1. Jenis-Jenis Penerimaan Kas
Penerimaan-penerimaan kas diperoleh dari pendapatan nasional yang dikelompokkan atas :
A. Pendapatan Asli Daerah
Menurut jenisnya, Pendapatan Asli Daerah dibagi atas :
Pajak daerah merupakan perlihan kekayaan dari pihak rakyat kepada kas negara untuk membiayai pengeluaran rutin dan surplusnya dipergunakan untuk public investment
b. Retribusi Daerah
Retribusi daerah merupakan pembayaran kepada negara yang dilakukan kepada mereka yang menggunakan jasa-jasa negara, artinya retribusi daerah sebagai pembayaran atas pemakaian jasa. c. Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan
Menurut Halim (2004:68) hasil perusahaan milik daerah dan hasil pengelolaan kekayaan milik daerah yang dipisahkan merupakan penerimaan daerah yang berasal dari hasil perusahaan milik daerah dan kekayaan daerah.
d. Lain-lain pendapatan asli daerah
Pendapatan asli daerah tidak seluruhnya memiliki kesamaan, terdapat pula sumber-sumber pendapatan lainnya, yaitu penerimaan lainnya yang sah seperti penjualan alat berat, bunga simpanan giro dan bank serta penerimaan dari denda kontraktor.
B. Dana Perimbangan
Dana perimbangan merupakan dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah untuk menandai kebutuhan daerah dalam negeri dalam rangka pelaksanaan desentralisasi (UU Nomor 33 Tahun 2004 dan PP Nomor 55 Tahun 2005)
C. Pendapatan lain-lain yang sah
Pendapatan lain-lain yang sah mencakup, yaitu : 1. Hibah berasal dari pemerintah
2. Dana darurat dari pemerintah dalam rangka penanggulangan
korban bencana alam
3. Dana bagi hasil pajak dari provinsi kepada kabupaten/kota
4. Dana penyesuaian dan dana otonomi khusus yang ditetapkan
pemerintah
5. Bantuan keuangan dari provinsi atau dari pemerintah daerah
lainnya.
Penerimaan kas yang tidak mempengaruhi anggaran pendapatan, belanja, dan pembiayaan pemerintah daerah yaitu :
a. Potongan Taspen
Sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 8 Tahun 1977, Pegawai negeri wajib mengikuti iuran sebesar 10% dari penghasilan setiap bulan. Besaran dana ini yang nantinya akan dicairkan saat memasuki masa pensiun. Menurut peraturan pemerintah, akumulasi iuran pensiun dan tabungan hari tua dipungut dan disetor kembali kepada peserta taspen. Iuran ini merupakan dana milik pegawai negeri secara kolektif yang dikuasai oleh pemerintah untuk membiayai penyelenggaraan pensiun pegawai negeri, dengan mengikuti ketentuan sebagaimana diatur dengan peraturan menteri keungan.
b. Potongan Askes
Jaminan sosial tenaga kerja sebagaimana didasarkan pada UU No.3 Tahun 1992, pada prinsipnya potongan askes merupakan sistem asuransi sosial bagi pekerja beserta keluarganya.
c. Potongan PPh
Potongan PPh adalah pajak yang dikenakan terhadap subjek pajak penghasilan atas penghasilan yang diterima atau diperolehnya dalam tahun pajak. Pajak penghasilan merupakan jenis pajak subjektif yang kewajiban pajaknya melekat pada subjek pajak yang bersangkutan, artinya kewajiban pajak tersebut dimaksudkan untuk tidak dilimpahkan kepada kepastian hukum, penetuan saat mulai dan berakhirnya kewajiban pajak subjektif menjadi penting.
d. Potongan PPN
Potongan PPN merupakan potongan yang dikenakan atas setiap pertambahan nilai dari barang atau jasa dalam peredarannya dari produsen kepada konsumen
2. Jenis-Jenis Pengeluaran Kas Pengeluaran kas digunakan untuk :
a. Belanja pegawai
Belanja pegawai merupakan kompensasi dalam bentuk uang maupun barang yang diberikan kepada pegawai pemerintah yang bertugas didalam maupun luar negeri sebagai imbalan atas
pekerjaan yang telah dilaksanakan kecuali pekerjaan yang berkaitan dengan pembentukan modal dan atau kegiatan yang mempunyai output dalam kategori belanja barang.
Belanja pegawai dipergunakan untuk :
1. Belanja gaji dan tunjangan yang melekat pada pembayaran gaji pegawai negeri meliputi PNS dan TNI/POLRI
2. Belanja gaji dokter pegawai tidak tetap
3. Belanja uang makan PNS
4. Belanja uang lembur PNS
5. Pembayaran tunjangan sosial bagi pegawai negeri melalui unit organisasi/lembaga/badan tertentu
6. Pembayaran uang duka yang besarnya ditetapkan berdsarkan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
b. Belanja barang
Belanja barang merupakan pengeluaran untuk pembelian barang atau jasa yang habis pakai untuk memproduksi barang dan atau jasa yang dipasarkan maupun tidak dipasarkan serta pengadaan barang yang dimaksudkan untuk diserahkan atau dijual kepada masyarakat diluar kriteria belanja bantuan sosial serta belanja perjalanan
Belanja barang dipergunakan untuk :
1. Belanja barang operasional merupakan pembelian barang atau
jasa yang habis pakai yang dipergunakan dalam rangka pemenuhan kebutuhan suatu satuan kerja dan umumnya
pelayanan yang bersifat internal. Jenis-jenis pengeluaran ini yaitu :
a. Belanja keperluan perkantoran
b. Belanja pengadaan bahan makanan
c. Belanja pengiriman surat dinas d. Belanja biaya pemeliharaan gedung
2. Belanja barang non operasional merupakan pembelian
barang/jaasa yang habis pakai dikaitkan dengan strategi pencapaian target kinerja suatu satuan kerja dan umumnya pelayanan yang bersifat eksternal. Jenis-jenis pengeluaran ini, terdiri atas :
a. Honor yang terkait dengan output kegiatan b. Belanja jasa konsultan
c. Belanja sewa yang dikaitkan dengan strategi pencapaian
target kinerja d. Belanja jasa profesi e. Belanja perjalanan
f. Belanja barang fisik lain tugas pembantuan
g. Belanja barang penunjang kegiatan tugas pembantuan
h. Belanja barang badan pelayanan umum
c. Belanja modal
Belanja modal merupakan pengeluaran untuk pembayaran perolehan aset dan atau untuk menambah nilai aset lainnya yang memberi manfaat lebih dari satu periode akuntansi dan melebihi
batas minimal kapitalisasi aset tetap/lainnya yang telah ditetapkan pemerintah.
Belanja modal dipergunakan untuk 1. Belanja modal tanah
2. Belanja modal peralatan dan mesin
3. Belanja modal gedung dan bangunan
4. Belanja modal jalan, irigasi, dan jaringan
d. Belanja bunga
Belanja bunga merupakan pembayaran kewajiban atas penggunaan pokok utang, baik diluar maupun dalam negeri yang dihitung berdasarkan ketentuan persyaratan dari utang yang sudah ada.
e. Belanja subsidi
Belanja subsidi merupakan alokasi anggaran yang diberikan kepada perusahaan/lembaga untuk memproduksi, menjual atau mengekspor barang atau jasa yang memenuhi hajat hidup orang banyak sedemikian rupa sehingga harga jualnya dapat dijangkau oleh masyarakat. Belanja subsidi terdiri atas :
1. Energi
Alokasi anggaran yang diberikan kepada perusahaan atau lembaga yang menyediakan dan mendistribusikan bahan bakar minyak jenis tertentu
2. Non Energi
Alokasi anggaran yang diberikan kepada perusahaan atau lembaga yang menyediakan dan mendistribusikan barang publik yang bersifat non energi.
f. Belanja hibah
Belanja hibah merupakan belanja pemerintah pusat dalam bentuk transfer uang/barang kepeda pemerintah daerah lain secara sukarela, tidak wajib, tidak dilakukan secara terus menerus serta tidak ada perjanjian antara pemberi dan penerima hibah.
g. Belanja bantuan sosial
Belanja bantuan sosial merupakan transfer uang atau barang yang diberikan oleh pemerintah pusat/daerah kepada masyarakat guna melindungi dari kemungkinan terjadinya resiko sosial. Resiko sosial adalah kejadian yang dapat menimbulkan potensi terjadinya kerentanan sosial yang ditanggung oleh individu maupun keluarga.
h. Belanja tidak terduga
Belanja tidak terduga merupakan pembayaran atas kewajiban pemerintah yang tidak masuk dalam kategori belanja pegawai, belanja modal, belanja hibah dan lain-lain serta bersifat mendesak dan tidak apat diprediksi sebelumnya.
Pengeluaran kas yang tidak mempengaruhi anggaran, pendapatan, belanja dan pembiayaan pemerintah daerah, meliputi :
a. Penyetoran Taspen
Penyetoran taspen merupakan setoran hasil pemotongan dari gaji pegawai yang disetorkan kepada bank yang dapat dicairkan oleh peserta pada saat memasuki masa pensiun.
b. Penyetoran Askes
Penyetoran askes merupakan penyetoran pihak instansi berdasarkan pemotongan gaji pegawai guna memenuhi jaminan kesehatan pegawai.
c. Penyetoran PPh
Penyetoran PPh dipungut oleh instansi terhadap pengasilan pegawainya dan menyetorkannya kepada instansi yang berwenang.
d. Penyetoran PPN
Penyetoran PPN atas pajak pertambahan nilai dapat dilakukan berdasarkan pemungutan terhadap barang/jasa yang dikenakan pajak pertambahan nilai.
E. Sistem Pengawasan Internal Kas Pada Dinas Tenaga Kerja dan