• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

A. Arti dan Jenis-Jenis Masalah

2. Jenis-jenis Masalah

Prayitno (2004: 238)mengelompokanmasalah ke dalam sebelas

kelompok masalah, yaitu kelompok masalah yang berkenan dengan:

a. Perkembangan jasmani dan kesehatan

b. Keuangan, keadaan lingkungan, dan pekerjaan

c. Kegiatan sosial dan rekreasi

d. Hubungan muda-mudi, pacaran dan perkawinan

e. Hubungan sosial kejiwaan

f. Keadaan pribadi kejiwaan

g. Moral dan agama

h. Keadaan rumah dan keluarga

i. Masa depan pendidikan dan pekerjaan

j. Penyesuaian terhadap tugas-tugas sekolah

k. Kurikulum sekolah dan prosedur pengajaran

Masalah-masalah yang dikemukan diatas dapat dikelompokkan

menjadi empat jenis masalah yaitu: masalah pribadi, masalah sosial,

a. Masalah pribadi

Masalah pribadi merupakan masalah dalam menghadapi keadaan batin,

mengatasi berbagai pergumulan hidup, dan mengatur diri sendiri.

Bidang-bidang masalah pribadi meliputi:

1) Perkembangan fisik

Menurut Desmita (2007: 190)perubahan-perubahan fisik

merupakan gejala primer dalam pertumbuhan remaja, yang

berdampak terhadap perubahan-perubahan psikologis. Secara garis

besar perubahan-perubahan yang terjadi dapat dikelompokkan dalam

dua kategori, yaitu perubahan-perubahan yang berhubungan dengan

pertumbuhan fisik dan perubahan-perubahan yang berhubungan

dengan perkembangan karekteristik seksual. Berikut ini dijelaskan

beberapa dimensi perubahan fisik yang terjadi selama masa remaja.

a) Perubahan dalam tinggi dan berat

Tinggi rata-rata anak laki-laki dan perempuan pada usia 12

tahun adalah sekitar 59 atau 60 inci. Tetapi, pada usia 18 tahun,

tinggi rata remaja lelaki adalah 69 inci, sedangkan tinggi

rata-rata remaja perempuan hanya 64 inci. Ada pun faktor penyebab

laki-laki rata-rata lebih tinggi dari pada perempuan adalah

karenapertumbuhan anak laki-laki 2 tahun lebih cepat

dibandingkan dengan anak-anak perempuan. Dengan demikian,

anak laki-laki mengalamipenambahan petumbuhan tinggi badan

badan juga berpengaruh pada penambahan berat badan yakni

sekitar 13 kg bagi anak laki-laki dan 10 kg bagi anak-anak

perempuan.

b) Perubahan dalam proporsi tubuh

Seiring dengan pertambahan tinggi dan berat badan,

percepatan pertumbuhan selama masa remaja juga terjadi pada

proporsi tubuh. Bagian-bagian tubuh tertentu yang sebelumnya

terlalu kecil, pada masa remaja menjadi terlalu besar. Hal ini

terlihat jelas pada pertumbuhan tangan dan kaki, yang sering tidak

proposional. Perubahan-perubahan dalam proporsi tubuh selama

masa remaja juga terlihat pada ciri-ciri wajah, seperti dahi yang

semula sempit sekarang menjadi luas, mulut melebar, dan bibir

menjadi lebih penuh.

2) Kerohanian

Dariyo (2003: 92) mengemukan kebutuhan rohani adalah

kebutuhan yang dibutuhkan seseorang untuk mendapatkan sesuatu

bagi jiwanya, seperti mendengarkan musik siraman rohani dan

beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Manfaat terpenuhinya

kebutuhan rohani seseorang adalah yang bersangkutan akan merasa

bahagia, merasa hidup berarti, tidak mudah putus asa, dan memiliki

pandangan atau sikap keagamaan yang tidak fanatik. Dampak dari

tidak terpenuhinya kebutuhan rohani antara lain adalah yang

bisa jadi tidak dapat memilih mana yang benar atau salah bagi

dirinya dan orang lain.

3) Identitas diri

Menurut Yusuf (2011: 95) identitas diri individu

berkembang pada masa remaja. Identitas mencakup pandangan

tentang diri sendiri, tujuan, nilai, dan keyakinan yang dipegang

teguh. Tugas utama remaja adalah memecahkan krisis

identitasuntuk dapat menjadi orang dewasa yang memahami

dirinya secara utuh dan memahami perannya di masyarakat.

Remaja dikatakan telah menemukan identitas dirinya

(self-identity) kalau dia berhasil memecahkan tiga masalah utama, yaitu

pilihan pekerjaan, adopsi nilai yang diyakini dan dijalani, dan

perkembangan identitas seksual yang memuaskan. Selain itu,

remaja dipandang telah memiliki identitas diri yang matang (sehat,

tidak mengalami kebingungan), apabila sudah memiliki

kemampuan untuk memahami diri sendiri, serta memahami

perannya dalam kehidupan sosial (di lingkungan keluarga, sekolah,

teman sebaya, atau masyarakat), pekerjaan, dan nilai-nilai

agama.Untuk memfasilitasi perkembangan identitas diri remaja

yang sehat, dan mencengah terjadinya kebingungan identitas, maka

pihak orang tua di lingkungan keluarga, sekolah, dan orang dewasa

lainnya di lingkungan masyarakat hendaknya melakukan hal-hal

a) Memberikan contoh atau teladan tentang sikap jujur dan

bertanggung jawab sebagai orang dewasa.

b) Menciptakan iklim kehidupan sosial yang harmonis, jauh dari

gejolak atau konflik.

c) Menciptakan lingkungan hidup yang bersih, tertib, sehat, dan

indah.

d) Memberikan kesempatan kepada remaja untuk berpendapat,

mengajukan gagasan, atau berdialog.

e) Memfasilitasi remaja untuk mewujudkan kreativitasnya, baik

dalam bidang olahraga, seni, maupun bidang keilmuan.

f) Memberikan informasi kepada remaja tentang orang-orang

suskes, dan bagaimana proses mencapai kesuksesannya.

g) Menampilkan perilaku yang sesuai dengan karakter atau

nilai-nilai akhlak mulia.

h) Memberikan contoh dalam bersikap dan berperilaku yang

sejalan dengan nilai-nilai budaya cinta tanah air, patriotisme,

b. Masalah sosial

Masalah sosial adalah masalah yang timbul dari hubungan

individudengan individu lain. Masalah sosial meliputi berbagaihal,

yaitu seperti yang diuraikan di bagian berikut ini:

1) Hubungan dengan keluarga

Menurut Djamarah (2011: 241) keluarga adalah lembaga

pendidikan informal (luar sekolah) yang diakui keberadaannya dalam

dunia pendidikan.Peranannya tidak kalah penting dari

lembaga-lembaga formal, seperti sekolah. Bahkan sebelum anak didik

memasuki suatu sekolah, dia sudah mendapatkan pendidikan dalam

keluarga yang bersifat kodrati. Hubungan darah antara kedua orang

tua dengan anak menjadikan keluarga sebagai lembaga pendidikan

yang alami.

Apabila orang tua tidak memperhatikan pendidikan anak,tidak

memberikan suasana sejuk dan menyenangkan bagi anak,

keharmonisan keluarga tak tercipta,sistem kekerabatan semakin

renggang, maka lingkungan keluarga yang demikian ikut terlibat

menyebabkan kesulitan belajar anak. Ada beberapa hal dalam

keluarga yang dapat menjadi penyebab timbulnya kesulitan belajar

a) Anak tidak mempunyai ruang dan tempat belajar yang khusus di

rumah.

Karena tidak mempunyai ruang belajar yang khusus,anak bisa

belajar di ruang dapur, di ruang tamu, atau belajar di tempat

tidur.Anak yang tidak memiliki tempat belajar khusus yaitu ruang

belajar, meja, dan kursi terpaksa memanfaatkan meja dan kursi

tamu untuk belajar.

b) Perhatian orang tua yang kurang memadai.

Anak merasa kecewa dan mungkin frustrasi melihat orang

tuanya yang tidak pernah memperhatikannya.Anak merasa

seolah-olah tidak memiliki orang tua sebagai tempat

menggantungkan harapan, sebagai tempat bertanya bila ada

pelajaran yang tidak dimengerti, dan sebagainya.Kerawanan

hubungan orang tua dan anak ini menyebabkan masalah

psikologis dalam belajar anak di sekolah.

c) Perlakuan orang tua yang kurang adil.

Orang tua boleh jadi pilih kasih dalam mengayomi anak,

seolah-olah ada anak kandung dan anak tiri.Anak yang

berprestasidisanjung dan anak yang tidak berpretasidicemooh atau

dimaki-maki. Sikap dan perilaku orang tua seperti ini membuat

anak memiliki konsep diri yang rendah dan semakin malas untuk

d) Anak yang terlalu banyak membantu orang tua.

Di keluarga tertentu sering ditemukan anak yang terlibat

langsung dalam pekerjaan orang tuanya seperti mencuci pakaian,

memasak nasi di dapur, ke pasar, ikut berjualan, ikut mengasuh

adiknya, dan sebagainya. Kegiatan-kegiatan seperti di atas sangat

menyita waktu belajar anak yang seharusnya dipakai untuk

belajar.

2) Hubungan dengan teman akrab

Menurut Desmita (2009: 224)pergaulan dengan teman akrab

adalah interaksi antara teman sebaya atau kelompok yang memiliki

minat dan nilai-nilai yang sama, membahas hal-hal yang tidak

dibicarakan dengan orang tua dan guru. Sementara itu menurut Jean

Piaget dan Harry Stcak (Desmita 2007: 230), melalui hubungan

dengan teman sebaya, mereka belajar hubungan timbal balik yang

simetris. Anak mempelajari kejujuran dan keadilan melalu peristiwa

pertentangan dengan teman sebaya.

Manfaat pergaulan dengan teman akrab antara lain adalah dapat

berbagi suka dan duka, bertukar pikiran mengenai masalah yang

terjadi, mencoba sesuatu hal yang berbeda dengan teman, pekerjaan

yang berat dapat terasa ringan, dan lain sebagainya. Dampak negatif

apabila tidak ada pergaulan dengan teman akrab antara lain adalah ada

menyelesaikan permasalahan dengan baik, tidak dapat menghasilkan

pekerjaan yang optimal, semua masalah dirasakan sendiri dan

mengakibatkan stress, dan lain sebagainya.

3) Kurang aktif mengikuti kegiatan sosial

Menurut Santrock (2003: 23)kegiatan sosial adalah unit sosial

atau pengelompokan manusia yang sengaja dibentuk dalam rangka

mencapai tujuan tertentu dan dilakukan dengan sukarela. Dengan

demikian dapat disimpulkan bahwa, kegiatan sosial merupakan

aktivitas yang dilakukan lebih dari satu oranguntuk mencapai tujuan

yang diinginkan bersama.

Manfaat kegiatan sosial bagi seseorang antara lain berlatih untuk

membina hubungan sosial dengan baik, peduli terhadap orang

lain,dapat menemukan teman akrab, berkesempatan untuk belajar

berkomunkasi dengan orang lain, mengerti tata krama pergaulan, dan

tidak mudah tersinggung atau sakit hati dalam berhubungan dengan

orang lain. Sedangkan dampak negatif apabila seseorang tidak terlibat

dalam kegiatan sosial antara lain adalah kurang peduli terhadap orang

lain, merasa tidak dianggap penting, diremehkan atau dikecam orang

lain, lamban menjalin persahabatan, mudah tersinggung dan sakit hati

dalam berhubungan dengan orang lain, hubungan sosial terbatas, dan

c. Masalah belajar

Masalah belajar merupakan sesuatu yang menghambat dan

merintangi siswa pada belajar. Masalah-masalah belajar meliputi:

1) Penyesuaian terhadap tugas-tugas sekolah

Djamarah (2008: 233) mengatakan bahwa setiap siswa perlu

menyesuaikan diri terhadap tugas-tugas sekolah sehingga siswa

mampu mengerjakan tugas-tugas yang diberikan dari guru mata

pelajaran tepat pada waktunya. Dengan demikian siswa mampu

mendapatkan nilai yang memuaskan. Manfaat menyesuaikan diri

terhadap tugas-tugas sekolah antara lain adalah siswa mampu

menyelesaikan tugas-tugas pelajaran tepat pada waktunya, belajar

membuat catatan, mendapat hasil yang memuaskan, siap

menghadapi ujian, dan lain sebagainya. Dampak negatif apabila

siswa kurang mampu menyesuaikan diri terhadap tugas-tugas

sekolah antara lain adalah nilai akhir tidak sesuai dengan yang

diinginkan, mengalami masalah dalam belajar, sukar memahami

penjelasan guru, kurang motivasi dalam belajar, kurang berminat

atau kurang mampu mempelajari buku mata pelajaran dan lain

sebagainya.

2) Motivasi belajar

Motivasi adalah kondisi psikologis yang mendorong

seseorang untuk melakukan sesuatu.Jadi motivasi belajar adalah

siswa yang kurang berkembang karena tidak memiliki motivasi

yang tepat. Jika seseorang memiliki motivasi yang tepat, maka dia

akan mengeluarkan tenaga yang luar biasa, sehingga tercapai

hasil-hasil yang semula tidak terduga. Kuat lemahnya motivasi belajar

seseorang turut mempengaruhi keberhasilan belajar. Karena itu,

motivasi belajar perlu diusahakan, terutama yang berasal dari dalam

diri (motivasi intrinsik) antara lain dengan cara senantiasa

memikirkan masa depan yang penuh tantangan dan harus dihadapi

(Djamarah, 2011: 200).

3) Kesulitan belajar

Kesulitan belajar merupakan sesuatu yang menghambat,

merintangi, dan mempersulit seseorang pada saat belajar. Kesulitan

belajar yang dialami siswa dapat disebabkan oleh faktor-faktor

tertentu yang menghambat tercapainya tujuan belajar yang sesuai

dengan harapan. Faktor-faktor tersebut adalah faktor dari dalam

diri dan faktor dari luar diri siswa. Faktor dari dalam diri siswa

antara lain, yang bersifat kognitif seperti rendahnya kemampuan

berpikir dan bersifat afektif seperti gangguan emosi dan sikap, serta

yang bersifat psikomotor seperti terganggunya indera penglihatan

dan pendengaran. Faktor dari luar diri siswa antara lain, lingkungan

keluarga seperti ketidakharmonisan hubungan ayah dengan ibu dan

rendahnya kehidupan ekonomi keluarga, lingkungan

kondisi lingkungan sekolah dan letak sekolah yang buruk seperti

dekat dengan pasar dan kondisi guru dan alat-alat belajar yang

kurang.

4) Pengaturan waktu belajar

Menurut Wlodkowski (2004: 119) bila ada lebih dari satu

kegiatan yang akan dilakukan, lebih baik merencanakan dan

mengaturnya kedalam beberapa urutan prioritas. Namun siswa

harus memastikan rencana tersebut dengan jelas serta lebih

mendahulukan pekerjaan yang penting dan mendesak yang harus

didahulukan agar dapat berjalan dengan baik. Manfaat pengaturan

waktu belajar bagi siswa antara lain adalah siswa memiliki waktu

belajar, selalu siap menghadapi ujian, dan lain sebagainya. Bila

siswa tidak memiliki pengaturan waktu belajar, dia akan

kekurangan waktu belajar, tidak dapat menyelesaikan tugas tepat

pada waktunya, dan kurang berkonsentrasi saat belajar.

d. Masalah karier

Masalah karier yang sering dialami oleh remaja antara lain takut

mengalami kegagalan dalam mencapai cita-cita. Cita-cita adalah

sebuah harapan yang dibangun di atas keyakinan yang kuat dan

diupayakan pencapaiannya melalui perencanaan yang matang dan

kerja keras. Cita-cita dapat dijadikan sebagai motivasi yang tumbuh

dalam diri untuk melakukan sesuatu demi terwujudnya sebuah

Modal utama yang harus ada pada orang yang memiliki cita-cita

adalah keyakinan yang sungguh-sungguh. Apabila siswa memiliki

cita-cita, maka hendaklah dia memiliki semangat dan mempunyai

keyakinan untuk mencapai hal yang ingin diraihnya. Apabila siswa

tidak mempunyai cita-cita, dia akan merasa tidak memiliki pandangan

masa depan dan tidak memiliki motivasi untuk mendapatkan sesuatu.

Dokumen terkait