali potensi yang dimiliki sehingga dapat dikembangkan lebih baik lagi. Guru pembimbing harus dapat mengubah konsep diri siswa yang negatif menjadi konsep diri yang positif,
walaupun hal itu tidak mudah, memerlukan waktu yang panjang dan membutuhkan proses secara kontinu.
Membangun konsep diri yang positif ada tiga hal yang harus dilakukan yaitu pertama, mengenal diri sendiri dengan baik, kedua menerima diri dengan baik sebagaimana adanya dan ketiga mengembangkan diri sebaik mungkin.
1. Mengenal Diri
Mengenal diri menurut Hendra (2007) merupakan langkah terbaik dan pertama dalam membentuk konsep diri. Mengenal diri dihubungkan dengan aspek kognitif. Dengan mengenal diri sendiri berarti kita tahu siapa diri kita sebenarnya dengan berbagai kelebihan dan kekurangan yang ada pada kita. Untuk mengenal diri sendiri kita dapat mengawalinya dengan pertanyaan “Siapakah Aku”? Atosokhi (2003) Pertanyaan ini merupakan langkah awal yang baik untuk mencari jawaban tentang rahasia diri sendiri. Pertanyaan “Siapakah Aku” ditempatkan sebagai titik tolak untuk mendalami dan mengenal diri sendiri. Pertanyaan ini dapat menjadi pendorong untuk mencari tahu lebih banyak tentang diri sendiri (dari segi fisik psikis), sebagaimana dialami secara nyata dalam hidup keseharian.
a. Pengertian mengenal Diri
Atosokhi (2003) manusia merupakan sebuah pertanyaan besar baginya sendiri. Ada ungkapan yang mengatakan bahwa ”manusia sebuah misteri”. Ungkapan ini ada benarnya, karena dalam ungkapan tersebut terkandung pengertian bahwa manusia bukan sesuatu yang habis atau selesai dibahas. Walau
ada cukup banyak ilmu yang membahas manusia dari berbagai seginya, namun siapakah manusia itu tetap tak bisa terungkap seluruhnya .
Menurut Hariyono (2000) ”Mengenal diri” tidak dimaksud mengenal segalanya tentang diri, sebagaimana telah dikatakan bahwa hal itu tidak mungkin. Mengenal diri disini lebih baik dimengerti sebagai suatu keberhasilan seseorang memahami hal-hal pokok dan penting tentang realitas dirinya, baik dari segi fisik maupun psikis, serta hal-hal penting lain yang berkaitan dengan itu sebagaimana dialami dalam kehidupan nyata sehari-hari. Pemahaman ini merupakan landasan penting bagi penentuan atau pengambilan sikap yang tepat dan benar dalam memandang dan memperlakukan diri sendiri.
b. Manfaat dan Tujuan Mengenal Diri
Tujuan atau manfaat mengenal diri harus dikaitkan dengan tugas mulia manusia untuk mengembangkan dirinya. Cara berada khas manusia adalah bereksistensi, yang secara terus menerus berada dalam proses menjadi diri sendiri. Manusia adalah sesuatu yang “sudah“ dan sekaligus “belum“, yang “faktual“ dan yang “potensial“; suatu realitas yang masih harus dibentuk terus menerus, tanpa henti, tanpa akhir, Hariyono (2000).
Disamping kenyataan faktualnya yang sekarang, manusia terbuka untuk banyak kemungkinan (potensial) dimasa depan. Kita sedang berada pada satu titik dalam rentangan yang panjang antara yang sudah dan yang belum, antara masa lalu dan masa depan. Dalam rangka mewujudkan yang masih potensial itu, disitulah manusia berperan. Maka bagaimana wujudnya, kecepatannya, mutunya,
dan sebagainya sangat ditentukan oleh peran yang dimainkan seseorang dalam merealisirnya (Atosokhi dkk, 2003)
Usaha merealisir kemungkinan-kemungkinannya (mewujudkan atau mengembangkan dirinya) harus didasarkan pada kenyatan faktual dirinya. Data faktual ini berfungsi sebagai pengarah. Perkembangan seseorang bukanlah perkembangan tanpa landasan dan arah yang jelas. Keberhasilan seseorang mewujudkan hal tertentu dalam dirinya (sebagai peneliti, dokter, guru dan sebagainya) tidak lain karena apa yang dia miliki secara potensial sekarang direalisir dengan bantuan arahan dari apa yang sudah dia miliki sebelumnya.
Selain sebagai arahan, data faktual diri seseorang berfungsi juga sebagai pembatas, dengannya tidak semua kemungkinan dapat diwujudkan. Seseorang yang kakinya cacat tidak akan bisa menjadi pemain sepak bola yang handal. Keadaan dirinya membatasinya untuk merealisir kemungkinan itu. Maka orang itupun tidak perlu bermimpi untuk menjadi pemain bola kaki yang profesional.
c. Cara Mengenal Diri
Mengenal diri tidak lepas dari usaha yang disengaja, seperti yang sedang dilakukan sekarang ini, dapat dilakukan bantuan ilmu pengetahuan dan tehnologi; dengan bantuan teman dan pengalaman beraneka ragam tentang diri sendiri dalam beradaptasi dengan lingkungan. Menurut Atosokhi (2003), mengenal diri dapat dilakukan dengan cara :
1) Melalui sejarah perkembangan diri
Uraian mengenai sejarah perkembangan manusia, seperti evolusi perkembangan fisik manusia. Disitu didapat pemahaman tentang banyak hal
mengenai diri sendiri, bukan saja menyangkut perkembangan fisik manusia melainkan juga perkembangan peradabannya, sebagai hasil dari perpaduan perkembangan baik fisik maupun psikisnya.
2) Melalui penelusuran bakat dan kepribadian
Mengenal diri juga dapat dilakukan melalui cara penelusuran bakat dan kepribadian. Terdapat beberapa tipe kepribadian dengan ciri-cirinya yang khas. Setiap orang, selain merupakan perpaduan dari beberapa tipe, juga memiliki sifat-sifat tertentu yang dominan sehingga dapat digolongkan pada tipe tertentu. Sifat-sifat khas ini akan mewarnai penampilan seseorang dalam hidupnya, menyertai seseorang dalam berhadapan dengan lingkungannya, kejadian-kejadian yang melibatkannya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Begitu juga sifat-sifat khas ini dapat ikut menentukan keberhasilan dan kegagalan seseorang. Melalui metode penelusuran bakat, seseorang dapat dengan baik mengetahui bakat-bakat dominannya, yang sering menjadi pedoman dalam penerimaan tugas serta tanggung jawab yang akan diembannya.
3) Melalui pengalaman sehari-hari
Pengalaman-pengalaman nyata juga dapat menjadi jalan untuk mengenal diri sendiri. Kesabaran atau ketidaksabaran dalam antrian, kesediaan untuk mengalah, kegigihan dalam mewujudkan cita-cita, ketekunan dalam tugas, kesetiaan menepati janji, kepekaan terhadap lingkungan, dan sebagainya. Kita dapat melihat diri sendiri dengan meninjau kembali pengalaman-pengalaman dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.
Mengenal diri sendiri juga dapat dilakukan melalui kebersamaan dengan orang lain, meneropong diri dengan membandingkannya dengan orang lain. Dengan itu dapat dilihat persamaan dan perbedaan dengan orang lain, yang sekaligus memperlihatkan kekhususan diri.
5) Melalui kaca mata orang lain
Selain beberapa cara yang telah dikemukakan, mengenal diri juga dapat dilakukan melalui ”kaca mata” orang lain, teman, sahabat, dan orang-orang lain yang dekat dengan kita, mengenai bagaimana kesan dan penilaian mereka terhadap diri kita. Kadang-kadang orang lain lebih obyektif mengenal diri sendiri daripada kita sendiri.
6) Melalui refleksi pribadi
Cara yang tidak kalah baiknya untuk mengenal diri sendiri adalah dengan melakukan refleksi pribadi tentang diri sendiri. Cara ini bisa dilakukan kapan diri mau, kapan bisa ambil waktu khusus tanpa menganggu jadwal penting yang lain. Ada cukup banyak orang yang melakukan hal ini dalam bentuk retret atau rekoleksi, tafakur atau bentuk kegiatan rohani lainya. Terserah mana yang paling cocok untuk diri sendiri.
Demikian ada bermacam-macam cara yang terbuka bagi kita dalam usaha mengenal diri sendiri. Perpaduan dari berbagai cara itu dapat memberi pemahaman yang semakin baik tentang diri sendiri. Pemahaman yang semakin baik terhadap diri sendiri akan sangat membantu dalam rangka menerima dan mengembangkan diri.
2. Menerima Diri
Setelah mengenal diri sendiri (menyangkut hal-hal pokok seputar ciri-ciri dasar fisik, bakat, kekuatan dan kelemahan diri sendiri) hal berikut yang perlu mendapat perhatian adalah bagaimana seseorang menerima diri sendiri sebagaimana adanya. Hal ini berhubungan aspek afektif. Refleksi atas hal penting, karena sebaik manapun kita telah mengenal diri sendiri, tetapi gagal menerimanya, maka pengenalan diri tersebut tidak membawa manfaat bagi kita dalam rangka menunjang usaha untuk mengembangkan diri sendiri.
a. Pengertian menerima diri
Menerima diri merupakan suatu sikap memandang diri sendiri sebagaimana adanya dan memperlakukannya secara baik disertai rasa senang serta bangga sambil terus mengusahakan kemajuannya (Sujanto,1999). Atosokhi (2003) menerima diri sendiri memerlukan kesadaran dan kemauan melihat fakta-fakta yang ada pada diri sendiri, baik secara fisik maupun psikis, menyangkut berbagai kekurangan dan ketidaksempurnaan yang ada, menerimanya secara total tanpa kekecewaan. Pernyataan ini tidak dimaksudkan bahwa kita tidak perlu memiliki kemauan untuk melakukan perubahan atau perbaikan, berlaku pasif dan pasrah menerima nasib. Yang dimaksud adalah, menerima diri harus dianggap sebagai suatu prakondisi menuju perubahan demi kebaikan lebih lanjut dari diri sendiri.
Menurut Atosokhi (2003) manfaat yang diperoleh bila berhasil menerima diri sendiri yaitu :
1) Jika kita menerima diri apa adanya, kita merasa senang terhadap diri sendiri, merasa lebih sehat, lebih semangat dan sepertinya tidak banyak masalah
2) Dengan menerima diri, merasa diri berharga, atau sekurang-kurangnya sama dan sejajar dengan orang lain, karena menyadari bahwa disamping kekurangan-kekurangan, juga memiliki kelebihan-kelebihan.
3) Menerima diri berarti menerima kelebihan dan kekurangan, namun kekurangan itu bukan sebagai penghalang untuk maju. Menerima kekurangan bukan berarti membiarkan kekurangan itu tanpa berusaha memperbaikinya. Sejauh memungkinkan untuk melakukan perbaikan, tetap bertanggung jawab untuk melakukannya.
4) Orang yang berhasil menerima dirinya dengan baik akan mampu melaksanakan pekerjaan sebaik orang lain, karena ada kepercayaan dalam dirinya. Kepercayaan diri akan memberikan kekuatan yang tak terduga, jauh dari perkiraan sebelumnya. Semakin orang memiliki kepercayaan diri, semakin mampu melakukan hal-hal yang diluar dugaan.
5) Dengan berhasil menerima diri sendiri berarti telah membangun sikap positif terhadap diri sendiri, mampu memaafkan (berdamai
dengan) diri sendiri. Jika telah melakukan kesalahan yang serius, perasaan bersalah tidak membantu. Tapi dengan belajar lebih banyak, seseorang dapat melakukan hal yang lebih baik. Hasil belajar adalah pemahaman dan pemahaman membawa/mendorong perubahan sikap. Jika hanya terus merasa bersalah terhadap diri sendiri, dan tidak berusaha memperbaikinya, maka akan menderita. 6) Jika mampu menerima diri sendiri, saya akan mampu menerima
orang lain. Bagaimana saya mengharapkan orang lain menerima diri saya kalau saya sendiri tidak menerimanya.
c. Cara Menerima Diri
Ada orang yang dengan mudah dapat menerima diri sendiri dan ada juga yang agak susah, bahkan tidak berhasil menerima diri sendiri, terutama bila mengalami ketidakpuasan dan kekecewaan terhadap diri sendiri. Menghadapi hal seperti ini perlu dipikirkan cara-cara yang memungkinkan pada akhirnya dapat berhasil menerima diri sendiri. Berikut ini cara yang dapat dilakukan untuk dapat menerima diri sendiri :
1) Selalu mensyukuri apa yang telah dimiliki. Dengan mengucap syukur, fokus perhatian bukan pada apa yang belum diterima, melainkan pada apa sudah diterima, berupa kebaikan-kebaikan dalam hidup kita. Dengan itu juga kita tidak memusatkan perhatian tentang mengapa kita memiliki kelemahan, melainkan bagaimana kita dapat mengatasi kelemahan secara tepat.
2) Jangan terlalu sering mengkritik diri sendiri. Semua manusia mempunyai kesalahan tetapi tidak perlu selalu membicarakan kesalahan itu. Bicarakan hal yang terbaik tentang diri sendiri. Ketika melakukan kesalahan berkatalah ”Aku melakukan kesalahan” dan bukan ”Akulah sumber kesalahan”
3) Terima pujian. Ketika seseorang memuji diri kita, perlakukan itu sebagai hadiah, dan berikan pujian kembali. Pujian tidak boleh berlebihan, namun harus mengandung unsur kebenaran.
4) Luangkan waktu bersama orang-orang positif. Jika keluarga tidak bahagia dan mendukung, maka cari teman-teman yang mendukung dan dapat dipercaya. Tapi hati-hati, jangan salah pilih.
5) Tanamkan dalam pikiran bahwa akan berhasil dan bahagia. Tindakan ini akan membantu kita percaya diri. Itu disebut hukum pikiran. Apapun yang kita pikirkan, akan menjadi seperti yang dipikirkan.
6) Membaca buku pengembangan pribadi, karena pengembangan pribadi adalah proses seumur hidup. Di sini penting dikatakan bahwa perlu selektif dalam memilih buku bacaan bermutu, yang dapat menolong bagi perkembangan kepribadian.
7) Berusaha menggali potensi yang terbaik dari diri, dengan senantiasa belajar meningkatkan kemampuan diri, dan memanfaatkan kesempatan serta peluang yang ada.
3. Mengembangkan Diri
Sesudah mengenal diri dan menerimanya dengan baik hal penting berikut adalah: Bagaimana mengembangkannya? Pertanyaan ini menjadi Dalam mendalami yakni: ”Mengembangkan Diri”
1. Arti dan tujuan mengembangkan diri
Menurut Brecht (2000) Mengembangkan diri merupakan suatu usaha yang sengaja dan terus menerus, tanpa berhenti yang dilakukan dengan berbagai cara dan bentuk, untuk membuat daya potensi diri dapat terwujud secara baik dan optimal, yang menghantar seorang pada taraf kedewasaan sesungguhnya. Usaha besar ini merupakan konsekuensi dari kedudukannya sebagai manusia, yang diberi akal budi.
Tujuan yang ingin dicapai dengan usaha pengembangan diri ini adalah realisasi optimal kearah yang lebih baik dari daya potensi yang dimiliki diri sendiri, yang menghantar seseorang pada tingkat matang dewasa yang membuat dia sanggup membangun relasi yang semakin baik dengan dirinya, dunia, sesama dan Tuhan.
2. Cara mengembangkan diri
Atosokhi (2003) cara untuk mengembangkan diri adalah dengan : a. Mengenal dan menerima diri
Cara untuk mengembangkan diri sendiri adalah dengan berusaha mengenal diri sendiri, lalu menerimanya sebagaimana adanya. Dalam pengenalan diri,
kita diberi pemahaman memadai tentang keadaan diri yang sebenarnya beserta daya potensi yang dimiliki. Dalam penerimaan diri, kita diberi rasa bangga dan optimis tentang diri. Mengenal dan menerima diri, membuka pintu bagi usaha mengembangkan diri.
b. Memiliki kemampuan kuat untuk mengembangkan diri
Usaha mengembangkan diri adalah usaha yang disengaja yang berlangsung tanpa henti. Hal itu tentu tidak mungkin terlaksana tanpa kemauan dan motivasi sebagai penggeraknya. Usaha mengembangkan diri pasti menghadapi banyak tantangan. Tanpa kemauan keras, maka tantangan yang sedikit saja dapat mematahkan semangat seseorang. Kemauan keras tampak dalam kegigihan seseorang mengatasi tantangan-tantangan yang dihadapinya dalam rangka mengembangkan dirinya.
c. Memanfaatkan kemungkinan yang terbuka
Ada bermacam-macam kemungkinan dan fasilitas yang terbuka bagi usaha-usaha mengembangkan diri sendiri, termasuk kesediaan mencari dan menggunakan dukungan dari pihak lain.
d. Belajar dari pihak lain
Pengembangan diri sebaiknya disertai tindakan korektif yakni perbaikan secara terus menerus, yang kadangkala disertai dengan tuntutan berat, seperti hukuman, tuntutan untuk melakukan sesuatu atau justru untuk tidak melakukan pengendalian diri. Pengalaman-pengalaman masa lalu terutama kegagalan, merupakan masukan berharga untuk kemajuan berikutnya. Koreksi
ini dapat dilakukan sendiri dan juga dengan bantuan orang lain. Hal penting disini adalah kesediaan untuk menerima kritik dan merespon secara positif.
3. Hal-hal penting yang perlu dikembangkan sebagai bentuk konkrit pengembangan diri sendiri
Menurut Maryati (2007) mengembangkan diri sendiri merupakan suatu proses yang berlangsung seumur hidup, dimana banyak aspek penting dalam diri sendiri harus mendapat perhatian yang memadai dan seimbang. Keempat aspek atau unsur itu adalah:
a. Mental yang sehat
Mental yang mudah beradaptasi dengan situasi atau lingkungan sekitarnya, yang mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, mental kuat yang tidak mudah menyerah, tahan tekanan, menyukai tantangan, optimis dan sportif serta dapat memahami realitas semestinya.
b. Integritas diri
Usaha membangun harmonisasi antara berbagai dimensi diri (fisik, psikis, dan sosial), serta mengoptimalkan realisasi dari potensi-potensi diri yang dimiliki, sehingga terwujudlah seorang pribadi yang matang dan seimbang.
c. Mandiri, kreatif, dan inovatif
Kemampuan menentukan sikap; menata diri sendiri; dapat membuat penilaian kritis; dapat mengambil keputusan dan tindakan sendiri; mau
belajar terus menerus; punya daya kreativitas memadai; ingin mencoba, menyukai dan terbuka untuk hal-hal baru.
d. Motivasi diri
Suatu daya dorong yang senantiasa menjadi penggerak dalam setiap usaha mengembangkan diri sendiri. Motivasi inilah yang diharapkan dimiliki, yang senantiasa menyertai segala usaha untuk memajukan diri sendiri. Berkaitan dengan motivasi ini, disiplin diri menjadi penting.
Ketiga hal tersebut diatas, merupakan satu rangkaian terpadu yang saling mendukung dan melengkapi. Untuk mengembangkan diri dengan baik, mutlak dibutuhkan mental yang sehat. Pengembangan diri harus merupakan usaha untuk semakin mengintegritaskan diri sendiri, dengan membawa serta dimensi-dimensi dasariah diri kearah perkembangan yang seimbang. Perkembangan diri justru semakin menampakkan wujudnya dengan meningkatnya kemandirian, jiwa kreatif dan semangat inovatif seseorang dalam menjalankan hidupnya. Membangun mental yang sehat, mewujudkan integritas diri, hidup mandiri-kreatif-inovatif, hanya mungkin terlaksana dan membuahkan hasil apabila didukung oleh motivasi yang kuat dalam menjalankannya.