• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I. PENDAHULUAN

E. Definisi Operasional

4. Jenis-jenis Layanan Bimbingan dan Konseling

Menurut Winkel dan Sri Hastuti (2005: 114-118) terdapat tiga ragam bimbingan, yaitu bimbingan karier untuk membantu konseli dalam mempersiapkan diri menghadapi dunia pekerjaan, dalam memilih lapangan pekerjaan dan menyesuaikan diri untuk menghadapi tuntutan lapangan pekerjaan yang telah dimasuki. Bimbingan akademik merupakan bimbingan dalam hal menemukan cara belajar yang tepat, dalam memilih bidang studi yang sesuai, dan dalam mengatasi kesukaran yang timbul berkaitan dengan tuntutan belajar di suatu institusi pendidikan. Bimbingan pribadi dan sosial berarti bimbingan dalam menghadapi keadaan batinya sendiri dan mengatasi berbagai pergumulan dalam batinyya sendiri, serta bimbingan dalam membina hubungan kemanusiaan dengan sesama di berbagai lingkungan.

Menurut Praytino dan Atmi (2004: 254) layanan bimbingan dan konseling adalah sebagai berikut:

a. Layanan orientasi

1) Pengertian layanan orientasi

Layanan orientasi adalah layanan bimbingan yang dilakukan untuk memperkenalkan siswa baru dan atau seseorang terhadap lingkunagan yang baru dimasukinya. Selain itu layanan orientasi membantu siswa memahami lingkungan (seperti sekolah) yang baru dimasukinya, untuk mempermudah dan memperlancar berperannya siswa di lingkungan yang baru itu. 2) Materi layanan orientasi

Materi layanan orientasi lingkungan sekolah lebih ditekankan pada: sistem penyelenggaraan pendidikan pada umumnya, kurikulum yang ada di sekolah, penyelenggaraan pengajaran, kegiatan belajar siswa yang diharapkan, sistem penilaian, ujian, kenaikan kelas, fasilitas dan sumber yang ada di sekolah (misalnya ruang kelas; laboratorium; perpustakaan; ruang praktek); fasilitas penunjang (misalnya sarana olah raga dan rekreasi, pelayanan kesehatan (UKS), pelayanan bimbingan dan konseling, kantin, dan tata usaha), staf pengajar dan tata usaha, hak dan kewajiban siswa, organisasi siwa (OSIS), organisasi orang tua siswa (komite sekolah), organisasi sekolah secara menyeluruh (Prayitno dan Atmi,2004: 256-257).

b. Layanan informasi

Layanan pemberian informasi digunakan untuk membekali siswa dengan pengetahuan tentang data dan fakta di bidang pendidikan sekolah, bidang pekerjaan dan bidang perkembangan pribadi-sosial, supaya siswa lebih mampu mengatur dan merencanakan kehidupannya dengan belajar tentang lingkungan hidupnya sendiri (Winkel &Sri Hastuti, 2005: 316).

Layanan informasi bersama dengan layanan orientasi bermaksud memberikan pemahaman kepada individu-individu yang berkepentingan tentang berbagai hal yang diperlukan untuk menjalani suatu tugas atau kegiatan , atau untuk menentukan arah suatu tujuan atau rencana yang dikehendaki. Dengan demikian, layanan orientasi dan informasi itu pertama-tama merupakan perwujudan dari fungsi pemahaman pelayanan bimbingan dan konseling. Tujuan pemberian layanan informasi tidak hanya supaya siswa membekali dirinya dengan pengetahuan dan pemahaman untuk sekarang ini saja, tetapi supaya mereka menguasai cara agar memperbaharui serta mervisi bekal pengetahuan itu di kemudian hari (Winkel dan Sri Hastuti, 2005: 317).

Menurut Prayitno dan Atmi (2004: 260) terdapat tiga alasan pemberian informasi perlu diselenggarakan di sekolah:

a) Memberikan bekal kepada siswa dengan berbagai pengetahuan tentang lingkungan yang diperlukan siswa untuk memecahkan masalah yang dihadapi yang berkenaan dengan lingkungan siswa. b) Memungkinkan siswa dapat menentukan arah hidupnya sendiri. c) Setiap siswa itu unik. Keunikan tersebut akan membawakan

pola-pola pengambilan keputusan dan bertindak yang berbeda-beda disesuaikan dengan aspek-aspek kepribadian masing-masing siswa. 1) Materi layanan pemberian informasi

Menurut Winkel dan Sri Hastuti (2004: 318), materi layanan informasi dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu: (1) informasi tentang pendidikan yang mencakup semua tentang variasi program pendidikan sekolah mulai dari sekua persyaratan penerimaan hingga tamat sekolah, (2) informasi tentang dunia pekerjaan yang mencakup semua data mengenai jenis-jenis pekerjaan yang ada di masyarakat, mengenai gradasi posisi dalam lingkup suatu jabatan, mengenai persyaratan tahap dan jenis pendidikan, mengenai sistem klasifikasi jabatan dan prospek masa depan. (3) informasi tentang perkembangan siswa serta pemahaman terhadap sesama manusia mengenai tahap-tahap perkembangan serta lingkungan fisik dan psikologis. 2) Pelaksanaan layanan informasi

Layanan informasi dapat melalui media bimbingan (papan bimbingan/mading, folder, leaflet, brosur), ceramah,

diskusi, karyawisata/kunjungan, buku panduan, serta konfrensi karier berkaitan dengan semua layanan serta bidang-bidang pribadi, sosial, belajar, serta karier (Priyatno dan Amti, 2004: 269-271).

c. Layanan penempatan dan penyaluran

Layanan ini memberikan bantuan atau bimbingan dari konselor dalam menyalurkan dan mengembangkan dirinya sesuai dengan bakat dan minatnya (Priyatno dan Amti, 2004: 272). Tujuan dari layanan penempatan dan penyaluran adalah agar peserta didik (dengan seluruh kemampuannya) berkembang secara optimal (Priyatno dan Amti, 1999 : 272).

Materi layanan penempatan dan penyaluran:

Bentuk-bentuk layanan ini, antara lain: penempatan siswa di dalam kelas (pengaturan tempat duduk dan pembagian kelas); penempatan dalam kelompok belajar; penyaluran dalam kegiatan ko/ekstrakurikuler; dan penyaluran dalam jurusan atau program studi (Priyatno dan Amti, 2004: 273-278).

d. Layanan bimbingan belajar

Bimbingan dalam hal menemukan cara belajar yang tepat, dalam memilih bidang studi yang sesuai, dan dalam mengatasi kesukaran yang timbul berkaitan dengan tuntutan belajar di suatu institusi pendidikan (Winkel dan Sri Hastuti,2005;115)

Tahap-tahap layanan bimbingan belajar:

Menurut Prayitno dan Atmi (2004: 279-288) tahap-tahap layanan bimbingan belajar adalah: (1) pengenalan siswa yang mengalami masalah belajar; untuk mengenali siswa yang mengalami masalah belajar dapat melalui tes hasil belajar, tes kemampuan dasar, skala pengungkapan sikap dan kebiasaan belajar dan pengamatan. (2) pengungkapan sebab timbulnhya masalah. (3) upaya membantu siswa yang mengalami masalah belajar yaitu dengan upaya pengajaran perbaikan, kegiatan pengayaan, peningkatan motivasi belajar, dan pengembangan sikap dan kebiasaan belajar yang efektif.

e. Layanan konseling perorangan

Layanan konseling perorangan menurut Prayitno dan Amti (2004: 105) adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh konselor kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah (disebut konseli) yang bertujuan untuk membantu mengatasi masalah yang dihadapi konseli.

f. Layanan bimbingan kelompok

Layanan bimbingan kelompok adalah layanan yang diberikan dalam suasana kelompok (Prayitno dan Amti, 2004: 309). Gazda (dalam Prayitno dan Atmi, 2004) mengemukakan bahwa bimbingan kelompok di sekolah merupakan kegiatan informasi kepada sekelompok siswa untuk membantu mereka menyususn rencana dan keputusan yang tepat. Layanan bimbingan kelompok melalui dinamika

kelompok memberikan berbagai pengalaman, pengetahuan, dan nilai-nilai yang bermanfaat bagi peserta didik. Adapun tujuan layanan ini adalah untuk membantu peserta didik menyusun rencana dan keputusan yang tepat.

g. Layanan konseling kelompok

Layanan konseling kelompok pada dasarnya adalah layanan konseling perorangan yang dilaksanakan di dalam suasana kelompok. Di sana ada konselor (yang jumlahnya mungkin lebih dari seorang) dan ada klien, yaitu para anggota kelompok (yang jumlahya paling kurang dua orang) (Prayitno dan Amti, 2004: 312). Anggota kelompok ialah sesama mereka yang mengikat kegiatan kelompok itu.

Dokumen terkait